Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Full Day School dalam Kacamata Hak Anak

Oleh Setya Indra Arifin

“Menjadi anak” di abad 21 tampaknya memang terlalu sulit untuk dijalani. Hari-hari yang dipenuhi oleh berbagai tugas belajar yang menumpuk, ditambah dengan kewajiban mengikuti les privat di luar kegiatan sekolahnya, serta harapan orang tua masa kini yang terlalu “muluk-muluk” tentang masa depan anaknya, rasanya semakin melengkapi kesulitan yang dialami anak zaman sekarang. Tak heran jika “menjadi anak” di abad 21 justru membuat anak semakin kehilangan sifat kekanak-kanakannya.

Full Day School dalam Kacamata Hak Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Full Day School dalam Kacamata Hak Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Full Day School dalam Kacamata Hak Anak

Sifat anak yang tak pernah berubah dari sejak dahulu sampai sekarang adalah kesukaannya pada kegiatan bermain. Terlepas dari jenis permainan apa yang disukainya, bermain adalah sesuatu yang hakiki yang tidak akan pernah hilang dari keberadaan seorang anak di muka bumi. Oleh karenanya, lepas dari konteks sosio-kultural tertentu dari suatu masyarakat terkait antara lain bagaimana model pendidikan yang diterima anak, kebutuhan anak untuk bermain tetap tidak boleh dihilangkan atau bahkan dikurangi sedikit pun oleh alasan apa pun.

Potensi pada munculnya pembatasan terhadap imajinasi dan keinginan (yang biasanya diwujudkan dalam cita-cita) murni yang muncul dari si anak, kenyataannya memang sulit untuk dihindarkan. Namun setidaknya, hal itu dapat diterima mengingat kondisi khusus anak yang masih perlu mendapat arahan dan bimbingan sehingga membuat pendidikan yang diterima oleh anak tetaplah menjadi hal yang tidak boleh diabaikan, terutama dan khususnya pendidikan dan bimbingan dari orang tua.

Hari Santri 2018

Pada satu sisi, tulisan ini barangkali akan terlihat begitu berpihak pada kebebasan anak dalam menentukan sikapnya. Namun di sisi yang lain, oleh sebab pendidikan merupakan sesuatu yang juga tak bisa dikesampingkan secara mendasar, maka pada akhirnya gagasan yang hendak ditawarkan bukan sama sekali terlepas dari kenyataan akan peran penting institusi pendidikan dalam membangun karakter anak untuk menjadi pribadi yang baik dan berguna kelak bagi masyarakatnya di masa yang akan datang. Hanya saja perlu sekali lagi digarisbawahi bahwa bermain adalah hak paling asasi yang wajib terpenuhi bagi anak di manapun mereka berada.

Hari Santri 2018



Pembuat Kebijakan Lupa Masa Kanak-Kanaknya?


Sebagaimana telah dikemukakan di awal bahwa pada saat ini, banyak hal yang membuat sifat kekanak-kanakan pudar dari kehidupan seorang anak. Bukan karena alasan yang bisa dianggap alamiah terjadi, namun karena sesuatu yang berada di luar dirinya yang pada akhirnya memaksa si anak untuk sulit mempertahankan sifat dasarnya. Berbagai bentuk pemaksaan kehendak pribadi anak, adalah bentuk paling konkret dari pelanggaran terhadap hak anak dalam memperoleh kegembiraan dari proses bermain.

Hak untuk bermain secara internasional diatur dalam Konvensi Hak Anak maupun secara konstitusional, telah diatur pula di dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Secara tegas dalam salah satu pasal dalam peraturan tersebut mengatakan bahwa, “Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri”.Sehingga pengakuannya, tidak lagi sekadar menjadi pengakuan yang umum hadir di masyarakat, namun juga membutuhkan pengakuan dari Negara dalam hal ini Pemerintah, selain juga kewajiban bagi negara/pemerintah itu untuk melakukan perlindungan dan pemenuhan atasnya. Konsekuensi terhadap kewajiban dan tanggung jawab dalam penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak anak, sama persis layaknya kewajiban dan tanggung jawab di dalam menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi manusia. Hal ini didasari oleh kesadaran akan peran penting seorang anak dalam membangun masa depan yang lebih baik. Sebagai generasi yang dalam dirinya tersemat tugas-tugas peradaban dalam berbagai bentuk tanggung jawab yang menantinya di masa yang akan datang, membuat kedudukan seorang anak sangatlah penting dan tak boleh dihiraukan.

Perlu pula disadari bahwa keterkaitan antara tugas pemenuhan hak anak dan hak asasi manusia pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Keberadaan hak asasi manusia haruslah integral dengan keberadaan hak asasi anak. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa dalam melakukan pemenuhan terhadap hak asasi manusia, maka hak anak adalah sesuatu yang juga bahkan terlebih dahulu wajib terpenuhi.

Terkait dengan hak anak untuk bermain, barangkali mula-mula kita semua terlebih dahulu harus jujur bahwa kita semua lahir di dunia dengan terlebih dahulu melalui masa kanak-kanak itu. Oleh karenanya tanpa perlu diragukan lagi, mengakui dan melindungi serta melakukan pemenuhan atasnya sudah barang tentu adalah kewajiban kita semua, bukan hanya Negara. Negara manapun tak terkecuali, memiliki kepentingan dan kebutuhan yang sama untuk menyelamatkan generasi yang akan datang dari kehancuran. Hanya saja, usaha itu tetap harus mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak. Dan kepentingan terbaik yang paling mungkin dan sangat mudah untuk dilihat adalah kepentingan dan kebutuhannya akan bermain.

Kita boleh saja mengesampingkan kehadiran dan kedudukan anak dalam kehidupan kita. Hanya saja barangkali proses kehidupan yang pernah dan telah kita alami, tak ada ubahnya dengan proses kelam yang berisi pemaksaan terhadap anak dan penghilangan atas hak asasi pribadinya yang paling hakiki, yaitu bermain. Jika ada istilah “masa kecil kurang bahagia”, mungkin saja itu adalah ungkapan paling tepat yang bisa digunakan dalam menilai berbagai bentuk sikap maupun kebijakan negara yang sama sekali tidak mau mengakui? hak anak untuk bermain. Maka mungkin saja, berbagai bentuk kebijakan negara yang notabene berkewajiban dan bertanggung jawab penuh terhadap pengakuan mendasar pada hak anak, adalah kebijakan yang ditelurkan dari mereka yang masa kecilnya merupakan korban pemaksaan kehendak orang tuanya. Mungkin saja mereka yang pada masa kanak-kanaknya, tidak pernah diberi kesempatan untuk bermain dan bergembira layaknya seorang anak pada umumnya. Atau mungkin saja, mereka hendak melupakan masa kanak-kanaknya yang penuh kegembiraan dan permainan.



Pengabaian atas Hak Anak untuk Bermain


Dalam konteks pemenuhan hak asasi manusia, pengabaian terhadapnya adalah merupakan bagian dari pelanggaran terhadap hak asasi manusia itu sendiri. Jika tanggung jawab dan kewajiban atas pemenuhan tersebut salah satunya dan terutama berada pada institusi negara, maka setiap kebijakan dan tindakan apapun dari pemerintah negara yang bersangkutan, yang secara hakiki hendak atau bahkan telah mencerabut hak asasi dari seorang manusia, adalah bentuk pelanggaran yang tak bisa dibiarkan terjadi.

Jika dalam beberapa waktu yang lalu, kebijakan full day school telah ditelurkan negara dalam melaksanakan kewajibannya dalam memenuhi hak dasar di bidang pendidikan, maka kewajiban tersebut senyatanya telah bertentangan dengan kewajibannya yang lain dalam pemenuhan hak untuk bermain yang tak kalah mendasarnya. Silakan saja berdebat tentang perlu atau tidak perlunya seorang anak bermain dengan bebas. Namun perlu dipertimbangkan, salah seorang psikolog anak dan remaja bahkan pernah memberikan gambaran terkait waktu ideal yang efektif bagi seorang anak untuk belajar adalah maksimal 2 (dua) jam.

Meski kemudian, sah-sah saja bagi kita mengatakan bahwa bermain dapat dilakukan dengan mengemas bentuk permainannya dengan kemasan “belajar”, tetap saja, kewajiban asasinya untuk bermain dan bukan semata-mata untuk belajar, tetap menjadi prioritas yang tak bisa dikesampingkan. Atau kiranya bagi kita, hal ini sebetulnya dapat saja diselesaikan dan dijawab dengan pertanyaan sederhana, “jika Anda seorang anak yang seharian penuh harus menjalani proses pendidikan di sekolah tanpa diberi kesempatan sedikitpun untuk beristirahat sejenak dan berganti pakaian bebas di rumah sehingga Anda bisa bebas pula untuk memilih permainan apa yang hendak Anda mainkan, bahagiakah Anda sebagai seorang anak?”.Jika Anda seorang anak, tampaknya semua dari kita harus mengakui bahwa kita akan sangat mungkin bosan. Kalaulah selepas itu, kita sebagai seorang anak memiliki kewajiban untuk mengaji di sekolah-sekolah Arab (madrasah diniyah) ataupun jika memang harus dibarengi dengan semacam bimbingan belajar (les) di luar kegiatan sekolah,

setidaknya, kita sudah sempat makan di rumah, berganti pakaian, istirahat sejenak, menikmati kebersamaan dengan keluarga tercinta, lalu pergi dari rumah untuk kembali menuntut ilmu dengan gembira, bukan dengan kelelahan dan kebosanan.

Penulis adalah Peneliti Satjipto Rahardjo Institute (SRI), Semarang



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Warta, Makam Hari Santri 2018

Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur

“Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Beginilah salah satu ungkapan sikap KHR As’ad Syamsul Arifin, sebagaimana dikutip media nasional beberapa hari pasca Muktamar NU ke-28 di Krapyak, 26 tahun lalu. Konon, KHR As’ad kecewa besar pada lima tahun kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. Gus Dur dianggap kebablasan. Pemikiran dan tindak-tanduk liberalnya diniliai sudah keluar dari rel Aswaja.

Dari berita yang dimuat di koran, pemikiran dan tindak-tanduk liberal yang dialamatkan pada Gus Dur antara lain terkait keikutsertaannya sebagai juri Festival Film Indonesia. KHR As’ad bahkan menyebut Gus Dur kiai ketoprak lantaran aksinya ini. Lalu terkait wacana Gus Dur mengubah salam “assalamu’alaikum” menjadi “selamat pagi”, dan beberapa kontroversi lain yang mengiringi perjalanan kepemimpinan Gus Dur.

Puncak ketidakcocokan Ketua Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar NU ke-27 ini terjadi pada hari terakhir Muktamar Krapyak, Rabu siang, 29 Nopember 1989. Di hadapan media di arena Muktamar yang telah aklamasi memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini, lantang menyatakan diri mufaraqah (memisahkan diri).



Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur

Ketidakcocokan KHR As’ad dengan Gus Dur sebenarnya sudah lama. Keputusan mufaraqah bisa dibilang lebih merupakan kulminasi dari perselisihan panjang antarkeduanya. Perselisihan awal setidaknya sudah dimulai ketika pleno pertama PBNU hasil Muktamar Situbondo, di Pesantren Tebuireng, Jombang pada Januari 1985. Keputusan pleno menyatakan bahwa yang berhak mewakili NU keluar adalah Rais ‘Aam KH Ahmad Shiddiq, dan Ketua Umum Tanfidziyah KH Abdurrahman Wahid. Keputusan ini dinilai membatasi gerak dan langkah ulama sepuh lain, terutama KHR Asad yang sebelumnya dikenal dekat dengan Presiden Soeharto dan menteri-menterinya.

Beberapa kontroversi Gus Dur lainnya sepanjang 1984-1989 semisal; keterlibatan Gus Dur menjadi ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), kesediaan membuka Malam Puisi Yesus Kristus, dan kecenderungan membela Syiah, juga turut menjadi pemicu kerenggangan komunikasi antara KHR As’ad beserta kiai-kiai sepuh lain dengan Gus Dur. Hal ini berujung peristiwa ‘gugatan’ pada Gus Dur di Pesantren Darut-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, pada Maret 1989.

Sebuah fakta politik menarik, menyusul mufaraqah KHR As’ad, Gus Dur justru makin gencar melawan Orde Baru. Gus Dur makin aktif mendukung para aktivis melawan pemerintah. Menjelang pemilu 1992, di tengah kuatnya kekuasaan Soeharto, Gus Dur bahkan berani terang-terangan menolak penguasa negeri 32 tahun itu untuk dipilih kembali. Gus Dur terus menyerang Pak Harto hingga lengser ke prabon pada 1998.

Hari Santri 2018

Banyak literatur menyebut, KHR As’ad Syamsul Arifin adalah sosok wali quthub. Kesaksian KH Mujib Ridwan misalnya, menyebut jika KHR As’ad pernah menangis tersedu-sedu lantaran ‘kedoknya’ terbuka, usai dibacakan sebuah surat Al-Qur’an. KH Mujib Ridwan adalah putra KH Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU, yang lebih 20 tahun mengabdi pada KH As’ad Syamsul Arifin. Di luar kharisma keulamaannya, KHR As’ad adalah seorang guru dan pengamal 17 jenis tarekat. Meskipun demikian beliau tidak pernah memaklumkan diri sebagai seorang mursyid tarekat di depan umum. KHR As’ad juga mendalami ilmu kanuragan yang membuat banyak bajingan bertekuk lutut kepadanya.?

Hari Santri 2018

Konon, kewalian KHR As’ad inilah yang melatarbelakangi beberapa tindakannya sehingga tidak mudah dimengerti khalayak awam. Satu di antaranya menyangkut kerenggangan KHR As’ad dan Gus Dur. Kala itu tentu saja tak sedikit Nahdliyin di akar rumput yang kebingungan. Meski tak sampai menciptakan kubu-kubu yang saling berseberangan, konflik panjang dua tokoh beda generasi ini memunculkan pertanyaan di banyak pihak. Tak terkecuali rombongan Kepala Sekolah SLTP dan SLTA Ma’arif Kotamadya Surabaya. Suatu hari, pada 15 April 1987, mereka serombongan sowan ke ndalem KHR As’ad di kompleks Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Sesampai di ndalem, rombongan diterima langsung oleh KHR As’ad yang kala itu didampingi KH Mudjib Ridwan. Rombongan pun mendapat penjelasan langsung bahwa beliau mufaraqah dengan Gus Dur karena Gus Dur kiai ketoprak. Dengan menjadi juri FFI di Bali, Gus Dur dinilai sudah tidak sesuai dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari, dan penjelasan lain-lain seterusnya sebagaimana yang sudah beredar di media massa.

Dari Situbondo, rombongan meneruskan silaturahim berikutnya ke Jember ke ndalem KH Ahmad Shiddiq. Di hadapan Rais ‘Aam PBNU ini, disampaikanlah panjang lebar kebingungan-kebingungan mereka mengenai hubungan KHR As’ad dengan Gus Dur.

Dan beginilah dawuh KH Ahmad Shiddiq. “Kulo, dan sampean-sampean semua—seraya menunjuk satu persatu rombongan yang hadir—bukan levelnya. Bukan kelasnya menilai Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin.” Demikianlah yang pada intinya, Nahdliyin yang belum masuk levelnya, tidak pantas menilai sikap mufaraqah KHR As’ad dengan Gus Dur. Keduanya memiliki maqom (tingkatan spiritual) yang tinggi di atas kebanyakan.

Menyikapi friksi di tingkatan elit NU yang kian membingungkan ini, suatu ketika beberapa anggota Dewan Khas IPSNU Pagar Nusa dipimpin H. Suharbillah memutuskan sowan ke KH Khotib Umar, Pengasuh Pesantren Raudhatul Ulum Sumberwiringin, Sukowono, Jember. IPSNU Pagar Nusa kebetulan saat itu baru saja dideklarasikan. KH Khotib Umar adalah salah seorang ulama pejuang yang wara’ yang sangat disegani di kalangan Nahdliyin.

Kepada para pendekar Pencak Silat NU ini, KH Khotib Umar bertutur bahwa suatu waktu beliau menghadap pada KHR As’ad Syamsul Arifin bermaksud meminta penjelasan mengenai masalah dengan Gus Dur. Dan KHR As’ad dawuh bahwa memusuhi Gus Dur merupakan strategi menghadapi rezim Orde Baru. Supaya Gus Dur tidak dihabisi maka beliau memusuhi Gus Dur. Untuk menyelamatkan beliau. “Saya dengan Gus Dur hanya berbeda dalam siyasi, politik! Mufaraqah bukan berarti benci Gus Dur. Malah saya sangat mengasihi Gus Dur. Saya khawatir kalau Gus Dur di penjara oleh penguasa—karena sikap kritisnya­—lalu siapa yang akan membela? Demikian dawuh sang wali quthub. (Didik Suyuthi)

? . * Sebagian data diperoleh dari catatan pribadi DR KH Suharbillah

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pondok Pesantren, Makam Hari Santri 2018

Sabtu, 10 Februari 2018

Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo

Menyimak sejarah kehidupan seorang tokoh besar itu sepertinya tiada habisnya, selalu mengalirkan inspirasi baru dan pelajaran penuh makna. Apalagi yang dibicarakan adalah tokoh ulama atau kiai besar. Satu di antara sekian banyak tokoh ulama di Indonesia itu adalah al-maghfurlah KH Mahrus Ali (wafat 1985), pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo generasi kedua, menantu dari KH Abdul Karim pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Artikel singkat ini hanya bermaksud menyajikan sepenggal fragmen kecil dari sekian banyaknya fragmen kehidupan KH Mahrus Ali yang meninggalkan begitu banyak keteladanan bagi generasi setelahnya. Oleh karena itu sesuai judul di atas, di sini sekadar hendak membabarkan bagaimana strategi atau metode belajar Kiai Mahrus Ali berdasarkan penuturan beberapa saksi sejarah yang masih menjumpai (menangi) beliau.

Salah satu murid dekat beliau, yaitu KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bercerita bahwa Kiai Mahrus Ali ketika belajar di pondok menggunakan sistem nazar. Misalnya, membuat komitmen pada diri sendiri, seperti, "saya tidak akan keluar kamar sebelum hafal Alfiah, saya tidak akan pakai baju, sebelum menguasai materi bab ini, dan begitu seterusnya".? ?

Almaghfurlah KH A Idris Marzuki saat diwawancarai tim penulis buku Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda, tahun 2010, menguatkan pernyataan yang disampaikan Gus Mus di atas. Beliau menuturkan bahwa Kiai Mahrus Ali itu sangat kuat dalam memaksa dan menahan diri supaya bisa mempeng (sangat tekun belajar). Kiai Mahrus mereka-reka sendiri, menciptakan pula metode sendiri dalam belajar. Saat masih nyantri, Mbah Kiai Mahrus membangun sebuah kamar yang didesain supaya jika beliau sudah memasukinya akan kesulitan keluar dari ruangan itu. Hal tersebut ia lakukan agar benar-benar dapat fokus muthalaah dan belajar. Jadi model beliau menguasai suatu disiplin ilmu di antaranya seperti itu. Semua keinginan hawa nafsunya ditahan sedemikian rupa.

Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo

Selain itu, KH. Yasin Asmuni, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Tullab Petuk Semen Kediri, juga memiliki kenangan khusus saat ia dahulu ikut ngaji dengan Mbah Kiai Mahrus. Kiai Mahrus ketika mengaji, kata Kiai Yasin, ? seperti halnya seorang syaarih (komentator kitab). Tidak jarang beliau mengatakan, wahadza dhaifun, wa hadza mutamadun (pendapat ini argumentasinya lemahdan pendapat yang ini kokoh argumentasinya). Bahkan kala itu beliau kerap curiga dengan redaksi yang ada dan mengatakan laalla showab begini.

Di lain sisi, tambah KH. Yasin Asmuni, setiap beliau menyebut nama mushannif (pengarang kitab), pasti doa rahimakumullah selalu beliau lantunkan. Itu menandakan betapa penghormatan Kiai Mahrus Ali pada seorang guru begitu besar.

Hari Santri 2018

Selanjutnya, Kiai Mahrus Ali dikenal juga sebagai kiai yang suka ikut ngaji pasaran di Bulan Ramadahan ke berbagai pondok pesantren. Bahkan budaya ikut ngaji pasaran ini tetap beliau jalankan meskipun sudah menjadi kiai kharismatik dan mempunyai anak.

Sementara itu, menurut KH Anwar Mansur, menantu Kiai Mahrus, keteladanan Mbah Kiai Mahrus yang perlu kita ikuti adalah kemempengannya (kesungguhannya) dan proporsionalitas serta konsistensi beliau dalam mengatur dan menggunakan waktu. Aktivitas keseharian beliau dijadwal secara teratur. Mulai waktu untuk istirahat, untuk shalat tahajud, waktu muthalaah (mengkaji ulang pelajaran), sampai waktu khusus yang dialokasikan untuk mengulang pelajaran sehabis shalat Subuh. Bagi Mbah Mahrus,waktu merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya, sehingga beliau seproporsional mungkin dalam mengatur waktu. Jadi ada waktu-waktu khusus yang beliau alokasikan seperti waktu untuk menghapal jam berapa, waktu nderes jam berapa, serta waktu istirahtpun beliau perhatikan.

Demikian selintas dari sebagian metode dan karakter KH Mahrus Ali ketika belajar dan mengaji. Salah satu nasihat bijak masyayiikh (guru-guru sepuh) menyatakan, "melihat seorang tokoh besar itu jangan cuma ketika ia telah menjadi tokoh besar (nihayah) saja, tetapi lihat pula bagaimana mereka saat menjalani proses panjang (bidayah) sebelum mereka sukses dan berhasil menjadi seorang tokoh." Spirit maqalah itu pula yang kami tuju dari tulisan pendek sederhana ini.?

?

Hari Santri 2018

Oleh M. Haromain, alumnus MHM Lirboyo 2010, dan anggota tim penulis buku “Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda, terbit 2010 pada peringatan satu abad PP. Lirboyo. Data dalam tulisan ini diambil dari buku tersebut.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Sunnah, Bahtsul Masail Hari Santri 2018

Senin, 29 Januari 2018

Komitmen Kemanusiaan, PBNU Kembali Kirim Tim Medis ke Bangladesh

Jakarta, Hari Santri 2018 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi kembali melepas tim medis untuk pengungsi Rohingya pada Senin (11/12) malam di gedung PBNU, Jakarta Pusat. Tim medis yang terbentuk atas kerja sama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim PBNU (LPBI PBNU), Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) ini merupakan keberangkatan gelombang ketiga. 

Komitmen Kemanusiaan, PBNU Kembali Kirim Tim Medis ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)
Komitmen Kemanusiaan, PBNU Kembali Kirim Tim Medis ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)

Komitmen Kemanusiaan, PBNU Kembali Kirim Tim Medis ke Bangladesh

Setelah pelepasan, tim medis dari NU akan langsung bergabung dengan Indonesia Humanitarian Alliance (IHA) dan rencananya berangkat bersama-sama ke Bangladesh pada Kamis (14/12) untuk membantu pengungsi Rohingya yang mulai terserang berbagai penyakit. 

Ketua Harian Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas yang didaulat melepas tim medis meminta agar masyarakat Indonesia bersyukur atas kedamaian yang diberikan Allah SWT.  

Robikin mengatakan, Indonesia yang terdiri atas beragam agama, etnis, bahasa, dan budaya masih bisa menjaga kedamaian karena Islam sebagai mayoritas di Indonesia menganut Islam yang toleran. 

"Islam yang melindungi minoritas. Islam yang menghargai perbedaan," jelasnya. 

Hari Santri 2018

Sementara kembalinya NU memberangkatkan tim medis, kata Robikin, sebagai bentuk keprihatinan dan komitmen kemanusiaan terhadap pengungsi Rohingya di Bangladesh. 

Ia berharap, aksi yang dilakukan NU bisa menginspirasi kelompok-kelompok lain untuk terciptanya perdamaian dunia. 

Hari Santri 2018

"Kami berharap bahwa nilainya bisa ditularkan, bisa disalurkan ke dunia, sehingga masyarakat dunia akan mencapai perdamaian abadi," jelasnya. 

Turut mendampingi pada kesempatan itu, Wakil Sekretaris PBNU H Isfah Abidal Azis, Ketua LAZISNU Syamsul Huda, dan Wakil Sekretaris LPBI PBNU Ubaidillah Sadewa. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Aswaja, Internasional Hari Santri 2018

Kamis, 25 Januari 2018

Aswaja NU Center PCNU Pamekasan Sebar Buku Khazanah Aswaja

Pamekasan, Hari Santri 2018 - Pengurus Aswaja NU Center (Asnuter) PCNU Pamekasan terus bergerak aktif menguatkan paham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Selain getol menjadi fasilitator kajian keaswajaan, pengurus Asnuter juga menyebarkan buku Khazanah Aswaja ke masyarakat sekaligus warga pergerakan.

"Kami melakukan itu supaya pemahaman terhadap Aswaja betul-betul berbasis literasi, tidak sebatas dari diskusi semata," terang Sekretaris Asnuter K Mukhlis Nashir, Ahad (19/11).

Aswaja NU Center PCNU Pamekasan Sebar Buku Khazanah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja NU Center PCNU Pamekasan Sebar Buku Khazanah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja NU Center PCNU Pamekasan Sebar Buku Khazanah Aswaja

Tiap kali menjadi pemateri dalam sebuah forum diskusi, pria yang akrab disapa Ra Mukhlis tersebut membagikan buku Khazanah Aswaja secara gratis kepada panitia. Itu masih terlihat pada Sabtu (18/11) saat Ra Mukhlis menjadi pemateri Aswaja sebagai Manhajul Fikr di Mapaba Pengurus Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PR PMII) As-Syafiie Komisariat Universitas Madura (Unira) Cabang Pamekasan di Balai Desa Plakpak, Pegantenan, Pamekasan.

"Buku yang diterbitkan PWNU Jawa Timur ini penting kita pelajari, mesti jadi pijakan dalam tiap kali diskusi keaswajaan," tarang Ra Mukhlis Nashir.

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Ketua Rayon PMII As-Syafiie Umarul Faruq menegaskan, pihaknya akan memanfaatkan dengan baik buku yang diterimanya dari mantan aktifis PMII UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Setelah kegiatan Mapaba, terangnya, akan ada tindak lanjut dan kajian sehingga nanti buku Khazanah Aswaja bisa dibedah bersama-sama oleh warga pergerakan. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam Hari Santri 2018

Minggu, 21 Januari 2018

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid

Sukoharjo, Hari Santri 2018. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sukoharjo bersama Jam’iyyah Al-Qurra wa Al-Huffazh (JQH) Al-Wustha IAIN Surakarta mengadakan kerjasama dalam bidang sholawat dan kajian keislaman untuk memperingati maulid Rasul SAW.

Mereka menggelar sholawatan bersama di mushola Al-Ilham, Kartasura, Ahad (12/1) pagi.

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid

Sebelumnya Ketua PC IPPNU Sukoharjo dan Ketua IPPNU PAC Kartasura bersilaturahmi dengan JQH Al-Wustha, kata seorang pengurus JQH Asrul yang juga mahasiswa Fakultas Syariah, Rabu (15/1).

Hari Santri 2018

Keduanya mengajak JQH Al-Wustha mengisi acara rutinan Germas (Gerakan Remaja Pecinta Sholawat) yang dilaksanakan IPNU dan IPPNU Sukoharjo.

Bagi JQH Al-Wustha, kegiatan itu merupakan salah satu wujud pengabdian masyarakat “dalam rangka menjaga kearifan lokal. Tentunya bertujuan membangun ruang lingkup dakwah yang lebih luas,” terang Asrul.

Hari Santri 2018

Sementara itu Ketua IPPNU PC Sukoharjo Fitria Ayu Luthfi mengharapkan kegiatan ini bisa menjadi batu loncatan bagi IPPNU yang beberapa tahun lalu “mati suri”. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Kajian Islam, Cerita Hari Santri 2018

Kamis, 18 Januari 2018

Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara

Pringsewu, Hari Santri 2018. Madrasah Aliyah Maarif NU Keputran, Sukoharjo, Pringsewu, Lampung tak henti menorehkan prestasi khususnya dibidang olahraga atletik. Setelah meraih prestasi diberbagai lomba baik tingkat Kabupaten maupun Provinsi, Madrasah Favorit di Kabupaten Pringsewu ini berhasil memborong piala pada ajang Lomba lari 5 K yang diselenggarakan oleh Kantor Kecamatan Sukoharjo.

Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara

Piala-piala yang dikoleksi pada ajang yang digelar dalam Rangka HUT ke-72 RI tersebut disumbangkan oleh atlet putra meliputi Juara 1 Lari 5 KM atas nama M. Syahrul Fahmi, Juara 2 Lari 5 KM atas nama Jaini Munir, Juara 3 Lari 5 KM atas nama Ridotus Sofyan dan Juara 5 Lari 5 KM atas nama M. Lutfi Yusuf.

Sementara untuk atlit puteri berhasil menyumbangkan piala yaitu Juara 2 Lari 5 KM atas nama Elmi Viki Husnul dan Juara 5 Lari 5 KM atas nama Siti Mustika.

Tidak hanya dari lomba lari, duta atlit MA Maarif Keputran juga berhasil menambah 3 koleksi piala dengan berhasil memborong juara 1 Gerak Jalan Putera dan Juara 1 dan 2 Gerak Jalan Puteri.

"Diregu putera berhasil meraih Juara satu setelah unggul dari SMKN 1 Sukoharjo sebagai Juara 2 dan MA Darul Ulum sebagai Juara 3. Sedangkan diregu puteri berhasil menjadi Juara 1 dan 2 diikuti SMAN 1 Sukoharjo sebagai juara 3," kata Kepala Madrasah tersebut Irsadul Ibad sesaat setelah kegiatan.

Hari Santri 2018

Atas raihan ini, Irsad yang juga Sekretaris LP Maarif NU Kabupaten Pringsewu ini mengaku bahagia sekaligus bingung karena tempat khusus piala yang ada di Madrasahnya sudah tidak cukup lagi menampung piala tersebut.

"Pastinya piala tersebut disimpan sementara ditempat lain sambil menunggu lemari baru khusus piala rampung dipesan," katanya, Rabu (16/8).

Rasa bahagia dan dukungan juga diungkapkan salah satu Guru Madrasah tersebut Wawan Krisdiyanto melalui Media Sosial Facebook miliknya.

Hari Santri 2018

"Alhamdulillah tetap istiqomah dan rendah hati ya santri-santriku dari MA Maarif Keputran. Selamat atas orestasi yang telah dicapai. Jangan puas sampai dengan ditingkat ini saja, masih ada jenjang yang lebih tinggi lagi, terus berlatih dan berkarya untuk MA Maarif tercinta kita, Allohu Akbar," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Senin, 08 Januari 2018

Ikuti, Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional ISNU Banyumas!

Banyumas, Hari Santri 2018. Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Banyumas, Jawa Tengah, mengadakan lomba menulis karya tulis ilmiah (LKTI) tingkat nasional. Hal ini didorong oleh keinginan agar masyarakat turut menyumbang pemikiran terhadap berbagai problematika umat.

Ikuti, Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional ISNU Banyumas! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikuti, Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional ISNU Banyumas! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikuti, Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional ISNU Banyumas!

Secara khusus, ISNU Banyumas menantang peserta lomba untuk menulis dari tema besar yaitu “Rekonstruksi Kinerja NU di Era Global” dengan panjang tulisan 15-20 halaman.

Tulisan dapat dikirim ke email rohman.boys@gmail.com atau dikirim langsung ke sekretariat panitia di Pesantren Mahasiswa An-Najah, Jalan Moh Besar Kutasari Purwokerto, paling lambat tanggal 7 September 2015 (cap pos). Tentang persyaratan peserta dan hadiah, informasinya dapat diakses di situs www.isnubanyumas.org.

Hari Santri 2018

Ketua panitia, Suparjo, mengatakan ke depan kegiatan ini merekomendasikan konsep dan instrumen teknis penting dalam mendukung kemajuan kesejahteraan bangsa. Hasil lomba ini akan dibukukan dan diseminarkan.

Hari Santri 2018

"Jadi tidak sekadar lomba memenuhi syarat kepentingan formal semata, namun ada spirit untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara untuk lebih baik. Kami tunggu partisipasi masyarakat untuk ikut serta dalam lomba yang memang ditujukan umum untuk semua kalangan," imbuhnya, Rabu (8/7).

Humas panitia LKTI Nasional, Ulul Huda, berharap melalui kegiatan ini banyak sumbangan pemikiran kaum intelektual untuk kemajuan sumber daya manusia khususnya warga NU di Banyumas.

"Ini juga menjadi bagian dari pemberdayaan kaum intelektual untuk berkontribusi untuk memberikan edukasi dan pengawasan sosial di sekitarnya. Dengan pemikiran mereka, kami yakin dapat diperoleh berbagai alternatif pemecahan masalah," jelasnya. (Susanto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Sunnah, Quote, Makam Hari Santri 2018

Senin, 01 Januari 2018

Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama?

Jakarta, Hari Santri 2018. Masalah penodaan agama bukanlah isu baru. Sejak Kemerdekaan Indonesia, masalah ini sudah mengemuka. Presiden Soekarno telah mengeluarkan Penetapan Presiden No.1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang kemudian dinamakan UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.?

Untuk melihat pandangan para tokoh agama terhadap UU tersebut, Balitbang dan Diklat Kementerian Agama (2013) melakukan penelitian untuk melihat pandangan para pemuka agama terhadap isi UU No.1/PNPS/1965. Termasuk yang ditanyakan adalah soal berapa lama hukuman yang layak bagi para pelaku penodaan agama.

Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berapa Lamakah Hukuman yang Layak untuk Pelaku Penodaan Agama?

Hasil riset tersebut menemukan, para pemuka agama Islam terbagi ke dalam 2 bagian. Pertama, pemuka agama Islam memandang bahwa hukuman maksimal 5 tahun penjara sudah dianggap memadai apabila dilaksanakan dengan benar. Kedua, pemuka agama Islam memandang bahwa hukuman maksimal 5 tahun dianggap kurang memadai terlebih bagi para penggagas dan pemimpin faham yang dianggap telah melakukan penistaan/penodaan agama. Hukuman berat tersebut penting sebagai upaya memberikan efek jera serta langkah preventif agar tidak terjadi lagi tindakan penistaan/penodaan terhadap agama.?

Mengenai perlu atau tidaknya pendekatan persuasif terhadap pelaku penistaan/penodaan agama, para pemuka agama Islam pada umumnya menyatakan perlu dilakukan dialog dan konsultatif sebelum diajukan ke pengadilan.

Menurut para pemuka agama Islam, pokok-pokok ajaran Islam yaitu Rukun Iman, Rukun Islam, dan Akhlak. Namun demikian perbedaan sekte/aliran dalam Islam, mereka sepakat bahwa selama perbedaan itu masih dalam koridor ikhtilaf (perbedaan pendapat yang tidak qath’i), maka ia dipandang tidak menodai agama. Namun apabila sudah menyangkut perbedaan ikhtirof (perbedaan pendapat yang qath’i), maka jelas mengandung unsur penistaan/penodaan agama.

Hari Santri 2018

Pandangan pemuka agama terhadap pelaksanaan UU No.1/PNPS/1965 terbagi dua: Pertama, pemerintah dinilai belum benar-benar melaksanakan UU tersebut. Kedua, pemerintah dinilai sudah melaksanakan dengan baik UU tersebut.

Selanjutnya pandangan pemuka agama Islam terhadap siapa yang paling berhak menentukan bentuk penistaan/penodaan agama, pemuka agama Islam menyatakan bahwa pemerintah melalui Kementerian Agama RI yang berhak menentukan bentuk penodaan agama dengan tetap memperhatikan pandangan dari pemuka agama Islam di MUI dan ormas Islam. Meskipun demikian terdapat pandangan lain yang menyatakan bahwa MUI yang paling otoritatif dalam menentukan bentuk penistaan/penodaan agama. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Berita, Makam, Warta Hari Santri 2018

Jumat, 22 Desember 2017

Tegaknya Pancasila Tanggung Jawab Seluruh Anak Negeri

Kendal, Hari Santri 2018. Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri-Kendal Shuniyya Ruhama menyatakan, Pancasila bagi warga Nahdlatul Ulama (NU) sudah jelas namun demikian merupakan tanggung jawab seluruh anak negeri.

Tegaknya Pancasila Tanggung Jawab Seluruh Anak Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Tegaknya Pancasila Tanggung Jawab Seluruh Anak Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Tegaknya Pancasila Tanggung Jawab Seluruh Anak Negeri

"Tanggal 1 Oktober biasa diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila. Asal mula peringatan hari tersebut adalah ketika Pancasila berhasil diselamatkan dari kelompok dan golongan yang hendak mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Dalam hal ini, waktu itu adalah komunis," ujar Shuniyya,  di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (3/10).

Ia melanjutkan, keabsahan Pancasila sebagai sebuah dasar negara merupakan harga mati. Sudah terbukti dengan pernyataan langsung dari para tokoh NU yang sudah tidak diragukan lagi kredibilitas keilmuan dan ketinggian khidmahnya untuk bangsa Indonesia.

Hari Santri 2018

Yang Mulia Simbah Kiai Haji Bisri Syansuri, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Jombang, pendiri NU, sekaligus Rais Aam PBNU masa khidmah 1971-1980, memberikan pernyataan: "Sekarang saya sudah mengerti apa itu Pancasila. Sekarang bila ada orang Indonesia, orang Islam, orang NU, yang anti Pancasila berarti ia anti padaku."

Hari Santri 2018

"Tak kalah berkharismanya, Yang Mulia Simbah Wali Kiai Haji Raden Asad Syamsul Arifin Situbondo terang-terangan dhawuh (bertitah): " Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia, harus ditaati, harus diamalkan, harus tetap dipertahankan dan dijaga kelestariannya."

Dan tak ketinggalan Yang Mulia Simbah Kiai Haji Ahmad Shiddiq, sesepuh Majlis Dzikrul Ghofilin sekaligus Rais Aam PBNU masa khidmat 1984-1991 dengan lemah lembutnya bertitah: " Ibarat makanan, Pancasila yang sudah kita kunyah selama 36 tahun kok sekarang dipersoalkan halal haramnya."

Karena itu, demikian Shuniyya melanjutkan, dari sini jelaslah, bahwa Pancasila merupakan harga mati yang wajib dipertahankan oleh seluruh anak negeri.

"Sebagai generasi penerus bangsa Indonesia, kita wajib waspada dengan ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan dari segala penjuru. Baik bahaya laten maupun manifestasinya. Baik dari arus kanan maupun arus kiri, baik dari barat maupun timur. Entah itu komunis, kapitalis, liberal, takfiri wahabiserta ideologi apapun yang hendak meruntuhkan kejayaan negeri ini. Pancasila Sakti, NKRI Harga Mati," ujar dia lagi. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ubudiyah, Makam Hari Santri 2018

Rabu, 20 Desember 2017

UNU Surakarta Selenggarakan Lokakarya Kompetensi Guru

Solo, Hari Santri 2018. Untuk meningkatkan kemampuan guru-guru PAI (Pendidikan Agama Islam) dalam menciptakan anak didik yang berkarakter, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta menyelenggarakan Lokakarya PKG (Pelatihan Kompetensi Guru) Guru PAI SD se-Solo Raya.

UNU Surakarta Selenggarakan Lokakarya Kompetensi Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Surakarta Selenggarakan Lokakarya Kompetensi Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Surakarta Selenggarakan Lokakarya Kompetensi Guru

Kegiatan yang telah berakhir Jumat (28/12) yang lalu tersebut juga dimaksudkan agar guru juga dapat menjalankan fungsinya sebagai pengajar dan pendidik dengan baik.

Pembelajaran yang menyenangkan dapat menjadikan siswa berani bertanya, berani mencoba, berani berbuat, berani mengemukakan pendapat, dan berani mempertanyakan gagasan orang lain. Guru yang baik tidak membuat siswa takut salah dan dihukum, takut ditertawakan teman-teman, takut dianggap sepele oleh guru.

Hari Santri 2018

Melalui situsnya, pihak dari UNU menerangkan bahwa acara tersebut merupakan kerjasama Fakultas Agama Islam UNU Surakarta dengan Direktorat Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI. Kegiatan lokakarya dilaksanakan dua gelombang. Yang pertama telah dilaksanakan pada tanggal 3-5 Desember 2012 di Hotel Riyadi Palace Surakarta Jawa Tengah.

Hari Santri 2018

Acara serupa kembali diadakan pada tanggal 26-28 Desember 2012. Diikuti sebanyak 80 peserta, pihak penyelenggara mendatangkan narasumber yang berkompeten diantaranya Direktur Pendidikan Agama Islam, ? Dr. H.M. Amin Haedari, M.Pd dan Rektor UNU Surakarta, Dr. H.A. Mufrod Teguh Mulyo, M.H.

Pihak penyelenggara, diwakili Ketua Pelaksana Lokakarya dan Pelatihan PKG, Drs. Muhammad Yasin, M.Pd.I menyampaikan, pelatihan PKG ini bertujuan untuk penguatan pendidikan karakter melalui Pendidikan Agama Islam.

Meskipun acara telah berakhir, rencananya kegiatan tersebut akan terus berlanjut dengan dilaksanakan pendampingan bersama fasilitator dalam membuat bahan ajar dan akan dipilih 6 orang peserta untuk menjadi pemenang, yang masing-masing akan berhak mendapatkan hadiah dari panitia.

Redaktur ? ? ? : A. Khoirul Anam

Kontriobutor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Nahdlatul Hari Santri 2018

Sabtu, 16 Desember 2017

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Bantul, Hari Santri 2018. Lahan terbatas sama sekali bukan alasan untuk berani berkreasi atau berkarya. Tampak dalam foto, Pengasuh Pondok Pesantren Alimdad, KH M Habib A Syakur, sedang berusaha meluruskan batang tanaman lombok dan terong di media tanam polybag di terik sinar matahari.

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Ramah Lingkungan di Tanaman Polybag

Beberapa puluh polybag berisi tanaman lombok dan terong memang sengaja ditata sedemikian rupa oleh Habib di pekarangan kediamannya, yang masih masuk dalam kawasan komplek Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul. Dalam keterangannya, Habib menyebutkan bahwa ia telah menyiapkan sekira 500 polybag untuk kedua jenis tanaman tersebut.

"Sejatinya, saya juga ingin mempersiapkan beberapa ratus polybag lagi untuk berbagai jenis tanaman lain, seperti tomat, timun, dan kacang panjang. Tapi, saya kira hal ini akan saya lakukan secara berjenjang dahulu," ujar Habib.

Hari Santri 2018

Media tanam polybag yang dirawat oleh Habib ini terdiri dari campuran tanah dengan pupuk kandang dan kompos yang keduanya merupakan hasil dari pengolahan limbah di Pondok Limbah yang dimiliki PP Al-Imdad Bantul. Hal ini adalah ejawantah dari visi pesantren Al-Imdad sendiri, yaitu SANTRI SALIH--Santun, Agamis, Nasionalis, Terampil, Ramah, Inovatif dan SAdar LIngkungan Hidup.

Hari Santri 2018

"Saya gak punya pengetahuan apa-apa tentang tanaman polybag ini, tapi saya beranikan diri untuk mencobanya, sebab berdasarkan teori dan pengalaman sebagian orang, hal semacam ini mungkin saja dilakukan," jawab Habib saat ditanya perihal pengalamannya menekuni tanaman polybag ini.

Habib lantas memungkasi, "Kalau usaha saya berhasil, ini akan meringankan anggaran belanja untuk makan santri dan kalaupun gagal, saya kira tak jadi masalah. Sebab, dalam prosesnya saja, saya sudah terhibur dengan merawatnya."(Yusuf Anas/Anam) Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Aswaja Hari Santri 2018

Minggu, 10 Desember 2017

Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi

Pada 21 Juni 2017 Muhammad bin Salman diangkat menjadi putera mahkota.Usianya masih sangat muda, 32 tahun. Ini menjadi sejarah baru bagi Negara Kerajaan Arab Saudi. Biasanya posisi putera mahkota diisi oleh pangeran yang sudah berusia senja. 

Setelah menjabat sebagai putera mahkota, Muhammad bin Salman langsung ‘tancap gas.’ Ia membuat kebijakan-kebijakan yang reformis, radikal, dan ‘melawan arus’ di dalam segala sektor. Mulai dari birokrasi hingga paham keagamaan. Yang terbaru dan membuat heboh dunia adalah ditangkapnya sebelas pangeran, empat menteri aktif, dan puluhan mantan menteri pada Sabtu lalu (4/11). 

Sebelumnya, Muhammad bin Salman juga menegaskan akan mengembangkan Islam moderat di Arab Saudi, memperbolehkan wanita untuk menyetir mobil sendiri, dan memperbolehkan wanita untuk menonton pertandingan sepak bola dan masuk bioskop.

Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi

Di sektor birokrasi, Muhammad bin Salman juga berupaya untuk menciptakan sistem good government. Muhammad bin Salman yang juga Ketua Nazaha, lembaga anti korupsi Arab Saudi, memerintahkan untuk menangkap puluhan elit Arab Saudi tersebut dengan tuduhan korupsi. Ini disinyalir sebagai upaya Muhammad bin Salman untuk memberantas praktik-praktik korupsi yang terjadi di pemerintahan Arab Saudi yang selama ini memang tidak terjamah dan menjadikan hukum di atas segalanya. 

Hal itu dilakukan untuk menyukseskan Visi Saudi 2030 menjadi agenda besar Arab Saudi. Target dari ‘proyek’ ini diantaranya melepaskan ketergantungan pada minyak tahun 2020, meningkatkan ekspor non-minyak 50 persen, menurunkan pengangguran dari 11,6 persen menjadi 7 persen, meningkatkan kontribusi sektor swasta dari 40 persen menjadi 65 persen, dan meningkatkan partisipasi wanita di ruang-ruang publik dari 20 persen menjadi 35 persen.

Untuk mengetahui tentang apa yang sedang terjadi dan direncanakan oleh Arab Saudi lebih mendalam, Jurnalis Hari Santri 2018 A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI) Abdul Mutaali. Berikut petikan wawancaranya:

Hari Santri 2018

Arab Saudi ingin kembali ke Islam moderat sebagaimana yang disampaikan oleh Putera Mahkota Muhammad bin Salman di Riyadh beberapa waktu lalu. Bagaimana tanggapan anda soal ini?

Pidato Muhammad bin Salman di Riyadh beberapa waktu lalu bahwasanya Saudi tidak akan memberikan tempat bagi gerakan ekstremis, radikalis, dan teroris. Saudi hanya akan memberikan tempat bagi yang moderat. 

Saya kira pidato ini bukan hanya keinginan Muhammad bin Salman, tetapi juga dikaitkan dengan Visi Saudi 2030. Kata Muhammmad bin Salam, selama ini hukum Saudi hanya tiga yaitu Al-Qur’an, hadis, dan minyak. Dengan misi 2030, Saudi dari negara minyak menjadi negara industri. Industri itu terkait dengan investasi dan adanya inverstor. Investor mau ke Arab Saudi kalau ada jaminan keamanan, toleransi, dan keberagaman. Oleh karena itu, ada reformasi paham keagamaan.

Ketika mendengar pidatonya Muhammad bin Salman, kelompok Wahabisme agak cukup kaget. Tapi kalau kita merujuk guru-guru utama Wahabi seperti Bin Baz dan Utsaimin di akhir hayatnya cenderung agak moderat. Mereka menerima dzikir berjamaah, tidak mudah menyalahkan yang lain, diakomodasi putera Sayyid Maliki menjadi dewan penasehat raja. Artinya, ada pakem keagamaan yang sudah mulai mencair. 

Hari Santri 2018

Tetapi ada ulama moderat Saudi, Salman Al-Audah dan kelompoknya, yang juga ditangkap karena men-twit agar masyarakat Saudi dan Qatar mendapatkan perdamaian. Jadi sebetulnya, Islam moderat seperti apa yang hendak diwujudkan sang putera mahkota?

Saya kira tujuannya dua yaitu bukan hanya membangun image bahwa Saudi bukan eksportir ekstremisme, radikalisme, dan terorisme, tetapi juga membangun Visi Saudi 2030. Dia cari orang, dia bangun lembaga keulamaan yang kondusif dan yang ramah lingkungan dengan visi Saudi.  

Jadi bukan hanya ulama yang moderat, tetapi juga ulama yang paham dengan Visi Saudi 2030. Dalam kerangka itu, itulah Islam yang hendak dibangun. Islam yang maju dan modern. 250 ribu hektar NEOM, megaproyek Saudi yang dibangun mulai Jedah hingga Riyadh bukan hanya diperlukan kekuatan finansial, tetapi juga kelegaan hati bagaimana investasi industri mungkin tidak idealis islami seperti sekarang seperti laki dan perempuan dipisah. Akan terjadi dinamisasi keagamaan yang cukup cair. Jika ada ulama moderat yang dituduh, saya kira bukan karena radikalnya tetapi ulama tersebut belum bisa berakselerasi dengan visi Saudi 2030.

Apakah bisa dikatakan kalau bendungan sudah mulai Wahabi jebol dengan ini?

Kalau dibilang jebol sih tidak, tetapi sudah banyak bolong-bolong. Intinya adalah moderat dan modern. Ini yang sedang dibangun Muhammad bin Salman. 

Apa saja yang sudah dilakukan Muhammad bin Salman?

Sampai saat ini, Muhammad bin Salman sudah membuat lima karya. Pertama, agresi militer ke Yaman. Kedua, penggantian kalender dari Hijriyah ke Masehi. Ulama Saudi marah, lalu bisa dipahamkan. Kenapa? karena kalender Hijriyah itu waktunya lebih pendek. Artinya karyawan lebih cepat mendapat gaji sedangkan kondisi ekonomi lagi kronis. Ketiga, pemutusan diplomatik dengan Qatar. Keempat, wanita dibolehkan mengemudi mobil. Kelima, sebagai ketua lembaga anti korupsi Muhammad bin Salman menangkap sebelas pangeran, empat menteri aktif, dan puluhan mantan menteri. 

Dari sudut penindakan pemberantasan korupsi, ini adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa uang kerajaan dan uang rakyat itu beda-beda tipis. Tidak ada peraturan yang secara jelas mengatur segregasi antara dua sistem keuangan itu sehingga para pangeran memiliki interpretasi tersendiri soal keuangan kerajaan.

Namun, kenapa ‘pemisahan sistem keuangan’ baru dilakukan saat ini?

Ekonomi Saudi sedang sangat kronis. Jadi diperlukan ketentuan dan tata aturan yang jelas. Ini uang negara, ini uang rakyat. Ini yang boleh digunakan, ini yang tidak. Pertama, Muhammad bin Salman ingin menerapkan good government. Karena untuk menjadi industri, maka diperlukan tata kelola yang baik.  

Kedua, selama ini pangeran berada di atas hukum. Sekarang, semua sama di mata hukum. Muhammad bin Salam memberikan pesan bahwa semuanya harus tunduk kepada hukum. Karena untuk menjadi industri, maka panglimanya adalah hukum bukan keluarga. 

Apakah anda melihat bahwa dibalik penangkapan elit Saudi oleh Muhammad bin Salam ada muatan politisnya? Dan bagaimana dinamika politik Saudi ke depan?

Saya memandang memang agak sulit gebrakan Muhammad bin Salman sebagai ketua lembaga anti korupsi terlepas dari motif politis. Dimana motif politisnya. Pertama, biasanya raja-raja Saudi itu diangkat pada usia sunset atau senja. Sekarang, putera mahkota usianya dua puluh tiga tahun. Akan terjadi gejolak yang luar biasa di keluarga kerajaan. 

Dia ingin unjuk kekuatan di hadapan keluarganya, masyarakat Saudi, dan dunia internasional. Muhammad bin Salman ingin berkata bahwa jangan lihat usia saya. Saya bisa menangkap Alwaleed bin Talal dan Mit’ab bin Abdullah. Keduanya bukan orang sembarangan. Alwaleed adalah orang terkaya di kerajaan. Sedangkan, Mit’ab adalah ketua garda nasional. Kalau di Indonesia, Mit’ab itu Panglima TNI yang merangkap Menhan. Artinya, kapan pun dia ingin melakukan kudeta itu mudah.   

Kedua, jika Raja Salman mangkat, Muhammad bin Salman akan jadi raja. Namun, di saat yang bersamaan pamannya masih ada. Saudi akan masuk sejarah baru, bukan anak yang memimpin tetapi cucu. Ini akan melahirkan dinamika yang luar biasa. 

Ketika, terjadi de-Abdullahi-sasi. Seluruh keturuan Abdullah dihabisi. Ada tiga orang yaitu Mit’ab, Turki, dan Iyas bin Abdullah. Abdullah menjadi bendera koalisi keluarga non-Sudairi. Biasanya yang menjadi raja adalah anak-anak yang berasal dari ibu Sudairi. Abdullah itu bukan berasal dari Sudairi. Abdullah menjadi tempat berkumpulnya koalisi non-Sudairi. 

Dengan demikian, Muhammad bin Salman berupaya untuk mengamankan posisi.

Saya baru membaca berita yang dikeluarkan oleh kantor berita Rusia bahwa Mit’ab bin Abdullah akan melakukan kudeta. Mungkin isu yang dijual ke publik adalah tindak pidana korupsi tetapi apa yang terjadi di internal adalah kudeta. 

Dalam sistem monarki, kudeta itu sesuatu yang lazim. Karena oposisi itu tidak mungkin karena tidak memiliki ruang. Jadi musuh terbesar seorang raja adalah keluarganya. Mungkin yang paling aman dijual keluar adalah tindak pidana korupsi.

Lalu, mengapa itu dilakukan?

Langah politis selanjutnya adalah 70 persen warga Saudi adalah generasi milenial. 50 persen dari generasi milenial tersebut adalah mahasiswa magister dan doktoral di Eropa dan Amerika jurusan filsafat. Tahun ini mereka akan pulang. Sedangkan di saat yang sama, kondisi ekonomi Saudi sedang kronis. Namanya filosof; kalau tidak bisa memberi kami makan, biar kami yang jadi raja.  Maka dari itu, diperlukan sosok pemimpin yang berani dan muda. Jadi langkah politis ini adalah gebrakan yang luar biasa.  

Soal waktu penangkapan, mengapa itu dilakukan pada 4 November? Apakah ada pesan khusus atau seperti apa?

Ada pengaruhnya dalam geopolitik internasional. Mengapa pilihan waktunya Sabtu 4 November, kenapa bukan Jumat atau Minggu saja. Penangkapan sebelas pangeran, empat menteri, dan puluhan mantan menteri pada Sabtu malam itu bersamaan ketika Iran sedang merayakan tiga puluh delapan tahun pengambil alihan Kedubes Amerika di Iran. 

Artinya, berbicara Timur Tengah itu berbicara soal pengaruh. Siapa yang paling berpengaruh. Tahun delapan puluhan perang Irak-Iran berbicara siapa yang paling berpengaruh. Tahun sembilan puluhan ada perang Teluk. Siapa yang paling berpengaruh Arab Saudi Kuwait atau Irak. Saat ini, Timur Tengah bisa dikata yang berpengaruh itu tiga negara saja yaitu Iran dengan sekutunya, Arab Saudi dengan sekutunya, Qatar dan Turki. 

Jadi penangkapan 4 November itu sudah hasil istikhoroh. Kenapa 4 November? Karena 4 November 1979 terjadi Revolusi Islam Iran dan merebut Kedubes Amerika di Teheran. Pada saat yang sama, Saudi melakukan reformasi birokrasi radikal. Dunia internasional, khususnya dunia Islam sedang dijamu; mau lihat yang mana Arab Saudi atau Iran. Di pemberitaan, Saudi yang paling ramai. Dalam hal ini Saudi berhasil membuat media internasional memberitakannya daripada Iran.

Apakah yang dilakukan Saudi juga ada hubungannya dengan mundurnya Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri, yang terjadi pada 4 November?

Geopolitik selanjutnya adalah mundurnya Hariri. Yang menarik, setelah mundur Hariri berada di Riyadh. Kita tahu Lebanon memiliki sistem kenegaraan yang cukup unik. Perdana Menteri harus dari Islam, Presidennya Kristen, Ketua DPR nya harus dari Syiah. Perdana menteri lebih banyak mengambil ruang di Lebanon. Dan sulit ditepis bahwa Hariri adalah kawan dekat atau bisa dibilang muridnya Saudi. 

Dalam kondisi ini, tanpa Saudi di Lebanon coba lihat. Terjadi disintegritas dan instabilitas. Jadi sekali mendayung, tiga pulau terlampaui. Satu tindak pidana korupsi, kedua Lebanon, dan yang ketiga Iran. 

Ada tudingan bahwa lembaga anti korupsi, Nazaha, hanya dijadikan alat untuk menghabisi orang yang dianggap membahayakan kekuasaan Muhammad bin Salam dan Raja Salman?

Memang sulit ditepis kalau ini langkah politis. Namun untuk menciptakan good government maka harus ada tata kelola yang modern terkait keuangan. Penangkapan sebelas pangeran dan seterusnya itu dilakukan beberapa bulan setelah Saudi menandatangi kucuran dana dari IMF. Cukup ironis, negara minyak dengan cadangan 220 miliar barel sampai pinjam uang ke IMF, lemabag ribawi terbesar di dunia.

Artinya, Arab Saudi dengan rezim Salman tidak bisa mengendalikan gurita bisnis para pangeran. Kalau saja terjadi persuasi atau komunikasi yang baik antara klan Salman dengan pangeran-pangeran yang kaya itu, saya kira Saudi tidak perlu pinjam uang ke IMF. 

Saudi mencanangkan Visi 2030. Menurut anda, apakah ini akan berhasil? Dan apa saja hambatan dan tantangannya?

Saya kira dalam pertarungan ini Muhammad bin Salman akan memenangkan game ini dengan syarat dia melakukan persuasi kepada lembaga ulama. Karena ulama adalah pilar kedua di Arab Saudi. Kita tahu Arab Saudi bisa menjadi negara merdeka itu ketika berkoalisi dengan ulama.

Namun, ulama yang seperti apa? lembaga seperti apa? artinya harus ada reformasi di tingkat ulama. Islam yang lebih inklusif, Islam yang modern, Islam yang paham statistika. Kalau saya mengutip Muhammad bin Salman: Saudi itu bukan sekedar ayat, tapi implementasi ayat, dan strategi ayat. Karena Saudi hanya berbicara ini dalilnya, bagaimana implementasi dalil itu. Itu yang penting. 

Reformasi radikal, megaproyek NEOM, dan Visi Saudi 2030 akan berhasil dengan syarat. Pertama, reformasi pemikiran di lembaga ulama Arab Saudi. Kedua, good government. Semua masyarakat, khususnya keluarga kerajaan tidak ada yang kebal hukum. Ketiga, masih menjalin hubungan intensif dengan Paman Sam. 

Tetapi juga ada masalah dengan ulama, kalau Muhammad bin Salman sampai gagal melakukan komunikasi dengan ulama, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi koalisi yang dahsyat antara kubu non-Sudairi dengan lembaga ulama. Kalau ini terjadi, Saudi hanya sejarah saja.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ahlussunnah, Makam, Kajian Islam Hari Santri 2018

Jumat, 01 Desember 2017

Kiai Said: Indonesia Krisis Kiai Alim

Jakarta, Hari Santri 2018 - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, bangsa Indoensia harus bangga dengan pola keislaman yang dikembangkan Nahdlatul Ulama yang damai dan toleran. Dimotori kiai-kiai, warga NU walaupun tinggal di kampung-kampung berperan besar dalam? membangun karkter bangsa.

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada sesi dialog setelah buka puasa bersama PBNU bersama seluruh banom dan lembaga NU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Sabtu (18/6) sore.

Kiai Said: Indonesia Krisis Kiai Alim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Indonesia Krisis Kiai Alim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Indonesia Krisis Kiai Alim

Ia mencontohkan saat terjadi bencana. Pada saat seperti itu, kiai-kai kampung menyadarkan masyarakat untuk tetap bersatu, sabar, dan tabah menghadapi cobaan. Kiai-kiai itu banyak dimiliki NU.

Hari Santri 2018

Lebih lanjut Kiai Said mengungkapan, melalui NU perjalanan kita sudah benar. Namun ia menyayangkan sekarang ini krisis kiai yang alim. Menurut dia, kiai alim tidak diukur dari banyaknya santri yang dimilikinya.

“Kadang-kadang kiai alim tidak punya pesantren. Karena kiai di pesantren yang memiliki santri banyak sibuk membantu kesulitan santri dan orang tuanya sehingga kurang waktu untuk muthala’ah,” terang Kiai Said.

Hari Santri 2018

Minimnya kiai alim menurut Kiai Said sangat mengkhawatirkan. “Bagaimana masa depan NU kalau tidak ada generasi penerus yang belajar menjadi kiai yang alim?” pancing Kiai Said mendorong hadirin yang datang yang kebanyakan terdiri dari generasi muda diantaranya Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), IPNU dan IPPNU. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Berita, Makam Hari Santri 2018

Kamis, 02 November 2017

Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus

Jakarta, Hari Santri 2018

Pada Agustus 2015 beredar di dunia maya foto Romo Aloysius Budi Purnomo tengah memeluk dan mencium tangan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Foto tersebut sempat membuat heboh. Sebagian orang mengapresiasi, sebagian lain berprasangka miring.

Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus

Romo Budi Purnomo yang merupakan Ketua Hubungan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang menceritakan, peristiwa itu terjadi saat ia dan Gus Mus sama-sama diundang menjadi narasumber tentang kebangsaan di Auditorium RRI Semarang. Ia mengaku perilakunya tersebut adalah hal yang positif.

“Gus Mus itu sudah seperti simbah saya. Bukan hanya sahabat, beliau juga idola saya waktu saya masih SMA. Karya-karya puisinya, karya-karya sastranya menginspirasi saya bersama karya-karya Romo Mangunwijaya,” katanya dalam acara Mata Najwa yang disiarkan Metro TV, Rabu (14/4) malam.

Hari Santri 2018

Romo Budi Purnomo diminta menceritakan kembali aksi cium tangan itu dan kehebohan yang ditimbulkannya. Menurutnya, tak semestinya hal tersebut dipersepsi negatif karena justru itu merupakan simbol kerukunan dan persahabatan sejati. Dan, mencium tangan Gus Mus pun tidak ia lakukan hanya sekali. Sang romo melakukan hal serupa saat bertemu dengan tokoh NU itu di Rembang tahun 2004.

“Setiap kali berjumpa dengan Gus Mus, sebagai yang lebih muda, saya selalu mencium tangan beliau, tapi beliau selalu tidak kerso (bersedia), ditarik (tanganya). Entah mengapa. Tapi begitulah kebiasaan saya berjumpa dengan yang saya hromati. Saya tidak hanya mencium pipi kanan pipi kiri tapi juga cium tangan beliau,” kisahnya.

Hari Santri 2018

Bagi rohaniawan Katolik ini, ada dua kehebohan saat peristiwa peluk-cium antara romo dan kiai. Yang pertama heboh positif dan yang kedua heboh negatif. Lantas bagaimana bila ada sebagian orang yang mengambil sikap yang kedua?

“Lho, apa masalahnya? Mengapa harus heboh negatif? Lebih baik heboh positif karena itu menjadi berkat banyak orang,” tuturnya.

Dalam acara Mata Najwa bertajuk “Panggung Gus Mus” itu, Romo Budi Purnomo dan Gus Mus berduet dalam musikalisasi puisi berjudul “Sajak Atas Nama”. Malam itu Gus Mus juga membacakan puisi berjudul “Bila Kutitipkan” dan “Puisi Islam”. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Pendidikan, Aswaja Hari Santri 2018

Senin, 30 Oktober 2017

Masjid Jadi Perlambang Takwa

Brebes, Hari Santri 2018. Masjid menjadi lambang tingkat ketakwaan suatu umat kepada Allah SWT. Dan derajat tinggi rendahnya dapat terlihat ketika niatan awal saat peletakan batu pertama pembangunan masjid. Dalam artian, niatan seseorang atau umat suatu kaum akan memperlihatkan nilai karismatis dan bisa berpengaruh pada kecintaan orang lain pada masjid tersebut.

Masjid Jadi Perlambang Takwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Jadi Perlambang Takwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Jadi Perlambang Takwa

Hal tersebut disampaikan oleh KH Endang Baranas MA dari Jakarta saat menyampaikan mauidlatul khasanah pada peresmian masjid Baitul Mutaqin Dukuh Sigempol Desa Randusanga Brebes, Senin (3/8).

Allah SWT, lanjut Endang, menyediakan berbagai ladang amalan di dunia untuk memuliakan manusia itu sendiri. Allah SWT tidak butuh apapun dari mahluknya, justru mahluklah yang membutuhkan Sang Khalik, salah satunya dengan masjid untuk menguatkan pondasi keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.

Hari Santri 2018

“Namun yang juga tidak kalah penting, adalah bagaimana umat bisa berbuat apa setelah dibangunnya masjid, tidak hanya ramai-ramai membangun masjid namun kemudian ditinggalkan begitu saja,” ujarnya.

Hari Santri 2018

Kemakmuran masjid, sambungnya, sangat bergantung pada bagaimana niatan awal pembangunannya. Sebagai contoh, mengapa masjid Agung Demak lebih banyak dikunjungi daripada masjid Agung Brebes? Ternyata ada kekuatan pendahulu yang membangun masjid tersebut, yakni dengan niatan ikhlas dan memiliki pondasi keimanan yang kuat.

Pun sama-sama keajaiban dunia, kenapa Borobudur yang kontruksinya rumit pengunjungnya lebih sedikit dibandingkan dengan Ka’bah yang sederhana? “Orang yang hendak mengunjungi Ka’bah, hingga kini mengharuskan antri hingga berpuluh-puluh tahun,” tandasnya.

Pengurus masjid Baitul Mutaqin H Tarmudi SPd menjelaskan, masjid dibangun dalam motif Persia dan Mesir kuno dengan ornamen yang sangat cantik sehingga menambah gairah jamaah untuk berlama-lama menikmati keindahan dan keteduhan untuk beribadah kepada Nya.

Masjid hasil wakaf dari H Dulmajid, H Suyud dan Hj Warni dibangun diatas tanah seluas 29 X 17 meter persegi. Peletakan batu pertama dilakukan pada 12 Mei 2014 dan selesai pada 31 Juli 2015. Hingga sampai saat ini telah menelan dana Rp 1,6 milyar. Dana sebesar itu didapat dari swadaya masyarakat, donator, bantuan pemkab Brebes dan juga bantuan pribadi Bupati.

“Namun, menara dan pagar keliling belum rampung? sehingga kemungkinan dana yang dibutuhkan keseluruhannya bisa mencapai Rp 1,8 milyar,” papar Tarmudi.

Peresmian dilakukan oleh Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dengan cara pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti.

Bupati berharap, pembangunan masjid di Dukuh Sigempol bisa menambah kesemangatan untuk beribadah sehingga keimanan dan ketakwaan umat Islam Sigempol bisa makin meningkat. Dia mengakui kalau peran ulama sangat membantu kesuksesan pembanguan daerah. Terutama dalam membangun mental dan spiritual.

“Tanpa peran ulama, pembangunan Brebes sulit untuk bisa maju,” tuturnya.

Idza menyadari kalau pembangunan suatu daerah itu harus seimbang antara pembangunan jasmani dan pembangunan rohani. Pemkab, senantiasa berupaya menyeimbangkan pembangunan keduanya secara selaras dan serasi serta berkelanjutan. Sehingga bisa tercapai masyarakat yang baldatul toyibatun warobun ghofur. (Wasdiun/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Tegal Hari Santri 2018

Minggu, 29 Oktober 2017

LPNU Jombang: Kesejahteraan Masyarakat Visi Besar Kami

Jombang, Hari Santri 2018. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jombang terus berupaya untuk meningkatkan taraf perekonomian warga nahdliyin. Salah satu langkah yang mereka lakukan dengan mengadakan acara workshop perekonomian di Aula PCNU Jombang Jl. Gatot Subroto No. 4 Jombang, Selasa (30/12).

Ketua LPNU Jombang M Muchlis mengatakan, bahwa keberadaan BMT NU yang merupakan badan usaha di bawah naungan LPNU Jombang merupakan wujud konkrit upaya lembaganya dalam mensejahterakan warga NU.

LPNU Jombang: Kesejahteraan Masyarakat Visi Besar Kami (Sumber Gambar : Nu Online)
LPNU Jombang: Kesejahteraan Masyarakat Visi Besar Kami (Sumber Gambar : Nu Online)

LPNU Jombang: Kesejahteraan Masyarakat Visi Besar Kami

“Kesejahteraan Masyarakat, khususnya warga nahdliyin menjadi visi besar kami. Karena pemikiran yang selama ini menyatakan NU hanya berkutat pada urusan keagamaan akan kami hapus dengan program-program penguatan perekonomian seperti ini,” jelas Muchlis saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan workshop.

Hari Santri 2018

Workshop yang diikuti anggota BMT NU dari berbagai kecamatan se Kabupaten Jombang itu difasilitatori oleh Siti Arifah Anas. Bendahara BMT NU itu memaparkan manajemen keuangan untuk kehidupan berumah tangga.

“Kita harus mampu mengatur uang, bukan uang yang mengatur kita,” kata aktivis perempuan muda NU yang biasa dipanggil Ari itu.

Hari Santri 2018

Lebih lanjut ia meyakinkan peserta dengan memberikan contoh pengelolaan keuangan yang tidak boleh ditiru. “sebenarnya tukang parkir itu kan penghasilannya besar setiap harinya. Tapi taraf hidupnya begitu-begitu saja, itu karena mereka kurang baik dalam pengelolaan keuangannya,” pungkasnya.

Selain itu, mantan pengurus Lakpesdam NU Jombang itu juga mengajak peserta untuk mendukung dan mengikuti gerakan seribu rupiah per hari. “BMT NU siap menerima tabungan anggota walaupun hanya seribu rupiah setiap harinya. Asalkan rutin atau konsisten. Ini dalam rangka membantu memudahkan anggota mengatasi pembiayaan pendidikan anak-anaknya,” ujarnya.

Di sela-sela mengisi materi workshop itu, ia juga mengabarkan kepada anggota bahwa BMT NU Jombang juga siap melayani anggota yang akan umroh, berangkat haji, maupun mengembangkan usahanya masing-masing. (Romza/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, IMNU, Bahtsul Masail Hari Santri 2018

Senin, 23 Oktober 2017

LTMNU Jombang Fasilitasi Pembentukan Forum Takmir

Jombang,? Hari Santri 2018. Untuk memperkuat kelembagaan takmir masjid, mencegah penguasaan masjid NU oleh kelompok-kelompok di luar NU, serta mengetahui asset yang dimiliki oleh NU, Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Jombang mengadakan kegiatan pelatihan pendataan asset potensi NU dan pembentukan Forum Komunikasi Takmir Masjid dan Musholla Nahdlatul Ulama, ? Ahad (3/01),? .

LTMNU Jombang Fasilitasi Pembentukan Forum Takmir (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Jombang Fasilitasi Pembentukan Forum Takmir (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Jombang Fasilitasi Pembentukan Forum Takmir

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus MWC se kabupaten Jombang tersebut dilaksanakan di Aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tambakberas Jombang, yang berada di komplek Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi. Pertama, membicarakan pembentukan dan pemilihan koordinator Forum Komunikasi Takmir Masjid dan Musholla NU yang diikuti oleh seluruh pengurus MWC NU. Dalam pemilihan koordinator terpilih Dimyati AM, sebagai koordinator dibantu oleh Asyharunnur dan Rokhim Husen.

Hari Santri 2018

Sedangkan sessi kedua berupa pelatihan bagi operator pendataan tingkat MWC yang diikuti oleh calon operator yang diutus oleh pengurus MWC NU. Operator ini nanti yang akan melakukan pendataan potensi NU termasuk masjid dan musholla.

Dalam sambutannya, ketua PCNU Jombang, KH Isrofil Amar menyatakan: kemajuan umat bisa dilakukan dengan memakmurkan masjid, karena itu NU membuat lembaga yang mengurusi keberadaan takmir masjid atau musholla.

Hari Santri 2018

Lebih lanjut dia mengatakan, “Kita ingin berkontribusi terhadap kondisi masjid-masjid yang sampai saat ini masih belum diramaikan. Karena jika ada masjid NU tidak ada yang meramaikan, maka LTMNU yang akan berusaha membantu untuk meramaikan”.

Adapun pelaksanaan kegiatan pelatihan ini, menurut ketua LTMNU Jombang H Ahsan Sutari, merupakan salah satu pelaksanaan progam PCNU Jombang yang tertulis dalam Kerangka Kerja Logis Program PCNU 2012-2017. “Kita berusaha untuk menjalankan program PCNU yang tertuang dalam Logframe program PCNU, yang saah satunya adalah pendataan masjid/musholla”.

Sedangkan dari diskusi yang berkembang dalam kegiatan tersebut, perlu ada sinergitas antar lembaga/lajnah untuk meramaikan masjid yang menjadi basis utama keberadaan Nahdaltul Ulama. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Lembaga Perekonomian (LPNU), Lembaga Pendidikan Maarif NU, Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh NU (LAZISNU), dan Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU (LWPNU).

?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Muslimin Abdilla

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, IMNU Hari Santri 2018

Kamis, 28 September 2017

Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur

Surabaya, Hari Santri 2018. Sejumlah aturan yang ada di negeri ini kerap berubah. Para wakil rakyat dan pemerintah, tidak jarang membuat aturan baru yang tentunya mengikat warga masyarakat. Hal ini menjadi pekerjaan tersendiri dalam bahtsul masail, pembahasan masalah keagamaan di lingkungan NU.

Di antara permasalahan yang tengah marak terjadi di masyarakat adalah pernikahan hasil "kecelakaan". Dalam artian, sepasang anak muda beda kelamin melakukan hubungan intim sehingga hamil. Padahal antara keduanya belum diikat oleh perjanjian pernikahan.

Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Aturan Baru Jadi Bahasan LBM NU Jawa Timur

"Sejumlah berita di media sangat marak akan hal ini," kata Muhammad Maruf Khozin saat dikonfirmasi Hari Santri 2018, Kamis (2/10). Pengurus Wilayah Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (PW LBM NU) Jawa Timur ini merasa sangat prihatin atas kian tidak terkendalinya pergaulan antar anak muda lain jenis.

Hari Santri 2018

Pengaruh media massa, alat komunikasi dan pergaulan dengan lingkungan turut memperparah keadaan tersebut. "Sehingga kehamilan di luar nikah semakin marak terjadi," terang Wakil Katib PCNU Surabaya ini. Dan keadaan tersebut bukan semakin menyusut, malah cenderung mengalami peningkatan jumlah kasus yang terjadi.

"Di luar keprihatinan terhadap berbagai tindakan dekadensi moral tersebut, LBM mendapat masukan pertanyaan dari masyarakat terhadap kasus ini," tandas alumnus Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri ini. Karena itu dalam bahtsul masail tingkat Jawa Timur nantinya persoalan ini akan mendapatkan perhatian.

Hari Santri 2018

"Bagaimana status pernikahan yang dilakukan pasangan yang telah hamil namun belum mendapatkan surat nikah, inilah antara lain yang akan dibahas," ungkapnya.

Demikian juga yang akan dibahas para aktifis bahtsul masail dari berbagai kota se Jawa Timur ini adalah penerapan BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

"Apalagi pemerintah telah mewajibkan seluruh masyarakat untuk mengikuti program ini," katanya. Dalam satu sisi, keberadaan BPJS tentunya sangat bermanfaat bagi penduduk. Namun dengan sejumlah problem pelaksanaan teknis yang kerap muncul di permukaan, hal ini tentu harus mendapatkan pembahasan.

"Wajib dalam pandangan pemerintah atau hukum positif tersebut apakah juga sama dan sebangun dengan wajib dalam pandangan hukum Islam," sergahnya. Dengan demikian, hasil dari pembahasan masalah ini akan memberikan panduan kepada banyak kalangan termasuk pemerintah dalam mengeluarkan aturan, lanjutnya.

Dalam pandangan Ustadz Khozin, sapaan kesehariannya, bahwa kian dinamisnya peraturan serta perundangan yang ada di negeri ini memaksa para pegiat agama khususnya LBM untuk memberikan respon atas masalah yang muncul.

"Ini menjadi pekerjaan berat bagi kami untuk memberikan panduan kepada pemerintah dan umat terhadap berbagai masalah yang terus berkembang," katanya.

Pelaksanaan bahtsul masail tingkat Jawa Timur ini akan dilangsungkan di Pondok Pesantren Tremas Pacitan pada tanggal 9-10 Nopember 2014. Sejumlah peserta telah menyatakan kesediaan bergabung. Mereka adalah utusan dari sejumlah pondok pesantren dan perwakilan PC LBM NU di masing-masing kota dan kabupaten se Jawa Timur. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam Hari Santri 2018

Minggu, 24 September 2017

Masjid di Solo Ini Dibangun Bersamaan Momen Sumpah Pemuda

Solo, Hari Santri 2018 - Tanggal 28 Oktober 1928, menjadi  salah satu momen yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal itu, dicetuskan “Sumpah Pemuda” yang menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Rupanya, pada tanggal yang sama di Kota Solo, tepatnya di daerah Kampung Tegalsari, Bumi, Laweyan, dibangun sebuah masjid swasta (bukan dari keraton, red) yang pertama. Masyarakat di sana biasa menyebutnya dengan Masjid Tegalsari.

Masjid di Solo Ini Dibangun Bersamaan Momen Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid di Solo Ini Dibangun Bersamaan Momen Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid di Solo Ini Dibangun Bersamaan Momen Sumpah Pemuda

Tanggal pembangunan masjid pada tanggal 28 Oktober 1928 dibuktikan pada sebuah prasasti yang terletak di tembok sebelah barat masjid.

Saat Hari Santri 2018 mengunjungi lokasi masjid, Sabtu (28/10), terlihat dua prasasti yang ditulis dengan aksara jawa serta aksara latin. Kedua prasasti tersebut menerangkan tahun pemasangan tiang utama, berikut sejumlah nama pendiri.

Hari Santri 2018

Sesepuh Masjid Tegalsari H Ahmaduhidjan menerangkan tiang utama masjid dipasang pada hari Ahad tanggal 13 Jumadil Awal 1347 H atau 28 Oktober 1928 M. “Para pendiri antara lain KH Ahmad Shofawi, H Umar, KH Asy’ari, KH Muh Adnan, dan lain sebagainya,” terangnya.

Masjid Tegalsari ini dibangun pada tahun 1928 dan diresmikan pada tahun 1929. Hingga saat ini, selama 89 tahun berdirinya Masjid Tegalsari, bangunan masjid masih berdiri kokoh, dan tidak banyak yang berubah bahkan hampir sama sejak pertama kali masjid ini berdiri. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tokoh, PonPes, Makam Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock