Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan?

Lombok Tengah, Hari Santri 2018. Di perbatasan wilayah dua negara, akan didapati aneka cerita inspiratif tentang perjuangan dan dedikasi warga Nahdliyin. Seperti dikisahkan Katib Syuriah PCNU Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Irham Anwar kepada Hari Santri 2018 di sela-sela perhelatan Pra-Muktamar di Lombok, Kamis-Jumat (9-10/4).

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan?

Irham mengatakan, Malaka merupakan pemekaran dari Kabupaten Belu yang masuk wilayah Provinsi NTT. Untuk menuju kabupaten yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste ini bisa ditempuh perjalanan darat selama empat jam perjalanan dari Kota Atambua.

“Kami kalau mau keluar negeri dekat sekali. Sebab, dari tempat kami ke Timor Leste cuma dua jam perjalanan mobil. Kalau ke Australia memang harus langgar (menyeberang-red) laut,” katanya.

Hari Santri 2018

Menurut dia, persoalan penduduk asli di sana yang banyak muallaf itu terkait kesejahteraan. Jika dilihat, masalah mereka hanya soal ekonomi. Meski demikian, di tiap-tiap paguyuban atau kelompok ada kegiatan tahlilan, pengajian, dan lain sebagainya. “Itulah kenapa saya semangat mendirikan NU di sana,” tegasnya.

Hari Santri 2018

Melihat geliat warga Nahdliyin di Malaka, Irham bersama beberapa temannya kemudian memproses pendirian kepengurusan cabang. “Prosesnya masih terus berlangsung, ini baru kami bentuk,” ujarnya.

Beberapa pekan setelah berdiri kabupaten baru, Irham langsung bergerak cepat ke desa-desa setempat. “Kami merasa sangat dihargai karena baru membentuk Tim 9 setelah itu langsung dapat SK. Meski SK sudah turun, tapi kami belum dilantik. Sepulang dari sini nanti kami akan bekerja keras untuk mengadakan pelantikan,” tuturnya.

Irham mengaku datang ke pra-muktamar ini melalui proses cukup panjang. Bersama Ketua Tanfidziyah PCNU Malaka Zaenal Muttaqin, ia merasa bahagia bisa turut serta bertemu para alim ulama. Pria asal Kabupaten Bima, NTB ini mengaku telah mengenal NU sejak lahir. Di tempat kelahirannya, Pulau Sumbawa, memang banyak warga NU.

Ditanya soal tantangan kaum muslimin khususnya warga Nahdliyin di daerahnya, Irham mengaku tidak ada masalah berarti soal hubungan antaragama.

“Alhamdulillah baik-baik saja. Meski di sana mayoritas Kristen, tapi mereka menerima kami. Tak ada persoalan mayoritas dan minoritas. Justru yang minor dilindungi yang mayor. Saat Idul Fitri kami dikawal saat pawai takbir keliling. Nah, ini bagusnya di sana,” ungkapnya.

Di Malaka, lanjut Irham, terdapat ormas Islam lainnya. Namun, NU yang paling menonjol. “Setelah kami blusukan, ternyata justru NU yang tampak. Ini terlihat dari kegiatan mereka. Selain tahlilan, kegiatan seperti Muslimat juga ada. Mungkin belum dapat SK dari pusat, tapi sudah dibentuk. Karena ibu-ibu itu punya kegiatan paten seperti arisan, pengajian mingguan, dan bulanan,” ujarnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah Hari Santri 2018

Senin, 19 Februari 2018

Delapan Rakaat Sunnah di Bulan Syawal

Bentangan ibadah sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya tidaklah terbatas. Mulai dari menghindarkan duri di jalanan hingga dzikir kepada Allah swt. semuanya tergolong dalam ibadah. Begitu luasnya ruang ibadah hingga seseorang tidak mungkin mengetahui batas-batas antara ibadah dan yang bukan ibadah kecuali mereka yang sombong. Karena segala seseuatu yang dilakukan seorang hamba dengan niat mengabdi kepada Allah swt dapat digolongkan sebagai ibadah.

Luasnya ruang ibadah inilah yang membedakan besaran ibadah seorang hamba dengan hamba lainnya.? Mereka yang memiliki banyak pengetahuan agama, memiliki peluang besar untuk memperbanyak ibadah, begitu juga sebaliknya. Mereka yang minim pengetahuan agamanya peluang ibadahnyapun tidak maksimal. Akan tetapi tidak semua peluang bisa berubah menjadi realita ibadah. Tergantung ada kemauan seorang hamba.

Salah satu ibadah yang termasuk jarang diketahui dan juga jarang dilakukan kecuali mereka yang mengerti adalah shalat sunnah di bulan Syawal. Sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berdasarkan pada hadits Rasulullah saw. dalam kiitabnya Al-Ghunyah juz dua:

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?, ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?, ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? : ((? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ...) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?)) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Delapan Rakaat Sunnah di Bulan Syawal (Sumber Gambar : Nu Online)
Delapan Rakaat Sunnah di Bulan Syawal (Sumber Gambar : Nu Online)

Delapan Rakaat Sunnah di Bulan Syawal

Diceritakan dari Anas Radhiallahu Anhu, dia berkata bahwasannya Rasulullah saw pernah bersabda ((barang siapa shalat di bulan syawal sebanyak delapan raka’at baik dilakukan malam hari maupun siang hari yang mana di setiap rakaatnya membaca al-Fatihah dan Qul Huwallahu ahad –al-khlas- sebanyak lima belas kali. Setelah delapan rakaat tersebut kemudian dilanjut dengan membaca tasbih (subhanallah wa bi hamdihi, subhanallahil adhim) tujuh puluh kali dan shalawat (allahumma shallli ‘ala sayyidina Muhammad) tujuh puluh kali. Maka demi dzat yang telah mengutusku, Allah akan mengalirkan hikmah (kebijaksanaan/kebenaran) dalam hati yang diungkapkan melalui lisan seorang hamba yang telah melaksanakan shalat ini , dan Allah akan tunjukkan kepada dia penyakit-penyakit dunia serta obatnya. Dan demi dzat yang telah mengutusku, barang siapa yang mendirikan shalat ini sesuai tata caranya, maka akan diampuni dosa-dosanya sebelum ia mengangkat kepala setelah sujudnya, dan andaikan dia mati, maka dia mati dalam keadaan syahid yang dosanya telah diampuni. Dan tiada seorang hamba yang melaksanakan shalat ini dalam keadaan bepergian, kecuali Allah mudahkan baginya perjalanannya hingga tempat yang dituju. Andaikan ia memiliki hutang, maka hutangnya akan terbayar, dan seandainya ia memiliki kebutuhan, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Dan demi dzat yang telah mengutusku, tiada seorang hamba yang menjalankan shalat ini kecuali Allah berikan untuknya di setiap huruf dan ayatnya sebuah makhrafah di surga nantinya. Kemudian dipertanyakan “apakah mkahrafah itu Ya Rasul? Rasulullah saw menjawab makhrafah adalah dua ekor domba yang mempermudah penunggangnya mengelilingi (kebon penuh) pepohonan yang tidak pernah dipotong selama seratus tahun)).

Yang dimaksud dengan shalat tersebut adalah delapan rakaat shalat sunnah mutlak yang dilakukan selama bulan Syawwal. Dengan ketentuan empat kali salam yang disetiap rakaatnya dibaca al-fatihah dan lima belas kali surat al-ikhlas. Kemudian dilanjut dengan 70 kali bacaan tasbih dan 70 kali bacaan shalawat. Adapu fadhilahnya dapat telah diterangkan dalam hadits tersebut. (red. Ulil H)

?

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Nasional, Syariah, Kajian Hari Santri 2018

Selasa, 13 Februari 2018

Alumni IPNU Hibahkan Puluhan Buku untuk Pelajar NU NTB

Mataram, Hari Santri 2018. Mantan Ketua IPNU NTB Lalu Aksar Ansori memberikan puluhan buku kepada kepengurusan PW IPNU NTB Masa Khidmah 2015-2018. Buku ini diterima langsung oleh Ketua PW IPNU NTB Syamsul Hadi dan pengurus lainnya di kediaman Aksar di Lingkungan Jempong Barat, Kota Mataram, Jumat (15/01) malam.

Puluhan buku ini terdiri atas pelbagai judul, mulai dari seputar IPNU, Ansor, buku pemikir kaum muda NU, termasuk seputar pemikiran-pemikiran Gus Dur. "Silakan dibawa dan ditaru di ruang tamu sekretariatnya agar kelihatan jadi kantor IPNU," kata Aksar yang kini menduduki posisi Ketua KPU NTB.

Alumni IPNU Hibahkan Puluhan Buku untuk Pelajar NU NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni IPNU Hibahkan Puluhan Buku untuk Pelajar NU NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni IPNU Hibahkan Puluhan Buku untuk Pelajar NU NTB

Menurut mantan aktivis PMII Kota Mataram ini, kadersisasi NU sudah lengkap mulai dari pelajar dan santri diurus oleh IPNU-IPPNU. Para guru dan pemuda diurus oleh Ansor dan Fatayat. Sedangkan para pengasuh pesantren bisa masuk NU sebagai wadah orang tua.

"Negara bisa merdeka karena ada peran strategis NU. Bukti sejarahnya itu adanya Resolusi Jihad," katanya.

Perang melawan penjajah, menurutnya, tidak akan terjadi tanpa kelahiran Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh pendiri NU KH Hasyim Asyari. Sementara Resolusi Jihad merupakan fakta sejarah yang kini diperkuat dengan adanya Hari Santri.

Hari Santri 2018

"NU tidak akan besar kalau tidak ada pesantren, dan pesantren tidak akan kuat kalau tidak ada santrinya," katanya.

Hari Santri 2018

Karena itu, IPNU harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan pesantren. Ia juga berpesan agar para pengurus ikhlas. "Ikhlas saja ber-IPNU, insya Allah kalau ikhlas akan dapat berkahnya," katanya. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah Hari Santri 2018

Minggu, 11 Februari 2018

Hilal Terlihat di Gresik

Jakarta, Hari Santri 2018. Alhamdulillah, hilal atau sebagai pertanda masuknya awal bulan Syawal terlihat di bukit Condro Dipo Desa Kembangan Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik pukul 17.37 WIB. Dengan demikian Idul Fitri akan bersamaan.

Hilal Terlihat di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Terlihat di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Terlihat di Gresik

Dua orang saksi yang melihat hilal adalah H Inwahuddin dan Ahmad Azar, tim dari LFNU.

“Meskipun sudah ada yang melihat bulan, keputusan resminya akan menunggu sidang isbat di Kementerian Agama,” kata Nahari Muslih, sekretaris Lajnah Falakiyah NU, Rabu (8/8).

Hari Santri 2018

Dari sejumlah laporan yang masuk ke tim Lajnah Falakiyah NU di gedung PBNU, sejumlah lokasi seperti Papua, Makassar, Bali, Masjid Agung Jawa Tengah, Blitar dan lainnya semuanya mendung tebal. Pesimisme menghantui karena adanya kekhawatiran lebaran jatuh pada hari Jum’at. Terlihatnya di Gresik menjadi kabar gembira bagi semuanya.

Hari Santri 2018

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 PonPes, RMI NU, Syariah Hari Santri 2018

Selasa, 30 Januari 2018

LAZISNU Bojonegoro Bedah Tiga Rumah Tak Layak Huni

Bojonegoro, Hari Santri 2018 



Lembaga Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Bojonegoro melakukan aksi nyata dengan bedah tiga rumah milik masyarakat yang layak menerima.

Januari 2018 LAZISNU Bojonegoro membedah rumah milik Komawati di Desa Nguken Kecamatan Padangan. Ia adalah seorang mualaf. Rumahnya dihuni empat anak yatim. 

LAZISNU Bojonegoro Bedah Tiga Rumah Tak Layak Huni (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Bojonegoro Bedah Tiga Rumah Tak Layak Huni (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Bojonegoro Bedah Tiga Rumah Tak Layak Huni

Kedua, rumah milik Rohmat, seorang tunanetra warga Desa Balenrejo RT.07/RW.01 Kecamatan Balen, yang memiliki dua anak usia 7 tahun dan 2 tahun, sedangkan istrinya bekerja sebagai buruh.

Ketiga rumah milik Yatminah (65) di Desa Pandantoyo RT.03/RW.01 Kecamatan Temayang. Ia adalah seorang janda dengan satu anak yang telah 14 tahun tidak pulang dari perantauan. 

Hari Santri 2018

"LAZISNU Bojonegoro ingin membantu membenahi ekonomi dengan membangun rumah warga masyarakat yang tidak layak huni," kata sekretaris LAZISNU bojonegoro, Shodikin.

Serta, sambungnya, ingin menjadikan rumah yang memadai dapat ditempati dengan layak untuk keluarga sehingga dengan rumah lanyak huni  tersebut dan sedikit modal usaha. 

"Diharapkan kehidupan mereka bisa lebih baik," terangnya.

Menurut pria akrab disapa Pak Dikin, NU menilai keluarga adalah kompleks terkecil dalam masyarakat, sedangkan rumah merupakan suatu sarana untuk bertempat tinggal. Namun di Bojonegoro masih banyak masyarakat yang tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Hari Santri 2018

"Masyarakat ini tergolong keluaga fakir miskin dan tidak mempunyai penghasilan tetap yang dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya," jelasnya.

Ditambahkan, pembiayaan tersebut dari donatur dan dermawan terutama warga Nahdliyin seperti ketua PCNU Bojonegoro, Dr. Cholid Ubed. 

"Program ini akan terus dilaksanakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan," imbuhnya.

Sementara itu ketua PCNU Bojonegoro, Dr. Cholid Ubed menyambut positif program yang dilakukan lembaga. Pasalnya ini wujud kepedulian NU terkait kondisi sosial masyarakat di Kabupaten Bojonegoro. 

"NU hadir membantu mereka yang membutuhkan. Memberikan manfaat pada masyarakat," tuturnya singkat.

Para penerima bedah rumah dari LAZISNU Bojonegoro sangat bahagia karena harapan bisa hidup di rumah layak huni akan tercapai. 

"Semoga ini dapat dimanfaatkan dan terima kasih atas bantuannya," terang salah seorang penerima bedah rumah dari LAZISNU Bojonegoro. (M. Yazid/Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pahlawan, Syariah, Kiai Hari Santri 2018

Sabtu, 20 Januari 2018

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah

Pribadi Rasulullah SAW itu sederhana. Beliau dan para sahabatnya selalu hidup dalam keterbatasan, tapi mereka tetap teguh dalam barisan tauhid walaupun dalam keadaan sangat lapar.

    

Keserderhanaan pribadi Rasulullah SAW dan para sahabat dikisahkan oleh Abu Hurairah,”Demi Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, (terkadang) aku tidur di atas tanah dengan perut lapar, dan (terkadang) aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar.”

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah

Tidak saja soal makanan, Rasulullah dalam hal tidur, beralaskan tikar dan rumahnya sangat sederhana. Kalau ada pakaian yang sobek atau koyak, beliau sendiri yang menambalnya, tidak menyuruh istrinya. Beliau juga memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga maupun dijual.

Hari Santri 2018

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk dimakan, sambil tersenyum Baginda menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu istrinya di dapur. Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan, “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.”

Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai shalat.

Hari Santri 2018

Pernah Baginda pulang pada waktu pagi, dan tentulah amat lapar saat itu. Namun dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada, karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,”Belum ada sarapan, ya Humaira? (Humaira adalah panggilan mesra untuk sayidatuna ‘Aisyah yang berarti “Wahai yang kemerah-merahan”).

Aisyah menjawab dengan agak serba salah,”Belum ada apa-apa, wahai Rasulullah.”

Rasulullah lantas berkata,”Kalau begitu, aku puasa saja hari ini.” Tak sedikitpun tergambar rasa akesal di wajahnya.

Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan kesederhanaan Rasulullah SAW tidak pernah memenuhi perutnya. Ketika bersama keluarganya, beliau tidak pernah minta makan kepada istri-istrinya. Jika mereka menghidangkan makanan , beliau pun makan. Beliau memakan apa yang dihidangkan mereka, dan meminum apa yang dihidangkan mereka.”

Walau Nabi Muhammad SAW penuh kesederhanaan, bahkan terkadang tak jarang makan, beliau tetap tegar menjalankan risalah kenabian yang melekat pada dirinya. Pernah suatu ketika, saat beliau menjadi imam shalat, para sahabat melihat gerakan Baginda Nabi antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutuk, seolah-olah sendi-sendi pada tubuh manusia yang paling mulia itu bergeser.

Usai shalat, Sayidina Umar bin Khatab yang tidak tahan melihat keadaan Nabi, langsung bertanya,”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah, Ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar,” jawab beliau dengan wajah yang senantiasa tersenyum.

“Ya Rasulullah, mengapa setiap kali engkau menggerakan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh engkau? Kami yakin, engkau sedang sakit,” umar mendesak, cemas.

Akhirnya Rasulullah SAW mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut Baginda yang kempis, kelihatan dililit sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Nabi bergerak.

“Ya Rasulullah, adakah bila engkau mengatakan lapar dan tidak punya makanan kami tidak akan mendapatkannya buat engkau?”

Lalu Baginda Nabi menjawab dengan lembut, “Tidak, para sahabatku. Aku tahu, apapun akan engkau korbankan demi rasulmu. Namun apakah akan aku jawab di hadapan Allah nanti bahwa aku, sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih lebih lagi tiada yang kelaparan di akhirat kelak.”

Mengenai makan dan minum, Rasulullah SAW adalah orang tidak kecanduan terhadapnya. Nabi menganjurkan agar mengurangi keperluan makan minum dan tidur.    

Al Miqdam ibn Ma’dikarib berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda,”Anak Adam tidak memenuhi suatu bejana yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa potong makanan untuk menguatkan punggungnya. Jika memerlukan lebih banyak lagi, sepertiganya untuk minum dan sisanya untuk bernafas. Sebab akibat dari banyak makan dan minum adalah banyak tidur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban). (Aji Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Aswaja, Ubudiyah, Syariah Hari Santri 2018

Sabtu, 13 Januari 2018

Pesantren Sirojut Tholibin Khatamkan Ayyuhal Walad Karya Imam Al-Ghazali

Grobogan, Hari Santri 2018 - Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo, Grobogan mengkhatamkan kajian Kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali, Jumat (24/2) malam. Khataman kitab yang selama ini diasuh oleh KH Muhammad Shofi Al-Mubarak di Masjid Al-Muhajirin diikuti para santri dengan khidmat.

Dalam kajian akhir itu Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Kiai Muhammad Shofi Al-Mubarak menyatakan optimis pada santri. "Santri adalah calon orang yang paling sukses dalam bermasyarakat," katanya.

Pesantren Sirojut Tholibin Khatamkan Ayyuhal Walad Karya Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Sirojut Tholibin Khatamkan Ayyuhal Walad Karya Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Sirojut Tholibin Khatamkan Ayyuhal Walad Karya Imam Al-Ghazali

Pendapat itu didasarkan pada pengamatannya terhadap kehidupan pesantren. "Pesantren adalah miniatur masyarakat." Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menerima peserta didik dari berbagai daerah menjadi senada dengan kehidupan bermasyarakat yang sarat akan perbedaan.

Semua kegiatan di pesantren dilaksanakan secara bersama-sama, berdampingan dengan orang banyak, dan tentu memiliki latar belakang yang berbeda-beda pula. Dengan kehidupan masyarakat nantinya, kehidupan bertetangga, berdampingan dengan orang lain yang berbeda jalan pikiran akan menjadi sebuah keniscayaan dalam sebuah kehidupan bermasyarakat.

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Karena itu, para santri sejak dini telah terbiasa akan perbedaan, berdampingan dengan orang lain, dan berkumpul dengan orang yang berbeda pendapat. Yang mana, itu adalah pokok dari keniscayaan sebuah masyarakat. Bukan tidak mungkin, jika santri nantinya sukses dalam bermasyarakat. Karena pesantren telah mendidik dan melatihnya sejak awal.

Ia berpesan kepada para santri untuk selalu berbuat baik dengan berusaha tidak merugikan orang lain dan justru menyenangkan hati sesama. "Karena lebih utama-utamanya amal adalah menyenangkan orang lain," tuturnya.

Khataman pengajian rutin malam Sabtu tersebut diakhiri dengan doa dan pembacaan Shalawat Muhammadiyah bersama-sama. (Ulin Nuha Karim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock