Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Januari 2018

Peluncuran Harlah ke-10 NU Online Berlangsung Meriah

Jakarta, Hari Santri 2018. Peluncuran harlah ke-10 Hari Santri 2018 belangsung meriah di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, Kamis (28/3) malam. 10 tahun Hari Santri 2018 diawali irama instrumental Selawat Badar dan Indonesia Raya oleh seniman violin berprestasi Sagaf Faozata Adzkiya.

Peluncuran 10 tahun Hari Santri 2018 diisi dengan penganugerahan Hadiah Asrul Sani (HAS) kepada lima orang yang telah mengabdikan dirinya bagi kepentingan umum sesuai dengan kategori yang ditentukan.

Peluncuran Harlah ke-10 NU Online Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluncuran Harlah ke-10 NU Online Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluncuran Harlah ke-10 NU Online Berlangsung Meriah

Dari penganugerahan Hadiah Asrul Sani, acara peluncuran dilanjutkan dengan pidato kebudayaan yang disampaikan oleh M Jadul Maula. Sedikitnya 200 orang memadati lokasi. Mereka terdiri dari pelbagai kalangan mulai dari penyair, pelukis, novelis, wartawan, dan politisi.

Dalam mendengarkan nama para peraih HAS, para hadirin dipandu oleh dua awak redaksi Hari Santri 2018 A Khoirul Anam dan Abdullah Alawi. Pembawaan jenaka keduanya kerap memancing gelak tawa seisi ruangan. Pembawa acara sendiri Hamzah Sahal memiliki pembawaan yang humoris.

Namun begitu, suasana lentur ini sudah menjadi watak warga NU sehingga membuat nyaman siapa pun yang bertandang di Gedung PBNU seperti diungkap sineas Slamet Rahardjo saat menerima HAS.

Hari Santri 2018

Mereka yang tampak hadir adalah Ketua PBNU Kiai Maksum Mahfudz, Wasekjen PBNU Abdul Mun‘im DZ, penyair Kiai Zawawi Imron, novelis Ahmad Tohari, sineas Slamet Rahardjo, aktor film Alex Komang, sejumlah politisi, serta pengurus banom dan lembaga NU.

Sementara awak redaksi Hari Santri 2018 dikejutkan dengan sumbangan kue Tar dari komunitas media sosial di twitter atas inisiatif sendiri. Dua batang lilin yang menyala tertancap kuat di tengah kue.

Hari Santri 2018

Rangkaian peringatan 10 tahun Hari Santri 2018 secara formal ditandai dengan tiupan lilin dan pemotongan kue oleh Ketua PBNU dan Wasekjen PBNU. Potongan kue itu diterima oleh dua redaktur senior Hari Santri 2018.

“10 Tahun Hari Santri 2018 patut dirayakan. Karena, Hari Santri 2018 sebagai media ormas tetap mempertahankan pakem jurnalistik. Dengan itu, Hari Santri 2018 dipercaya masyarakat. Bahkan pembacanya meningkat tajam di dua tahun terakhir” kata Pemred Hari Santri 2018 Syafi Ali Elha dalam sambutannya.

Di sela acara, Sagaf memainkan instrumen violinnya untuk tembang Ilir-Ilir dan sebuah karya komposer klasik Jerman Johann Sebastian Bach. Di tengah panggung, penampilan musik violinis muda itu membuat bisu para hadirin. Dalam pertunjukkan, ia hanya mengenakan busana lazim santri, sarung, kemeja batik, dan kopiah hitam.

Peringatan 10 tahun Hari Santri 2018 rencananya dirayakan selama empat bulan ke depan. Hari Santri 2018 pada kesempatan mendatang mempertunjukkan ratusan karya kiai di Indonesia, peluncuran radio streaming Hari Santri 2018, dan halaqah kebudayaan.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Khutbah, Amalan, Habib Hari Santri 2018

Minggu, 21 Januari 2018

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator

Kudus, Hari Santri 2018. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Kudus mengadakan selamatan dengan pembacaan manaqib menjelang Pelatihan Fasilitator (Latfas), Kamis (7/5) di Gedung MWCNU Mejobo Kudus, Jawa Tengah.

PC IPNU-IPPNU Kudus telah menyelesaikan beberapa program kerjanya.  Maka selain sebagai doa selamatan, manaqib ini juga sebagai agenda tasyakuran atas kesuksesan berbagai agenda yang telah terlaksana.

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kudus Gelar Manaqiban Jelang Pelatihan Fasilitator

“Sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah atas suksesnya seluruh agenda sedari kita pelantikan tanggal 9 November 2014 hingga hari ini,” ujar Joni Prabowo, Ketua Umum PC IPNU Kudus.

Hari Santri 2018

Usai pelantikan, IPNU-IPPNU Kudus lekas berkegiatan antara lain, pelatihan kepemimpinan bagi anggota Forum Komunikasi Antar Pimpinan Komisariat (Forkapik), Diklatama DKC CBP dan KPP, Lakmud dan Makesta pada tahun 2014 lalu.

Juga suksesi atas serangkaian kegiatan penyambutan hari lahir IPNU dan IPPNU, tim apresiasi seni 54, tim redaksi majalah Pilar 2015, tim Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) kerjasama Yayasan Mata Air, manajemen pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA), dan usaha akomodasi atribut IPNU-IPPNU oleh tim perekonomian.

Hari Santri 2018

“Sementara besok pun kita sudah akan mulai agenda terdekat kita, yakni pagi jam delapan ada pembukaan Latfas di tempat ini juga, serta siangnya pembukaan BPUN di ponpes Zainal Husain. Ini acara kita bersama dan butuh dukungan dan bantuan,” papar Joni saat sambutan manaqib.

Pembacaan manaqib sore itu dipimpin oleh Dwi Saifullah, mantan Ketua IPNU Kudus periode sebelumnya. Acara diikuti oleh para pengurus harian, departemen, tim redaksi majalah Pilar, Forkapik, serta para tamu undangan. (Istahiyyah/Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib, Nasional Hari Santri 2018

Sabtu, 13 Januari 2018

PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI

Jakarta, Hari Santri 2018. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menyerahkan kertas kerja organisasi selama 15 tahun periode kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau masa khidmah 1984 hingga 1999 ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU akan Serahkan Kertas Kerja Gus Dur ke ANRI

Saat ini kertas kerja itu telah tertata rapi di ruang perpustakaan di lantai 2 kantor PBNU.

Menurut Kepala Perpustakaan PBNU, H Satiiri Ahmad, penyerahan arsip PBNU yang selanjutnya disebut Kertas Kerja Gus Dur itu dilakukan setelah melalui tahap identifikasi awal oleh pihak ANRI.

Hari Santri 2018

“Selama sekitar lima bulanan sudah dilakukan proses akuisisi. Ada tim dari ANRI yang datang untuk melakukan identifikasi, misalnya apakah naskah ini asli atau foto copy,” katanya kepada NU Onine, Senin (19/12).

Hari Santri 2018

Kertas kerja Gus Dur akan diserahkan secara resmi kepada pusat arsip Indonesia itu sebelum pelaksanaan Muktamar ke-33 NU, awal Agustus 2015 mendatang.

Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ mengatakan, kerjasama dengan ANRI kali ini adalah tahap kedua. Tahap pertama, tahun 1983 silam beberapa saat sebelum kantor PBNU direnovasi, KH Moenasir Ali (sekjen PBNU waktu itu) menyerahkan arsip dari kantor di jalan Kramat Raya Jakarta Pusat ke pihak ANRI.

Kerjasama dengan pihak ANRI diteruskan oleh Gus Dur pada 1985. Arsip yang diserahkan oleh KH Moenasir Ali itu adalah kertas kerja PBNU selama periode 1952 hingga 1982. Secara berkala PBNU meninjau proses pengelolaan arsip NU di gedung pusat ANRI Jalan Ampera, Jakarta Selatan.

Saat ini arsip PBNU yang telah diserahkan ANRI untuk tahap pertama sudah selesai dikatalogisasi. Pihak ANRI sudah melakukan tematisasi, dan memberikan catatan-tatatan serta deskripsi untuk membantu pembaca dalam memahami konteks sejarah pada saat arsip itu dibuat.

Pada 20 November 2014 lalu, ANRI bekerja sama dengan PBNU menggelar kegiatan Ekspose Inventaris Arsip NU 1952-1982. Kegiatan dibuka langsung oleh Deputi Bidang Konservasi M. Taufik yang diikuti dengan dialog seputar kebijakan pengolahan arsip NU di ANRI dan peta arsip NU. Dari PBNU waktu itu diwakili oleh Wakil Sekje Abdul Mun’im DZ dan Kepala Perpustakaan Satiri Ahmad.

Arsip NU di ANRI berisi bermacam-macam dokumen surat-menyurat, hasil muktamar, pertemuan alim-ulama, sidang pleno, administrasi keanggotaan, hingga catatan keuangan, kepengurusan, dan badan otonom dan lembaga NU.

Arsip yang dipindahkan dari kantor PBNU pada masa khidmah 1952 hingga 1982 ke gedung ANRI juga memuat informasi mengenai amal usaha dan peran NU terkait pendidikan, ekonomi, politik, sosial, ketenagakerjaan, keamanan, pertahanan, dan hubungan luar negeri baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, revolusi hingga masa kemerdekaan RI.

“Arsip ini merupakan etalase NU. Melalui kerja sama dengan ANRI, diharapkan publik akan melihat NU secara positif,” kata Mun’im DZ. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib Hari Santri 2018

Gus Yahya Baca Skema Politik Saudi atas Ketegangannya dengan Iran

Jakarta, Hari Santri 2018. Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf memandang ketegangan Saudi-Iran sengaja diciptakan oleh pihak Saudi. Gus Yahya menganggap Saudi membutuhkan situasi tegang sebagai pintu masuk untuk merekatkan kembali negara-negara sekutunya yang kini dirasa mengendur di tengah konflik panjang Timur Tengah.

Gus Yahya Baca Skema Politik Saudi atas Ketegangannya dengan Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yahya Baca Skema Politik Saudi atas Ketegangannya dengan Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yahya Baca Skema Politik Saudi atas Ketegangannya dengan Iran

“Saya menduga, Saudi memang sengaja memicu dan membangun skenario konflik ini. Masuknya Rusia dan Cina ke dalam pertarungan militer seputar Syiria telah mengubah peta secara dramatis sampai-sampai kepemimpinan dan arahan Saudi mulai diragukan oleh sekutu-sekutunya sendiri,” kata Gus Yahya dalam akun fesbuknya, Kamis (7/1).

Ia melihat barisan sekutu Saudi yang mengendur. Saudi tidak ingin kepercayaan sekutunya semakin memudar dan bergerak ke arah yang lebih parah. Makanya Saudi membutuhkan momentum untuk rekonsolidasi.

Hari Santri 2018

Dengan konflik belakangan ini dengan Iran, Saudi mencoba menggalang kebersamaan dari sekutunya. Lewat isu Suni-Syiah, Saudi menarik garis pemisah antara sekutu dan pesaingnya. Karenanya Saudi mencari jalan untuk bersitegang dengan Iran, kata Gus Yahya.

Hari Santri 2018

Konflik kedua negara bertetangga ini awalnya dipicu oleh eksekusi Al-Nimri yang disusul demonstrasi sampai lempar bom molotov ke gedung kedutaan Saudi.

Spekulasi Gus Yahya ini cukup beralasan. Menurutnya, Al-Nimri sudah bertahun-tahun mengumbar agitasi keras terhadap penguasa Saudi. Kalau mau, Saudi bisa dan punya alasan untuk memancungnya sejak dahulu.

“Kenapa sekarang? Apakah lemparan bom molotov sudah cukup jadi alasan pemutusan hubungan? Sepele amat? Kalau jadian betul perang Saudi-Iran, kekacauan di kawasan itu memang akan gila benaran,” tandas Gus Yahya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Sunnah, Anti Hoax, Habib Hari Santri 2018

Jumat, 22 Desember 2017

Kongres IPNU-IPPNU: Di Dalam Tegang, Di Luar Senang

Boyolali, Hari Santri 2018. Pada malam ketiga pelaksanaan Kongres XVIII IPNU dan Kongres XVII IPPNU, Ahad (6/12)? malam, para peserta? telah memasuki? agenda persidangan komisi. Peserta dibagi menjadi empat komisi yakni komisi A (Peraturan Dasar/Peraturan Rumah Tangga), komisi B (Garis-gairs Besar Perjuangan Pengembangan) , Komisi C (Prinsip Perjuangan) dan Komisi D (Rekomendasi).

Kongres IPNU-IPPNU: Di Dalam Tegang, Di Luar Senang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kongres IPNU-IPPNU: Di Dalam Tegang, Di Luar Senang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kongres IPNU-IPPNU: Di Dalam Tegang, Di Luar Senang

Dari keempat komisi tersebut, persidangan yang paling menghabiskan pikiran ada di komisi A yang membahas rancangan PD/PRT.? Peserta saling interupsi dan beradu argumentasi? mempertahankan gagasan-usulannya. Saking alotnya pembahasan, sidang komisi ini berakhir hingga Senin dini hari tadi.

Bila suasana di dalam ruangan terlihat tegang, tidak demikian di luar ruangan.? Seperti Ahad? malam itu, para pelajar yang turut memeriahkan kongres asyik menikmati penampilan musik beraroma anak muda di panggung apresiasi. Malam itu, grup musik IPNU Band (Purworejo) tampil menghibur dengan musik-musik yang sesuai selera peserta kongres. Ia juga bisa mengiringi peserta yang ingin bernyanyi sesuai lagu yang dibawakan.

Hari Santri 2018

?

"Mari kita luapkan kegembiraan di arena kongres malam ini.? Yang di dalam tegang, yang di luar kita senang-senang," ucap salah seorang host panggung Ahad malam.

Hari Santri 2018

?

Panggung apresiasi yang disediakan panitia ternyata mampu mencairkan suasana kongres. Saat sidang lagi diskors, para peserta pun larut bergabung di panggung sambil bernyanyi seakan ingin menghilangkan kepenatan.

Panitia daerah Ahmad Noufa Khairul Faizin mengatakan panggung apresiasi sengaja disiapkan guna memberi ruang berekpresi bagi kader-kader IPNU-IPPNU. Mereka bisa menampilkan kreativitas bersama musik host yang ditampilkan.

?

"Selama kongres kami menampilkan hiburan musik di sini. Mulai sore hingga malam 1-3? grup musik? menghibur teman-teman peserta kongres di panggung apresiasi," ujarnya pada Hari Santri 2018.

?

Peserta asal Pati Maksum mengaku senang atas penampilan IPNU Band yang menghibur . Terlebih lagi, banyak kader-kader IPNU-IPPNU dari seluruh Indonesia yang kreatif bernyanyi di atas panggung.

?

"Salut deh ama panitia, kita tidak hanya terbebani pembahasan-pembahasan materi sidang, tetapi juga bisa terhibur," katanya singkat. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Aswaja, Habib, Internasional Hari Santri 2018

Senin, 18 Desember 2017

Esensi Agama Adalah Memanusiakan Manusia

Jakarta, Hari Santri 2018. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, agama tak sekedar hubungan vertikal antara makhluk dan khalik-Nya. Lebih dari itu, agama mengandung nilai dan ajaran tentang hubungan horizontal antar sesama makhluk.

“Nilai-nilai agama harus dibumikan. Karena pada hakikatnya, esensi agama adalah memanusiakan manusia. Nilai agama juga mengajarkan untuk respek dan menghormati perempuan, dalam kondisi apa pun dan di mana pun,” terang Menag saat menjadi salah satu pembicara dalam Workshop pada Malam Solidaritas Untuk Korban Kekerasan Seksual, di Tugu Proklamasi, Jum’at (13/05) malam seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Esensi Agama Adalah Memanusiakan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Esensi Agama Adalah Memanusiakan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Esensi Agama Adalah Memanusiakan Manusia

Selain Menag, acara yang dipandu oleh Pimred Kompas TV, Rosianna Sillalahi tersebut, menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anis Baswedan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Kaukus Perempuan dan DPR RI Eva Sundari, Komnas Perempuan Yuni Yuniarti dan Humas Kadiv Polri, Boy Rafly Amar. 

Menurut Menag, mempunyai kesadaran tinggi untuk melindungi anak-anak  pada hakikatnya juga ajaran agama. Dalam konteks jurnalisme, lanjut Menag, hal ini misalnya bisa dilakukan dengan  mengedepankan jurnalisme empatik, bagaimana  teman-teman wartawan lebih berpihak pada korban, bukan mengeksploitasi korban.

Hari Santri 2018

Menag melihat, permasalahan kekerasan pada perempuan, khususnya anak, sangat kompleks dan pemahaman agama yang baik bisa menjadi solusi. Menurutnya, pemahaman tentang nilai-nilai agama, bisa menjadi salah satu kontribusi untuk meminimalisir kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. 

“Pendidikan agama memiliki signifikansi makna dalam ikut mengatasi problematika sosial, yaitu ketika agama mampu diterjemahkan untuk permasalahan sosial. Inilah salah satu tantangan bagi kita, bagaimana setiap kita lebih mampu memaknai agama pada posisi sosialnya, pada nilai-nilai agama yang bisa dimanfaatkan,” tutur Menag.

Menag jujur, merasa dalam kondisi geram dan marah atas kekerasan seksual pada perempuan dan anak akhir-akhir ini. Meski demikian, Menag mengajak untuk tidak terus terjebak pada suasa geram. Lebih dari itu, yang diperlukan ke depan adalah  mencari solusi bersama. 

“Kita harus mencari solusi bagaimana korban yang telah trauma, dicarikan solusi dan jalan keluar. Selain juga pencegahan yang masif,” imbuh Menag.

Hari Santri 2018

Dalam kesempatan tersebut, beberapa pembicara menjelaskan tentang korban kekerasan seksual dengan berbagai perspektif, baik dari sisi pendidikan umum, hukum dan lain sebagainya yang dipandu dengan sangat menarik oleh Rossi selaku moderator.

Setelah talkshow, para pengunjung berdiri sambil menyalakan lilin, sebagai bentuk kebangkitan dan perlawanan terhadap kekerasan seksual terharap perempuan dan anak. Dalam kesempatan tersebut dibacakan pula puisi “Nyala Untuk Yuyun” karangan Lukman Hakim Saifuddin oleh Saras Dewi. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Humor Islam, Habib Hari Santri 2018

Awal Ramadhan pada 9 atau 10 Juli 2013

Surabaya, Hari Santri 2018. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) memprediksi awal Ramadhan 1434 Hijriah akan jatuh pada 9 atau 10 Juli 2013, namun NU tetap melakukan rukyatul hilal atau melihat hilal/bulan sabit secara kasat mata.

"Prediksi tanggal 9 Juli atau 10 Juli itu merujuk pada empat kitab dan satu rumus modern yang digunakan ahli hisab di lingkungan NU, namun kami tetap melakukan rukyatul hilal," kata koordinator Tim Rukyatul Hilal PWNU Jatim, HM Sholeh Hayat, di Surabaya, Ahad.

Awal Ramadhan pada 9 atau 10 Juli 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Ramadhan pada 9 atau 10 Juli 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Ramadhan pada 9 atau 10 Juli 2013

Menurut dia, waktu ijtimak yang merupakan konjungsi (pertemuan secara astronomis antara rembulan dengan matahari) terjadi pada hari Senin Pon tanggal 8 Juli sekira pukul 14.10 WIB - 14.17 WIB.

Hari Santri 2018

"Namun, kitab Sullamun Nayyiren menyebut ijtimak terjadi pada 12.07 WIB, dengan demikian irtifak hilalnya setinggi 02,45 derajat, sedangkan tiga kitab menyebut irtifak masih di bawah ufuk antara 0,16 hingga 0,31 derajat," katanya.

Hari Santri 2018

Ketiga kitab, yakni Nurul Anwar, Irshodul Jadid dan Irshodul Murid menyebut irtifak ketinggian hilal masih di bawah ufuk antara 0,16-0,31 derajat, sedangkan rumus kontemporer Ephemeris menghitung irtifak hilal juga masih minus 0,32 derajat.

"Jadi, kitab Sullamun Nayyiren dan Irshodul Jadid menyimpulkan 1 Ramadhan pada hari Selasa tanggal 9 Juli, sedang dua kitab dan satu rumus modern menyimpulkan 1 Ramadhan jatuh pada hari Rabu 10 Juli," katanya.

Menyikapi hal itu, PWNU Jatim menunggu hasil rapat Badan Hisab dan Rukyat Provinsi Jatim, hasil Rukyatul Hilal pada 8 Juli 2013, dan hasil Isbat Menteri Agama pada hari yang sama.

"Kita tunggu, apakah bulan Syaban diistikmalkan, disempurnakan 30 hari, atau hilal mungkin dirukyat," katanya.

Sementara itu, Muhammadiyah memastikan awal Ramadhan 1434 Hijriah jatuh pada Selasa Wage atau 9 Juli 2013 Masehi, berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal, dan hasil musyawarah Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

"Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah menyepakatinya melalui ketentuan yang telah ditetapkan. Awal Ramadhan pada 9 Juli 2013," ujar Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Nadjib Hamid.

Penetapan yang ditandatangani oleh Ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Sekretaris umum PP Mummadiyah Danarto, seperti tertuang dalam Maklumat No.04/MLM/I.0/E/2013 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah 1434 H tertanggal 23 Mei 2013.

"Tahun ini, awal Ramadhan berpotensi terjadi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan, karena diperkirakan ketinggian hilal kurang dari satu derajat, namun diperkirakan Hari Raya Idul Fitri bersamaan. Meski berpotensi tidak sama di awal puasa, namun tidak perlu ada perdebatan," katanya menambahkan. 

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib, AlaSantri, Nahdlatul Hari Santri 2018

Senin, 11 Desember 2017

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan

Jakarta, Hari Santri 2018. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, telah meninggal dunia dalang kondang wayang golek Ki Asep Sunandar Sunarya pada Senin, (31/3). Sebagaimana dilansir Pikiran Rakyat, ia meninggal di sebuah rumah sakit di Bandung, karena serangan jantung. ?

Menurut peneliti di Lakpesdam NU Jawa Barat, Asep Salahudin, Asep Sunandar Sunarya atau akrab disapa Abah Asep, pada 10-15 tahun terakhir, tidak hanya berprofesi sebagai dalang murni, melainkan sebagai da’i. Profesinya yang utama sebagai dalang, tetap dilakukannya.

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ki Dalang Asep Sunandar Lakukan Ijtihad Pewayangan

Dalam mementaskan wayang, Asep menilai, selain terampil menggerakkan boneka dengan dialog-dialog jenaka, Abah Asep juga menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui tokoh-tokohnya. “Misalnya dalam dialog para punakawan, yaitu Semar dengan anak-anaknya.”

Hari Santri 2018

Abah Asep, tambah Asep melalui saluran telpon pada Senin malam (31/3), mengingatkan kita pada Wali Songo yang melakukan dakwah dengan wayang.

Yang lebih menarik, kata Asep, pesan-pesan keagamaan yang disampakan Abah Asep bukan soal furu’iyah atau fiqih yang formal, melainkan ajaran Islam universal, misalnya ukhwah Islmiyah, kasih sayang, dan persaudaraan.

Hari Santri 2018

Ditanya apakah dakwah dengan wayang masih efektif, Asep Salahudin menjelaskan, bisa ya dan tidak. Menurut dia, setiap media itu memiliki segmennya masing-masing. “Wayang bisa jadi efektif bagi para orang tua.”

Tetapi mungkin tidak efektif bagi anak-anak yang baru lahir 10 tahun belakangan ini. Di samping itu, secara kewilayahan, wayang bisa efektif untuk kalangan pedesaan karena selama ini Abah Asep terbukti? banyak diundang manggung di wilayah itu, jarang di perkotaan.

Dalam dunia pedalangan, Abah Asep melakukan modifikasi dalam segi tema yang keluar dari cerita-cerita umum, juga modifikasi tokoh-tokohnya. “Ia telah berijtihad, melakukan modifikasi untuk mendekatkan wayang di dunia yang cepat berubah ini,” pungkas Asep Salahudin. (Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib Hari Santri 2018

Rabu, 29 November 2017

NU Sulut Gagas Indonesia Poros Perdamaian Dunia

Jakarta, Hari Santri 2018. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Utara akan melaksanakan pelantikan pengurus baru masa khidmah 2014-2019 di Hotel Arya Duta Manado, Sabtu (18/10). Acara tersebut akan dirangkai  dengan dialog nasional bertema “Peran Agama Lintas Indonesia dan Dunia, Kajian Keagamaan, Keumatan dan Kebangsaan dalam Upaya Mendorong Indonesia Poros Perdamaian Dunia”.

NU Sulut Gagas Indonesia Poros Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sulut Gagas Indonesia Poros Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sulut Gagas Indonesia Poros Perdamaian Dunia

Demikian keterangan pers yang diterima Hari Santri 2018, Kamis (16/10). Menurut Sekretaris PWNU Sulut Ir. SuwarnoTuiyo, dialog yang rencananya dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ini merupakan wujud harapan akan peran strategis NU, dan Indonesia secara umum, dalam kancah perdamaian internasional.

Hal itu, lanjutnya, disebabkan perpindahan poros ekonomi dunia ke pasifik akan menyebabkan pemindahan konsentrasi militer yang lebih padat ke pasifik dan Indonesia terletakdi tengah-tengah kekuatan dunia yang saling mengambil pengaruh di kawasan yang  jika tidakdikelola dengan baik akan berdampak buruk pada keamanan dunia.

Hari Santri 2018

Dialog nasional tersebut akan menghadirkan Gubernur Sulawesi Utara DR. SH. Sarundajang sebagai pembicara utama dan pembicara-pembicara lintas agama yaitu DR. KH. Hasyim Muzadi (Sekjen ICIS), DR. H.W.B. Sumakul (KetuaUmum SINODE GMIM), Prof. DR. Yong Ohitimur (Tokoh Katolik), DR. I Dewa Ketut Anom (Tokoh Hindu) dan Ridwan Sofyan (Tokoh Agama Budha).

KetuaPanitia Midun Loho mengatakan, acara tersebut akan dihadiri seluruh elemen masyarakat Sulawesi Utara,  dengan harapan NU Sulawesi Utara akan menjadi  motor  perekat persaudaraan kebangsaan di Sulawesi Utara. (Mahbib Khoiron)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Anti Hoax, Habib, Santri Hari Santri 2018

Selasa, 28 November 2017

Silatnas Alim Ulama, Warga Sediakan Tempat Menginap dan Makanan

Rembang, Hari Santri 2018. Sudah menjadi kebiasaan warga nahdliyin, apabila ada perhelatan Nahdlatul Ulama, mereka semangat sekali memberikan apa yang dipunyai. Tak hanya tenaga maupun doa, juga apapun yang dipunya.?

Seperti terlihat di acara Silaturahim Nasional Alim Ulama NU yang hari ini digelar di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (16/3). Warga sekitar pondok yakni penduduk desa Karangmangu Kecamatan Sarang banyak yang menyediakan rumahnya atau langgarnya untuk menampung para tamu atau penggembira yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.?

Silatnas Alim Ulama, Warga Sediakan Tempat Menginap dan Makanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Silatnas Alim Ulama, Warga Sediakan Tempat Menginap dan Makanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Silatnas Alim Ulama, Warga Sediakan Tempat Menginap dan Makanan

Amirotus Sholihah (37) adalah salah satu di antara warga yang menyediakan tempat menginap. Di rumahnya yang sederhana di sebelah selatan komplek Ponpes Mahadul Ilmi al Syar’i (MIS), telah dia sediakan untuk tamu putri yang membutuhkan tempat menginap. Sementara langgar (surau) di depan rumahnya diberikan untuk tempat menginap tamu pria.?

Sejak Rabu (5/3) pagi putri almarhum Kiai Imam Ghozali Umar ini telah menata langgar maupun kamar tamu rumahnya. Karpet baru digelar, kipas angin dipasang. Juga kamar mandi dan WC dibersihkan. Masakan spesial pun telah dia buat bersama para santrinya.?

Masakan khas pesisir Jawa sekaligus khas pesantren dia hidangkan. Ada sayur lodeh dengan isi ikan pari panggang, ada ikan bandeng goreng, juga sambal kosek di wadah cobek dari tanah liat. Juga sayur gudangan dan lalapan. Kerupuk dan es degan melengkapi kudapan serba pedas tersebut.?

Hari Santri 2018

Ketika Hari Santri 2018 datang ke rumahnya, Kamis siang, tampak enam mobil berplat nomor luar Rembang terparkir di halaman depan rumahnya. Dua orang sopir sedang tiduran di atas lantai keramik beralas karpet.?

Beberapa cangkir kopi yang belum habis nampak pating blasah? (berserakan) di lantai langgar tanpa pintu dan tanpa jendela itu, yakni bangunan model pendopo. Puluhan batang puntung rokok teronggok di piring-piring kecil bekas tatakan kopi.?

Ketika acara usai dan hadirin membubarkan diri, barulah ketahuan siapa yang beristirahat di tempat yang disediakan oleh Amiroh dan suaminya, Gus Imam Baehaqi tersebut. Ternyata ada banyak tokoh NU maupun para penggembira.?

Salah satu ketua PBNU KH Imam Aziz, Wakil Sekretaris PBNU Sulthonul Huda dan Direktur Hari Santri 2018 Savic Alielha terlihat gayeng berbincang sambil diselingi tiduran atau tengkurap. Ada pula pengurus LTN PBNU Munawir Aziz.?

Hari Santri 2018

Di luar orang penting NU, ada wartawan Harian Kompas Susi Ivvaty, ada rombongan netizen dari Solo dan Ngawi yang transit di situ untuk melanjutkan pertemuan Kopi Darat grup Terong Gosong di Pondok Pesantren Leteh Rembang.?

"Alhamdulillah kami sangat senang bisa berjumpa para sahabat, para senior dan sedulur nahdliyin di sini. Terima kasih sudah sudi mampir ke langgar kami dan beristirahat di sini," tutur Bu Nyai muda yang aktif di Fatayat NU Lasem ini.?

Ribuan orang tumplek blek di desa Karangmangu, sehingga jalan raya Daendeles yang menghubungkan Semarang-Surabaya dijejali orang-orang yang lalu lalang. Tak pelak kemacetan sering terjadi di seputar pertigaan menuju Ponpes Al Anwar maupun di masjid-masjid sekitarnya. (Ichwan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib Hari Santri 2018

Minggu, 26 November 2017

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama.

Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan "Guru Sekumpul" duduk? bersila berhadapan dengan KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur. Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat.

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Pemasangan poster foto ulama adalah salah satu wujud penghormatan terhadap para ulama. Pemasangan poster Guru Sakumpul dan Gus Dur, menunjukkan penghormatan pemilik restoran pada sosok ulama tersebut. Dan sudah barang tentu ia berharap orang-orang, para pengunjung restorannya juga menghormati mereka berdua.

Hari Santri 2018

Catatan Kenangan



Poster foto itu mengingatkan saya pada kenangan sekitar seperempat abad yang lalu. Ketika itu Gus Dur datang ke Salatiga untuk menjadi pembicara dalam Konferensi Agama-Agama (KAA) yang digelar oleh PGI. Rupanya sehabis kegiatan itu Gus Dur berniat untuk mengunjungi puterinya, Alissa, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM yang kala itu sedang KKN di Magelang. Gus Dur minta kepada kami, teman-teman di Yogya, untuk ditemani. Kebetulan saya waktu itu yang mendapat pesan panitia sedang tidak ada kegiatan. Jadilah saya yang menemani beliau.

Hari Santri 2018

Di dalam mobil Toyota Kijang milik panitia seperti biasa pula Gus Dur berbincang akrab. Bercerita tentang situasi politik, bertanya tentang perkembangan buku dan dunia intelektual dan tentu saja diselingi humor yang segar. Kadang suara Gus Dur lenyap karena tertidur, terdengar suara dengkur, tapi hanya sebentar, lalu kemudian terbangun lagi untuk melanjutkan perbincangan.

Tiba-tiba saja Gus Dur bertanya, siapa di Kalimantan Selatan sosok ulama yang sekarang sangat dihormati. Dengan spontan, saya menjawab "Tuan Guru H. Zainie Ghanie". Saya ceritakan bagaimana pengajian rutin yang diasuh beliau di sebuah kawasan kampung senantiasa dihadiri ribuan masyarakat dan bagaimana kampung itu, ‘Sekumpul’, kemudian dinisbahkan kepada beliau. Jadilah julukan akrabnya ‘Guru Sekumpul’. Nisbat seseorang pada nama sebuah kampung jelas menunjukkan kelas ketokohannya. Dalam sejarah Islam di Kalimantan, ini disandang misal oleh ‘Guru Kelampayan’, gelar kultural-keagamaan bagi Syekh Muhammad Arsyad, yang membuka dan mengembangkan pengajaran Islam di kampung Dalam Pagar, di daerah Kelampayan pada abad 18. Sanad guru-murid Tuan Guru Sekumpul sendiri terhubung sampai Guru Kelampayan ini.? ?

Gus Dur menyimak dan mendengarkan informasi yang saya sampaikan tersebut. Sembari diselingi beberapa pertanyaan mengenai detail yang tampaknya ingin beliau ketahui lebih lanjut.

Perbincangan itu mungkin berlangsung sekitar bulan April 1994. Langit politik Indonesia sedang kemarau karena protes dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Soeharto mulai bertumbuh dan menjamur luas. Dalam iklim yang panas itu, NU juga mengalami efek panas yang luar biasa karena Gus Dur –yang notabene Ketua Umum PBNU-- merupakan sumbu penting suara-suara protes tersebut.

Pak Harto konon sangat marah kepada Gus Dur. Beberapa kali Gus Dur hendak mengajukan sowan untuk melaporkan rencana pelaksanaan muktamar sekaligus meminta kepada Pak Harto untuk membuka, selalu ditolak.

Kala itu Pak Harto sudah tidak ingin Gus Dur jadi ketua umum lagi. Karena ITU, ‘perintah alus’-nya –suatu istilah era kolonial yang menunjukkan ketidakinginan pemerintah kepada suatu figur duduk dalam sebuah organisasi--? melalui aparat militer dan birokrasi berbagai cara dilakukan untuk menjegal Gus Dur. Bahkan ketika menabuh gong untuk membuka muktamar, Pak Harto sama sekali tidak menyapa dan hanya membelakangi Gus Dur. "Dinengke" dan "ra dianggap", istilah Jawanya, suatu simbol politik khas Jawa yang sangat keras.

Muktamar terpanas dalam Sejarah NU, dan politik masyarakat sipil Indonesia di ujung Orde Baru itu berlangsung dengan keras dan berakhir dramatis dengan terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua PBNU. Gus Dur hanya memenangkan 3 suara dengan pesaingnya, sosok yang sama sekali tak dikenal, Hasan Syazili.

Tapi poinnya bukan itu. Pada Muktamar NU 1994 itu, saya –yang merupakan peserta ‘romli’ (rombongan liar) bertemu dengan senior Dr. Humaidi Abdussami, dosen IAIN (sekarang UIN) Antasari, Banjarmasin, yang datang sebagai peserta muktamar dari NU Kalimantan Selatan. Ia bercerita bahwa sebenarnya Guru Sekumpul ingin datang ke Muktamar ini. Dalam pengajian minggu sebelumnya beliau bilang minggu ini pengajian libur karena ingin menghadiri muktamar atas undangan Gus Dur. Sayang sekali, lanjut Humaidi, pada hari "H muktamar, Guru Sekumpul sakit, sehingga beliau batal hadir.

Saya tidak tahu apakah waktu ngobrol di mobil dan bertanya tentang ulama di Kalimantan Selatan beberapa bulan sebelumnya itu Gus Dur memang belum tahu dan tidak pernah mendengar nama Guru Sekumpul. Apakah beliau hanya ingin menguji pengetahuan saya saja? Atau hanya sekadar untuk mengonfirmasi dan mencocokkan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya mengenai Guru Sekumpul. Entahlah. Yang jelas, seperti cerita Dr. Humaidi Abdussami di atas, Guru Sekumpul berniat datang ke muktamar atas undangan Gus Dur, meski kemudian batal karena berhalangan.

Terlepas dari ketidakdatangan beliau, di dalam kepengurusan NU kemudian nama Guru Sekumpul dengan nama resmi KH Zaini Abdul Ghani, tercantum sebagai salah satu dari 9 anggota mustasyar PBNU perode 1994-1999. Mustasyar artinya penasehat. Mustasyar atau Dewan Penasehat ini berada di strata paling tinggi dalam struktur kepengurusan NU.? Mustasyar memang dari segi praktik lebih merupakan daftar nama. Tidak ada tugas organisasi yang harus diemban. Tetapi dari segi makna, mustasyar menunjukkan pengakuan tinggi organisasi ini pada sosok ulama sebagai garda pengawal organisasi ini. Ulama merupakan simbol organisasi ini.

Nama Guru sekumpul sebagai mustasyar itu bermakna lebih penting lagi mengingat setelah muktamar itu, NU terseret konflik antara kubu Gus Dur dan Abu Hasan yang kemudian membuat “NU Tandingan”. Kebetulan NU Kalimantan Selatan berada di kubu yang berseberangan dengan Gus Dur. Namun penentangan terhadap Gus Dur dari Kalimantan Selatan ini tidak begitu keras karena ada nama Guru Sekumpul dalam barisan Mustasyar, meski Guru Sekumpul sendiri tidak turut campur sama sekali. (Kelak sebelum Abu Hasan dan Gus Dur meninggal, keduanya bertemu, islah, dan saling memaafkan. Perbedaan pandangan politik adalah satu hal, persaudaraan adalah hal lain.)

Ketika tahun 2012 saya turut diajak menjadi salah seorang tim penulis dan penyunting Eksiklopedi NU, saya mengusulkan dan memasukkan nama Guru Sekumpul sebagai lema. Usulan ini diterima bulat dan jadilah sosok Guru Sekumpul terpampang sebagai salah satu lema dalam ensiklopedi tersebut.

Menjadi NU sendiri tidak mesti memiliki kartu anggota atau menjadi pengurus. Demikian dengan Guru sekumpul. Dari segi ajaran yang diajarkan dan dikembangkan beliau adalah NU sejati. Pengaruh dan sumbangannya pun amatlah besar kepada ‘masyarakat NU’, bukan hanya di Kalimantan Selatan, tapi di lima penjuru Kalimantan, bahkan keluar Kalimantan. Karena itu apakah namanya masuk dalam jajaran pengurus NU atau tidak, tidaklah penting bagi beliau. Demikian juga, andai tak dicantumkan dalam ensiklopedi, itu sama sekali tak mengurangi kebesaran namanya, seperti juga pencantuman itu tak menambah kebesaran namanya. Yang merasa berkepentingan dan untung tentu NU sendiri karena pencantuman itu memiliki makna simbolik yang dalam dan luas.

Presiden Gus Dur dan Kampanye



Tahun 1999. Politik Indonesia mengalami perubahan yang cepat dan dramatis seusai Pak Harto dimakzulkan. Tak dinyana, Gus Dur diangkat menjadi presiden, lewat suatu kemelut politik yang rumit.

Gus Dur adalah penggemar silaturahmi. Ia bersilaturahmi ke mana dan ke siapa saja. Menjadi presiden tak menghalanginya untuk terus melanjutkan hobi silaturahminya tersebut. Tentu saja ulama selalu ada dalam daftar kunjungan silaturahmi Gus Dur. Dan di antara ulama itu tersebutlah nama Guru Sekumpul.

Pada hari Jumat, 26 Mei tahun 2000 Gus Dur bersilaturahmi ke Martapura mengunjungi Guru Sekumpul dan berziarah ke makan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dalam pertemuan itu, Gus Dur menghadiahi Guru Sekumpul satu pak rokok bermerek Istana Presiden. Gus Dur tahu kalau Guru Sekumpul suka merokok. Menurut cerita, Guru Sekumpul menerimanya, tertawa sangat senang dan berterima kasih. Seorang penulis, Muqarramah Sulaiman Kurdi, menggambarkan pertemuan keduanya “tampak sangat akrab dan penuh canda tawa. Keduanya seperti sahabat lama yang baru bisa berjumpa kembali pada saat itu.”

Menurut catatan, itu adalah pertemuan pertama Gus Dur dan Guru Sekumpul. Tapi dari arsip foto yang beredar luas, di mana Gus Dur maupun Guru Sekumpul mengenakan pakaian yang berbeda, setidaknya Gus Dur lebih dari sekali bertemu dan bersilaturahmi ke tempat Guru Sekumpul. Bisa jadi sebelum dan sesudah 26 Mei 2000 di atas sudah pernah. Namun karena kunjungan di 26 Mei 2000 ini merupakan kunjungan tidak resmi Gus Dur sebagai presiden, maka inilah yang dicatat sebagai yang pertama dan diliput secara luas.

Dalam hal ini, patut saya ulang cerita yang kembali saya kutip dari Dr. Humaidy Abdussami tentang Guru Sekumpul dan Gus Dur ini. Sudah umum diketahui bahwa setelah reformasi, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tentu saja pendirian ini tidak menyenangkan partai-partai lama, karena menggerus pendukung mereka, terutama dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang di Kalimantan Selatan, notebene juga berbasis pada masyarakat NU.

Pada kampanye Pemilu 1999, kontestasi antara? PKB dan PPP pun tak bisa dihindari. Tak terkecuali di Kalimantan Selatan. Dalam kampanye inilah muncul ejekan yang tidak semestinya kepada Gus Dur sebagai pendiri dan Ketua Umum PKB. Fisik Gus Dur yang tak bisa melihat dan buta pun menjadi sasaran ejekan.

Guru Sekumpul rupanya mendengar hal itu. Dalam sebuah pengajian, akhirnya beliau mengatakan yang kira-kira dalam bahasa Banjar kurang lebih demikian: “Aku mandangarlah ada bubuhannya manyambati Gus Dur tu picak. Aku baritahu buhan ikam, jangan diulang lagi, Gus Dur itu ulama. Anak ulama. Dan cucu ulama. Kalo katulahan kaina.” (Aku mendengar banyak orang mengejek Gus Dur picek. Aku kasih tahu kalian, jangan dilakukan lagi, Gus Dur itu seorang ulama. Anak seorang ulama, cucu seorang ulama. Bisa kuwalat kalian nanti.) Demikian kira-kira cerita Humaidy Abdussami, dengan paraprase yang saya buat kembali. Dan peringatan Guru Sekumpul itu bergema seperti guntur. Sejak itu tak ada lagi ejeken demikian terhadap Gus Dur.

Cerita ini menunjukkan betapa Guru Sekumpul sangat menghargai ulama di satu pihak, dan menganggap Gus Dur sebagai salah seorang ulama yang patut dihargai juga. Yang kedua, Guru Sekumpul secara tidak langsung mengingatkan bahwa berbeda boleh saja, Karena itulah Guru Sekumpul tidak memerintahkan memilih salah satunya.? Tetapi yang diingatkan beliau adalah tetap menjaga sopan santun dan akhlak serta persaudaraan.

Guru Sekumpul dan Gus Dur: Dua Wali Awal Abad 21 ?



Baik Guru Sekumpul maupun Gus Dur adalah ulama. Namun keduanya tampil sebagai ulama dalam pola dan lapangan pengabdian yang berbeda, meski dasar ajaran yang dikemukakan pada dasarnya sama.

Guru Sekumpul adalah ulama par excellent. Beliau menempuh pendidikan dalam lingkungan keagamaan tradisional yang ketat, hampir tanpa persentuhan sedikit pun dengan pendidikan modern. Lalu pada masanya kemudian beliau dipercaya oleh guru-guru beliau untuk memberikan pengajian sendiri. Mula-mula di kampung Keraton. Namun karena pengajiannya makin membesar, dan kampung Keraton tak bisa menampung lagi, beliau pindah ke sebuah kawasan yang relatif masih sepi: Sekumpul.

Pengajian-pengajian Guru Sekumpul berisi pengajaran-pengajaran tasawuf, baik tasawuf akhlaqi maupun falsafi. Selain itu, beliau juga menggelar pembacaan shalawat Simtut Durar, yang dua dekade kemudian populer di sekujur Jawa melalui pengasuhan Habib Syekh yang bersuara empuk.

Guru Sekumpul memberikan pengajaran dengan menggunakan kitab dan orang-orang –juga dengan memegang kitab yang dibacakan-- duduk menyimak pembacaan dan penjelasan kitab tersebut. Cara mengajarnya sangat komunikatif sekali dan mudah dipahami. Sesekali beliau menyelipkan humor yang segar. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Banjar dengan diselingi Bahasa Indonesia.? ?

Guru Sekumpul tak pernah mengenal yang namanya diskusi, seminar, workshop dan sejenisnya. Beliau tak pernah ikut pelatihan organisasi apapun. Beliau juga bukan orang politik, meski demikian, pengaruh politiknya sangat besar sekali, khususnya di kawasan Kalimantan. Karena itu taklah aneh jika hampir seluruh pimpinan politik di kawasan tersebut menyempatkan untuk mengunjungi beliau dan setiap calon pimpinan daerah berusaha mengejar restu beliau.

Berbeda dengan itu, Gus Dur tumbuh sebagai ulama dengan kombinasi pendidikan keagamaan tradisional dan pendidikan modern. Ia menulis esai-esai dan mengulas berbagai perkara mulai agama hingga sepakbola di media-media. Ia menjelajahi berbagai profesi dari pekerja LSM, dosen, penulis, konsultan, politisi dan lain-lain. Ia juga bertemu dengan banyak kalangan yang berwarna-warni dan beragama dari agama, etnis, bangsa, budaya, profesi dan banyak lagi lainnya. Artinya sebagai ulama, Gus Dur adalah ulama dengan banyak wajah dan dengan gelanggang yang sangat luas.

Gus Dur memandang tinggi Guru Sekumpul dan karena itu meminta beliau untuk masuk ke jajaran mustasyar, dewan penasihat, himpunan sembilan ulama yang layak memberikan nasihat. Sebaliknya Guru Sekumpul sendiri memandang Gus Dur sebagai ulama.

Lantas di manakah ‘perjumpaan’ antara keduanya? Perjumpaan keduanya terletak pada konsistensi untuk memperkenalkan Islam sebagai agama tauhid dengan nilai-nilai yang universal: kasih sayang, perdamaian, pembebasan. Islam sebagai yang berserah diri dan pasrah.

Guru Sekumpul tak pernah terlibat dalam dialog-dialog antaragama, tetapi pengajaran-pengajaran beliau mengandung dimensi pengembangan jiwa pribadi maupun umat secara mendalam. Seorang teman Katolik pernah bercerita bahwa ia pernah mendengar beberapa kali rekaman pengajian Guru Sekumpul dan ia mengaku sangat apresiatif. Pengajaran-pengajaran beliau penuh dengan nilai-nilai positif, pembangunan karakter jiwa, optimisme, dan kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dan yang penting lagi, menurutnya, tidak ada sama sekali, nada-nada permusuhan dengan kalangan lain. ?

Bergerak di wilayah lain dan dengan strategi yang berbeda, Gus Dur memperkenalkan Islam yang ramah, bukan yang marah. Tak lelah dan tak kenal henti ia meyakinkan bahwa Islam agama yang penuh penghormatan pada martabat kemanusiaan, toleran, dan adil.

Sebuah tulisan dari Muqarramah Sulaiman Kurdi di Gusdurian.net dengan baik mengulas perjumpaan Islam yang diajarkan Guru Sekumpul dan 9 nilai yang dikembangkan Gus Dur selama ini. Dalam bahasa yang singkat, keduanya mengajarkan ‘Islam yang basah’, mengutip Frithjof Schuon, bukan ‘Islam yang kering’, yang hanya memperkenalkan aspek-aspek permukaan dan parsial dari Islam. Tak heran kalau keduanya sangat mendalam pengaruhnya di kalangan pengikutnya masing-masing. Dan tidak aneh juga jika seseorang bisa menjadi pengikut Guru Sekumpul sekaligus penyuka Gus Dur seperti tercermin dalam sosok pemilik restoran yang dikutip di pembuka tulisan di atas.

Saya bersyukur pernah berguru kepada kedua ulama ini secara langsung. Pada masa pendidikan di pesantren dulu, saya cukup sering mengikuti pengajian Guru Sekumpul. Waktu itu, beliau masih menyelenggarakan majlis di Kampung Keraton dan belum lagi pindah ke daerah Sekumpul. Dari Pesantren Alfalah kami naik angkot ke kota Martapura sehabis Asar, mengikuti salat magrib jamaah dan kemudian dilanjut dengan pengajian kitab beliau, di antaranya kitab Ihya ‘ulumiddin dan Risalah Mu’awanah. Sementara pada masa mahasiswa, saya sering sekali bertemu Gus Dur, bahkan sempat berbincang-bincang berdua secara lebih dekat. ?

?

Beberapa tahun lalu, ketika ziarah ke makam para wali, baik di Kalimantan maupun di Jawa, saya pernah terpikir bahwa mereka yang disebut wali dan makamnya dikeramatkan dan diziarahi orang banyak tak henti-henti, adalah tokoh-tokoh masa lalu. Sekarang dan akan datang tak akan pernah ada lagi sosok-sosok demikian.

Ternyata anggapan saya itu keliru. Ketika Tuan Guru Haji Zainie Ghani atau Guru Sekumpul wafat tahun 10 Agustus 2005, lautan manusia melepaskan kepergian beliau. Setelah itu makam beliau di Sekumpul yang sangat bersih dan tertata rapi tiap hari selalu diziarahi banyak orang. Dan haul tahunan Guru Sekumpul juga dihadiri ratusan ribu umat Islam.

Tak berbeda jauh dengan Guru Sekumpul, ketika Gus Dur wafat 30 Desember tahun 2009, ribuan orang juga turut melepasnya. Lalu setelah itu makamnya di Tebu Ireng kini menjadi situs ziarah yang tak pernah habis. Sedemikian besarnya, tak aneh jika K. H. Maimun Zubair dari Sarang, pernah mengemukakan kecemburuannya dan bertanya kepada Gus Mus, apa gerangan amalan rutin Gus Dur sehingga pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang dan makamnya tak pernah sepi penziarah. Uniknya penziarah Gus Dur bukan hanya umat Islam, sebagian juga datang dari kalangan lain.

Baik Tuan Guru Sekumpul dan Gus Dur adalah wali Indonesia abad 21.? ?



Hairus Salim HS, aktivis NU; pendiri Yayasan LKiS


Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib Hari Santri 2018

Jumat, 24 November 2017

NU sebagai Penentu Langkah Kembali ke UUD 1945

Terjadi perdebatan berbulan-bulan antara kelompok pro Islam dengan kelompok pro Pancasila sebagai dasar negara dalam sidang Konstutuante antara tahun 1958-1959. Sebenarnya NU telah melihat persoalan ini akan mengalami kebuntuhan. Oleh karena itu ketika pemerintah secara tertulis mengirim surat pada ketua sidang Konstituante untuk kembali pada Pancasila dan UUD 1945 yang disampaikan pada 19 Februari 1959, NUtertarik dengan tawaran itu. Pada ? rapat NU 20 Februari 1959 dengan menawarkan jalan tengah yaitu Pancasila Islam, bukan Pancasila ala Komunis, ? yakni Pancasila dan UUD 1945 yang dijiwai Piagam Jakarta.

Tetapi susulan itu ditolak oleh pihak nasionalis, sehingga jalan tenah itu juga buntu.Melihat kenyataan itu? maka pada 22 April Presiden mengambil langkah untuk mengatasi kebuntuan itu dengan mendatangi sidang Konstutuante dengan mendesak? agar kembali ke UUD 1945.? Dalam arti kembali menempatkan Pancasila sebagai dasar negara seperti semula, tanpa ada amandemen sedikitpun baik pada Mukadimah dan batang tubuh, sebagaimana yang dikehendaki kalangan Islam yang menghendaki kembali ke UUD 1945 dengan disertai? amandemen.

Sebenarnya Idham Chalid sebagai Wakil Perdana menteri dari NU telah menyetujui langkah Kembali ke UUD 1945 tanpa amandemen, hanya saja Fraksi Islam termasuk NU di Konstituante memiliki dinamika lain, yaitu pada 26 Mei 1959 kelompok Fraksi Islam mengajukan amandemen UUD 1945. Akhirnya dilakukan? pemungutan suara untuk memilih setuju atau tidak setuju, kembali pada UUD 1945 tanpa amandemen. Pungutan suara pertama pada 30 Mei 1959? dengan suara 269 setuju dan 199 tidak setuju. Kedua, 1 Juni 1959 dengan 264 setuju? dan 204 menolak. Ketika pada 2 Juni 1959 dengan suara 263 setuju dan 203 tidak setuju. Dalam ketiga pemungutan suara itu tidak pernah mencapai jumlah dua pertiga yang diperlukan yaitu 312 suara. Ternyata pemungutan suara juga mengalami kebuntuan. ?

NU sebagai Penentu Langkah Kembali ke UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
NU sebagai Penentu Langkah Kembali ke UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

NU sebagai Penentu Langkah Kembali ke UUD 1945

Melihat kenyataan yang gawat itu Wilopo sebagai ketua Konstituante menemui Perdana Menteri Djuanda. Dalam diskusi itu mereka melihat peluang untuk melancarkan agenda kembali ke UUD 1945 dengan cara mendekati NU. Kalau NU setuju dengan gagasan Bung Karno itu dan ada jaminan NU untuk mengikutinya, maka langkah ini akan lancar dan aman. Tetapi sebaliknya kalau NU sebagai salah satu anggota Kabinet menentang akan diikuti oleh fraksi Islam yang lain, NU di sini berperan sebagai bandul penentu arah politik nasional. Kalau NU mendukung maka semuanaya beres dan dua pertiga suara bisa diperoleh oleh kelompok pro kembali ke UUD 1945.

Hasil diskusi dengan Ketua Konstituante Wilopo itu disampaiakan oleh Perdana Menteri Djuanda kepada Bung Karno yang baru datang dari luar negeri, Bung Karno mendukung agar pemerintah segera melobi NU, maka dalam sidang Kabinet, Perdana Menteri Djuanda segera menemui Idham Chalid wakil perdana menteri dan ditanya soal kesediaannya mendukung anjuran pemerintah kembali ke UUD 1945. Menjawab desakan Djuanda itu KH Idham Chalid menganggukkan kepala, yang dianggap oleh Djuanda sebagai bentuk persetujuan. Setelah itu Djuanda melaporkan hasil lobinya pada Wilopo dan Bung Karno.

Wilopo kurang yakin bila jawaban dibetrikan hanya dengan bahasa isyarat, karena ini persoalan gawat harus jawaban lisan yang meyakinkan. Akhirnya Djuanda dan Wilopo menemui Bung Karno, karena memandang hanya Bung Karno yang dengan kharisma dan wibawanya mampu mempengaruhi sikap NU dan meyakinkan mereka. Hal itu terpaksa harus dilakukan karena UUD 1945 dalam posisi sedang dipertaruhkan, akhirnya Bung karno menuruti saran keduanya dan menemui Idham Chalid serta beberapa pimpinan NU lainnya. Kepada Bung Karno KH. Idham Chalid mengatakan, sebenarnya pendiran NU sudah jelas, jalan keluar yang diberikan NU telah sisampaikan dalam Sidang Konstituante yang lalu. Bagaimana sikap dan pendirian NU tolong dijelaskan kembali.

Hari Santri 2018

“Sebagaimana kami jelaskan sebelumnya bahwa NU menghendaki ditempuh jalan tengah. Jalan tengah bagaimana tanya Bung karno, ini persoalan mendesak soal keamana negara, coba segera ketengahkan jalan tengah yang dirancang NU. Kami tidak menuntut diberlakukannya syariat Islam secara formal sebagaimana tertera dalam Piagam Jakarta, kami juga tidak ingin dasar Pancasila itu dibiarkan tanpa roh agama. ? Piagam Jakarta tidak perlu diterapkana secara formal seperti tuntutan Fraksi Islam, tetapi juga jangan sekedar dianggap sebagai dokumen historis (yang pasif) seperti yang dikehendaki kelompok Nasionalis.”

“Lalu usul jalan tengah NU seperti apa?” desak Bung Karno. “NU menghendaki Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945, sehingga walaupun dasar negara kita Pancasila tetapi memiliki dasar keislaman yang kokoh. Kalau itu yang dilakukan tidak hanya NU seluruh umat Islam akan menerima Pancasila dengan sepenuh hati dan siap mempertahankan dari gangguan apa saja.”

“Bagus, bagus, ini jalan tengah itu cerdas. Kalau itu yang diamaksud NU saya sangat setuju, dengan demikian? Piagam Jakarta tidak sia-sia kami rumuskan.? Piagam Jakarta tidak dibuang tetapi menjadi? ? Jiwa UUD 1945. Ini berarti NU menghargai perjuangan tim sembilan dan itu berarati menghargai jasa saya pula sebagai salah satu perumusnya. Kalau begitu tidak ada masalah kita kembali ke UUD 1945 dengan dukungan penuh dari NU. Terima kasih atas jalan keluar yang diberikan oleh NU dan terimakasih atas ? persetujuan NU, sebab kita ini sedang menyelamatkan negara dari keterpecahan.’

Pertemuan Bung Karno dengan Idham Chalid itu kemudian disampikan Bung Karno kepada Wilopo dan Djuanda, ketiganaya puas dan merasa yakin gagasan kembali ke UUD 1945 akan berjalan lancar. Maka dengan adanya dukungan dan solusi dari NU dengan argumen yang sangat meyakinkan itu beberapa Fraksi Islam seperti PSII, Perti termasuk Masyumi menyetujui pemikiran NU. Mengetahui perkembangan itu? Presiden Soekarno semakin yakin? dan lebih percaya diri untuk ? mengumumkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959.

Dengan gagasan kembali ke UUD 1945 yang berarati kembali menempatkan Pancasila sebagai dasar negara itu menjadi wacana umum dalam bangsa ini. Pada ? saat Bung Karno menghadiri Seminar Pancasila di Universitas Gadjah Mahada Yogya karta, sehabis membuka acara ditanya oleh para wartawan, bagaimana langkah teknis kembali ke UUD 1945 dan menempatkan Pancasila sebagai dasar negara. Dengan diplomatis Bung Karno menjawab, urusan Pancasila dan langkah kembali ke UUD 1945 sudah bukan menjadi urusan saya. Sedangkan sebagai pelaksanya adalah di tangan NU dan PNI, kalau ingin tahu prosesnya tanyakan pada NU yang saat ini sedang mengatur langkah proses penerapan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara dan konstitusi Indonesia.

Hari Santri 2018

Dekrit itu diterima oleh bangsa Indonesia, termasuk semua kelompok Islam, semuanya mengikuti langkah NU. Walaupun ada beberapa elemen Masyumi yang menentang, tetapi saat itu Masyumi telah sangat lemah dan kehilangan pengaruh setelah terlibat dalam pemberontakan PRRI, sehingga keberadaannya menjadi bulan-bulanan partai kiri terutama PKI, bahkan tidak lama setelah itu Masyumi dibubarkan karena terlibat pemberontakan PRRI. Akhirnya kendali politik Islam dipegang oleh NU, saat itu NU menjadi imamnya umat Islam. Dengan tidak melupakan usulan NU tentang jalan tengah itu, maka dalam Dekrit Presiden yang diumumkan Bung Karno itu ditegaskan bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945. (Abdul Munim DZ)

Sumber: Muhammad Yamin, Naskah Persiapann UUD 1945 dan Biografi Wilopo 70 Tahun, serta beberapa sumber lainnya.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul Ulama, Hadits, Habib Hari Santri 2018

Sabtu, 18 November 2017

Hukum Kewarisan Bagi Anak Angkat

Warisan adalah peninggalan benda pusaka yang memiliki nilai tawar ketika orang telah meninggal bagi ahli warisnya. Warisan kadang-kadang menjadi biang keladi pertengkaran jika tidak dikemas dengan baik dan seadil-adilnya. Apalagi orang yang meninggal memiliki saudara dan seorang anak angkat yang tidak memiliki hubungan darah. Anak angkat ini biasanya menjadi tonggak perseteruan di antara saudara-saudara orang yang meninggal. Maka dari itu, hukum kewarisan bagi anak angkat ada bagian-bagian tersendiri yang memang mengaturnya. Misalkan wasiat wajibah oleh yang mengasuhnya mengenai harta kepemilikannya bagi anak angkatnya. Namun di Indonesia wasiat wajibah ini masih terasa asing.

Yang dimaksud dengan wasiat wajibah adalah wasiat yang pelaksanaannya tidak dipengaruhi atau tidak tergantung kepada kemauan atau kehendak yang meninggal dunia. Wasiat ini tetap harus dilaksanakan, baik diucapkan atau tidak diucapkan, baik dikehendaki atau tidak dikehendaki oleh yang meninggal dunia. Jadi, pelaksanaan wasiat tersebut tidak memerlukan bukti bahwa wasiat terebut diucapkan, ditulis, atau dikehendaki, tetapi pelaksanaannya didasarkan pada alasan-alasan hukum yang membenarkan bahwa wasiat tersebut harus dilaksanakan (hlm. 118).

Hukum Kewarisan Bagi Anak Angkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Kewarisan Bagi Anak Angkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Kewarisan Bagi Anak Angkat

Maka dari itu, kehadiran buku ini akan mengupas tuntas tentang wasiat wajibah yang terasa asing bagi masyarakat Islam Indonesia pada umumnya karena istilah ini sebenarnya memang tidak dikenal dalam kitab-kitab fiqih klasik yang beredar di Indonesia. Istilah wasiat wajibah ini sebenarnya penemuan baru abad XX. Sedangkan wasiat wajibah yang dikaitkan dengan anak atau orang tua angkat merupakan penemuan Indonesia. Dalam kasus lain, wasiat wajibah dimasukkan ke dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Ini menjadi persoalan tersendiri yang perlu dikritisi.

Hari Santri 2018

Tapi, tujuan wasiat wajibah dimasukkan ke dalam KHI adalah untuk melakukan pendekatan kompromi dengan hukum adat. Hal ini dilakukan bukan hanya sebatas pengambilan nilai-nilai hukum adat untuk diangkat dan dijadikan ketentuan hukum Islam. Pendekatan kompromistis ini, termasuk juga dalam hal memadukan pengembangan nilai-nilai hukum Islam yang sudah ada nashnya dengan nilai-nilai hukum adat. Tujuannya agar ketentuan hukum Islam itu lebih dekat dengan kesadaran hidup masyarakat. Hal ini dapat dikatakan sebagai islamisasi hukum adat sekaligus seiring dengan upaya mendekatkan hukum adat ke dalam hukum Islam (hlm. 163).

Hari Santri 2018

Istilah wasiat wajibah pertama kali diperkenalkan oleh Ibn Hazm yang menyatakan bahwa bagi tiap-tiap orang yang akan meninggal dan memiliki harta kekayaan, terutama kepada kerabat yang tidak memperoleh bagian warisan, karena kedudukan sebagai hamba, kekafirannya, atau ada hal yang menghalangi mereka dari hak kewarisan atau karena memang tidak berhak atas warisan (hlm. 1).

Ada beberapa hal yang menjadi tujuan pengangkatan anak yang menyebabkan timbulnya sebuah wasiat wajibah ini, antara lain yaitu untuk meneruskan keturunan manakala dalam suatu perkawinan tidak memperoleh keturunan. Ini merupakan motivasi yang dapat dibenarkan, dan salah satu jalan yang positif serta manusiawi terhadap naluri kehadiran seorang anak dalam keluarga setelah bertahun-tahun dikaruniai anak.

Selain itu juga bertujuan untuk menambah jumlah anggota keluarga, dengan maksud agar si anak angkat mendapat pendidikan yang baik, untuk mempererat hubungan keluarga. Di sisi lain juga merupakan suatu kewajiban bagi orang yang mampu terhadap anak yang tidak mempunyai orang tua, sebagai misi kemanusiaan dan pengamalan ajaran agama (hlm. 30-31).

Pengangkatan seorang anak selain memang untuk menambah jumlah anggota keluarga dan menyantuni mereka yang tak mampu, juga tak lain sebagai upaya untuk menjadi umpan balik bagi keluarga yang belum dikaruniai seorang anak. Menurut adat tertentu, jika seorang keluarga ingin cepat dikaruniai seorang anak disarankan untuk mengasuh anak orang lain agar hasratnya bisa terus berdoa saat bersama anak yang diasuhnya. Sehingga keinginan untuk memiliki keturunan mudah terkabul.

Eksistensi buku ini dilahirkan tak lain guna mejawab persoalan wasiat wajibah dan alasan wasiat wajibah dimasukkan ke dalam KHI dengan argumentasi yang logis dan rasional. Jawaban atas warisan yang hanya bagi mereka yang memiliki hubungan kekerabatan bisa diberikan kepada orang lain melalui wasiat wajibah ini, termasuk kepada anak angkat jika yang meninggal dunia memiliki anak angkat. Karena hukum Islam bukan sekadar seperangkat norma statis yang mengutamakan kepastian dan ketertiban, melainkan juga norma-norma yang mendinamiskan pemikiran dan merekayasa perilaku masyarakat dalam mencapai cita-citanya.Judul : Wasiat Wajibah Pergumulan antara Hukum Adat dan Hukum Islam di Indonesia

Penulis : Ahmad Junaidi

Penerbit : Pustaka Pelajar

Cetakan : I, Desember 2013

Tebal : 178 halaman

ISBN : 978-602-229-261-6

Peresensi : Junaidi Khab, Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Habib, Kajian Hari Santri 2018

Senin, 13 November 2017

Gus Mus Siapkan Hadiah untuk Penerjemah Terbaik Ungkapan Kemanusiaan

Jakarta, Hari Santri 2018. KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) membuka sayembara penerjemahan atas ungkapan berbahasa Arab dalam video yang diunggah di akun fesbuknya, Senin (14/9) pagi. Gus Mus terpukau oleh suara kemanusiaan yang diungkapkan seseorang dalam video tersebut.

Gus Mus Siapkan Hadiah untuk Penerjemah Terbaik Ungkapan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Siapkan Hadiah untuk Penerjemah Terbaik Ungkapan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Siapkan Hadiah untuk Penerjemah Terbaik Ungkapan Kemanusiaan

Waba’du, berkenaan dengan Idul Adha, aku buka sayembara untuk menerjemahkan ungkapan otokritik yang fasih ini ke dalam bahasa Indonesia,” tulis Gus Mus dalam akun fesbuknya.

Gus Mus mengunggah video berdurasi 3.32 detik. Video ini merekam seorang pria yang berbicara hak-hak dasar kemanusiaan. Seseorang ini menjerit karena perbedaan agama, pikiran, bahkan warna kulit menjadi alasan permusuhan.

Hari Santri 2018

Menurut Gus Mus, ungkapan narasumber dalam video itu berisi “Otokritik yang meski sangat pedas dan tajam, tetapi indah; membuat semua terkesima dan terdiam bagai tertusuk sanubarinya.”

Gus Mus mempersilakan bagi tiga penerjemah terbaik untuk memilih sejumlah barang miliknya sebagai hadiah. Pemenang bisa memilih buku, kaos, celana, sarung, baju, atau peci berukuran 9.

Hari Santri 2018

Video itu sendiri, bisa diakses di halaman fesbuk Gus Mus.

Ia mempersilakan siapa saja yang berkenan untuk menuliskan karya terjemahnya ruang komentar fesbuk atau status tersendiri di’tag’ ke Gus Mus. Sayembara berlangsung hingga akhir September 2015. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Humor Islam, Habib Hari Santri 2018

Minggu, 12 November 2017

Danau Penuh Buaya

“Siapa yang berani menceburkan diri ke dalam danau, saya berikan uang sebesar Rp.20 juta,” kata salah seorang konglomerat membuka sayembara.

Danau yang luas di Riau itu terkenal dihuni banyak buaya. Karenanya tidak ada satupun seorang warga yang menyambut sayembara tersebut.

Danau Penuh Buaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Danau Penuh Buaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Danau Penuh Buaya

Biyuuur,” tiba-tiba seorang pria beranak dua tercebur di tepi danau. Segera setelah itu buaya-buaya danau di sekitarnya mulai mendekat. Pria tersebut panik dan pucat. Ia lantas berusaha kembali naik ke darat dengan tergopoh-gopoh.

Sesuai janji, konglomerat ini menyerahkan hadiah kepada pria tersebut. “Kok Anda berani sekali padahal buaya-buaya di sini sangat ganas?”

Hari Santri 2018

“Saya sendiri tidak berani. Saya tidak sengaja. Tetapi saat duduk-duduk saya didorong oleh orang di belakang saya hingga tercebur,” kata pria tersebut menunjuk orang yang di belakangnya.

Di belakang pria itu berdiri seorang perempuan yang tidak lain adalah istrinya.

Hari Santri 2018

Cerita ini dituturkan oleh KH D Zawawi Imron di Hari Santri 2018, Jakarta, 31 Januari 2017. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Anti Hoax, Habib, Santri Hari Santri 2018

900 "Mupasirin" Ngaji Hikam di Azzainiyyah

Sukabumi, Hari Santri 2018? . Sekitar 900 mufasirin atau santri-santri yang mengikuti pasaran (kajian kilat selama Ramadhan) di Pondok Pesantren Azzainiyyah Nagrog, Sukabumi, Jawa Barat. Mupasirin tersebut adalah santri dari luar pesantren tersebut. Jika dihitung bersama santri Azzainiyyah sendiri, lebih 1000 peserta.?

Para mupasirin tersebut pasaran kitab Al-Hikam karya Ibnu Athoillah dibawah bimbingan Pengasuh Pondok Pesantren Azzainiyyah KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab. Ia adalah Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat dan salah seorang rais di Jam’iyyah Tariqah Muktabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) di tingkat pusat.?

900 Mupasirin Ngaji Hikam di Azzainiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
900 Mupasirin Ngaji Hikam di Azzainiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

900 "Mupasirin" Ngaji Hikam di Azzainiyyah

Menurut salah seorang pengajar Azzainiyyah KH Aang Abdullah Zein, para mufasirin berasal dari berbagai daerah. “Terutama daerah-daerah Jawa Barat, Jabodetabek, Jawa Tengah, dan ada juga yang dari Sumatera Barat,” ungkap salah seorang putra Ajengan Zezen tersebut.?

Hari Santri 2018

Salah seorang mufasirin adalah Ajengan Cecep (55). Ia berasal Kecamatan Curug Kembar, sekitar 75 km arah selatan Kota Sukabumi. Ia bersama 8 orang temannya mengikuti pengajian Hiikam tersebut, “Nambihan (menambah, red.) pengetahuan sareng (serta, red) pengamalan,” tuturnya kepada Hari Santri 2018 ketika rehat pasaran, di majelis Azzainiyyah Selasa dini hari (16/7).?

Ia berpendapat, penjelasan kitab Hikam Ajengan Zezen memudahkan dirinya, “Jarang-jarang penjelasan Hikam sepertos kieu (seperti ini, red). Biasana mah (biasanya, red.) ngalogat sebagaimana biasanya. Apalagi pasaran,” jelasnya.?

Hari Santri 2018

Hal serupa dituturkan Ahmad Hidayat dari Majelis Dzikir dan Taushiyah (Majidah) Cigondewah, Kota Bandung, Jawa Barat. “Dulu pernah dengar, bahwa Hikam sangat tabu dipelajari awam karena bahasanya yang sangat kompleks, multimakna dan tafsir,” jelas pria yang datang bersama empat sahabatnya.?

Ketika datang ke sini, tambah dia, pendapat bahwa Hikam itu tabu, jadi hilang. Ternyata Hikam bisa dipelajari oleh siapapun asal punya guru. “Dalam artian tidak bisa secara otodidak, melainkan punya guru pembimbing,” tambahnya.

Tidak semua mufasirin mengikuti dari awal hingga usai. Ahmad Bukhori, peserta asal Ciledug, Tangerang, datang Selasa dini hari (16/7) dan pulang Rabu (17/7) dini hari. Ia hanya mendengarkan penjelasan dari Ajengan Zezen. Ia datang bersama dua orang temannya.?

Ia mengakui, sebenarnya tidak terlalu paham dengan pengajian tersebut karena sering dijelaskan menggunakan bahasa Sunda, meski penjelasan Ajengan Zezen sering dengan bahasa Indonesia.

“Bagus dan enak. Pengajian Ajengan Zezen nyambung ke semua kalangan karena semuanya kebahas menyangkut sikap hidup,” pria 28 tahun tersebut berpendapat.

Ada hikmah yang menempel yang akan dibawanya pulang dari penjelasan Ajengan Zezen. Ia terkesan pendapat terkait sikap hidup kepada sesama. “Kita jangan merendahkan orang yang dianggap orang lain rendah. Misalnya preman. Jangan merasa paling benar. Karena merasa benar sendiri, belum tentu benar di mata Allah. Dalam artian kita nggak boleh sombong,” pungkasnya.?

Penulis: Abdullah Alawi ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Bahtsul Masail, Habib Hari Santri 2018

Senin, 06 November 2017

IPPNU Gelar Sayembara Gratis Penulisan

Jakarta, Hari Santri 2018. Pimpinan pusat IPPNU mengadakan sayembara gratis penulisan mulai dari puisi, cerpen, dan resensi novel. Kepanitiaan IPPNU menerima karya penulisan paling lambat pada tanggal 28 dan akan diumumkan di awal bulan berikutnya.

Demikian disampaikan Sekretaris bidang komunikasi dan informasi PP IPPNU Rien Zumaroh kepada Hari Santri 2018 di Kantor PBNU lantai lima, jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (25/2) siang.

IPPNU Gelar Sayembara Gratis Penulisan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Gelar Sayembara Gratis Penulisan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Gelar Sayembara Gratis Penulisan

“Kegiatan sayembara penulisan ini menjadi komitmen PP IPPNU 2012-2015 dalam mewadahi perkembangan penulisan kalangan remaja. Kegiatan rutin ini pun merupakan kelanjutan dari sayembara yang pernah dilakukan PP IPPNU 2012 lalu,” kata Rien.

Rien menambahkan, kita menerima tema karya terkait pesantren, perempuan, pendidikan, dan remaja. Peserta boleh berlatar belakang pendidikan apa saja. namun, kita membatasi angka 25 tahun sebagai batas maksimal usia peserta.

Hari Santri 2018

Menurut Rien, karya tidak sedang diperlombakan atau sudah dipublikasikan di mana pun termasuk blog pribadi. Karya peserta tidak boleh mengandung unsur SARA, pornografi, dan pelanggaran terhadap undang-undang yang berlaku.

Sebagai persyaratan, kata Rien, peserta harus mengirmkan karyanya di dinding fesbuk PP IPPNU dengan mencantumkan jenis lomba, judul, tema karya, nama penulis, dan nama pendidikan. Peserta juga diperkenankan mengirim lebih dari satu karya mereka.

Rien menyatakan, panitia sayembara memilih hanya empat puisi, dua cerpen, dan dua resensi novel. Pemilik karya terpilih berhak menerima suvenir dari PP IPPNU dan Majalah Surah Sastra edisi terbaru. Hadiah dikirim panitia paling lambat dua minggu ke alamat pemenang.

Daftar pemenang akan diumumkan di dinding fesbuk PP IPPNU. Sementara, peserta dapat menggali lebih lanjut keterangan melalui kotak masuk fesbuk PP IPPNU atau pesan singkat pribadi rekanita Rien Zumaroh di nomor kontak 085770429016.

Hari Santri 2018

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib, Warta Hari Santri 2018

Minggu, 05 November 2017

ASEAN Apresiasi Pendekatan Lunak untuk Atasi Terorisme

Jakarta, Hari Santri 2018



Negara-negara yang turut serta dalam KTT ASEAN 2016 di Laos mengapresiasi cara Indonesia dalam menangani kasus terorisme yang menimpa.

Presiden Joko Widodo di Vientiane, Laos, Kamis, menanggapi respons positif yang diberikan negara-negara anggota ASEAN terkait penanganan terorisme di Indonesia.?

ASEAN Apresiasi Pendekatan Lunak untuk Atasi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
ASEAN Apresiasi Pendekatan Lunak untuk Atasi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

ASEAN Apresiasi Pendekatan Lunak untuk Atasi Terorisme

Dalam forum tersebut, Jokowi memang sempat mempertanyakan efektivitas penanganan terorisme dengan hanya mengandalkan kekuatan militer semata.

"Berbeda penanganannya di negara yang lain, yang banyak dilakukan dengan penegakan hukum, diburu dengan kekerasan. Kita ini punya pendekatan lunak, dengan cara pendekatan agama, dengan cara pendekatan budaya, itu yang kita sampaikan," katanya.

Meski demikian, dia memastikan bahwa pemerintah tetap akan melakukan penegakan hukum bila memang pendekatan-pendekatan lunak tidak membuat jera para pelaku terorisme.

Hari Santri 2018

Sebab, menurut dia, Indonesia sejatinya menerapkan kombinasi antara pendekatan keras dengan pendekatan lunak.?

Hari Santri 2018

Walaupun yang disebut terakhir itu merupakan prioritas pemerintah saat ini.

"Tapi dari proses yang mereka lihat di Indonesia, memang mereka lihat lebih memberikan hasil. Paling tidak, tidak memproduksi teroris semakin banyak. Mereka yang mengatakan itu sendiri," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib, Budaya, Halaqoh Hari Santri 2018

Jumat, 03 November 2017

Semarak 5000 Rebana untuk HUT RI Ke-69

Solo, Hari Santri 2018. Sekitar 50 ribu umat muslim berpakaian putih-putih yang datang dari berbagai daerah membuat Alun-alun Lor Keraton Surakarta penuh sesak, Sabtu (9/8) malam. Mereka sengaja datang untuk melantunkan selawat dalam acara Tabligh Akbar dan Tabuh 5.000 Rebana yang digelar untuk menyemarakkan momentum hari ulang tahun Kemerdekaan RI ke-69 yang jatuh pada 17 Agustus nanti.

Pantauan di lokasi, para jamaah ini datang dari wilayah eks-Karesidenan Surakarta dan kota lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, serta DIY sejak sore hari dengan menggunakan berbagai kendaraan.

Semarak 5000 Rebana untuk HUT RI Ke-69 (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak 5000 Rebana untuk HUT RI Ke-69 (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak 5000 Rebana untuk HUT RI Ke-69

Sekitar pukul 19.30 WIB, mereka langsung membuat Alun-alun Lor seolah menjadi lautan manusia dengan pakaian serba putih sembari menggemakan selawat di Kota Solo. Ribuan penabuh rebana dari berbagai kelompok hadrah pun telah disiapkan untuk mengiringi lantunan selawat itu.

Hari Santri 2018

Kirab Merah Putuh

Selain itu, umat muslim pada kesempatan tersebut juga mengikuti acara kirab bendera Merah Putih raksasa. Kirab yang membawa dua bendera kebanggaan bangsa Indonesia tersebut dimulai dari Markas Majlis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhah Pasar Kliwon Solo menuju ke lapangan Alun-alun Utara Keraton Surakarta.

Hari Santri 2018

Ribuan jamaah beserta sekitar 2.000 pasukan Banser ikut mengiringi kirab yang diawali barisan pembawa bendera merah putih dengan panjang sekitar 10 meter yang di belakangnya disusul rombongan becak yang ditumpangi para habib dan ulama.

Dalam ceramahnya, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengatakan, kirab pada momentum bulan kemerdekaan ini sebagai wujud deklarasi dukungan atas kemerdekaan utuh NKRI hingga kapan pun.

“Hari ini kumpul semuanya. Insyaallah, ini awal yang baik. 17 Agustus akan kembali merdeka negeri ini,” kata Habib Novel yang merupakan penggagas acara ini.

Sementara itu, Wakil Walikota Solo, Achmad Purnomo menyatakan kekagumannya dengan antusiasme masyarakat yang rela datang dari luar Solo untuk hadir ke acara tersebut. Menurutnya, hal ini memperkuat eksistensi bahwa Kota Solo yang sudah mendapat julukan Kota Selawat.

“Ini sangat luar biasa. Seingat saya belum pernah saya melihat Tabligh Akbar yang seramai ini. Ini mencerminkan betul kalau Kota Solo sebagai Kota Selawat. Luar biasa!,” kata Purnomo. (Ahmad Rodif Hafidz/Ajie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib, Pendidikan Hari Santri 2018

Kamis, 02 November 2017

Harlah, Momentum untuk Tingkatkan Khidmah kepada NU

Paciran, Hari Santri 2018. Dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) ke-93 NU, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Paciran menggelar upacara di lapangan Desa Tunggul, Ahad (24/04) yang diikuti ribuan siswa dan guru di lingkungan lembaga Ma’arif NU, Pengurus MWCNU Paciran beserta banomnya dan Nahdhiyin se- Kecamatan Paciran. Dalam kesempatan tersebut, diharapkan para pengurus maupun warga meningkatkan khidmahnya kepada NU.

Ketua Tanfidziyah MWC Paciran H Khoiril Anwar yang bertindak sebagai pembina upacara menyampaikan bahwa hari lahir Nahdhatul Ulama adalah pada tanggal 16 Rajab 1344 H, bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. Peringatan harlah NU adalah Tahun Hijriyah atau bulan Rajab, tepatnya setiap tanggal 16 Rajab bukan tahun Masehi atau bulan Januari.?

Harlah, Momentum untuk Tingkatkan Khidmah kepada NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah, Momentum untuk Tingkatkan Khidmah kepada NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah, Momentum untuk Tingkatkan Khidmah kepada NU

Ia juga menuturkan, hal itu mempunyai dasar diantaranya, pertama dokumen arsip siaran Harlah NU pada zaman muassis (para ulama pendiri) adalah Rajab. Kedua, hasil sidang pleno komisi Organisasi Muktamar ke-32 NU di Makasar dengan suara aklamasi menyetujui peringatan harlah diselenggarakan pada bulan Rajab. Ketiga hasil komisi organisasi pada konferensi besar PBNU tahun 2012 di Cirebon yang dituangkan dalam keputusan PBNU no. 251 Tahun 2013. Keempat, hasil sidang pleno komisi organisasi muktamar ke-33 NU di Jombang dengan suara aklamasi, menetapkan harlah NU diperingati pada 16 Rajab.

Upacara pada harlah kali ini mengambil tema “Meningkatkan khidmat dengan Niat Ikhlas”. Pria asal Desa Semerek ini menyampaikan, NU adalah warisan para wali Allah dan ulama-ulama pendiri NU.?

”Oleh karena itu, kita sebagai kader NU adalah penerus perjuangan beliau-beliau tersebut, maka sepantasnya kita tingkatkan khidmat dan perjuangan kita di dalam NU,” ujarnya.

Hari Santri 2018

Khoiril mengingatkan bahwa peningkatan khidmat terhadap NU harus dilakukan dengan niat yang ikhlas semata-mata hanya karena Allah SWT.

”Perjuangan kita terhadap NU tidak lain hanya untuk meneruskan cita-cita para ulama pendiri NU, agar kelak di akhirat kita dikumpulkan dalam gerbong para ulama. Selain itu, peningkatan khidmat dengan niat ikhlas ini semakin penting dalam konteks kekinian, karena saat ini banyak orang yang seolah-olah berjuang untuk NU, tapi punya maksud dan tujuan pribadi, bahkan sebagian mereka hanya ingin mendapatkan kepentingan jabatan politik dan lain sebagainya. ”

Hari Santri 2018

Dalam sambutan akhirnya, ia mengajak, “Marilah kita teguhkan kembali niat kita sebagai warga NU untuk selalu berusaha meningkatkan khidmat kita didalam NU dengan niat Ikhlas.” Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib, Nahdlatul, Anti Hoax Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock