Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

PCINU Korsel Silaturrahim ke Korean Muslim Federation

Seoul, Hari Santri 2018. Menutup rangkaian kegiatan Safari Ramadhan yang lalu, PCINU Korea Selatan bersilaturrahim ke KMF (Korean Muslim Federation ). Turut hadir dalam rombongan PCINU Ustadz Ali Mahmudi dan Ustadz Rozi Nawafi Moh. Fathurrozi. Kunjungan ini untuk berpamitan setelah selesai mengisi kegiatan Safari Ramadhan selama 1 bulan.

PCINU Korsel Silaturrahim ke Korean Muslim Federation (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Korsel Silaturrahim ke Korean Muslim Federation (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Korsel Silaturrahim ke Korean Muslim Federation

Imam Besar KMF Abdurrahman Lee menyampaikan setidaknya dua pesan. Pertama dia menyampaikan sekaligus mengingatkan pentingnya menjalankan syariat Islam dengan baik, akhlak yang dicontohkan sayyidina Muhammad SAW dan menunjukkan pribadi Muslim yang baik kepada pribumi di Korea.

“Sehingga orang Korea tertarik dengan akhlak umat Islam yang ditunjukkan Muslim Indonesia, mengingat jumlah penduduk Muslim Indonesia di Korea mencapai 40.000 jiwa. Jika 10.000 saja yang peduli terhadap dakwah bil akhlak dan istiqomah dalam menjalankan budaya Islam, sudah barang tentu Muslim di Korea akan cepat berkembang,” jelasnya.

Kedua, lanjutnya, kader Aswaja di Korea juga berdakwah melalui pernikahan, dengan harapan bisa mendidik dan mengajak wanita Korea kepada Dinul Haq dan bisa mempunyai generasi penerus dakwah di Korea Selatan.

Hari Santri 2018

? ?

Sementara itu, Rais Syuriyah PCINU Korsel Ustadz Syamy Zein Syamsul Arifin yang hadir dalam silaturrahim ini mengungkapkan bahwa kenyataan yang ada, saat ini sebagian muslimah yang menikah dengan Korea namun kebanyakan terbawa budaya Korea dan cenderung meninggalkan adat ketimuran Indonesia.

Hari Santri 2018

“Mudah-mudahan Muslimat NU dan Fatayat NU Cabang Istimewa Korea Selatan segera terbentuk, untuk mewadahi muslimah Indonesia di Korea agar bisa mensyiarkan Islam di bumi Korea,” harap Syamy Zein. (Imam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal, News, Humor Islam Hari Santri 2018

Senin, 19 Februari 2018

Dubes AS Berharap Warga Amerika Belajar ke Gus Dur

Jombang, Hari Santri 2018. Ajaran KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur  Presiden ke-4 Republik Indonesia tentang pluralisme, demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) menjadi spirit bagi Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O. Blake, Jr, berziarah langsung ke makam Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Kamis (11/12).

Dubes AS Berharap Warga Amerika Belajar ke Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes AS Berharap Warga Amerika Belajar ke Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes AS Berharap Warga Amerika Belajar ke Gus Dur

Ditemani Konsul Jenderal (Konjen) Amerika Serikat di Surabaya Joaquen F. Monserrate, Blake  menemui KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), adik kandung Gus dur, di kediamannya, kompleks Pondok Pesantren Tebuireng. Bersama Gus Sholah, rombongan dubes Blake menuju ke makam Gus Dur untuk tabur bunga sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan warisannya.

Selain ke makam Gus Dur, Hadratus Syaikh hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahid Hasyim. Gus Sholah juga memperkenalkan unit-unit pendidikan yang di kelola yayasannya keada dubes Blake. Bahkan dubes Blake dipersilahkan berdialog langsung dengan para santri yang pada waktu itu sedang belajar di salah satu ruang kelas.

Hari Santri 2018

Dalam konferensi pers bersama wartawan, Blake menyampaikan bahwa kedatangannya ke Pondok Tebuireng, selain berziarah, juga dalam rangka memperingati warisan Gus Dur tentang pluralisme, demokrasi dan HAM. “Peran Gus Dur sangat besar dalam tradisi demokrasi, dalam mengajarkan pluralisme , toleransi dan kemajemukan,” kata Blake.

Hari Santri 2018

Ia juga berharap masyarakat Amerika bisa belajar banyak tentang ajaran Gus Dur dengan datang langsung ke Pondok Pesantren Tebuireng. ”Kami berharap akan banyak orang Amerika yang datang ke sini untuk belajar tentang ajaran Gus Dur ini,” tambahnya.

Sedangkan Gus Sholah mengatakan bahwa ajaran Gus Dur dimulai dari ajaran peninggalan Wali Songo. “Wali Songo menyebarkan Islam di Jawa khususnya, dengan menggunakan media tradisional, yaitu wayang. Wali Songo melakukan dialog dengan budaya lokal. Itu Islam yang juga ada di pesantren, itulah Islam yang mempengaruhi Gus Dur. Gus Dur mempunyai modal yang kuat, yaitu keluarganya, kedua orang tuanya, pesantren, dan NU,” ungkap Gus Sholah. (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal, Budaya, RMI NU Hari Santri 2018

Kamis, 15 Februari 2018

Maimun

Oleh Dwi Putri



Maimun berlari terbirit-birit menenteng sebuah ember hitam. Ini adalah kali keempat aku melihatnya seperti itu. Keadaannya pun sama, sarung melintang di pundak, peci hitam miring, kaos oblong dan celana hitam yang panjangnya selutut.

Maimun (Sumber Gambar : Nu Online)
Maimun (Sumber Gambar : Nu Online)

Maimun

Sebagai satu-satunya warga kampung Tanjung Tebat yang pernah nyantri, maka tidak heran jika Maimun selalu ditunjuk warga untuk memimpin berbagai macam upacara keagamaan. Pamornya sebagai ustad muda mulai merebak sejak ia dipercaya Pak Lurah untuk menggantikan Nineng Kasno mengimami shalat 5 waktu di masjid.

“Mun, kau kan tahu nineng Kasno sekarang sering sakit-sakitan. Beliau memintaku untuk mencarikan ganti dirinya menjadi imam di masjid. Kupikir kau lebih layak, karena kau satu-satunya lulusan pondok di kampung ini.”

Maimum terdiam. Pak Lurah tersenyum ketir menunggu jawabannya.

Hari Santri 2018

“Ha-ha-ha jangan begitulah pak. Hafalan Qur’an saya masih sedikit, nanti bosan pula warga mendengar saya membaca ayat-ayat itu saja.” Maimun tertawa lepas.

“Setidaknya kau lebih fasih bacaannya daripada yang lain. Ayolah, Mun….” Wajah Pak Lurah mulai memelas.

“Lah bagaimana dengan pekerjaanku? Mau makan apa aku sama Ninek Ino nanti ? Bapak kan tahu juragan Ande tidak mau pekerjanya duduk santai sedikit ketika bekerja, ini pula bapak malah suruh saya jadi imam masjid. Juragan pasti tidak akan memberi izin.” Maimun mulai menghisap rokok tembakau.

“Soal itu kau tak usah pikirkan, aku sudah menyiapkan uang bulanan buatmu. Kau berhenti saja bekerja disini.”

Hari Santri 2018

“Nantilah, saya pikir-pikir dulu pak.”

“Baiklah. Kalau sudah mantap, langsung datang ke rumahku. Nanti aku akan membawamu ke Nineng Kasno. Saya pulang dulu Mun. Saya ingatkan pada kau, lebih baik jadi imam daripada terus terusan jadi pemerah susu yang gajinya tidak seberapa.”

Maimun terdiam.

“Ha-ha-ha tegangnya kau Mun. Sudah, saya pamit.” Pak RT pergi membawa motor bebek kesayangannya melaju entah kemana.

***

“Entahlah, siapa yang mengambil telur-telur bebek di kandangku. Sudah beberapa kali kudiamkan si maling mencurinya. Awas saja nanti kalau ketahuan, akan kuhabisi.” Pak Kahar merah padam menahan emosinya.

“Punyaku juga! Biasanya aku mengumpulkan telur 6 atau 7 butir sehari, sekarang hanya satu atau dua saja. Kita harus mencari tahu siapa pelakunya. Sudah 8 orang yang sudah menjadi korban. Kalau kita biarkan si maling akan leluasa mencuri dan mencari target selanjutnya. Rugilah kita,” sahut warga yang lain.

“Kita minta bantuan Maimun saja. Bukannya dia orang pintar? Pastilah dia bisa membantu kita mencari tahu siapa pencurinya.”

“Aku setuju, kita minta bantuan Maimun saja.”

Warga akhirnya sepakat meminta bantuan Maimun dalam memecahkan masalah. Mereka beramai-ramai menemui Maimun di gubuk reyot yang hanya beratapkan ilalang, berdinding anyaman bambu, terlihat bolong-bolong di setiap sudut gubuk tua itu.

Maimun terperanjat melihat kedatangan warga.?

“Ini ada apa, Wak? Kok ramai sekali pagi-pagi datang ke sini?”

“Kami perlu bantuanmu, Mun,” ujar Pak Kahar.

“Lah bantuan apa ? Mari duduk dulu di antek * itu, Wak.”

“Bagaimana, Wak?” Maimun membuka bicara di antara mereka.

“Begini, Mun, sudah beberapa hari ini warga banyak yang melapor kehilangan telur-telur bebek di kandang. Sekarang sudah 8 orang yang dicuri. Kalau kita biarkan nanti pasti dia akan mencari target lain. Kami butuh bantuanmu, Mun. Kau kan pintar, pastilah kau tahu bagaimana jalan keluarnya.”

“Wah, saya tidak bisa, Wak. Kalau saya pintar, tidak mungkinlah saya hidup melarat terus seperti ini ha-ha-ha.”

“Kami serius, Mun, telur-telur itu sekarang satu-satunya sumber ekonomi kami. Musim sedang tidak bersahabat dengan petani macam kita. Tanaman tidak tumbuh-tumbuh dan sawah kering kerontang karena kemarau panjang.”

“Wak, salah orang ini. Seharusnya Wak lapor ke Pak Lurah, bukan saya.”

“Benar juga yang dikatakan Maimun. Kita lapor ke Pak Lurah,” sahut yang lain.

Pak Kahar manggut-manggut mendengar saran Maimun, ”Tapi kau kan orang pintar Mun. Ayolah bantu kami.”

“Tidak bisa, Wak.”

“Aneh kamu, Mun…”

“He-he-he aneh apanya, Wak. Biasa saja, saya tidak enak melangkahi kewenangan Pak Lurah. Nanti saya dikira ngebet pengen jadi Lurah ha-ha-ha.”

“Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa Mun. Ninek Ino mu bagaimana keadaannya ?”

“Beliau baik-baik saja, Wak….”

“Syukurlah kalau begitu. Kami pamit pulang dulu Mun. Maaf pagi-pagi sudah mengganggumu. Oh iya tadi pagi kau tidak imam shalat di masjid, kenapa ?”

“Saya kurang enak badan, Wak.”

“Semoga lekas sembuh, Mun. Kami sangat butuh orang sepertimu.”

Maimun hanya tersenyum.

***

“Tidak salah lagi. Pasti dia pencurinya. Tadi siang aku lihat dia pergi ke salah seorang pengepul telur. Bukannya dia tidak ada bebek ?”

“Aku tidak percaya, kita kan tahu dia seperti apa orangnya. Tidak mungkinlah dia melakukannya.”

“Kau mungkin salah orang.”

“Atau mungkin dia membeli telur. Jangan buruk sangka.”

Warga kampung Tanjung Tebat mulai memanas kembali dengan tersebarnya berita perihal pencuri telur bebek.

“Kita datangkan saja dia ke sini.”

“Tidak, kita ajak saja dia ke kantor kelurahan. Nanti biar Pak Lurah yang mengintrogasi.”

“Betul kata Pak Kahar. Kita bawa saja dia ke kantor kelurahan.”

Warga berbondong-bondong menuju kantor lurah. Pak Lurah sebenarnya sudah tahu tentang isu yang beredar di masyarakat. Tapi beliau tak ambil pusing dengan hal tersebut, toh warga tidak memberikan laporan.

“Ini ada apa? Kok main kasar begitu ?”

Pak Kahar menceritakan duduk permasalahannya pada Pak Lurah. Menanggapi hal tersebut, Pak Lurah hanya tersenyum.

“Benar begitu, Mun? Kau mencuri telur-telur milik warga ?” Pak Lurah beralih ke arah Maimun.

“Sumpah, Pak, saya tidak mungkin melakukan hal itu,” jawab Maimun sambil sesekali meringis kesakitan akibat memar digebuki warga.

“Sudahlah, Mun, mengaku saja. Sudah jelas-jelas tadi siang Pak Mulya melihat kau datang ke pengepul telur membawa ember hitam. Kami sudah sangat percaya denganmu Mun, tapi ternyata kelakuanmu begini.” Pak Kahar menimpali.

“Astaghfirulah, Wak. Saya datang ke pengepul telur hanya membeli beberapa untuk lauk makan dengan Ninek Ino. Soal ember hitam, itu hanya berisi air yang saya ambil di perigi pinggir dusun.”

“Lalu kenapa setiap shalat Isya dan Shubuh kau jarang hadir? Nineng Kasno malah yang jadi imam, seharusnya kan kau, Mun.”

“Waktu Isya dan shubuh saya harus menunggui Ninek Ino. Pak Lurah sudah tahu hal tersebut, beliau memberi izin sampai kesehatan Ninek Ino pulih !!” Suara Maimun mulai meninggi, ”securiga itu bapak ibu sekalian dengan saya?”

Pak Kahar sinis melihat Maimun, ”Ya seharusnya kau memberi tahu keadaanmu dan Ninek Ino, biar kami tidak curiga.”

Maimun terdiam. Wajahnya merah padam.

“Pak Kahar, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Saya mohon maaf belum bisa mengambil keputusan perkara ini. Kalian belum ada bukti menyangka Maimun sebagai pelakunya.”

Suasana hening.

“Saya yakin Maimunlah pelakunya.” Pak Kahar nyeletuk.

Gubraakkkkkkk!?

Meja yang terbuat dari kayu jati di depan Maimun seketika hancur berkeping-keping. Warga yang terkena serpihan kayu meringis dan bergerak menjauh. Mata Maimun menyala-nyala. Sebagian warga menggigil ketakutan melihat perubahan Maimun. Napasnya tersengal-sengal menahan amarah yang sedemikian memuncak.

“Atas dasar apa Wak menuduh saya? Hanya karena saya membeli telur dari pengepul, tidak menjadi imam shalat Isya dan Shubuh, membawa ember hitam lantas Uwak menuduh saya yang mencuri? Hidup saya memang melarat, Wak. Tapi tidak pernah terlintas dibenak saya untuk mencuri walau dalam keadaan terdesak.”?

Hidung Maimun kembang kempis. Matanya menatap tajam ke arah Pak Kahar. Nyali Pak Kahar ciut untuk membalas tatapan menyala Maimun.

“Sabar, Mun. Ini hanya kesalahpahaman saja.” Pak Lurah mencoba menenangkan Maimun.

“Ini sudah keterlaluan Pak. Ninek Ino melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana saya digebuki warga. Saya takut beliau tambah drop melihat saya.”?

Air mata Maimun mulai jatuh.

“Ibu-ibu dan bapak-bapak, saya sarankan semuanya pulang dulu ke rumah masing-masing. Masalah ini insyaallah akan kita usut sesegera mungkin.”

Satu per satu warga mulai meninggalkan kantor kelurahan. Maimun masih duduk di kursi. Sesekali ia menyeka airmatanya.

“Mun, nanti malam pukul 10 kau temui aku di sini. Aku yakin kau bukan pelakunya.” Maimun masih terdiam.

“Sekarang pulanglah, Mun. Bilang pada Nek Ino kalau warga hanya salah sangka.”

Maimun berdiri dan memaksa dirinya untuk tersenyum. Langkahnya lunglai dan agak pincang. Terlihat baju bagian lengan kirinya sobek

Malamnya.

“Kok? Ini ada apa pak ?”

“Sudah. Nanti kuberitahu di jalan.” Pak Lurah mengajak Maimun dan 3 orang asistennya pergi ke arah kampung.

Pak Lurah, Maimun dan 3 asistennya mengendap-endap memastikan jika ada hal yang mencurigakan. Tengah malam mereka masih berkeliling di sekitaran kampung.

“Mun Mun, kau melihat apa yang kulihat?”

Maimun menggelengkan kepala.

“Coba lihat di sana, Mun!”

Maimun memasang matanya mencari sosok yang ditunjukkan pak Lurah,“Itu, itu, itu kan…” Maimun gelagapan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dan……

***

“Aku minta maaf, Mun, karena aku, kamu kemarin dihakimi warga. Apa pun hukuman yang kau berikan akan aku terima, Mun.”

“Saya kecewa dengan Wak. Wak kemarin yang mengadu domba warga menuduh saya yang bukan-bukan. Ternyata Wak sendiri pelakunya. Saya sudah memaafkan Uwak, lalu bagaimana dengan warga kampung ?”

“Saya menyesal, Mun.” Pak Kahar tertunduk lesu.

“Untung Wak ketahuan oleh saya dan Pak Lurah. Kalau Wak ketahuan dengan warga, mungkin Wak akan babak belur seperti saya. Uwak harus mengganti semua kerugian warga.”

“Iya Mun, saya berjanji. Tapi maafkan saya, Mun, saya mungkin tak akan mampu membayar seluruh kerugian warga.”

“Semampunya dan usahakan bisa semua.”

Pak Kahar merangkul Maimun erat. Ia menangis seperti anak kehilangan induk. Maimun melepaskan pelukan Pak Kahar dan menjauh dari kantor kelurahan.





Penulis adalah mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Antek: sejenis bangku yang terbuat dari bambu, tempat biasanya warga Sumatra Selatan duduk-duduk di kala istirahat













Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal Hari Santri 2018

Kamis, 08 Februari 2018

Memilih Istri, Memilih Kualitas Generasi

Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 223 Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ?

Memilih Istri, Memilih Kualitas Generasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Memilih Istri, Memilih Kualitas Generasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Memilih Istri, Memilih Kualitas Generasi

“Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian. Maka datangilah ladang kalian dari mana pun kalian mau.”

Hari Santri 2018

Ayat tersebut sangat sering dibaca dan dijabarkan penjelasannya oleh para mubaligh di acara-acara resepsi perkawinan atau walimatul ursy. Hanya saja pada umumnya para mubaligh menjelaskan kandungan ayat tersebut sebagai bagaimana cara seorang suami melakukan hubungan biologis dengan istrinya. Seorang istri yang dalam ayat tersebut diibaratkan sebagai ladang maka seorang suami dipersilakan menggaulinya dengan cara apa pun yang ia mau selain melalui jalan belakang.

Padahal bila kita pelajari lebih lanjut melalui ayat tersebut para ulama mufasir memberikan pendidikan yang sangat penting untuk diperhatikan oleh pasangan suami istri baik yang baru saja menikah maupun yang telah lama mengarungi bahtera rumah tangga. Bahkan boleh jadi pendidikan penting ini lebih penting lagi bagi para pemuda yang belum menikah dan masih mencari seorang perempuan yang didambakan menjadi pasangan hidupnya.

Hari Santri 2018

Imam Qurtubi misalnya menjelaskan bahwa yang dimaksud “ladang” pada ayat itu adalah farji atau kemaluan perempuan. Disamakan demikian karena menjadi tempat untuk menyemaikan benih keturunan.

Syaikh Tsa’lab bersyair:

? ? ? ... ? ? ?

? ? ? ... ? ? ?

Rahim-rahim adalah bumi bagi kita tempat menanam

Kewajiban kita menanaminya, dan Allah yang menumbuhkan tumbuhannya

Kemaluan perempuan adalah bumi yang ditanami, sperma adalah benih, sedangkan anak adalah tumbuhannya.

Demikian Imam Qurtubi menyampaikan dalam tafsirnya Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an. Senada dengan itu juga disampaikan oleh Ibnu Hayan dalam Al-Bahrul Muhith-nya.

Bila dilihat dari sisi hukum dengan perumpamaan yang demikian maka tidak diperbolehkan melakukan persetubuhan di selain kemaluan karena bukan tempatnya untuk menanam.

Dari sisi yang lain ayat itu kiranya juga hendak mewartakan bahwa seorang perempuan sangat berpengaruh dalam menentukan baik dan buruk anak-anaknya di kemudian hari. Baik-buruknya anak-anak sebagai generasi masa depan sangat dipengaruhi oleh baik buruknya seorang seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya. Sebagaimana dalam ilmu pertanian disebutkan bahwa kondisi tanah sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya sebuah tanaman.

Seorang ibu yang memiliki kedekatan dengan Allah dengan taat beribadah, berakhlak mulia, berilmu cukup dan sifat-sifat baik lainnya akan melahirkan dan menciptakan generasi yang berkualitas. Sebaliknya, seorang ibu yang jauh dari sifat dan sikap yang baik akan melahirkan dan menciptakan generasi yang tak berkualitas. Bagaimana akhlak seorang ibu akan berpengaruh pada anak-anaknya. Saleh tidaknya seorang ibu akan ikut menentukan saleh tidaknya anak-anak yang dilahirkannya.

Maka wajar bila Rasulullah menganjurkan seorang laki-laki memilih seorang perempuan untuk menjadi istrinya dengan kriteria beragama dengan akhlak yang mulia. Wajar pula bila banyak ulama kita yang menganjurkan kepada santrinya yang sudah berkeinginan menikah untuk tidak sekadar memilih calon istri untuk dirinya tapi juga untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya. (Yazid Muttaqin)

Referensi:

Tafsir Al-Qurtubi/Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam Qurtubi

Tafsir Al-Bahrul Muhith, Imam Abu Hayan Al-Andalusi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pertandingan, Tegal Hari Santri 2018

Senin, 05 Februari 2018

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Judul: Piagam Perjuangan Kebangsaan

Editor : Abdul Mun’im DZ

Penerbit: Setjen PB NU-Hari Santri 2018, Jakarta Pusat

Cetakan: 2011

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Tebal: 147 hlm

Peresensi: Hairul Anam*)

Hari Santri 2018

Sejarah itu ubahnya mutiara terpendam di dasar lautan. Cahayanya tak bakal mampu berkilau dan melahirkan kekaguman bagi siapa pun, manakala tak ada yang mengangkatnya ke permukaan. Karena itu, menemukan sekaligus memeliharanya merupakan langkah bijak untuk dijadikan acuan dalam memberi penilaian. Dan pada waktu itu juga, sejarah akan menghadirkan dirinya dengan ragam pencerahan.

Hari Santri 2018

Pada aras itu, sejarah sepak terjang NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia, tampaknya masih belum diketahui banyak kalangan. Akibatnya, NU acap kali diidentikkan dengan organisasi yang hanya berkutat dengan ranah ibadah mahdhah. Bahkan, dituduh sebagai organisasi yang irasional, bid’ah, sinkretis, dan sebagainya.

Buku Piagam Perjuangan Kebangsaan ini hadir untuk mengabadikan segala ‘jasa-jasa’ perjuangan NU terhadap bangsa di bumi persada ini. Banyak peristiwa penting yang terekam kuat di dalamnya. Berbagai piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam bidang politik dan kebangsaan dapat dibaca jelas dalam buku tipis ini. Menariknya, dalam buku ini, hal itu disusun secara sistematis berdasarkan urutan tahun kejadian.

Dimulai dari Piagam Nahdlatul Wathon (1916). Dilatarbelakangi keprihatinan Kiai Wahab Chasbullah melihat kondisi bangsanya yang terbelakang karena terjajah, lahirlah usaha dari beliau untuk membangkitkan bangsa dengan membentuk organisasi pergerakan yang diberi nama Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan). Selanjutnya, organisasi ini merambah ke berbagai daerah di Indonesia.

Pada tahun 1918, diketuai oleh Syekh Hasyim Asy’ari dan disekretarisi oleh Kiai Wahab Chasbullah, dicetuskanlah Piagam Nahdlatut Tujjar. Organisasi yang concern pada wilayah dagang ini merupakan embrio dari NU. Melaluinyalah aspirasi warga NU dapat tersampaikan pada Raja Saudi tatkala digelar Komite Hejaz.

Mengenai Deklarasi Komite Hejaz (7 Mei 1928) yang fokus pada perjuangan kebebasan beragama, juga terabadikan dalam buku ini. Kala itu, kota Suci Mekah sebagai pusar peradaban Islam menjadi tempat belajar bagi Muslim dari seluruh dunia termasuk Indonesia. Munculnya gerakan Wahabi di Saudi Arabia berpengaruh langsung terhadap Islam di negeri ini. Pulangnya beberapa pelajar asal Sumatera Barat tahun 1808 yang terpengaruh Wahabi mulai menyiarkan ajaran ekstrem yang kemudian tumbuh gerakan Paderi, yang mengajarkan Islam puritan ke Indonesia. Kemudian berkobarlah perang Paderi (perang antar mazhab) dalam agama Islam. Tradisi Islam yang berusaha mengintegrasikan Islam dengan budaya Nusantara, mereka obrak-abrik dengan kekerasan. Dalam batas tertentu, hal itu dapat diredam dengan terbitnya Deklarasi Komite Hejaz. (hal. 30-35)

Mukadimah Qanun Asasi (1926), Piagam Indonesia sebagai Negara Bangsa (1936), Deklarasi Mabadi Khoiro Ummah (1939), Deklarasi Resolusi Jihad I (1945/46), Piagam Waliyul Amri (1954), dan Piagam Liga Muslimin Indonesia (1952) dapat ditemukan keasliannya dalam buku ini. Tidak hanya dicantumkan, tapi juga disertai dengan latar belakang piagam dan deklarasi tersebut ditorehkan.

Selain itu, masih ada Deklarasi Demokrasi Pancasila (1967), Piagam Hubungan Agama dengan Pancasila (1983), Deklarasi Khittah Nahdliyah (1984), Pedoman Berpolitik Warga NU (1989), Mufakat Demokrasi (1991), Piagam Perdamaian Dunia (2004), Maklumat Kebangsaan Nahdlatul Ulama (2006), dan yang terbaru ialah Maklumat Menyelamatkann NKRI (2011).

Harus diakui, keberhasilan NU dalam berperan serta memelihara keutuhan bangsa ini tidak terlepas dari sikap kebangsaan yang dipilihnya. Ia selalu mengedepankan sikap moderat dalam menyikapi masalah, dan terpenting ialah toleran terhadap ragam perbedaan. Hal inilah yang menjadi kekuatan utama yang naif manakala tidak diteladani oleh generasi muda Indonesia.

Secara akumulatif, Piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam buku ini penting diketahui sekaligus dipahami oleh semua kalangan. Ini adalah buku sejarah kebangsaan yang dilahirkan oleh organisasi yang sedari berdiri amat peduli terhadap keutuhan NKRI. Meminjam bahasa Abdul Mun’im DZ, mempelajari fakta historis itu bukan untuk membangun romantisme masa lalu, tetapi sebuah upaya menggali gudang peluru sebagai amunisi menggerakkan masa depan.

Akhirnya, buku ini mendesak dimiliki oleh siapapun. Warga Indonesia yang betul-betul punya kepedulian terhadap bumi pertiwi, rugi rasanya bila tak mengoleksi buku setebal 147 halaman ini. Saya merekomendasikan agar buku ini dijadikan rujukan oleh kalangan peneliti agar tidak bias dalam ‘membaca’ NU.

* Penggiat buku di Intitut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Cerita, Tegal Hari Santri 2018

Sabtu, 27 Januari 2018

Syiir ‘Kanjeng Nabi’ Karya Mbah Kiai Umar Solo

Cinta Mbah Kiai Ahmad Umar bin Abdul Mannan Solo kepada Rasulullah SAW tidak saja diwujudkan dengan mengikuti sunnah-sunnah beliau tetapi juga dengan bacaan-bacaan shalawat. Hal ini dapat kita temukan dalam beberapa karya syiir beliau yang antara lain berjudul “Kanjeng Nabi”.

Syiir ini diawali dengan intro shalawat dan kemudian diikuti dengan bait-bait dalam bahasa Jawa berisi kisah Rasulullah SAW di masa kecilnya. 

Syiir ‘Kanjeng Nabi’ Karya Mbah Kiai Umar Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Syiir ‘Kanjeng Nabi’ Karya Mbah Kiai Umar Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Syiir ‘Kanjeng Nabi’ Karya Mbah Kiai Umar Solo

Berikut bunyi lengkap syiir tersebut yang dikutip dari buku Kumpulan Syair, Shalawat  & Pujian-pujian Mangkuyudanan (Jakarta Pusat: Pustaka Mediatama, 2003), Cet. 8, halaman 20, disunting oleh Ahmad Iftah Sidik:

Kanjeng Nabi

? ? ? ?   ? ? ?

? ? ? ? ? ?   ? ? ? ?

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Masya Allah gedhe temen tho cobane



Masya Allah lelakone mesaake

Ing nalika kondure sangka Madinah

Ana ndalan njur gerah Siti Aminah





(Masya Allah sungguh besar cobaannya

Masya Allah mengharukan riwayatnya

Ketika kembali dari kota Madinah

Di perjalanan sakit Bunda Aminah)





Gerah panas ora suwe nuli seda

Njur dikubur ana penduduk ing desa

Desa kang kanggo leren jenenge Abwa

Lan dikubur uga ana ing desa Abwa 





(Bunda wafat setelah sakit tak lama

Lalu dimakamkan oleh warga desa

Desa tempat Bunda singgah bernama Abwa

Di Abwa pula tempat dimakamkannya)





Siti Aminah sak wuse dikuburake

Gusti Nabi lan Ummu Aiman bature

Padha budhal kanthi penggalihe susah

Wektu limang dina lagi tekan ngomah





(Setelah Bunda Aminah dimakankam

Lalu Nabi dan Ummu Aiman sang Emban

Dengan sedih melanjutkan perjalanan

Sampai rumah lima hari kemudian)





Gusti Nabi kundure karo bature 

Tekan ngomah gusti sowan ing eyange

Ingkang eyang kaget getir lan sungkawa

Barang ngerti yen Siti Aminah seda





(Nabi pulang bersama sang pengasuhnya

Sampai rumah Nabi menghadap kakeknya

Sang kakek terkejut dan berduka cita

Mendengar  bunda Nabi telah tiada)





Gusti Nabi dikekep lan diambungi

Waspane dleweran lan dingendikani

Oh ngger putuku wis pestine awakmu

Isih cilik ditinggal rama ibu





(Lalu Nabi dipeluk dan diciumnya

Seraya menangis kakeknya berkata

Duhai cucuku mungkin sudah takdirmu

Masih kecil ditinggal ayah ibumu)





Oh ngger atimu aja keranta-ranta

Aku eyangmu kang dadi ganti bapa

Sandang panganmu aku sing mikirake 

Nggonmu seneng  atimu ditentremake





(Duhai cucuku jangan sedih hatimu

Aku kakek yang menggantikan ayahmu

Sandang panganmu menjadi tanggunganku

Bergembira dan tentramkanlah hatimu)





Gusti Nabi nalika nderek eyange

Durung tahu pisan wae nggelaake

Sebab  Gusti becik banget pekertine

Tata krama sregep lan keresi’ane 





(Katika Nabi ikut dengan kakeknya

Tak pernah beliau mengecewakannya

Sebab akhlak Nabi sangatlah mulia

Sopan santun, rajin, dan selalu bersih)

Bagi kebanyakan orang Solo, khususnya para santri dan warga NU, karya ini tidak asing bagi mereka. Semenjak Mbah Kiai Umar wafat pada tahun 1980, syiir ini banyak diperdengarkan oleh beberapa kelompok rebana di kota Solo seperti Grup Ayyada dibawah pimpinan Ahmad Zainudin, seorang alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta. Di musim peringatan Maulid seperti sekarang ini, syiir ini biasa dilantunkan oleh grup rebana yang tergabung dalam JAMURI-- jamaah ibu-ibu pecinta Rasulullah SAW di Solo. 

Untuk melantunkan syiir ini tidak sulit. Jika anda bisa melantunkan “Tombo Ati” yang dibawakan Opick, anda tentu bisa melantunkan syiir karya Mbah Umar ini dengan mudah karena dari awal hingga akhir memiliki kesamaan lagu di bagian chorus atau reff dalam lagu “Tombo Ati” sebagai berikut: 

? ? ? ?   ? ? ?

? ? ? ? ? ?   ? ? ? ?

Lewat syiir ini Mbah Kiai Umar mengajak kita mengetahui sejarah masa kecil Nabi Muhammad SAW yang amat mengharukan. Tentu beliau tidak bermaksud mengajak kita bersedih hati. Beliau ingin menggugah kita menjadi orang sabar dan bersyukur atas apapun nasib hidup yang kita alami. Mbah Umar bermaksud menunjukkan kepada kita keteladanan Nabi Muhammad SAW bahwa meskipun beliau mengalami penderitaan yang luar biasa sebagai yatim piatu di masa kecilnya, namun kesemua itu bukan hambatan untuk menjadi anak saleh, berbudi pekerti luhur, rajin bekerja dan selalu menjaga kebersihan lahir batin sebagaimana diuraikan dalam bait terakhir syiir ini. 

 

Muhammad Ishomdosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal Hari Santri 2018

Sabtu, 06 Januari 2018

Produsen Panci Berlafadz "Alhamdu Allah" Minta Maaf

Sidoarjo, Hari Santri 2018

General Manager (GM) PT Pektroindo Anugerah Sukses Abadi, produsen panci Paramount yang berlafadz "Alhamdu Allah", Ciputra Alim meminta maaf kepada seluruh umat Islam terkait produknya yang menjadi polemik, karena bertempelkan stiker berlafadz "Alhamdu Allah". Ia juga mengaku khilaf atas kejadian tersebut.

Ciputra mengaku, tidak ada maksud sama sekali melakukan penistaan agama dalam produk panci yang diproduksi massal tersebut. Namun, pihak pabrik sebenarnya hanya ingin menempelkan stiker tersebut sebagai wujud rasa syukur, setelah hampir 12 tahun tidak berproduksi dan akhirnya bisa produksi kembali pada akhir 2015.

Produsen Panci Berlafadz Alhamdu Allah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Produsen Panci Berlafadz Alhamdu Allah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Produsen Panci Berlafadz "Alhamdu Allah" Minta Maaf

"Sejak kisaran tahun 2003, pabrik panci tidak berproduksi dan baru memulai produksi kembali kisaran akhir 2015. Atas dasar itu, sejumlah karyawan yang Muslim mengusulkan agar menyertakan kata "Alhamdulillah" di stiker produk panci Paramount. Ungkapan itu, sebagai bentuk syukur karyawan yang bisa bekerja kembali di perusahaan panci," kata Ciputra sembari menceritakan asal usulnya kepada wartawan saat ditemui di kantornya Jalan Gajah Mada, Desa Kedungturi, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (26/1).

Namun tak disangka, lanjut dia, niatan itu justru menimbulkan polemik di kalangan umat Islam. Apalagi, kata yang dimaksud "Alhamdulillah" itu ternyata hurufnya kurang dan menjadi "Alhamdu Allah".?

Hari Santri 2018

"Kami atas nama perusahaan meminta maaf dan berjanji akan mengganti stiker lafadz ? "Alhamdu Allah" dengan stiker baru tanpa tulisan Arab. Selain itu, kami juga akan menarik produk yang beredar di pasaran," ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, bahwa produk panci Paramount yang belafadz "Alhamdu Allah" itu ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain Pasuruan dan Jember. Temuan lafadz Allah itu, spontan membuat sebagian umat Islam merasa kecewa. Bahkan, MUI Pasuruan dan sebuah ormas Islam di Pasuruan sempat melaporkan polemik itu ke Mapolres Pasuruan. MUI dan salah satu ormas Islam tersebut menyebutkan, pencatuman lafadz "Alhamdu Allah" di barang yang tidak semestinya bisa dianggap sebagai penistaan agama. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Tegal Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock