Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan

Jakarta, Hari Santri 2018. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan saat ini toleransi yang ada di dunia sedang menghadapi cobaan. Karena itu, NU terus berjuang untuk menumbuhkan toleransi baik antar agama maupun diantara aliran dalam satu agama.



Toleransi sedang Menghadapi Cobaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi sedang Menghadapi Cobaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi sedang Menghadapi Cobaan

Hal ini disampaikannya ketika memberikan sambutan pada puncak acara Global Peace Festival yang berlangsung di Gelora Bung Karno, Ahad (17/10).

“Toleransi harus ditumbuhkan antara muslim dengan non muslim maupun antara muslim dengan muslim lainnya,” katanya.

Hari Santri 2018

Ia mengisahkan KH Wahid Hasyim, ayah Gus Dur merupakan salah satu dari tim sembilan yang merumuskan pembentukan negara ini. Mereka sepakat untuk membentuk negara bangsa yang tidak didasarkan atas agama, meskipun umat Islam mayoritas di Indonesia.

Hari Santri 2018

Sementara itu Menakertrans Muhaimin Iskandar menyatakan pemerintah sangat mendukung kampanye perdamaian, baik antara sesama manusia maupun perdamaian antar negara.

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyatakan rakyat Indonesia sepakat membentuk sebuah negara karena ingin hidup dalam damai, lepas dari penjajahan bangsa lain.

“Para pendiri negara ini, sebagaimana tercermin dalam UUD 1945 sepakat ikut melaksanakanketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi,” katanya.

Karena itu, UUD memberi jaminan kepada warga negara untuk melaksanakan keyakinannya, serta memiliki berbagai macam hak lainnya yang dilindungi UU. “Tak ada tempat yang tak toleran dalam konstitusi kita,” tegasnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ubudiyah, Kajian Islam Hari Santri 2018

Senin, 19 Februari 2018

Dicari: Keunggulan Budaya

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Ada sebuah prinsip yang selalu dikumandangkan oleh mereka yang meneriakan kebesaran Islam: “Islam itu unggul, dan tidak dapat diungguli (al-Islâm ya’lû wala yu’la alaihi).” Dengan pemahaman mereka sendiri, lalu mereka menolak apa yang dianggap sebagai “kekerdilan” Islam dan kejayaan orang lain. Mereka lalu menolak peradaban-peradaban lain dengan menyerukan sikap “mengunggulkan“ Islam secara doktriner. Pendekatan doktriner seperti itu berbentuk pemujaan Islam terhadap “keunggulan” teknis peradaban-peradaban lain. Dari sinilah lahir semacam klaim kebesaran Islam dan kerendahan peradaban lain, karena memandang Islam secara berlebihan dan memandang peradaban lain lebih rendah.

Dari “keangkuhan budaya” seperti itu, lahirlah sikap otoriter yang hanya membenarkan diri sendiri dan menggangap orang atau peradaban lain sebagai yang bersalah atas kemunduran peradaban lainnya. Akibat dari pandangan itu, segala macam cara dapat dipergunakan kaum muslim untuk mempertahankan keunggulan Islam. Kemudian lahir semacam sikap yang melihat kekerasan sebagai satu-satunya cara “mempertahankan Islam”. Dan lahirlah terorisme dan sikap radikal demi “kepentingan” Islam.

Dicari: Keunggulan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Dicari: Keunggulan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Dicari: Keunggulan Budaya

Mereka tidak mengenal ketentuan hukum Islam/fiqh bahwa orang Islam diperkenankan menggunakan kekerasan hanya jika diusir dari kediaman mereka (idzâ ukhrijû min diyârihim). Selain alasan tersebut itu tidak diperkenankan menggunakan kekerasan terhadap siapapun, walau atas dasar keunggulan pandangan Islam. Sesuai dengan ungkapan di atas maka jelas, mereka salah memahami Islam, ketika memaahami bahwa kaum muslimin diperkenankan menggunakan kekerasan atas kaum lain. Inilah yang dimaksudkan oleh kitab suci al-Qur’ân dengan ungkapan “Tiap kelompok bersikap bangga atas milik sendiri (kullu hizbin bimâ ladaihim farihûn)” (QS al-Mu’minûn [23]: 54). Kalau sikap itu dicerca oleh al-Qur’ân, berarti juga dicerca oleh Rasul-Nya.

Hari Santri 2018

***

Jelaslah sikap Islam dalam hal ini, yaitu tidak mengangap rendah peradaban orang lain. Bahkan Islam mengajukan untuk mencari keunggulan dari orang lain sebagai bagian dari pengembangannya. Untuk mencapai keunggulan itu Nabi bersabda “carilah ilmu hingga ke tanah Tiongkok (utlubû al-ilmâ walau bî al-shîn).” Bukankah hingga saat ini pun ilmu-ilmu kajian keagamaan Islam telah berkembang luas di kawasan tersebut? Dengan demikian, Nabi mengharuskan kita mencarinya ke mana-mana. Ini berarti kita tidak boleh apriori terhadap siapapun, karena ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang terdapat di mana-mana. Bahkan teknologi maju yang kita gunakan adalah hasil ikutan (spend off) dari teknologi ruang angkasa yang dirintis dan dibuat di bumi ini. Dengan demikian, teknologi antariksa juga menghasilkan hal-hal yang berguna bagi kehidupan kita sehari- hari. Pengertian “longgar” seperi inilah yang dikehendaki kitab suci al-Qur’ân dan Hadits.

Hari Santri 2018

Lalu adakah “kelebihan teknis” orang-orang lain atas kaum muslimin yang dapat dianggap sebagai “kekalahan” umat Islam? Tidak, karena amal perbuatan kaum muslimin yang ikhlas kepada agama mereka memiliki sebuah nilai lebih. Hal itu dinyatakan sendiri oleh Al-Qur’an: “Dan orang yang menjadikan selain Islam sebagai agama, tak akan diterima amal perbuatannya di akhirat. Dan ia adalah orang yang merugi (wa man yabtaghi ghaira Islâmi dînan falan yuqbala minhu wa huwa fil âkhirati minal khâsirîn)” (QS Ali Imran [3]:85). Dari kitab suci ini dapat diartikan bahwa Allah tidak akan menerima amal perbuatan seorang non-muslim, tetapi di dalam kehidupan sehari-hari kita tidak boleh memandang rendah kerja siapapun.

Sebenarnya pengertian kata “diterima di akhirat” berkaitan dengan keyakinan agama dan dengan demikian memiliki kualitas tersendiri. Sedangkan pada tataran duniawi perbuatan itu tidak tersangkut dengan keyakinan agama, melainkan “secara teknis” membawa manfaat bagi manusia lain. Jadi manfaat dari setiap perbuatan dilepaskan oleh Islam dari keyakinan agama dan sesuatu yang secara teknis memiliki kegunaan bagi manusia diakui oleh Islam. Namun, dimensi “penerimaan” dari sudut keyakinan agama memiliki nilainya sendiri. Pengislaman perbuatan kita justru tidak tergantung dari nilai “perbuatan teknis” semata, karena antara dunia dan akhirat memiliki dua dimensi yang berbeda satu dari yang lain.

***

Dengan demikian, jelas peradaban Islam memiliki keunggulan budaya dari sudut penglihatan Islam sendiri, karena ada kaitannya dengan keyakinan keagamaan. Kita diharuskan mengembangkan dua sikap hidup yang berlainan. Di satu pihak, kaum muslimin harus mengusahakan agar Islam -sebagai agama langit yang terakhir- tidak tertinggal, minimal secara teoritik. Tetapi di pihak lain kaum muslimin diingatkan untuk melihat juga dimensi keyakinan agama dalam menilai hasil budaya sendiri. Ini juga berarti Islam menolak tindak kekerasan untuk mengejar ketertinggalan “teknis” tadi. Walaupun kita menggunakan kekerasan berlipat-lipat kalau memang secara budaya kita tidak memiliki pendorong ke arah kemajuan, maka kaum muslimin akan tetap tertinggal di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian keunggulan atau ketertinggalan budaya Islam tidak terkait dengan penguasaan “kekuatan politik”, melainkan dari kemampuan budaya sebuah masyarakat muslim untuk memelihara kekuatan pendorong ke arah kemajuan, teknologi dan ilmu pengetahuan. ?

Kita tidak perlu berkecil hati melihat “kelebihan” orang lain, karena hal itu hanya akibat belaka dari kemampuan budaya mereka mendorong munculnya hal-hal baru yang bersifat “teknis”. Di sinilah letak pentingnya dari apa yang oleh Samuel Huntington disebut sebagai “perbenturan budaya (clash of civilizations)”. Perbenturan ini secara positif harus dilihat sebagai perlombaan antar budaya, jadi bukanlah sesuatu yang harus dihindari.

***

Beberapa tahun lalu penulis diminta oleh Yomiuri Shimbun, harian berbahasa Jepang terbitan Tokyo dan terbesar di dunia dengan oplah 11 juta lembar tiap hari, untuk berdiskusi dengan Profesor Huntington, bersama-sama dengan Chan Heng Chee (dulu Direktur Lembaga Kajian Asia-Tenggara di Singapura dan sekarang Dubes negeri itu untuk Amerika Serikat) dan Profesor Aoki dari Universitas Osaka. Dalam diskusi di Tokyo itu, penulis menyatakan kenyataan yang terjadi justru bertentangan dengan teori “perbenturan budaya” yang dikemukakan Huntington. Justru sebaliknya ratusan ribu warga muslimin dari seluruh dunia belajar ilmu pengetahuan dan teknologi di negeri-negeri Barat tiap tahunnya, yang berarti di kedua bidang itu kaum muslim saat ini tengah mengadopsi (mengambil) dari budaya Barat. ?

Nah, keyakinan agama Islam mengarahkan mereka agar menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mereka kembangkan dari negeri-negeri Barat untuk kepentingan kemanusiaan, bukannya untuk kepentingan diri sendiri. Pada waktunya nanti, sikap ini akan melahirkan kelebihan budaya Islam yang mungkin tidak dimiliki orang lain: “kebudayaan yang tetap berorientasi melestarikan perikemanusiaan, dan tetap melanjutkan misi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”. Kalau perlu harus kita tambahkan pelestarian akhlak yang sekarang merupakan kesulitan terbesar yang dihadapi umat manusia di masa depan, seperti terbukti dengan penyebaran AIDS di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri muslim.

?

?

*) Dikutip dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di harian Duta Masyarakat, 5 Juli 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Kajian Islam Hari Santri 2018

Minggu, 11 Februari 2018

Ciri-ciri Wali Menurut Gus Mus

Pati, Hari Santri 2018



Wali merupakan kekasih Allah. Mereka tidak kagetan, tidak punya rasa takut dan susah. Bahkan terhadap malaikat Munkar dan Nakir sekalipun.

Demikian yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam pengajian umum di Mushala Nurul Huda dalam Haul ke-26 KH Maimun Desa Kertomulyo, Trangkil, Pati, Sabtu (11/11).

Ciri-ciri Wali Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Ciri-ciri Wali Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Ciri-ciri Wali Menurut Gus Mus

 

Pada pengajian yang dihadiri ribuan umat Islam tersebut, Gus Mus menerangkan, wali itu tak pernah takut dan merasa susah. Ia menggambarkan wali dalam surat Al-Ahqof ayat 13: Innalladzina robbunallahu tsummastaqomu fala khoufun alaihim walahum yahzanun. Artinya, "Sesungguhnya orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqomah, maka tidak ada ketakutan terhadap mereka dan mereka tiada (pula) bersusah."

Hari Santri 2018

 

Kemudian Gus Mus menjelaskan bila para wali merupakan teman para malaikat. Ketika Allah mengasihi hamba-Nya, malaikat pun ikut mengasihi. Dalam Al-Quran malaikat pun bebicara bahwa mereka adalah teman para wali. Nahnu auliyaukum fil hayatiddunya wafil akhiroh.

 

"Ciri-ciri wali itu ada dua. Yang pertama mengakui Allah sebagai Tuhannya dan yang kedua jejeg (istiqomah)," tandas kiai asal Rembang ini.

Hari Santri 2018

 

Gus Mus memetikkan Surat Fushshilat ayat 30: Innalladzina qolu robbunallah tsummastaqomu tatanazzalu alaikumul malaikatu alla takhofu wala tahzanu wa absiru bil jannati kuntum tuadun. Yang artinya "Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan Kami adalah Alloh, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), Janganlah kamu merasa takut,  dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu."

 

Selain mengakui Allah sebagai Tuhannya, seorang wali harus istiqomah (jejeg) dalam menyembah Allah. Gus Mus mencontohkan seseorang shalat di suatu mushala hendaknya tetap istiqomah shalat meskipun berada di mana pun tempat dan daerahnya. Sebab al istiqomatu khoirun min alfi karomah.

 

"Sederhananya kalau beribadah kepada Allah itu yang sedang-sedang saja, jangan ngotot dan berlebihan," tambah Gus Mus.

 

Gus Mus menilai bila orang yang beribadah ngotot dan berlebih-lebihan tidak akan bisa istiqomah. Ibarat orang ngaji Al-Quran khatam tiga kali pada bulan puasa, tapi sama sekali tak menyentuh Al-Quran setelah bulan puasa lewat. Bahkan, banyak orang jaman sekarang yang berpolitik berlebih-lebihan, menyukai calonnya berlebihan, menyukai dan membenci orang berlebihan.

"Padahal berlebihan tidak disukai Allah," pungkasnya. (Ahsol Matkan/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Halaqoh Hari Santri 2018

Sabtu, 03 Februari 2018

Haul Buyut Kang Said Digelar Akhir Mei

Cirebon, Hari Santri 2018. Pondok Pesantren Gedongan Cirebon mulai melakukan persiapan menghadapi pelaksanaan? Haul KH Muhammad Said (Mbah Said). Ia pendiri pesantren sekaligus buyut dari KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Diungkapkan Aghuts Muhaemin, Ketua Panitia, Haul Mbah Said untuk tahun ini akan digelar pada hari Sabtu tanggal 24 Mei 2014 mendatang. Menurutnya, berbagai persiapan telah dilakukan oleh segenap panitia.

Haul Buyut Kang Said Digelar Akhir Mei (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Buyut Kang Said Digelar Akhir Mei (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Buyut Kang Said Digelar Akhir Mei

“Persiapan tersebut termasuk menghubungi calon pembicara pada malam puncak, antara lain Kiai Said, Kiai Musthofa Aqil dan Habib Umar Muthohar dari Semarang sebagai penceramahnya,” ungkap Aghuts, Jumat (2/5).

Hari Santri 2018

Selain persiapan malam puncak peringatan haul, panitia juga telah melakukan persiapan untuk beberapa mata acara yang akan digelar dalam rangka pra haul Pesantren Gedongan tersebut. Ditambahkan Aghuts, dalam peringatan haul kali ini, pesantren juga akan menggelar Santunan Anak Yatim, Pengobatan Gratis, Bahtsul Masail, Kontes Genjring, Donor Darah, Semaan Al-Quran dan Tahlil Akbar.

Hari Santri 2018

“Karena tujuan dari peringatan haul adalah mempererat silaturrahmi antaralumni, masyarakat dan pesantren. Tentu, selain melakukan refleksi atas teladan yang telah diberikan para pendahulu, terlebih Mbah Said,” pungkas pria yang kerap disapa Kang Aghust tersebut.

KH Mohammad Said hidup di masa 1830-an Masehi, menurut catatan keluarga,? Mbah Said banyak berperan dalam melakukan perjuangan melawan penjajah Belanda,? serta menjadi cikal bakal berkembangnya beberapa pesantren di Jawa, khususnya di Cirebon. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Halaqoh Hari Santri 2018

Jumat, 02 Februari 2018

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama telah berlangsung pada 14-18 September 2012 yang lalu di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, yang didahului serangkaian kegiatan pramunas sejak Agustus di beberapa kota besar di Indonesia.

Munas-Konbes NU 2012 yang disiarkan cukup ramai oleh berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, telah menghasilkan banyak sekali rekomendasi dan telah ditanggapi positif oleh banyak kalangan, termasuk oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Khittah 1926, ke Khittah 1945

Munas NU kali ini agak berbeda. Jika dilihat materi pembahasannya, terutama dalam tiga komisi bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah keagamaan), hampir tidak ditemukan materi ubudiyah atau soal-soal ibadah ritual. Hanya ada satu pembahasan mengenai haji dalam komisi bahtsul masail diniyyah waqiyyah, itu pun tidak terkait ritual haji, namun pada soal dana talangan haji. Bukan berarti persoalan ibadah sudah tidak lagi muncul di tengah warga nahdliyin dan diajukan kepada para kiai untuk dibahas dalam Munas, namun ada kebutuhan mendesak untuk membahas beberapa hal (masail) penting terkait persoalan kebangsaan dalam forum nasional yang harus didahulukan.

Hari Santri 2018

Pada komisi bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah, para kiai dan ahli fikih dari berbagai wilayah di Indonesia menyoroti praktik korupsi yang semakin merisaukan. Bahkan Munas 2012 itu memunculkan satu keputusan mengejutkan: NU merekomendasikan hukuman mati bagi koruptor kelas berat dan koruptor kambuhan. Munas juga merekomendasikan penguasaan atau perampasan aset negara yang telah dikorupsi meskipun pelakunya telah dihukum, atau bahkan telah meninggal dunia. Dalam kasus terakhir, pesan sesungguhnya diperuntukkan kepada para ahli waris. Bahwa harta korupsi akan menyulitkan orang tua atau saudara mereka dari tanggungan akhirat, serta harta hasil korupsi tidak akan berkah dan haram untuk diwariskan.

Bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah juga memberikan rambu-rambu kepada para penyelenggara negara terkait cara pengelolaan kekayaan negara, agar mencapai sasaran yang tepat: kesejahteraan rakyat.

Tema besar pada Munas kali ini adalah “Kembali ke Khitah Indonesia 1945”. NU merasa prihatin dengan kondisi bangsa ini, terutama semenjak memasuki era reformasi. Persoalan pertama yang dibidik adalah amandemen UUD 1945. Satu sisi amandemen yang telah berlangsung empat kali itu menunjukkan Indonesia telah menunjukkan diri pada dunia sebagai negara yang demokratis. Namun karena dilakukan dengan sangat tergesa-gesa dan bahkan pada beberapa bagian dapat dikatakan responsif dan emosional terhadap rezim orde baru, maka dalam amandemen tersebut banyak terjadi  ketidakcermatan bahkan kesalahan. Akibatnya UUD yang dilahirkan merugikan rakyat dan membahayakan  kedaulatan nasional. 

Hari Santri 2018

Amandemen yang berada di tangan rakyat itu diambil alih oleh sekelompok elite yang mewakili kepentingan kapitalisme global yang berideologi liberal. Berbagai pasal yang menegaskan aspirasi rakyat dan menjaga keutuhan bangsa dan negara diganti dengan pasal-pasal yang menguntungkan perusahaan asing di bawah bendera kapitalaisme global. Disyahkannya UU Sumber daya air, UU Migas, UU Minerba, UU perdesaan, UU Pangan dan lain sebagainya merupakan seperangkat hukum yang dikukuhkan untuk melindungi pemilik modal.

Komisi bahtsul masail diniyyah qonuniyyah, NU secara serius mengkaji kembali beberapa undang-undang yang tidak sejalur dengan Khittah Indonesia 1945. Dalam bahtsul masail khusus yang membahas persoalan undang-udang itu para kiai juga menyampaikan beberapa rekomendasi terkait undang-undang No 20/2003 tentang Sistem Pemdidikan Nasional dan UU No 2 /2012 tentang perguruan tinggi.

Banyak sekali persoalan negara yang dibahas secara serius oleh para kiai dari berbagai daerah dan disaksikan ribuan warga nahdliyin yang hadir di forum Munas-Konbes NU 2012. Isu “warning bagi pengelolaan pajak” hanyalah isu permukaan saja. Kritik dan masukan NU lebih mengarah kepada tata kelola kekayaan negara yang selama ini dinilai salah kelola. 

Terkait dengan Khitah 1945, tidak ada keputusan yang menyebutkan bahwa NU mengajak kembali ke UUD 1945. Setelah menengok beberapa produk undang-undang tidak menyejahterakan rakyat, secara serius NU mengajak kembali kepada segenap elemen bangsa untuk mencermati kembali undang-undang dasar produk reformasi. Jika diperlukan amandemen kembali, maka harus dilakukan secara cermat dan komprehensif, tidak hanya melayani kebutuhan sekelompok orang.

NU punya pengalaman besar terkait “khitah”. Pada tahun 1984, setelah menjalankan roda keorganisasian selama puluhan tahun, NU lalu memutuskan kembali ke khittah 1926, kembali ke jati diri NU seperti pada saat didirikan. Istilah “Khittah 1945” sebagai tema besar Munas-Konbes NU 2012 dipakai untuk mengingatkan bangsa ini agar kembali kepada semangat dan tujuan Indonesia merdeka, tahun 1945. Kembali ke khitah bukan langkah mundur, tapi langkah pasti untuk merumuskan masa depan yang lebih baik.

Secara formal Munas-Konbes NU 2012 telah berakhir. Namun beberapa keputusan dan rekomendasi NU akan terus berlanjut. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Aswaja, Kajian Islam Hari Santri 2018

Rabu, 31 Januari 2018

Tangkal Gerakan Radikal, PCNU se-Solo Raya Harus Perkuat Institusi

Karangnyar, Hari Santri 2018. Untuk menangkal gerakan dan ideologi radikal yang bertentangan dengan paham Nahdlatul Ulama dan pancasila, PCNU se-Solo Raya harus memperkuat institusi, membangun NU secara organisatoris dan mengembangkan amaliah NU. 

Demikian disampaikan Ketua PWNU Jawa Tengah Dr. H. Abu Hafsin, MA saat koordinasi dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Solo Raya (Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Boyolali, Sragen dan Karanganyar) di Islamic Centre Nurul Hikmah, Karanganyar, Jawa Tengah, Ahad, (11/1).

Tangkal Gerakan Radikal, PCNU se-Solo Raya Harus Perkuat Institusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Gerakan Radikal, PCNU se-Solo Raya Harus Perkuat Institusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Gerakan Radikal, PCNU se-Solo Raya Harus Perkuat Institusi

Dosen UIN Walisongo Semarang ini menjelaskan, sedikitnya ada 26 kelompok radikal yang ada di wilayah Solo Raya. “Gerakan jihadis ini sudah mulai terang-terangan dan para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai pejuang, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain,” tegas Abu Hafsin. 

Hari Santri 2018

Oleh karena itu, kata Hafsin, TNI dan Polri titip kepada NU untuk menjaga NKRI dan Pancasila. “Saat ini hanya NU yang bisa gandeng tangan dengan pemerintah untuk menjaga Pancasila dan NKRI,” tuturnya. 

Hafsin juga menekankan, bahwa yang tak kalah penting adalah membangun silaturrahim dengan para alim ulama serta melakukan pendidikan kader penggerak Nahdlatul Ulama. (Cecep Choirul Sholeh/Fathoni)    

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Olahraga, Meme Islam, Kajian Islam Hari Santri 2018

Senin, 29 Januari 2018

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

Jombang, Hari Santri 2018 - Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) Jombang, Jawa Timur bersama Ikatan Remaja Muslim (Ikram) berkomitmen untuk menguatkan Islam yang menebar kasih sayang kepada semua (rahmatan lil ‘alamin).

Hal itu tercermin dari penyelenggaraan acara Muhasabah Tahun Baru 1438 H dengan tema “Mewujudkan Karakter Remaja Muslim dengan Spirit Islam rahmatan lil Alamin” di Islamic Center Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, Ahad pagi (30/10). Kegiatan diiringi dengan iringan shalawat al-Banjari.

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

?

"Acara ini dimaksudkan agar para siswa didampingi pemahaman Islam yang mainstream, yaitu Islam yang ramah dan moderat dan terlindungi dari sementara kalangan Muslim yang ekstrem," ujar Ketua MGMP PAI Jombang, Shalahuddin.

Direktur Aswaja NU Center Jombang Yusuf Suharto mengatakan bahwa muhasabah atau introspeksi diri adalah sebuah keniscayaan.

Hari Santri 2018

"Kita muhasabah dalam banyak kesempatan antara lain, di Ramadhan, di Syawal, dan di bulan Muharram. Muharram adalah bulan pertama dalam hitungan tahun hijriah. Momentum Muharram sebagai bulan introspeksi adalah tepat karena bulan ini adalah awal bulan tahun hijriah, dan bulan yang setelah bulan haji di mana banyak berkumpul kaum muslimin dari seluruh dunia untuk ibadah haji," ujarnya di hadapan para siswa, dan guru MGMP PAI se-Jombang.

Hari Santri 2018

?

Menurutnya, tahun baru Islam ini disebut dengan hijriah karena ditandai dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Hijrah ini adalah gerakan nyata yang perlu dicatat sejarah. Hijrah Nabi disepakati sebagai penanda penting kalender Islam pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab.

"Di antara yang dilakukan Rasulullah adalah beliau membuat Mitsaq Madinah atau Piagam Madinah, dan itu mengikat tidak hanya kepada masyarakat Madinah yang muslim, tapi juga nonmuslim. Inilah penghargaan kemajemukan yang dicontohkan Rasulullah," kata pengurus Dewan Pendidikan Jombang ini.

Yusuf juga mengatakan, NKRI adalah bentuk perjanjian bersama antarmasyarakat Indonesia yang majemuk. “Islam rahmatan lil alamin dalam konteks berbangsa dengan demikian adalah Islam yang merahmati tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi bahkan kepada seluruh masyarakat Indonesia," imbuhnya.

Ia mengingatkan bahwa semangat cinta tanah air sudah diajarkan oleh para ulama Nusantara, antara lain oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, dan gubahan lagu Ahlal Wathan pada 1934.

“Karakter Islam Nusantara adalah karakter Islam yang moderat. Mari kita menjadi bagian dari Muslim negeri ini, dengan prinsip Islam yang rahmat, Islam yang lembut pada tempatnya dan tegas pada tempatnya," pungkas dosen Aswaja Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto Jatim ini. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Pemurnian Aqidah, Khutbah Hari Santri 2018

Minggu, 28 Januari 2018

PCINU Maroko Hadiri Maulid Nabi di Zawiyah al Kattaniyah

Fes, Hari Santri 2018. Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang setiap tahunnya diperingati ? oleh mayoritas umat Islam di Indonesia ternyata di Maroko pun tak mau ketinggalan.?

PCINU Maroko Hadiri Maulid Nabi di Zawiyah al Kattaniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Maroko Hadiri Maulid Nabi di Zawiyah al Kattaniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Maroko Hadiri Maulid Nabi di Zawiyah al Kattaniyah

Berbagai macam acara memperingati maulid dilakukan oleh warga Maroko, mulai dari karnaval yang diikuti oleh warga setempat sambil membawa hiasan yang bertulisakan lafad Allah dan Muhammad SAW, khataman Al-Quran yang dibaca secara bergantian, pembacaan shalawat yang dikarang oleh ulama Maroko dan ada juga sebagian warga yang mengundang warga asing untuk ikut memperingati acara ini.

Suatu keistimewaan tersendiri bagi ? Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko mendapatkan kehormatan dari Zawiyah Al-Kattaniyah untuk menghadiri acara maulid Nabi Muhammad SAW yang bertempat di kota Fes yang terkenal dengan kota ilmu.

Hari Santri 2018

Setelah acara ini dibuka dengan pembacaan ummul kitab, selanjutnya diteruskan dengan khataman Al-Quran 30 Juz yang dilakukan secara bergantian dan tiap orang mendapatkan bagian satu juz.?

Hari Santri 2018

“Saya merasa bangga sekali bisa menghadiri acara ini, disamping suatu kehormatan bagi PCINU Maroko kami juga bisa duduk bersama dengan ulama Maroko serta bersilaturrahim dengan mereka,” ujar Muhammad Fauzan Nabila yang hadir pada acara ini.

? Sebelum masuk ke acara inti, Qari membaca ayat Al-Quran yang berisi bahwa Rasulullah SAW merupakan suri teladan yang patut dicontoh yang dilanjutkan dengan pembacaan sholawat hingga selesai. Sebelum acara penutupan, Syekh Hamzah Al-Kattani memberikan ceramah singkat yang bertajuk inti diadakan maulid Nabi SAW dan keutamaan membaca shalawat Nabi SAW, sekaligus ditutup dengan doa bersama.?

Turut hadir pula H Ahmad Shohib Muttaqin Lc, wakil Katib Syuriah PCINU Maroko, Ahmad Suprapto wakil Koordinator lajnah Ta’lif wa Nasyr PCINU Maroko ? dan keluarga besar Zawiyah Al-Kattaniyah serta ulama setempat.

?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Santri, Kajian Islam, Sholawat Hari Santri 2018

Minggu, 21 Januari 2018

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid

Sukoharjo, Hari Santri 2018. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sukoharjo bersama Jam’iyyah Al-Qurra wa Al-Huffazh (JQH) Al-Wustha IAIN Surakarta mengadakan kerjasama dalam bidang sholawat dan kajian keislaman untuk memperingati maulid Rasul SAW.

Mereka menggelar sholawatan bersama di mushola Al-Ilham, Kartasura, Ahad (12/1) pagi.

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid

Sebelumnya Ketua PC IPPNU Sukoharjo dan Ketua IPPNU PAC Kartasura bersilaturahmi dengan JQH Al-Wustha, kata seorang pengurus JQH Asrul yang juga mahasiswa Fakultas Syariah, Rabu (15/1).

Hari Santri 2018

Keduanya mengajak JQH Al-Wustha mengisi acara rutinan Germas (Gerakan Remaja Pecinta Sholawat) yang dilaksanakan IPNU dan IPPNU Sukoharjo.

Bagi JQH Al-Wustha, kegiatan itu merupakan salah satu wujud pengabdian masyarakat “dalam rangka menjaga kearifan lokal. Tentunya bertujuan membangun ruang lingkup dakwah yang lebih luas,” terang Asrul.

Hari Santri 2018

Sementara itu Ketua IPPNU PC Sukoharjo Fitria Ayu Luthfi mengharapkan kegiatan ini bisa menjadi batu loncatan bagi IPPNU yang beberapa tahun lalu “mati suri”. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Kajian Islam, Cerita Hari Santri 2018

Senin, 08 Januari 2018

Pendaftaran Dimulai Juni 2016, Ini Cara Miliki E-Kartanu

Jakarta, Hari Santri 2018

Kartanu adalah akronim dari Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama. Kartu ini merupakan kartu identitas yang dimiliki oleh setiap warga NU. Dalam perkembangannya, kehadiran Kartanu dimaksudkan bukan hanya hadir sebagai penanda atau identitas saja, namun lebih dari itu Kartanu terus dikembangkan dalam rangka memudahkan warga NU dan juga sekaligus sebagai sebuah bentuk khidmat dan pelayanan keummatan. Kartanu akan diluncurkan pada Juni 2016.

Pada tahap pertama Kartanu akan diluncurkan serempak di 30 Kabupaten/kota. Pendaftaran Kartanu tahap pertama di 30 kabupaten/kota bisa dilakukan melalui Kantor PCNU atau melalui Kantor Cabang Bank Mandiri. Info lebih lanjut klik www.kartanu.com.

Pendaftaran Dimulai Juni 2016, Ini Cara Miliki E-Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendaftaran Dimulai Juni 2016, Ini Cara Miliki E-Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendaftaran Dimulai Juni 2016, Ini Cara Miliki E-Kartanu

Bagi warga NU yang beridentitas di luar 30 kabupaten/kota (tahap pertama) bisa mendaftarkan diri untuk menjadi member E-Kartanu sebelum mendapatkan Kartanu.

E-Kartanu adalah Kartanu Elektronik berbasis Android dan IOS yang dapat diunduh secara gratis melalui app store dan play store. Melalui E-Kartanu warga NU bisa melakukan transaksi-transaksi yang memudahkan seperti pembelian pulsa, pembayaran listrik, pembayaran PDAM, dan pembayaran-pembayaran lainnya.?

Melalui E-Kartanu warga juga bisa menabung untuk keperluan masa depannya. Dalam menunjang fitur ini PBNU akan melibatkan lembaga-lembaga NU terkait, sesuai bidang masing-masing. Misalnya Tabungan Zakat (Tazak), Tabungan Kurban (Takur), dan juga Tabungan Infaq dan Shadaqah maka akan berhubungan dengan LAZISNU, Tabungan Wakaf (Tawaf) akan berhubungan dengan Lembaga Wakaf NU (LWPNU).?

Hari Santri 2018

Sementara untuk Tabungan Haji dan Umroh (Tahur) akan berhubungan dengan Lembaga Dakwah NU (LDNU) dan juga Asosiasi Bina Haji NU (ASBIHU NU). Adapun program Gerakan Infak dan Shodaqoh Masjid (Gismas) berhubungan dengan Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) dan lain sebagainya.

Hari Santri 2018

Berikut alur pendaftaran E-Kartanu:

Melalui Aplikasi E-Kartanu

1. Download Aplikasi E-KartaNU via Android atau IOS

2. Isi dan lengkapi data

3. Anda telah terdaftar sebagai pemegang E-Kartanu

Melalui Situs www.kartanu.com

1. Login ke www.kartanu.com

2. Pilih menu daftar. Isi dan Lengkapi data

3. Anda telah terdaftar sebagai pemegang E-Kartanu

Melalui SMS

1. Ketik kartanu (spasi) daftar (Spasi) NomorKTP#nama#NomorHP kirim ke 99333, biaya per SMS 500 rupiah.

2. Anda akan mendapatkan balasan SMS berupa User dan Akses

3. Anda telah terdaftar sebagai pemegang E-Kartanu

(Fariz Alniezar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Meme Islam Hari Santri 2018

Senin, 25 Desember 2017

Nusron: Orang NU Bukan “Indekost” di Bumi Nusantara

Kudus, Hari Santri 2018. Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid menegaskan umat Islam terutama warga NU menjadi pemilik sah bangsa Indonesia. Sebab, berdirinya bangsa ini adalah atas perjuangan para ulama pendahulu yang mengorbankan darah dan nyawa.

“Jadi kita (orang NU) bukan orang kos-kosan di bumi nusantara tetapi pemilik sah Indonesia,” katanya dalam acara Ansor bersholawat yang diadakan PC GP Ansor Kudus di Gedung Graha Mustika Getas Pejaten, Senin (20/5) kemarin.

Nusron: Orang NU Bukan “Indekost” di Bumi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron: Orang NU Bukan “Indekost” di Bumi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron: Orang NU Bukan “Indekost” di Bumi Nusantara

Nusron mengatakan semangat nasionalisme NU dan Ansor sangat tinggi sebelum organisasi  terbesar  ini berdiri. Ketika bangsa ini belum berdiri, tuturnya , para ulama terutama  KH. Wahab Hasbullah sudah mengakui indonesia negaraku yang dituangkan pada syair-syair ya ahlal  wathan karangannya  pada tahun 1924.

Hari Santri 2018

“Kalau ada yang mengganggu Indonesia dengan berbagai cara fitnah maupun pakai bom berarti mengganggu warisan para ulama,” tandas mantan ketua umum PB PMII ini.

Hari Santri 2018

Ansor ke depan, menurut Nusron,  perlu mempersiapkan seorang kader  pemimpin yang siap berjuang untuk kebaikan bangsa dan kepentingan masyarakat. Dalam konteks kebangsaan,  Ansor memperhatikan petunjuk bahwa seorang pemimpin negara harus menyatu dengan ulama, adanya para pengambil kebijakan dari kalangan teknokrat  maupun insinyur.

“Begitu juga Ansor harus mempersiapkan kader politisi kenegarawanan atau politik kebangsaan. Karena politik itu menurut imam almawardi adalah usaha manusia untuk derajat yang lebih ti serta politisi kenegarawan,” tandas pria asli Kudus ini.

Terkait peringatan Harlah, Nusron menegaskan usia 79 tahun menjadi bukti bahwa Ansor  ini  memberikan kemanfaatan bagi masyarakat. Sebab, organisasi bisa  tetap  bertahan manakala memberikan kemanfaatan.

“Muhammadiyah, NU maupun lainnya termasuk GP Ansor masih eksis bertahan sampai sekarang karena keberadaannya sangat bermanfaat bagi masyarakat,” tandasnya lagi.

Kegiatan diselenggarakan dalam rangka peringatan Harlah ke-79 Ansor ini, dihadiri juga Habib Luthfi bin Yahya, para kiai dan habaib Kudus serta ribuan jamaah nahdliyyin.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul, Kajian Islam Hari Santri 2018

Sabtu, 23 Desember 2017

Hikayat Perang Sabil Aceh Mengandung Shalawat Nabi

Jakarta, Hari Santri 2018?



Kitab-kitab kuning yang dikaji di pesantren selalu dimulai dengan bismillah, puja-puji bagi Allah SWT. Kemudian selalu menyertakan shalawat kepada sayyidina Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, pengikutnya, hingga akhir zaman. Struktur pembukaan tersebut, sama saja dalam kitab besar maupun kecil.

Hikayat Perang Sabil Aceh Mengandung Shalawat Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikayat Perang Sabil Aceh Mengandung Shalawat Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikayat Perang Sabil Aceh Mengandung Shalawat Nabi

Dalam salah satu naskah “Hikayat Perang Sabil” yang membangkitkan semangat perang di Aceh kepada penjajah juga memiliki struktur yang sama. Dalam buku “Sastra Perang: Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Perang Sabil” karya Teuku Ibrahim Alfian mengutip salah satu naskah hikayat tersebut:

Alhamdulillah khaliqul asyya, dum perkara peuneu-jeued. Rabbi. Arasy keurusi syeuruga nuraka, langèt dönya bumi beurangri. Kömdian seulaweuet saleuem hulön, ateueh Junjóngan panghulèe Nabi. Ateueh waréh sahbat sajan, dum sikeulian Muhajir Anshari.?

AJhamdulillah khaliqul asyya, segala hal ciptaan Rabbi Arasy kursi surga neraka, semua langit dunia dan bumi Kemudian selawat salam hamba, kepada junjungan Penghulu Nabi Kepada waris bersama sahabat, termasuk sekalian Muhajir Anshari

Menurut Ketua PWNU Aceh Teungku Faisal Ali mengatakan, Aceh adalah daerah yang sangat hidup gema shalawat.?

Hari Santri 2018

“Sesudah shalat apa pun dan selesai kegiatan-kegiatan kalau tidak ada shalawat dianggap kurang sempurna karena fadhilah shalawat banyak sekali,” katanya ketika dihubung Hari Santri 2018 dari Jakarta, beberapa waktu lalu, ketika ditanya soal shalawat. ?

Ia menjelaskan, hal itu tidak hanya terjadi di masyarakat, kegiatan resmi pemerintah Aceh “wajib” dimulai sesudah bacaan Al-Qur’an dengan Shalawat Badar. Sesudah itu baru lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Kebiasaan tersebut, menurutnya sejak islam masuk ke Aceh. “Dalam perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah ada yang disebut dengan "Hikayat Perang Sabil" yang isinya ada shalawat. Hikayat itu berisi motivasi untuk membangun semangat melawan penjajah yang dikarang salah seorang ulama Aceh yaitu Tengku Chik Pante Kulu.?

Hari Santri 2018

Ketika ditanya bagaimana sikap warga NU menghadapi orang yang membidahkan shalawat, ia menjawab, warga NU harus tahu argumen-argumen kebenaran shalawat dengan logika dan fakta Islam tempo dulu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Aswaja, AlaNu Hari Santri 2018

Jumat, 22 Desember 2017

Pelajar NU Karanganyar Ziarahi Eyang Samber Nyawa dan KH Chusnan Rosyidi

Karanganyar, Hari Santri 2018 - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Karanganyar mengadakan ziarah ke makam Raden Mas Said atau Eyang Samber Nyawa dan KH Chusnan Rosyidi. ?

Ketua IPPNU Karanganyar Muflichah mengatakan, ziarah itu bermaksud untuk menyambung ruh perjuangan leluhur dengan pelajar NU Karanganyar.

Pelajar NU Karanganyar Ziarahi Eyang Samber Nyawa dan KH Chusnan Rosyidi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Karanganyar Ziarahi Eyang Samber Nyawa dan KH Chusnan Rosyidi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Karanganyar Ziarahi Eyang Samber Nyawa dan KH Chusnan Rosyidi

"Dengan ziarah, ruh perjuangan bisa sambung dan tetap terjaga kekompakan dan semangat dalam belajar, berjuang, dan bertakwa. Walaupun anggota IPNU-IPPNU Karanganyar usianya bervariasi dari 13-27 tahun, tapi tetap kompak," ujarnya pada ziarah yang berlangsung Ahad (12/3) yang diikuti 84 pelajar putra dan putri.

Hari Santri 2018

Muflich juga mengatakan bahwa Eyang Samber Nyawa merupakan salah satu pahlawan nasional yang sangat berjasa, khususnya di tanah Jawa. Ia merupakan keturunan dari kraton Surakarta.

"Kedua Mbah Chusnan Rosyidi, beliau merupakan tokoh pendiri NU di Karanganyar sekaligus pendiri Ponpes Miftahul Ulum, sekaligus salah satu guru dari Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf," tambanya.

Hari Santri 2018

Ia berharap setelah diadakan ziarah itu IPNU dan IPPNU di Karanganyar terus berkembang dan terus aktif dalam menjalankan roda organisasi dengan meneladani para pahlawan dan leluhur yang berjuang untuk negara ini. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pahlawan, Kajian Islam Hari Santri 2018

Rabu, 20 Desember 2017

Untuk Kuatkan Ekonomi Umat, Pesantren Harus Adaptif

Jakarta, Hari Santri 2018. Direktur Jenderal PPMD Kementerian Desa PDTT Erani Ahmad Yustika menjelaskan, sekitar lima puluh tahun yang lalu penyangga utama ekonomi nasional adalah sektor pertanian. Namun seiring dengan perkembangan zaman, sektor pertanian hanya menyumbang sekitar lima belas persen.

“(dulu) Ekonomi pertanian kita menyumbang tujuh puluh persen perekonomian nasional. Sekarang tinggal lima belas persen. Dulu pertanian menyerap tujuh puluh sampai tujuh puluh lima persen tenaga kerja. Sekarang tinggal tiga puluh delapan persen,” kata Erani.

Untuk Kuatkan Ekonomi Umat, Pesantren Harus Adaptif (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Kuatkan Ekonomi Umat, Pesantren Harus Adaptif (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Kuatkan Ekonomi Umat, Pesantren Harus Adaptif

Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam acara Seminar dan Rapat Kerja bertemakan Peran Pesantren Untuk Penguatan Ekonomi Umat yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pesantren Nahdlatul (RMI NU) di Lantai 8 Gedung PBNU Jakarta, Kamis (27/4).?

Saat ini, jelas Erani, ada tiga sektor yang menjadi penyangga perekonomian nasional, yaitu sektor industri, sektor perdagangan, dan sektor pertanian.?

Hari Santri 2018

Terkait dengan perubahan-perubahan tersebut, ia meminta pesantren untuk mempersiapkan diri dan beradaptasi apabila pesantren ingin bisa menjadi agen penguatan ekonomi umat. “Sampai sejauh mana pesantren bisa adaptif terhadap perubahan tersebut,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, ada tiga hal yang seharusnya menjadi perhatian pesantren dalam menguatkan ekonomi umat. Pertama, jumlah pesantren itu sendiri. Baginya, pesantren NU yang jumlahnya dua puluh tiga ribu. Kedua, jumlah santrinya, yaitu sekitar empat juta santri bisa menjadi konsumen berdaya beli tinggi.

“Ini menjadi captive market dan memiliki daya beli tinggi apabila dikelola dengan baik,” ucapnya.

Hari Santri 2018

Ketiga, jaringan peantren. Menurut dia, pesantren itu bukan hanya santrinya saja, pesantren juga memiliki jaringan yang sangat luas seperti keluarga santri, masyarakat sekitar pesantren, hingga hubungan pesantren dengan pesantren lainnya.?

“Jaringan ini menjadi sangat penting (untuk menguatkan ekonomi umat),” katanya.

Untuk menguatkan ekonomi umat, Erani mengusulkan kepada pemangku pesantren untuk merumuskan dan mendisain model lembaga ekonomi seperti apa yang dipilih untuk menjadi lokomotif ekonomi pesantren.?

“Misalnya pesantren iuran untuk membuat bank. Kalau memiliki bank sendiri, itu akan menjadi pendorong ekonomi umat,” tegasnya.

Sebetulnya, imbuh Erany, pesantren memiliki peluang yang sangat besar dalam menguatkan ekonomi umat, tetapi mereka bekrja sendiri-sendiri. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, News Hari Santri 2018

Senin, 18 Desember 2017

Demo, PMII Subang Nilai 21 Anggota DPRD Pembohong

Subang, Hari Santri 2018. Aksi unjuk rasa dari puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mewarnai prosesi pelantikan DPRD Subang, Rabu (3/9). Puluhan massa PMII yang mendapat pengawalan ketat pihak keamanan dengan berorasi di pintu gerbang masuk DPRD.

Demo, PMII Subang Nilai 21 Anggota DPRD Pembohong (Sumber Gambar : Nu Online)
Demo, PMII Subang Nilai 21 Anggota DPRD Pembohong (Sumber Gambar : Nu Online)

Demo, PMII Subang Nilai 21 Anggota DPRD Pembohong

Ketua Pengurus Cabang PMII Subang Saeful Imron mengatakan, aksi tersebut merupakan sikap yang harus disampaikan kepada seluruh anggota DPRD yang dilantik hari ini. Menurutnya, sebanyak 21 orang yang kembali menjabat anggota DPRD sudah melakukan pembohongan karena tidak terbukti memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.

“Untuk itu kami minta ke 29 anggota DPRD yang baru untuk tidak mengikuti jejak para pendahulunya,” tandasnya.

Hari Santri 2018

Ia mendesak agar anggota DPRD Subang yang diambil sumpahnya tersebut harus bisa menjalankan fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan yang berpihak kepada rakyat. “Jangan sampai mereka kembali melakukan pembohongan kepada masyarakat. Jalankan tugasnya sesuai dengan tupoksinya masing-masing,” tegasnya.

Mereka berorasi dengan melakukan aksi teatrikal. Aksi sempat memanas karena massa yang hendak masuk dan bertemu dengan pimpinan DPRD dihadang oleh puluhan aparat keamanan dari Polres Subang.

Hari Santri 2018

Ketegangan mulai terlihat saat massa meluapkan kekecewaannya dengan membakar ban bekas. Belum juga api dinyalakan, pihak keamanan segera merebut ban bekas dan bensin yang siap di bakar tersebut. Tidak berhenti sampai di situ, massa PMII yang sudah terlanjur emosi akhirnya membakar spanduk yang mereka bawa dengan bertuliskan “Selamat Datang Para Pembohong”.

Kericuhan pecah saat salah seorang massa melemparkan bensin kedalam api. Aksi kejar-kejaran pun tak terhindarkan antara aparat dengan mahasiswa PMII tersebut. Tiga diantaranya diamankan pihak kepolisian, yakni Toto Taufik Munajat, Kusnadi dan Saeful Imron. Setelah dilakukan negosiasi, mereka akhirnya dibebaskan.

“Kami datang ke sini dengan damai dan baik-baik, kenapa pak polisi yang tugasnya memberi kenyamanan justru bertindak represif,” ujar salah seorang massa, Subhi Munir yang mengalami pemukulan dan gigitan salah seorang anggota polisi. (Ade Mahmudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Kiai Hari Santri 2018

NU Way Kanan Luncurkan Kartu Komunitas Desa

Way Kanan,Hari Santri 2018. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Way Kanan bekerja sama dengan Indosat Ooredoo Cabang Way Kanan meluncurkan Kartu Komunitas Desa di sekretariat gedung PCNU Way Kanan Rabu (29/6).

Dalam kesempatan tersebut Ketua PCNU Way Kanan KH Nurhuda mengatakan bahwa kemandirian ekonomi warga nahdliyin perlu ditingkatkan dengan berbagai upaya agar kesejahteraan dapat terwujud.

NU Way Kanan Luncurkan Kartu Komunitas Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Way Kanan Luncurkan Kartu Komunitas Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Way Kanan Luncurkan Kartu Komunitas Desa

“Melalui program Kartu Komunitas Desa ini akan banyak membantu warga nahdliyin yang terlibat didalamnya baik sebagai agen maupun sebagai tenaga marketing,” ujarnya.

Hari Santri 2018

Nantinya hasil penjualan atau pun jasa yang dilakukan melalui outlet-outlet, NU mendapatkan royalti atas keuntungan yang didapat. Ini merupakan suatu trobosan nyata untuk warga nu khususnya dan umumnya masyarakat Way Kanan.

Sementara itu bupati Way Kanan H. Raden Adipati Surya mengapresiasi langkah kongret yang dilakukan pengurus NU Way Kanan. Dirinya berharap ke depan ada lagi inovasi yang bisa dikembangkan untuk mensejahterakan warga NU dan masyarakat Way Kanan.

Hari Santri 2018

“Saya akan membuka pintu selebar-lebarnya apabila ada gagasan yang dapat berguna untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Kepala Cabang Indosat Ooredoo Way Kanan H. Ali Murtadho bahwa pihaknya bersama NU Way Kanan meluncurkan Kartu Komunitas Desa, satu akses beragam layanan yang saat ini telah berdiri 1 kantor cabang dan 11 outlet yang tersebar di masing-masing kecamatan.

Kartu Komunitas Desa, satu akses beragam layanan mempunyai program untuk transaksi online berbagai jenis pembayaran, di antaranya pembayaran listrik, transfer, pembayaran listrik,token, PDAM, Telpon, TV berlangganan, BPJS dan penjualan paket data maupun pulsa.

“Keuntungan kerja sama ini yakni untuk nu akan mendapatkan royalti yang dapat digunakan untuk operasional dan kegiatan-kegiatan NU lainnya,” pungkasnya. (Heri Amanudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Quote, Nahdlatul Hari Santri 2018

Minggu, 10 Desember 2017

Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi

Pada 21 Juni 2017 Muhammad bin Salman diangkat menjadi putera mahkota.Usianya masih sangat muda, 32 tahun. Ini menjadi sejarah baru bagi Negara Kerajaan Arab Saudi. Biasanya posisi putera mahkota diisi oleh pangeran yang sudah berusia senja. 

Setelah menjabat sebagai putera mahkota, Muhammad bin Salman langsung ‘tancap gas.’ Ia membuat kebijakan-kebijakan yang reformis, radikal, dan ‘melawan arus’ di dalam segala sektor. Mulai dari birokrasi hingga paham keagamaan. Yang terbaru dan membuat heboh dunia adalah ditangkapnya sebelas pangeran, empat menteri aktif, dan puluhan mantan menteri pada Sabtu lalu (4/11). 

Sebelumnya, Muhammad bin Salman juga menegaskan akan mengembangkan Islam moderat di Arab Saudi, memperbolehkan wanita untuk menyetir mobil sendiri, dan memperbolehkan wanita untuk menonton pertandingan sepak bola dan masuk bioskop.

Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi

Di sektor birokrasi, Muhammad bin Salman juga berupaya untuk menciptakan sistem good government. Muhammad bin Salman yang juga Ketua Nazaha, lembaga anti korupsi Arab Saudi, memerintahkan untuk menangkap puluhan elit Arab Saudi tersebut dengan tuduhan korupsi. Ini disinyalir sebagai upaya Muhammad bin Salman untuk memberantas praktik-praktik korupsi yang terjadi di pemerintahan Arab Saudi yang selama ini memang tidak terjamah dan menjadikan hukum di atas segalanya. 

Hal itu dilakukan untuk menyukseskan Visi Saudi 2030 menjadi agenda besar Arab Saudi. Target dari ‘proyek’ ini diantaranya melepaskan ketergantungan pada minyak tahun 2020, meningkatkan ekspor non-minyak 50 persen, menurunkan pengangguran dari 11,6 persen menjadi 7 persen, meningkatkan kontribusi sektor swasta dari 40 persen menjadi 65 persen, dan meningkatkan partisipasi wanita di ruang-ruang publik dari 20 persen menjadi 35 persen.

Untuk mengetahui tentang apa yang sedang terjadi dan direncanakan oleh Arab Saudi lebih mendalam, Jurnalis Hari Santri 2018 A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI) Abdul Mutaali. Berikut petikan wawancaranya:

Hari Santri 2018

Arab Saudi ingin kembali ke Islam moderat sebagaimana yang disampaikan oleh Putera Mahkota Muhammad bin Salman di Riyadh beberapa waktu lalu. Bagaimana tanggapan anda soal ini?

Pidato Muhammad bin Salman di Riyadh beberapa waktu lalu bahwasanya Saudi tidak akan memberikan tempat bagi gerakan ekstremis, radikalis, dan teroris. Saudi hanya akan memberikan tempat bagi yang moderat. 

Saya kira pidato ini bukan hanya keinginan Muhammad bin Salman, tetapi juga dikaitkan dengan Visi Saudi 2030. Kata Muhammmad bin Salam, selama ini hukum Saudi hanya tiga yaitu Al-Qur’an, hadis, dan minyak. Dengan misi 2030, Saudi dari negara minyak menjadi negara industri. Industri itu terkait dengan investasi dan adanya inverstor. Investor mau ke Arab Saudi kalau ada jaminan keamanan, toleransi, dan keberagaman. Oleh karena itu, ada reformasi paham keagamaan.

Ketika mendengar pidatonya Muhammad bin Salman, kelompok Wahabisme agak cukup kaget. Tapi kalau kita merujuk guru-guru utama Wahabi seperti Bin Baz dan Utsaimin di akhir hayatnya cenderung agak moderat. Mereka menerima dzikir berjamaah, tidak mudah menyalahkan yang lain, diakomodasi putera Sayyid Maliki menjadi dewan penasehat raja. Artinya, ada pakem keagamaan yang sudah mulai mencair. 

Hari Santri 2018

Tetapi ada ulama moderat Saudi, Salman Al-Audah dan kelompoknya, yang juga ditangkap karena men-twit agar masyarakat Saudi dan Qatar mendapatkan perdamaian. Jadi sebetulnya, Islam moderat seperti apa yang hendak diwujudkan sang putera mahkota?

Saya kira tujuannya dua yaitu bukan hanya membangun image bahwa Saudi bukan eksportir ekstremisme, radikalisme, dan terorisme, tetapi juga membangun Visi Saudi 2030. Dia cari orang, dia bangun lembaga keulamaan yang kondusif dan yang ramah lingkungan dengan visi Saudi.  

Jadi bukan hanya ulama yang moderat, tetapi juga ulama yang paham dengan Visi Saudi 2030. Dalam kerangka itu, itulah Islam yang hendak dibangun. Islam yang maju dan modern. 250 ribu hektar NEOM, megaproyek Saudi yang dibangun mulai Jedah hingga Riyadh bukan hanya diperlukan kekuatan finansial, tetapi juga kelegaan hati bagaimana investasi industri mungkin tidak idealis islami seperti sekarang seperti laki dan perempuan dipisah. Akan terjadi dinamisasi keagamaan yang cukup cair. Jika ada ulama moderat yang dituduh, saya kira bukan karena radikalnya tetapi ulama tersebut belum bisa berakselerasi dengan visi Saudi 2030.

Apakah bisa dikatakan kalau bendungan sudah mulai Wahabi jebol dengan ini?

Kalau dibilang jebol sih tidak, tetapi sudah banyak bolong-bolong. Intinya adalah moderat dan modern. Ini yang sedang dibangun Muhammad bin Salman. 

Apa saja yang sudah dilakukan Muhammad bin Salman?

Sampai saat ini, Muhammad bin Salman sudah membuat lima karya. Pertama, agresi militer ke Yaman. Kedua, penggantian kalender dari Hijriyah ke Masehi. Ulama Saudi marah, lalu bisa dipahamkan. Kenapa? karena kalender Hijriyah itu waktunya lebih pendek. Artinya karyawan lebih cepat mendapat gaji sedangkan kondisi ekonomi lagi kronis. Ketiga, pemutusan diplomatik dengan Qatar. Keempat, wanita dibolehkan mengemudi mobil. Kelima, sebagai ketua lembaga anti korupsi Muhammad bin Salman menangkap sebelas pangeran, empat menteri aktif, dan puluhan mantan menteri. 

Dari sudut penindakan pemberantasan korupsi, ini adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa uang kerajaan dan uang rakyat itu beda-beda tipis. Tidak ada peraturan yang secara jelas mengatur segregasi antara dua sistem keuangan itu sehingga para pangeran memiliki interpretasi tersendiri soal keuangan kerajaan.

Namun, kenapa ‘pemisahan sistem keuangan’ baru dilakukan saat ini?

Ekonomi Saudi sedang sangat kronis. Jadi diperlukan ketentuan dan tata aturan yang jelas. Ini uang negara, ini uang rakyat. Ini yang boleh digunakan, ini yang tidak. Pertama, Muhammad bin Salman ingin menerapkan good government. Karena untuk menjadi industri, maka diperlukan tata kelola yang baik.  

Kedua, selama ini pangeran berada di atas hukum. Sekarang, semua sama di mata hukum. Muhammad bin Salam memberikan pesan bahwa semuanya harus tunduk kepada hukum. Karena untuk menjadi industri, maka panglimanya adalah hukum bukan keluarga. 

Apakah anda melihat bahwa dibalik penangkapan elit Saudi oleh Muhammad bin Salam ada muatan politisnya? Dan bagaimana dinamika politik Saudi ke depan?

Saya memandang memang agak sulit gebrakan Muhammad bin Salman sebagai ketua lembaga anti korupsi terlepas dari motif politis. Dimana motif politisnya. Pertama, biasanya raja-raja Saudi itu diangkat pada usia sunset atau senja. Sekarang, putera mahkota usianya dua puluh tiga tahun. Akan terjadi gejolak yang luar biasa di keluarga kerajaan. 

Dia ingin unjuk kekuatan di hadapan keluarganya, masyarakat Saudi, dan dunia internasional. Muhammad bin Salman ingin berkata bahwa jangan lihat usia saya. Saya bisa menangkap Alwaleed bin Talal dan Mit’ab bin Abdullah. Keduanya bukan orang sembarangan. Alwaleed adalah orang terkaya di kerajaan. Sedangkan, Mit’ab adalah ketua garda nasional. Kalau di Indonesia, Mit’ab itu Panglima TNI yang merangkap Menhan. Artinya, kapan pun dia ingin melakukan kudeta itu mudah.   

Kedua, jika Raja Salman mangkat, Muhammad bin Salman akan jadi raja. Namun, di saat yang bersamaan pamannya masih ada. Saudi akan masuk sejarah baru, bukan anak yang memimpin tetapi cucu. Ini akan melahirkan dinamika yang luar biasa. 

Ketika, terjadi de-Abdullahi-sasi. Seluruh keturuan Abdullah dihabisi. Ada tiga orang yaitu Mit’ab, Turki, dan Iyas bin Abdullah. Abdullah menjadi bendera koalisi keluarga non-Sudairi. Biasanya yang menjadi raja adalah anak-anak yang berasal dari ibu Sudairi. Abdullah itu bukan berasal dari Sudairi. Abdullah menjadi tempat berkumpulnya koalisi non-Sudairi. 

Dengan demikian, Muhammad bin Salman berupaya untuk mengamankan posisi.

Saya baru membaca berita yang dikeluarkan oleh kantor berita Rusia bahwa Mit’ab bin Abdullah akan melakukan kudeta. Mungkin isu yang dijual ke publik adalah tindak pidana korupsi tetapi apa yang terjadi di internal adalah kudeta. 

Dalam sistem monarki, kudeta itu sesuatu yang lazim. Karena oposisi itu tidak mungkin karena tidak memiliki ruang. Jadi musuh terbesar seorang raja adalah keluarganya. Mungkin yang paling aman dijual keluar adalah tindak pidana korupsi.

Lalu, mengapa itu dilakukan?

Langah politis selanjutnya adalah 70 persen warga Saudi adalah generasi milenial. 50 persen dari generasi milenial tersebut adalah mahasiswa magister dan doktoral di Eropa dan Amerika jurusan filsafat. Tahun ini mereka akan pulang. Sedangkan di saat yang sama, kondisi ekonomi Saudi sedang kronis. Namanya filosof; kalau tidak bisa memberi kami makan, biar kami yang jadi raja.  Maka dari itu, diperlukan sosok pemimpin yang berani dan muda. Jadi langkah politis ini adalah gebrakan yang luar biasa.  

Soal waktu penangkapan, mengapa itu dilakukan pada 4 November? Apakah ada pesan khusus atau seperti apa?

Ada pengaruhnya dalam geopolitik internasional. Mengapa pilihan waktunya Sabtu 4 November, kenapa bukan Jumat atau Minggu saja. Penangkapan sebelas pangeran, empat menteri, dan puluhan mantan menteri pada Sabtu malam itu bersamaan ketika Iran sedang merayakan tiga puluh delapan tahun pengambil alihan Kedubes Amerika di Iran. 

Artinya, berbicara Timur Tengah itu berbicara soal pengaruh. Siapa yang paling berpengaruh. Tahun delapan puluhan perang Irak-Iran berbicara siapa yang paling berpengaruh. Tahun sembilan puluhan ada perang Teluk. Siapa yang paling berpengaruh Arab Saudi Kuwait atau Irak. Saat ini, Timur Tengah bisa dikata yang berpengaruh itu tiga negara saja yaitu Iran dengan sekutunya, Arab Saudi dengan sekutunya, Qatar dan Turki. 

Jadi penangkapan 4 November itu sudah hasil istikhoroh. Kenapa 4 November? Karena 4 November 1979 terjadi Revolusi Islam Iran dan merebut Kedubes Amerika di Teheran. Pada saat yang sama, Saudi melakukan reformasi birokrasi radikal. Dunia internasional, khususnya dunia Islam sedang dijamu; mau lihat yang mana Arab Saudi atau Iran. Di pemberitaan, Saudi yang paling ramai. Dalam hal ini Saudi berhasil membuat media internasional memberitakannya daripada Iran.

Apakah yang dilakukan Saudi juga ada hubungannya dengan mundurnya Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri, yang terjadi pada 4 November?

Geopolitik selanjutnya adalah mundurnya Hariri. Yang menarik, setelah mundur Hariri berada di Riyadh. Kita tahu Lebanon memiliki sistem kenegaraan yang cukup unik. Perdana Menteri harus dari Islam, Presidennya Kristen, Ketua DPR nya harus dari Syiah. Perdana menteri lebih banyak mengambil ruang di Lebanon. Dan sulit ditepis bahwa Hariri adalah kawan dekat atau bisa dibilang muridnya Saudi. 

Dalam kondisi ini, tanpa Saudi di Lebanon coba lihat. Terjadi disintegritas dan instabilitas. Jadi sekali mendayung, tiga pulau terlampaui. Satu tindak pidana korupsi, kedua Lebanon, dan yang ketiga Iran. 

Ada tudingan bahwa lembaga anti korupsi, Nazaha, hanya dijadikan alat untuk menghabisi orang yang dianggap membahayakan kekuasaan Muhammad bin Salam dan Raja Salman?

Memang sulit ditepis kalau ini langkah politis. Namun untuk menciptakan good government maka harus ada tata kelola yang modern terkait keuangan. Penangkapan sebelas pangeran dan seterusnya itu dilakukan beberapa bulan setelah Saudi menandatangi kucuran dana dari IMF. Cukup ironis, negara minyak dengan cadangan 220 miliar barel sampai pinjam uang ke IMF, lemabag ribawi terbesar di dunia.

Artinya, Arab Saudi dengan rezim Salman tidak bisa mengendalikan gurita bisnis para pangeran. Kalau saja terjadi persuasi atau komunikasi yang baik antara klan Salman dengan pangeran-pangeran yang kaya itu, saya kira Saudi tidak perlu pinjam uang ke IMF. 

Saudi mencanangkan Visi 2030. Menurut anda, apakah ini akan berhasil? Dan apa saja hambatan dan tantangannya?

Saya kira dalam pertarungan ini Muhammad bin Salman akan memenangkan game ini dengan syarat dia melakukan persuasi kepada lembaga ulama. Karena ulama adalah pilar kedua di Arab Saudi. Kita tahu Arab Saudi bisa menjadi negara merdeka itu ketika berkoalisi dengan ulama.

Namun, ulama yang seperti apa? lembaga seperti apa? artinya harus ada reformasi di tingkat ulama. Islam yang lebih inklusif, Islam yang modern, Islam yang paham statistika. Kalau saya mengutip Muhammad bin Salman: Saudi itu bukan sekedar ayat, tapi implementasi ayat, dan strategi ayat. Karena Saudi hanya berbicara ini dalilnya, bagaimana implementasi dalil itu. Itu yang penting. 

Reformasi radikal, megaproyek NEOM, dan Visi Saudi 2030 akan berhasil dengan syarat. Pertama, reformasi pemikiran di lembaga ulama Arab Saudi. Kedua, good government. Semua masyarakat, khususnya keluarga kerajaan tidak ada yang kebal hukum. Ketiga, masih menjalin hubungan intensif dengan Paman Sam. 

Tetapi juga ada masalah dengan ulama, kalau Muhammad bin Salman sampai gagal melakukan komunikasi dengan ulama, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi koalisi yang dahsyat antara kubu non-Sudairi dengan lembaga ulama. Kalau ini terjadi, Saudi hanya sejarah saja.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ahlussunnah, Makam, Kajian Islam Hari Santri 2018

Jumat, 24 November 2017

Kiai Maruf Amin: Boleh Beda Madzhab, Agama, dan Partai, Tapi NKRI Sudah Final

Tanggamus, Hari Santri 2018 - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin mengatakan bahwa perbedaan adalah fitrah. Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, kata Kiai Maruf Amin, setiap warga harus saling menghargai di dalam perbedaan.

Hal ini disampaikan KH Maruf Amin yang juga Ketua Umum MUI saat memberikan taushiyah pada puncak kegiatan Hari Santri Nasional 2017 Kabupaten Tanggamus di Taman Terbuka Hijau Kota Agung, Ahad (5/11).

Kiai Maruf Amin: Boleh Beda Madzhab, Agama, dan Partai, Tapi NKRI Sudah Final (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin: Boleh Beda Madzhab, Agama, dan Partai, Tapi NKRI Sudah Final (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin: Boleh Beda Madzhab, Agama, dan Partai, Tapi NKRI Sudah Final

"Kita harus menghargai setiap perbedaan baik itu beda madzhab, beda paham, dan beda partai sekalipun,” kata Kiai Maruf.

Ia mengatakan bahwa di Indonesia diskusi soal hubungan beragama dan bernegara sudah selesai. “Kita tidak boleh lagi menjadi kelompok yang intoleran dan kelompok yang menginginkan negara di dalam negara," jelasnya.

Hari Santri 2018

Ia menegaskan pula bahwa Indonesia sudah memiliki ideologi negara yang tepat di tengah kemajemukan yang ada di dalamnya.

"Indonesia adalah darus shulhi, negara yang dibangun atas kesepakatan anak bangsa. NKRI bagi NU sudah final," tegas Kiai Maruf. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, AlaNu Hari Santri 2018

Senin, 06 November 2017

Berkunjung ke PBNU, Dubes Korea Ingin Tahu Islam Indonesia

Jakarta, Hari Santri 2018. Selain Duta Besar India Gurjit Singh, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Selasa (4/6) kemarin juga menerima kunjungan Duta Besar Korea Selatan Kim Young-sun di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. 

Berkunjung ke PBNU, Dubes Korea Ingin Tahu Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkunjung ke PBNU, Dubes Korea Ingin Tahu Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkunjung ke PBNU, Dubes Korea Ingin Tahu Islam Indonesia

Kim Young-sun bersama rombongan disambut langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra dan beberapa staf PBNU urusan kerjasama luar negeri.

“Dubes Korea baru pertama kali berkunjung ke PBNU. Mereka ingin tahu tentang NU khususnya, dan tentang Islam Indonesia secara umum. Ia menanyakan, kenapa Islam di Indonesia yang mayoritas bisa hidup berdampingan dengan non muslim dengan baik,” kata KH Said Aqil Siroj kepada Hari Santri 2018 usai pertemuan.

Hari Santri 2018

Kepada Kim Young-sun, ia menjelaskan, karakter bangsa Indonesia semenjak awal memang saling menghargai berbagai keyakinan dan kepercayaan masyarakat. Karakter ini dikembangkan oleh NU dengan prinsip tasamuh, atau toleransi.

“Saya jelaskan semua, kenapa Islam Indonesia bisa berdampingan dengan non muslim. Ya walaupun di sana-sini masih ada beberapa kasus, tapi jika dibandingkan dengan Timur Tengah, Indonesia masih lebih baik,” kata Kang Said.

Hari Santri 2018

Suasana kunjungan itu berlangsung akrab dan penuh canda tawa, terutama ketika Kim Young-sun dicecar banyak pertanyaan oleh PBNU tentang Ginseng Korea.

Dalam kunjungan itu Dubes Korea menawarkan kerjasama dengan PBNU dalam pendirian rumah sakit di Indonesia. Dubes juga mengundang secara khusus PBNU untuk datang ke kantor kedutaan dan berkunjung ke negeri ginseng.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Sholawat, Nahdlatul Hari Santri 2018

Jumat, 27 Oktober 2017

Perppu Ormas dan Kegaduhan yang Tak Perlu

Oleh Roziqin

Di antara berbagai tema yang diperdebatkan di masyarakat saat ini, yang mengundang diskusi serius dari masyarakat, ulama, LSM, para pakar hingga para pejabat pemerintah, adalah terkait pemberlakuan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 (Perppu Ormas), yang merupakan perubahan dari UU Ormas yang lama, yaitu UU 17 Nomor 17 Tahun 2013. Hingga artikel ini ditulis, setidaknya terdapat enam permohonan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) atas Perppu tersebut. Menurut hemat saya, segala kegaduhan atas pemberlakuan Perppu merupakan hal yang tidak perlu. Presiden memiliki alasan untuk menetapkan Perppu dimaksud atas dasar alasan sebagai berikut.

Perppu Ormas dan Kegaduhan yang Tak Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)
Perppu Ormas dan Kegaduhan yang Tak Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)

Perppu Ormas dan Kegaduhan yang Tak Perlu

Pertama, Perppu 2/2017 tak lebih perluasan dari Tap MPR Nomor XXV Tahun 1966 (Tap MPR), KUHP Pasal 107, dan UU Ormas. Berdasarkan Tap MPR, setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan faham atau ajaran tersebut, dilarang. Bahkan Tap MPR tersebut dikuatkan dengan Perubahan KUHP Pasal 107. Dahulu, Tap MPR tersebut ingin dicabut oleh Gus Dur saat beliau jadi presiden, namun ditentang sebagian besar kalangan. Bila kita memaknai Komunisme/Marxisme Leninisme sebagai ajaran yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, maka wajar saja bila Pemerintah melakukan tindakan yang tegas terhadap segala tindakan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Termasuk bila hal itu dilakukan ormas, yaitu dengan membubarkannya, dan melarang segala bentuk penyebarannya.

Hari Santri 2018

Penetapan Perppu dapat dianggap sebagai langkah antifipatif dari Pemerintah atas ancaman terhadap NKRI dan kehidupan berbangsa, meski sebenarnya Pemerintah telah kecolongan dengan berkembangnya ormas yang anti-NKRI. Sebagai langkah antisipatif, tentu penetapan Perppu tak harus menunggu negara hancur terlebih dahulu. Toh saat ini, suasana saling benci, saling curiga, juga sudah merebak. Wibawa Pemerintah pun sudah sering dilecehkan oleh sebagian kalangan.

Kedua, penetapan Perppu adalah kewenangan konstitusional Presiden berdasarkan Pasal 22 UUD 1945: Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan Perppu. Pihak yang menuduh bahwa Presiden akan diktator dengan mengeluarkan Perppu, sama saja menafikan kewenangan konstitusional Presiden. Atas penetapan Perppu tersebut, toh Presiden masih bisa diawasi oleh DPR dan MK. Keputusan Pemerintah juga bisa digugat melalui PTUN. Artinya, mekanisme check and balances masih berlaku, dan syarat negara hukum juga masih terpenuhi , yang menghilangkan kemungkinan Presiden menjadi diktator.

Hari Santri 2018

Menanyakan dasar penetapan Perppu dengan alasan tidak ada hal yang membahayakan NKRI, menunjukkan kurangnya pemahaman mengenai praktik ketatanegaraan. Selama ini penetapan Perppu juga tidak menunjukkan adanya keadaan bahaya. Bahkan sekedar penangguhan berlakunya UU tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pun bisa dilakukan dengan Perppu.? Ketentuan mengenai pilkada langsung maupun Pelaksana Tugas KPK juga bisa melalui Perppu, dan masih banyak contoh lainnya. Hal ini? menunjukkan adanya konvensi ketatanegaraan, bahwa kegentingan yang memaksa dapat dimaknai sebagai keadaan mendesak yang perlu diatur dengan peraturan setingkat undang-undang, bukan keadaan bahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 UUD 1945. Benar bahwa penetapan Perppu menjadi atas berdasar subyektifitas Presiden, namun hal itu konstitusional. Subyektifitas Presiden akan diuji oleh DPR sehingga sah secara hukum.

Ketiga, masih ada upaya membela diri dari ormas yang akan dibubarkan. Ormas yang melanggar Perppu tidak serta merta dibubarkan , tetapi diberi peringatan tertulis terlebih dahulu, dan bila masih melakukan tindakan yang sama, bisa dilakukan penghentian kegiatan. Pencabutan surat keterangan terdaftar atau pencabutan status badan hukum merupakan langkah terakhir setelah mereka diberi kesempatan membela diri. Pembelaan diri juga dapat dilakukan saat proses pidana melalui lembaga peradilan.

Mudahnya membuat ormas, menjadikan jumlah ormas berkembang pesat pascareformasi. Terlebih, dimungkinkannya masyarakat untuk mendirikan ormas tidak berbadan hukum. Per Akhir 2016 saja menurut Mendagri terdapat 254.633 ormas. Itu belum memperhitungkan ormas yang tidak terdaftar. Menurut Romli Atmasasmita, jika dengan UU Ormas yang lama, dibutuhkan waktu kurang lebih 458 hari untuk membubarkan ormas. Mengharuskan pembubaran ormas melalui pengadilan, akan menyita waktu Pemerintah sehingga melupakan tugas lainnya.

Keempat, norma-norma yang diatur dalam Perppu, pada dasarnya sama dengan norma UU Ormas, kecuali terkait pembubaran ormas. Bahkan UU Ormas yang lama tersebut setidaknya pernah dilakukan dua kali pengujian di MK, namun hanya dikabulkan sebagian oleh MK untuk hal-hal yang bukan substantif. Dengan mendasarkan pada Pasal 28J UUD 1945, MK dalam Putusan Nomor 82/PUU-XI/2013, atas Pengujian UUU Ormas yang lama, menyatakan dengan tegas bahwa “kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat adalah HAM yang dijamin konstitusi, namun kebebasan tersebut dapat dibatasi oleh negara melalui ketentuan Undang-Undang dalam batas-batas tertentu yang diperkenankan oleh konstitusi, yaitu dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Artinya, kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat bukanlah kebebasan tanpa batas.

Ormas, bisa saja dibatasi untuk tujuan yang lebih luas, termasuk di dalamnya menjaga keutuhan NKRI yang bentuknya sudah final dalam UUD 1945.

Semoga segala kegaduhan ini segera diakhiri!

Penulis adalah alumni Lemhannas Inter University Network; Dosen pada Prodi Hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta.



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Pendidikan Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock