Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Januari 2018

Bupati Sintang Minta Kampus NU Bantu Majukan Daerah

Sintang, Hari Santri 2018

Sekolah Tinggi Agama Islam Maarif bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Sintang menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H. Acara dipusatkan di Pendopo Bupati Sintang.

Lebih dari 1000 jamaah hadir meramaikan kegiatan yang diberi nama “Sintang Bersholawat” tersebut dengan tema “Damailah Indonesiaku”, Sabtu (24/12). Bupati Sintang, Jarot Winarno ikut hadir. Ketua Staima Sintang, Faisal tampak mendampingi. Keduanya membaur bersama para jamaah yang hadir. Jamaah berdatangan dari ormas Islam, mahasiswa, pondok pesantren, kelompok majlis taklim dan umat muslim Sintang.

Bupati Sintang Minta Kampus NU Bantu Majukan Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Sintang Minta Kampus NU Bantu Majukan Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Sintang Minta Kampus NU Bantu Majukan Daerah

Pemkab Sintang menyambut positif penyelenggaraan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 yang digelar Staima. Sintang bershalawat dipandang penting dalam membangun nilai religius ditengah masyarakat. "Ini sesuai visi misi kita mewujudkan masyarakat yang religius," kata Bupati Sintang Jarot Winarno.

Hari Santri 2018

Ia turut berharap Staima terus membangun eksistensi dalam membantu pemerintah menciptakan sumber daya manusia yang unggul demi memajukan Sintang. Kampus merupakan tumpuan pemerintah menciptakan generasi ke depan yang mampu membangun daerah bangsa dan negara.

Ketua Staima Sintang, Faisal mengatakan,? peringatan Maulid digelar sebagai upaya membangun bersama semangat religius masyarakat Sintang dengan terus mengingatkan akan sosok Baginda Rasulullah SAW.

Hari Santri 2018

Menurut kandidat doktor Universitas Negeri Jakarta ini, Maulid Nabi juga merupakan agenda? tahunan dalam memperingi Hari Besar Islam. Kemudian membangun kesadaran kolektif untuk selalu menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah.

Faisal menambahkan, yang ingin Staima bangun dengan peringatan Maulid Nabi juga adalah terus menjaga semangat silaturahmi. "Menjaga kosistensi tradisi dengan menumbuhkan kesadaran integral dan simultan antara ulama, umara, dan masyarakat," kata Faisal.

Dalam kesmepatan itu ia juga menyampaikan perihal perkembangan kampus Staima. Staima, katanya, terus membenahi diri dalam menopang kemajuan kampusnya. Akreditasi program studi di kampus ditingkatkan. "Prodi Pendidikan agama Islam, Alhamdulillah sudah terakreditasi B," ujarnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan Hari Santri 2018

Sabtu, 13 Januari 2018

Dua Status Sial Facebook

Malam-malam begini, tiba-tiba saya kangen lagu-lagu kasidah. Saya kemudian mendengarkan suara emas Nur Asiah Jamil berjudul Petani, Pahlawan, dan Ulama. Lagu Petani mengingatkan saya kepada buku catatan harian ayah semasa di pesantrennya. Ayah pernah bergabung bersama tim kasidah, lagu Petani sering dinyanyikannya.

Lalu lagu milik penyanyi andalan Lesbumi tahun 60-an, Rofiqoh Darto Wahab berjudul Ya Asmar Latin Sani. Lagu ini, saya tahu dari novel berbahasa Sunda yang dikarang jebolan pesantren, Usep Romli HM. Judulnya Bentang Pasantren (Bintang Pesantren). Di novel yang berlatar pesantren Sunda, tokoh utamanya menggandrungi lagu itu. Kemudian saya cari lagu itu di internet.

Dua Status Sial Facebook (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Status Sial Facebook (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Status Sial Facebook

Setelah dapat, saya mengirim pesan singkat kepada pengarangnya, bahwa saya sudah memiiliki lagu itu. Ia sampai menelpon saya untuk mengirim lagu itu ke surat elektroniknya. Saya dengan senang hati mengabulkan permintaan pengarang yang pernah aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan GP Ansor itu.

Lantas saya putar pula kasidah milik Maria Ulfa berjudul Indonesia Baladi. Tak lupa Nasida Ria. Saya menemukan lagu berjudul Wartawan Ratu Dunia buah cipta H Abu Ali Haidar dinyanyikan Muthoharoh. Saya kutip di sini. Ratu dunia, ratu dunia, oh wartawan, ratu dunia/Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran.

Hari Santri 2018

Lagu ini menggugah kenangan masa kecil yang akrab dengan kasidahan, terutama sore hari menjelang imtihan (samenan) di madrasah yang dibayar dengan iuran seliter setengah beras per bulan atau pernikah anak tetangga.

Sialnya, kenangan itu rusak ketika sambil mendengarkan lagu, saya membuka Facebook. Pasalnya saya menemukan dua status teman yang panjang. Statusnya bukan berbunyi seperti ini, “aduh kangen”, “laper nih”, “mamingan”. Bukan! Tapi tentang “akhlak” media kita. Tentu saja ini berkaitan dengan lagu kasidah itu, Wartawan Ratu Dunia yang sedang diputar.

Hari Santri 2018

Status teman saya yang pertama berbunyi demikian, “Pada April 2013 lalu, ketika ustadz Jefri Al-Bukhori (Uje) wafat, pemberitaan media (media elektronik, media online bahkan media sosial) begitu masif dan beruntun selama berhari-hari. Bahkan beberapa media televisi swasta nasional menyiarkan langsung acara pemakaman, juga tahlilan sampai 40 hari wafatnya Uje.

Status itu kemudian menceritakan temannya yang berkata, "Ternyata gema wafatnya Uje jauh lebih menggelegar dibanding dengan berita wafatnya kiaimu dari Krapyak itu, ya." Status itu menambahkan, "seminggu sebelum Uje meninggal, KH Ahmad Warsun Munawwir, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Mutasyar PBNU; juga meninggal."

Status teman yang satu lagi bernada sama. Begini, “Sehari sudah Mbah Mahfudh, Rais Aam Syuriah PBNU dan Ketua MUI berturut-turut itu meninggalkan kita, beliau memiliki teladan akhlak dan karya intelektual yang reputasinya sudah mendunia.” Namun, lanjut status itu, pemberitaan di media tv nyaris tak ada, kecuali berita jalan (tag-line) yang beberapa menit. Bayangkan dengan gemuruh liputan tv saat meliput mendiang Uje Bukhari? Sebulan itu-itu saja, bahkan live pula. Ada apa gerangan dengan masyarakat-media kita?”

Menurut saya, dua status teman saya itu bukan sedang menghujat Uje. Walau bagaimanapun Uje telah berperan dalam dakwah Islam di kota. Tentulah ia punya jasa tersendiri dalam bidang itu.Tapi teman saya sedang membidik pelaku media kita.

Semakin rusak kenangan saya, ketika menemukan status teman lain, “Bagi media yang alergi dengan nama NU, biasanya memberitakan kepergian Mbah Sahal Mahfudh dengan menghubungkan status beliau sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sayangnya, di website lembaga yang sering digunakan sebagai pelarian dari media pengidap penyakit di atas, tak sedikit pun membahas atau berbela sungkawa terkait mangkatnya Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”

Status tersebut dikomentari temannya begini, “Biarlah Pengakuan terhadap Mbah Sahal menurut kepercayaannya masing-masing . Bagi mereka, itu saja sudah untung, bahkan bisa dikatakan prestasi. Daripada terus-terusan mencela."

Media tak suka kiai desa dan penulis?

Ini mungkin pertanyaan berlebihan. Tapi tidak apa, sesekali bolehlah. Soalnya, dua status pertama teman saya membandingkan, setidaknya dua hal. Pertama, kiai yang penulis dengan kiai lisan. Kedua, kiai kota dan desa.

Mari telisik lebih lanjut, KH Sahal Mahfudh tinggal di Desa Kajen itu menulis kitab dalam bahasa Arab, diantaranya Intifakh al-Wadjin, Faidh al-Haja ala Nail al-Raja Mandhumah Safinat al-Naja, Thariqat al-Hushul ala Ghayat al-Wushul dan a-Bayan al-Mulamma an Alfadh al-Luma (al-Syairazi), dll. Kitab Ghayat al-Wushul Kiai Sahal jadi salah satu rujukan ushul fiqih di Al-Azhar, Mesir. Juga di Hadralmaut (Yaman), dan Sudan. Belum lagi buku-buku dia dalam bahasa Indonesia, serta artikel-artikel lepasnya di majalah ataupun koran.

Pun begitu Kiai Warsun. Ia yang juga tinggal tidak di ibu kota itu menulis kitab Al-Munawwir, kamus Arab-Indonesia : Indonesia-Arab. Kamus ini digunakan tidak hanya ribuan santri, tapi juga mahasiswa yang berkaitan dengan bahasa Arab di perguruan tinggi.

Status teman saya yang pertama, kemudian sampai kepada pertanyaan yang bernada kesal, “Apakah kebesaran tokoh sekaliber KH Sahal Mahfudh dan KH Ahmad Warsun Munawwir ini lebih kecil dibanding dengan seorang dai selebritis ibu kota yang gaul, Ustad Jefri Al-Bukhori yang memang populer dan dibesarkan oleh media?” Menurut saya, sekali lagi, pertanyaan dengan tiga tanda tanya sekaligus itu tidak sedang tidak sedang menyerang Uje. Uje tidak tahu menahu urusan itu, tapi “akhlak” media kita, terutama televisi.

Saya ingin menambahkan pertanyaan teman saya itu, apakah media kita tak suka dengan kiai desa dibanding kiai kota? Apakah media kita tak suka dengan kiai yang menulis tapi lebih suka dengan ustadz lisan? Pertanyaan lain menyusul, kenapa yang satu terus ditampilkan yang satu lagi tidak? Apa itu kebetulan atau disengaja? Saya tidak tahu jawabannya. Lebih baik kita putar ulang lagu Wartawan Ratu Dunia itu.

Apa saja kata wartawan, mempengaruhi pembaca koran/Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji/Bila wartawan mencaci, dunia ikut membenci/Wartawan dapat membina pendapat umum dunia /Bila wartawan terpuji bertanggung jawab berbudi/Jujur tak suka berdusta, beriman dan takwa

Sebaik-baik wartawan yang ratu dunia itu, bukankah mereka tetap tunduk kepada kepentingan Pemred dan pemilik media. Coba perhatikan saja apakah TVOne senang dengan memberitakan lumpur Lapindo? Ketika dia tidak memberitakan, apakah fakta itu tidak ada? Jelas, kebijakan pemilik media sangat mempengaruhi.

Belum genap dua minggu, Pengurus Pusat Pencak Silat Pagar Nusa NU membedah buku. Tak tanggung-tanggung, dua buku sekaligus. Kuasa Ramalan karya Peter Carey, peneliti Inggris, dan buku Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949) karya Zainul Milal Bizawie. Kedua buku itu terdapat benang merah, orang-orang dari pesantren turun-temurun mengusir penjajah. Contoh paling terorganisir adalah Perang Pangeran Diponegoro.

Dari bedah buku itu pula menegaskan, kiai-kiai pesantren yang ada sekarang itu adalah keturunan pasukan Pangeran Diponegoro dan pejuang-pejuang sebelumnya. Dengan demikian, lagi-lagi saya menemukan pertanyaan begini, apa media kita tidak suka dengan keturunan para pengusir penjajah?

Sebenarnya tidak salah para media cenderung begitu, wong itu milik mereka, menampilkan atau tidak menampilkan sebuah fakta adalah kepentingan mereka. Biarlah mereka begitu ya begitu dari sononya. Saya cuma sampai pada kesimpulan, sebaiknya para santri, yang katanya turunan para pengusir penjajah itu, berjuang juga dalam media, baik cetak, online, atau tv. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sholawat, Pendidikan Hari Santri 2018

Sabtu, 06 Januari 2018

Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an

Jakarta, Hari Santri 2018. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, di dalam Al-Qur’an hanya ada satu profesi yang menjadi nama surat yaitu As-Syu’ara, artinya para penyair. Jadi, para seniman (penyair) itu mendapat kedudukan istimewa. ?

“Yang lainnya tidak ada, semisal surat kuli, surat pengacara, anggota DPR,” katanya pada Silaturahim Kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/7) bertema “Meneguhkan Kebudayaan, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang digelar Lesbumi PBNU.?

Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an

Ia menambahkan, ditegaskan di dalam surat itu, para penyair adalah orang yang luas pandangannya, sangat cerdas, dan pengembara.?

Maka, lanjutnya, ditegaskan Syekh Dzu Nun Al-Mishri, seni adalah suara kebenaran yang menggugah, dan mengangkat kita pada kepada Allah. Pada kesmepatan lain, Kiai Said juga menjelaskan bahwa seni yang dibarengi syahwat akan mendekatkan pelakunya kepada zindiq.?

Hari Santri 2018

“Maka seni ini jalan yang tepat untuk menuju Allah. Itu yang ngomong sufi besar, bukan Ketua Umum PBNU,” tegasnya. ?

Silaturahim Kebudayaan tersebut dihadiri Ketua Lesbumi PBNU KH Agus ? Sunyoto, Ketua Umum Persatuan Purnawiran Warakawuri TNI/Polri (Pepabri) Agum Gumelar, budayawan KGPH Puger, dan pemerhati budaya Harry Tjan Silalahi.

Ragam seni ditampilkan pada kesempatan tersebut mulai keroncong jaipong grup Jaya Buana, yang dipadu alat musik modern, pencak silat Pagar Nusa, seni pantun Sunda yang diiringi karinding dan celempung, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat, Indonesia Raya, penampilan puisi, pameran keris.?

Hari Santri 2018

Para hadirin juga bisa mencicipi ragam makanan tradisional seperti berbagai jenis tumpeng, umbi-umbian, dan minuman sadapan mayang enau atau nira (legen). (Abdullah Alawi) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan, Sholawat Hari Santri 2018

Sabtu, 30 Desember 2017

Gus Ipul Tekankan Pentingnya Keluarga, Madrasah, Masjid dan Media

Jombang, Hari Santri 2018. Wakil Gubernur Jawa Timur, H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menekankan pentingnya keberadaan keluarga, madrasah, masjid dan media. Hal itu dikemukakannya saat memberikan sambutan atas nama Ketua PBNU dalam kegiatan Musyawarah Kerja (Musker) III Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur yang berlangsung di Pondok Pesantren Darul Ulum, Kepuhdoko, Tembelang, Jombang, Ahad, (25/1).

Gus Ipul Tekankan Pentingnya Keluarga, Madrasah, Masjid dan Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ipul Tekankan Pentingnya Keluarga, Madrasah, Masjid dan Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ipul Tekankan Pentingnya Keluarga, Madrasah, Masjid dan Media

Bagi Gus Ipul, keluarga adalah benteng pertama bagi terjaganya akidah dan masa depan generasi muda dari berbagai ancaman yang semakin hari kian mengkhawatirkan. "Kalau keluarganya baik, maka dapat dipastikan anak-anak juga akan terjaga dengan baik," katanya di hadapan peserta Musker.

Demikian juga, lanjut Gus Ipul, yang harus mendapat perhatian adalah keberadaan lembaga pendidikan Islam khususnya madrasah. "Sekolah Islam harus bisa memberikan pelayanan terbaik bagi ketersediaan calon pemimpin bangsa di masa depan," terangnya.

Hari Santri 2018

Menurutnya, dengan semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan, hal yang tidak dapat dihindari bagi para pengelola madrasah atau sekolah agama adalah meningkatkan mutu dan layanan sesuai harapan umat. Untuk bisa bertahan di tengah persaingan, lanjut Ipul, madrasah harus memberikan terobosan baru sehingga bisa bersaing dengan sekolah yang telah mapan.

Sedangkan hal ketiga yang diingatkan Gus Ipul adalah masjid. Baginya, masjid harus selalu terbuka dengan masyarakat serta jama’ah. "Jangan sampai masjid malah sering tutup," pesannya.

Hari Santri 2018

Karena itu untuk dapat menfungsikan masjid secara optimal, Gus Ipul menyarankan masyarakat khususnya para pengelola untuk lebih sering mengisi dengan kegiatan keumatan, seperti majlis taklim, membuka layanan kesehatan, simpan pinjam, dan koperasi. 

Gus Ipul mengingatkan semakin banyak masjid yang awalnya dikelola masyarakat dan akhirnya berubah kepemilikan. Apalagi, kata Gus Ipul, para pengelola baru masjid tersebut adalah penyebar Islam yang jauh dari cita-cita para ulama dan salafus shalih.

Terakhir, pada kesempatan tersebut Gus Ipul mengimbau para kiai, ulama dan aktifis NU untuk memanfaatkan media untuk kepentingan dakwah, termasuk internet dan media sosial maupun aplikasi youtube. "Manfaatkan media massa untuk syiar agama ala NU," ungkapnya. 

Kegiatan Musker III PCNU Jombang dihadiri Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur. Tampak hadir pula Bupati, Wakil Bupati, Kapolres, Dandim 0814, Forum Pimpinan Daerah, Pengurus Harian NU serta utusan MWC NU se-wilayah Jombang, termasuk lembaga, lajnah dan badan otonom NU. (Syaifullah Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan, Meme Islam Hari Santri 2018

Puluhan Mahasiswa Baru UNU NTB Kenali Lingkungan Kampus

Mataram, Hari Santri 2018 - Sedikitnya 50 mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB angkatan 2016/2017 berkumpul di aula kampus setempat Jalan Pendidikan nomor 6 Kota Mataram, Senin-Selasa (29-30/8). Mereka mengikuti gelaran Taaruf Akademik Mahasiswa Universitas NU (Ta’awunu).

Wakil Rektor II UNU NTB Mulianah menyebutkan, Taawanu dilaksanakan selama dua hari. “Spiritnya pertama adalah menyosialisasikan nilai-nilai NU melalui UNU,” kata Mulianah kepada Hari Santri 2018 di ruang kerjanya, Selasa (30/8) siang.

Puluhan Mahasiswa Baru UNU NTB Kenali Lingkungan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Mahasiswa Baru UNU NTB Kenali Lingkungan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Mahasiswa Baru UNU NTB Kenali Lingkungan Kampus

Kegiatan wajib kampus ini mendorong mahasiswa baru untuk tolong-menolong sesuai dengan spirit perjuangan NU. Kegiatan ini juga diadakan sebagai pembeda dari kampus lain.

"Karena setiap kampus istilahnya beda-beda. Ada yang ‘Ospek’, ‘Posmaba’, ‘Opak’ dan lainnya," tambah Ketua Pergunu NTB ini.

Hari Santri 2018

Semntara itu, Kepala Biro Akdemik UNU NTB Jamiluddin lebih menejelaskan rinci Taawun. Menurutnya, selama dua hari akan diadakan kuliah umum untuk seluruh mahasiswa baik baru maupun lama UNU NTB.

Hari Santri 2018

Hari pertama gawainya rektorat. Hari kedua gawainya fakultas. hari ketiga kuliah umum. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pesantren, Pendidikan, Nahdlatul Hari Santri 2018

Minggu, 17 Desember 2017

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..!

Jombang, Hari Santri 2018. Puluhan ribu warga NU tumplek blek di alun-alun kota Jombang,  Rabu (8/5) malam. Dengan pakaian serba putih dan juga kopyah putih, mereka larut dalam  lantunan bacaan Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang didengungkan Habib Syekh Abd Qodir  Assegaf.

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..! (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syekh: Ikutlah Kiai..! (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..!

Kegiatan Jombang bersholawat dalam rangka Isro miroj dan tasyakuran Jombang menerima penghargaan ke-5 pemerintahan terbaik oleh Pemerintah Pusat juga dihadiri Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf alias Gus Ipul serta ratusan kiai, pengasuh serta santri pondok pesantren se-Jombang.

Bupati Suyanto Jombang mengatakan, Jombang  Bersholawat digelar dalam rangka Isro miroj dan tasyakuran karena Jombang meraih penghargaan sebagai  pemerintahan terbaik kelima.

Hari Santri 2018

Usai sambutan Bupati,  Habib Syekh Abd Qodir Assegaf  langsung menggebrak dengan lantunan syiir Gus Dur, seperti dikomando ribuan jamaah Nahdliyin, menyahudi syiiran yang sudah mendarah daging dikumandangkan di musholla-musholla dan radio menjelang magrib tersebut. 

Hari Santri 2018

Hampir 1,5 jam lebih gema sholat dengan iringan musik rebana memenuhi pusat kota santri. Dan bagaikan konser musik Slank, para Syehker sebutan pecinta Habib asal Solo itu juga mengibarkan bendera kebesaran kelompoknya masing-masing, seperi Remaja Masjid, IPNU, Ansor serta Jamaah Sholawat bahkan bendera Merah Putih juga nampak berkibar ditengah-tengah lautan manusia berbaju putih.

Jombang Sholawat ditutup dengan doa oleh KH Masduqi Abd Rohman Al Hafidz, setelah sebelumnya Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf memberikan sambutan dan Habib Syech memberikan wejangan. 

"Para kiai sudah menyediakan kendaraan untuk kita,  tinggal kita ikut saja. Terserah kita memilih, apakah pingin ikut jalur sugeh? Yo melok’o wong sugeh (Apakah ingin mengikuti jalur orang kaya? ya ikutlah mereka, red), jika ingin selamat dunia akhirat silahkan ikut kiai," ujarnya.

Habib juga sedikit menyinggung pemahaman tentang Islam kelompok tertentu yang selalu mengkafirkan NU. Menurutnya, tidak ada yang salah di NU. "Saya pribadi mendukung pemimpin yang berahlussunah wal Jamaah. Bukan hanya orang yang berjenggot panjang yang sering menyalahkan," imbuhnya.

Jombang bersholawat ditutup dengan lantunan lagu Indonesia Raya yang dipimpin langsung Kapolres Jombang AKBP Tri Bisno. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Daerah, Pendidikan, Sholawat Hari Santri 2018

Rabu, 06 Desember 2017

Pesantren Kaliopak Ngaji Wayang dan Al-Ibriz

Yogyakarta, Hari Santri 2018 

Berbeda dengan yang lain, Pondok Pesantren Kaliopak mengisi  Ramadhan dengan mengkaji lakon wayang tiap seminggu dua kali. Disamping itu diaji pula tafsir berbahasa Jawa karangan KH Bisri Musthofa, Al-Ibriz, tiap hari.

Pesantren Kaliopak Ngaji Wayang dan Al-Ibriz (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kaliopak Ngaji Wayang dan Al-Ibriz (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kaliopak Ngaji Wayang dan Al-Ibriz

“Wayang adalah bayang-bayang kita sendiri. Dengan mengkaji lakon wayang kita dapat introspeksi dan mengukur diri kita dalam menjalankan perjalanan sebagai hamba Allah. Mengaji wayang juga mengaji kitab kuning. Itu merupakan tafsir sufisme Jawa,” ungkap M Jadul Maula, Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta, Rabu (17/7).

Selain mengaji atau diskusi lakon wayang, di Kaliopak juga mengkaji Tafsir Ibriz. “Al-Ibriz merupakan tafsir dalam bahasa Jawa. Itu merupakan bagian dari kontekstualisasi. Itu merupakan kekayaan khazanah Islam Nusantara,” tambahnya.

Hari Santri 2018

Mengkaji Tafsir Al-Ibriz menurut Jadul Maula, adalah upaya mengakrabkan kembali mahasiswa dengan huruf pegon. Itu merupakan peninggalan ulama Nusantara. Ulama Islam Nusantara mempunyai kapasitas bisa mencapai derajat keagamaan yang diakui. Dengan pegon kita, ulama kita dapat berkarya yang sederajat dengan ilmu di Persia, Timur Tengah dan wilayah lain.

“Dengan mengkaji lakon wayang, kami ingin mengubah status wayang bukan lagi hanya liburan tapi ngaji. Dahulu masyarakat mendatangi pagelaran wayang dengan memakai pakaian Isalam,” tandas M Jadul Maula.

Hari Santri 2018

“Adegan keseluruhan pagelaran wayang dibagi tiga adegan. Adegan pertama, menerangkan manusia mulai lahir. Anak-anak remaja menghadapi masalah, tapi tidak mempunyai arah. Sedangkan adegan yang kedua menceritakan menjelang dewasa, anak sudah bisa memilih apa yang benar dan apa yang salah. Dan adegan yang ketiga adalah berani melawan nafsu sendiri,” imbuhnya.

Menurut M Jadul Maula, wayang adalah sebagai titik tolak proses meditasi seseorang. Selain itu, jalan pertama masuknya Islam ke jawa adalah dengan wayang. Kalau ada orang yang menolak wayang maka sama halnya dengan menolak ibunya.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Sholikhin

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul, Pendidikan Hari Santri 2018

Kamis, 30 November 2017

Hasyim: ICIS II Ingin Ciptakan Keadilan dan Perdamaian Dunia

Jakarta, Hari Santri 2018
Hajatan besar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), International Conference of Islamic Scholars (ICIS) II yang akan digelar di Jakarta pada 20-22 Juni mendatang, bertujuan ingin menciptakan keadilan dan perdamaian dunia.

Demikian ditegaskan Ketua Umum KH Hasyim Muzadi kepada Hari Santri 2018 ditemui di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jum’at (9/6).

Menurut Hasyim, dua hal (keadilan dan perdamaian) tersebut merupakan sebuah keniscayaan yang harus dipenuhi. “Perdamaian itu syaratnya adalah keadilan. Kalau tidak adil, tidak bisa ada perdamaian,” terangnya.

Dukungan PBNU terhadap program nuklir Iran, kata Hasyim, merupakan bagian dari komitmen NU terhadap perwujudan keadilan dan perdamaian. “(program nuklir red) Iran kita sokong. Kita harus bisa bersikap adil, karena nuklirnya itu merupakan hak dari bangsa Iran.,“ jelasnya.

Demikian juga dengan konflik umat Islam di Timur Tengah serta ketegangan antara dunia Timur dan Barat. Persoalan itu, kata Hasyim, juga menjadi perhatian dalam ICIS II nanti.

“Kita juga berupaya meredakan konflik yang terjadi di Timur Tengah, misalkan konflik (kelompok) Hamas dan Fatah di Palestina. Begitu juga ketegangan antara Timur dan Barat yang akhir-akhir ini kembali memanas,“ terang Hasyim.

Namun demikian, imbuh Hasyim, upaya peredaan ketegangan itu tidak berarti pemihakan terhadap salah satu pihak. Konferensi internasional yang digagas oleh PBNU ini berupaya mengambil jalan tengah, yakni jalan moderat.

Ditegaskan Hasyim, cara-cara ekstrim dalam menghadapi sebuah persoalan umat yang marak belakangan ini, justru merugikan Islam sendiri. “Fundamentalisme dan terorisme benar-benar telah merugikan Islam. Dan juga tidak adil kalau fundamentalisme dan terorisme itu diidentikkan dengan Islam, padahal keduanya juga ada di agama atau sekte manapun,“ tegasnya.

Demikian juga sebaliknya. Liberalisme yang juga menjadi fenomena umum di kalangan Islam dewasa ini, justru tidak memperbaiki masalah. “Liberalisme itu malah menggerogoti akidah Islam. Al Qur’an dan Nabi Muhammad dikritik lah, macam-macam,“ ungkapnya.

NU, kata Hasyim, turut memerangi terorisme. Namun demikian, katanya, sikap tersebut bukan berarti membela Amerika Serikat (AS). Garis moderat yang diambil oleh NU, katannya, berusaha menyeimbangkan antara keyakinan dan sikap toleransi.

“Garis moderat NU itu bukannya semua di-iyani (Jawa: dibenarkan, red). Tapi ada keseimbangan antara keyakinan dan sikap toleran. Kalau terlalu mengedepankan keyakinan tapi tidak toleran, jadinya ekstrim. Begitu juga kalau terlalu toleran, jadinya liberal,“ jelas Hasyim.

Melalui ICIS II ini, Hasyim berharap akan tercipta kekuatan-kekuatan Islam moderat di dunia. “ICIS II ini kita berharap kekuatan-kekuatan Islam moderat di dunia bisa bergabung,“ ujarnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tegal, Pendidikan Hari Santri 2018

Hasyim: ICIS II Ingin Ciptakan Keadilan dan Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: ICIS II Ingin Ciptakan Keadilan dan Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: ICIS II Ingin Ciptakan Keadilan dan Perdamaian Dunia

Senin, 27 November 2017

Kembangkan Grup Shalawat untuk Syiar Islam

Pringsewu, Hari Santri 2018. Peringatan hari lahir (Harlah) NU yang dilaksanakan pada Sabtu (16/6) di Gedung NU Kabupaten Pringsewu Lampung mengambil tema “Bumikan Al-Qur’an dan Shalawat Melalui Harlah NU.”

Kembangkan Grup Shalawat untuk Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Grup Shalawat untuk Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Grup Shalawat untuk Syiar Islam

“Kegiatan ini merupakan muara dari serangkaian kegiatan yang diadakan untuk memeriahkan hari lahir NU,” papar Ketua Tanfidziyyah PCNU Pringsewu KH. Mahfudz Ali. “Kegiatan tersebut meliputi Pelatihan metode membaca Al-qur’an, semaan Al-Qur’an 30 Juz bil ghoib dan diakhiri dengan Gema shalawat yang diikuti oleh grup shalawat yang ada di Kabupaten Pringsewu.” tambahnya.

Gema shalawat diselingi dengan Tabligh Akbar yang menghadirkan beberapa tokoh NU lokal pringsewu seperti KH Fuad Abdillah (pengasuh Pondok Pesantren Putri Nurul Huda Pringsewu) dan KH Sujadi Saddad (Mustasyar PCNU Pringsewu) yang juga merupakan Bupati Pringsewu.

Hari Santri 2018

Dalam tausyiahnya, KH Fuad Abdillah menekankan pentingnya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW karena perintah tersebut secara jelas tertulis di dalam Al-Qur’an.

Hari Santri 2018

Dalam kesempatan itu ia meminta kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu untuk lebih memperhatikan dan mengembangkan keberadaan Grup-Grup shalawat yang ada di daerah Kabupaten Pringsewu sebagai sarana syiar Islam untuk para generasi muda yang mana sekarang sudah cenderung lebih suka lagu pop dan barat dari pada lagu-lagu yang bernafaskan Islam.

Merespon harapan ini, KH Sujadi Saddad mengharapkan do’a dari seluruh warga nahdliyyin di kabupaten Pringsewu agar dalam masa kepemimpinannya harapan-harapan dari seluruh warga dapat terealisasikan dengan segera. Dalam tausiyahnya ia menyampaikan sembilan  poin penting yang harus diciptakan di Kabupaten Pringsewu. 9 poin tersebut terangkum dalam Motto Kabupaten Pringsewu yaitu Bersenyum Manis (Bersih, Sehat, Ekonomis, Nyaman, Unggul, Maju, Mandiri, Aman dan Agamis).

Dengan moto yang identik dengan angka NU yaitu 9, diharapkan warga Kabupaten Pringsewu khususnya warga NU, mampu melaksanakan motto tersebut sehingga motto tersebut bukan cuma formalitas belaka namun merupakan sebuah misi yang harus disukseskan bersama.

Kegiatan yang dimulai pada pukul 19.30 dan berakhir pada pukul 23.30 ini dihadiri oleh segenap Pengurus Cabang NU, MWC, dan ranting NU di Kabupaten Pringsewu. Nampak hadir pula Badan otonom NU seperti Muslimat, Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU.

Sekretaris Panitia Pelaksana Harlah Muhammad Faizin menjelaskan, kegiatan harlah tahun ini yang merupakan Harlah ke 89 tidak mengambil patokan kelahiran NU di tahun Masehi namun menggunakan penanggalan tahun Hijriyah. 

Faizin juga mengharapkan kegiatan Peringatan Harlah kali ini yang mengusung konsep Tabligh akbar dan diselingi dengan gema shalawat, dapat menjadi contoh kegiatan yang menarik dan terus dilakukan di masa mendatang karena kegiatan seperti ini dapat membuat suasana kegiatan tidak menjenuhkan.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Daerah, Pendidikan, Sunnah Hari Santri 2018

Sabtu, 25 November 2017

Ketua PBNU: Kalau Orang NU Miskin Berarti Negara Miskin

Kupang,? Hari Santri 2018?

Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), KH Muhammad Salim Al- Jufri, menekankan agar warga Nahdiyin terus mengembangkan sikap kemandirian. Menurutnya, kalau orang NU miskin berarti negara itu miskin. Sebab, prinsip NU ialah mengelola sumber daya yang ada dan terus bekomitmen menjaga Negara Kesatuan Rebublik Indonesia (NKRI).

"Sesuai sensus LSI jumlah warga Nadhiyin se-Indonesia sebanyak 93 juta, dan sampai hari ini tetap menjaga marwah organisasi walaupun berbagai gangguan faham baru yang masuk dari luar dengan berbagai rayuan, berbagai cara tetapi warga Nadhiyin tetap komitmen mengawal NKRI," tegas Korwil Nusa Tenggara Timur ini dalam sambutan pembukaan Muswil ke- IX PWNU Nusa Tenggara Timur (NTT) di Hotel Aston Kupang, Jumat (15/4).

Salim Al-Jufri ingin roh republik Indonesia diisi oleh NU, sebab menurut dia, NU sebagai organisasi besar di Indonesia yang konsisten menjaga nilai budaya, ras, serta menerima siapa saja dan cukup toleran. "NU anti kekerasan, anti membicarakan tentang perbedaan suku, agama dan ras," tegasnya.

Ketua PBNU: Kalau Orang NU Miskin Berarti Negara Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Kalau Orang NU Miskin Berarti Negara Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Kalau Orang NU Miskin Berarti Negara Miskin

Hal ini, menurutnya menjadi kerja berat NU secara nasional, bagaimana menghadapi kelompok-kelompok yang mengusung faham radikalisme dan terorisme.?

Sementara itu, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dalam sambutannya, mengakui NU ? tetap menjaga keutuhan NKRI. Ia mengatakan organisasi yang sehat, memerlukan perubahan dan tetap menjalankan visi sesuai dengan kebutuhan zaman.?

Hari Santri 2018

"NTT butuh suasana toleran, kita butuh damai kita tidak butuh kacau di sini," tuturnya.

"Sebagai mayoritas harus melindungi yang minoritas, sehingga minoritas merasa nyaman, dan itu peran serta tanggung jawab NU," pungkasnya. (Ajhar Jowe/Zunus)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan, Quote, Aswaja Hari Santri 2018

Jumat, 24 November 2017

Habib Noval: Habib Mundzir, Tokoh Luar Biasa!

Sukoharjo, Hari Santri 2018. Ribuan jamaah hadir di ‘Kampung Sholawat’ Mloyo, Ngasinan, Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (21/9) malam. Mereka mengikuti kegiatan pengajian akbar mengenang 7 hari Habib Mundzir al-Musawwa. Dalam kegiatan tersebut jamaah membaca dzikir, tahlil dan shalawatan yang diiringi grup hadrah Gapuro.

Habib Noval: Habib Mundzir, Tokoh Luar Biasa! (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Noval: Habib Mundzir, Tokoh Luar Biasa! (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Noval: Habib Mundzir, Tokoh Luar Biasa!

Usai pembacaan doa, Habib Noval bin Muhammad al-Idrus menyampaikan ceramahnya, diantaranya tentang sosok Habib Mundzir semasa hidupnya. “Beliau merupakan seorang pemuda dan tokoh yang luar biasa,” terang Habib Noval.

Menurutnya di usianya yang masih tergolong muda, Habib Mundzir mampu menjadi panutan jamaahnya, yang tergabung dalam Majelis Rasulullah. “Juga di akhir hidupnya, banyak yang mendoakan beliau. Semoga beliau tergolong waliyullah,” kata Habib asal Solo ini.

Hari Santri 2018

Selain Habib Noval, turut hadir pula sejumlah ulama dan habaib, di antaranya Habib Syarif Mulachela.

Hari Santri 2018

Menurut salah satu panitia, Fisal, dalam kesempatan tersebut juga diadakan pembukaan rutinan Majelis Rosulullah Nababa Nur Musthofa oleh Habib Noval. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan Hari Santri 2018

Minggu, 12 November 2017

Gerakan Hari Bakti Lingkungan Ansor NU Jakarta Utara

Jakarta, Hari Santri 2018. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor NU) Jakarta Utara menggelar gerakan hari bakti penghijauan di lingkungan Masjid se-Jakarta Utara.



Gerakan Hari Bakti Lingkungan Ansor NU Jakarta Utara (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Hari Bakti Lingkungan Ansor NU Jakarta Utara (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Hari Bakti Lingkungan Ansor NU Jakarta Utara

”Program penghijauan di lingkungan masjid di Jakarta Utara, merupakan program yang terus dikembangkan dengan pihak-pihak terkait, sehingga ke depan tidak ada lagi masjid di Jakarta Utara kebanjiran dan kepanasan, karena salah satu tujuan penghijauan tersebut adalah peresapan air,” ujar Ketua PC GP Ansor NU Jakut Abdul Azis, Ahad (27/6).

Abdul Aziz, menyampaikan program penanaman pohon yang mereka sampaikan kepada Walikota tersebut dalam rangka  memeringati Gerakan Hari Bakti Lingkungan.  Penanaman pohon itu akan diawali di Masjid Al-Husna di Tanjung Priuk dalam waktu dekat ini.

Hari Santri 2018

”Pohon yang kami berikan ke masjid, berjumlah enam ratus bibit pohon produktif,” ujarnya

Hari Santri 2018

Begitu juga beberapa pihak sudah menyatakan kesiapan mereka untuk mendukung GP Ansor melaksanakan program tersebut, seperti Sudin Pertamanan menyumbang 100 pot dan 100 pohon mangga.  PT Bogasari menyumbang 300 pohon,  terdiri dari pohon Mangga dan  Jambu. Jakarta International Container Terminal  (JICT) menyumbang 3.600 buku tulis, dan Sudin Pertanian menyumbang 100 Pohon Mangga dan 100 Jambu.

"Jadi setiap pohon yang akan ditanam umumnya adalah pohon  produktif dan pohon pelindung. Kami akan mendukung pemerintah untuk  bersama-sama membangun Jakarta Utara menjadi lebih maju dan berkembang,"  tukas Azis.

Abdul Azis berharap kedepan, bukan hanya pemkot dan JICT yang peduli terhadap masyarakat akan tetapi seluruh steakholder di Jakarta Utara, lebih memperhatikan dan peduli terhadap masyarakat.

Sementara itu,  Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiono mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih aktif untuk berperan dalam menjaga dan melestarikan keindahan lingkungan di wilayah Jakarta Utara.

Walikota juga sangat berapresiasi kepada Ansor Jakarta Utara dalam melakukan penghijauan di lingkungan masjid di Jakarta Utara ”Kami bangga dan apresiasi kepada Geraka Pemuda Ansor Jakarta Utara yang mengadakan kegiatan penghijauan di lingkungan Masjid,” ujarnya

Selain membuka resmi kegiatan tersebut, Bambang Sugiono juga mencanangkan hari bakti lingkungan pemuda Ansor Jakarta Utara di tahun 2010 dengan semangat kepemudaan di Jakut. Ia berharap program semacam ini, ke depan terus berkelanjutan dan berkesinambungan dikalangan masyarakat Jakarta Utara. 

Walikota hadir didampingi oleh para pejabat dilingkungan pemerintah Jakarta Utara seperti Kapolres dan KODIM 0502 Jakarta Utara Letkol H Irman Jaya Tahir. Hadir pula sejumlah tokoh masyarakat dan Pimpinan OKP, Ormas Muhamadiyah dan NU, Muslimat dan PCNU Jakarta Utara.

Sekadar catatan, jumlah Masjid yang  tersebar di enam kecamatan di Jakarta Utara sebanyak 476 bangunan, dan  951 Mushola. Sedangkan  di masing-masing kecamatan antara lain, Kecamatan Cilincing (108),  Penjaringan (60), KOja (84), Kelapa Gading (40),  Tanjung Priok (129), dan Pademangan  (55).  (hud)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ulama, Sholawat, Pendidikan Hari Santri 2018

Sabtu, 11 November 2017

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama

Jakarta, Hari Santri 2018. Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) periode 2012-2012 telah dilantik oleh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sahal Mahfud  di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (24/4) malam. 

ISNU merupakan badan otonom NU termuda yang baru dikukuhkan dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar 2010. Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa mengatakan, embrio ISNU sudah ada semenjak 19 November 1999 namun baru dikukuhkan pada Muktamar kepada 2010 dan pada awal tahun 2012 ISNU menyelenggarakan kongresnya yang pertama.

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama

Dalam sambutannya usai pelantikan itu Ali Masykur mengatakan, para sarjana NU meliputi berbagai bidang seperti kesehatan, ekonomi, politik, hukum, sosial, dan bidang-bidang lain yang lebih spesifik.

Hari Santri 2018

“NU tidak hanya punya sarjana agama. Banyak sarjana di berbagai bidang. Maka ISNU memanggil para sarjana NU untuk pulang, pulang dan pulang ke pangkuan NU,” katanya sembari menambahkan kepengurusan yang dipimpinya merupakan kabinet ‘empat kaki’ yang  merepresentasikan kaum ilmuan, birokrasi, pengusaha dan pekerja sosial di kalangan sarjana NU.

Hari Santri 2018

Menurutnya, kelahiran Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan para ulama didahului dengan tiga kebangkitan yang ditandai dengan berdirinya tiga organisasi, yakni kebangkitan politisi yang tercermin dalam organisasi Nahdlatul Wathan, kebangkitan intelektual dalam Tashwirul Afkar dan kebangkitan ekonomi dalam Nahdlatut Tujjar.

Ali Masykur yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada malam pelantikan itu mengajak para sarjana NU yang bergelut di berbagai bidang untuk kembali merapat ke NU. “Kita bersama-sama membangun NU dan komunitas Nahdliyin, serta bersama-sama membangun bangsa,” katanya.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kyai, Pahlawan, Pendidikan Hari Santri 2018

Kamis, 09 November 2017

LP Maarif Gresik Gelar Lomba Cerita Aswaja

Gresik, Hari Santri 2018. LP Maarif Kabupaten Gresik memiliki inisiatif untuk mengadakan lomba cerita yang bernafaskan aswaja.?

LP Maarif Gresik Gelar Lomba Cerita Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif Gresik Gelar Lomba Cerita Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif Gresik Gelar Lomba Cerita Aswaja

“Hal ini dilatarbelakangi karena banyaknya acara televisi, komik, cerpen dan novel yang hanya mengedepankan hiburan,” kata Jazuli selaku panitia lomba cerita aswaja.

Lomba ini baru diadakan kali pertama oleh LP Maarif Kabupaten Gresik. Adapun peserta yang mengikuti sebanyak 40 orang guru.?

Hari Santri 2018

“Lomba ini baru pertama diadakan, jadi kurang optimal, Nantinya lomba ini akan terus dikembangkan, terutama untuk guru Bahasa Indonesia yang terkadang kurang diperhatikan dibanding guru eksak,” imbuhnya lagi.

Hari Santri 2018

Untuk menyeleksi tulisan cerita, ditunjuk 3 orang dewan juri yang berkompeten, baik dalam bidang sastra maupun ke-Nu-an. Waktu penyeleksian selama 1 bulan. Hasilnya akan dipilih 10 cerita terbaik dan diantaranya 7 orang akan mendapat penghargaan untuk juara I, II, II, harapan I, II & III serta juara favorit.

Pengumuman Juara dilaksanakan di acara pembukaan Pemilihan Pelajar Teladan (PPT) ke-35 di pesantren Hidayatus Salam Lowayu Dukun baru-baru ini. Pada saat pengumuman disaksikan oleh Ketua LP Maarif Pusat Jakarta, Arifin Junaidi, Ketua PCNU Kab. Gresik H Husnul Khuluk, ketua Dispensik Gresik Nadlif, Ketua LP Maarif Gresik H Ismail Syarif, serta Dewan Pakar LP Maarif Kabupaten Gresik H Chuzaini Mustas.

Pemenang Pertama diraih oleh Rofaatul Hidayah dari SMP Maarif Sumurber Panceng dengan karya tulis Semangat Guru Baruku, kedua Santoso dari SMA Hidayatus Salam Lowayu Dukun dengan karya tulis Kampung Hijau yang Abu-abu dan pemenang ketiga Wildah Burul Islami, dari Perguruan Maarif Randegansari Driyorejo dengan judul Hasyim Anak NU Teladan

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Choiruddin


Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Santri, Aswaja, Pendidikan Hari Santri 2018

Tunanetra Ini Sayangkan Orang Normal Tak Bisa Baca Al-Quran

Jakarta, Hari Santri 2018 - Ketua Yayasan Raudlatul Makfufin Tanggerang Selatan Budi Santoso merasa heran terhadap orang-orang yang mempunyai penglihatan tapi tidak bisa membaca Al-Quran.

“Kalau orang bisa melihat sering merasa aneh dengan tunanetra yang bisa membaca Al-Quran, justru kami lebih aneh lagi kalau orang bisa melihat tapi tidak bisa membaca Al-Qur’an,” kata Budi yang juga penyandang tunanetra pada acara Sarasehan Pesantren Inklusi yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU) di Pesantren Al-Tsaqofah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (6/10).

Tunanetra Ini Sayangkan Orang Normal Tak Bisa Baca Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Tunanetra Ini Sayangkan Orang Normal Tak Bisa Baca Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Tunanetra Ini Sayangkan Orang Normal Tak Bisa Baca Al-Quran

Menurutnya, Yayasan Raudlatul Mukafifin didirikan sebagai tempat belajar membaca Al-Qur’an dan ilmu keagamaan baik untuk penyandang tunanetra maupun orang normal.

Hari Santri 2018

Ia berharap, melalui Al-Qur’an orang-orang yang saat hidup di dunia tidak bisa melihat agar saat dibangkitkan di akhirat kelak dalam keadaan bisa melihat.

“Kalau mungkin di dunia kami buta ada pak kiai yang nuntun-nuntun kaya tadi ya pak kiai, ada bapak dan ibu yang menuntun kami. Tapi di akhirat nanti siapa yang akan menuntun kami kalau bukan syafaat Rasulullah SAW dan juga syafaat dari Al-Quran,” jelasnya.

Hari Santri 2018

Pada acara yang bertemakan Sosialisasi UU RI Nomor 8 Tahun 2016 tentang Disabilitas ini dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wasekjen PBNU H Andi Najmi Fuadi, dan Sekretaris NU CARE-LAZISNU Ahyad Alfida.(Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan Hari Santri 2018

Selasa, 07 November 2017

Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri

Salatiga, Hari Santri 2018. Dalam suasana bulan suci Ramadhan. Fakultas Syariah IAIN Salatiga menggelar kegiatan dengan tema Merajut Tradisi Membangun NKRI. Dalam kegiatan suci ini KH Ahmad Muaffiq (Gus Muaffiq) dari Yogyakarta memberikan pemahaman-pemahaman kebangsaan pada segenap mahasiswa IAIN Salatiga dan masyarakat umum.

“Saya itu dulu juga mahasiswa, bahkan saya pernah menjadi ketua senat. Tapi saya tidak mengadakan kegiatan semacam ini.mengapa? karena dulu itu tidak ada polemik seperti sekarang ini. Kalau sekarang banyak sekali yang mencoba untuk menghapuskan Pancasila semua itu karena rasa kurang percaya diri masyarakat Indonesia,” terang Gus Muaffiq diawal mau’idhoh-nya.

Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri

“Dulu itu, Walisongo menyebarkan agama Islam dengan rasa percaya diri. Contohnya nama Allah itu kan pertama dari Arab, kemudian dibawa ke Indonesia dan diganti nama Alloh. Contoh kedua nama syaikhona itu juga dari Arab kemudian di bawa ke Indonesia dengan sebutan kiai. Semua itu tidak dipermasalahkan bahkan sekarang terbukti ketika menyebut nama pangeran pasti tertuju kepada Allah,ketika menyebut nama kiai pasti tertuju pada seseorang yang alim agamanya. Jadi tidak perlu anta, antum, akhi dsb.kita gunakan saja apa yang ada di Indonesia dengan percaya diri.”

KH Ahmad Muaffiq juga menambahkan penjelasan tentang Rasul ulul azmi yang diibaratkan dalam Al-Qur’an. Dalam surat At-tiin ayat pertama, wattiini merupakan lambang dari Nabi Ibrahim, kemudian wazzaitun merupakan lambang dari Nabi Isya, kemudian wathurisinin merupakan lambang dari Nabi Musa. Rasul-rasul ulul azmi dilambangkan dengan nama-nama buah. tapi ayat selanjutnya wa hadzal baladil amiin melambangkan Nabi Muhammad.?

Hari Santri 2018

“Maka orang yang mengikuti Nabi Muhammad haruslah senantiasa mencintai negerinya, jangan sampai kehilangan rasa percaya diri terhadap negerinya”. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Aswaja, Syariah, Pendidikan Hari Santri 2018

Jumat, 03 November 2017

Semarak 5000 Rebana untuk HUT RI Ke-69

Solo, Hari Santri 2018. Sekitar 50 ribu umat muslim berpakaian putih-putih yang datang dari berbagai daerah membuat Alun-alun Lor Keraton Surakarta penuh sesak, Sabtu (9/8) malam. Mereka sengaja datang untuk melantunkan selawat dalam acara Tabligh Akbar dan Tabuh 5.000 Rebana yang digelar untuk menyemarakkan momentum hari ulang tahun Kemerdekaan RI ke-69 yang jatuh pada 17 Agustus nanti.

Pantauan di lokasi, para jamaah ini datang dari wilayah eks-Karesidenan Surakarta dan kota lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, serta DIY sejak sore hari dengan menggunakan berbagai kendaraan.

Semarak 5000 Rebana untuk HUT RI Ke-69 (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak 5000 Rebana untuk HUT RI Ke-69 (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak 5000 Rebana untuk HUT RI Ke-69

Sekitar pukul 19.30 WIB, mereka langsung membuat Alun-alun Lor seolah menjadi lautan manusia dengan pakaian serba putih sembari menggemakan selawat di Kota Solo. Ribuan penabuh rebana dari berbagai kelompok hadrah pun telah disiapkan untuk mengiringi lantunan selawat itu.

Hari Santri 2018

Kirab Merah Putuh

Selain itu, umat muslim pada kesempatan tersebut juga mengikuti acara kirab bendera Merah Putih raksasa. Kirab yang membawa dua bendera kebanggaan bangsa Indonesia tersebut dimulai dari Markas Majlis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhah Pasar Kliwon Solo menuju ke lapangan Alun-alun Utara Keraton Surakarta.

Hari Santri 2018

Ribuan jamaah beserta sekitar 2.000 pasukan Banser ikut mengiringi kirab yang diawali barisan pembawa bendera merah putih dengan panjang sekitar 10 meter yang di belakangnya disusul rombongan becak yang ditumpangi para habib dan ulama.

Dalam ceramahnya, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengatakan, kirab pada momentum bulan kemerdekaan ini sebagai wujud deklarasi dukungan atas kemerdekaan utuh NKRI hingga kapan pun.

“Hari ini kumpul semuanya. Insyaallah, ini awal yang baik. 17 Agustus akan kembali merdeka negeri ini,” kata Habib Novel yang merupakan penggagas acara ini.

Sementara itu, Wakil Walikota Solo, Achmad Purnomo menyatakan kekagumannya dengan antusiasme masyarakat yang rela datang dari luar Solo untuk hadir ke acara tersebut. Menurutnya, hal ini memperkuat eksistensi bahwa Kota Solo yang sudah mendapat julukan Kota Selawat.

“Ini sangat luar biasa. Seingat saya belum pernah saya melihat Tabligh Akbar yang seramai ini. Ini mencerminkan betul kalau Kota Solo sebagai Kota Selawat. Luar biasa!,” kata Purnomo. (Ahmad Rodif Hafidz/Ajie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Habib, Pendidikan Hari Santri 2018

Kamis, 02 November 2017

Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus

Jakarta, Hari Santri 2018

Pada Agustus 2015 beredar di dunia maya foto Romo Aloysius Budi Purnomo tengah memeluk dan mencium tangan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Foto tersebut sempat membuat heboh. Sebagian orang mengapresiasi, sebagian lain berprasangka miring.

Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Romo Katolik Mencium Tangan Gus Mus

Romo Budi Purnomo yang merupakan Ketua Hubungan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang menceritakan, peristiwa itu terjadi saat ia dan Gus Mus sama-sama diundang menjadi narasumber tentang kebangsaan di Auditorium RRI Semarang. Ia mengaku perilakunya tersebut adalah hal yang positif.

“Gus Mus itu sudah seperti simbah saya. Bukan hanya sahabat, beliau juga idola saya waktu saya masih SMA. Karya-karya puisinya, karya-karya sastranya menginspirasi saya bersama karya-karya Romo Mangunwijaya,” katanya dalam acara Mata Najwa yang disiarkan Metro TV, Rabu (14/4) malam.

Hari Santri 2018

Romo Budi Purnomo diminta menceritakan kembali aksi cium tangan itu dan kehebohan yang ditimbulkannya. Menurutnya, tak semestinya hal tersebut dipersepsi negatif karena justru itu merupakan simbol kerukunan dan persahabatan sejati. Dan, mencium tangan Gus Mus pun tidak ia lakukan hanya sekali. Sang romo melakukan hal serupa saat bertemu dengan tokoh NU itu di Rembang tahun 2004.

“Setiap kali berjumpa dengan Gus Mus, sebagai yang lebih muda, saya selalu mencium tangan beliau, tapi beliau selalu tidak kerso (bersedia), ditarik (tanganya). Entah mengapa. Tapi begitulah kebiasaan saya berjumpa dengan yang saya hromati. Saya tidak hanya mencium pipi kanan pipi kiri tapi juga cium tangan beliau,” kisahnya.

Hari Santri 2018

Bagi rohaniawan Katolik ini, ada dua kehebohan saat peristiwa peluk-cium antara romo dan kiai. Yang pertama heboh positif dan yang kedua heboh negatif. Lantas bagaimana bila ada sebagian orang yang mengambil sikap yang kedua?

“Lho, apa masalahnya? Mengapa harus heboh negatif? Lebih baik heboh positif karena itu menjadi berkat banyak orang,” tuturnya.

Dalam acara Mata Najwa bertajuk “Panggung Gus Mus” itu, Romo Budi Purnomo dan Gus Mus berduet dalam musikalisasi puisi berjudul “Sajak Atas Nama”. Malam itu Gus Mus juga membacakan puisi berjudul “Bila Kutitipkan” dan “Puisi Islam”. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Pendidikan, Aswaja Hari Santri 2018

Jumat, 27 Oktober 2017

Perppu Ormas dan Kegaduhan yang Tak Perlu

Oleh Roziqin

Di antara berbagai tema yang diperdebatkan di masyarakat saat ini, yang mengundang diskusi serius dari masyarakat, ulama, LSM, para pakar hingga para pejabat pemerintah, adalah terkait pemberlakuan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 (Perppu Ormas), yang merupakan perubahan dari UU Ormas yang lama, yaitu UU 17 Nomor 17 Tahun 2013. Hingga artikel ini ditulis, setidaknya terdapat enam permohonan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) atas Perppu tersebut. Menurut hemat saya, segala kegaduhan atas pemberlakuan Perppu merupakan hal yang tidak perlu. Presiden memiliki alasan untuk menetapkan Perppu dimaksud atas dasar alasan sebagai berikut.

Perppu Ormas dan Kegaduhan yang Tak Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)
Perppu Ormas dan Kegaduhan yang Tak Perlu (Sumber Gambar : Nu Online)

Perppu Ormas dan Kegaduhan yang Tak Perlu

Pertama, Perppu 2/2017 tak lebih perluasan dari Tap MPR Nomor XXV Tahun 1966 (Tap MPR), KUHP Pasal 107, dan UU Ormas. Berdasarkan Tap MPR, setiap kegiatan di Indonesia untuk menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, dan penggunaan segala macam aparatur serta media bagi penyebaran atau pengembangan faham atau ajaran tersebut, dilarang. Bahkan Tap MPR tersebut dikuatkan dengan Perubahan KUHP Pasal 107. Dahulu, Tap MPR tersebut ingin dicabut oleh Gus Dur saat beliau jadi presiden, namun ditentang sebagian besar kalangan. Bila kita memaknai Komunisme/Marxisme Leninisme sebagai ajaran yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, maka wajar saja bila Pemerintah melakukan tindakan yang tegas terhadap segala tindakan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Termasuk bila hal itu dilakukan ormas, yaitu dengan membubarkannya, dan melarang segala bentuk penyebarannya.

Hari Santri 2018

Penetapan Perppu dapat dianggap sebagai langkah antifipatif dari Pemerintah atas ancaman terhadap NKRI dan kehidupan berbangsa, meski sebenarnya Pemerintah telah kecolongan dengan berkembangnya ormas yang anti-NKRI. Sebagai langkah antisipatif, tentu penetapan Perppu tak harus menunggu negara hancur terlebih dahulu. Toh saat ini, suasana saling benci, saling curiga, juga sudah merebak. Wibawa Pemerintah pun sudah sering dilecehkan oleh sebagian kalangan.

Kedua, penetapan Perppu adalah kewenangan konstitusional Presiden berdasarkan Pasal 22 UUD 1945: Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan Perppu. Pihak yang menuduh bahwa Presiden akan diktator dengan mengeluarkan Perppu, sama saja menafikan kewenangan konstitusional Presiden. Atas penetapan Perppu tersebut, toh Presiden masih bisa diawasi oleh DPR dan MK. Keputusan Pemerintah juga bisa digugat melalui PTUN. Artinya, mekanisme check and balances masih berlaku, dan syarat negara hukum juga masih terpenuhi , yang menghilangkan kemungkinan Presiden menjadi diktator.

Hari Santri 2018

Menanyakan dasar penetapan Perppu dengan alasan tidak ada hal yang membahayakan NKRI, menunjukkan kurangnya pemahaman mengenai praktik ketatanegaraan. Selama ini penetapan Perppu juga tidak menunjukkan adanya keadaan bahaya. Bahkan sekedar penangguhan berlakunya UU tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pun bisa dilakukan dengan Perppu.? Ketentuan mengenai pilkada langsung maupun Pelaksana Tugas KPK juga bisa melalui Perppu, dan masih banyak contoh lainnya. Hal ini? menunjukkan adanya konvensi ketatanegaraan, bahwa kegentingan yang memaksa dapat dimaknai sebagai keadaan mendesak yang perlu diatur dengan peraturan setingkat undang-undang, bukan keadaan bahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 UUD 1945. Benar bahwa penetapan Perppu menjadi atas berdasar subyektifitas Presiden, namun hal itu konstitusional. Subyektifitas Presiden akan diuji oleh DPR sehingga sah secara hukum.

Ketiga, masih ada upaya membela diri dari ormas yang akan dibubarkan. Ormas yang melanggar Perppu tidak serta merta dibubarkan , tetapi diberi peringatan tertulis terlebih dahulu, dan bila masih melakukan tindakan yang sama, bisa dilakukan penghentian kegiatan. Pencabutan surat keterangan terdaftar atau pencabutan status badan hukum merupakan langkah terakhir setelah mereka diberi kesempatan membela diri. Pembelaan diri juga dapat dilakukan saat proses pidana melalui lembaga peradilan.

Mudahnya membuat ormas, menjadikan jumlah ormas berkembang pesat pascareformasi. Terlebih, dimungkinkannya masyarakat untuk mendirikan ormas tidak berbadan hukum. Per Akhir 2016 saja menurut Mendagri terdapat 254.633 ormas. Itu belum memperhitungkan ormas yang tidak terdaftar. Menurut Romli Atmasasmita, jika dengan UU Ormas yang lama, dibutuhkan waktu kurang lebih 458 hari untuk membubarkan ormas. Mengharuskan pembubaran ormas melalui pengadilan, akan menyita waktu Pemerintah sehingga melupakan tugas lainnya.

Keempat, norma-norma yang diatur dalam Perppu, pada dasarnya sama dengan norma UU Ormas, kecuali terkait pembubaran ormas. Bahkan UU Ormas yang lama tersebut setidaknya pernah dilakukan dua kali pengujian di MK, namun hanya dikabulkan sebagian oleh MK untuk hal-hal yang bukan substantif. Dengan mendasarkan pada Pasal 28J UUD 1945, MK dalam Putusan Nomor 82/PUU-XI/2013, atas Pengujian UUU Ormas yang lama, menyatakan dengan tegas bahwa “kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat adalah HAM yang dijamin konstitusi, namun kebebasan tersebut dapat dibatasi oleh negara melalui ketentuan Undang-Undang dalam batas-batas tertentu yang diperkenankan oleh konstitusi, yaitu dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Artinya, kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat bukanlah kebebasan tanpa batas.

Ormas, bisa saja dibatasi untuk tujuan yang lebih luas, termasuk di dalamnya menjaga keutuhan NKRI yang bentuknya sudah final dalam UUD 1945.

Semoga segala kegaduhan ini segera diakhiri!

Penulis adalah alumni Lemhannas Inter University Network; Dosen pada Prodi Hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta.



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Pendidikan Hari Santri 2018

Senin, 16 Oktober 2017

Gelar Halaqah Islam Nusantara, STAINU Jakarta Hadirkan Ulama Papua

Jakarta, Hari Santri 2018. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar halaqah Islam Nusantara dengan menghadirkan ulama Papua KH. Enderson Miyoge dan pakar Islam nusantara Drs. KH. Agus Sunyoto di kampus STAINU Jakarta, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat.

Dalam perkenalannya, Kiai Enderson mengungkapkan ketertarikannya dengan konsep Islam nusantara yang sangat menerima keberagaman sejak awal penyebarannya. Dia menerangkan, bahwa strategi kebudayaan dalam Islam nusantara cocok diterapkan dalam menyebarkan Islam damai di tanah Papua.

Gelar Halaqah Islam Nusantara, STAINU Jakarta Hadirkan Ulama Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Halaqah Islam Nusantara, STAINU Jakarta Hadirkan Ulama Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Halaqah Islam Nusantara, STAINU Jakarta Hadirkan Ulama Papua

“Selama ini, dakwah di tanah Papua kurang menyentuh oleh kelompok-kelompok yang tidak mengerti tradisi lokal,” ujar Ketua MUI Kabupaten Sorong ini, Sabtu, (24/1) di Jakarta.

Hari Santri 2018

Enderson menjelaskan, Islam ala NU dengan konsep Islam nusantaranya dapat diterima dimana saja sehingga nilai-nilai kedamaian Islam menyebar luas di Papua. Menurut aktivis NU asal Wamena ini, NU sangat mudah sekali diterima di Papua, karena selama ini NU-lah yang merangkul semua golongan dengan berbagai keberagamannya. 

Hari Santri 2018

“Kuncinya, kita mau bergerak untuk mendakwahkan NU tidak,” tegas pria yang juga fasih berbahasa Jawa ini.

Menurut keyakinannya, ke depan, Islam damai ala NU akan berkembang pesat di Papua. Oleh karena itu, lanjut Enderson, visi NU harus dijalankan di seluruh nusantara secara keseluruhan. “Rapatkan barisan NU untuk menguatkan keislamannya,” tegasnya.

Sementara itu, KH. Agus Sunyoto menjelaskan, leluhur Indonesia berasal dari ras melanesia. Ras ini, lanjut Agus, cirinya berkulit hitam, rambut keriting, hidung besar, mata besar, dan gigi besar. Lebih lanjut Agus menerangkan, setelah ras melanesia, datanglah ras austronesia yang menyebabkan persilangan antara kedua ras tersebut sehingga menciptakan ras austromelanesia. “Yakni orang nusantara berkulit sawo matang seperti sekarang ini,” ungkapnya.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Brawijaya Malang ini juga memaparkan, orang-orang Jawa punya keyakinan bahwa leluhurnya adalah orang kulit hitam. “Oleh karena itu, tokoh-tokoh punakawan, semar dan kawan-kawan dalam pewayangan digambarkan dengan kulitnya yang hitam,” ujarnya. 

Lebih lanjut penulis buku Atlas Wali Songo ini menuturkan, bahwa strategi para wali di nusantara dalam menyebarkan agama Islam ialah dengan menggunakan agama lokal. “Yakni agama Kapitayan yang menjadi keyakinan orang-orang nusantara zaman dulu,” terangnya.

Hadir dalam acara ini, Ketua BP3NU, Dr. KH. Mujib Qulyubi, MH., yang mengaku telah menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga di Papua untuk merekrut putera-putera Papua belajar di STAINU Jakarta. Hadir pula Pembantu Ketua I STAINU Jakarta, Imam Bukhori, M.Pd., Pengurus Pusat Pergunu, H. Akhsan Ustadhi, MH., Ketua Pergunu DKI Jakarta, Aris Adi Laksono, M.M.Pd., dan 50-an mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta. (Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan, Meme Islam, Sejarah Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock