Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Siswa Madrasah Miliki Kesempatan Magang di Perusahaan Jepang

Jakarta, Hari Santri 2018

Direktorat Pendidikan Madrasah (Ditpenmad) Kementerian Agama menjalin kesepakatan bersama Univance Co. untuk memberikan kesempatan magang kepada para siswa madrasah. Univance Corporate merupakan perusahaan asing milik Jepang yang bergerak di bidang produksi mesin dan peralatan transportasi. Perusahaan ini memiliki cabang di sejumlah negara, termasuk Indonesia yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat.?

Siswa Madrasah Miliki Kesempatan Magang di Perusahaan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Madrasah Miliki Kesempatan Magang di Perusahaan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Madrasah Miliki Kesempatan Magang di Perusahaan Jepang

Sinergi ini berawal dari inisiatif ? Ditpenmad berkunjung ke kantor Univance Co. di Jepang untuk melakukan penjajakan kerjasama. Selang sebulan, tepatnya Jumat (11/03) kemarin, giliran pihak Univance Co. yang gantian berkunjung ke Kantor Kementerian Agama.?

Kunjungan rombongan Univance Co. yang dipimpin oleh presiden Univance Co, Kenzuke Tani, diterima langsung ? oleh Direktur Pendidikan Madrasah, M. Nur Kholis Setiawan dan jajarannya. ? Dalam pertemuan tersebut, hadir pula perwakilan dari PT Univance Indonesia.?

Ditemui usai pertemuan, M. Nur Kholis mengungkapkan bahwa pembicaraan kerjasama sudah mulai mengerucut. Menurutnya, Kenzuke Tani menilai ada kesamaan platform antara Univance Co. dan madrasah. Dalam budaya organisasi Univance Co., nilai-nilai kejujuran, akhlak, disiplin, dan tanggung jawab sangat dikedepankan. Begitu juga dalam tradisi pendidikan madrasah.?

Hari Santri 2018

“Hal ini menjadi kata kunci penting dalam kerjasama ini,” terang M. Nur Kholis, Sabtu (12/03) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Dalam pertemuan itu, Univance Co. meminta agar Direktorat Pendidikan Madrasah ? segera merekomendasikan nama-nama madrasah yang siswa-siswinya akan magang/PKL di PT Univance Indonesia di Purwakarta.?

Hari Santri 2018

“PT Univance Indonesia akan menyiapkan secara teknis pelaksanaanya, termasuk persyaratan minimal peserta magang/PKL, pembiayaan, tempat tinggal dan waktu pelaksanaanya. Semuanya akan dikoordinasikan dengan tim teknis Direktorat Pendidikan Madrasah,” jelas ? Nur Kholis.

Sementara itu, tim teknis Ditpenmad akan menjaring ? calon-calonnya dan menyiapkan skema ? pembiayaan tranportasi pulang pergi peserta dari tempat asal ke PT Univance Indonesia di Purwakarta. Dikatakan M. Nurkholis, sebagai piloting project, Ditpenmad ? akan memprioritaskan siswa-siswi madrasah yang berada di Jawa terlebih dahulu.?

“Dalam waktu dekat ini, MoU akan segera ditandatangai oleh kedua belah pihak dan Direktorat Pendidikan Madrasah akan berkunjung ke PT Univance Indonesia di Purwakarta. Mudah-mudahan program magang ini pada ? bulan Juli sudah bisa dimulai,” tembahnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Warta, Amalan, Kiai Hari Santri 2018

Minggu, 18 Februari 2018

Harlah, Puluhan Aktivis PMII Singaraja Bersih-bersih Pantai

Buleleng, Hari Santri 2018 - Dalam rangka merayakan Harlah Ke-57 PMII, Pengurus Cabang PMII Singaraja mengadakan baksos pembersihan sampah plastik di sepanjang jalan pantai indah Singaraja Buleleng.

Kegiatan lingkungan ini merupakan bagian dari implementasi Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII, yakni salah satunya adalah relasi antara manusia dengan alam.

Harlah, Puluhan Aktivis PMII Singaraja Bersih-bersih Pantai (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah, Puluhan Aktivis PMII Singaraja Bersih-bersih Pantai (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah, Puluhan Aktivis PMII Singaraja Bersih-bersih Pantai

Ketua PMII Singaraja Muhammad Mahfud mengatakan, apa yang dilakukan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus berkampanye untuk tidak membuang sampah sembarangan.

"Kami juga meminta kepada dinas terkait untuk turut menyediakan beberapa tempat sampah, karena pantai ini dan pantai pantai lainnya di Buleleng memiliki tingkat kunjungan pengunjung yang tak sedikit," ujarnya.

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Tidak hanya itu, lanjut Mahfud, ia akan memanfaatkan momentum harlah ini sebagai penyemangat kader untuk terus berkhidmat untuk bangsa dan negara.

"Semoga kami bisa meneladani semangat para pendiri PMII yang tak kenal lelah mengabdi untuk agama dan bangsa," tegasnya. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Amalan Hari Santri 2018

Sabtu, 10 Februari 2018

Dakwah dengan Hikmah Lahirkan Cinta, Dakwah dengan Keangkuhan Munculkan Benci

Jakarta, Hari Santri 2018. Pengurus Lembaga Dakwah PBNU KH Muhammad Nur Hayid yang akrab disapa Gus Hayid mengajak segenap umat Islam untuk senantiasa meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan dan dakwah sehari-hari. Ajakan tersebut disampaikannya saat menjelaskan Al-Quran Surat Al Ahzab ayat 21 yang merupakan perintah gamblang untuk mengambil suri tauladan dari Rasul.

Salah satu suri tauladan dari Rasulullah, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Skill Jakarta ini adalah pandai mensyukuri nikmat dan anugerah dari Allah SWT. Walaupun Rasulullah adalah sosok yang makshum (dilindungi dari dosa) dan dijamin masuk surga, namun ia senantiasa tidak mengurangi frekwensi ibadahnya.

Dakwah dengan Hikmah Lahirkan Cinta, Dakwah dengan Keangkuhan Munculkan Benci (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah dengan Hikmah Lahirkan Cinta, Dakwah dengan Keangkuhan Munculkan Benci (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah dengan Hikmah Lahirkan Cinta, Dakwah dengan Keangkuhan Munculkan Benci

"Tekunnya Rasul dalam beribadah merupakan ungkapan syukur yang diwujudkan dengan senantiasa menggunakan segala nikmat Allah untuk menambah ketaatan dan keimanan kepada Allah SWT," jelasnya, Senin (11/12).

Kehidupan bahagia dan tenang juga menurut Gus Hayid dapat dirasakan dari rasa bersyukur ini. 

Hari Santri 2018

"Jika ingin berbahagia, hidup senantiasa tenang maka pandailah bersyukur. Jika tidak pintar bersyukur maka pastilah hidup penuh dengan kesesakan dan selalu suudzon (buruk sangka) kepada orang lain," tambahnya.

Sifat lain Rasul yang patut diteladani adalah selalu sabar dalam menerima ujian dan mampu menahan emosi dari sikap orang lain yang menyakitinya. Rasulullah adalah sosok yang selalu mampu memaafkan orang lain.

"Akhlak rasulullah adalah Al-Quran. Walaupun terus di-zalimi, namun beliau mampu menahan emosinya dengan tidak meluapkannya kepada orang yang menzaliminya. Sebenarnya jika ia mau berdoa kepada Allah untuk membalas orang yang menzaliminya, niscaya Allah akan mengabulkannya. Namun ini tidak dilakukan Rasul," terangnya.

Hari Santri 2018

Sementara itu, cara dakwah yang patut dicontoh dari Rasul menurut Pengurus Komisi Dakwah MUI Pusat ini adalah dengan cara memberikan hikmah. Dakwah menggunakan hikmah menurutnya akan dapat lebih diterima dan  memperoleh hasil yang maksimal.

"Dakwah dengan hikmah melahirkan cinta. Dakwah dengan keangkuhan akan memunculkan rasa benci," tegasnya.

Oleh karenanya dalam mengajak seseorang kepada hal yang baik, haruslah senantiasa mengedepankan dakwah dengan hikmah. Jika dakwah dengan hal ini tidak diterima maka ada langkah lain yaitu dengan mauidzatul hasanah.

"Jika harus saling memberikan argumentasi pun, haruslah senantiasa dilakukan dengan cara yang ahsan (yang paling baik). Tidak dengan blaming (menyalahkan) orang lain," pungkas dai muda yang kerap menjadi pemateri Syiar Kemuliaan di salah satu stasiun televisi swasta nasional. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Amalan, Ulama Hari Santri 2018

Jumat, 02 Februari 2018

Gelar Pesantren Ramadhan, Ajarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Jombang, Hari Santri 2018

Untuk kali ketiga, Musyawarah Guru Pendidikan Agama Islam (MGMP PAI) SMK Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menggelar Pesantren Kreatif Ramadhan atau KIR. Kegiatan ini berlangsung sejak Senin (13/6) hingga Rabu (15/6). Acara yang berlangsung di SMK PGRI 1 Jombang ini diikuti 205 peserta yang terdiri para remaja.

Gelar Pesantren Ramadhan, Ajarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Pesantren Ramadhan, Ajarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Pesantren Ramadhan, Ajarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

“Semua peserta merupakan perwakilan dari seluruh SMK yang ada di kabupaten Jombang, baik negeri maupun swasta,” ujar Abdul Malik, sekretaris panitia. Jumlah sekolah yang mengirim perwakilan, lanjutnya, naik jika dibanding tahun lalu. “Tahun ini yang mengirim sebanyak 30 sekolah,” ucapnya.

Acara ini disambut positif oleh Kementerian Agama Kabupaten Jombang. Kasi PAIS Salim Basawad datang untuk membuka kegiatan. “Semoga para peserta kegiatan ini mampu menjadi insan kamil yang terampil,” ujarnya.

Hari Santri 2018

Kegiatan ini juga dirangkai dengan berbagai kegiatan Islami. Mulai lomba adzan, tartil al-Qur’an, cerita Islami, kaligrafi dan pemilihan da’i remaja (pildara).

“Karena di samping memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta tentang ajaran Islam, kegiatan ini juga berusaha memberikan ruang kepada para peserta untuk menunjukkan kreativitas yang dimiliki,” ujar ketua panitia Arif Ghofar Anshori.

Hari Santri 2018

Pria berkacamata ini menambahkan bahwa peserta yang hadir diharapkan juga untuk menjalin ukhuwah. “Dan juga jejaring antara generasi Islam di sekolah SMK yang ada di Jombang,” imbuhnya.

Salah satu tema yang dibahas dalam kegiatan ini adalah semakin merebaknya paham radikalisme. Terutama yang melibatkan dunia remaja. Tidak terkecuali para pelajar SMK.

Hal senada juga diungkapkan narasumber kedua, KH. Nur Hadi. Kiai muda yang dikenal dengan nama Mbah Bolong ini menggarisbawahi bahwa problematika yang dihadapi remaja sangat banyak.

Di zaman modern ini, remaja tidak mustahil terjebak kepada ideologi-ideologi yang aneh. “Baik bersumber dari dalam diri maupun dari luar,” ujarnya.

Remaja saat ini, lanjutnya, akan berhadapan langsung dengan berbagai godaan sosial dari manusia yang ada di dalamnya. “Termasuk juga berbagai godaan dari setan dan nafsu sendiri,” imbuhnya.

Mbah Bolong mengidentifikasi bahwa jiwa remaja juga menjadi faktor penyebab terjebaknya remaja ke dalam ideologi radikal. “Ini disebabkan karena masa remaja penuh dengan dorongan memenuhi rasa ingin tahu dan coba-coba,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Mbah Bolong mendorong remaja untuk selalu menimba ilmu. “Mengajilah kepada para ahlinya agama dan cari informasi seluas-luasnya tentang apa yang akan dilakukan,” imbuhnya.

Pengasuh Pesantren Falahul Muhibbin Watugaluh Jombang ini juga mengajak para remaja untuk selalu berpegang teguh kepada ajaran Islam. “Ini agar hidup di dunia bisa selamat di akhirat kelak,” urainya.

Namun, lanjutnya, Islam yang dipraktikkan dalam keseharian adalah Islam toleran yang menghargai perbedaan. “Keragaman yang ada di Indonesia adalah sebuah rahmat, sehingga Islam harus mampu menjadi rahmatan lil alamin,” jelasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Aswaja, Pesantren, Amalan Hari Santri 2018

Senin, 29 Januari 2018

KH Agus Ali Masyhuri: Umat Islam Harus Cinta Damai

Sidoarjo, Hari Santri 2018. Pengasuh pondok pesantren Bumi Sholawat Lebo Sidoarjo KH Agus Ali Masyhuri atau Gus Ali menuturkan, umat Islam harus cinta damai. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Hadlratussyekh KH Hasyim Asyari.

KH Agus Ali Masyhuri: Umat Islam Harus Cinta Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Agus Ali Masyhuri: Umat Islam Harus Cinta Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Agus Ali Masyhuri: Umat Islam Harus Cinta Damai

"Cinta tanah air adalah sebagian dari iman?," tutur Gus Ali pada acara Haul Mbah Muchdor dan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di halaman mushollah Mbah Muchdor Desa Lebo Kecamatan Sidoarjo kota, Kamis (11/5).

Gus Ali mengatakan, sebuah bangsa yang maju bisa diukur dengan kualitas pendidikan, minat baca, jumlah toko buku dan jumlah perpustakaan yang ada. Iqro (surat Al-Alaq 1-5, red) adalah ayat tentang revolusi pendidikan.

Untuk menggapai sebuah kesuksesan, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim itu menjelaskan, manusia harus senantiasa berpikir positif dan husnudzon (berbaik sangka kepada Allah SWT).

Hari Santri 2018

Lebih lanjut Gus Ali menyatakan, bersedekah merupakan alat untuk merekatkan umat. Sedekah tak harus dengan materi, tapi bisa berupa kebaikan yang dilakukan meski seuntai senyuman. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kiai, Amalan, PonPes Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Kamis, 25 Januari 2018

Peluncuran Harlah ke-10 NU Online Berlangsung Meriah

Jakarta, Hari Santri 2018. Peluncuran harlah ke-10 Hari Santri 2018 belangsung meriah di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, Kamis (28/3) malam. 10 tahun Hari Santri 2018 diawali irama instrumental Selawat Badar dan Indonesia Raya oleh seniman violin berprestasi Sagaf Faozata Adzkiya.

Peluncuran 10 tahun Hari Santri 2018 diisi dengan penganugerahan Hadiah Asrul Sani (HAS) kepada lima orang yang telah mengabdikan dirinya bagi kepentingan umum sesuai dengan kategori yang ditentukan.

Peluncuran Harlah ke-10 NU Online Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluncuran Harlah ke-10 NU Online Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluncuran Harlah ke-10 NU Online Berlangsung Meriah

Dari penganugerahan Hadiah Asrul Sani, acara peluncuran dilanjutkan dengan pidato kebudayaan yang disampaikan oleh M Jadul Maula. Sedikitnya 200 orang memadati lokasi. Mereka terdiri dari pelbagai kalangan mulai dari penyair, pelukis, novelis, wartawan, dan politisi.

Dalam mendengarkan nama para peraih HAS, para hadirin dipandu oleh dua awak redaksi Hari Santri 2018 A Khoirul Anam dan Abdullah Alawi. Pembawaan jenaka keduanya kerap memancing gelak tawa seisi ruangan. Pembawa acara sendiri Hamzah Sahal memiliki pembawaan yang humoris.

Namun begitu, suasana lentur ini sudah menjadi watak warga NU sehingga membuat nyaman siapa pun yang bertandang di Gedung PBNU seperti diungkap sineas Slamet Rahardjo saat menerima HAS.

Hari Santri 2018

Mereka yang tampak hadir adalah Ketua PBNU Kiai Maksum Mahfudz, Wasekjen PBNU Abdul Mun‘im DZ, penyair Kiai Zawawi Imron, novelis Ahmad Tohari, sineas Slamet Rahardjo, aktor film Alex Komang, sejumlah politisi, serta pengurus banom dan lembaga NU.

Sementara awak redaksi Hari Santri 2018 dikejutkan dengan sumbangan kue Tar dari komunitas media sosial di twitter atas inisiatif sendiri. Dua batang lilin yang menyala tertancap kuat di tengah kue.

Hari Santri 2018

Rangkaian peringatan 10 tahun Hari Santri 2018 secara formal ditandai dengan tiupan lilin dan pemotongan kue oleh Ketua PBNU dan Wasekjen PBNU. Potongan kue itu diterima oleh dua redaktur senior Hari Santri 2018.

“10 Tahun Hari Santri 2018 patut dirayakan. Karena, Hari Santri 2018 sebagai media ormas tetap mempertahankan pakem jurnalistik. Dengan itu, Hari Santri 2018 dipercaya masyarakat. Bahkan pembacanya meningkat tajam di dua tahun terakhir” kata Pemred Hari Santri 2018 Syafi Ali Elha dalam sambutannya.

Di sela acara, Sagaf memainkan instrumen violinnya untuk tembang Ilir-Ilir dan sebuah karya komposer klasik Jerman Johann Sebastian Bach. Di tengah panggung, penampilan musik violinis muda itu membuat bisu para hadirin. Dalam pertunjukkan, ia hanya mengenakan busana lazim santri, sarung, kemeja batik, dan kopiah hitam.

Peringatan 10 tahun Hari Santri 2018 rencananya dirayakan selama empat bulan ke depan. Hari Santri 2018 pada kesempatan mendatang mempertunjukkan ratusan karya kiai di Indonesia, peluncuran radio streaming Hari Santri 2018, dan halaqah kebudayaan.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Khutbah, Amalan, Habib Hari Santri 2018

Sabtu, 20 Januari 2018

Tahun Depan, Biaya Tambahan CJH Lumajang, Gratis

Lumajang, Hari Santri 2018. Calon Jamaah Haji (CJH) Kabupaten Lumajang tahun depan, patut bersyukur. Sebab, tidak perlu lagi merogoh  kocek untuk biaya pelepasan, pemberangkatan, dan pemulangan CJH karena sudah ditanggung Pemerintah Kabupaten Lumajang.

Tahun Depan, Biaya Tambahan CJH Lumajang, Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Depan, Biaya Tambahan CJH Lumajang, Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Depan, Biaya Tambahan CJH Lumajang, Gratis

Hal tersebut dikemukakan Kasi Haji dan Umrah Kemenag Kabupaten Lumajang, HM. Mudhafar di sela-sela pelepasan CJH Lumajang, kemarin (15/9).

Menurutnya, tahun  ini CJH dipungut biaya tambahan untuk keperluan pelepasan, pemberangkatan dan pemulangan CJH yang besarnya mencapai Rp. 400 ribu. "Tahun-tahun sebelumnya, CJH juga dipungut biaya tambahan itu. Tapi mulai tahun depan, CJH tak perlu lagi membayar biaya tambahan karena ditanggung Pemkab," ujarnya.

Hari Santri 2018

Selain harus membayar Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH), CJH juga diwajibkan membayar biaya-biaya tambahan yang terpsiah dengan BPIH, seperti biaya pelepasan, pemberangkatan, pemulangan, cek kesehatan dan sebagainya.

Hari Santri 2018

Diakaui Mudhafar, biaya-biaya tambahan tersebut bisa jadi cukup memberatkan bagi CJH, namun itu harus dipenuhi karena memang kegiatan-kegiatan itu memang keharusan. "Untuk CJH Kabupaten Lumajang, untuk cek kesehatan sudah lama digrariskan. Sekarang ditambah dengan biaya pelepasan dan sebagainya, juga gratis," lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mudhafar juga berharap agar CJH bisa konsentrasi untuk melakukan ibadah haji dengan khusyu dan ikhlas, sehingga pulang bisa membawa gelar haji mabrur. Ia juga menghimbau agar keluarga tidak memaksa untuk menjemput CJH di Surabaya kelak. "Supaya tidak mengganggu ketenangan CJH yang dijemput dan CJH yang lain, maka lebih baik ditunggu saja di Lumajang," ucapnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Amalan Hari Santri 2018

Minggu, 07 Januari 2018

Islam, Antara Prinsip dan Teknis

Oleh Ahmad Nur Kholis

Dalam kehidupan nyata, kepiawaian dalam membedakan antara prinsip-prinsip dasar dan masalah-masalah teknis sangat dibutuhkan. Karena kerancuan dalam memahami dan membedakan kedua hal ini akan berakibat kerancauan beragama. Hal-hal yang merupakan prinsip dianggap sebagai teknis sehingga membuat kita dengan leluasa mengubahnya. Demikian juga hal-hal yang merupakan permasalah teknis sepele bisa dianggap prinsip sehingga mencoba memaksakan sesuatu yang tidak perlu.

Prinsip dasar tersebut dalam Islam disebut dengan syariah, sedangkan masalah teknis operasionalnya adalah diatur dalam fiqih. Masalah penegakan hukum Islam itu adalah prinsip yang ada dalam ajaran Islam. Bahwasanya umat Islam harus menegakkan agamanya dan keadilan, itu memang kewajiban dan itu prinsipnya. Namun, bagaimana cara kita menegakkannya, itu masalah teknis yang boleh saja berbeda.  Demikian pula dalam masalah penegakan keadilan. Bagaimana seorang Islam yang menjadi rakyat harus menegakkan Islam dan keadilan, seorang pemimpin harus menegakkan Islam dan keadilan itu bisa saja berbeda.

Islam, Antara Prinsip dan Teknis (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam, Antara Prinsip dan Teknis (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam, Antara Prinsip dan Teknis

Sementara kalangan umat Islam berpendapat bahwa kita wajib menegakkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan. Dan jalannya adalah ‘harus khilafah’. Hal ini adalah mengikat kepada seluruh umat Islam. Semua umat Islam wajib menegakkan syariah dan khilafah.

Hari Santri 2018

Dalam pandangan penulis, pendapat seperti itu menunjukkan pendapat yang tidak bisa membedakan antara syariah dan fiqih. Karena pendapat tersebut harus dibedakan menjadi dua. Yakni hal-hal yang prinsip tersebut di satu sisi dan hal-hal yang berbau teknis di sisi lain.

Hari Santri 2018

Bahwasanya hukum Allah harus ditegakkan maka itu memanglah sebuah kewajiban. Namun, apakah khilafah adalah sebuah kewajiban juga dengan alasan bahwas ia sebagai alat untuk menegakkan hukum Allah? Jawabannya tidak. Karena Khilafah itu hanyalah teknis saja.

Khilafah tidak menjadi wajib karena ia bukan satu-satunya jalan atau alat menegakkan ajaran Islam. Cara yang lain dalam wujud dakwah moral, dakwah sosial juga banyak. Bahkan hal inilah yang dilakukan para pendakwah Islam di Indonesia sejak zaman dahulu.

Dalam kenyataan sejarahnya, Khilafah Islamiyah juga tidak menunjukkan keunggulannya sebagai sebuah pemerintahan dibandingkan model lainnya. Banyak di antara khalifah Islam yang dalam tindakannya sebagai pemimpin melenceng dari ajaran Islam. Hal ini bukan tidak mendapatkan kritikan dari para ulama pada waktu itu.

Para pemimpin Bani Umayyah, contohnya, yang mendapatkan kritikan dan tanggapan negatif dari para ulama di masa itu karena pola hidup elite kerajaan yang cenderung flamboyan dan keluar dari prinsip-prinsip syariat. Bahkan terjadi persaingan tidak sehat di lingkungan kerajaaan sendiri. Praktis khalifah yang dianggap baik dan berada dalam koridor syariat dalam generasi ini hanya Umar bin Abdul Aziz saja.

Kekhalifahan bani Abbasyiyah yang datang pada masa berikutnya juga sama. Selama berabad-abad dinasti ini dipimpin 37 orang khalifah, praktis yang paling baik hanyalah 3, salah satunya Khalifah Harun Al-Rasyid. Yang lain kurang lebih seperti, atau bahkan lebih buruk, dari Pak Harto. Demikian pula pada masa selanjutnya.

Demikianlah, akibatnya jika kita terlalu menyucikan apa yang dinamakan khilafah. Kenyataannya tidak. Karena hal itu adalah institusi politik, bukan institusi agama. Dan mengagamakan politik serta mempolitisasi agama inilah yang keliru. Karena tidak sesuai dengan prinsip agama dalam Al-Qur’an: “wala talbisul haqqa bil bathil.”

Kiai Hasyim Asy’ari dalam buku Fajar Kebangunan Ulama (karya Lathiful Khuluq) tercatat bahwa ia juga pernah belajar kepada pengajur Pan-Islamisme Mesir yakni Muhammad Abduh. Dalam buku itu juga dikatakan bahwa salah satu ajaran Islam Muhammad Abduh yang paling mendasar di mata KH Hasyim Asy’ari adalah persatuan Islam (pan-Islamisme). KH Hasyim menerima ide persatuan Islam tersebut. Tapi, ia menolak ide tidak wajibnya bermadzhab bagi kaum muslimin.

Namun kemudian, ketika Muktamar di Banjarmasin tahun 1936 yang kemudian menjadi keputusan alim ulama, Kiai Hasyim mengatakan bahwa menjalankan syariat Islam di Indonesia adalah wajib tapi menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam tidaklah wajib. Sikap demikian inilah yang dikatakan sabagai kejernihan berpikir. Cara berpikir yang mampu memikirkan bagaimana terlaksananya prinsip-prinsip Islam dan teknis-teknisnya.

*) Penulis adalah guru MTs Nahdlatul Ulama Kepuharjo, Karangploso, Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 News, Amalan Hari Santri 2018

Kamis, 04 Januari 2018

KH Nuril Huda: Jangan Takut Laksanakan Tradisi Aswaja

Jakarta, Hari Santri 2018. Tantangan untuk melaksanakan ajaran ahlusunnah wal jamaah belakangan ini semakin berat. Sejumlah kelompok kecil namun radikal berusaha untuk menentang ajaran yang sudah berjalan lama ini.

Berbagai macam cara digunakan untuk menghantam ajaran aswaja, mulai dari khutbah dimasjid-masjid yang seharusnya untuk meningkatkan ketakwaan malah digunakan sebagai forum caci maki, penggusuran takmir masjid ala NU sampai dengan penyebaran fatwa palsu mengatasnamakan NU Jombang yang meresahkan masyarakat.

KH Nuril Huda: Jangan Takut Laksanakan Tradisi Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Nuril Huda: Jangan Takut Laksanakan Tradisi Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Nuril Huda: Jangan Takut Laksanakan Tradisi Aswaja

“Jangan kecil hati untuk melaksanakan tradisi Aswaja, 82 persen orang Islam sedunia melaksanakan ritual ini,” tandas Ketua LDNU KH Nuril Huda dalam acara penutupan Pelatihan Kader Dai II di Gd. PBNU, Jum’at.

Dijelaskannya bahwa tradisi aswaja merupakan tradisi yang mengacu pada ajaran rasulullah dan para sahabatnya. “Selain mengikuti ajaran rasulullah, kita juga mengikuti para sahabat terpercaya yang yang dijamin masuk surga,” imbuhnya.

Sejumlah peserta pelatihan dai melaporkan banyaknya hambatan yang mereka terima dalam menjalankan ajaran-ajaran aswaja. Tradisi seperti membaca wirid secara keras, doa kunut sampai tahlilan dipertanyakan.

Hari Santri 2018

Peltihan yang berlangsung selama 10 hari ini memberikan bekal kepada pada dai dalam berdakwah. Semua tema berfokus pada penguatan akidah aswaja dalam berbagai aspek seperti akhlak, fikih, ekonomi dan lainnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Amalan Hari Santri 2018

Kamis, 21 Desember 2017

Warga NU Sulawesi Baca Barzanji dengan Bahasa Bugis dan Makassar

Jakarta, Hari Santri 2018. Pengurus Cabang Nadhdlatul Ulama (NU) berencana mengerahkan 1.000 warga NU untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW atau Maudu Lompoa yang digelar Pemerintah Kota Makassar di Anjungan Pantai Losari, Kamis (24/12) mendatang. Dalam Maudu Lompoa warga akan membaca riwayat hidup nabi dengan bahasa Makassar dan Bugis.

Warga NU Sulawesi Baca Barzanji dengan Bahasa Bugis dan Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Sulawesi Baca Barzanji dengan Bahasa Bugis dan Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Sulawesi Baca Barzanji dengan Bahasa Bugis dan Makassar

"Kami dari NU Makassar siap ambil bagian guna menyukseskan Maudu Lompoa yang digagas Pemkot Makassar dengan mengerahkan warga NU," ujar Wakil Ketua PCNU Makassar M Nur Khalik, Senin (21/12).

Nur Khalik menambahkan, pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU di setiap kecamatan di Makassar diminta mengirimkan perwakilan untuk ambil bagian dalam zikir dan pembacaan Barzanji.

Hari Santri 2018

"Nanti kegiatan Al-Barzanjinya dilantunkan dalam dua bahasa, Makassar dan Bugis," bebernya didampingi pengurus NU Makassar.

Hari Santri 2018

Menurut H Hasnawi, warga yang datang bisa berjumlah di atas 20 ribu sebagai bukti cinta mereka terhadap Rasulullah SAW. Seperti tahun-tahun sebelumnya peringatan maulid tahun ini kembali digelar tabligh akbar dan lomba bakul maulid antarinstansi sekota Makassar.

Peringatan Maudu Lompoa kali ini mengambil tema "Dengan Maudu Lampoa Nabi Besar Muhammad SAW 1437H, Mari Kita Teladani Akhlak Rasulullah dalam Mewujudkan Kota Makassar 2 Kali Lebih Baik".

Sekretaris kota Makassar Ibrahim Saleh menyampaikan pesan dan imbauan agar selurub lapisan masyarakat dapat berpartisipasi aktif menyukseskan kegiatan tersebut. Rencana taushiyah akan disampaikan oleh DR H Othman Shihab. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Amalan, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2018

Minggu, 03 Desember 2017

Gerhana Bulan Total 4 April 2015

Oleh Ibnu Zahid Abdo el-Moeid

--Secara global di tahun 2015 M. ini Insya Alloh akan terjadi 4 kali gerhana. Dua kali gerhana bulan total, satu kali gerhana matahari total dan satu kali gerhana matahari sebagian / parsial. Namun sayangnya dari empat kali gerhana tersebut tidak bisa disaksikan dari Indonesia, kecuali gerhana kedua di tahun ini.

Gerhana kedua di tahun ini adalah Gerhana Bulan Total yang terjadi pada tanggal 4 April 2015. Gerhana bulan ini terjadi 15 hari setelah gerhana matahari total yang terjadi pada hari Jum’at Pon, 29 Jumadil Ula 1436 H./20 Maret 2015 M. Pukul 07:41 UT sampai 11:50 UT. di wilayah Norwegia dengan durasi total 2 menit 27 detik. Gerhana matahari tersebut juga melintasi Rusia, Asia bagian utara, Afrika bagian utara serta seluruh benua Eropa, namun hanya terlihat sebagai gerhana matahari sebagian. Wilayah Australia, Asia Tenggara, Asia bagian selatan, Afrika bagian selatan serta Amerika tidak mengalami gerhana sama sekali. ? Termasuk juga wilayah Indonesia tidak terlintasi gerhana matahari ini.

Gerhana Bulan Total 4 April 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerhana Bulan Total 4 April 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerhana Bulan Total 4 April 2015

Gerhana bulan total yang bisa disaksikan dari Indonesia tepatnya terjadi pada hari Sabtu Pon, 15 Jumadil Akhiroh 1436 H./ 4 April 2015 M. mulai jam? 17:15 WIB sampai 20:44 WIB. Gerhana meliputi Asia, Australia dan Amerika. Dari wilayah Asia dan Australia, gerhana bisa dilihat pada sore hari sementara dari Amerika Utara dan Selatan, gerhana bisa diamati pada dini hari, sedangkan? Timur Tengah, Afrika dan Eropa tidak bisa menyaksikan peristiwa gerhana ini? karena pada saat gerhana terjadi, wilayah tersebut masih siang hari dan bulan masih dibawah ufuk.

Menurut sebagian metode hisab/astronomi, gerhana bulan 4 April 2015 ini tidak termasuk gerhana bulan total (total lunar eclipses) tetapi hanya gerhana bulan parsial (partial lunar eclipses), karena magnitude gerhana tidak sampai 1, akan tetapi menurut metode yang lainnya, seperti metode hisab Ad-Durrul Anieq, gerhana ini termasuk gerhana total karena magnitude gerhananya mencapai 1.0008 dengan durasi total 4 menit 48 detik.

Berikut ini hasil perhitungan gerhana bulan dari beberapa metode hisab dan software astronomy

Hari Santri 2018



Dari situs Fred Espenak Nasa, durasi gerhana umbra 3 jam, 29 menit, 1 detik, durasi totalnya 4 menit 43 detik dengan magnitude umbranya 1,00080. Pada release sebelumnya yang dikeluarkan Fred Espenak Nasa pada ? Juli 2004, durasi gerhana umbra 3 jam 29 menit 40 detik, durasi totalnya 11 menit 56 detik, dengan magnitude umbra 1.0052.

Diantara metode dan software memprediksi gerhana ini sebagai gerhana parsial (tidak total) karena mgnitude gerhana tidak sampa 1, diantaranya :? Program MoonCalc 6.0 oleh Monzur Ahmed, magnitude 0,996, Program ALW dengan magnitude 0,99, Alghoritma Jean Meeus dengan magnitude 0,996, dan Redshift 3 dengan magnitude 0,994, Starry Night Pro 6.3.9 dan Stellarium 0.7.1.?

Hari Santri 2018

Ternyata ilmu hisab yang tidak lain adalah ilmu pasti, dalam menghitung gerhana bulan 4 April 2015 ini terjadi perbedaan yang signifikan antara satu metode dengan metode yang lainnya. perbedaan hasil perhitungan ahli hisab/astronomi ini menjadi tantangan bagi ahli hisab untuk membuktikan keakurasian hisabnya. Mengingat bahwa ilmu hisab bukanlah dogma agama yang cukup hanya dipercayai dan tidak bisa diutak-atik, namun ilmu hisab adalah ilmu eksak, dimana perhitungannya berdasarkan data-data empirik hasil rukyat/observasi estafet para ahli hisab ratusan tahun yang lalu sampai sekarang. Ahli hisab sejati akan selalu mencari kebenaran dari perhitungan hisabnya sehingga hisab yang dipakai benar-benar hisab qothI yang realistis sesuai dengan di lapangan.

Pengamatan gerhana bulan berbeda dengan pengamatan gerhana matahari, masuknya bayangan umbra (bayangan inti) kedalam piringan bulan tidak mudah diidentifikasi karena tepi bayangan umbra sifatnya agak blur (Jawa : mbelabur) yakni tidak jelas betul seperti tepi bayangan pada momen gerhana matahari. Hal ini dikarenakan pada saat momen gerhana matahari, piringan matahari dilihat dari bumi terhalang langsung oleh obyek bulan. Sedangkan pada saat gerhana bulan, piringan bulan dilihat dari bumi tidak terhalang oleh obyek apapun, namun cahaya matahari yang menuju permukaan bulan terhalang oleh bumi yang kita tempati, sehingga bulan tidak memancarkan cahaya yang notabene berasal dari matahari. Jika kita menggunakan teleskop dengan zoom yang memadai maka pada saat gerhana bulan total sekalipun, permukaan bulan masih bisa dilihat dari bumi walaupun dengan kondisi sangat redup sekali, hal ini berbeda ketika pengamatan gerhana matahari, walaupun dengan teleskop canggih, permukaan matahari tidak akan bisa dilihat ketika obyek bulan sudah memasuki piringan matahari.

Karena kondisi bayangan umbra yang blur inilah sehingga menyulitkan bagi pengamat untuk mengidentifikasi kapan saat detik-detik awal gerhana umbra (awal irisan bayangan umbra menyentuh permukaan bulan), pun juga kapan saat detik-detik akhir gerhana umbra (akhir irisan umbra terlepas dari piringan bulan). Identifikasi tahapan-tahapan gerhana bulan akan lebih mudah jika didokumentasikan dalam bentuk video maupun foto sehingga bisa dianalisa lebih lanjut kapan sejatinya saat awal gerhana dan akhir gerhana, lama proses gerhana, serta jenis gerhana, total ataukah parsial?.

Dilihat dari kota Surabaya, saat bulan terbit dari ufuk timur sudah dalam keadaan gerhana. Berikut gambar tahapan gerhana bulan secara perhitungan dan penampakan gerhana dengan Stellarium 0.7.1 dari Surabaya



Ibnu Zahid Abdo el?Moeid, Dewan Pakar Lajnah Falakiyah NU Gresik

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Amalan Hari Santri 2018

Rabu, 29 November 2017

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan

Surabaya, Hari Santri 2018. Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Jawa Timur melangsungkan sarasehan sastra dan budaya bertema "Fikih, Seni dan Sastra" di kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Jumat (25/9), dengan menghadirkan KH Abdurrahman Nafis dan Muhammad Al-Fayyadl sebagai narasumber dan Riadi Ngasiran sebagai moderator.

KH Abdurrahman Nafis, mengemukakan bahwa dalam sejarahnya, sastra sering menjadi bagian tidak terpisahkan bagi awal dikenalkannya Islam. "Dan Nabi Muhammad dengan mukjizat yang diterimanya berupa al-Quran, telah mampu mengalahkan karya sastra masyarakat Arab saat itu," katanya.

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam Sejarah, Fiqih dan Seni Tidak Terpisahkan

Para pemimpin Quraisy saat itu, yakni Umar bin Khattab serta Amr bin Hisyam dibuat tidak berdaya dengan kandungan ayat Al-Quran. "Bahkan, Umar bin Khattab bisa terenyuh saat putrinya, Siti Hafshah membaca ayat al-Quran, sehinggga berkenan menjadi muslim," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini.

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Kiai Nafis, sapaan akrabnya, kemudian menggambarkan bagaimana awal mula islamisasi di Indonesia yang lebih menggunakan cara damai, termasuk dengan menggunakan seni sebagai media dakwahnya.

"Para Wali Songo telah berhasil mengislamkan khususnya masyarakat Jawa lewat pendekatan seni," terangnya. Lahirnya seni wayang, tembang dan syair dengan tema agama sebagai bukti bahwa seni demikian menjadi media yang sangat efektif untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat, lanjutnya.

Sebelumnya, masih menurut Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini, para ulama pengarang kitab telah menemukan disiplin ilmu yang membahas tentang kaidah sastra lewat ilmu balaghah, arudh, dengan berbagai varian yang dimiliki.

Pertemuan antara fikih dan sastra akhirnya melahirkan definisi dan batasan yang menjelaskan tentang seni islami. "Ada 4 batasan yang telah digariskan para fuqaha terhadap seni," kata Kiai Nafis yang juga dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Pertama adalah, seni yang dilahirkan tidak memgandung kemusyrikan. "Yang kedua, seni islami adalah yang tidak mengandung maksiat," katanya. Sedangkan ketiga adalah jangan sampai menimbulkan fitnah, dan terakhir yakni seni harus mengandung amar makruf nahi munkar, imbuhnya.

Sering Terjadi Ketegangan

Muhammad Al-Fayyadl justru mencatat akhir-akhir ini sering terjadi ketegangan di akar rumput antara santrawan dan para fuqaha. "Bahkan pernah saya saksikan, pagelaran seni di salah satu kampung justru dihentikan lantaran dianggap tidak islami," kata alumnus Master "Philosophie et Critiques Contemporaines de la culture" Université Paris VIII, Prancis tersebut.

Padahal di awal Muktamar NU, para kiai sangat terbuka dengan masalah kesenian. "Ini mengisyaratkan bahwa hubungan antara kesenian dan agama menduduki porsi terpenting dalam perhatian ulama," kata Gus Fayyadl, sapaan akrabnya.

Dalam perjalanannya, kendati persoalan kesenian kontemporer kemudian kerap menjadi bahasan dalam forum bahtsul masail NU, tapi dalam pandangan dosen UGM ini, rumusannya secara konseptual masih jauh dari komprehensif dan meyakinkan.

Kedua narasumber sepakat bahwa harus selalu dilakukan dialog terbuka antara para pegiat seni dengan aktifis bahtsul masail agar ditemukan titik temu bagi sejumlah permasalahan seni mutaakhir yang tentunya sarat dengan dinamika dan inovasi. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 AlaSantri, Amalan, Fragmen Hari Santri 2018

Senin, 27 November 2017

Pengurus SI Hijaz Termuda

Di balik setiap peristiwa-peristiwa penting sejarah, tentu terdapat nama-nama yang melambung. Nama-nama yang kemudian menjadi terkenal dan menjadikan figur-figur tertentu sebagai idola dan panutan di kemudian hari. Nama-nama inilah yang kemudian disebut sebagai tokoh. Beberapa di antaranya bahkan melegenda dan bertahan hingga beberapa generasi.

Namun tentu saja, tidak semua nama-nama yang terlibat dalam setiap peristiwa penting, kemudian ikut menjadi nama penting yang selalu disebut-sebut khayalak setelahnya. Di balik berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), terdapat nama-nama besar yang kemudian melegenda dan dikenang hingga beberapa generasi. Namun tentu saja ada nama-nama yang juga sangat berperan dalam proses kelahiran NU sembari tetap menjadi nama-nama yang bersahaja dan merakyat. Tetap menjadi nama yang tidak menimbulkan rasa menjauh dari dunia kelahirannya. Salah satu di antara nama-nama yang tetap menjadi dekat dengan rakyat, tetap menjadi nama rakyat adalah KH Abdul Chalim bin Kedung, Leuwimunding Majalengka.

Pengurus SI Hijaz Termuda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus SI Hijaz Termuda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus SI Hijaz Termuda

Ulama kelahiran tahun 1898 ini merupakan bagian sejarah besar. Namun tidak serta-merta menjadikan dirinya melambung manjauh dari rakyat kebanyakan. Meski namanya tercatat dalam berbagai peristiwa penting, namun KH Abdul Chalim tetap dikenal sebagai bagian dari rakyat kebanyakan.

Pentingnya Solidaritas Sosial dan Moderat .

Hari Santri 2018

Hal ini dikarenakan KH Abdul Chalim menerapkan prinsip-prinsip solidaritas sosial sepanjang hidupnya. Solidaritas (ashobiyyah) inilah yang juga dididikkan kepada setiap santrinya. Solidaritas yang dianaut oleh KH Abdul Chalim ini berlaku dalam kelompok kecil maupun komunitas yang besar. Menurut KH Abdul Chalim, Solidaritas sangatlah penting dalam mempererat jalinan hubungan di antara komunitas-komunitas agama maupun politik. Tujuan gerakan keagamaan tidak akan tercapai tanpa adanya solidaritas politik.

Hari Santri 2018

Prinsip solidaritas juga perlu diterapkan sepanjang masa karena solidaritas merupakan salah satu barometer keseimbangan ibadah. Di mana ibadah yang dilakukan dengan benar sesuai dengan ketentuan syara’ dapat mendekatkan diri kepada Allah. Namun agar tidak terjebak dalam pengertian ibadah yang sempit, yakni ritual semta. Maka perlu dilakukan sebuah penyeimbangan. Nah menurut KH Abdul Chalim, penyeimbangan ini dapat dilaksanakan dengan terus menumbuhkan solidaritas dalam setiap sendi umat Islam.

Solidaritas ini sendiri, dapat berupa solidaritas politik maupun solidaritas sosial. Solidaritas politik artinya solidaritas bersama umat Islam untuk mencapai tujuan-tujuan kenegaraan dan kebangsaaan. Sedangkan solidaritas kemasyarakatan adalah? kebersamaan umat Islam dalam menciptakan harmonisasi kehidupan sehari-hari. Sehingga kehidupan umat Islam tidak monoton, memandang nilai ibadah bukan hanya dari sisi ibadah ritual mahdah saja. Namun keseluruhan kehendak dan usaha untuk mewujudkan kehidupan yang selaras dengan prinsip-prinsip syariah juga merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Dalam pandangan KH Abdul Chalim, kepasrahan total dan tawakkal kepada Allah SWT adalah hal yang senantiasa diri dan seluruh keluarga serta murid-muridnya. Namun demikian, KH Abdul Chalim juga sangat mengedepankan kompromi dalam mencapai kesepakatan-kesepakatan melalui musyawarah.

Sifat terbuka yang dimiliki oleh KH Abdul Chalim ini tidak lepas dari pengaruh yang ditorehkan oleh guru tercintanya, KH Wahab Hasbullah Jombang. Selama berguru kepada KH Wahab Hasbullah, Abdul Chalim telah mendarmabhaktikan hidupnya demi perkembangan ilmu di kalangan para santri. Di mana Nahdlatul Wathan merupakan tempat yang sangat baik bagi Abdul Chalim dalam berguru dan menularkan kemempuan ilmiahnya.

Pendekatan ilmiah terhadap masyarakat dengan interaksi sosial keagamaan dalam Nahdlatul Wathan merupakan salah satu sumbangsih KH Abdul Chalim. Bagi KH Abdul Chalim pendekatan sosial kepada masyarakat untuk menerapkan kaidah-kaidah keilmuan syariat bagi kehidupan masyarakat menupakan sebuah terobosan yang sangat urgen dalam menyebarkan konsep-konsep keislaman yang membumi.

Kondisi perjuangan fisik kala itu menjadikan konsep-konsep yang ditawarkan oleh KH Abdul Chalim dapat diterima oleh rekan-rekannya di Nahdlatul Wathan. Konsep-konsep yang dimaksudkan sebagai pendekatan sosial adalah membuat perbandingan-perbandingan kiasan antara kondisi-kondisi yang digambarkan dalam kitab-kitab kuning dengan kenyataan hidup yang dialami oleh masyarakat Nusantara saat itu. Yakni merealisasikan berdirinya sebuah negara merdeka yang dapat menaungi seluruh penduduknya dalam sebuah aturan yang disepakati bersama.

Dengan demikian, dalam pandangan KH Abdul Chalim, solidaritas warga tetap dapat dipertahankan setelah penjajahan berhasil dienyahkan dari Nusantara kelak. Pendapat-pendapatnya mengenai solidaritas masyarakat Muslim, khususnya di tanah jajahan Hindia Belanda ini didapatkannya dari pengalamannya selama berguru kepada para ulama. Sejak dari daerah sekitar tanah kelahirannya ketika kecil hingga ke darah-dararah lain di Jawa Barat maupun Jawa Timur. Di mana Pesantren Trajaya di Majalengka, Pesantren Kedungwuni di kadipaten dan Pesantren Kempek di Cirebon adalah tempat Abdul Chalim menimba ilmu semasa kecilnya.

Mendamaikan Sengketa para Senior

Pada tahun 1914 ketika usianya baru menginjak enam belas tahun, Abdul Chalim berkesempatan untuk menuntut menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu ke tanah Hijaz. Di sanalah Abdul Chalim sempat menimba ilmu secara langsung dari Abu Abdul Mu’thi, Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani yang lebih tersohor dengan sebutan Imam nawawi al-Bantani.

Ketika menuntut ilmu di Hijaz inilah KH Abdul Chalim bertemu dengan berbagai ulama Nusantara dari daerah-daerah lainnya. Dari sinilah beberapa ulama ini kemudian menjadi teman sekaligus gurunya. Salah satu di antara ulama yang paling akrab sebagai teman sekaligus gurrunya ini adalah KH Wahab Hasbullah Jombang. Saat itu Abdul Chalim adalah anggota sekaligus pengurus Sarekat Islam (SI), termuda di Hijaz. Di mana SI adalah organisasi para ulama Nusantara yang berkonsentrasi untuk menentang kebijakan-kebijakan pemerintah penjajahan Hindia Belanda di Nusaantara. Melalui SI, kebijakan-kebijakan pemerintah jajahan yang tidak sesuai dengan syariat Islam dan sangat merugikan rakyat, ditentang secara konstitusional. Hingga pada gilirannya, para ulama pengurus SI kemudian menggabungkan diri ke NU setelah organisasi yang terakhir ini didirikan pada tahun 1926.

Selama menuntut ilmu di Mekkah inilah sifat moderat dan kompromi sebagi ulama yang berjiwa besar ditunjukkan oleh Abdul Chalim. KH Abdul Chalim-lah yang mendamaikan KH Wahab Hasbullah Jombang dan KHR Asnawi Kudus ketika keduanya terlibat sebuah persengketaan di Hijaz. Pada waktu itu kedua ulama yang sedang bersengketa ini merupakan senior sekaligus guru dari KH Abdul Chalim. Sementara itu Abdul Chalim juga patuh ketika KH Wahab Hasbullah menegurnya karena sering memperdengarkan kidung bergaya Pasundan ketika mereka sedang mengulang-ulang pelajaran.

Kelahirannya sebagai putra tunggal seorang kuwu di Majalengka menjadikan KH Abdul Chalim tidak cangung lagi ketika dilibatkan dalam berbagai kepengurusan di SI Hijaz. Demikian pun ketika ia kembali ke Tanah Air pada tahun 1917.

Sepulangnya dari tanah Suci, KH Abdul Chalim membantu orang tuanya di kampung untuk meringankan penderitaan rakyatnya akibat penjajahan belanda yang kian hari kian kejam saja.

Abdul Chalim terhitung menikahi empat orang wanita. Pada usia 21 tahun Abdul Chalim menikahi gadis Petalangan, Kuningan sebagai isteri pertama. Tiga tahun kemudian, Abdul Chalim menikahi Siti Noor, gadis asal Pasir Muncang Majalengka. Dalam perjalanan untuk mencari penghidupan ke daerah Jakarta sebagai pelayan toko dan kuli panggul di stasiun kereta api –meski dirinya adalah anak seorang kuwu, Abdul Chalim menyempatkan diri untuk mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak di daerah Kramat Jati Jakarta. Ketika bekerja dan membuka pengajian di Kramat jati ini Abdul Chalim di dampingi oleh Istri keduanya, Siti Noor asal Majalengka.

Sedangkan isteri keempatnya dinikahi di tengah-tengah perjuangannya mengusir penjajahan Belanda seputar berkecamuknya pertempuran Surabaya ketika Resolusi Jihad dikumandangkan. Istrei ketiganya adalah Ny. Sidik Shindanghaji dari Leuwimunding. Sebelumnya, KH Abdul Chalim telah lebih dahulu menikahi Ny. Konaah sebagai isteri ketiga.

Tahun 1921 karena ayahnya meninggal dunia, maka KH Abdul Chalim kembali ke Majalengka dan memboyong istri pertamanya yang di Petalangan ke Leuwimunding. Sementara istri keduanya telah bercerai darinya. Namun karena situasi yang semakin tidak menentu, maka Abdul Chalim memulangkan kembali isterinya ini ke Petalangan demi alasan keamanan. Sementara Abdul Chalim sendiri kemudian mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia pergerakan dan pendidikan.



Kenalkan Aswaja Hingga Level Terbawah
. Abdul Chalim kemudian mengembara ke Surabaya untuk bergabung dengan teman-teman seperjuangannya. Di Surabaya, atas jasa Kyai Amin Peraban, Abdul Chalim bertemu kembali dengan KH Wahab Hasbullah senior sekaligus gurunya selama di Hijaz. Karena hubungan baiknnya, KH Abdul Chalim kemudian dipercaya sebagai pengajar di Nahdlatul Wathan di kampong Kawatan VI Surabaya. Selain mengajar KH Abdul Chalim juga dipercaya sebagai pengatur administrasi dan inisiator kegiatan belajar mengajar seta pembukaan forum-forum diskusi.

Sebagai seorang santri Pasundan yang pandai berkidung dan menguasai ilmu Balaghoh (sastra Arab kuno) maka KH Abdul Chalim kemudian banyak sekali menciptakan syair-syair berbahasa Arab untuk memompa semangat perjuangan santri-santri yang tergabung di dalam Nahdlatul Wathan.

Kedekatan KH Abdul Chalim dengan KH Wahab Hasbullah menjadikan yang pertama sebagai pengikut setia sekaligus semacam asisten bagi nama kedua. Melalui aktivitasnya di Nahdlatul Wathan inilah KH Abdul Chalim menerapkan gagasan-gagasan keagamannya tentang interaksi sosial dan solidaritas politik dan kebangsaan dalam masyarakat. Selain nahdlatul Wathan, KH Abdul Chalim juga tercatat sebagai pengajar di Tashwirul Afkar Surabaya.

Selama mengabdi di Surabaya, berkali-kali KH Abdul Chalim pulang ke Majalengka untuk menyampaikan kabar-kabar terbaru dari Surabaya yang kala itu merupakan pusat perjuangan kaum santri dalam membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan dan kebodohan umat. Setiap pulang ke Majalengka, KH Abdul Chalim selalu mendatangi rumah-rumah penduduk untuk mengajarkan dan memperkenalkan faham Ahlussunnah Waljamaah. KH Abdul Chalim selalu membagi-bagikan gambar-gambar dan surat kabar Swara Nahdlatoel Oelama kepada masyarakat di daerah Majalengka dan sekitarnya.

Tahun 1942 ketika ormas-ormas Islam dibekukan oleh pemerintah penjajahan Jepang, KH Abdul Chalim mendapat dua tantangan besar di daerahnya. Intervensi Jepang kepada para pemuda untuk bergabung dalam pasukan militer Jepang dan kebanggan para pemuda untuk menjadi komunis merupakan dilema yang sangat sulit dihadapi.

Dalam situasi inilah KH Abdul Chalim membentuk Hizbullah cabang majalengka bersama KH Abbas Buntet Cirebon. Hizbullah Majalengka kemudian bahu membahu bersama dengan kelompok-kelompok pejuang lainnya, baik dari laskar-laskar santri maupun laskar-laskar pemuda lainnya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada tahun 1955 KH Abdul Chalim menjadi anggota DPR dari partai NU dari perwakilan Jawa Barat. Sejak saat ini perjuangan KH Abdul Chalim lebih dititikberatkan pada pemberdayaan warga NU Jawa Barat dengan membentuk berbagai wadah pemberdayaan masyarakat seperti PERTANU (Perkumpulan Petani NU), PERGUNU (Perkumpulan Guru NU) dan pendirian lembaga-lembaga pendidikan NU di Jawa Barat lainnya.

Pada suatu hari tanggal 11 April 1972 M., selepas menunaikan ibadah sholat KH Abdul Chalim menghadap Ilahi dengan tenang dan dimakamkan di kompleks pesantren Sabilul Chalim Leuwimunding, Majalengka. (Syaifullah Amin, Disarikan dari buku "KH Abdul Chalim Kenapa Harus Dilupakan?" karya J. Fikri Mubarok)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Amalan Hari Santri 2018

Rabu, 22 November 2017

Tak Cukup Mahasiswa Hanya Belajar di Kampus

Banda Aceh, Hari Santri 2018. Selain sebagai kontrol sosial, mahasiswa juga diharapkan bisa terjun langsung ke masyarakat bersama-sama aktif melakukan pendidikan menuju perubahan yang lebih baik. 

Hal itu tersampaikan Ketua PC PMII Banda Aceh, Akmaludin, pada Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) PC PMII Kota Banda Aceh dalam pembukaan acara di Aula Gedung Pemuda Aceh, Sabtu (28/10).

Tak Cukup Mahasiswa Hanya Belajar di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Cukup Mahasiswa Hanya Belajar di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Cukup Mahasiswa Hanya Belajar di Kampus

“Mapaba bertujuan memberikan pembekalan kepada mahasiswa yang akan bergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), diharapkan mampu memberikan pemahaman terhadap mahasiswa terhadap tugas dan fungsinya,” kata Akmal.

Mapaba bertema Melahirkan kader Muda yang Bertakwa dan professional, Mapaba kali ini juga menjadi istimewa karena bertepatan dengan hari sumpah pemuda ke-89.

Akmal mengatakan, sudah seharusnya mahasiswa tidak sekedar belajar apa yang diberikan di dalam perkuliahan di kampus. Namun, pengetahuan dan pemahaman serta keterlibatan dalam berorganisasi juga diperlukan. 

“Pasalnya, setelah lulus di bangku perkuliahan mahasiswa akan dihadapkan dan dilibatkan pada persoalan lingkungan di masyarakat," tegas Akmal setelah membacakan bait-bait sumpah pemuda.

Hari Santri 2018

Kegiatan yang diikuti oleh 83 orang calon kader dan setelah di lakukan screening test tersaring 43 orang peserta yang bekomitmen menjadi kader PMII Banda Aceh dan akan mengikuti setiap tahapan kaderisasi hingga akhir. (Fauzan/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Quote, Amalan, Santri Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Kemenag Launching Kamus Istilah Keagamaan dan Al-Qur’an Bahasa Lokal

Jakarta, Hari Santri 2018. Sebagai bentuk apresiasi terhadap keragaman bangsa, Kementerian Agama menerbitkan Kamus Istilah Keagamaan (KIK) dan Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Daerah. Launching kedua karya Produk Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan ini dilakukan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Auditorium HM Rasjidi kantor Kemenag Jalan MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat, Kamis (3/12) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Kemenag Launching Kamus Istilah Keagamaan dan Al-Qur’an Bahasa Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Launching Kamus Istilah Keagamaan dan Al-Qur’an Bahasa Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Launching Kamus Istilah Keagamaan dan Al-Qur’an Bahasa Lokal

Selain pejabat eselon I dan II Kemenag, launching tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama yang kemudian menerima karya tersebut dan diberikan langsung oleh Menteri Agama. 

Dikatakan Menag, Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Daerah terdiri dari 3 bahasa; Minang, Jawa dan Dayak. Menag berharap, karya ini bisa bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

Hari Santri 2018

“Untuk KIK,  kamus istilah keagamaan tersebut memiliki sekitar 9314 istilah. Semoga dapat mencerdaskan masyarakat Indonesia dari istilah keagamaan yang ada,” kata Menag.

Hari Santri 2018

Disampaikan Menag, Kamus Istilah Keagamaan (KIK) yang memuat laman (entri) semua agama; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, diharapkan mampu memberikan sumbangsih untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia umumnya dan umat beragama pada khususnya dalam memahami kata, istilah, atau konsep terkait dengan masalah keagamaan yang terdapat pada keenam agama tersebut di Indonesia, papar Menag.

Melalui pemahaman akan persamaan dan perbedaan “konsep” atau terminologi pada masing-masing agama ini, diharapkan dapat mereduksi, mengeliminasi, atau menghindari terjadinya kesalah-pahaman antar ajaran oleh pemeluk agama yang berbeda. 

“Dengan kata lain, KIK yang “multi-kultur” ini, diharapkan dapat dijadikan sebagai media komunikasi umat beragama untuk menghindarkan perselisihan yang bersumber dari perbedaan pemahaman terhadap konsep ajaran agama,” ujar Menag.

Selain menjadi medium memperkuat jalinan persaudaraan dan perekat kerukunan antara umat beragama, KIK dan terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Daerah ini diharapkan menjadi media pendidikan agar masyarakat menghargai perbedaan dalam keyakinan beragama dalam upaya penguatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  

“KIK dapat difungsikan sebagai buku rujukan dalam penulisan buku baik buku pelajaran pada lembaga-lembaga pendidikan maupun buku bacaan umum,” tutur Menag.

Selain KIK, Menag berharap, secara substantif, paling tidak, penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah memiliki beberapa manfaat pokok, yaitu; Pertama, memberikan pelayanan keagamaan umat, terutama bagi yang tidak akrab dengan Bahasa Indonesia, dengan kehadiran Terjemah Al-Qur’an Bahasa Daerah, maka masyarakat lokal (daerah) memiliki kesempatan untuk memahami isi Al-Qur’an itu sendiri, yang kemudian bisa mengamalkannya sebagai pedoman hidup kesehariannya. Kedua, diharapkan dapat  membantu pelestarian, konservasi, atau pemeliharaan budaya lokal, khususnya bahasa sebagai unsur terpenting dari suatu budaya.

Sebelumnya, Kabalitbang dan Diklat Kemenag Abdurrahman Mas’ud menyampaikan, kamus yang memuat 9314 entry ini sangat penting bagi masing-masing agama, dan merupakan produk yang pertama di Indonesia.

”KIK ini yang pertama di Indonesia, yang disiapkan oleh tokoh-tokoh agama pada bidangnya,” kata Mas’ud.

Selain pejabat eselon I, II dan sejumlah pimpinan PTKN, launching ini di hadiri tokoh-tokoh lintas agama dari perwakilah seluruh Indonesia. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 RMI NU, Amalan Hari Santri 2018

Jumat, 10 November 2017

Nahdliyin Jombang Kritik Penggunaan Dana Desa untuk “Piknik” Kegiatan PKK

Jombang, Hari Santri 2018. Puluhan pemuda yang tergabung dalam Kaum Nahdliyin Peduli Desa (KNPD) Jombang mengkritisi penggunaan Dana Desa untuk kegiatan PKK. Kritik ini menyoal dana yang dikucurkan Kemendes digunakan "piknik" rombongan PKK ke TMII di Jakarta beberapa waktu lalu.

Nahdliyin Jombang Kritik Penggunaan Dana Desa untuk “Piknik” Kegiatan PKK (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Jombang Kritik Penggunaan Dana Desa untuk “Piknik” Kegiatan PKK (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Jombang Kritik Penggunaan Dana Desa untuk “Piknik” Kegiatan PKK

"KNPD Jombang akan melayangkan gugatan secara hukum atas keberadaan Perbub No: 12/2016 tentang tata cara pengalokasian, penyaluran, penggunaan dan pertanggung jawaban Dana Desa (DD) yang dinilai salah sasaran," ujar Zainuddin Koordinator KNPD, Kamis (11/8).?

Dikatakannya, sejak mencuatnya rombongan PKK se-Jombang beserta rombongan SKPD dan juga dihadiri Bupati Nyono Suharli ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta dalam kegiatan yang dikabarkan untuk promosi tersebut, kalangan muda Nahdliyin intensif berdiskusi. "Dan tadi malam kesimpulan diskusi, kita akan lakukan gugatan atas Perbup itu," imbuhnya.

Tidak kurang 40 peserta diskusi dari kalangan muda Nahdliyin yang digelar di kantor Yalatif Foundation, Bandung Diwek Jombang, bersilang pendapat. Dan perlu mengingatkan kepada pemerintah daerah. "Karena dalam Perbup tersebut sudah ada penyebutan nominal angka dalam setiap alokasi penggunaan DD. Ini secara tidak langsung mengebiri kebebasan desa. Padahal desa yang mengetahui kebutuhan dalam menentukan penggunaan anggaran untuk kepentingan warganya," ungkap Zainudin menambahkan.

Karena itu, menurut KNPD, Perbup yang dijadikan cantolan dalam pengalokasian kebutuhan program desa ini dinilai justru mengebiri desa. "Makanya KNPD mengambil kesimpulan, perlu melayangkan gugatan agar Perbup itu dicabut, dan perlu ada pembenahan," tambahnya.

Hari Santri 2018

Sekedar diketahui, diskusi tentang dana desa yang ia gelar sebenarnya sebagai tindak lanjut atas santernya kabar tentang acara PKK Kabupaten Jombang ke TMII (Taman Mini Indonesia Indah) Jakarata.?

Sedikitnya 400 orang lebih yang terdiri, Pengurus TP PKK Kabupaten Jombang, Ketua TP PKK Kecamatan, serta TP PKK Desa se-Kabupaten Jombang yang berjumlah 306 desa serta dari Kepala SKPD Lingkup Pemkab Jombang memenuhi ? acara pagelaran seni budaya di Anjungan Daerah di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Yang disesalkan, anggaran yang digunakan PKK dalam rangka memenuhi undangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Kepala Kantor Perwakilan Pemprov Jatim di Jakarta dengan surat Nomor 005/5423/218/2016 tertanggal 27 Juli 2016 itu berasal dari DD. Rinciannya, masing-masing desa mengalokasikan Rp3 juta untuk kegiatan ini. (Muslim Abdurrahman/Fathoni)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Amalan, Nahdlatul Hari Santri 2018

Rabu, 08 November 2017

Banser Kampar Seperti “Bangkit dari Kubur”

Kampar, Hari Santri 2018. Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, diumpamakan seperti "bangkit dari kubur". Hal itu karena kegiatan tersebut kali digelar setelah sekitar 10 tahun "mati suri".

Banser Kampar Seperti “Bangkit dari Kubur” (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kampar Seperti “Bangkit dari Kubur” (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kampar Seperti “Bangkit dari Kubur”

Hal itu diungkapkan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kampar, Purwaji dalam acara pembukaan kegiatan tersebut di Pondok Pesantren Madinatul Ulum al Ishlah pimpinan KH Mujahidin di desa Bina Baru, Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Jumat lalu. Kegiatan tersebut digelar 12-14 Desember.

Banser di Riau, kata Purwaji, seperti sedang "mati suri" sebab selama 10 tahunan sudah tidak ada kegiatan kebanseran, seperti Diklatsar dan Susbalan. Karena itu kegiatan yang digelar kali pertama di Kampar ini sekaligus menandakan kebangkitan Banser dan Ansor di Riau.

Hari Santri 2018

"Setelah lama mati suri, sekarang saatnya kita "bangkit dari kubur" dan kita ini sedang mendobrak, sedang menggugah para kader-kader NU Riau. Para kiai untuk ayo, sama-sama kita hidupkan kembali ghiroh kita dalam merawat organisasi warisan para wali ini (NU, red)," ajaknya.

Purwaji juga menegaskan bahwa Banser adalah bentengnya ulama dan NKRI. Keberadaannya sangat dibutuhkan demi tegakknya Islam Ahlusunnah wal Jamaah an Nahdliyah di Indonesia. "Mudah-mudahan dengan Diklatsar semacam ini, akan lahir generasi muda NU yang dekat dengan ulama dan cinta tanah air," harap kader muda NU Riau ini.

Hari Santri 2018

Sementara itu dalam materi-materi kebanseran selama Diklatsar ditangani oleh Satkornas, Adin My Wijayanto dari Semarang. Materi Aswaja dan Kanuragan oleh Gus Ghofur murid alm Kiai Jamaludin Bustomi Lampung. Materi Bela diri H Bambang dan didampingi para kiai seperti Kiai Badrus Soleh, Kiai Mujahidin dan Gus Shohir, selaku pengasuh Pesantren.

Acara yang berlangsung selama tiga hari itu diikuti oleh 50 peserta dan ditutup dengan caraka malam, pembaiatan sekaligus dilanjutkan dengan Haul Gus Dur kelima. Haul diisi dengan tahlilan oleh KH Imam Subaweh dari Pondok Pesantren Darus salikhin dan ceramah agama oleh KH Mujahidin Pondok Pesantren Madinatul Ulum al Ishlah. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sejarah, Amalan Hari Santri 2018

Selasa, 31 Oktober 2017

Ulama Bukan "Pemadam Kebakaran"

Makassar, Hari Santri 2018. Ulama jangan dijadikan sebagai pemadam kebakaran yang baru akan dipanggil atau dibutuhkan ketika ada persoalan. Ulama jangan diminta fatwanya sekedar untuk menyelesaikan masalah.

Demikian disampaikan H Mansyur Ramly, cucu Pendiri Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan, saat ditemui kontributor Hari Santri 2018 Syaiful Akbarius Zainuddin di kediamannya di kompleks Perumahan Dosen Universitas Muslim Indonesia jalan Racing Centre Makassar menjelang Pertemuan 350 Alim Ulama NU se-Sulawesi Selatan yang insya Allah dijadwalkan pada 14-15 Juli 2007 mendatang di Makassar.

Ulama Bukan Pemadam Kebakaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Bukan Pemadam Kebakaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Bukan "Pemadam Kebakaran"

“Dalam pembangunan suatu daerah, ulama ditempatkan sebagai sebuah kelompok stakeholders sebab ulama juga adalah kaum cendekiawan yang dapat memberikan masukan konsep-konsep untuk membangun daerah kita” ujar Mustasyar PWNU Sulawesi Selatan itu.

Ditambahkan pula bahwa para ulama harus mampu melakukan perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Bila hal itu bisa dilakukan maka secara langsung para ulama dapat menghimpun kekuatannya.

Ulama juga harus multi disiplin ilmu, baik itu ulama yang ahli dalam bidang Al-Qur’an, Ekonomi, Sosial, dan lain sebagainya, tambah mantan Rektor UMI ini.

Hari Santri 2018

“Salah satu contoh pada Organisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), di dalamnya terdiri dari sumber daya manusia yang berasal dari berbagai disiplin ilmu sehingga permasalahan menyangkut hidup dan kehidupan manusia dapat dicarikan solusinya oleh ulama yang sesuai dengan disiplin ilmunya” ujar Kepala Balitbang Depdiknas ini.

Pengambilalihan Masjid

Ketika ditanya mengenai pengambilalihan masjid-masjid milik NU oleh kelompok-kelompok Islam garis keras, Prof Mansyur (sapaan akrab H Mansyur Ramly) menyatakan, NU adalah kelompok yang lebih moderat dan toleran dalam Islam.

"Secara pribadi saya tidak menginginkan adanya pengelompokan Islam garis keras maupun bukan garis keras, sebab kita hanya menginginkan agar masjid-masjid yang ada dapat dimanfaatkan oleh ummat secara terbuka, sehingga siapa pun ummat dapat menggunakannya," katanya.

Hari Santri 2018

Selain itu diharapkan mesjid-mesjid dapat digunakan sebagai pusat kegiatan Islam sehingga bukan hanya dipakai untuk sholat berjamaah semata.

“Sinergi dengan hal tersebut, tugas saya di Depdiknas saat ini sedang merancang program dimana mesjid sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan ini sudah merupakan kebijaksanaan dari Depdiknas bahwa tidak akan lagi membangun gedung-gedung khusus untuk tempat PKBM, TBM,” katanya.

Masjid dapat digunakan pelaksanaan kegiatan sehingga mesjid akan ramai bukan hanya karena datang waktu sholat, melainkan dapat berfungsi sebagai lembaga pendidikan.

"Hal ini akan sama seperti zaman Rasulullah dimana mesjid sebagai tempat belajar, diskusi dan tempat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat," tandasnya.(saz/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul Ulama, Amalan Hari Santri 2018

Kamis, 12 Oktober 2017

Aktifis NU Papua Salurkan Dana untuk Renovasi Masjid di Tolikara

Papua, Hari Santri 2018. Tak ingin berlama-lama dengan keprihatinan, Aktifis NU Papua melalui Sarkub Peduli Papua melakukan penggalangan dana pembangunan kembali masjid di Kaburaga, Tolikara, Papua. Mereka mengajak kaum Muslim menyisihkan rezeki untuk membantu membangun kembali masjid di Tolikara yang dibakar massa saat peringatan Idul Fitri.

Aktifis NU Papua Salurkan Dana untuk Renovasi Masjid di Tolikara (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktifis NU Papua Salurkan Dana untuk Renovasi Masjid di Tolikara (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktifis NU Papua Salurkan Dana untuk Renovasi Masjid di Tolikara

"Kami sedang membuka penggalangan dana untuk membangun masjid di Karubaga tersebut. Tentunya berkoordinasi dengan berbagai pihak setempat dan saat kondisi sudah stabil," kata Abdul Wahab selaku koordinator Sarkub Papua (19/7).

Untuk tahap pertama Aktifis NU Papua sudah menyerahkan sumbangan dana sebesar Rp6.000.000. Sumbangan sudah di kirim langsung ke Abdul Wahab yang ada di Jayawijaya.

Hari Santri 2018

Menurut Abdul Wahab sumber sumbangan diperoleh bukan cuma dari masyarakat Muslim di Indonesia, tapi juga ada dari Muslim aswaja yang anggotanya ada di Hongkong, Taiwan. Selain dari komunitas Muslim sumbangan juga dikirimkan oleh komunitas BARA JP HK (Kampung Segoro). Bahkan banyak juga teman dari agama lain yang ikut menyumbang sebagai wujud solidaritas dan kemanusiaan.

Hari Santri 2018

Sebelumnya aktifis" NU melalui Sarkub Peduli Papua juga melakukan berbagai kegiatan di provinsi Papua, seperti menyalurkan sumbangan ratusan buku agama, busana Muslim, perlengkapan shalat, dsb di berbagai wilayah di Papua.?

Abdul Wahab mewakili Muslim di Tolikara mengucapkan terimaksih dan titip salam untuk saudara Muslim di seluruh Indonesia. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian, Sejarah, Amalan Hari Santri 2018

Rabu, 11 Oktober 2017

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum

Oleh Suwendi



PAI (Pendidikan agama Islam) pada PTU (Perguruan Tinggi Umum) memiliki peran yang sangat strategis, baik pada pemenuhan kompetesi mahasiswa yang beragama Islam untuk menjalankan fungsinya sebagai seorang Muslim, maupun dalam konteks kaderisasi pembangunan bangsa. Sebagai seorang Muslim, mahasiswa perlu diberikan layanan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan PAI yang memadai guna menjalankan segala kewajiban dan peranan dirinya sebagai Muslim. Demikian juga, wawasan dan komitmen kebangsaan bagi mahasiswa juga perlu diberikan secara cukup sehingga pada gilirannya lulusan PTU mampu berkiprah dalam membangun bangsa dan memiliki integritas nasionalisme yang tinggi.

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum

Dengan demikian, kompetensi keagamaan Islam dan semangat nasionalisme menjadi barometer atas keberhasilan layanan PAI pada PTU dan proses pembelajaran yang dilakukan oleh dosen PAI pada PTU. Untuk itu, institusi PTU dan utamanya dosen PAI pada PTU dituntut untuk dapat memberikan fasilitasi dan proses pembelajaran PAI secara maksimal sehingga para lulusannya yang beragama Islam memiliki dua kompetensi sekaligus itu, yakni keislaman dan kebangsaan.

PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan mengamanatkan bahwa Kementerian Agama menjadi leading sector atas pelayanan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan itu, tak terkecuali pendidikan agama Islam pada PTU. Oleh karenanya, kita patut memberikan apresiasi kepada Kementerian Agama yang telah melahirkan PMA (Peraturan Menteri Agama) Nomor 42 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja (Ortaker) Kementerian Agama dan membuat salah satu unit kerja baru di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, yakni lahirnya Sub Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum (Subdit PAI pada PTU) pada Direktorat Pendidikan Agama Islam (Dit. PAI).

Selain Subdit PAI pada PTU, dalam ortaker tersebut tetap mempertahankan Subdit PAI untuk mulai jenjang usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah, yakni Subdit PAI pada PAUD, Subdit PAI pada SD, Subdit PAI pada SMP, dan Subdit PAI pada SMA. Hanya saja, Subdit PAI pada SMK yang sebelumnya tersendiri kini melebur dengan Subdit PAI pada SMA. Kelahiran subdit-subdit ini mencerminkan bahwa pelayanan Pendidikan Agama Islam (PAI) mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah hingga jenjang pendidikan tinggi diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Tentu saja, capaian yang diharapkan atas sejumlah subdit itu adalah secara struktural dapat memfasilitasi atas ketercapaian pembelajaran PAI yang berorientasi pada dua kompetensi di atas, yakni keislaman dan kebangsaan.

Sungguhpun demikian, Kemenristek Dikti telah melakukan upaya dan kebijakan yang cukup baik dalam melakukan pelayanan PAI pada PTU, meski perlu diakui tidak sebesar sebagaimana kebijakan atas pelayanan mata kuliah umum. Sejauh ini, penyelenggaraan PAI pada PTU didasarkan atas Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas Nomor: 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Dalam keputusan itu, mata kuliah PAI ada PTU menjadi salah satu dari komponen MPK (Matakuliah Pengembangan Kepribadian) dengan bobot 2 SKS. Dapat dimaklumi, porsi 2 SKS untuk mata kuliah PAI ini bisa jadi linier dengan bobot mata pelajaran PAI pada sekolah yang mendapatkan alokasi 2 atau 3 jam pelajaran saja.?

Hari Santri 2018

Sebagaimana dimaklumi, bobot 2 SKS untuk mata kuliah PAI ini menjadi tantangan serius bagi dosen PAI pada PTU. Dosen PAI pada PTU dituntut untuk mampu melakukan serangkaian pendekatan dan proses pembelajaran agar dengan bobot 2 SKS itu dapat menghadirkan kompetensi mahasiswa yang mampu menjalankan kewajiban dan peran dirinya sebagai Muslim, di samping berintegritas kebangsaan yang baik.

Berdasarkan data PPDIKTI (Pangkalan Data Pendidikan Tinggi) Kemenristek-Dikti tahun 2017, jumlah perguruan tinggi umum secara total berjumlah 4.490 lembaga, yang terdiri atas Akademi sejumlah 1.101 lembaga, Politeknik sebanyak 250 lembaga, Sekolah tinggi berjumlah 2.433 lembaga, Institut sebanyak 148 lembaga, dan Universitas sejumlah 558 lembaga. Pada PTU itu, ada sebagian kecil yang memiliki Fakultas Agama Islam, yang pengelolaan dosennya diakomodasi oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama. Sementara dosen PAI pada PTU masih mengalami bias yang luar biasa. Untuk jumlah dosen PAI pada PTU, data yang diterima dari ADPISI (Asosiasi Dosen Pendidikan Islam Seluruh Indonesia) menunjukkan bahwa dosen PAI pada PTU yang sudah terdata baru sekitar 446 dosen dari seluruh perguruan tinggi. Tentu jumlah ini menunjukkan masih banyaknya dosen PAI pada PTU yang belum terdata, sebab 446 dosen itu tidak memungkinkan untuk dapat mengajar pada 4.490 PTU.

Hari Santri 2018

Dalam sejumlah amatan, pengangkatan dosen PAI pada PTU setidaknya terdapat 4 (empat) pola, yakni [1] PNS yang diangkat oleh Kementerian Agama sebagai dosen Dpk (diperbantukan); [2] PNS yang diangkat oleh Kemenristek-Dikti; [3] Diangkat oleh Pemerintah Daerah; dan [4] Diangkat sebagai dosen kontrak oleh PTU yang bersangkutan. Empat pihak yang mengangkat ini kemudian berimplikasi pada problemnya pembinaan karir dan profesi. Secara mayoritas dosen-dosen PAI pada PTU ini menghadapi problem karir dan profesi yang cukup serius.

Bagi dosen yang diangkat oleh Kemeterian Agama, ke mana mereka memproses karir dan profesinya itu? Sebab, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam atau Kopertais (Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta) di beberapa PTKIN tidak memfasilitasi pembinaan karir dan profesinya itu. Demikian juga, dosen yang diangkat oleh Kemenristek-Dikti,tidak serta merta dapat diproses melalui Direktorat Jenderal Pembinaan SDM atau Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) dengan maksimal. Belum lagi dosen PAI yang diangkat oleh Pemerintah Daerah atau PTU yang bersangkutan, di lapangan menghadapi problematikanya yang lebih dahsyat.?

Persoalan home base bagi dosen PAI pada PTU mengalami kendala yang tidak sederhana. Pasalnya, home base dosen itu didasarkan pada Program Studi. Pada fakultas-fakultas umum di PTU tentu tidak memiliki program studi pendidikan agama Islam. Demikian juga, tidak semua PTU itu memiliki Fakultas Agama Islam. Akibanya tidak adanya home base ini berimplikasi pada tidak adanya layanan pengembangan akademik bagi dosen PAI. Akhirnya, tidak sedikit dosen PAI pada PTU yang menempel dan bahkan diambil dari dosen-dosen yang berasal dari program studi umum, semisal MIPA atau lainnya. Tentu praktik-praktik demikian sangat tidak menguntungkan bagi masa depan PAI pada PTU.

Terkait dengan penambahan jam untuk memenuhi tuntutan BKD (Beban Kerja Dosen) dan sertifkasi dosen, tampaknya belum dilakukan penataan yang ideal. Beban 2 SKS untuk mata kuliah PAI pada PTU berimplikasi pada keharusan dosen PAI pada PTU untuk “ngamen” dan inisiasi kegiatan lainnya sehingga dapat memenuhi tuntutan itu. Dalam banyak kasus, dosen-dosen PAI pada PTU berkiprah pada sejumlah kegiatan baik di masjid kampus atau LDK (Lembaga Dakwah Kampus) atau lainnya.?

Atas sejumlah problematika di atas, sejumlah penelitian menunjukkan keprihatinan yang luar biasa. Hasil penelitian Balitbang Kementerian Agama RI berjudul “Penelitian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum” tahun 2015 menunjukkan sebagai berikut.?

Pertama,pembelajaran PAI di PTU masih menjemukan. Meski pembelajaran PAI disampaikan dengan cara yang cukup variatif, tetapi yang kerap digunakan adalah metode ceramah atau kuliah mimbar, tanya jawab, dan diskusi. Hanya sedikit dosen PAI yang menggunakan metode brainstorming,small group discussion, role play, dan concept maps. Hal itu disebabkan karena rasio perbandingan dosen dengan mahasiswa di PTU sangat tidak ideal. Jumlah mahasiswa yang terlalu banyak membuat perkuliahan diformat semacam kuliah umum dan hasilnya pembelajaran berpusat pada dosen (lecturer centered) yang cenderung menjemukan.

Kedua, peran dan fungsi PAI di Perguruan Tinggi Umum lebih banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan dan organisasi kemasyarakatan dibandingkan dengan peran dosen PAI. Dikesankan fungsi dan tanggung jawab dosen PAI di PTU “telah diambil alih oleh organisasi kemahasiswaan maupun oleh organisasi kemasyarakatan yang ada di lingkungan kampus”, melalui berbagai tawaran kegiatan keagamaan yang dikoordinasikan oleh mahasiswa maupun ormas. Namun diakui, kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh organisasi kemahasiswaan dan organisasi kemasyarakatan yang diikutinya lebih banyak mengembangkan ide-ide pemikiran radikal dan transnasional.

Temuan Balitbang tahun 2015 itu kemudian mendapatkan justifikasi oleh hasil temuan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang dilakukan oleh Anas Saidi dan Endang Turmudzi yang berkesimpulan bahwa radikalisme tumbuh subur di kampus Perguruan Tinggi Umum.Sebanyak 86 persen mahasiswa dari lima perguruan tinggi di Pulau Jawa menolak ideologi Pancasila dan menginginkan penegakan syariat Islam. Bahkan, menurut survei The Pew Research Center pada 2015 disebutkan 4 persen orang Indonesia mendukung IS.

Masih menurut hasil penelitian LIPI, pola radikalisme melalui organisasi eksternal kampus telah dimulai pasca-reformasi. Organisasi-organisasi mainstream di antaranya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah terpinggirkan. Hampir seluruh kader kelompok dengan ideologi Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) atau salafi, seperti Hizbut Tahrir Indonesia dan KAMMI, menjadi pimpinan badan eksekutif mahasiswa di PTU ternama di Indonesia.Kelompok seperti Ikhwanul Muslimin memiliki pandangan keyakinan dan sikap fundamentalisme puritan kaku. Mereka selalu merasa paling benar dan menganggap kelompok lain salah.Tujuan mereka membangun negara Islam, bahkan untuk mewujudkannya dibolehkan menggunakan cara-cara kekerasan.

Problematika dan implikasi destruktif yang demikian dahsyat, menurut hemat penulis, tidak dapat ditunda-tunda. Kementerian Agama, Kemenristek-Dikti dan sejumlah Kementerian/Lembaga lainnya segera untuk turut serta dalam menangani problematika pada dosen PAI pada PTU dan problematika lainnya di PTU, tentu dengan batas kewenangannya. Demikian juga sejumlah organisasi ekstra kampus yang berbasis keindonesiaan dan Islam moderat, seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), HMI (Himpinan Mahasiswa Indonesia), dan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) segera untuk merapatkan barisan guna penanaman pendidikan agama Islam yang berkarakter keindonesiaan.?

Penulis adalah Parktisi Pendidikan Islam; Doktor Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Meme Islam, Amalan, Hadits Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock