Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Januari 2018

Bupati Sintang Minta Kampus NU Bantu Majukan Daerah

Sintang, Hari Santri 2018

Sekolah Tinggi Agama Islam Maarif bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Sintang menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H. Acara dipusatkan di Pendopo Bupati Sintang.

Lebih dari 1000 jamaah hadir meramaikan kegiatan yang diberi nama “Sintang Bersholawat” tersebut dengan tema “Damailah Indonesiaku”, Sabtu (24/12). Bupati Sintang, Jarot Winarno ikut hadir. Ketua Staima Sintang, Faisal tampak mendampingi. Keduanya membaur bersama para jamaah yang hadir. Jamaah berdatangan dari ormas Islam, mahasiswa, pondok pesantren, kelompok majlis taklim dan umat muslim Sintang.

Bupati Sintang Minta Kampus NU Bantu Majukan Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Sintang Minta Kampus NU Bantu Majukan Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Sintang Minta Kampus NU Bantu Majukan Daerah

Pemkab Sintang menyambut positif penyelenggaraan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 yang digelar Staima. Sintang bershalawat dipandang penting dalam membangun nilai religius ditengah masyarakat. "Ini sesuai visi misi kita mewujudkan masyarakat yang religius," kata Bupati Sintang Jarot Winarno.

Hari Santri 2018

Ia turut berharap Staima terus membangun eksistensi dalam membantu pemerintah menciptakan sumber daya manusia yang unggul demi memajukan Sintang. Kampus merupakan tumpuan pemerintah menciptakan generasi ke depan yang mampu membangun daerah bangsa dan negara.

Ketua Staima Sintang, Faisal mengatakan,? peringatan Maulid digelar sebagai upaya membangun bersama semangat religius masyarakat Sintang dengan terus mengingatkan akan sosok Baginda Rasulullah SAW.

Hari Santri 2018

Menurut kandidat doktor Universitas Negeri Jakarta ini, Maulid Nabi juga merupakan agenda? tahunan dalam memperingi Hari Besar Islam. Kemudian membangun kesadaran kolektif untuk selalu menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah.

Faisal menambahkan, yang ingin Staima bangun dengan peringatan Maulid Nabi juga adalah terus menjaga semangat silaturahmi. "Menjaga kosistensi tradisi dengan menumbuhkan kesadaran integral dan simultan antara ulama, umara, dan masyarakat," kata Faisal.

Dalam kesmepatan itu ia juga menyampaikan perihal perkembangan kampus Staima. Staima, katanya, terus membenahi diri dalam menopang kemajuan kampusnya. Akreditasi program studi di kampus ditingkatkan. "Prodi Pendidikan agama Islam, Alhamdulillah sudah terakreditasi B," ujarnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan Hari Santri 2018

Sabtu, 13 Januari 2018

Dua Status Sial Facebook

Malam-malam begini, tiba-tiba saya kangen lagu-lagu kasidah. Saya kemudian mendengarkan suara emas Nur Asiah Jamil berjudul Petani, Pahlawan, dan Ulama. Lagu Petani mengingatkan saya kepada buku catatan harian ayah semasa di pesantrennya. Ayah pernah bergabung bersama tim kasidah, lagu Petani sering dinyanyikannya.

Lalu lagu milik penyanyi andalan Lesbumi tahun 60-an, Rofiqoh Darto Wahab berjudul Ya Asmar Latin Sani. Lagu ini, saya tahu dari novel berbahasa Sunda yang dikarang jebolan pesantren, Usep Romli HM. Judulnya Bentang Pasantren (Bintang Pesantren). Di novel yang berlatar pesantren Sunda, tokoh utamanya menggandrungi lagu itu. Kemudian saya cari lagu itu di internet.

Dua Status Sial Facebook (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Status Sial Facebook (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Status Sial Facebook

Setelah dapat, saya mengirim pesan singkat kepada pengarangnya, bahwa saya sudah memiiliki lagu itu. Ia sampai menelpon saya untuk mengirim lagu itu ke surat elektroniknya. Saya dengan senang hati mengabulkan permintaan pengarang yang pernah aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan GP Ansor itu.

Lantas saya putar pula kasidah milik Maria Ulfa berjudul Indonesia Baladi. Tak lupa Nasida Ria. Saya menemukan lagu berjudul Wartawan Ratu Dunia buah cipta H Abu Ali Haidar dinyanyikan Muthoharoh. Saya kutip di sini. Ratu dunia, ratu dunia, oh wartawan, ratu dunia/Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran.

Hari Santri 2018

Lagu ini menggugah kenangan masa kecil yang akrab dengan kasidahan, terutama sore hari menjelang imtihan (samenan) di madrasah yang dibayar dengan iuran seliter setengah beras per bulan atau pernikah anak tetangga.

Sialnya, kenangan itu rusak ketika sambil mendengarkan lagu, saya membuka Facebook. Pasalnya saya menemukan dua status teman yang panjang. Statusnya bukan berbunyi seperti ini, “aduh kangen”, “laper nih”, “mamingan”. Bukan! Tapi tentang “akhlak” media kita. Tentu saja ini berkaitan dengan lagu kasidah itu, Wartawan Ratu Dunia yang sedang diputar.

Hari Santri 2018

Status teman saya yang pertama berbunyi demikian, “Pada April 2013 lalu, ketika ustadz Jefri Al-Bukhori (Uje) wafat, pemberitaan media (media elektronik, media online bahkan media sosial) begitu masif dan beruntun selama berhari-hari. Bahkan beberapa media televisi swasta nasional menyiarkan langsung acara pemakaman, juga tahlilan sampai 40 hari wafatnya Uje.

Status itu kemudian menceritakan temannya yang berkata, "Ternyata gema wafatnya Uje jauh lebih menggelegar dibanding dengan berita wafatnya kiaimu dari Krapyak itu, ya." Status itu menambahkan, "seminggu sebelum Uje meninggal, KH Ahmad Warsun Munawwir, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Mutasyar PBNU; juga meninggal."

Status teman yang satu lagi bernada sama. Begini, “Sehari sudah Mbah Mahfudh, Rais Aam Syuriah PBNU dan Ketua MUI berturut-turut itu meninggalkan kita, beliau memiliki teladan akhlak dan karya intelektual yang reputasinya sudah mendunia.” Namun, lanjut status itu, pemberitaan di media tv nyaris tak ada, kecuali berita jalan (tag-line) yang beberapa menit. Bayangkan dengan gemuruh liputan tv saat meliput mendiang Uje Bukhari? Sebulan itu-itu saja, bahkan live pula. Ada apa gerangan dengan masyarakat-media kita?”

Menurut saya, dua status teman saya itu bukan sedang menghujat Uje. Walau bagaimanapun Uje telah berperan dalam dakwah Islam di kota. Tentulah ia punya jasa tersendiri dalam bidang itu.Tapi teman saya sedang membidik pelaku media kita.

Semakin rusak kenangan saya, ketika menemukan status teman lain, “Bagi media yang alergi dengan nama NU, biasanya memberitakan kepergian Mbah Sahal Mahfudh dengan menghubungkan status beliau sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sayangnya, di website lembaga yang sering digunakan sebagai pelarian dari media pengidap penyakit di atas, tak sedikit pun membahas atau berbela sungkawa terkait mangkatnya Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”

Status tersebut dikomentari temannya begini, “Biarlah Pengakuan terhadap Mbah Sahal menurut kepercayaannya masing-masing . Bagi mereka, itu saja sudah untung, bahkan bisa dikatakan prestasi. Daripada terus-terusan mencela."

Media tak suka kiai desa dan penulis?

Ini mungkin pertanyaan berlebihan. Tapi tidak apa, sesekali bolehlah. Soalnya, dua status pertama teman saya membandingkan, setidaknya dua hal. Pertama, kiai yang penulis dengan kiai lisan. Kedua, kiai kota dan desa.

Mari telisik lebih lanjut, KH Sahal Mahfudh tinggal di Desa Kajen itu menulis kitab dalam bahasa Arab, diantaranya Intifakh al-Wadjin, Faidh al-Haja ala Nail al-Raja Mandhumah Safinat al-Naja, Thariqat al-Hushul ala Ghayat al-Wushul dan a-Bayan al-Mulamma an Alfadh al-Luma (al-Syairazi), dll. Kitab Ghayat al-Wushul Kiai Sahal jadi salah satu rujukan ushul fiqih di Al-Azhar, Mesir. Juga di Hadralmaut (Yaman), dan Sudan. Belum lagi buku-buku dia dalam bahasa Indonesia, serta artikel-artikel lepasnya di majalah ataupun koran.

Pun begitu Kiai Warsun. Ia yang juga tinggal tidak di ibu kota itu menulis kitab Al-Munawwir, kamus Arab-Indonesia : Indonesia-Arab. Kamus ini digunakan tidak hanya ribuan santri, tapi juga mahasiswa yang berkaitan dengan bahasa Arab di perguruan tinggi.

Status teman saya yang pertama, kemudian sampai kepada pertanyaan yang bernada kesal, “Apakah kebesaran tokoh sekaliber KH Sahal Mahfudh dan KH Ahmad Warsun Munawwir ini lebih kecil dibanding dengan seorang dai selebritis ibu kota yang gaul, Ustad Jefri Al-Bukhori yang memang populer dan dibesarkan oleh media?” Menurut saya, sekali lagi, pertanyaan dengan tiga tanda tanya sekaligus itu tidak sedang tidak sedang menyerang Uje. Uje tidak tahu menahu urusan itu, tapi “akhlak” media kita, terutama televisi.

Saya ingin menambahkan pertanyaan teman saya itu, apakah media kita tak suka dengan kiai desa dibanding kiai kota? Apakah media kita tak suka dengan kiai yang menulis tapi lebih suka dengan ustadz lisan? Pertanyaan lain menyusul, kenapa yang satu terus ditampilkan yang satu lagi tidak? Apa itu kebetulan atau disengaja? Saya tidak tahu jawabannya. Lebih baik kita putar ulang lagu Wartawan Ratu Dunia itu.

Apa saja kata wartawan, mempengaruhi pembaca koran/Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji/Bila wartawan mencaci, dunia ikut membenci/Wartawan dapat membina pendapat umum dunia /Bila wartawan terpuji bertanggung jawab berbudi/Jujur tak suka berdusta, beriman dan takwa

Sebaik-baik wartawan yang ratu dunia itu, bukankah mereka tetap tunduk kepada kepentingan Pemred dan pemilik media. Coba perhatikan saja apakah TVOne senang dengan memberitakan lumpur Lapindo? Ketika dia tidak memberitakan, apakah fakta itu tidak ada? Jelas, kebijakan pemilik media sangat mempengaruhi.

Belum genap dua minggu, Pengurus Pusat Pencak Silat Pagar Nusa NU membedah buku. Tak tanggung-tanggung, dua buku sekaligus. Kuasa Ramalan karya Peter Carey, peneliti Inggris, dan buku Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949) karya Zainul Milal Bizawie. Kedua buku itu terdapat benang merah, orang-orang dari pesantren turun-temurun mengusir penjajah. Contoh paling terorganisir adalah Perang Pangeran Diponegoro.

Dari bedah buku itu pula menegaskan, kiai-kiai pesantren yang ada sekarang itu adalah keturunan pasukan Pangeran Diponegoro dan pejuang-pejuang sebelumnya. Dengan demikian, lagi-lagi saya menemukan pertanyaan begini, apa media kita tidak suka dengan keturunan para pengusir penjajah?

Sebenarnya tidak salah para media cenderung begitu, wong itu milik mereka, menampilkan atau tidak menampilkan sebuah fakta adalah kepentingan mereka. Biarlah mereka begitu ya begitu dari sononya. Saya cuma sampai pada kesimpulan, sebaiknya para santri, yang katanya turunan para pengusir penjajah itu, berjuang juga dalam media, baik cetak, online, atau tv. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sholawat, Pendidikan Hari Santri 2018

Sabtu, 06 Januari 2018

Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an

Jakarta, Hari Santri 2018. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, di dalam Al-Qur’an hanya ada satu profesi yang menjadi nama surat yaitu As-Syu’ara, artinya para penyair. Jadi, para seniman (penyair) itu mendapat kedudukan istimewa. ?

“Yang lainnya tidak ada, semisal surat kuli, surat pengacara, anggota DPR,” katanya pada Silaturahim Kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/7) bertema “Meneguhkan Kebudayaan, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang digelar Lesbumi PBNU.?

Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an

Ia menambahkan, ditegaskan di dalam surat itu, para penyair adalah orang yang luas pandangannya, sangat cerdas, dan pengembara.?

Maka, lanjutnya, ditegaskan Syekh Dzu Nun Al-Mishri, seni adalah suara kebenaran yang menggugah, dan mengangkat kita pada kepada Allah. Pada kesmepatan lain, Kiai Said juga menjelaskan bahwa seni yang dibarengi syahwat akan mendekatkan pelakunya kepada zindiq.?

Hari Santri 2018

“Maka seni ini jalan yang tepat untuk menuju Allah. Itu yang ngomong sufi besar, bukan Ketua Umum PBNU,” tegasnya. ?

Silaturahim Kebudayaan tersebut dihadiri Ketua Lesbumi PBNU KH Agus ? Sunyoto, Ketua Umum Persatuan Purnawiran Warakawuri TNI/Polri (Pepabri) Agum Gumelar, budayawan KGPH Puger, dan pemerhati budaya Harry Tjan Silalahi.

Ragam seni ditampilkan pada kesempatan tersebut mulai keroncong jaipong grup Jaya Buana, yang dipadu alat musik modern, pencak silat Pagar Nusa, seni pantun Sunda yang diiringi karinding dan celempung, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat, Indonesia Raya, penampilan puisi, pameran keris.?

Hari Santri 2018

Para hadirin juga bisa mencicipi ragam makanan tradisional seperti berbagai jenis tumpeng, umbi-umbian, dan minuman sadapan mayang enau atau nira (legen). (Abdullah Alawi) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan, Sholawat Hari Santri 2018

Sabtu, 30 Desember 2017

Gus Ipul Tekankan Pentingnya Keluarga, Madrasah, Masjid dan Media

Jombang, Hari Santri 2018. Wakil Gubernur Jawa Timur, H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menekankan pentingnya keberadaan keluarga, madrasah, masjid dan media. Hal itu dikemukakannya saat memberikan sambutan atas nama Ketua PBNU dalam kegiatan Musyawarah Kerja (Musker) III Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur yang berlangsung di Pondok Pesantren Darul Ulum, Kepuhdoko, Tembelang, Jombang, Ahad, (25/1).

Gus Ipul Tekankan Pentingnya Keluarga, Madrasah, Masjid dan Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ipul Tekankan Pentingnya Keluarga, Madrasah, Masjid dan Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ipul Tekankan Pentingnya Keluarga, Madrasah, Masjid dan Media

Bagi Gus Ipul, keluarga adalah benteng pertama bagi terjaganya akidah dan masa depan generasi muda dari berbagai ancaman yang semakin hari kian mengkhawatirkan. "Kalau keluarganya baik, maka dapat dipastikan anak-anak juga akan terjaga dengan baik," katanya di hadapan peserta Musker.

Demikian juga, lanjut Gus Ipul, yang harus mendapat perhatian adalah keberadaan lembaga pendidikan Islam khususnya madrasah. "Sekolah Islam harus bisa memberikan pelayanan terbaik bagi ketersediaan calon pemimpin bangsa di masa depan," terangnya.

Hari Santri 2018

Menurutnya, dengan semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan, hal yang tidak dapat dihindari bagi para pengelola madrasah atau sekolah agama adalah meningkatkan mutu dan layanan sesuai harapan umat. Untuk bisa bertahan di tengah persaingan, lanjut Ipul, madrasah harus memberikan terobosan baru sehingga bisa bersaing dengan sekolah yang telah mapan.

Sedangkan hal ketiga yang diingatkan Gus Ipul adalah masjid. Baginya, masjid harus selalu terbuka dengan masyarakat serta jama’ah. "Jangan sampai masjid malah sering tutup," pesannya.

Hari Santri 2018

Karena itu untuk dapat menfungsikan masjid secara optimal, Gus Ipul menyarankan masyarakat khususnya para pengelola untuk lebih sering mengisi dengan kegiatan keumatan, seperti majlis taklim, membuka layanan kesehatan, simpan pinjam, dan koperasi. 

Gus Ipul mengingatkan semakin banyak masjid yang awalnya dikelola masyarakat dan akhirnya berubah kepemilikan. Apalagi, kata Gus Ipul, para pengelola baru masjid tersebut adalah penyebar Islam yang jauh dari cita-cita para ulama dan salafus shalih.

Terakhir, pada kesempatan tersebut Gus Ipul mengimbau para kiai, ulama dan aktifis NU untuk memanfaatkan media untuk kepentingan dakwah, termasuk internet dan media sosial maupun aplikasi youtube. "Manfaatkan media massa untuk syiar agama ala NU," ungkapnya. 

Kegiatan Musker III PCNU Jombang dihadiri Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur. Tampak hadir pula Bupati, Wakil Bupati, Kapolres, Dandim 0814, Forum Pimpinan Daerah, Pengurus Harian NU serta utusan MWC NU se-wilayah Jombang, termasuk lembaga, lajnah dan badan otonom NU. (Syaifullah Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan, Meme Islam Hari Santri 2018

Puluhan Mahasiswa Baru UNU NTB Kenali Lingkungan Kampus

Mataram, Hari Santri 2018 - Sedikitnya 50 mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB angkatan 2016/2017 berkumpul di aula kampus setempat Jalan Pendidikan nomor 6 Kota Mataram, Senin-Selasa (29-30/8). Mereka mengikuti gelaran Taaruf Akademik Mahasiswa Universitas NU (Ta’awunu).

Wakil Rektor II UNU NTB Mulianah menyebutkan, Taawanu dilaksanakan selama dua hari. “Spiritnya pertama adalah menyosialisasikan nilai-nilai NU melalui UNU,” kata Mulianah kepada Hari Santri 2018 di ruang kerjanya, Selasa (30/8) siang.

Puluhan Mahasiswa Baru UNU NTB Kenali Lingkungan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Mahasiswa Baru UNU NTB Kenali Lingkungan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Mahasiswa Baru UNU NTB Kenali Lingkungan Kampus

Kegiatan wajib kampus ini mendorong mahasiswa baru untuk tolong-menolong sesuai dengan spirit perjuangan NU. Kegiatan ini juga diadakan sebagai pembeda dari kampus lain.

"Karena setiap kampus istilahnya beda-beda. Ada yang ‘Ospek’, ‘Posmaba’, ‘Opak’ dan lainnya," tambah Ketua Pergunu NTB ini.

Hari Santri 2018

Semntara itu, Kepala Biro Akdemik UNU NTB Jamiluddin lebih menejelaskan rinci Taawun. Menurutnya, selama dua hari akan diadakan kuliah umum untuk seluruh mahasiswa baik baru maupun lama UNU NTB.

Hari Santri 2018

Hari pertama gawainya rektorat. Hari kedua gawainya fakultas. hari ketiga kuliah umum. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pesantren, Pendidikan, Nahdlatul Hari Santri 2018

Minggu, 17 Desember 2017

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..!

Jombang, Hari Santri 2018. Puluhan ribu warga NU tumplek blek di alun-alun kota Jombang,  Rabu (8/5) malam. Dengan pakaian serba putih dan juga kopyah putih, mereka larut dalam  lantunan bacaan Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang didengungkan Habib Syekh Abd Qodir  Assegaf.

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..! (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syekh: Ikutlah Kiai..! (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..!

Kegiatan Jombang bersholawat dalam rangka Isro miroj dan tasyakuran Jombang menerima penghargaan ke-5 pemerintahan terbaik oleh Pemerintah Pusat juga dihadiri Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf alias Gus Ipul serta ratusan kiai, pengasuh serta santri pondok pesantren se-Jombang.

Bupati Suyanto Jombang mengatakan, Jombang  Bersholawat digelar dalam rangka Isro miroj dan tasyakuran karena Jombang meraih penghargaan sebagai  pemerintahan terbaik kelima.

Hari Santri 2018

Usai sambutan Bupati,  Habib Syekh Abd Qodir Assegaf  langsung menggebrak dengan lantunan syiir Gus Dur, seperti dikomando ribuan jamaah Nahdliyin, menyahudi syiiran yang sudah mendarah daging dikumandangkan di musholla-musholla dan radio menjelang magrib tersebut. 

Hari Santri 2018

Hampir 1,5 jam lebih gema sholat dengan iringan musik rebana memenuhi pusat kota santri. Dan bagaikan konser musik Slank, para Syehker sebutan pecinta Habib asal Solo itu juga mengibarkan bendera kebesaran kelompoknya masing-masing, seperi Remaja Masjid, IPNU, Ansor serta Jamaah Sholawat bahkan bendera Merah Putih juga nampak berkibar ditengah-tengah lautan manusia berbaju putih.

Jombang Sholawat ditutup dengan doa oleh KH Masduqi Abd Rohman Al Hafidz, setelah sebelumnya Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf memberikan sambutan dan Habib Syech memberikan wejangan. 

"Para kiai sudah menyediakan kendaraan untuk kita,  tinggal kita ikut saja. Terserah kita memilih, apakah pingin ikut jalur sugeh? Yo melok’o wong sugeh (Apakah ingin mengikuti jalur orang kaya? ya ikutlah mereka, red), jika ingin selamat dunia akhirat silahkan ikut kiai," ujarnya.

Habib juga sedikit menyinggung pemahaman tentang Islam kelompok tertentu yang selalu mengkafirkan NU. Menurutnya, tidak ada yang salah di NU. "Saya pribadi mendukung pemimpin yang berahlussunah wal Jamaah. Bukan hanya orang yang berjenggot panjang yang sering menyalahkan," imbuhnya.

Jombang bersholawat ditutup dengan lantunan lagu Indonesia Raya yang dipimpin langsung Kapolres Jombang AKBP Tri Bisno. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Daerah, Pendidikan, Sholawat Hari Santri 2018

Rabu, 06 Desember 2017

Pesantren Kaliopak Ngaji Wayang dan Al-Ibriz

Yogyakarta, Hari Santri 2018 

Berbeda dengan yang lain, Pondok Pesantren Kaliopak mengisi  Ramadhan dengan mengkaji lakon wayang tiap seminggu dua kali. Disamping itu diaji pula tafsir berbahasa Jawa karangan KH Bisri Musthofa, Al-Ibriz, tiap hari.

Pesantren Kaliopak Ngaji Wayang dan Al-Ibriz (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kaliopak Ngaji Wayang dan Al-Ibriz (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kaliopak Ngaji Wayang dan Al-Ibriz

“Wayang adalah bayang-bayang kita sendiri. Dengan mengkaji lakon wayang kita dapat introspeksi dan mengukur diri kita dalam menjalankan perjalanan sebagai hamba Allah. Mengaji wayang juga mengaji kitab kuning. Itu merupakan tafsir sufisme Jawa,” ungkap M Jadul Maula, Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta, Rabu (17/7).

Selain mengaji atau diskusi lakon wayang, di Kaliopak juga mengkaji Tafsir Ibriz. “Al-Ibriz merupakan tafsir dalam bahasa Jawa. Itu merupakan bagian dari kontekstualisasi. Itu merupakan kekayaan khazanah Islam Nusantara,” tambahnya.

Hari Santri 2018

Mengkaji Tafsir Al-Ibriz menurut Jadul Maula, adalah upaya mengakrabkan kembali mahasiswa dengan huruf pegon. Itu merupakan peninggalan ulama Nusantara. Ulama Islam Nusantara mempunyai kapasitas bisa mencapai derajat keagamaan yang diakui. Dengan pegon kita, ulama kita dapat berkarya yang sederajat dengan ilmu di Persia, Timur Tengah dan wilayah lain.

“Dengan mengkaji lakon wayang, kami ingin mengubah status wayang bukan lagi hanya liburan tapi ngaji. Dahulu masyarakat mendatangi pagelaran wayang dengan memakai pakaian Isalam,” tandas M Jadul Maula.

Hari Santri 2018

“Adegan keseluruhan pagelaran wayang dibagi tiga adegan. Adegan pertama, menerangkan manusia mulai lahir. Anak-anak remaja menghadapi masalah, tapi tidak mempunyai arah. Sedangkan adegan yang kedua menceritakan menjelang dewasa, anak sudah bisa memilih apa yang benar dan apa yang salah. Dan adegan yang ketiga adalah berani melawan nafsu sendiri,” imbuhnya.

Menurut M Jadul Maula, wayang adalah sebagai titik tolak proses meditasi seseorang. Selain itu, jalan pertama masuknya Islam ke jawa adalah dengan wayang. Kalau ada orang yang menolak wayang maka sama halnya dengan menolak ibunya.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Sholikhin

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul, Pendidikan Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock