Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Doa Basuh Kaki Kiri saat Wudhu

Kaki kiri adalah anggota tubuh terakhir yang dibasuh saat berwudhu. Meratakan air ke seluruh bagiannya minimal dari ujung kuku hingga atas mata kaki merupakan sebuah keharusan. Doa berikut ini dianjurkan dibaca saat membasuh kaki kiri saat berwudhu.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Basuh Kaki Kiri saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Basuh Kaki Kiri saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Basuh Kaki Kiri saat Wudhu

Allâhumma innî a‘ûdzubika an tazilla qadamayya ‘alas shirâti yauma tazillu aqdâmul munâfiqîna fin nâri.

Hari Santri 2018

Artinya, “Wahai Tuhanku, aku berlindung kepadamu dari jatuhnya dua kakiku di atas shirath pada hari berjatuhan kaki semua orang-orang munafiq di dalam neraka,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Lomba Hari Santri 2018

Selasa, 13 Februari 2018

Menag Akui Anggaran Pendidikan Masih Rendah

Jakarta, NU.Online
Menteri Agama RI Prof DR KH Sayyid
Agil Husein Almunawar MA mengakui kualitas pendidikan Indonesia jauh tertinggal dengan negara-negara lain di dunia akibat rendahnya anggaran pendidikan yang dialokasikan pemerintah.

"Mana bisa dengan anggaran hanya Rp 600 miliar harus dipakai untuk pembangunan pendidikan di seluruh Indonesia, lalu yang dibangun itu apanya, karena itu jangan salahkan bila kita tertinggal terus dalam pendidikan," katanya di Pesantren Riyadush Sholihin, Gebang, Jember, Kamis malam.

Kehadiran Menag di Jember itu untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana pendidikan terpadu tingkat madarasah dan strata I oleh Yayasan Riyadush Sholihin kabupaten Jember dengan anggaran sekitar Rp4 miliar.

Dalam acara yang sekaligus memperingati 25 tahun Yayasan Riyadush Sholihin di pelataran pondok pesantren itu, Menag menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal, padahal bangsa Indonesia sudah sekian tahun merdeka, namun kepedulian terhadap pendidikan sangat rendah.

Untuk itu, katanya, diperlukan pembenahan secara bertahap yang tentunya disertai dengan peningkatkan anggaran pendidikan

"Alhamdullilah, pemerintah sekarang telah menaikkan anggaran pendidikan dari Rp5 triliun menjadi Rp11 triliun, karena itu anggaran untuk sekolah yang hanya Rp600 miliar diharapkan akan meningkat pula," katanya di hadapan ribuan siswa, ustadz, dan masyarakat sekitar pesantren.

Menurut dia, jika sistem diterapkan pada tahun ini banyak siswa-siswi tidak lulus dalam ujian akhir, maka hal itu juga merupakan bagian dari perlunya peningkatan kualitas pendidikan, sehingga tidak ada lagi istilah "belajar dan tidak belajar sama saja" karena ada jaminan lulus.

"Hal itu akan diterapkan secara bertahap, sehingga tidak ada lagi ’mark up’ nilai, karena rujukannya jelas yakni kualitas," katanya.

Dia memaparkan dari 174 negara di dunia, bangsa Indonesia berada pada urutan ke-112 di bawah Vietnam satu poin yakni 111, sedang Malaysia urutan 59, dan Singapura bertengger di urutan 26.

"Lalu pertanyaannya kapan kita berada di bawah urutan 100," katanya.Oleh karena itu, diharapkan secara bertahap pendidikan itu dilakukan pembenahan, sehingga bila anggaran pendidikan itu sudah 20 persen APBN, maka diharapkan dalam waktu yang tidak lama akan dapat mengejar ketertinggalan itu.

"Jangan seperti sekarang ini, jumlah lulusan doktor Indonesia berada di bawah Malaysia yakni per 1 juta penduduk hanya 65 orang, sedang Malaysia per 1 juta penduduk 85 orang. Gelar doktor terbanyak di negara Israel yaitu per 1 juta penduduk terdapat 16 ribu orang doktor," katanya. (Ant/Cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Kajian Sunnah, Pahlawan Hari Santri 2018

Menag Akui Anggaran Pendidikan Masih Rendah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Akui Anggaran Pendidikan Masih Rendah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Akui Anggaran Pendidikan Masih Rendah

Senin, 12 Februari 2018

Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin

Jakarta, Hari Santri 2018 



Saya kurang suka mengajukan berkas proposal kepada pihak mana pun. Sebaliknya, tak layak juga diserahi proposal dalam bentuk apa pun, resmi maupun sembarang. Kecuali proposal untuk ngopi bareng. Tak masalah itu. Sukanya bukan main, bahkan oleh pihak sembarang sekalipun. 

Kantor redaksi Hari Santri 2018, Sabtu siang, (9/12), didatangi sekelompok anak muda. Mereka santri-santri yang terhubung melalui medsos. Apa pun latar belakang mereka, ketika mengajukan proposal, saya jadi malas menemui. Namun, tak ada lagi jalan menghindar, kecuali menghadapinya. Paling tidak sekadar mempersilakan ngopi yang selalu tersedia di kantor redaksi sepanjang tahun.  

Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin

Saya pun membaca proposal itu. Tidak selesai memang. Mana ada yang selesai membaca sebuah proposal, bukan? Dari judul proposal itu, saya kaget bukan main. Ternyata mereka mengajukan permintaan buku untuk perpustakaan di daerah-daerah.  

Buku! 

Saya lalu mengubah mimik muka, lebih bersahabat dari sebelumnya. Orang yang berkaitan dengan buku harus disahabati dalam segala musim dan tempat. Kecuali yang berbakat mencoleng buku.  

Hari Santri 2018

Saya tak menerruskan membaca proposal. Lebih baik ngobrol saja, apa dan bagaimana. Dari A sampai Z saya kuliti perihal maksudnya itu.   

Hari Santri 2018

Rupanya mereka hendak memfasilitasi anak-anak di kampung untuk membaca. Tak hanya di satu tempat, tapi mulai Banyuwangi, Gresik, Semarang, Brebes, hingga Tulang Bawang (Lampung), dan Cileungsi. Permintaan dari tempat-tempat itu setelah mendapat kabar tentang perpustakaan Pojok Baca Nahdliyin melalui halaman Facebook. Di situ   

Saat ini di Brebes saja telah ada empat tempat. Biasanya perpustakaan itu  di rumah atau di mushala. Bahkan di Brebes, salah seorang Rais Syuriyah tingkat Ranting akan membangunkan saung untuk perpustakaan. 

“Ini adalah upaya supaya warga NU membaca,” kata Arif Budiman Mahdi, inisiator perpustakaan itu. 

Pria kelahiran Banyuwangi yang tinggal di Jembrana (Bali) ini berharap, jika anak-anak NU membaca, terutama amaliyah yang selama ini dilakukan warga NU, mereka akan mampu menjawab kaum yang membid’ahsesatkan.      

Tiba-tiba saya ingat KH Ali Yafie, anregurutta sepuh kita yang alim. Dikenal faqih dalam bidang agama. Tahun ini tiba di usia 90 tahun dia. Lipat tiga dari usia saya. 

Tidak penting sebetulnya soal usia berapa pun jumlahnya. Namun, menjadi penting ketika dikaitkan dengan membaca buku. Ya, kiai asal Sulawesi Selatan itu tiap hari masih membaca selama satu jam dua. Dia selalu mendapat bacaan baru dari anak-anaknya yang gemar membaca juga.  

Mengingat dia pernah Ketua Umum MUI Pusat dan Rais ‘Aam PBNU, apakah bacaannya hanya kitab kuning dan Al-Qur’an? Itu jelas masih dibaca rutin. 

Tidak, kawan. Dia membaca buku apa saja. Termasuk novel dan cerita silat Kho Ping Hoo. (Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Kajian Sunnah Hari Santri 2018

Kamis, 08 Februari 2018

MAUWH Tambakberas Beri Kesempatan Studi ke Cina

Jombang, Hari Santri 2018. Banyak peluang melanjutkan studi bagi alumni Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbullah (MAUWH Tambakberas Jombang. Tidak semata ke sejumlah perguruan tinggi di Tanah Air, juga ke berbagai negara, termasuk Cina. 

MAUWH Tambakberas Beri Kesempatan Studi ke Cina (Sumber Gambar : Nu Online)
MAUWH Tambakberas Beri Kesempatan Studi ke Cina (Sumber Gambar : Nu Online)

MAUWH Tambakberas Beri Kesempatan Studi ke Cina

Seperti pada awal bulan lalu, madrasah ini mengadakan sosialisasi studi ke Cina oleh Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITC). Kegiatan yang berlangsung di aula utama madrasah tersebut diikuti seluruh siswa. Program ITC membantu pelajar yang berkeinginan belajar ke Cina dan memberikan peluang dengan jalur mandiri maupun beasiswa.

“Hadits Nabi mengatakan tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Ini sesuai dengan prinsip MAUWH yang mendukung siswanya melanjutkan studi sampai ke luar negeri,” kata Miftakhul Arif, Selasa (9/10). Wakil Kepala bagian Kurikulum MAUWH ini mengemukakan bahwa dengan dipasangnya 10 bendera dari beberapa negara di halaman madrasah menunjukkan bahwa kiprah alumni madrasah ini demikian membanggakan. 

Taajuddin Muslim dari ITC menyampaikan bagaimana agar dapat melanjutkan studi ke Cina baik melalui jalur beasiswa maupun mandiri. Ia memaparkan rincian biaya dari mulai pendaftaran hingga biaya hidup di Cina dengan menawarkan berbagai kampus dan jurusan yang tersedia. Sejumlah universitas tersebut antara lain Universitas Shoufu Taiwan, Beijing Capital University, Capital Medical University, Yangtze University, Zheijing University, Chansha University.

Hari Santri 2018

Tidak hanya menceritakan tentang dunia perkuliahanan, Taajuddin Muslim juga menyampaikan bahwa mahasiswa yang belajar di Cina bisa kuliah sambil bekerja dengan penghasilan yang cukup tinggi. Hal tersebut karena banyaknya peluang pekerjaan yang ada di negeri tirai bambu tersebut. “Tidak sedikit mahasiswa yang kuliah sambil bekerja mampu membantu orang tua mereka di kampung halaman,” tuturnya saat presentasi.

Usai memberikan penjelasan, materi dilanjutkan dengan membuka sesi tanya jawab dengan para siswa dan siswi. Mereka terlihat demikian antusias mengikuti sosialisasi yang ditunjukkan dengan beberapa pertanyaan yang diajukan kepada narasumber. 

Kegiatan diakhiri dengan dibagikanya sejumlah brosur universitas di Cina yang diberikan kepada siswa dan siswi MAUWH. (Ibnu Nawawi)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Pahlawan, AlaNu Hari Santri 2018

Senin, 05 Februari 2018

Merangkai Diaspora NU Internasional

Sejak berdiri pada 1926, NU telah memiliki visi internasional. Perjalanan Kiai Wahab Chasbullah dalam rangka Komite Hijaz yang memperjuangkan kebebasan bermazhab yang dianut oleh umat Islam dari berbagai belahan dunia menunjukkan pandangan global NU. Kini, jejaring NU pun semakin meluas ke pojok-pojok dunia yang dulu namanya saja tidak dikenal.?

Dalam berbagai kesempatan, NU juga mengadakan konferensi internasional yang dihadiri oleh para ulama dari berbagai negara. Dalam forum tersebut, dibicarakan permasalahan yang dihadapi umat Islam secara umum. Banyak persoalan umat yang membutuhkan upaya bersama untuk pemecahannya. Salah satunya adalah kasus Palestina yang bahkan hingga kinipun belum ditemukan solusinya. Karena itu, upaya kerjasama yang lebih erat menjadi semakin terasa urgensinya.

Merangkai Diaspora NU Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Merangkai Diaspora NU Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Merangkai Diaspora NU Internasional

Keberadaan warga NU di berbagai negara juga menunjang internasionalisasi NU. Diaspora warga NU di kancah internasional didorong oleh banyaknya warga negara Indonesia yang bekerja atau belajar di luar negeri. Sekalipun berada di negeri asing, mereka tetap menjalankan amaliah Nahdliyah. untuk Bersama-sama dengan orang yang satu paham dan tradisi, akhirnya mulailah didirikan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang merupakan nama bagi struktur kepengurusan NU yang ada di luar negeri sebagai sarana untuk berorganisasi dan memperkuat NU secara struktural.

PCINU-PCINU yang mulai berkembang pada era 2000an di era kepemimpinan NU oleh KH Hasyim Muzadi ini perlu mendapat perhatian yang memang istimewa, sesuai dengan nama yang disandangnya. Mereka menjadi duta untuk mengabarkan Islam Indonesia yang ramah dan damai di tempat di mana mereka berada. Dakwah terbaik adalah dengan menunjukkan akhlak dan perilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam. Kader NU di luar negeri, terutama di negara-negara di mana Muslim menjadi minoritas, bisa menampilkan Islam yang menghargai semua golongan. Cara ini jauh lebih efektif dari sekedar kampanye antiislamofobia.

Apa yang dilakukan oleh PCINU Belanda pada akhir Maret 2017 ini menunjukkan upaya promosi Islam moderat ala Indonesia dengan menyelenggarakan konferensi internasional di sebuah universitas di Amsterdam. Acara yang mengundang para pakar yang kompeten dalam ilmu keislaman ini merupakan bagian dari konferensi cabang NU Belanda. PCINU United Kingdom (UK) dalam kesempatan berbeda juga menyampaikan keprihatinannya atas kasus penyerangan di London. Semuanya mewakili wajah Islam Indonesia yang ramah dan mendorong penyelesaian persoalan secara damai.

Bagi warga NU yang bekerja atau menjalankan bisnis di luar negeri, keberadaan PCINU ini bisa menjadi kesempatan kepada perluasan jejaring bisnis internasional dan warga NU di Indonesia. Ada banyak sekali produk dan jasa dari warga NU yang bisa ditawarkan ke pasar global. Jika ada pebisnis NU yang sukses karena peran PCINU, tentu mereka juga akan mendukung dakwah NU dengan berkah perkembangan usaha yang mereka peroleh.

Hari Santri 2018

Bagi anggota PCINU yang menjadi pelajar di berbagai negara, mereka diharapkan menjadi penerus perjuangan NU di masa mendatang ketika mereka kembali ke Indonesia. Mereka yang belajar ilmu-ilmu keislaman, khususnya di kawasan Timur Tengah dapat mewarisi keulamaan dan menjalankan peran-peran keagamaan. Bagi yang belajar ilmu nonagama di Eropa, Amerika, Jepang, dan kawasan dunia lainnya, mereka bisa menyumbangkan ilmu yang dimiliki bagi masyarakat atau warga NU sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Ada banyak sekali perangkat organisasi NU yang membutuhkan dukungan para ahli dan kepakaran tertentu, di antaranya adalah Lembaga Perekonomian NU, Lembaga Hukum, Lembaga Pendidikan, dan lainnya.?

Agar mereka bersedia mengabdi kepada NU, tentu dari awal harus diperkenalkan dengan NU secara organisatoris, bukan hanya NU kultural. PCINU menjadi kawah candradimuka untuk memperkenalkan apa itu NU dan apa peran-peran keumatan yang dapat dilakukannya.?

Anak-anak NU tersebut perlu dijaga dari pengaruh Islam transnasional yang ditampilkan dengan cara memikat, tetapi sesungguhnya memiliki pandangan radikal dan intoleran terhadap kelompok atau agama lain. Di sisi lain, kader muda NU juga harus diselamatkan dari gaya hidup bebas dimana segala sesuatu diperbolehkan atas dasar kebebasan individual tanpa mempertimbangkan bahwa Allah itu ? ada yang memiliki hak atas individu-individu.?

NU ternyata juga diminati bukan hanya oleh warga negara Indonesia yang berada di luar negeri, tetapi juga warga lokal. Yang sudah berdiri adalah NU Afganistan yang semua pengurusnya adalah warga setempat. Beberapa ulama internasional yang berkunjung ke PBNU juga berharapa bisa mendirikan NU di tempatnya masing-masing. Tentu saja, NU-nya akan menyesuaikan diri dengan lokalitas negara di mana organisasi tersebut didirikan. Dalam hal ini, tentu harus dirumuskan panduannya dan prinsip-prinsip dasar yang dianut oleh NU. Jangan sampai ada yang mengaku NU di luar negeri, tetapi ternyata prinsip ajarannya tidak sesuai dengan NU yang sesungguhnya di Indonesia, baik sifatnya menjadi radikal atau liberal.?

Hari Santri 2018

Persatuan Muslim dalam jejaring NU jika mampu dikelola dalam tingkat internasional tentu akan menjadi kekuatan tersendiri dalam memperjuangkan kepentingan umat Islam dalam ranah global seperti upaya peningkatan kesejahteraan, ilmu pengetahuan, kesehatan, penyelesaian kasus Palestina, atau konflik-konflik lokal yang terjadi di beberapa kawasan Muslim. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Kiai, Doa Hari Santri 2018

Jumat, 02 Februari 2018

PCNU Sumenep Terima Bantuan Mobil

Sumenep, Hari Santri 2018 

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sumenep saat ini memiliki satu unit mobil jenis Avanza. Mobil tersebut pemberian dari Bupati Sumenep KH A Busyro Karim. Penyerahan secara simbolis diberikan di Masjid Fatimah Desa Kebunan Kecamatan Kota, Sumenep, oleh KH A Busyro Karim, Ahad (23/12).

Penyerahan bantuan mobil operasional yang ditandai dengan penyerahan kontak mobil diterima langsung oleh Ketua PCNU Sumenep H A. Pandji Taufiq, disaksikan Rais Syuriyah PCNU Sumenep KH. Ahmad Basyir dan puluhan pengurus NU lainnya yang juga hadir pada bhakti sosial khitanan massal yang diselenggrakan MWC NU Kota Sumenep.

PCNU Sumenep Terima Bantuan Mobil (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumenep Terima Bantuan Mobil (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumenep Terima Bantuan Mobil

Ketua PCNU Sumenep H A Pandji Taufiq mengatakan, bantuan mobil yang diberikan KH A Busyro Karim akan dijaga dan dipergunakan sebaik mungkin untuk kelancaran kegiatan-kegiatan NU, dan tidak akan digunakan selain kepentingan NU.

Hari Santri 2018

“Mobil ini haram dipakai di luar kepentingan kerja-kerja NU secara kelembagaan,” tegasnya dalam sambutannya dihadapan pengurus NU.

Hari Santri 2018

Mobil tersebut, katanya, tantangan berat bagi pengurus NU agar lebih berkarya dalam berkhidmat kepada umat.

Bupati Sumenep KH A Busyro Karim dalam sambutannya menegaskan, pemberian mobil tersebut berasal dari uang pribadi dan tidak bersumber dari uang APBD Sumenep. Ia merasa tergerak untuk membantu NU sebab perjuangan NU sangat nyata di tengah-tengah masyarakat.

“Mobil itu tidak lain sebagai penunjang kegiatan sosial keagamaan yang digalakkan NU Sumenep,” katanya.

Mantan pengurus IPNU tersebut berjanji, bantuan kepada NU tidak akan berhenti hanya sampai disitu. Ke depan, dirinya berjanji akan memberikan mobil ambulan kepada PCNU Sumenep dan perahu ambulan kepada NU kepulauan.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: M Kamil Akhyari

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nasional, Lomba Hari Santri 2018

Kamis, 25 Januari 2018

Keagungan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs.

Ulama-ulama besar mengakui keagungan Syekh Abdul Qodir. Imam Adz-Dzahabi, seorang ahli tafsir terkemuka menyebutkan, karomah Syekh banyak dan jelas. Ibnu Rajab, ahli hadits madzhab Hambali yang salah satu bukunya saya terjemahkan menjadi, "Setahun Bersama Nabi" (diterbitkan Pustaka Hidayah, sekitar 1000 hlm.) menyebut Syekh sebagai teladan orang-orang marifat, pemimpin para syekh dan dikaruniai maqam dan karomah. Imam Al-Izz bin Abdussalam, ulama besar madzhab Syafii menyatakan,"Tidak ada karomah yang dinukil kepada kami secara mutawatir, kecuali karomahnya Syekh Abdul Qodir Jailani."

Salah satu karomah Syekh yang paling menarik bagi saya adalah namanya terus disebut, didoakan, dan dibaca dalam tawasul sampai sekarang oleh jutaan umat Islam di berbagai belahan dunia.?

Kalau sejarah Rasulullah disebut siroh dan dirujuk serta diteladani oleh umat Islam, maka sejarah hidup Syekh Abdul Qodir Jailani sebagai keturunannya disebut manqobah (jamaknya ialah manakib). Manakibnya menjadi alat ukur perkembangan spiritual para Salik (orang yang ruhaninya berjalan menuju Allah).

Keagungan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs. (Sumber Gambar : Nu Online)
Keagungan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs. (Sumber Gambar : Nu Online)

Keagungan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs.

Syekh Abdul Qodir Jailani pernah bertanya kepada gurunya, yaitu Syekh Hammad Ad-Dabbas karena di tempat khalwat gurunya setiap malam terdengar dengungan keras seperti lebah.?

Syekh Dabbas menjawab,"Aku memiliki sekitar 12.000 murid. Setiap malam aku menyebut nama mereka satu per satu. Aku bantu permohonan hajat mereka kepada Allah. Kita doakan agar mereka tidak melaksanakan maksiat yang direncanakannya serta mudah-mudahan selalu takut dan bertaubat kepada Allah."

Subhanallah, betapa besar cinta dan pengorbanan seorang mursyid kepada para muridnya. Sebagai murid, khidmah dan pengorbanan apa yang sudah kita lakukan untuk menyukseskan program dan visi Syekh Mursyid kita?

Hari Santri 2018

Syekh Abdul Qodir Al-Jilani mendapat doa dari gurunya. Umar Al-Halawy, salah seorang murid Syekh Abdul Qodir Al-Jailani berkelana bertahun-tahun. Ketika pulang, ia ditanya oleh Syekh Hammad Dabbas (guru Syekh Abdul Qodir).

"Kemana saja selama ini kalian berkelana?"

Umar menjawab,"Aku mengelilingi Mesir hingga Maghrib dan aku berjumpa dengan 360 wali Allah. Mereka semua berkata,"Syekh Abdul Qodir Jailani adalah syekh dan pemimpin kami."

Hari Santri 2018

Terima kasih kepada Dr. Ajid Thohir yang menulis disertasi tentang kitab Manakib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. Disertasi beliau menjadi salah satu dari enam disertasi terbaik yang diterbitkan Kemenag tahun 2011 (486 hlm).?





Tulisan ini hadir merujuk disertasinya tersebut. Semoga makin banyak orang yang mengkaji dan mengenalkan karya dan pemikiran ulama dan sufi, di samping mengamalkan ajaran dan awradnya. Amin. (Rojaya, Ketua Prodi Ilmu Tasawuf Fakultas Dakwah IAILM Pondok Pesantren Suryalaya)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Berita, Sholawat, Lomba Hari Santri 2018

Senin, 22 Januari 2018

Buku Jaringan Al-Qaeda Dibedah di UIN Jakarta

Jakarta, Hari Santri 2018. Buku ? “Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya” karangan Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dibedah di kampus UIN Jakarta, Senin (26/1). Hadir dalam bedah buku itu sejumlah pakar dan pengamat terorisme antara lain Rumadi Ahmad, Cholil Nafis, Asep Kususanto, dan Zainul Milal Bizawi.

Buku Al Qaeda" itu antara lain mengungkapkan bahwa setelah Osama tewas pada Mei 2011, Al Qaeda tidak ikut hancur dan mati. Setelah kematian Osama kaum jihadis kini menemukan medan jihad baru di Syria, Iraq, dan kawasan Afrika. Bahkan telah lahir ISIS/ISIL (The Islamic State? of Iraq and the Levant).

Sekretaris Kajian Timur Tengah Pascasarjana Universitas Indonesia Cholil Nafis dalam bedah buku itu mengingatkan, penanganan terorisme di Indonesia dan dunia tidak cukup dengan menangkap dan mengadili para teroris. “Tidak cukup sekedar mengatasi teorisnya, tetapi juga yang terpenting adalah ‘isme’-nya,” katanya.

Buku Jaringan Al-Qaeda Dibedah di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Jaringan Al-Qaeda Dibedah di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Jaringan Al-Qaeda Dibedah di UIN Jakarta

Menurutnya, persolan “isme” atau ideologi yang mendorong orang untuk melakukan aksi teror itu yang perlu diatasi. Para pelaku teror dan pihak-pihak yang merekrut para calon ? ‘pengantin’ yang akan menjalankan aksi teror selalu mengaitkan aksi yang mereka lakukan dengan spirit agama Islam.

Dalam kesempatan itu ia menyesalkan tayangan penggerebekan kelompok teroris oleh pihak kepolisian yang disiarkan di stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Menurutnya, penggerebekan semacam itu tidak layak menjadi tontotan masyarakat,

Hari Santri 2018

“Lembaga penyiaran perlu memperhatikan mana yang layak ditayangkan dan mana yang tidak. Penayangan itu menyebabkan masyarakat menjadi imun. Masyarakat menganggap terorisme sebagai tontonan biasa,” kata Cholil yang juga Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hari Santri 2018

Dikatakan, MUI senantiasa mengingatkan kepada masyarakat bahwa ideologi Islam yang diusung oleh para teroris hanyalah merupakan alat pembenar untuk melakukan berbagai tindak kejahatan terorisme.

Dekan Fakultas Ushuludin UIN Jakarta Prof Dr Masri Mansoer saat memberikan pengantar mengatakan, diskusi buku “Al Qaeda” itu memberikan pesan kepada para mahasiswa untuk berhati-hati dalam memilih organisasi kemahasiswaan agar tidak terjebak dalam jaringan terorisme internasional. (Musthofa Asrori/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pahlawan, Hadits, Lomba Hari Santri 2018

Minggu, 21 Januari 2018

Ulama Dunia Doakan Indonesia Lebih Baik

Situbondo, Hari Santri 2018. Indonesia akan menghadapi pemilu legislatif pada 9 April dan Pemilu presiden pada Juli mendatang. Ulama dunia mendoakan pemilu tersebut berlangsung damai dan menghasilkan pemimpin yang terbaik. Doa tersebut diungkapkan para ulama dalam pembukaan konferensi internasional di pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (29/3).

Ulama Dunia Doakan Indonesia Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Dunia Doakan Indonesia Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Dunia Doakan Indonesia Lebih Baik

Tampil memimpin doa pada acara tersebut Prof Dr Wahbah Az-Zuhaily (syria) Syaikh Mahdi As-Sumaidai (Irak), Syaikh Abdul Karim Ad-Dibaghiy (Aljazair). Mereka didampingi tokoh Islam Indonesia yang juga Sekretaris Jenderal Internasional Conference Of Islamic Scholar (ICIS) KH Hasyim Muzadi (Indonesia).

Konferensi kelas dunia itu diprakarsai mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Rencananya, kegiatan ini digelar selama 2 hari hingga Ahad (30/3) besok. Ratusan ulama dan kiai hadir sebagai peserta dalam konferensi ini.

Hari Santri 2018

Hasyim Muzadi menegaskan, konferensi tersebut membahas banyak hal terkait masalah dalam negeri dan luar negeri. Untuk dalam negeri, terkiat perang di sejumlah negara yang Timur Tengah dan kondisi Indonesia pasca reformasi.

Hari Santri 2018

"Kita akan mendengarkan penjelasan dari ulama dari timur soal arab Spring atau perang yang terjadi di beberapa negara di Timur Tengah belakangan ini. Bagaimana kondisi mereka setelah perang terjadi," katanya.

Konferensi tersebut diharapkan menghasilkan konsep perdamaian di berbagai belahan dunia. "Dari penjelasan para ulama itu, kita akan tahu kondisi Timur Tengah saat ini. Dari situ pula kita akan tahu solusinya.

Hasyim mengatakan, pada konferensi ini, pihaknya juga ingin memperkenalkan Pancasila yang selama ini menjadi dasar negara Indonesia. "Di pondok pesantren inilah, NU pertama kali mengakui Pansila sebagai dasar negara. Ketika itu di pesantren ini digelar Muktamar NU pada tahun 1984," kata Hasyim.

Sementara itu, Pengasuh ponpes Salafiyah Syafiiyah, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy berharap pesan perdamaian dari konferensi internasional ini didengar oleh masyarakat dunia. "Semoga hasil konferensi ini menjadi pesan perdamaian yang sampai ke seluruh penjuru dunia," katanya. (Ahmad Millah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, AlaNu Hari Santri 2018

Selasa, 16 Januari 2018

Jenggot Warisan

Hah! Hah! Sudah lama aku tidak bermimpi kakek berjenggot itu. Semenjak aku lulus SD. Sekarang aku bermimpi lagi di saat aku duduk dikelas dua SMA. Kakek yang menggenggam tanganku saat aku terjatuh di dalam mimpi. Tapi kali ini berbeda. Kakek itu merenggangkan gengggamannya, seakan mau pergi.

Baru pukul tiga pagi, sedang konser Endang Sukamti baru usai dua jam yang lalu. Angin malam menggerakkan rambut ikalku.  Sudah tidak terhitung aku kabur dari pondok dan tidur di emperan toko seperti ini. Aku juga tidak tahu, mungkin karena hasutan dan loyalitas persahabatan yang aku jalin bersama Rio, Ahmad, Ivan dan Mario ini sudah berlangsung sekitar satu tahun, aku tidak dapat mencegah diriku untuk tidak mengikuti mereka.

Selama itu juga kenakalan kita masih tahap normal –menurutku-. Hanya kabur dari pondok untuk menonton konser, atau kabur sekedar keliling kota. Sesekali kita kabur satu hari penuh. Pernah ketangkap basah dengan pembimbing pondok pernah juga tidak. Prinsip kita satu, tidak merugikan orang lain hanya merugikan diri sendiri.

Jenggot Warisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jenggot Warisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jenggot Warisan

Kita pun pulang pukul tiga pagi. Dengan keahlian kita, kita dapat masuk ke asrama tanpa ketahuan. Tapi entah kenapa, paginya kita dipanggil Mas Ikhsan, pembimbing pondok yang setia menghukumi kita berlima. Akhirnya kita dihukum membersihkan kamar mandi, dan menyapu asrama setiap hari selama satu bulan. Baru berlangsung seminggu, Rio memberitahu bahwa ada konser regae.  Malam itu juga, lagi-lagi kita kabur dari pondok.

Konser telah usai, beberapa orang masih tinggal termasuk kita berlima. Sampai tiga orang yang tadinya duduk di sebuah bangku pergi, dan tanpa tanpa disadari salah satu dompet dari mereka tertinggal. Belum sempat aku berteriak memanggil tiga orang itu.

“Ada rezeki nih!” kata Rio semangat. Sontak aku menatap ke arahnya.

Hari Santri 2018

Kita berempat mengikuti langkah Rio, menuju bangku yang diduduki tiga orang tadi. Rio membuka dompet tersebut dan menemukan beberapa uang yang semuanya berjumlah seratus lima puluh ribu rupiah. Dia pun mengambil dan menaruh uang tersebut ke dalam sakunya. Tanpa merasa bersalah, Rio membuang dompet tersebut dan berpaling. Reflek aku mencegat tangan Rio.

“Rio, bukannya kita tidak membuat rugi orang lain?” peringat ku.

Lho, bukannya ini tertinggal bukan aku sengaja mencopet atau bagaimana kan? Lagian kalau pun ini merugikan orang lain, kan aku yang berbuat.”

Hari Santri 2018

“Tapi kan. Kita harus kompak. Kalau kamu mengawali berbuat seperti itu, nanti yang lain bisa ikut-ikutan terus bisa jadi kebiasaan buruk,” protesku

“Memangnya kita kabur bukan kebiasaan buruk? Sama saja kan? Lagian kalau yang lain mau ikut-ikutan ya sok aja atuh. Kalau kamu nggak mau, ya sudah. Kita nggak maksa kok Muh kalau masalah seperti ini”

“Tapi aku tetap tidak setuju. Ri,”

“Ya sudah, kalau begitu sana pulang dan jadi anak alim di pondok!” teriak Rio di telingaku.

“Bukan begitu maksudku”

“Diam Muh! Kita bakal kabur sampai besok, kita perlu uang untuk makan sama jalan-jalan. Jadi jangan protes lagi.”

Waktu berlalu. Sudah seminggu kita tidak pulang ke pondok. Kita hidup dari hasil mencuri Rio. Aku juga tidak tahu dari mana dia belajar, sehingga begitu ahli dalam mencuri. Aku merasa sangat berantakan, jarang mandi, makan apa adanya, dan merasa kehidupanku berubah. Iya, bebas. Tapi tidak dapat menikmatinya. Aku mendengar langkah kaki yang berlari menuju ke arah dimana aku dan tiga orang temanku duduk. Ternyata itu Rio. Dengan raut wajah ketakutan dia berbicara dengan terburu-buru.

“Ayo! Kita harus bersembunyi! Aku ketahuan! Aku mencuri dompetnya Mas Ikhsan pembimbing!” jelasnya cepat.

“Mas Ikhsan! Gila kamu, Ri!”

“Mana aku tau kalau itu Mas Ikhsan!”

“Kok bisa ketahuan!”

“Kalian tahu kan? Mas Ikhsan tuh seperti apa! Mendingan kita sembunyi sekarang juga sebelum Mas Ikhsan mencium bau kita.” Kita pun berlari dan bersembunyi di tumpukan sampah.

Sudah setengah jam kita menunggu. Sepertinya sudah tidak ada tanda-tanda Mas Ikhsan berada. Rio pun mengecek keadaan. Akhirnya kita menunggu Rio. Rio tak kunjung datang, padahal sudah satu jam kita menunggu. Ingat pesannya kalau kita tidak boleh meninggalkan tempat itu, akhirnya tidak ada pilihan lain selain menunggu. Hingga kita tertidur di tumpukan sampah.

Terdengar suara membangunkan. Bukan suara Rio, tapi suara asing. Ternyata itu suara seorang pemulung, yang membangunkan kita bertiga. Matahari sudang mulai meninggi. Berarti Rio belum juga datang dari tadi malam. Hingga akhirnya sampai sore kita tidak makan. Dan Mario berniat untuk mencuri untuk membeli makan dan minum kita berempat.

Aneh! Tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan, sedang teman-temanku berjalan meninggalkanku. Tidak lama, seseorang menabrakku. BRUK! Aku terjatuh, orang itu membantuku untuk berdiri. Orang itu menatapku lekat-lekat. Ternyata itu Mas Ikhsan. Mas Ikhsan memaksaku untuk memberitahu keberadaan teman-teman yang lain. Belum sempat aku menjawab, teman-temanku yang menyadari bahwa aku tertinggal, kembali dan mencariku sehingga bertemu dengan Mas Ikhsan yang sedang menangkapku. Akhirnya kita kembali ke pondok.

Kita berlima disidang di depan banyak pembimbing pondok dan akhirnya di depan pak kyai. Kita berlima diberi kesempatan untuk berubah. Aku kira kita berlima akan langsung dikeluarkan dari ponok, karena sudah terlampau sering kita melanggar aturan pondok dan yang terakhir kabur lebih dari seminggu ditambah lagi mencuri. Akhirnya kita dihukum setoran surat-surat khusus dan juz satu.

Aku selesai lebih awal dari pada yang lainnya. Sebenarnya aku sudah menghafal sampai jus sembilan waktu aku SMP di pondok yang dulu. Sekarang aku tidak menghafal lagi dan berubah menjadi anak yang tidak taat aturan. Aku bingung. Teman-teman ku selain Mario, Rio, Ivan dan Ahmad sudah tidak berminat lagi berteman denganku. Aku merasa sendiri. Sedang kita berlima sibuk dengan hukuman dan dipaksa  untuk tidak saling bertemu sampai kita sadar.

Waktu istirahat pun tiba, aku duduk  melamun sendiri di dalam kelas. Entah dari mana, Rio masuk mendatangi mejaku.

“Kenapa kamu keliatan frustasi, bro?” tanyanya santai tanpa beban.

“Bukannya kau juga merasakan beban yang sama. Kenapa kau bisa tetap bahagia begitu, Ri?”

“Jangan dibawa beratlah, bro” jawabnya santai “Oh ya, aku punya obat nih. Obat penenang. Nanti kalau mau tidur diminum, Muh”

“Obat apa ini? Jangan-jangan...”

“Apaan sih! Memangnya aku setega itu. Itu hanya obat penenang biasa, semacam obat tidur makanya minumnya kalau mau tidur aja. Lumayan nih aku, agak ngeringanin beban” jelasnya sambil megusap-usap lehernya “Aku balik ke kelas dulu ya. Kita kan belum boleh ngumpul kan? Kalau begitu sampai jumpa”

Malamnya aku memandang cermin yang ada di dalam lemariku. Semua teman-temanku sudah terlelap. Aku menyediakan segelas air. Aku ingin mencoba obat yang diberi Rio tadi pagi di kelas. Sebenarnya aku agak ragu, tapi mana mungkin dia tega memberi narkoba. Kemudian, baru saja aku memasukkan obat itu ke mulut, tiba-tiba pintu terbuka. Mengagetkan beberapa temanku yang sedang tertidur dan juga diriku yang mematung memegang kantong berisi obat itu. Mas Ikhsan dan pembimbing lain sudah menangkap Rio, Ahmad, Mario dan Ivan. Kata Mas Ikhsan obat itu adalah sejenis narkoba, dan kita berempat telah dibohongi oleh Rio.

Besoknya kita berlima dibawa ke rumah sakit untuk cek darah. Hasilnya positif. Rio, Ahmad, Mario dan Ivan memakai zat adiktif narkoba. Sedangkan hasilku menyatakan bahwa darahku tidak pernah terkena barang haram itu. Ternyata mereka telah memakan barang haram itu selama seminggu. Itu berarti aku adalah orang terakhir yang diberi obat oleh Rio. Padahal tadi malam aku mencoba satu,  tapi kenapa hasilnya nihil?

Sidang pun diselenggarakan. Mereka berempat dikeluarkan dari pondok dan sekolah, sedang aku mendapat skorsing  tiga hari dan disuruh membantu di dalemnya Pak Kyai. Setelah pulang dari menjalani sidang, aku tertidur di Mushola Sakan. Aku bermimpi bertemu kakek berjenggot  itu lagi. Kakek itu melepaskan tanganku dari gengggamannya dan pergi dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Matanya mengatakan bahwa kakek itu percaya kepadaku. Kakek itu pun menjauh dan menjauh hingga hilang  ditelan cahaya.

Aku terjaga. Tenggorokanku sakit, sakit sekali. Rasanya ada sesuatu di dalam tenggorokanku yang mencekikku. Perutku seperti dipukul-pukul sehingga rasanya ingin memuntahkan segala yang ada di perut. Sakitnya pun terus bertambah, sampai-sampai aku berteriak mengadu kesakitan. Seseorang lari dari arah luar menuju Mushola Sakan. Sepertinya pembimbing pondok yang sedang berkeliling. Dia sepertinya panik dan keluar lagi. Dan kembali bersama Pak Zaki.  Beberapa kali punggungku ditepuk keras oleh Pak Zaki.  Kemudian darah keluar dari mulutku dan samar-samar aku melihat sebutir pil keluar bersama darah tersebut. Aku merasa kejadian muntah darah itu berlangsung lama hingga aku tidak sadarkan diri.

Aku terbangun di kamar pembimbing. Setelah aku mandi dan sholat shubuh berjama’ah, aku langsung disuruh menemui Pak Zaki di dalemnya. Aku ditanyai banyak hal. Apa saja yang aku lakukan saat kabur dari pondok, memakan apa saja, sampai aku meminum obat yang diberi Rio dan hasil negatif pada waktu cek darah, semuanya aku ceritakan. Pak Zaki pun manggut-manggut.

“Itu tandanya kamu masih diberi kesempatan sama Allah, Muh” ucap Pak Zaki

 “Oh ya, saya jadi ingat. Dulu saya pernah bertemu sama teman saya. Kata beliau punya anak di sini. Dulunya menghafal Al-Qur’an, mungkin masih sekitar juz lima atau tujuh. Namanya Muhammad. Ya, yang namanya Muhammad kan banyak, yang ditahfidz juga banyak. Saya kira salah satunya mungkin ada di situ” tambah Pak Zaki

“Kamu dulu tahfidz tho? Sudah sampai juz berapa, Le?” tanya Pak Zaki

“Juz sembilan, Pak”

“Sudah banyak. Mulai hari ini dilanjutkan ya, Le? Panggilanmu sopo?

“Simuh, Pak”

“Mau pindah ke tahfidz, Muh?”

Nggih, Pak.”

“Masih diskorsing kan?”

Nggih.”

Sesuk setoran karo aku yo” ucap Pak Zaki sambil tersenyum dan menepuk pundakku.

Aku merasa, malam ini sangat berbeda. Setelah perbincangan di waktu subuh itu. Aku merasa seperti mendapatkan oksigen yang bertubi-tubi, sehingga jiwaku dapat menghembuskan nafas kelegaan. Aku menatap cermin yang menempel di pintu lemariku, terlihat bayangan seseorang yang sangat berantakan. Aku mengambil gunting di atas lemariku dan merapikan rambutku ikalku yang mulai menyentuh leher. Juga merapikan kumis dan jenggot. Jenggot? Aku jadi  teringat dengan kakek tua itu. Aku ingin tahu dari mana asal kakek berjenggot itu, sehingga mewariskanku beberapa helai jenggot yang sekarang mulai tumbuh di daguku.

Izzah Yusuf, Siswi kelas X MA Ali Maksum, Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, aktif di komunitas Sastra Menjangan, Ekskul Unggulan MA Ali Maksum Krapyak.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba Hari Santri 2018

Rabu, 03 Januari 2018

NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz

Tangerang, Hari Santri 2018. NU-CARE LAZISNU Tangerang Selatan akan membuka stand di Bintaro Xchange, Bintaro Jaya, Kota Tangerang Selatan. Stand yang digelar untuk mengenalkan program-program tersebut berada di tengah-tengah pagelaran BritAmaX Tangsel Jazz Festival 2016 pada Sabtu 12 November mendatang.

NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz

“Tujuan utama NU-CARE LAZISNU Tangsel buka stand di acara BritaAmaX Tangsel Jazz Festival 2016 adalah untuk menggalang dana dalam rangka santunan anak yatim yang dibungkus dengan acara makan bersama di McD Perempatan Duren tanggal 13 November,” papar Sekretaris LAZISNU Tangsel, Rizky Subagia kepada Hari Santri 2018 pada Rabu (9/11) malam.

(Baca: http://www.nu.or.id/post/read/72630/peringati-hari-pahlawan-lazisnu-tangsel-adakan-santunan-anak-yatim)

Rizky menambahkan hal yang tak kalah penting melalui pembukaan stand di Bintaro XChange adalah mengenalkan kepada masyarakat Tangsel khususnya tentang adanya NU-CARE LAZISNU.

“NU-CARE Tangsel juga akan mengenalkan program Tabungan Berkah salah satu program andalan kami saat ini,” kata Rizky seraya menambahkan Tabungan Berkah dari NU-CARE LAZISNU Tangsel sangat mudah karena hanya dengan mengisi donasi melalui kencleng (kaleng) yang disediakan NU-CARE LAZISNU Tangsel. Jumlah donasi pun menyesuaikan minat dan kemampuan donatur.?

Hari Santri 2018

Melalui rilis yang diterima Hari Santri 2018, Promotor BritaAmaX Tangsel Jazz Festival 2016 Dinni Deniasti Atiek mengatakan BritAmaX Tangsel Jazz Festival merupakan pagelaran musik jazz terbesar di Kota Tangerang Selatan.?

Hari Santri 2018

Didukung Pemerintah Kota Tangerang Selatan, acara yang diadakan selama satu hari itu akan diisi oleh penampilan artis jazz papan atas Indonesia seperti Glenn Fredly, Iga Mawarni, Fariz RM, Jeffrey Tahalele, Rio Moreno Latin Combo, Amelia Ong, KSP Band, Alsa Quartet, Tiyo Alibasjah dan Ginda Bestari.?

Acara yang pada tahun ini memasuki tahun ketiga, akan diisi dengan bazaar dan produk kreatif warga Tangsel. Selain panggung utama, panitia menyiapkan dua panggung yang dinamakan “BritAmaX Jawara dan Blandongan” yang akan menjadi panggung bagi ? musisi jazz mempertontonkan skill kecanggihan bermusik mereka.

Dari sisi konsep penyelenggaraan acara pada tahun ini berbeda dengan konsep tahun 2015 lalu. Tahun ini TJF mengusung konsep jazz family, jazz yang dapat ditonton oleh seluruh anggota keluarga, mulai anak hingga kakeknya. Selain itu juga jazz yang lebih akrab, hangat, dan memasyarakat. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Halaqoh, Lomba Hari Santri 2018

Kamis, 21 Desember 2017

Menggali Hukum Islam

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Sebagai jamiyah sekaligus gerakan diniyah dan ijtimaiyah sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama (NU) meletakkan faham Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai dasarnya. Ia menganut salah satu dari empat mazhab; Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Alih mazhab secara total atau pun dalam hal yang dipandang sebagai kebutuhan (hajah) dimungkinkan terjadi, meskipun kenyataan sehari-hari para ulama NU menggunakan fiqih masyarakat Indonesia yang bersumber dari mazhab Syafii.

Menggali Hukum Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggali Hukum Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggali Hukum Islam

Hampir dapat dipastikan bahwa fatwa, petunjuk hukum dan keputusan hukum yang diberikan oleh ulama NU dan kalangan pesantren selalu bersumber dari mazhab Syafii. Hanya kadang-kadang dalam keadaan tertentu untuk tidak selalu melawan budaya konvensional- berpaling ke mazhab lain. Dalam struktur kepengurusannya, NU mempunyai lembaga Syuriyah yang bertugas antara lain menyelenggarakan forum bahtsul masail secara rutin. Forum ini bertugas mengambil keputusan tentang hukum-hukum Islam, yang bertalian dengan masail fiqhiyyah mau pun masalah ketauhidan dan bahkan tasawuf (thariqah). Forum ini biasanya diikuti oleh Syuriyah dan ulama-ulama NU yang berada di luar struktur organisasi, termasuk para pengasuh pesantren.

Masalah-masalah yang dibahas pada umumnya merupakan kejadian (waqiah) yang dialami oleh anggota masyarakat, diajukan kepada Syuriyah oleh organisasi atau pun perorangan. Masalah itu diinventarisasi oleh Syuriyah lalu diseleksi berdasarkan skala prioritas pembahasannya. Kemacetan (mauquf) tidak jarang terjadi di dalam pembahasan masalah semacam itu. Jalan berikutnya adalah mengulang pembahasannya pada tingkat organisasi yang lebih tinggi, dari ranting ke cabang, dari cabang ke wilayah, dari wilayah ke pengurus besar (pusat), kemudian ke Munas (Musyawarah Nasional) dan terakhir kepada Muktamar.

Hari Santri 2018

***

Pengertian istinbath al-ahkam di kalangan NU bukan mengambil hukum secara langsung dari sumber aslinya yaitu al-Quran dan al-Hadits. Akan tetapi penggalian hukum dilakukan dengan men-tathbiq-kan secara dinamis nash-nash fuqaha -dalam hal ini Syafiiyah- dalam konteks permasalahan yang dicari hukumnya.

Hari Santri 2018

Istinbath langsung dari sumber primer (al-Quran dan al-Hadits) yang cenderung kepada pengertian ijtihad mutlak, bagi ulama NU masih sangat sulit dilakukan karena keterbatasan-keterbatasan yang disadari, terutama di bidang ilmu-ilmu penunjang dan pelengkap yang harus dikuasai oleh seorang mujtahid. Sementara itu istinbath dalam batas mazhab di samping lebih praktis, dapat dilakukan oleh semua ulama NU yang telah mampu memahami ibarat (uraian) kitab-kitab fiqih sesuai dengan terminologinya yang baku.

Oleh karena itu kalimat istinbath di kalangan NU terutma dalam kerja bahtsul masail Syuriyah, tidak populer. Kalimat itu telah populerkan di kalangan ulama dengan konotasi ijtihad mutlak, suatu aktivitas yang oleh ulama Syuriyah masih berat untuk dilakukan. Sebagai gantinya, dipakai kalimat bahtsul masail yang artinya membahas masalah-masalah waqiah melalui referensi (maraji) kutub al-fuqha.

***

Sikap dasar bermazhab telah menjadi pegangan NU sejak berdirinya. Secara konsekuen sikap ini ditindaklanjuti dengan upaya pengambilan hukum fiqih dari referensi dan maraji, berupa kitab-kitab fiqih yang pada umumnya dikerangkakan secara sistematik dalam beberapa komponen; ibadah, muamalah, munakahah, jinayat, qadla. Para ulama NU dan forum bahtsul masail mengarahkan pengambilan huukum pada aqwal al-mujtahidin yang mutlaq mau pun muntasib. Bila kebetulan mendapatkan qaul manshush (pendapat berdasar nash eksplisit), maka qaul itulah yang dipegangi. Namun kalau tidak, maka akan beralih pada qaul mukhoroj.

Bila terjadi khilaf, maka diambil yang paling kuat sesuai dengan pentarjihan ahli tarjih. Sering juga ulama NU mengambil keputusan untuk sepakat dalam khilaf, akan tetapi juga mengambil sikap untuk menentukan pilihan sesuai dengan situasi kebutuhan hajiyah (kebutahan), tahsiniyah (kebagusan) mau pun dlaruriyah (darurat).

Mazhab yang dianut oleh NIJ dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuai dengan mazhab yang berkembang dalam masyarakat Indonesia, mazhab Syafii. Ini punya konsekuensi, para ulama NU dalam fatwa pribadinya mau pun dalam forum bahtsul masail, hampir dapat dipastikan selalu merujuk pada kitab-kitab Syafiiyah. Kepustakan ulama NU pasti sarat dengan kitab- kitab Syafiiyah, mulai dari yang paling kecil; Safinatus Sholah karangan KH. Nawawi Banten sampai dengan yang paling besar, misalnya al-Um, al-Majmu dan lain sebagainya.

Sangat sulit dijumpai dalam kepustakaan mereka, kitab-kitab selain Syafiiyah, kecuali pada akhir-akhir ini mulai ada koleksi kitab-kitab mazhab Hambali, Hanafi, dan Maliki bagi sebagian kecil ulama. Kecuali harganya belum terjangkau oleh sebagian besar ulama NU, kitab-kitab itu masih sulit diperoleh di Indonesia.

Timbul kesan dari kenyataan ini, bahwa NU hanya bermazhab fi al-aqwal tidak dalam manahij (metodologi). Padahal sebenarnya para ulama NU juga memegangi dan mempelajari manhaj Imam Syafii. Hal ini tergambar dalam kepustakaan mereka, kurikulum pesantren-pesantren yang mereka asuh. Kitab-kitab seperti, waraqat, ghoyah al-Wushul, jamu al-jawami, al-Mustasyfa, al-asybah wa al-Nadhair, qowaid Ibni Abdissalam, Tarikhu al-Tasyri, dan lain-lain, tidak hanya menjadi koleksi kepustakaan mereka, namun juga dibaca, diajarkan di beberapa pesantren.

Metodologi dalam hal ini digunakan untuk memperkuat pemahaman atas masail furuiyah yang ada pada kitab-kitab fiqih, di samping sering juga diterapkan untuk mengambil langkah tandhir al-masail bi nadhoiriha, bukan untuk istinbath al-ahkam min mashadiriha al-ashliyah.

Gagasan perlunya konsep tajdid muncul di kalangan NU belakangan ini, mengingat makin berkembangnya masalah dan peristiwa hukum yang ternyata belum terakomodasi oleh teks-teks kitab fiqih, di samping munculnya ide kontekstualisasi kitab kuning. Penyelenggaraan halaqah yang diikuti oleh beberapa ulama Syuriyah dan pengasuh pesantren, sebagian untuk merespons gagasan itu. Kesepakatan telah dicapai, dengan menambah dan memperluas muatan agenda bahtsul masail, tidak saja meliputi persoalan hukum halal/haram, melainkan juga hal-hal yang bersifat pengembangan pemikiran keislaman dan kajian-kajian kitab.

Disepakati juga dalam forum itu, perlunya melengkapi referensi mazhab selain Syafii dan perlunya disusun sistematika bahasan yang mencakup pengembangan metode-metode dan proses pembahasan untuk mencapai tingkat kedalaman dan ketuntasan suatu masalah. Mengenai konsep tajdid, PBNU sebelum Muktamar ke-28 di Yogyakarta telah membentuk tim khusus untuk merumuskannya. Tim ini diketuai sendiri oleh Rois Aam Kiai Achmad Siddiq (almarhum) dan saya sebagai wakilnya. Tim ini telah berhasil merumuskan "Konsep Tajdid" dalam Pandangan NU.

***

Fiqih yang dipahami NU dalam pengertian terminologis, sebagai ilmu tentang hukum syariah (bukan itiqadiyah) yang berkaitan dengan amal manusia yang diambil dan disimpulkan (muktasab) dari dalil dalil tafsili, adalah fiqih yang diletakkan -oleh para perintisnya (mujtahidin)- pada dasar dasar pembentuknya; alQuran, al-Sunnah, Ijma dan Qiyas. Dalam pembentukannya, fiqih selalu mempunyai konteks dengan kehidupan nyata dan karena itu bersifat dinamis. Ini tergambar dalam proses pembentukannya yang tidak lepas dari konteks lingkungan yang sering disebut sebagai asbab al-nuzul bagi ayat al-Quran dan asbab al-wurud bagi al-Sunnah. Namun konteks lingkungan seperti itu kurang diperhatikan di kalangan NU. Ia hanya dipandang sebagai pelengkap yang memperkuat pemahaman, karena yang menjadi fokus pembahasannya adalah norma-norma baku yang telah dikodifikasikan dalam kitab-kitab furu al-fiqh. Fungsi syarah, hasyiyah, taqriraat dan taliqaat dipandang pula sebagai pelengkap yang memperjelas pemahaman tersebut. Meskipun di dalam kitab-kitab syarah, hasyiyah, taliqaat itu sering dijumpai kritik, penolakan (radd), counter, perlawanan (itiradl) atas teks-teks matan yang dipelajari/dibahas, namun hal ini kurang mendapat kajian serius.

Pembahasan fiqih secara terpadu dan pengembangannya sangat lamban, bahkan kadang secara eksklusif dipahami, antara ilmu fiqih dengan ilmu lain yang punya diferensiasi tersendiri, seolah-olah tidak ada hubungannya. Padahal para ulama penyusun dan pembentuk fiqih dahulu selalu mengintegrasikan ilmu-ilmu di luar fiqih ke dalam fiqih untuk menentukan kesimpulan hukum bagi suatu masalah. Misalnya ilmu falak (hisab) dan ikhtilaf al-mathla dalam hal penentuan awal Ramadan dan Syawal, marifatu al-qiblah dan al-waqti dalam hal shalat dan penemuan obat-obatan dalam kontrasepsi (manu al-hamli/ibthou al-hamli) dalam bab nikah.

Namun sekarang halaqah dan muktamar telah merekomendasikan, agar pada setiap masalah yang akan dibahas Syuriyah diberi tashawwur al-masail (abstraksi), sehingga dapat jelas masalahnya. Kepastian hukum bisa diputuskan secara terpadu melibatkan orang-orang ahli dan profesional. Ini penting artinya bagi upaya mengintegrasikan disiplin-disiplin ilmu lain ke dalam wilayah fiqih, untuk memperoleh alternatif pemecahan masalah tanpa ada resiko hukum.

***

Ijtihad di kalangan ulama NU dipahami sebagai upaya berpikir secara maksimal untuk istinbath (menggali) hukum syari yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia secara langsung dari dalil tafshili (al-Quran dan Sunnah). Ini adalah pengertian ijtihad muthlaq, pelakunya disebut mujtahid muthlaq. Meskipun dipertentangkan, apakah sekarang ini boleh melakukan ijtihad muthlaq atau tidak, namun para ulama nampaknya sepakat, perlu ada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tertentu bagi mujtahid muthlaq.

Di bawah ini, ada tingkat ijtihad fi al-mahab, pelakunya disebut mujtahid fil-mazhab, lalu di bawahnya lagi ada ijtihad fatwa, pelakunya disebut mujtahid fatwa. Mujtahid tingkat kedua itu, ialah mereka yang mampu meng-istinbath hukum dari kaidah-kaidah imam mazhab (mujtahid muthlaq) yang diikuti. Misalnya Imam al-Muzani, pengikut mazhab Syafii. Sedangkan mujtahid fatwa adalah mujtahid yang mempunyai kemampuan mentarjih antara dua qaul yang di-muthlaq-kan oleh Imam Mujtahid yang dianutnya. Misalnya Imam al-Nawawi dan Imam al-Rofii, penganut Imam Syafii.

Di dalam kitab al-Fawaid al-Makkiyah diuraikan, tingkatan ulama fiqih itu ada enam. Pertama mujtahid mustaqil, setingkat al-Syafii. Kedua mujtahid muntasib, setingkat Imam al-Muzani. Ketiga ashhabu al-wujuh, setingkat Imam al-Qaffal. Keempat mujtahid fatwa, setingkat Imam al-Nawawi dan Imam al-Rofii. Kelima pemikir yang mampu mentarjih antar dua pendapat syaikhoni (dua Imam) yang berbeda, misalnya Imam al-Asnawi. Keenam hamalatu al-fiqh, yaitu ulama-ulama yang menguasai aqwal (pendapat-pendapat) para Imam.

Taqlid bagi NU, sesuai dengan pengertiannya yang telah ditulis dalam kitab-kitab Syafiiyah, ialah mengambil atau mengamalkan pendapat orang lain tanpa tahu dalil-dalilnya atau hujjahnya. Tentang status hukumnya, taqlid di bidang fiqih (bukan aqidah) ada beberapa pendapat yang cukup panjang pembahasannya. Dalam hal ini Dr. Said Ramadlan mengutip kata Imam Ibnu al-Qoyyim yang disetujui oleh beberapa ulama sebagai berikut. Bahwa telah lengkapnya kitab-kitab al-Sunan saja belum cukup untuk dijadikan landasan fatwa, tetapi juga diperlukan tingkat kemampuan istinbath dan keahlian berfikir dan menganalisa. Bagi yang tidak memiliki kemampuan tersebut, maka ia berkewajiban mengikuti firman Allah: fasalu ahladz-dzikri in kuntum laa talamun, yang salah satu pengertiannya adalah taqlid.

Ibnu Khaldun juga menceritakan, para Shahabat tidak semuanya ahli fatwa. Begitu pula para Tabiin. Ini berarti sebagian para Shahabat dan Tabiin yang paling banyak jumlahnya, adalah bertaqlid kepada mereka yang ahli fatwa. Tidak ada satupun dari sahabat dan tabiin mengingkari taqlid. Imam al-Ghozali dalam kitabnya al-Mustashfa mengatakan, para Shahabat telah sepakat (ijma) mengenai keharusan bertaqlid bagi orang awam.

Fatwa para mujtahid dan hukum-hukum yang telah dihasilkan dari istinbath dan ijtihadnya, telah absah sebagai dalil bagi kalangan ahli taqlid. Imam al-Syatibi mengatakan, fatwa-fatwa kaum mujtahidin bagi orang awam adalah seperti beberapa dalil syari bagi para mujtahidin. Itulah sebabnya, maka kita-kitab fiqih di kalangan ulama Syafiiyah menjadi penting dan berkembang dalam ratusan bahkan mungkin ribuan judul dengan berbagai analisis, penjelasan dan tidak jarang berbagai kritik (intiqad dan radd).

Kitab yang besar diringkas menjadi mukhtashor, nadhom dan matan. Sebaliknya, kitab yang kecil diberi syarah dan hasyiyah menjadi berjilid-jilid. Sampai pun tokoh ulama Indonesia, Syeikh Mahfudh al-Tarmasi (dari Termas Jawa Timur) menulis hasyiyah kitab Mauhibah empat jilid, bahkan lima jilid (yang terakhir belum dicetak).

Kedudukan kitab-kitab tersebut menjadi seperti periwayatan dalam Hadits/al-Sunnah. Kalau dalam al-Sunnah ada mustanad riwayah; bi al-sama kemudian bi al-qiraah dan lalu bi al-ijazah, maka para ulama dalam menerima dan mengajarkan kitab-kitab itu pun menggunakan mustanad tersebut dengan silsilah sanad yang langsung, berturut-turut sampai kepada para penulisnya (muallif) bahkan sampai kepada Imam al-Syafii (atau panutan mazhabnya).

***

Istilah talfiq muncul dalam pembahasan, apakah ahli taqlid harus memilih satu mazhab tertentu dari sekian banyak mazhab para mujtahidin? Kalau harus demikian, apakah dibolehkan pindah mazhab secara keselurahan atau hanya dalam masalah tertentu saja? Ataukah tidak harus demikian, sehingga mereka bebas memilih qaul tertentu saja dari sekian mazhab yang standar dan bebas berpindah-pindah mazhab sesuai dengan kebutahan?

Beberapa pertanyaan di atas memang telah menjadi perdebatan Ulama. Imam Zakaria Al-Anshary dalam kitabnya Lubbul-Ushul mengatakan, yang paling shahih adalah, muqallid wajib menetapi salah satu mazhab tertentu yang diyakini lebih rajih daripada yang lain atau sama. Namun begitu, mereka diperbolehkan pindah ke mazhab lain. Dalam hal ini para ulama mensyaratkan beberapa hal yang antara lain, tidak diperkenankan bersikap talfiq dengan cara mengambil yang paling ringan (tatabbul-rukhosh) dan beberapa aqwal al-madzahib (pendapat mazhab).

Talfiq secara harfiyah dapat diartikan melipatkan dua sisi sesuatu menjadi satu. Namun talfiq dalam hal taqlid ini, berarti menyatukan dua qaul dari dua mazhab yang berbeda ke dalam problema tertentu, sehingga menjadi satu komponen hukum yang tidak menjadi pendapat (qaul) bagi dua mazhab tersebut.

Misalnya dalam hal berwudlu; Imam Syafii tidak mewajibkan menggosokan anggota badan yang dibasuh, sedangkan Imam Malik mewajibkannya. Dalam hal meraba farji Imam Syafii berpendapat, hal itu membatalkan wudlu secara muthlaq, sedangkan Imam Malik berpendapat, tidak membatalkan bila tanpa syahwat. Bila seseorang berwudlu dan tidak menggosok anggota badan karena taqlid kepada Imam Syafii namun kemudian meraba farji tanpa ada rasa syahwat, maka batallah wudlunya. Bila ia kemudian melakukan shalat, maka shalatnya juga batal, dengan kesepakatan kedua Imam ini. Karena ketika ia meraba farji -walaupun tanpa syahwat- maka wudlunya telah batal menurut Syafii. Begitu juga ketika ia tidak menggosok anggota badan pada wakt wudlu, maka wudlunya tidak sah menurut Imam Malik.

***

Rumusan hukum hasil produk bahtsul masail Syuriyah NU, bukan merupakan keputusan akhir. Masih dimungkinkan adanya koreksi dan peninjauan ulang bila diperlukan. Bila di kemudian hari ada salah seorang ulama -meskipun bukan peserta forum Syuriyah- menemukan nash/qaul atau ibarat lain dari salah satu kitab dan ternyata bertentangan dengan keputusan tersebut, maka keputusan itu bisa ditinjau kembali dalam forum yang sama.

Tidak ada perbedaan, antara pendapat ulama senior maupun yunior, antara yang sepuh dan yang muda dan antara kiai dan santri. Karena dalam dialog hukum ini yang paling mendasar adalah benar atau tepatnya pengambilan hukum sesuai dengan substansi masalah dan latar belakangnya.

Pemilihan dalam tarjih antara dua qaul dilakukan menurut hasil pentarjihan dari para ahli tarjih yang diuraikan dengan rumus-rumus yang baku dalam isthilahu al-fuqha al-Syafiiyah. Misalnya al-Adhar, al-Masyhur, al-Ashahh, al-Shahih, al-Aujah dan lain sebagainya dari shighat tarjih. Ini berarti bahwa forum Syuriyah tidak melakukan tarjih secara langsung, tetapi hanya kadang-kadang menentukan pilihan tertentu sebagai sikap atas dasar perimbangan kebutuhan.

Hasil keputusan bahtsul masail Syuriyah NU itu, oleh cabang-cabang dan ranting disebar luaskan melalui kelompok-kelompok pengajian rutin, majelis Jumat dan kemudian dipedomani, dijadikan rujukan oleh warga NU khususnya, serta masyarakat pada umunya. Para kiai/ulama NU dalam memberikan petunjuk hukum kepada masyarakatnya juga merujuk kepada keputusan forum tersebut.

Hal ini bukan karena keputusan itu mengikat warga NU, namun karena kepercayann dan rasa mantap warga NU dan masyarakat terhadap produk Syuriyah NU. Meskipun masyarakat atau warga NU tahu, proses pengambilan keputusan dalam forum itu terdapat perdebatan yang sengit misalnya, namun bila keputusan telah diambil, masyarakat dan warga NU mengikuti keputusan itu tanpa ada rasa keterikatan-paksa, tetapi justru dengan kesadaran yang mantap, yang mungkin dipengaruhi oleh budaya paternalistik.

Sebagai kesimpulan dari pembahasan mengenai istinbath al-ahkam dalam kerja babtsul masail Syuriyah NU, dikemukakan beberapa hal sebagai berikut:

1. Kerja bahtsul masail NU mengambil hukum yang manshush maupun mukhorroj dari kitab-kitab fiqih mazhab, bukan langsung dari sumber al-Quran dan al-Sunnah. Ini sesuai dengan sikap yang dipilih yaitu bermazhab, yang berarti bertaqlid dan tidak berijtihad muthlaq, ijtihad mazhab maupun ijtihad fatwa.

2. Metodologi ushul fiqh dan qawaid al-fiqhiyah dalam bahtsul masail, digunakan sebagai penguat atas keputusan yang diambil, apalagi bila diperlukan tandhir dan untuk mengembangkan wawasan fiqih.

3. Ijtihad, taqlid dan talfiq dipahami oleh NU sesuai dengan ketentuan dan pengertian para ulama Syafiiyah.

4. Referensi para ulama NU sebagian besar adalah kitab-kitab Syafiiyah.

5. Keputusan bahtsul masail Syuriyah NU tidak mengikat secara organisatoris bagi warganya.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah disampaikan pada seminar nasional Hukum Islam dan Perubahan Sosial pada 14-16 Oktober 1990. Dengan berbagai revisi, tulisan ini juga pernah disampaikan dalam Munas Alim Ulama di Lampung. Judul asli Istinbath al-Ahkam Dalam Kerja Bahtsul Masail Syuriyah NU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah, Lomba Hari Santri 2018

Selasa, 19 Desember 2017

Resmi Dikukuhkan, Sako Maarif Jatinegara Langsung Gelar Pergama

Tegal, Hari Santri 2018 - Pengurus Koordinator Satuan Komunitas Pramuka Maarif NU Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal masa khidmah 2017-2021 resmi dikukuhkan, Jumat (20/10) di Bumi Perkemahan Krambil Sejati, Jatinegara. Pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua Pimpinan Satuan Komunitas Pramuka Maarif NU Kabupaten Tegal, Haryono.

Hadir dalam kesempatan itu, Pengurus LPMNU Kabupaten Tegal H Bambang Arisyanto, Camat Jatinegara Suwatno, Ketua MWCNU Jatinegara H Rosikhin, Ketua Kwarran Pramuka Jatinegara Slamet HS, jajaran Muspika setempat dan Kepala Sekolah di lingkungan Maarif NU Kecamatan Jatinegara.

Resmi Dikukuhkan, Sako Maarif Jatinegara Langsung Gelar Pergama (Sumber Gambar : Nu Online)
Resmi Dikukuhkan, Sako Maarif Jatinegara Langsung Gelar Pergama (Sumber Gambar : Nu Online)

Resmi Dikukuhkan, Sako Maarif Jatinegara Langsung Gelar Pergama

"Selamat kepada pengurus Sako Maarif NU Jatinegara yang baru dikukuhkan. Apresiasi yang tinggi atas aksi perdananya menggelar Pergama I," ujar Haryono usai pengukuhan

Haryono berharap Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Maarif NU menjadi mitra yang kuat bagi Kwartir Gerakan Pramuka dalam membentuk generasi muda bangsa yang berkarakter.

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

"Saya mengajak agar program latihan peserta didik di Satuan Komunitas atau  Gugus Depan Satuan Pendidikan LP Maarif NU volumenya untuk terus ditingkatkan. Utamanya dalam rangka membentuk generasi muda berkarakter, tentunya dalam lingkup Pramuka Aswaja," ungkapnya.

Ketua Koordinator Sako Pramuka Maarif NU Jatinegara Tahmid mengatakan, pihaknya siap mengembangkan Pramuka di lingkungan Satuan Pendidikan Maarif NU Jatinegara dengan ciri khas ala Ashlussunah wal-Jamaah.

"Alhamdulillah, dengan dukungan semua pihak, kegiatan perdana pengurus baru yakni Perkemahan Penggalang Maarif NU (Pergama) yang digelar bersamaan dengan pengukuhan pengurus. Ini sekaligus menyambut dan menyemarakkan HUT Maarif NU dan Hari Santri Nasional 2017," pungkasnya. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba Hari Santri 2018

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja

Depok, Hari Santri 2018. Seperti apakah Islam ahlusunnah wal jamaah (aswaja) itu? Demikian pertanyaan yang disampaikan oleh Katib Aam PBNU KH Malik Madany kepada para hadirin dalam forum pra munas dan konbes NU di Pesantren Al Hikam Depok, Sabtu (30/8).

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja

Ia lalu menjelaskan bahwa aswaja adalah berislam yang wajar-wajar saja seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Dalam sebuah hadist dikisahkan para sahabat yang berdebat orang Islam yang paling baik seperti apa. Ada yang berpendapat, yang paling banyak puasanya, yang lainnya, yang shalat terus dan ada yang tidak mau menikah. Lalu ketika Rasulullah mendengar perkataan para sahabat tersebut, ia berkata “Demi Allah, aku orang yang paling takut pada Allah, aku puasa tetapi juga berbuka, aku shalat dan juga tidur dan aku juga kawin.”

Dalam sebuah hadist lain, Rasulullah juga menyampaikan pesan. “Barangsiapa tidak senang dengan sunnahku, maka bukan termasuk golonganku.”

Hari Santri 2018

“Karena itu, Islam yang benar adalah Islam yang menyeimbangkan kepentingan duniawi dan ukhrawi,” kata Malik Madany, yang juga pengajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Ia merasa prihatin dengan maraknya kelompok Islam ekstrim yang gampang sekali mengkafir-kafirkan golongan lain yang tidak masuk kelompoknya.

Hari Santri 2018

“Mereka seolah-olah seperti kepala dinas pengkaplingan surga yang sudah mendapatkan SK dari Allah yang beranggapan, siapa yang berhak masuk surga, hanya saya dan teman-teman.” ?

Karena itu, dalam munas dan konbes yang akan digelar pada 1 November mendatang, salah satu materinya adalah khilafah Islamiyah perspektif NU. (mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Hadits, Halaqoh Hari Santri 2018

Selasa, 05 Desember 2017

PWNU Sumbar Tanggapi Soal LGBT dan Kelompok Gafatar

Pariaman, Hari Santri 2018 - Pada perkembangan zaman sekarang umat harus lebih hati-hati menyikapi berbagai peristiwa dan paham yang muncul di tengah masyarakat. Sebagian umat sudah keliru dalam beraqidah. Buktinya, ada yang suka kawin sejenis. Padahal itu sangat bertentangan dengan aqidah agama Islam.

Wakil Ketua PWNU Sumatera Barat Muhammad Nur mengungkapkan hal itu pada malam Ijtima Nahdalatul Ulama (NU) Kota Pariaman di Kantor PCNU setempat, Jumat (12/2) malam.

PWNU Sumbar Tanggapi Soal LGBT dan Kelompok Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Sumbar Tanggapi Soal LGBT dan Kelompok Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Sumbar Tanggapi Soal LGBT dan Kelompok Gafatar

Menurut M Nur, sekarang di Sumatera Barat terdata 18 pasangan yang melakukan nikah sejenis. "Adanya kelompok Gafatar, yang jelas-jelas bertentangan dengan agama Islam. Tetapi kenapa ada warga Kota Pariaman yang masuk ke dalam kelompok itu. Mereka rela mengorbankan harta, jiwanya, dan meninggalkan kampung halaman. Artinya, mereka sudah keliru di dalam beraqidah," kata M Nur yang juga Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi.

Ia berharap bagaimana warga NU Kota Pariaman mau menggerakkan ekonomi umat seperti mendirikan koperasi guna membantu masyarakat ekonomi lemah. Karena dengan berkoperasi mereka bisa diberikan kredit untuk modal usaha.

Hari Santri 2018

Pada sisi lain Amir Azli mengungkapkan, kegiatan malam ijtima cukup positif dan perlu dilanjutkan. Kalau bisa di samping wirid rutin, baca yasinan, tahlilan dan ceramah agama, bagaimana acara ini juga diisi dengan diskusi untuk memikirkan generasi muda yang banyak dilingkari oleh godaan yang merusak jiwa mereka.

Menurut Amir Azli, godaan yang merusak generasi muda itu seperti mengonsumsi narkoba, hubungan badan di luar nikah, bahkan sudah ada yang terjangkit penyakit HIV. Ini termasuk merupakan tugas kita memikirkan solusinya sehingga generasi muda kita terhindar dari penyakit-penyakit masyarakat yang bakal merusak jiwa mereka.

Hari Santri 2018

Tampak hadir dalam acara ini Ketua PCNU Kota Pariaman Syafrizal, Sekretaris Muslimat NU Kota Pariaman Suarni Alif, Kasubag TU Kakamenag Padang Pariaman Ali Anis. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Pondok Pesantren, Santri Hari Santri 2018

Jumat, 24 November 2017

Pergunu DKI Jakarta: Ahok Gagal Paham Soal Pemakaian Jilbab

Jakarta, Hari Santri 2018



Bukan Ahok namanya kalau tidak selalu bikin kontroversi di masyarakat. Mulai dari berbagai kebijakan yang dianggap ototiter, hingga pada kalimat kasar yang tidak sesuai adat istiadat Timur yang diucapkannya ketika mengomentari sebuah masalah.

Pergunu DKI Jakarta: Ahok Gagal Paham Soal Pemakaian Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu DKI Jakarta: Ahok Gagal Paham Soal Pemakaian Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu DKI Jakarta: Ahok Gagal Paham Soal Pemakaian Jilbab

Pada Ramadhan ini, Ahok mengeluarkan statemen melarang sekolah mewajibkan siswanya berjilbab saat bulan Ramadhan. Hal itu dia kemukakan saat mengadakan pertemuan dengan 1700 kepala sekolah tingkat TK, SD, SMP, SMA, dan SMK.

Hari Santri 2018

Menyikapi hal itu, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menilai, Ahok telah gagal paham dalam pelarangan tersebut.?

Hari Santri 2018

"Kita semua paham bahwa bulan Ramadhan adalah momen yang sangat mulia bagi Islam. Di bulan itu suasana religi, nuansa keagamaan sangatlah kuat. Maka, sudah sewajarnya sebagian sekolah mewajibkan berjilbab bagi siswinya yang beragama Islam,” kata Aries Adi Leksono, ketua Pergunu DKI Jakarta, Selasa (7/6).

Selain itu, anjuran penggunaan jilbab kepada remaja putri atau siswi sekolah sangat tepat, karena sesuai dengan norma kesopanan bangsa Timur. Apalagi jika diperhatikan, akhir-akhir ini tindakan asusila sering kali dipicu karena umbaran aurat.

Lebih lanjut, Pergunu DKI menilai anjuran penggunaan jilbab pada boleh Ramadhan memiliki nilai edukasi. Sebagai sarana belajar untuk penggunaan jilbab dalam keseharian siswi sekolah. Karena pembisaan positif dalam kesadaran berjilbab harus dibangun sejak dini, dan bisa jadi berawal dari kewajiban yang diberikan sekolah.?

“Apalagi Ramadhan adalah momen yang sangat tepat untuk belajar merubah diri lebih baik di masa yang akan datang,” imbuhnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ubudiyah, Lomba Hari Santri 2018

Kamis, 23 November 2017

Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai

Gresik, Hari Santri 2018. Penyerasian Almanak Tingkat Nasional dibuka oleh Dirjend Bimas Islam Kementerian Agama RI H Abdul Djamil di Pendopo Kabupaten Gresik, Kamis (9/5) malam. Kegiatan ini digelar oleh Lajnah Falakiyah PBNU dan dihadiri pakar hisab-rukyat NU dari berbagai daerah.

Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai

Abdul Djamil mengatakan, penyerasian hisab merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan hari raya.

“Berbagai upaya tetap kita lakukan meskipun sampai saat ini belum ada titik temu. Kita tidak akan berputus asa,” katanya kepada Hari Santri 2018 usai acara pembukaan.

Hari Santri 2018

Acara pembukaan Penyerasian Almanak Tingkat Nasional juga dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Gresik KH Mahfudz Ma’shum, Bupati Gresik H Sambari Halim dan Wakil Bupati Muhammad Qosim, dan Dirjen Biman Islam Kemenag RI H Abdul Jamil, dan Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat H. Ahmad Izzuddin.

Rais Syuriyah PCNU Gresik KH Mahfudz Ma’shum mewakili panitia daerah mengatakan, hisab penentuan awal bulan menjadi bagian tugas yang harus dilakukan oleh umat Islam karena berkaitan dengan persoalan ibadah.

Hari Santri 2018

“Hukum melakukan hisab adalah fardu kifayah. Semoga para ahli falak mendapatkan pahala yang besar karena berkat mereka ini orang Islam lepas dari dosa,” katanya.

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazali Masroeri mengatakan, sedikitnya ada 20 metode hisab yang berkembang di Indonesia, dan diantaranya memiliki tingkat perbedaan yang cukup signifikan. Maka perlu ada upaya yang disebut oleh NU sebagai “penyerasian hisab”.

“Perbedaan hisab bisa menjadi persoalan. Maka kita lakukan penyerasian hisab atau hisab jama’i yang nantinya akan dipublikasikan dalam bentuk almanak,” kata Kiai Ghazali.

Kegiatan Penyerasian Almanak Tingkat Nasional ini akan berlangsung sampai Sabtu (12/5) besok. Sekretaris Lajnah Falakiyah PBNU H Nahari Muslih mengatakan, kegiatan ini diikuti sedikitnya 60 ahli falak dari berbagai daerah. Sidang akan dibagi ke dalam empat komisi. Dua komini membahas persoalan hisab, dan dua komisi lainnya membahas soal program dan pengembangan Lajnah Falakiyah.

Penulis: A. Khoiru Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 News, Lomba Hari Santri 2018

Selasa, 21 November 2017

Garis Juang GP Ansor dan Banser: Bela Agama dan Negara

Sukabumi, Hari Santri 2018 - Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Sukabumi Fahmi Firmansyah mengatakan, khitah perjuangan Gerakan Pemuda Ansor dan Banser sesuai amanat dan garis perjuangan NU, adalah membela agama, bangsa dan negeri.

“Hal itu sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban khalifatullah fil ardli dan konsistensi dalam menjaga serta mengawal cita-cita NKRI dan Ahlusunnah wal-Jamaah an Nahdliyah,” katanya pada kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Dasar Barisan Ansor Serbaguna ke I (Diklatsar Banser) di Madrasah Diniyah Babusalam Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang berlangsung dari Jumat sampai Ahad (5-7/8).

Garis Juang GP Ansor dan Banser: Bela Agama dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Garis Juang GP Ansor dan Banser: Bela Agama dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Garis Juang GP Ansor dan Banser: Bela Agama dan Negara

Menurut dia, yang menjadi karakteristik manhajul dzikri, manhajul fikri, manhajul harakah dan ruh sekaligus kewajiban dalam kode etik organisasi maupun individual dari GP Ansor dan Banser adalah menjalankan jihad membela agama bangsa dan negara.

Ia mencontohhkan istilah “hubul wathan minal iman” atau cinta tanah air adalah sebagian dari iman yang difatwakan KH Hasyim Asyari menjadi hukum fardu ain bagi umat Islam di Indonesia sebagai wujud nyata bela agama dan negara. Dan hal itu menjadi pegangan GP Ansor dan Banser.

Hari Santri 2018

“GP Ansor sadar bahwa sesungguhnya generasi muda Indonesia sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa perlu senantiasa meningkatkan pembinaan dan pengembangan dirinya untuk menjadikan kader bangsa yang tangguh yang memiliki wawasan kebangsaan yang luas dan utuh yang bertakwa kepada Allah SWT berilmu, mempunyai keterampilan dan berakhlak mulia,” jelasnya.

Hari Santri 2018

Lebih khusus, ia menyebutkan pentingnya Diklatsar yaitu untuk membentuk pemuda Ansor yang memiliki disiplin dan dedikasi yang tinggi, ketahanan fisik dan mental yang tangguh penuh daya juang yang religius sebagai kader penggerak, pengemban sekaligus sebagai benteng ulama dan negara.

Selain dididik dengan kemampuan lahiriah juga batiniah menjadikan Banser sebagai benteng ulama juga disiapkan sebagai tokoh intelektual, yang berguna di masyarakat dalam menyebarkan dan mewariskan keberlangsungan ajaran Islam Ahlusunnah wal-Jamaah an-Nahdliyah.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Satkorcab Kabupaten Sukabumi juga dari Kodim 0607 yaitu Serda Nugroho dan Serka Solehudin. Pada pembukaan dihadiri Kepala Madrasah Diniyah Babusalam KH Elan Ghozali dan Katib Syuriyah Kabupaten Sukabumi KH Ece Mubarok. Sementara dari PW GP Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar dan dari PP GP Ansor .

Kegiatan tersebut diikuti peserta berasal dari 17 kecamatan se-Kabupaten Sukabumi. Jumlah peserta yang mendaftar sekitar 109 orang, tapi yang dinyatakan lulus dan berhak mengikuti kegiatan sekitar 80 orang. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sejarah, Pahlawan, Lomba Hari Santri 2018

Minggu, 19 November 2017

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian IV)

Jakarta, Hari Santri 2018 



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj membicarakan tentang bid’ah bersama para personel grup band Wali. Menurut Kiai Said, banyak bid’ah yang dilakukan umat Islam saat ini seperti ilmu tajwid, nahwu, sharaf, juga ilmu fiqih.

“Ilmu membaca Al-Quran, bid’ah itu, menulis Al-Qur’an, nahwu, sharaf, itu bid’ah,” katanya saat menerima manajer Wali dan personelnya yaitu Apoy yang ditemani Farhan ZM atau Faank (vokalis), Ihsan Bustomi, dan Hamzah Shopi, serta manajemen Wali, di ruangan Kiai Said, lantai tiga gedung PBNU, Jakarta, Rabu sore (18/1).

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian IV) (Sumber Gambar : Nu Online)
Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian IV) (Sumber Gambar : Nu Online)

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian IV)

(Baca: Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian I))



Hari Santri 2018

Seandainya sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq dibangunkan dari kuburan sekarang, menurut Kiai Said, dia tidak akan mengerti ikhfa, idgham, dan iqlab. 

Abu bakar, tidak mengerti mubtada; khabar tidak mengerti,” lanjutnya. “Namun demikian, Abu Bakar mengerti dan bisa membaca Al-Qur’an dengan benar.” 



Hari Santri 2018



Baca: Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian II)

Menurut Kiai Said, sebab pada masa Abu Bakar, belum ada yang merumuskan ilmu tajwid, nahwu, sharaf, dan fiqih. Ulama-ulama yang lahir belakangan kemudian menciptakan ilmunya.

“Zaman Nabi tidak ada fiqih. Tapi kita meniru shalat Nabi, maka lahir ilmu fiqih,” kata kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo dan Krapyak tersebut. 

Baca: Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian III)

Kiai Said melanjutkan, apa yang diperintahkan Allah dan Nabi harus dijalankan. Apa yang dilarang Allah dan Nabi harus dihindari. Namun, kalau tidak ada perintah dan larangan Allah dan Nabi, hal itu diserahkan kepada umat Islam. Jika baik menurut kesepatakan ulama, boleh dilakukan. 

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah tersebut, shalat yang dilakukan umat Islam adalah ijma’ para ulama yang sampai kepada kita hari ini. Sebab, jika umat Islam menggali gerakan shalat dalam Al-Qur’an dan hadits tidak akan ditemukan. 

Makanya, lanjut dia, jika ada orang tidak mengaku taqlid dalam shalat itu adalah bohong. Sebab, dia tidak mungkin menggali dan mencari shalat dari Al-QUr’an. Dia pasti bisa shalat dengan baik karena belajar dari orang tua atau gurunya. Ujung-ujungnya akan belajar kepada imam mazhab dalam Islam secara berantai. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba Hari Santri 2018

Sabtu, 11 November 2017

PMII ITS Bantu Pelajar NU Masuk Perguruan Tinggi Favorit

Surabaya, Hari Santri 2018. Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berusaha membantu pelajar NU yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang difavoritkan banyak siswa dan fakultas kedokteran.

Salah satu upaya PMII ITS untuk itu, mereka bekerjasama dengan PCNU Surabaya dan Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Maun (LAZIM) mengadakan Try Out? Super Camp SBMPTN 2014; ahlinya masuk? ITS dan Fakultas Kedokteran.

PMII ITS Bantu Pelajar NU Masuk Perguruan Tinggi Favorit (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII ITS Bantu Pelajar NU Masuk Perguruan Tinggi Favorit (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII ITS Bantu Pelajar NU Masuk Perguruan Tinggi Favorit

Menurut salah seorang pengurus PMII ITS, Asnuter, kegiatan ini sudah 4 tahun berjalan dan hanya bisa diikuti kelas XII prodi IPA di seluruh pulau Jawa, khususnya, warga NU. “Kegiatan ini bermaksud untuk membekali para siswa kelas XII yang akan mengikuti tes SBMPTN tujuan masuk? ITS dan Kedokteran,” katanya Ahad (27/4)

Hari Santri 2018

Pada try out tahun ini, kata dia, diadakan di kampus ITS Surabaya (27/4), diikuti ratusan siswa. Dari seluruh peserta, hanya 35 terpilih yang akan diasramakan dan dibekali secara full time dan terpadu.

Asnuter menambahkan, peserta kemudian dibina selama 40 hari. Mereka akan dibimbing langsung anggota PK PMII ITS yang sedang kuliah S2. “Disamping dibina secara materi, peserta juga dibina secara rohani,” katanya.

Hari Santri 2018

Para peserta, tambah dia, akan diajak shalat berjamaah, shalat hajat, shalat dluha, dan pengajian kitab kuning. “Tidak heran kegiatan ini terus meningkat peminatnya, karena tiap tahun peserta yang ikut hampir 100% lulus SBMPTN,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kegiatan ini termasuk proses kaderisasi warga NU agar mampu bersaing di kampus favorit dan fakultas kedokteran. Sehingga warga NU semakin mantap dan siap bersaing dikancah akademik dan dunia kedokteran. (Cakkan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Doa Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock