Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

PCINU Korsel Silaturrahim ke Korean Muslim Federation

Seoul, Hari Santri 2018. Menutup rangkaian kegiatan Safari Ramadhan yang lalu, PCINU Korea Selatan bersilaturrahim ke KMF (Korean Muslim Federation ). Turut hadir dalam rombongan PCINU Ustadz Ali Mahmudi dan Ustadz Rozi Nawafi Moh. Fathurrozi. Kunjungan ini untuk berpamitan setelah selesai mengisi kegiatan Safari Ramadhan selama 1 bulan.

PCINU Korsel Silaturrahim ke Korean Muslim Federation (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Korsel Silaturrahim ke Korean Muslim Federation (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Korsel Silaturrahim ke Korean Muslim Federation

Imam Besar KMF Abdurrahman Lee menyampaikan setidaknya dua pesan. Pertama dia menyampaikan sekaligus mengingatkan pentingnya menjalankan syariat Islam dengan baik, akhlak yang dicontohkan sayyidina Muhammad SAW dan menunjukkan pribadi Muslim yang baik kepada pribumi di Korea.

“Sehingga orang Korea tertarik dengan akhlak umat Islam yang ditunjukkan Muslim Indonesia, mengingat jumlah penduduk Muslim Indonesia di Korea mencapai 40.000 jiwa. Jika 10.000 saja yang peduli terhadap dakwah bil akhlak dan istiqomah dalam menjalankan budaya Islam, sudah barang tentu Muslim di Korea akan cepat berkembang,” jelasnya.

Kedua, lanjutnya, kader Aswaja di Korea juga berdakwah melalui pernikahan, dengan harapan bisa mendidik dan mengajak wanita Korea kepada Dinul Haq dan bisa mempunyai generasi penerus dakwah di Korea Selatan.

Hari Santri 2018

? ?

Sementara itu, Rais Syuriyah PCINU Korsel Ustadz Syamy Zein Syamsul Arifin yang hadir dalam silaturrahim ini mengungkapkan bahwa kenyataan yang ada, saat ini sebagian muslimah yang menikah dengan Korea namun kebanyakan terbawa budaya Korea dan cenderung meninggalkan adat ketimuran Indonesia.

Hari Santri 2018

“Mudah-mudahan Muslimat NU dan Fatayat NU Cabang Istimewa Korea Selatan segera terbentuk, untuk mewadahi muslimah Indonesia di Korea agar bisa mensyiarkan Islam di bumi Korea,” harap Syamy Zein. (Imam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal, News, Humor Islam Hari Santri 2018

Senin, 19 Februari 2018

Dubes AS Berharap Warga Amerika Belajar ke Gus Dur

Jombang, Hari Santri 2018. Ajaran KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur  Presiden ke-4 Republik Indonesia tentang pluralisme, demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) menjadi spirit bagi Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O. Blake, Jr, berziarah langsung ke makam Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Kamis (11/12).

Dubes AS Berharap Warga Amerika Belajar ke Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes AS Berharap Warga Amerika Belajar ke Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes AS Berharap Warga Amerika Belajar ke Gus Dur

Ditemani Konsul Jenderal (Konjen) Amerika Serikat di Surabaya Joaquen F. Monserrate, Blake  menemui KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), adik kandung Gus dur, di kediamannya, kompleks Pondok Pesantren Tebuireng. Bersama Gus Sholah, rombongan dubes Blake menuju ke makam Gus Dur untuk tabur bunga sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan warisannya.

Selain ke makam Gus Dur, Hadratus Syaikh hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahid Hasyim. Gus Sholah juga memperkenalkan unit-unit pendidikan yang di kelola yayasannya keada dubes Blake. Bahkan dubes Blake dipersilahkan berdialog langsung dengan para santri yang pada waktu itu sedang belajar di salah satu ruang kelas.

Hari Santri 2018

Dalam konferensi pers bersama wartawan, Blake menyampaikan bahwa kedatangannya ke Pondok Tebuireng, selain berziarah, juga dalam rangka memperingati warisan Gus Dur tentang pluralisme, demokrasi dan HAM. “Peran Gus Dur sangat besar dalam tradisi demokrasi, dalam mengajarkan pluralisme , toleransi dan kemajemukan,” kata Blake.

Hari Santri 2018

Ia juga berharap masyarakat Amerika bisa belajar banyak tentang ajaran Gus Dur dengan datang langsung ke Pondok Pesantren Tebuireng. ”Kami berharap akan banyak orang Amerika yang datang ke sini untuk belajar tentang ajaran Gus Dur ini,” tambahnya.

Sedangkan Gus Sholah mengatakan bahwa ajaran Gus Dur dimulai dari ajaran peninggalan Wali Songo. “Wali Songo menyebarkan Islam di Jawa khususnya, dengan menggunakan media tradisional, yaitu wayang. Wali Songo melakukan dialog dengan budaya lokal. Itu Islam yang juga ada di pesantren, itulah Islam yang mempengaruhi Gus Dur. Gus Dur mempunyai modal yang kuat, yaitu keluarganya, kedua orang tuanya, pesantren, dan NU,” ungkap Gus Sholah. (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal, Budaya, RMI NU Hari Santri 2018

Kamis, 15 Februari 2018

Maimun

Oleh Dwi Putri



Maimun berlari terbirit-birit menenteng sebuah ember hitam. Ini adalah kali keempat aku melihatnya seperti itu. Keadaannya pun sama, sarung melintang di pundak, peci hitam miring, kaos oblong dan celana hitam yang panjangnya selutut.

Maimun (Sumber Gambar : Nu Online)
Maimun (Sumber Gambar : Nu Online)

Maimun

Sebagai satu-satunya warga kampung Tanjung Tebat yang pernah nyantri, maka tidak heran jika Maimun selalu ditunjuk warga untuk memimpin berbagai macam upacara keagamaan. Pamornya sebagai ustad muda mulai merebak sejak ia dipercaya Pak Lurah untuk menggantikan Nineng Kasno mengimami shalat 5 waktu di masjid.

“Mun, kau kan tahu nineng Kasno sekarang sering sakit-sakitan. Beliau memintaku untuk mencarikan ganti dirinya menjadi imam di masjid. Kupikir kau lebih layak, karena kau satu-satunya lulusan pondok di kampung ini.”

Maimum terdiam. Pak Lurah tersenyum ketir menunggu jawabannya.

Hari Santri 2018

“Ha-ha-ha jangan begitulah pak. Hafalan Qur’an saya masih sedikit, nanti bosan pula warga mendengar saya membaca ayat-ayat itu saja.” Maimun tertawa lepas.

“Setidaknya kau lebih fasih bacaannya daripada yang lain. Ayolah, Mun….” Wajah Pak Lurah mulai memelas.

“Lah bagaimana dengan pekerjaanku? Mau makan apa aku sama Ninek Ino nanti ? Bapak kan tahu juragan Ande tidak mau pekerjanya duduk santai sedikit ketika bekerja, ini pula bapak malah suruh saya jadi imam masjid. Juragan pasti tidak akan memberi izin.” Maimun mulai menghisap rokok tembakau.

“Soal itu kau tak usah pikirkan, aku sudah menyiapkan uang bulanan buatmu. Kau berhenti saja bekerja disini.”

Hari Santri 2018

“Nantilah, saya pikir-pikir dulu pak.”

“Baiklah. Kalau sudah mantap, langsung datang ke rumahku. Nanti aku akan membawamu ke Nineng Kasno. Saya pulang dulu Mun. Saya ingatkan pada kau, lebih baik jadi imam daripada terus terusan jadi pemerah susu yang gajinya tidak seberapa.”

Maimun terdiam.

“Ha-ha-ha tegangnya kau Mun. Sudah, saya pamit.” Pak RT pergi membawa motor bebek kesayangannya melaju entah kemana.

***

“Entahlah, siapa yang mengambil telur-telur bebek di kandangku. Sudah beberapa kali kudiamkan si maling mencurinya. Awas saja nanti kalau ketahuan, akan kuhabisi.” Pak Kahar merah padam menahan emosinya.

“Punyaku juga! Biasanya aku mengumpulkan telur 6 atau 7 butir sehari, sekarang hanya satu atau dua saja. Kita harus mencari tahu siapa pelakunya. Sudah 8 orang yang sudah menjadi korban. Kalau kita biarkan si maling akan leluasa mencuri dan mencari target selanjutnya. Rugilah kita,” sahut warga yang lain.

“Kita minta bantuan Maimun saja. Bukannya dia orang pintar? Pastilah dia bisa membantu kita mencari tahu siapa pencurinya.”

“Aku setuju, kita minta bantuan Maimun saja.”

Warga akhirnya sepakat meminta bantuan Maimun dalam memecahkan masalah. Mereka beramai-ramai menemui Maimun di gubuk reyot yang hanya beratapkan ilalang, berdinding anyaman bambu, terlihat bolong-bolong di setiap sudut gubuk tua itu.

Maimun terperanjat melihat kedatangan warga.?

“Ini ada apa, Wak? Kok ramai sekali pagi-pagi datang ke sini?”

“Kami perlu bantuanmu, Mun,” ujar Pak Kahar.

“Lah bantuan apa ? Mari duduk dulu di antek * itu, Wak.”

“Bagaimana, Wak?” Maimun membuka bicara di antara mereka.

“Begini, Mun, sudah beberapa hari ini warga banyak yang melapor kehilangan telur-telur bebek di kandang. Sekarang sudah 8 orang yang dicuri. Kalau kita biarkan nanti pasti dia akan mencari target lain. Kami butuh bantuanmu, Mun. Kau kan pintar, pastilah kau tahu bagaimana jalan keluarnya.”

“Wah, saya tidak bisa, Wak. Kalau saya pintar, tidak mungkinlah saya hidup melarat terus seperti ini ha-ha-ha.”

“Kami serius, Mun, telur-telur itu sekarang satu-satunya sumber ekonomi kami. Musim sedang tidak bersahabat dengan petani macam kita. Tanaman tidak tumbuh-tumbuh dan sawah kering kerontang karena kemarau panjang.”

“Wak, salah orang ini. Seharusnya Wak lapor ke Pak Lurah, bukan saya.”

“Benar juga yang dikatakan Maimun. Kita lapor ke Pak Lurah,” sahut yang lain.

Pak Kahar manggut-manggut mendengar saran Maimun, ”Tapi kau kan orang pintar Mun. Ayolah bantu kami.”

“Tidak bisa, Wak.”

“Aneh kamu, Mun…”

“He-he-he aneh apanya, Wak. Biasa saja, saya tidak enak melangkahi kewenangan Pak Lurah. Nanti saya dikira ngebet pengen jadi Lurah ha-ha-ha.”

“Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa Mun. Ninek Ino mu bagaimana keadaannya ?”

“Beliau baik-baik saja, Wak….”

“Syukurlah kalau begitu. Kami pamit pulang dulu Mun. Maaf pagi-pagi sudah mengganggumu. Oh iya tadi pagi kau tidak imam shalat di masjid, kenapa ?”

“Saya kurang enak badan, Wak.”

“Semoga lekas sembuh, Mun. Kami sangat butuh orang sepertimu.”

Maimun hanya tersenyum.

***

“Tidak salah lagi. Pasti dia pencurinya. Tadi siang aku lihat dia pergi ke salah seorang pengepul telur. Bukannya dia tidak ada bebek ?”

“Aku tidak percaya, kita kan tahu dia seperti apa orangnya. Tidak mungkinlah dia melakukannya.”

“Kau mungkin salah orang.”

“Atau mungkin dia membeli telur. Jangan buruk sangka.”

Warga kampung Tanjung Tebat mulai memanas kembali dengan tersebarnya berita perihal pencuri telur bebek.

“Kita datangkan saja dia ke sini.”

“Tidak, kita ajak saja dia ke kantor kelurahan. Nanti biar Pak Lurah yang mengintrogasi.”

“Betul kata Pak Kahar. Kita bawa saja dia ke kantor kelurahan.”

Warga berbondong-bondong menuju kantor lurah. Pak Lurah sebenarnya sudah tahu tentang isu yang beredar di masyarakat. Tapi beliau tak ambil pusing dengan hal tersebut, toh warga tidak memberikan laporan.

“Ini ada apa? Kok main kasar begitu ?”

Pak Kahar menceritakan duduk permasalahannya pada Pak Lurah. Menanggapi hal tersebut, Pak Lurah hanya tersenyum.

“Benar begitu, Mun? Kau mencuri telur-telur milik warga ?” Pak Lurah beralih ke arah Maimun.

“Sumpah, Pak, saya tidak mungkin melakukan hal itu,” jawab Maimun sambil sesekali meringis kesakitan akibat memar digebuki warga.

“Sudahlah, Mun, mengaku saja. Sudah jelas-jelas tadi siang Pak Mulya melihat kau datang ke pengepul telur membawa ember hitam. Kami sudah sangat percaya denganmu Mun, tapi ternyata kelakuanmu begini.” Pak Kahar menimpali.

“Astaghfirulah, Wak. Saya datang ke pengepul telur hanya membeli beberapa untuk lauk makan dengan Ninek Ino. Soal ember hitam, itu hanya berisi air yang saya ambil di perigi pinggir dusun.”

“Lalu kenapa setiap shalat Isya dan Shubuh kau jarang hadir? Nineng Kasno malah yang jadi imam, seharusnya kan kau, Mun.”

“Waktu Isya dan shubuh saya harus menunggui Ninek Ino. Pak Lurah sudah tahu hal tersebut, beliau memberi izin sampai kesehatan Ninek Ino pulih !!” Suara Maimun mulai meninggi, ”securiga itu bapak ibu sekalian dengan saya?”

Pak Kahar sinis melihat Maimun, ”Ya seharusnya kau memberi tahu keadaanmu dan Ninek Ino, biar kami tidak curiga.”

Maimun terdiam. Wajahnya merah padam.

“Pak Kahar, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Saya mohon maaf belum bisa mengambil keputusan perkara ini. Kalian belum ada bukti menyangka Maimun sebagai pelakunya.”

Suasana hening.

“Saya yakin Maimunlah pelakunya.” Pak Kahar nyeletuk.

Gubraakkkkkkk!?

Meja yang terbuat dari kayu jati di depan Maimun seketika hancur berkeping-keping. Warga yang terkena serpihan kayu meringis dan bergerak menjauh. Mata Maimun menyala-nyala. Sebagian warga menggigil ketakutan melihat perubahan Maimun. Napasnya tersengal-sengal menahan amarah yang sedemikian memuncak.

“Atas dasar apa Wak menuduh saya? Hanya karena saya membeli telur dari pengepul, tidak menjadi imam shalat Isya dan Shubuh, membawa ember hitam lantas Uwak menuduh saya yang mencuri? Hidup saya memang melarat, Wak. Tapi tidak pernah terlintas dibenak saya untuk mencuri walau dalam keadaan terdesak.”?

Hidung Maimun kembang kempis. Matanya menatap tajam ke arah Pak Kahar. Nyali Pak Kahar ciut untuk membalas tatapan menyala Maimun.

“Sabar, Mun. Ini hanya kesalahpahaman saja.” Pak Lurah mencoba menenangkan Maimun.

“Ini sudah keterlaluan Pak. Ninek Ino melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana saya digebuki warga. Saya takut beliau tambah drop melihat saya.”?

Air mata Maimun mulai jatuh.

“Ibu-ibu dan bapak-bapak, saya sarankan semuanya pulang dulu ke rumah masing-masing. Masalah ini insyaallah akan kita usut sesegera mungkin.”

Satu per satu warga mulai meninggalkan kantor kelurahan. Maimun masih duduk di kursi. Sesekali ia menyeka airmatanya.

“Mun, nanti malam pukul 10 kau temui aku di sini. Aku yakin kau bukan pelakunya.” Maimun masih terdiam.

“Sekarang pulanglah, Mun. Bilang pada Nek Ino kalau warga hanya salah sangka.”

Maimun berdiri dan memaksa dirinya untuk tersenyum. Langkahnya lunglai dan agak pincang. Terlihat baju bagian lengan kirinya sobek

Malamnya.

“Kok? Ini ada apa pak ?”

“Sudah. Nanti kuberitahu di jalan.” Pak Lurah mengajak Maimun dan 3 orang asistennya pergi ke arah kampung.

Pak Lurah, Maimun dan 3 asistennya mengendap-endap memastikan jika ada hal yang mencurigakan. Tengah malam mereka masih berkeliling di sekitaran kampung.

“Mun Mun, kau melihat apa yang kulihat?”

Maimun menggelengkan kepala.

“Coba lihat di sana, Mun!”

Maimun memasang matanya mencari sosok yang ditunjukkan pak Lurah,“Itu, itu, itu kan…” Maimun gelagapan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dan……

***

“Aku minta maaf, Mun, karena aku, kamu kemarin dihakimi warga. Apa pun hukuman yang kau berikan akan aku terima, Mun.”

“Saya kecewa dengan Wak. Wak kemarin yang mengadu domba warga menuduh saya yang bukan-bukan. Ternyata Wak sendiri pelakunya. Saya sudah memaafkan Uwak, lalu bagaimana dengan warga kampung ?”

“Saya menyesal, Mun.” Pak Kahar tertunduk lesu.

“Untung Wak ketahuan oleh saya dan Pak Lurah. Kalau Wak ketahuan dengan warga, mungkin Wak akan babak belur seperti saya. Uwak harus mengganti semua kerugian warga.”

“Iya Mun, saya berjanji. Tapi maafkan saya, Mun, saya mungkin tak akan mampu membayar seluruh kerugian warga.”

“Semampunya dan usahakan bisa semua.”

Pak Kahar merangkul Maimun erat. Ia menangis seperti anak kehilangan induk. Maimun melepaskan pelukan Pak Kahar dan menjauh dari kantor kelurahan.





Penulis adalah mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Antek: sejenis bangku yang terbuat dari bambu, tempat biasanya warga Sumatra Selatan duduk-duduk di kala istirahat













Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal Hari Santri 2018

Kamis, 08 Februari 2018

Memilih Istri, Memilih Kualitas Generasi

Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 223 Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ?

Memilih Istri, Memilih Kualitas Generasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Memilih Istri, Memilih Kualitas Generasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Memilih Istri, Memilih Kualitas Generasi

“Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian. Maka datangilah ladang kalian dari mana pun kalian mau.”

Hari Santri 2018

Ayat tersebut sangat sering dibaca dan dijabarkan penjelasannya oleh para mubaligh di acara-acara resepsi perkawinan atau walimatul ursy. Hanya saja pada umumnya para mubaligh menjelaskan kandungan ayat tersebut sebagai bagaimana cara seorang suami melakukan hubungan biologis dengan istrinya. Seorang istri yang dalam ayat tersebut diibaratkan sebagai ladang maka seorang suami dipersilakan menggaulinya dengan cara apa pun yang ia mau selain melalui jalan belakang.

Padahal bila kita pelajari lebih lanjut melalui ayat tersebut para ulama mufasir memberikan pendidikan yang sangat penting untuk diperhatikan oleh pasangan suami istri baik yang baru saja menikah maupun yang telah lama mengarungi bahtera rumah tangga. Bahkan boleh jadi pendidikan penting ini lebih penting lagi bagi para pemuda yang belum menikah dan masih mencari seorang perempuan yang didambakan menjadi pasangan hidupnya.

Hari Santri 2018

Imam Qurtubi misalnya menjelaskan bahwa yang dimaksud “ladang” pada ayat itu adalah farji atau kemaluan perempuan. Disamakan demikian karena menjadi tempat untuk menyemaikan benih keturunan.

Syaikh Tsa’lab bersyair:

? ? ? ... ? ? ?

? ? ? ... ? ? ?

Rahim-rahim adalah bumi bagi kita tempat menanam

Kewajiban kita menanaminya, dan Allah yang menumbuhkan tumbuhannya

Kemaluan perempuan adalah bumi yang ditanami, sperma adalah benih, sedangkan anak adalah tumbuhannya.

Demikian Imam Qurtubi menyampaikan dalam tafsirnya Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an. Senada dengan itu juga disampaikan oleh Ibnu Hayan dalam Al-Bahrul Muhith-nya.

Bila dilihat dari sisi hukum dengan perumpamaan yang demikian maka tidak diperbolehkan melakukan persetubuhan di selain kemaluan karena bukan tempatnya untuk menanam.

Dari sisi yang lain ayat itu kiranya juga hendak mewartakan bahwa seorang perempuan sangat berpengaruh dalam menentukan baik dan buruk anak-anaknya di kemudian hari. Baik-buruknya anak-anak sebagai generasi masa depan sangat dipengaruhi oleh baik buruknya seorang seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya. Sebagaimana dalam ilmu pertanian disebutkan bahwa kondisi tanah sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya sebuah tanaman.

Seorang ibu yang memiliki kedekatan dengan Allah dengan taat beribadah, berakhlak mulia, berilmu cukup dan sifat-sifat baik lainnya akan melahirkan dan menciptakan generasi yang berkualitas. Sebaliknya, seorang ibu yang jauh dari sifat dan sikap yang baik akan melahirkan dan menciptakan generasi yang tak berkualitas. Bagaimana akhlak seorang ibu akan berpengaruh pada anak-anaknya. Saleh tidaknya seorang ibu akan ikut menentukan saleh tidaknya anak-anak yang dilahirkannya.

Maka wajar bila Rasulullah menganjurkan seorang laki-laki memilih seorang perempuan untuk menjadi istrinya dengan kriteria beragama dengan akhlak yang mulia. Wajar pula bila banyak ulama kita yang menganjurkan kepada santrinya yang sudah berkeinginan menikah untuk tidak sekadar memilih calon istri untuk dirinya tapi juga untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya. (Yazid Muttaqin)

Referensi:

Tafsir Al-Qurtubi/Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam Qurtubi

Tafsir Al-Bahrul Muhith, Imam Abu Hayan Al-Andalusi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pertandingan, Tegal Hari Santri 2018

Senin, 05 Februari 2018

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Judul: Piagam Perjuangan Kebangsaan

Editor : Abdul Mun’im DZ

Penerbit: Setjen PB NU-Hari Santri 2018, Jakarta Pusat

Cetakan: 2011

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Tebal: 147 hlm

Peresensi: Hairul Anam*)

Hari Santri 2018

Sejarah itu ubahnya mutiara terpendam di dasar lautan. Cahayanya tak bakal mampu berkilau dan melahirkan kekaguman bagi siapa pun, manakala tak ada yang mengangkatnya ke permukaan. Karena itu, menemukan sekaligus memeliharanya merupakan langkah bijak untuk dijadikan acuan dalam memberi penilaian. Dan pada waktu itu juga, sejarah akan menghadirkan dirinya dengan ragam pencerahan.

Hari Santri 2018

Pada aras itu, sejarah sepak terjang NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia, tampaknya masih belum diketahui banyak kalangan. Akibatnya, NU acap kali diidentikkan dengan organisasi yang hanya berkutat dengan ranah ibadah mahdhah. Bahkan, dituduh sebagai organisasi yang irasional, bid’ah, sinkretis, dan sebagainya.

Buku Piagam Perjuangan Kebangsaan ini hadir untuk mengabadikan segala ‘jasa-jasa’ perjuangan NU terhadap bangsa di bumi persada ini. Banyak peristiwa penting yang terekam kuat di dalamnya. Berbagai piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam bidang politik dan kebangsaan dapat dibaca jelas dalam buku tipis ini. Menariknya, dalam buku ini, hal itu disusun secara sistematis berdasarkan urutan tahun kejadian.

Dimulai dari Piagam Nahdlatul Wathon (1916). Dilatarbelakangi keprihatinan Kiai Wahab Chasbullah melihat kondisi bangsanya yang terbelakang karena terjajah, lahirlah usaha dari beliau untuk membangkitkan bangsa dengan membentuk organisasi pergerakan yang diberi nama Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan). Selanjutnya, organisasi ini merambah ke berbagai daerah di Indonesia.

Pada tahun 1918, diketuai oleh Syekh Hasyim Asy’ari dan disekretarisi oleh Kiai Wahab Chasbullah, dicetuskanlah Piagam Nahdlatut Tujjar. Organisasi yang concern pada wilayah dagang ini merupakan embrio dari NU. Melaluinyalah aspirasi warga NU dapat tersampaikan pada Raja Saudi tatkala digelar Komite Hejaz.

Mengenai Deklarasi Komite Hejaz (7 Mei 1928) yang fokus pada perjuangan kebebasan beragama, juga terabadikan dalam buku ini. Kala itu, kota Suci Mekah sebagai pusar peradaban Islam menjadi tempat belajar bagi Muslim dari seluruh dunia termasuk Indonesia. Munculnya gerakan Wahabi di Saudi Arabia berpengaruh langsung terhadap Islam di negeri ini. Pulangnya beberapa pelajar asal Sumatera Barat tahun 1808 yang terpengaruh Wahabi mulai menyiarkan ajaran ekstrem yang kemudian tumbuh gerakan Paderi, yang mengajarkan Islam puritan ke Indonesia. Kemudian berkobarlah perang Paderi (perang antar mazhab) dalam agama Islam. Tradisi Islam yang berusaha mengintegrasikan Islam dengan budaya Nusantara, mereka obrak-abrik dengan kekerasan. Dalam batas tertentu, hal itu dapat diredam dengan terbitnya Deklarasi Komite Hejaz. (hal. 30-35)

Mukadimah Qanun Asasi (1926), Piagam Indonesia sebagai Negara Bangsa (1936), Deklarasi Mabadi Khoiro Ummah (1939), Deklarasi Resolusi Jihad I (1945/46), Piagam Waliyul Amri (1954), dan Piagam Liga Muslimin Indonesia (1952) dapat ditemukan keasliannya dalam buku ini. Tidak hanya dicantumkan, tapi juga disertai dengan latar belakang piagam dan deklarasi tersebut ditorehkan.

Selain itu, masih ada Deklarasi Demokrasi Pancasila (1967), Piagam Hubungan Agama dengan Pancasila (1983), Deklarasi Khittah Nahdliyah (1984), Pedoman Berpolitik Warga NU (1989), Mufakat Demokrasi (1991), Piagam Perdamaian Dunia (2004), Maklumat Kebangsaan Nahdlatul Ulama (2006), dan yang terbaru ialah Maklumat Menyelamatkann NKRI (2011).

Harus diakui, keberhasilan NU dalam berperan serta memelihara keutuhan bangsa ini tidak terlepas dari sikap kebangsaan yang dipilihnya. Ia selalu mengedepankan sikap moderat dalam menyikapi masalah, dan terpenting ialah toleran terhadap ragam perbedaan. Hal inilah yang menjadi kekuatan utama yang naif manakala tidak diteladani oleh generasi muda Indonesia.

Secara akumulatif, Piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam buku ini penting diketahui sekaligus dipahami oleh semua kalangan. Ini adalah buku sejarah kebangsaan yang dilahirkan oleh organisasi yang sedari berdiri amat peduli terhadap keutuhan NKRI. Meminjam bahasa Abdul Mun’im DZ, mempelajari fakta historis itu bukan untuk membangun romantisme masa lalu, tetapi sebuah upaya menggali gudang peluru sebagai amunisi menggerakkan masa depan.

Akhirnya, buku ini mendesak dimiliki oleh siapapun. Warga Indonesia yang betul-betul punya kepedulian terhadap bumi pertiwi, rugi rasanya bila tak mengoleksi buku setebal 147 halaman ini. Saya merekomendasikan agar buku ini dijadikan rujukan oleh kalangan peneliti agar tidak bias dalam ‘membaca’ NU.

* Penggiat buku di Intitut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Cerita, Tegal Hari Santri 2018

Sabtu, 27 Januari 2018

Syiir ‘Kanjeng Nabi’ Karya Mbah Kiai Umar Solo

Cinta Mbah Kiai Ahmad Umar bin Abdul Mannan Solo kepada Rasulullah SAW tidak saja diwujudkan dengan mengikuti sunnah-sunnah beliau tetapi juga dengan bacaan-bacaan shalawat. Hal ini dapat kita temukan dalam beberapa karya syiir beliau yang antara lain berjudul “Kanjeng Nabi”.

Syiir ini diawali dengan intro shalawat dan kemudian diikuti dengan bait-bait dalam bahasa Jawa berisi kisah Rasulullah SAW di masa kecilnya. 

Syiir ‘Kanjeng Nabi’ Karya Mbah Kiai Umar Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Syiir ‘Kanjeng Nabi’ Karya Mbah Kiai Umar Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Syiir ‘Kanjeng Nabi’ Karya Mbah Kiai Umar Solo

Berikut bunyi lengkap syiir tersebut yang dikutip dari buku Kumpulan Syair, Shalawat  & Pujian-pujian Mangkuyudanan (Jakarta Pusat: Pustaka Mediatama, 2003), Cet. 8, halaman 20, disunting oleh Ahmad Iftah Sidik:

Kanjeng Nabi

? ? ? ?   ? ? ?

? ? ? ? ? ?   ? ? ? ?

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Masya Allah gedhe temen tho cobane



Masya Allah lelakone mesaake

Ing nalika kondure sangka Madinah

Ana ndalan njur gerah Siti Aminah





(Masya Allah sungguh besar cobaannya

Masya Allah mengharukan riwayatnya

Ketika kembali dari kota Madinah

Di perjalanan sakit Bunda Aminah)





Gerah panas ora suwe nuli seda

Njur dikubur ana penduduk ing desa

Desa kang kanggo leren jenenge Abwa

Lan dikubur uga ana ing desa Abwa 





(Bunda wafat setelah sakit tak lama

Lalu dimakamkan oleh warga desa

Desa tempat Bunda singgah bernama Abwa

Di Abwa pula tempat dimakamkannya)





Siti Aminah sak wuse dikuburake

Gusti Nabi lan Ummu Aiman bature

Padha budhal kanthi penggalihe susah

Wektu limang dina lagi tekan ngomah





(Setelah Bunda Aminah dimakankam

Lalu Nabi dan Ummu Aiman sang Emban

Dengan sedih melanjutkan perjalanan

Sampai rumah lima hari kemudian)





Gusti Nabi kundure karo bature 

Tekan ngomah gusti sowan ing eyange

Ingkang eyang kaget getir lan sungkawa

Barang ngerti yen Siti Aminah seda





(Nabi pulang bersama sang pengasuhnya

Sampai rumah Nabi menghadap kakeknya

Sang kakek terkejut dan berduka cita

Mendengar  bunda Nabi telah tiada)





Gusti Nabi dikekep lan diambungi

Waspane dleweran lan dingendikani

Oh ngger putuku wis pestine awakmu

Isih cilik ditinggal rama ibu





(Lalu Nabi dipeluk dan diciumnya

Seraya menangis kakeknya berkata

Duhai cucuku mungkin sudah takdirmu

Masih kecil ditinggal ayah ibumu)





Oh ngger atimu aja keranta-ranta

Aku eyangmu kang dadi ganti bapa

Sandang panganmu aku sing mikirake 

Nggonmu seneng  atimu ditentremake





(Duhai cucuku jangan sedih hatimu

Aku kakek yang menggantikan ayahmu

Sandang panganmu menjadi tanggunganku

Bergembira dan tentramkanlah hatimu)





Gusti Nabi nalika nderek eyange

Durung tahu pisan wae nggelaake

Sebab  Gusti becik banget pekertine

Tata krama sregep lan keresi’ane 





(Katika Nabi ikut dengan kakeknya

Tak pernah beliau mengecewakannya

Sebab akhlak Nabi sangatlah mulia

Sopan santun, rajin, dan selalu bersih)

Bagi kebanyakan orang Solo, khususnya para santri dan warga NU, karya ini tidak asing bagi mereka. Semenjak Mbah Kiai Umar wafat pada tahun 1980, syiir ini banyak diperdengarkan oleh beberapa kelompok rebana di kota Solo seperti Grup Ayyada dibawah pimpinan Ahmad Zainudin, seorang alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta. Di musim peringatan Maulid seperti sekarang ini, syiir ini biasa dilantunkan oleh grup rebana yang tergabung dalam JAMURI-- jamaah ibu-ibu pecinta Rasulullah SAW di Solo. 

Untuk melantunkan syiir ini tidak sulit. Jika anda bisa melantunkan “Tombo Ati” yang dibawakan Opick, anda tentu bisa melantunkan syiir karya Mbah Umar ini dengan mudah karena dari awal hingga akhir memiliki kesamaan lagu di bagian chorus atau reff dalam lagu “Tombo Ati” sebagai berikut: 

? ? ? ?   ? ? ?

? ? ? ? ? ?   ? ? ? ?

Lewat syiir ini Mbah Kiai Umar mengajak kita mengetahui sejarah masa kecil Nabi Muhammad SAW yang amat mengharukan. Tentu beliau tidak bermaksud mengajak kita bersedih hati. Beliau ingin menggugah kita menjadi orang sabar dan bersyukur atas apapun nasib hidup yang kita alami. Mbah Umar bermaksud menunjukkan kepada kita keteladanan Nabi Muhammad SAW bahwa meskipun beliau mengalami penderitaan yang luar biasa sebagai yatim piatu di masa kecilnya, namun kesemua itu bukan hambatan untuk menjadi anak saleh, berbudi pekerti luhur, rajin bekerja dan selalu menjaga kebersihan lahir batin sebagaimana diuraikan dalam bait terakhir syiir ini. 

 

Muhammad Ishomdosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal Hari Santri 2018

Sabtu, 06 Januari 2018

Produsen Panci Berlafadz "Alhamdu Allah" Minta Maaf

Sidoarjo, Hari Santri 2018

General Manager (GM) PT Pektroindo Anugerah Sukses Abadi, produsen panci Paramount yang berlafadz "Alhamdu Allah", Ciputra Alim meminta maaf kepada seluruh umat Islam terkait produknya yang menjadi polemik, karena bertempelkan stiker berlafadz "Alhamdu Allah". Ia juga mengaku khilaf atas kejadian tersebut.

Ciputra mengaku, tidak ada maksud sama sekali melakukan penistaan agama dalam produk panci yang diproduksi massal tersebut. Namun, pihak pabrik sebenarnya hanya ingin menempelkan stiker tersebut sebagai wujud rasa syukur, setelah hampir 12 tahun tidak berproduksi dan akhirnya bisa produksi kembali pada akhir 2015.

Produsen Panci Berlafadz Alhamdu Allah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Produsen Panci Berlafadz Alhamdu Allah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Produsen Panci Berlafadz "Alhamdu Allah" Minta Maaf

"Sejak kisaran tahun 2003, pabrik panci tidak berproduksi dan baru memulai produksi kembali kisaran akhir 2015. Atas dasar itu, sejumlah karyawan yang Muslim mengusulkan agar menyertakan kata "Alhamdulillah" di stiker produk panci Paramount. Ungkapan itu, sebagai bentuk syukur karyawan yang bisa bekerja kembali di perusahaan panci," kata Ciputra sembari menceritakan asal usulnya kepada wartawan saat ditemui di kantornya Jalan Gajah Mada, Desa Kedungturi, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (26/1).

Namun tak disangka, lanjut dia, niatan itu justru menimbulkan polemik di kalangan umat Islam. Apalagi, kata yang dimaksud "Alhamdulillah" itu ternyata hurufnya kurang dan menjadi "Alhamdu Allah".?

Hari Santri 2018

"Kami atas nama perusahaan meminta maaf dan berjanji akan mengganti stiker lafadz ? "Alhamdu Allah" dengan stiker baru tanpa tulisan Arab. Selain itu, kami juga akan menarik produk yang beredar di pasaran," ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, bahwa produk panci Paramount yang belafadz "Alhamdu Allah" itu ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain Pasuruan dan Jember. Temuan lafadz Allah itu, spontan membuat sebagian umat Islam merasa kecewa. Bahkan, MUI Pasuruan dan sebuah ormas Islam di Pasuruan sempat melaporkan polemik itu ke Mapolres Pasuruan. MUI dan salah satu ormas Islam tersebut menyebutkan, pencatuman lafadz "Alhamdu Allah" di barang yang tidak semestinya bisa dianggap sebagai penistaan agama. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Tegal Hari Santri 2018

Senin, 25 Desember 2017

Belajar Memaafkan dari Joko Tingkir

Solo, Hari Santri 2018. Pada suatu pagi yang cerah, di sebuah sungai pinggiran Kota Solo, Jawa Tengah, ‘Joko Tingkir’ yang diperankan oleh RMS Triyono tengah menyusuri sungai untuk menuju ke sebuah pulau, dengan menggunakan sebuah getek, ditemani beberapa prajurit.

Belajar Memaafkan dari Joko Tingkir (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Memaafkan dari Joko Tingkir (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Memaafkan dari Joko Tingkir

Saat dia hendak sampai di tepi pulau, tiba-tiba, datang empat ekor siluman buaya menyerang getek. Perahu pun menjadi oleng dan hampir membuat para penumpang tercebur. Namun, dengan sigap Joko Tingkir dan para prajurit berhasil mengamankan getek.

Adegan berikutnya, terjadi perkelahian antara Joko Tingkir melawan para siluman buaya. Kemudian, dengan kesaktian yang dimiliki, Joko Tingkir dengan mudah mengalahkan perlawanan siluman buaya. Setelah mengaku kalah, siluman buaya meminta maaf dan Joko Tingkir pun memaafkan mereka.

Hari Santri 2018

Adegan di atas, tentu bukan kisah nyata, melainkan hanya drama yang disuguhkan pada acara "Pekan Syawalan" yang diadakan di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Surakarta, Ahad (3/8).

Koordinator acara, KP Winarno menjelaskan, drama ini dikemas sedemikian rupa untuk memberikan edukasi kepada warga akan nilai luhur yang dimiliki Joko Tingkir.

Hari Santri 2018

“Masyarakat bisa mencontoh perjuangan Joko Tingkir yang tetap kuat menghadapi rintangan. Sedangkan kita sebagai masyarakat (mesti kuat) melawan rintangan berupa hawa nafsu,” ujarnya.

Di akhir drama, Joko Tingkir membagikan ribuan ketupat kepada para pengunjung. Ketupat yang disusun dalam sebuah gunungan dibagikan sebagai wujud syukur atas keberhasilan menghadapi segala rintangan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Budaya, Tegal, Kyai Hari Santri 2018

Sabtu, 09 Desember 2017

Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial

Mataram, Hari Santri 2018 - GP Ansor bersama Kapolres Kota Mataram AKBP Muhammad menggelar doa bersama di Aula Kantor PWNU NTB Jalan Pendidikan nomor 6 Kota Mataram, Selasa (02/5) malam. Mereka berharap Kota Mataram ke depan terjaga terlebih lagi menghadapi pilkada Kota Mataram (2018).

Ketua GP Ansor Mataram Hasan Basri mengatakan, GP Ansor memiliki investasi dan modal besar terhadap bangsa dan Negara Indonesia. Karena itu tidak salah bila Ansor mendoakan bangsa ini. Di tengah kondisi bangsa yang carut-marut baik masalah sosial, keagamaan, politik, dan lainnya, GP Ansor mengambil cara lain, yaitu mendoakan bangsa.

Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Pilkada, GP Ansor dan Polres Mataram Jaga Keharmonisan Sosial

"Cara ini adalah cara kritik kami terhadap pemerintah. Karena dengan cara aksi massa sudah pernah namun kurang direspon," katanya.

Hari Santri 2018

Sementara Kapolres Kota Mataram AKBP Muhammad mengajak Ansor dan pemuda yang hadir untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

“Tugas kita adalah menumbukan persaudaaran sesama umat Islam dan antarumat manusia lainnya. Jangan menghina orang lain, apa lagi terkait isu pilkada khususnya pilkada Kota Mataram yang sudah di depan mata. Dan hidup yang marhamah, saling menyayangi,” kata Kapolresta Mataram Muhammad.

Hari Santri 2018

Ketua GP Ansor NTB H Zamroni Aziz menyampaikan, GP Ansor akan selalu siap bersama Polri dan TNI menjaga stabilitas dan keamanan di tengah-tengah masyarakat. "Siapapun yang ganggu negara, maka akan berhadapan dengan Ansor," jelasnya.

Pertemuan yang dipandu oleh Sekretaris GP Ansor Mataram Fadil Adli dihadiri oleh Wakil Rais Syuriyah PWNU NTB TGH Sahimun Faesal, Abdul Hamid Faesal, Ketua PCNU Kota Mataram Ustadz Fairuz Abadi, Suryadi utusan Persatuan Serikat Muslim Tionghoa (PSMTI) NTB. Pimpinan IPNU-IPPNU NTB, PMII Mataram, PMKRI NTB, dan puluhan anak muda NU NTB. (Hadi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sejarah, Tegal Hari Santri 2018

Senin, 04 Desember 2017

Naruto, Pancasila dan Nasionalisme

Oleh Muhammad Aras Prabowo

Perkembangan paham radikalisme di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kian mengkhawatirkan. Berbagai lini dijadikan sebagai tempat strategis dalam menyebarkan pahamnya. Mulai dari lembaga pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi) dan tempat beribadah seperti masjid. Ajaran kebencian, intoleransi sampai dengan penolakan pancasila sebagai dasar neraga republik Indonesia.

?

Naruto, Pancasila dan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Naruto, Pancasila dan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Naruto, Pancasila dan Nasionalisme

Meskipun kelompok tersebut tergolong minoritas, tapi nampaknya gerakannya kian menghawatirkan bagi ketertiban NKRI. Pancasila sebagai dasar neraga tidak luput dari penolakan kelompok radikal ini. Hal tersebut jelas mengusik sikap nasionalisme bangsa Indonesia. Apalagi pancasila merupakan kebangga, bahkan mukjizat bagi seluruh masyarakat negeri dengan penduduk lebih kurang 250 juta jiwa.

Gerakan penolakan pancasila sebagai dasar Negara ditengarai oleh kelompok-kelompok islam transnasional seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan beberapa yang berafiliasi dengan organisasi internasiona seperti Ikhwanul Muslimin (IM) sampai dengan ? Negara Islam Irak dan Syam (NIIS) serta organisasi-organisasi yang telah berubah wujud menjadi organisasi masyarakat, namun ajarannya tetap menyebarkan kebencian, perpecahan, intoleransi dan penolakan terhadap pancasila.

Negara islam dan syriat sebagai dasar hukumnya adalah angan-angan yang selalu mereka lontarkan untuk mengantikan pancasila sebagai dasar negara. Tapi, pemerintah telah mengambil sikap tegas dengan memutuskan untuk membubarkan HTI karena dianggap sebagai organisasi yang menentang NKRI. Penelokan Pancasila sebagai dasar Negara adalah alasan pembubarannya. Keputusan tersebut diapresiasi oleh berbagai lapisan birokrasi dan Organisasi masyarakat lainnya, seperti Wakil Presiden (Jusuf Kall), Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (KH Ma’ruf Amin).

Hari Santri 2018

Menurut Dr Hertz dalam bukunya yang berjudul Nationality in History and Politics menjelaskan beberapa unsur yang terdapat dalam sikap nasionalisme seperti, Hasrat untuk mencapai kesatuan, Hasrat untuk mencapai kemerdekaan. Hasrat untuk mencapai keaslian. Hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa.?

Hari Santri 2018

Dari definisi tesebut nampak bahwa negara dan bangsa adalah sekelompok manusia yang: Memiliki cta-cita bersama yang mengikat warga negara menjadi satu kesatuan, Memiliki sejarah hidup bersama sehingga tercipta rasa senasib sepenanggungan, Memiliki adat, budaya, dan kebiasaan yang sama sebagai akibat pengalaman hidup bersama, Menempati suatu wilayah tertentu yang merupakan kesatuan wilayah; dan Teroganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat sehingga mereka terikat dalam suatu masyarakat hukum.

Orang-orang yang tergabung dengan organisasi tersebut sungguh tidak memiliki sikap nasionalisme terhadap Negara. Tidak memahami perjuangan para pendahulu yang mengorbankan tenaga sampai dengan jiwa dalam merintis kemerdekaan NKRI. Terkait pancasila, para pendiri bangsa telah merumuskan secara final kelima sila pancasila sebagai dasar Negara negeri ini.

?

Semua elemen yang terdapat dalam NKRI yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, ras, budaya dan beberpa agama telah menyatu dan diikat oleh nilai-nilai pancasila. Untuk itu, memahamkanya tentang sikap nasionalisme sangat penting. Lewat “Naruto” film anime yang banyak di tonton oleh kalangan anak-anak, remaja sampai dengan orang dewasa bisa dijadikan pembelajaran kepada kelompok tersebut tentang sikap nasionalisme.

Naruto Uzumaki adalah adalah tokoh utama dalam serial anime tersebut. Ia adalah bocah berambut pirang dan bermata biru dan sering terlihat memakai jaket dan celana panjang berwarna jingga. Di dahinya ada ikat kepala berwarna biru dengan lambang desa kelahirannya.

Menurut cerita, Naruto adalah seorang ninja dari desa Konoha (Konohagakure), yang bercita-cita untuk menjadi seorang Hokage (pimpinan tertinggi di desa Konoha). Hidupnya sebatang kara setelah ditinggal oleh kedua orangtuanya sewakti Ia masih kecil. Singkat cerita, Ia memulai pendidikannya di Akademi (sekolah) yang terdapat di Konoha. Di Akademi inilah Ia ditempah dan banyak belajar mengenai sikap nasionalisme seperti, bagaimana mencintai, melindungi, dan menjaga desa dan orang-orang yang Ia cintai.

Beberapa nilai kehidupan yang terkandung di dalam anime Naruto seperti, menggambarkan kasih sayang yang tulus, berusaha jujur dan percaya pada diri sendiri, Berjuang mempertahankan persahabatan dan perdamaian, menggambarkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air yang tinggi, menggambarkan pentingnya kerjasama, menghargai, menghormati, dan menolong sesama dan mengajarkan untuk mendahulukan kepentingan umum dalam kebenaran.

?

Namikaze Minato, Hokage Keempat yang rela mengorbankan dirinya saat menyegel Kurama, monster rubah ekor sembilan yang mengamuk ? dan menghancurkan Konoha dan membunuh beberapa shinobi. Sebenarnya Kurama tersegel dalam diri Kushina Uzumaki, istri Minato. Namun saat ia bersalin, segel itu melemah. Dan kesempatan itulah yang dimanfaatkan oleh Tobi, shinobi bertopeng, untuk melapaskan Kurama. Rubah ekor sembilan disegel kembali ke dalam diri anak Minato ? yang baru lahir, yang tak lain adalah Naruto. Dalam peristiwa itu Kushina juga mati.

Selanjutnya adalah Sarutobi yang rela mengorbankan dirinya ketika Orochimaru, mantan muridnya, menyerang Konoha saat ujian chuniin. Sarutobi mati karena menggunakan jurus penghisap roh untuk memukul mundur Orochimaru.Terakhir adalah Uchiha Itachi yang rela menjadi ninja buronan kelas satu setelah membantai seluruh klannya ? termasuk ayah dan ibunya. Ia hanya menyisakan adiknya saja: Uchiha Sasuke. Itachi melakukannya karena Klan Uchiha merencanakan makar. Selain nasionalisme, sebenarnya ada begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari anime naruto seperti persahabatan dan tekad yang kuat dalam menggapai cita-cita.

?

Fenomena perkembangan kelompok radikalisme dan anti-Pancasila yang kian subur, maka penting rasanya memahami pentingnya sikap nasionalisme dalam bernegara, khususnya bagi kelompok-kelompok yang bermimpi menggantikan Pancasila sebagai dasar negara. Seperti sikap nasionalisme yang ditanamkan oleh desa Konoha dalam anime Naruto kepada para penduduk desanya. Kedudukan sikap nasionalisme terhadap suatu Negara sangat penting untuk menjaga cita-cita kemerdekaan, kehormatan dan kesatuan bangsa.

Penulis adalah Gusdurian Makassar, Kader PMII Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal, Daerah, Warta Hari Santri 2018

Kamis, 30 November 2017

Hasyim: ICIS II Ingin Ciptakan Keadilan dan Perdamaian Dunia

Jakarta, Hari Santri 2018
Hajatan besar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), International Conference of Islamic Scholars (ICIS) II yang akan digelar di Jakarta pada 20-22 Juni mendatang, bertujuan ingin menciptakan keadilan dan perdamaian dunia.

Demikian ditegaskan Ketua Umum KH Hasyim Muzadi kepada Hari Santri 2018 ditemui di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jum’at (9/6).

Menurut Hasyim, dua hal (keadilan dan perdamaian) tersebut merupakan sebuah keniscayaan yang harus dipenuhi. “Perdamaian itu syaratnya adalah keadilan. Kalau tidak adil, tidak bisa ada perdamaian,” terangnya.

Dukungan PBNU terhadap program nuklir Iran, kata Hasyim, merupakan bagian dari komitmen NU terhadap perwujudan keadilan dan perdamaian. “(program nuklir red) Iran kita sokong. Kita harus bisa bersikap adil, karena nuklirnya itu merupakan hak dari bangsa Iran.,“ jelasnya.

Demikian juga dengan konflik umat Islam di Timur Tengah serta ketegangan antara dunia Timur dan Barat. Persoalan itu, kata Hasyim, juga menjadi perhatian dalam ICIS II nanti.

“Kita juga berupaya meredakan konflik yang terjadi di Timur Tengah, misalkan konflik (kelompok) Hamas dan Fatah di Palestina. Begitu juga ketegangan antara Timur dan Barat yang akhir-akhir ini kembali memanas,“ terang Hasyim.

Namun demikian, imbuh Hasyim, upaya peredaan ketegangan itu tidak berarti pemihakan terhadap salah satu pihak. Konferensi internasional yang digagas oleh PBNU ini berupaya mengambil jalan tengah, yakni jalan moderat.

Ditegaskan Hasyim, cara-cara ekstrim dalam menghadapi sebuah persoalan umat yang marak belakangan ini, justru merugikan Islam sendiri. “Fundamentalisme dan terorisme benar-benar telah merugikan Islam. Dan juga tidak adil kalau fundamentalisme dan terorisme itu diidentikkan dengan Islam, padahal keduanya juga ada di agama atau sekte manapun,“ tegasnya.

Demikian juga sebaliknya. Liberalisme yang juga menjadi fenomena umum di kalangan Islam dewasa ini, justru tidak memperbaiki masalah. “Liberalisme itu malah menggerogoti akidah Islam. Al Qur’an dan Nabi Muhammad dikritik lah, macam-macam,“ ungkapnya.

NU, kata Hasyim, turut memerangi terorisme. Namun demikian, katanya, sikap tersebut bukan berarti membela Amerika Serikat (AS). Garis moderat yang diambil oleh NU, katannya, berusaha menyeimbangkan antara keyakinan dan sikap toleransi.

“Garis moderat NU itu bukannya semua di-iyani (Jawa: dibenarkan, red). Tapi ada keseimbangan antara keyakinan dan sikap toleran. Kalau terlalu mengedepankan keyakinan tapi tidak toleran, jadinya ekstrim. Begitu juga kalau terlalu toleran, jadinya liberal,“ jelas Hasyim.

Melalui ICIS II ini, Hasyim berharap akan tercipta kekuatan-kekuatan Islam moderat di dunia. “ICIS II ini kita berharap kekuatan-kekuatan Islam moderat di dunia bisa bergabung,“ ujarnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal, Pendidikan Hari Santri 2018

Hasyim: ICIS II Ingin Ciptakan Keadilan dan Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: ICIS II Ingin Ciptakan Keadilan dan Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: ICIS II Ingin Ciptakan Keadilan dan Perdamaian Dunia

Selasa, 28 November 2017

Para Kiai Beri Masukan ke Mahfud MD

Jombang, Hari Santri 2018. Para kiai dari sejumlah pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah menggelar pertemuan di Pesantren Al Aziziyah Denanyar Jombang, Sabtu (19/4) malam. 

Para Kiai Beri Masukan ke Mahfud MD (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai Beri Masukan ke Mahfud MD (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai Beri Masukan ke Mahfud MD

Pertemuan para kiai yang berakhir sekitar pukul 21.10 WIB tersebut belum menghasilkan rekomendasi final ke mana arah dukungan para kiai kepada Mahfud MD dalam bursa capres-cawapres. 

"Belum ada (yang direkomendasi), semuanya masih terbuka komunikasi dengan siapa saja," ungkap KH. Salahuddin Wahid, pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, usai pertemuan.

Hari Santri 2018

Namun, lanjut Gus Sholah, sebagian besar para kiai dari lintas daerah yang hadir dalam pertemuan tersebut cenderung mengarahkan agar Mahfud MD, berpasangan dengan calon presiden yang diusung Partai Gerindra, Prabowo Soebianto. 

Hari Santri 2018

"Kalau yang di dalam tadi, umumnya lebih condong kepada Pak Prabowo," katanya.

Sembari menunggu petunjuk dari para kiai, Mahfud MD diharapkan terus intensif melakukan pendekatan dengan sejumlah fihak, terutama dengan Prabowo Soebianto. 

"Tetapi ini tidak menutup kemungkinan untuk terus berkomunikasi dengan siapa saja. dengan siapa saja masih ada peluang," tandas Rektor Unhasy Tebuireng Jombang ini.

Rekomendasi final dari kiai dan pengasuh pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Madura, lanjut Gus Sholah, baru akan diputuskan pada Rabu (23/4) lusa. 

Pertemuan lanjutan para kiai dari sejumlah pesantren rencananya dilaksanakan di Pesantren Tebuireng Jombang. "Mudah-mudahan hari Rabu besok kita sudah mendapatkan gambaran konkrit," ujar Gus Sholah.

Kiai dan pengasuh pesantren yang datang di Pesantren Al Aziziyah Denanyar Jombang, pimpinan KH Aziz Masyhuri, untuk mengikuti halaqah terkait bursa capres-cawapres, masing-masing adalah, dari Jombang ada KH Salahuddin Wahid, Pesantren Tebuireng Jombang, KH Hasib Wahab, Pesantren Tambakberas, KH Abdul Salam Sohib, PP Manbaul Maarif, Denanyar, serta KH Abdurrahman Utsman, Pesantren Al Mubarok Tambakberas.

Dari Kediri, datang KH Anwar Mansur, Lirboyo, KH Anwar Iskandar, Pesantren Al Amin dan KH Abdurrahman, Ploso Kediri. Selain itu, terlihat pula KH Nawawi dari Sidogiri, KH Mas Mansur dari Sidoresmo, Surabaya dan KH Lukman dari Termas Pacitan.

Sedangkan dari Madura, ada KH Muhaimin dari Bangkalan. Dari Jawa Tengah, turut hadir adalah KH Hanif Muslih dari Mrangen. Selain itu, hadir juga para gus dan kiai muda dari sejumlah daerah di Jatim dan Jateng.

Kecenderungan arah dukungan para kiai agar Mahfud MD berpasangan dengan Prabowo dimotori sejumlah kiai sepuh. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu dinilai pantas untuk menjadi bagian pemimpin RI dan peluang terbesarnya terbuka jika berpasangan dengan Prabowo.

Sebelumnya, dalam pertemuan di Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang, beberapa bulan lalu, para kiai sepuh mendukung agar Mahfud MD turut serta dalam bursa capres-cawapres tahun 2014. Oleh para kiai sepuh, Mantan Ketua MK itu dinilai pantas karena memiliki bekal sebagai pemimpin bangsa.

Dukungan dari para kiai juga berlatar belakang kejujuran dan kecerdasan Mahfud MD. Kader NU itu juga dinilai bersih, baik saat menjadi DPR RI, Menteri Pertahanan Era Presiden Gus Dur, serta saat menjadi ketua Mahkamah Konstitusi (MK).

Sementara itu, Mahfud MD, menyatakan siap mengikuti apa yang menjadi titah para kiai sepuh. Dirinya akan terus menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah calon presiden. 

"Saya terima dan akan menjadi rujukan dan bahan utama untuk melangkah berikutnya," ujarnya.

Mahfud MD mengamini jika sebagian besar kiai yang datang dalam halaqah terkait bursa capres-cawapres di Pesantren Al Aziziyah menyarankan agar dirinya mau bergandengan sebagai cawapres dari Prabowo Soebianto. "Tadi rekomendasinya begitu, tetapi akan lihat fakta-fakta di lapangan," pungkas mantan Mahkamah Konstitusi ini. (syaifullah/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 IMNU, Tegal, Santri Hari Santri 2018

Sabtu, 25 November 2017

Posisi Jari-Jemari Ketika Shalat

Jarang orang berpikir mengenai fungsi jari-jari tangannya. Seolah dibiarkan bergerak begitu saja. Padahal kita dapat memanfaatkannya sebagai  pendulang pahala, jika mengetahui tata caranya. Karena banyak laku ibadah yang sepele, jika diniati sebagai sebuah kesunnatan akan mendatangkan pahala. Termasuk didalamnya adalah mengenai letak jari-jari dalam shalat.

Jangan biarka jari-jari tangan kita bergerak demikian saja dalam shalat. kadang renggang dan kadang rapat. Karena ada tata cara dan waktu khusus untuk merenggangkan atau merapatkan jari-jari dalam shalat.

Disunnahkan merenggangkan (sekadarnya) jari-jari tangan dalam shalat ketika mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, ruku’, bangun dari ruku’ (I’tidal), dan berdiri dari tahiyat awal. Demikian pula sunnah hukumnya merenggangkan jari-jari ketika rukuk. Artinya jari-jari direnggangkan ketika menekan lutut.

Posisi Jari-Jemari Ketika Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Posisi Jari-Jemari Ketika Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Posisi Jari-Jemari Ketika Shalat

Berbeda halnya ketika dalam keadaan sujud. Hendaknya posisi jari-jari rapat dan mengarah kiblat. Tepatnya ketika jari-jari tangan kita menempel pada alas tempat shalat. Demikian pula ketika duduk di antara dua sujud, sebaiknya jari-jari tetap rapat di atas kedua lipatan kaki.

Adapun ketika tahiyat, maka jari-jari tangan kiri tetap rapat mengarah ke kiblat, dan jari-jari tangan kanan menggenggam sambil mendirikan jari telunjuk mengarah ke kiblat.

Demikianlah sedikit informasi tentang posisi jari-jemari tangan dalam shalat sebagaimana diterangkan Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain. (Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Tegal Hari Santri 2018

Senin, 30 Oktober 2017

Masjid Jadi Perlambang Takwa

Brebes, Hari Santri 2018. Masjid menjadi lambang tingkat ketakwaan suatu umat kepada Allah SWT. Dan derajat tinggi rendahnya dapat terlihat ketika niatan awal saat peletakan batu pertama pembangunan masjid. Dalam artian, niatan seseorang atau umat suatu kaum akan memperlihatkan nilai karismatis dan bisa berpengaruh pada kecintaan orang lain pada masjid tersebut.

Masjid Jadi Perlambang Takwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Jadi Perlambang Takwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Jadi Perlambang Takwa

Hal tersebut disampaikan oleh KH Endang Baranas MA dari Jakarta saat menyampaikan mauidlatul khasanah pada peresmian masjid Baitul Mutaqin Dukuh Sigempol Desa Randusanga Brebes, Senin (3/8).

Allah SWT, lanjut Endang, menyediakan berbagai ladang amalan di dunia untuk memuliakan manusia itu sendiri. Allah SWT tidak butuh apapun dari mahluknya, justru mahluklah yang membutuhkan Sang Khalik, salah satunya dengan masjid untuk menguatkan pondasi keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.

Hari Santri 2018

“Namun yang juga tidak kalah penting, adalah bagaimana umat bisa berbuat apa setelah dibangunnya masjid, tidak hanya ramai-ramai membangun masjid namun kemudian ditinggalkan begitu saja,” ujarnya.

Hari Santri 2018

Kemakmuran masjid, sambungnya, sangat bergantung pada bagaimana niatan awal pembangunannya. Sebagai contoh, mengapa masjid Agung Demak lebih banyak dikunjungi daripada masjid Agung Brebes? Ternyata ada kekuatan pendahulu yang membangun masjid tersebut, yakni dengan niatan ikhlas dan memiliki pondasi keimanan yang kuat.

Pun sama-sama keajaiban dunia, kenapa Borobudur yang kontruksinya rumit pengunjungnya lebih sedikit dibandingkan dengan Ka’bah yang sederhana? “Orang yang hendak mengunjungi Ka’bah, hingga kini mengharuskan antri hingga berpuluh-puluh tahun,” tandasnya.

Pengurus masjid Baitul Mutaqin H Tarmudi SPd menjelaskan, masjid dibangun dalam motif Persia dan Mesir kuno dengan ornamen yang sangat cantik sehingga menambah gairah jamaah untuk berlama-lama menikmati keindahan dan keteduhan untuk beribadah kepada Nya.

Masjid hasil wakaf dari H Dulmajid, H Suyud dan Hj Warni dibangun diatas tanah seluas 29 X 17 meter persegi. Peletakan batu pertama dilakukan pada 12 Mei 2014 dan selesai pada 31 Juli 2015. Hingga sampai saat ini telah menelan dana Rp 1,6 milyar. Dana sebesar itu didapat dari swadaya masyarakat, donator, bantuan pemkab Brebes dan juga bantuan pribadi Bupati.

“Namun, menara dan pagar keliling belum rampung? sehingga kemungkinan dana yang dibutuhkan keseluruhannya bisa mencapai Rp 1,8 milyar,” papar Tarmudi.

Peresmian dilakukan oleh Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dengan cara pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti.

Bupati berharap, pembangunan masjid di Dukuh Sigempol bisa menambah kesemangatan untuk beribadah sehingga keimanan dan ketakwaan umat Islam Sigempol bisa makin meningkat. Dia mengakui kalau peran ulama sangat membantu kesuksesan pembanguan daerah. Terutama dalam membangun mental dan spiritual.

“Tanpa peran ulama, pembangunan Brebes sulit untuk bisa maju,” tuturnya.

Idza menyadari kalau pembangunan suatu daerah itu harus seimbang antara pembangunan jasmani dan pembangunan rohani. Pemkab, senantiasa berupaya menyeimbangkan pembangunan keduanya secara selaras dan serasi serta berkelanjutan. Sehingga bisa tercapai masyarakat yang baldatul toyibatun warobun ghofur. (Wasdiun/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Tegal Hari Santri 2018

Selasa, 17 Oktober 2017

Hadapi Radikalisme Agama dengan Pendekatan Dialogis

Kudus,Hari Santri 2018. Menghadapi kelompok radikalisme agama tidak harus dengan cara kekerasan, melainkan? pendekatan dialogis. Dengan demikian, mereka tidak lari menjauh dari jalan yang benar.

“Jangan dijauhi atau dijustifikasi sehingga mereka tidak semakin menjauh. Kita harus mendekati dan selalu mengajak diskusi tentang ajaran-ajaran yang benar.”

Hadapi Radikalisme Agama dengan Pendekatan Dialogis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Radikalisme Agama dengan Pendekatan Dialogis (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Radikalisme Agama dengan Pendekatan Dialogis

Hal itu dikemukakan Lukman Hakim pada seminar bertema Penguatan Islam Toleran, Menepis Radikalisme. Kegiatan tersebut diselenggarakan Lembaga Pusat Kajian Multikultural (PUSAKA) di Aula Balai Desa Rendeng Kudus, Jawa Tengah, pada Sabtu (28/12).

Hari Santri 2018

Lukman menyatakan ideologi radikalisme telah menjadi bahaya laten yang mengancam bangsa Indonesia. Oleh karenanya semua komponen bangsa harus bersinergi melakukan upaya deradikalisasi secara menyeluruh bukan? hanya terhadap penganutnya semata.

Hari Santri 2018

“Deradikalisasi harus terus digiatkan, tidak hanya disuarakan. Tetapi harus melalui pendekatan bil hikmah wal mauidhotil hasanah wajadilhum billati hiya ahsan,” ujar Lukman yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Tani Nusantara (Astanu).

Idoologi radikalisme agama, papar Lukman, akan lebih mudah merasuki jiwa masyarakat labil. Hal ini menunjukkan adanya kondisi sosial yang bermasalah dalam masyarakat yang disebabkan oleh kesenjangan sosial, ketidakadilan, kemiskinan maupun frustasi sosial yang komplek.

“Pelumpuhan ideologi ini harus dilakukan dimulai dari lingkup keluarga, lembaga pemerintaah, ormas agama dan lembaga pendidikan harus bersatu padu,” tegasnya lagi.

Peran pemerintah, kata dia, mempunyai tanggung jawab membasmi tindakan radikalisme dengan cara menegakkan kepastian hukum. Diantaranya menghukum siapa saja yang bertendak kekerasan dan perusakan. “Negara mempunyai tugas melindungi segenap warga negara Indonesia tidak memandang mayoritas maupun minoritas,” tandas Lukman.

Disamping itu, tokoh agama harus berperan aktif dalam memberikan penafsiran ajaran agama yang baik. Sebab, radikalisme yang berkembang akhir-akhir ini ditengarai juga adanya salah penafsiran terhadap ajaran agama tertentu.

“Tokoh agama harus bisa mengajarkan agama dengan baik seperti menumbuhkan semangat perdamaian, budaya saling menghormati adanya perbedaan agama dan cinta tanah air,” ajaknya. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Doa, Tegal, IMNU Hari Santri 2018

Jumat, 25 Agustus 2017

Rakernas LP Maarif NU 2013 Resmi Dibuka

Jakarta, Hari Santri 2018. Pembukaan rapat kerja nasional, Rakernas 2013 Lembaga Pendidikan Maarif NU, diselenggarakan di Wisma Syahida Inn, Kampus II UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Senin (21/10 siang.

Rakernas LP Maarif NU 2013 Resmi Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas LP Maarif NU 2013 Resmi Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas LP Maarif NU 2013 Resmi Dibuka

Pembukaan Rakernas 2013 dihadiri Mendikbud M Nuh, Menag Surya Dharma Ali Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud dan Ketua PP LP Maarif, HZ? Arifin Junaidi. Tokoh-tokoh tersebut turut memberikan sambutan.

Rakernas secara resmi dibuka oleh Menteri Agama saat memberikan kata sambutan. “Semoga Rakernas kali ini menghasilkan program pendidikan yang sanggup menjawab kebutuhan masyarakat dan masa depan,” kata Menteri Agama.

Hari Santri 2018

Rakernas dihadiri oleh sedikitnya tujuh puluh tiga orang. Mereka adalah peserta Rakernas. Mereka datang dari pelbagai daerah di Indonesia. Mereka adalah pengurus wilayah dan cabang LP Maarif NU.

Hari Santri 2018

Acara pembukaan Rakernas digelar mulai pukul dua siang. Sedangkan M. Nuh mengisi kata sambutannya dengan presentasi konsep Kurikulum 2013 Depdikbud RI. Pembukaan ditutup dengan berakhirnya presentasi Mendikbud RI pada pukul 16.40.

Menurut M. Nuh, kurikulum 2013 Depdikbud RI ini diarahkan agar pelajar mengembangkan kreativitas. Karena, jiwa kreatif sebanyak 2/3 dapat dikembangkan melalui proses pendidikan. Sedangkan 1/3-nya, kreatifitas merupakan warisan atau bakat.

“Karenanya, kita arahkan kurikulum kita untuk membangun kreativitas siswa. Dari sana, mereka dapat berinovasi dan berijtihad dalam ? bahasa pesantren ketika persoalan dunia sains mengalami kemandekan,” tandas M. Nuh.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal, Hadits Hari Santri 2018

Selasa, 15 Agustus 2017

Haul dan Khotmil Qur’an sebagai Sarana Promosi

Pondok Pesantren Salafiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU) ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisah, karena pondok pesantren menjadi lumbung tersendiri bagi keberadaan NU hingga saat ini. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Assalafiyah.

Pesantren ini merupakan basis pertahanan ajaran dan tradisi ke-NU-an di pantai utara (pantura) Jalan Blanakan Dusun Sidamulya/Keboncau Desa Ciasem Baru Kecamatan Ciasem Kabupaten Subang Jawa Barat.

Pada tahun 1970-an Di dusun Karangsuwung (sekarang Karangmulya), KH. Haromain mendirikan sebuah majelis taklim yang diberi nama sama al-Ittihad. Di Majelis tersebut beliau dengan istiqomah mendidik masyarakat baik yang sudah lanjut usia, remaja, maupun anak-anak untuk mengenal agama Islam yang sesuai dengan ajaran Ahlussunah waljama’ah an_Nahdiyyah

Haul dan Khotmil Qur’an sebagai Sarana Promosi (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul dan Khotmil Qur’an sebagai Sarana Promosi (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul dan Khotmil Qur’an sebagai Sarana Promosi

Seiring waktu, santri yang datang dari luar Subang semakin banyak, seperti dari Kabupaten Indramayu, Cirebon, Karawang, Pekalongan, Jakarta, Lampung Barat, Lampung Selatan dan daerah lain dan dorongan masyarakat untuk mendirikan pondok pesantren.

Kemudian pada tahun 1980-an, pesantren tersebut berdiri dan diberi nama Assalafiyah, menurut penuturan Pengasuh sekaligus Pendiri Ponpes Assalafiyah, KH. Haromain kepada NU Online,beberapa waktu lalu  bahwa nama Assalafiyah mengandung makna dan tujuan, yaitu untuk mempertahankan tradisi pengajian salaf, seperti cocogan (sorogan) dan bandongan. Nama tersebut tabarukan (memohon berkah) agar kelak santri yang menjadi alumni, memiliki semangat juang dan pengabdian kepada masyarakat yang mereka tempati.

Jenjang Pendidikan Formal

Hari Santri 2018

Sebagaimana pesantren salaf pada umumnya, Pesantren Assalafiyah memiliki cara tersendiri agar para santri dapat membaca dan memahami kitab kuning.

Untuk kelas Ula (pemula) santri  mempelajari ilmu sharaf, dengan kitab Tashrifan Kempek dan Sharaf Kempek dengan metoda hafalan.  Kedua kitab tersebut yang paling dasar dalam mempelajari ilmu shorof yang dikarang salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Umar Sholeh (W 1999) Pondok Pesantren Kempek Cirebon. Kitab tersebut sangat mudah dihafalkan karena disusun secara rapi dan bisa dilagukan dengan indah.

Kelas wustha, Pelajaran yang harus dikaji oleh para santri ialah ilmu nahwu dengan kitab Jurumiyah karya Syekh Sonhaji, Salah satu kitab dasar yang mempelajari ilmu nahwu. Setiap santri Assalafiyah yang menginginkan belajar kitab kuning wajib menghafal kitab tersebut terlebih dahulu. Karena tidak mungkin bisa memahami tanpa menghafal terlebih dahulu (alfahmu ba’dal hifdzi: faham setelah hafal), kemudian dilanjutkan dengan Kitab Mukhtashor Jiddan Jurumiyah Karya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan dan kitab Syarah Al-Jurumiyah karya Syekh Kholid dengan metoda klasikal.

Sedangkan untuk kelas ulya pelajarannya adalah kitab Fathul Qarib, Fathul Muin, dan at-Tahrir dibarengi dengan ilmu nahwu tahap lanjut, yaitu kitab al-Fiyyah ibnu Malik.

Santri tahap takhasus, diwajibkan untuk mengkaji kitab Fathul Wahab dan kitab usul fikih Jam’ul Jawami’ dengan metode diskusi.

Hari Santri 2018

Dengan perkembangan zaman dan minat masyarakat terhadap pendidikan formal tanpa menghilangkan jati diri dan latar belakang metodologi tradisional salaf (Klasikal dan Kitab Kuning), Pesantren Assalafiyah Sidamulya pada tahun 2002 mulai menjalin kerja sama dengan SMP Negeri 1 Ciasem dan membuka SMP Terbuka dengan lapor dan ijazah SMP Negeri 1 Ciasem.

Kemudian pada tahun 2005 pesantren Assalafiyah terus menjalin kerjasama dengan SMA Negeri 1 Ciasem, untuk mengakomodiri lulusan SMP yang ingin melanjutkan ke SMA.

Berkat kegigihan dan ikhitar pengasuh dan pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah, dan tidak lepas dari izin dan rida Allah SWT. SMP Terbuka Assalafiyah pada tanggal 02 Februari 2010 telah resmi menjadi SMP Reguler (SMP Mandiri) dengan nama SMP Plus Assalafiyah begitu pula dengan SMA yang dahulu kerjasama dengan SMA Negeri 1 Ciasem, sekarang sudah mandiri menjadi SMA Plus Assalafiyah.

Pada tahun 2009, Pesantren Assalafiyah membuka Sekolah Tinggi Islam (STAI) yang bekerja sama dengan STAI AI Shalahudin Al-Ayyubi Jakarta sebagai upaya untuk menjembatani lulusan SMA Plus Assalafiyah yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.

Jumlah santri Pondok Pesantren Assalafiyah mengalami pasang surut, sebelum reformasi memiliki jumlah 400 santri, setelah reformasi dan krisis moneter sekitar tahun 1999-2001, pesantren Assalafiyah sempat hanya memiliki 50 santri, namun setelah membuka pendidikan formal, jumlah santri meningkat pesat sekitar 600 santri putra dan putri. Seluruh siswa dan siswi yang sekolah di SMP dan SMA diwajibkan mondok di Pesantren.

Haul dan Khatmil Qur’an

Setiap tanggal 12-14 bulan Sya’ban, Pondok Pesantren menyelenggarakan haul (ulang tahun) dan khatmil Qur’an bagi santri yang telah menghatamakan al-Qur’an bin nazdar baik yang 30 Juz maupun Juz Amma. Pada acara rutinan tersebut dihadiri oleh puluhan ribu orang, yang meliputi orang tua wali, alumni dan masyarakat.

Pada bulan Ramadhan dari tanggal 21 sampai 27, pesantren mengadakan ujian al-Qur’an bagi para wisudawan khatimul Quran menggunakan bacaan imam ‘Ashim dengan riwayat imam Hafsh dan imam Syu’bah sekaligus.

Ujian al-Quran tersebut biasa dikenal dalam di Pesantren Assalafiyah dengan istilah idarohan (santri membaca al-Quran secara bergiliran)

idarohan merupakan kegiatan rutinitas setiap bulan Ramadhan, yang diikuti oleh para santri putra dan putri yang telah diwisuda pada bulan Sya’ban kemarin” Jelas Abah Umen

"Selain itu juga, tujuan utama idarohah ialah mengajarkan dan pembacaan al-Qur’an yang memiliki sanad yang musalsal, diakui kebersambungannya hingga Rasulullah SAW. Untuk sedar diketahui saja, saya dahulu belajar Al-Qur’an dari KH Umar Kempek Cirebon, terus beliau belajar kepada KH. Muanwwir Yogjakarta dan seterusnya sampai sambung kepada Rasulullah SAW. Kalau dalam Urutannya saya urutan ke 36,” tegas pengasuh.

Adapun waktu idarohan menurut salah satu pengurus Assafiyah, Nanang Abdullah, dimulai pagi pukul07.00 s/d 11.30, sore jam 03.30 sampai berbuka puasa dan malam usai salat tarawih sampai pukul 00.00 malam.

“Dengan adanya acara haul, khatmil Qur’an dan dilanjutkan idarohan justru meningkatkan minat orang tua untuk memondokan putra-putrinya ke pesantren ini” pungas Nanang.  (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul, Tegal, Habib Hari Santri 2018

Selasa, 25 Juli 2017

Hardiknas, PMII Soroti Diskriminasi Pendidikan

Sidoarjo, Hari Santri 2018. Sejumlah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) komisariat Universitas Sunan Giri (Unsuri) Waru Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardknas) dengan menggelar acara refleksi bertajuk "Stop diskriminasi pendidikan".

Hardiknas, PMII Soroti Diskriminasi Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hardiknas, PMII Soroti Diskriminasi Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hardiknas, PMII Soroti Diskriminasi Pendidikan

Kegiatan diadakan di Gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsuri dengan diikuti sekitar 37 kader dan anggota PMII Unsuri dari berbagai fakultas, Sabtu (2/5) malam.

Ketua komisariat PMII Unsuri Ainur Rahman menjelaskan, melalui refleksi ini pihaknya berupaya untuk mencari solusi dari ketimpangan pendidikan antara di perkotaan dengan pedesaan atau sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran Sidoarjo.

Hari Santri 2018

"Karena selama ini bisa kita ketahui bersama kualitas dan fasilitas pendidikan antara di kota dengan di desa atau pinggiran itu tidak sama. Sehingga siswa-siswa berprestasi didomenasi oleh siswa/i yang berasal dari sekolah negeri maupun swasta yang ada di daerah perkotaan," urai Ketua komisariat PMII Unsuri Ainur Rahman.

Hari Santri 2018

Ia berharap kepada Dinas Pendidikan terutama di Sidoarjo untuk membangun kasadaran dan pemahaman terkait problematika ketimpangan pendidikan. Dari hasil refleksi itu nantinya ada beberapa rekomendasi yang akan dikirimkan kepada Dinas Pendidikan Sidoarjo. Adapun beberapa rekomendasi itu diantaranya :

Pertama, pengembangan sekolah di kawasan pinggiran guna mewujudkan pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi; Kedua, meminta agar komisi D DPRD Sidoarjo yang membidangi Pendidikan lebih memasifkan? perannya dalam controling untuk mengantisipasi terjadinya KKN di tingkat sekolah; Ketiga, mengusulkan Pendidikan menjadi prioritas program kerja pemerintah daerah.

"Karena pendidikan ini merupakan jantung kemajuan dan perkembangan suatu daerah dalam segala sektor. Semoga rekomendasi itu nantinya bisa direalisasikan," harapnya. (Moh Kholidun/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah, Tegal Hari Santri 2018

Kamis, 20 Juli 2017

Peringati Seabad Madrasah Tambakberas, Wakil Bupati Ajak Tanam Pohon

Jombang, Hari Santri 2018. Peringatan satu abad madrasah dan 191 tahun Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang diperingati dengan tanam pohon. Selain? Ketua Majlis Pengasuh dan Ketua Yayasan Pesantren, tampak bergabung di acara ini Wakil Bupati Jombang, Kapolsek Kota Jombang, para kepala sekolah dan madrasah di pesantren setempat.

"Semoga pohon yang kita tanam memberikan manfaat bagi kehidupan dan anak cucu kelak," kata Wabub Jombang, Hj Mundjidah Wahab, Ahad (22/5).

Menurut Ketua PC Muslimat NU Jombang ini, tugas manusia adalah memberikan keseimbangan bagi ekosistem yang ada. "Salah satunya adalah dengan gerakan penanaman pohon," ungkap putri pahlawan nasional, KH Abdul Wahab Chasbullah tersebut.

Peringati Seabad Madrasah Tambakberas, Wakil Bupati Ajak Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Seabad Madrasah Tambakberas, Wakil Bupati Ajak Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Seabad Madrasah Tambakberas, Wakil Bupati Ajak Tanam Pohon

Kegiatan tanam pohon ini sebagai rangkaian dari acara Gowes yang juga sebagai mata rangkai dari peringatan satu abad madrasah dan 191 tahun Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Sebelum tanam pohon, ribuan peserta mengikuti Gowes yang dimulai di GOR pesantren dan berakhir di kampus Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha).? Para peserta gowes juga mendapatkan sejumlah bibit yang dapat ditanam di kediaman masing-masing. (Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Tegal, Fragmen, Quote Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Sabtu, 01 Juli 2017

Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal

Semarang, Hari Santri 2018. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang menggelar workshop diseminasi hasil penelitian mahasiswa dan dosen tahun 2014 di hotel Muria Semarang, Sabtu (29/11).

Program penelitian tersebut merupkan tahun kedua bagi mahasiswa dikampus tersebut melakukan penelitian secara langsung. Kegiatan mulai pendaftaran di awal tahun (Januari-red), seleksi administrasi, seleksi tim reviewer, seminar proposal, pelaksaaan penelitian, progress report (laporan sementara) hasil penelitian hingga workshop diseminasi hasil penelitian.

Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal

Heri Kuseri, salah satu mahasiswa meneliti pemikiran Dr. KH. MA. Sahal Mahfudh dengan judul

penelitian "Teologi Sosial Kiai Sahal". Heri melakukan penelitian mulai awal Juli, butuh dua bulan untuk menggali data.

Hari Santri 2018

"Keyakinan teologi mendorong manusia untuk bertindak secara praksis sosial", ungkap mahasiswa jurusan Akidah Akhlaq ini.

Hari Santri 2018

Heri tertarik dengan pemikiran salah seorang kiai besar di kalangan Nahdlatul Ulama ini. "Beliau memandang sesuatu tidak hitam putih, antara halal dan haram. Tapi visinya adalah mashlahat. Beliau termasuk orang yang berpengaruh", tambah Heri.

Selain itu penelitian ini akan memberi pemahaman teologi atau tauhid tidak hanya percaya kepada Tuhan belaka kemudian beribadah, namun menekankan pada praktek kesalehan sosial.

Bagi mahasiswa penelitian ini bermanfaat dalam menunjang dan mengasah intelektual mereka. Selain itu, dari segi pembiayaan kegiatan penelitian kompetitif ditanggung oleh LP2M IAIN Walisongo melalui Dana DIPA RM dan BOP IAIN Walisongo tahun 2014.

Untuk mahasiswa akan mendapat bantuan sebesar Rp. 5.000.000/penelitian. Muhammad Bagus Irawan, salah satu peserta, menyatakan, program penelitian seperti ini sudah bagus dan layak untuk dilanjutkan di tahun mendatang. Minimal bisa mengajak mahasiswa untuk belajar penelitian. (M. Zulfa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Tegal Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock