Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan?

Lombok Tengah, Hari Santri 2018. Di perbatasan wilayah dua negara, akan didapati aneka cerita inspiratif tentang perjuangan dan dedikasi warga Nahdliyin. Seperti dikisahkan Katib Syuriah PCNU Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Irham Anwar kepada Hari Santri 2018 di sela-sela perhelatan Pra-Muktamar di Lombok, Kamis-Jumat (9-10/4).

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan?

Irham mengatakan, Malaka merupakan pemekaran dari Kabupaten Belu yang masuk wilayah Provinsi NTT. Untuk menuju kabupaten yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste ini bisa ditempuh perjalanan darat selama empat jam perjalanan dari Kota Atambua.

“Kami kalau mau keluar negeri dekat sekali. Sebab, dari tempat kami ke Timor Leste cuma dua jam perjalanan mobil. Kalau ke Australia memang harus langgar (menyeberang-red) laut,” katanya.

Hari Santri 2018

Menurut dia, persoalan penduduk asli di sana yang banyak muallaf itu terkait kesejahteraan. Jika dilihat, masalah mereka hanya soal ekonomi. Meski demikian, di tiap-tiap paguyuban atau kelompok ada kegiatan tahlilan, pengajian, dan lain sebagainya. “Itulah kenapa saya semangat mendirikan NU di sana,” tegasnya.

Hari Santri 2018

Melihat geliat warga Nahdliyin di Malaka, Irham bersama beberapa temannya kemudian memproses pendirian kepengurusan cabang. “Prosesnya masih terus berlangsung, ini baru kami bentuk,” ujarnya.

Beberapa pekan setelah berdiri kabupaten baru, Irham langsung bergerak cepat ke desa-desa setempat. “Kami merasa sangat dihargai karena baru membentuk Tim 9 setelah itu langsung dapat SK. Meski SK sudah turun, tapi kami belum dilantik. Sepulang dari sini nanti kami akan bekerja keras untuk mengadakan pelantikan,” tuturnya.

Irham mengaku datang ke pra-muktamar ini melalui proses cukup panjang. Bersama Ketua Tanfidziyah PCNU Malaka Zaenal Muttaqin, ia merasa bahagia bisa turut serta bertemu para alim ulama. Pria asal Kabupaten Bima, NTB ini mengaku telah mengenal NU sejak lahir. Di tempat kelahirannya, Pulau Sumbawa, memang banyak warga NU.

Ditanya soal tantangan kaum muslimin khususnya warga Nahdliyin di daerahnya, Irham mengaku tidak ada masalah berarti soal hubungan antaragama.

“Alhamdulillah baik-baik saja. Meski di sana mayoritas Kristen, tapi mereka menerima kami. Tak ada persoalan mayoritas dan minoritas. Justru yang minor dilindungi yang mayor. Saat Idul Fitri kami dikawal saat pawai takbir keliling. Nah, ini bagusnya di sana,” ungkapnya.

Di Malaka, lanjut Irham, terdapat ormas Islam lainnya. Namun, NU yang paling menonjol. “Setelah kami blusukan, ternyata justru NU yang tampak. Ini terlihat dari kegiatan mereka. Selain tahlilan, kegiatan seperti Muslimat juga ada. Mungkin belum dapat SK dari pusat, tapi sudah dibentuk. Karena ibu-ibu itu punya kegiatan paten seperti arisan, pengajian mingguan, dan bulanan,” ujarnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah Hari Santri 2018

Senin, 19 Februari 2018

Delapan Rakaat Sunnah di Bulan Syawal

Bentangan ibadah sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya tidaklah terbatas. Mulai dari menghindarkan duri di jalanan hingga dzikir kepada Allah swt. semuanya tergolong dalam ibadah. Begitu luasnya ruang ibadah hingga seseorang tidak mungkin mengetahui batas-batas antara ibadah dan yang bukan ibadah kecuali mereka yang sombong. Karena segala seseuatu yang dilakukan seorang hamba dengan niat mengabdi kepada Allah swt dapat digolongkan sebagai ibadah.

Luasnya ruang ibadah inilah yang membedakan besaran ibadah seorang hamba dengan hamba lainnya.? Mereka yang memiliki banyak pengetahuan agama, memiliki peluang besar untuk memperbanyak ibadah, begitu juga sebaliknya. Mereka yang minim pengetahuan agamanya peluang ibadahnyapun tidak maksimal. Akan tetapi tidak semua peluang bisa berubah menjadi realita ibadah. Tergantung ada kemauan seorang hamba.

Salah satu ibadah yang termasuk jarang diketahui dan juga jarang dilakukan kecuali mereka yang mengerti adalah shalat sunnah di bulan Syawal. Sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berdasarkan pada hadits Rasulullah saw. dalam kiitabnya Al-Ghunyah juz dua:

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?, ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?, ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? : ((? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ...) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?)) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Delapan Rakaat Sunnah di Bulan Syawal (Sumber Gambar : Nu Online)
Delapan Rakaat Sunnah di Bulan Syawal (Sumber Gambar : Nu Online)

Delapan Rakaat Sunnah di Bulan Syawal

Diceritakan dari Anas Radhiallahu Anhu, dia berkata bahwasannya Rasulullah saw pernah bersabda ((barang siapa shalat di bulan syawal sebanyak delapan raka’at baik dilakukan malam hari maupun siang hari yang mana di setiap rakaatnya membaca al-Fatihah dan Qul Huwallahu ahad –al-khlas- sebanyak lima belas kali. Setelah delapan rakaat tersebut kemudian dilanjut dengan membaca tasbih (subhanallah wa bi hamdihi, subhanallahil adhim) tujuh puluh kali dan shalawat (allahumma shallli ‘ala sayyidina Muhammad) tujuh puluh kali. Maka demi dzat yang telah mengutusku, Allah akan mengalirkan hikmah (kebijaksanaan/kebenaran) dalam hati yang diungkapkan melalui lisan seorang hamba yang telah melaksanakan shalat ini , dan Allah akan tunjukkan kepada dia penyakit-penyakit dunia serta obatnya. Dan demi dzat yang telah mengutusku, barang siapa yang mendirikan shalat ini sesuai tata caranya, maka akan diampuni dosa-dosanya sebelum ia mengangkat kepala setelah sujudnya, dan andaikan dia mati, maka dia mati dalam keadaan syahid yang dosanya telah diampuni. Dan tiada seorang hamba yang melaksanakan shalat ini dalam keadaan bepergian, kecuali Allah mudahkan baginya perjalanannya hingga tempat yang dituju. Andaikan ia memiliki hutang, maka hutangnya akan terbayar, dan seandainya ia memiliki kebutuhan, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Dan demi dzat yang telah mengutusku, tiada seorang hamba yang menjalankan shalat ini kecuali Allah berikan untuknya di setiap huruf dan ayatnya sebuah makhrafah di surga nantinya. Kemudian dipertanyakan “apakah mkahrafah itu Ya Rasul? Rasulullah saw menjawab makhrafah adalah dua ekor domba yang mempermudah penunggangnya mengelilingi (kebon penuh) pepohonan yang tidak pernah dipotong selama seratus tahun)).

Yang dimaksud dengan shalat tersebut adalah delapan rakaat shalat sunnah mutlak yang dilakukan selama bulan Syawwal. Dengan ketentuan empat kali salam yang disetiap rakaatnya dibaca al-fatihah dan lima belas kali surat al-ikhlas. Kemudian dilanjut dengan 70 kali bacaan tasbih dan 70 kali bacaan shalawat. Adapu fadhilahnya dapat telah diterangkan dalam hadits tersebut. (red. Ulil H)

?

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Nasional, Syariah, Kajian Hari Santri 2018

Selasa, 13 Februari 2018

Alumni IPNU Hibahkan Puluhan Buku untuk Pelajar NU NTB

Mataram, Hari Santri 2018. Mantan Ketua IPNU NTB Lalu Aksar Ansori memberikan puluhan buku kepada kepengurusan PW IPNU NTB Masa Khidmah 2015-2018. Buku ini diterima langsung oleh Ketua PW IPNU NTB Syamsul Hadi dan pengurus lainnya di kediaman Aksar di Lingkungan Jempong Barat, Kota Mataram, Jumat (15/01) malam.

Puluhan buku ini terdiri atas pelbagai judul, mulai dari seputar IPNU, Ansor, buku pemikir kaum muda NU, termasuk seputar pemikiran-pemikiran Gus Dur. "Silakan dibawa dan ditaru di ruang tamu sekretariatnya agar kelihatan jadi kantor IPNU," kata Aksar yang kini menduduki posisi Ketua KPU NTB.

Alumni IPNU Hibahkan Puluhan Buku untuk Pelajar NU NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni IPNU Hibahkan Puluhan Buku untuk Pelajar NU NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni IPNU Hibahkan Puluhan Buku untuk Pelajar NU NTB

Menurut mantan aktivis PMII Kota Mataram ini, kadersisasi NU sudah lengkap mulai dari pelajar dan santri diurus oleh IPNU-IPPNU. Para guru dan pemuda diurus oleh Ansor dan Fatayat. Sedangkan para pengasuh pesantren bisa masuk NU sebagai wadah orang tua.

"Negara bisa merdeka karena ada peran strategis NU. Bukti sejarahnya itu adanya Resolusi Jihad," katanya.

Perang melawan penjajah, menurutnya, tidak akan terjadi tanpa kelahiran Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh pendiri NU KH Hasyim Asyari. Sementara Resolusi Jihad merupakan fakta sejarah yang kini diperkuat dengan adanya Hari Santri.

Hari Santri 2018

"NU tidak akan besar kalau tidak ada pesantren, dan pesantren tidak akan kuat kalau tidak ada santrinya," katanya.

Hari Santri 2018

Karena itu, IPNU harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan pesantren. Ia juga berpesan agar para pengurus ikhlas. "Ikhlas saja ber-IPNU, insya Allah kalau ikhlas akan dapat berkahnya," katanya. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah Hari Santri 2018

Minggu, 11 Februari 2018

Hilal Terlihat di Gresik

Jakarta, Hari Santri 2018. Alhamdulillah, hilal atau sebagai pertanda masuknya awal bulan Syawal terlihat di bukit Condro Dipo Desa Kembangan Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik pukul 17.37 WIB. Dengan demikian Idul Fitri akan bersamaan.

Hilal Terlihat di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Terlihat di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Terlihat di Gresik

Dua orang saksi yang melihat hilal adalah H Inwahuddin dan Ahmad Azar, tim dari LFNU.

“Meskipun sudah ada yang melihat bulan, keputusan resminya akan menunggu sidang isbat di Kementerian Agama,” kata Nahari Muslih, sekretaris Lajnah Falakiyah NU, Rabu (8/8).

Hari Santri 2018

Dari sejumlah laporan yang masuk ke tim Lajnah Falakiyah NU di gedung PBNU, sejumlah lokasi seperti Papua, Makassar, Bali, Masjid Agung Jawa Tengah, Blitar dan lainnya semuanya mendung tebal. Pesimisme menghantui karena adanya kekhawatiran lebaran jatuh pada hari Jum’at. Terlihatnya di Gresik menjadi kabar gembira bagi semuanya.

Hari Santri 2018

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 PonPes, RMI NU, Syariah Hari Santri 2018

Selasa, 30 Januari 2018

LAZISNU Bojonegoro Bedah Tiga Rumah Tak Layak Huni

Bojonegoro, Hari Santri 2018 



Lembaga Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Bojonegoro melakukan aksi nyata dengan bedah tiga rumah milik masyarakat yang layak menerima.

Januari 2018 LAZISNU Bojonegoro membedah rumah milik Komawati di Desa Nguken Kecamatan Padangan. Ia adalah seorang mualaf. Rumahnya dihuni empat anak yatim. 

LAZISNU Bojonegoro Bedah Tiga Rumah Tak Layak Huni (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Bojonegoro Bedah Tiga Rumah Tak Layak Huni (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Bojonegoro Bedah Tiga Rumah Tak Layak Huni

Kedua, rumah milik Rohmat, seorang tunanetra warga Desa Balenrejo RT.07/RW.01 Kecamatan Balen, yang memiliki dua anak usia 7 tahun dan 2 tahun, sedangkan istrinya bekerja sebagai buruh.

Ketiga rumah milik Yatminah (65) di Desa Pandantoyo RT.03/RW.01 Kecamatan Temayang. Ia adalah seorang janda dengan satu anak yang telah 14 tahun tidak pulang dari perantauan. 

Hari Santri 2018

"LAZISNU Bojonegoro ingin membantu membenahi ekonomi dengan membangun rumah warga masyarakat yang tidak layak huni," kata sekretaris LAZISNU bojonegoro, Shodikin.

Serta, sambungnya, ingin menjadikan rumah yang memadai dapat ditempati dengan layak untuk keluarga sehingga dengan rumah lanyak huni  tersebut dan sedikit modal usaha. 

"Diharapkan kehidupan mereka bisa lebih baik," terangnya.

Menurut pria akrab disapa Pak Dikin, NU menilai keluarga adalah kompleks terkecil dalam masyarakat, sedangkan rumah merupakan suatu sarana untuk bertempat tinggal. Namun di Bojonegoro masih banyak masyarakat yang tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Hari Santri 2018

"Masyarakat ini tergolong keluaga fakir miskin dan tidak mempunyai penghasilan tetap yang dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya," jelasnya.

Ditambahkan, pembiayaan tersebut dari donatur dan dermawan terutama warga Nahdliyin seperti ketua PCNU Bojonegoro, Dr. Cholid Ubed. 

"Program ini akan terus dilaksanakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan," imbuhnya.

Sementara itu ketua PCNU Bojonegoro, Dr. Cholid Ubed menyambut positif program yang dilakukan lembaga. Pasalnya ini wujud kepedulian NU terkait kondisi sosial masyarakat di Kabupaten Bojonegoro. 

"NU hadir membantu mereka yang membutuhkan. Memberikan manfaat pada masyarakat," tuturnya singkat.

Para penerima bedah rumah dari LAZISNU Bojonegoro sangat bahagia karena harapan bisa hidup di rumah layak huni akan tercapai. 

"Semoga ini dapat dimanfaatkan dan terima kasih atas bantuannya," terang salah seorang penerima bedah rumah dari LAZISNU Bojonegoro. (M. Yazid/Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pahlawan, Syariah, Kiai Hari Santri 2018

Sabtu, 20 Januari 2018

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah

Pribadi Rasulullah SAW itu sederhana. Beliau dan para sahabatnya selalu hidup dalam keterbatasan, tapi mereka tetap teguh dalam barisan tauhid walaupun dalam keadaan sangat lapar.

    

Keserderhanaan pribadi Rasulullah SAW dan para sahabat dikisahkan oleh Abu Hurairah,”Demi Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, (terkadang) aku tidur di atas tanah dengan perut lapar, dan (terkadang) aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar.”

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah

Tidak saja soal makanan, Rasulullah dalam hal tidur, beralaskan tikar dan rumahnya sangat sederhana. Kalau ada pakaian yang sobek atau koyak, beliau sendiri yang menambalnya, tidak menyuruh istrinya. Beliau juga memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga maupun dijual.

Hari Santri 2018

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk dimakan, sambil tersenyum Baginda menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu istrinya di dapur. Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan, “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.”

Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai shalat.

Hari Santri 2018

Pernah Baginda pulang pada waktu pagi, dan tentulah amat lapar saat itu. Namun dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada, karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,”Belum ada sarapan, ya Humaira? (Humaira adalah panggilan mesra untuk sayidatuna ‘Aisyah yang berarti “Wahai yang kemerah-merahan”).

Aisyah menjawab dengan agak serba salah,”Belum ada apa-apa, wahai Rasulullah.”

Rasulullah lantas berkata,”Kalau begitu, aku puasa saja hari ini.” Tak sedikitpun tergambar rasa akesal di wajahnya.

Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan kesederhanaan Rasulullah SAW tidak pernah memenuhi perutnya. Ketika bersama keluarganya, beliau tidak pernah minta makan kepada istri-istrinya. Jika mereka menghidangkan makanan , beliau pun makan. Beliau memakan apa yang dihidangkan mereka, dan meminum apa yang dihidangkan mereka.”

Walau Nabi Muhammad SAW penuh kesederhanaan, bahkan terkadang tak jarang makan, beliau tetap tegar menjalankan risalah kenabian yang melekat pada dirinya. Pernah suatu ketika, saat beliau menjadi imam shalat, para sahabat melihat gerakan Baginda Nabi antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutuk, seolah-olah sendi-sendi pada tubuh manusia yang paling mulia itu bergeser.

Usai shalat, Sayidina Umar bin Khatab yang tidak tahan melihat keadaan Nabi, langsung bertanya,”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah, Ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar,” jawab beliau dengan wajah yang senantiasa tersenyum.

“Ya Rasulullah, mengapa setiap kali engkau menggerakan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh engkau? Kami yakin, engkau sedang sakit,” umar mendesak, cemas.

Akhirnya Rasulullah SAW mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut Baginda yang kempis, kelihatan dililit sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Nabi bergerak.

“Ya Rasulullah, adakah bila engkau mengatakan lapar dan tidak punya makanan kami tidak akan mendapatkannya buat engkau?”

Lalu Baginda Nabi menjawab dengan lembut, “Tidak, para sahabatku. Aku tahu, apapun akan engkau korbankan demi rasulmu. Namun apakah akan aku jawab di hadapan Allah nanti bahwa aku, sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih lebih lagi tiada yang kelaparan di akhirat kelak.”

Mengenai makan dan minum, Rasulullah SAW adalah orang tidak kecanduan terhadapnya. Nabi menganjurkan agar mengurangi keperluan makan minum dan tidur.    

Al Miqdam ibn Ma’dikarib berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda,”Anak Adam tidak memenuhi suatu bejana yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa potong makanan untuk menguatkan punggungnya. Jika memerlukan lebih banyak lagi, sepertiganya untuk minum dan sisanya untuk bernafas. Sebab akibat dari banyak makan dan minum adalah banyak tidur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban). (Aji Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Aswaja, Ubudiyah, Syariah Hari Santri 2018

Sabtu, 13 Januari 2018

Pesantren Sirojut Tholibin Khatamkan Ayyuhal Walad Karya Imam Al-Ghazali

Grobogan, Hari Santri 2018 - Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo, Grobogan mengkhatamkan kajian Kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali, Jumat (24/2) malam. Khataman kitab yang selama ini diasuh oleh KH Muhammad Shofi Al-Mubarak di Masjid Al-Muhajirin diikuti para santri dengan khidmat.

Dalam kajian akhir itu Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Kiai Muhammad Shofi Al-Mubarak menyatakan optimis pada santri. "Santri adalah calon orang yang paling sukses dalam bermasyarakat," katanya.

Pesantren Sirojut Tholibin Khatamkan Ayyuhal Walad Karya Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Sirojut Tholibin Khatamkan Ayyuhal Walad Karya Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Sirojut Tholibin Khatamkan Ayyuhal Walad Karya Imam Al-Ghazali

Pendapat itu didasarkan pada pengamatannya terhadap kehidupan pesantren. "Pesantren adalah miniatur masyarakat." Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menerima peserta didik dari berbagai daerah menjadi senada dengan kehidupan bermasyarakat yang sarat akan perbedaan.

Semua kegiatan di pesantren dilaksanakan secara bersama-sama, berdampingan dengan orang banyak, dan tentu memiliki latar belakang yang berbeda-beda pula. Dengan kehidupan masyarakat nantinya, kehidupan bertetangga, berdampingan dengan orang lain yang berbeda jalan pikiran akan menjadi sebuah keniscayaan dalam sebuah kehidupan bermasyarakat.

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Karena itu, para santri sejak dini telah terbiasa akan perbedaan, berdampingan dengan orang lain, dan berkumpul dengan orang yang berbeda pendapat. Yang mana, itu adalah pokok dari keniscayaan sebuah masyarakat. Bukan tidak mungkin, jika santri nantinya sukses dalam bermasyarakat. Karena pesantren telah mendidik dan melatihnya sejak awal.

Ia berpesan kepada para santri untuk selalu berbuat baik dengan berusaha tidak merugikan orang lain dan justru menyenangkan hati sesama. "Karena lebih utama-utamanya amal adalah menyenangkan orang lain," tuturnya.

Khataman pengajian rutin malam Sabtu tersebut diakhiri dengan doa dan pembacaan Shalawat Muhammadiyah bersama-sama. (Ulin Nuha Karim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah Hari Santri 2018

Jumat, 29 Desember 2017

Baanar Ansor Kadur Sasar Geng Motor Pengedar Narkoba

Pamekasan, Hari Santri 2018 - Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) di bawah naungan GP Ansor Kadur Kabupaten Pamekasan dilantik di halaman pendopo Kecamatan Kadur, Sabtu (5/11). Usai dikukuhkan berdasarkan SK bernomor 002/PAC/XII.42/SK-01/XI/2016, Baanar Kadur dalam waktu dekat akan langsung menyasar komunitas geng motor yang belakangan ini gencar terindikasi mengedar narkoba.

Kepala Baanar GP Ansor Kadur Lif Hodir menegaskan, upaya tersebut perlu dilakukan karena akhir-akhir ini para geng motor cukup meresahkan masyarakat. Banyak orangtua yang mengadu kepada Baanar karena khawatir anaknya terjerembab pada barang haram tersebut.

Baanar Ansor Kadur Sasar Geng Motor Pengedar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Baanar Ansor Kadur Sasar Geng Motor Pengedar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Baanar Ansor Kadur Sasar Geng Motor Pengedar Narkoba

"Lumbung peredaran narkoba di Kabupaten Pamekasan memang sejauh ini dikenal berada di daerah pantura, Kecamatan Proppo, dan Tlanakan di Kabupaten Pamekasan. Dalam perkembangannya, Kecamatan Kadur juga dibidik bandar guna merusak generasi bangsa lewat narkoba," ujar Lif Hodir.

Modusnya, tambah Lif Hodir, ialah dengan merekrut para pemuda untuk bergabung dengan geng motor. Setelah resmi jadi anggotanya, secara perlahan diberi pil narkoba gratis. Setelah ketagihan, baru pakai akad jual beli.

Hari Santri 2018

"Salah satu tugas Baanar adalah pada penindakan. Penindakan di sini tidak harus menangkap pengedar dan pemakai, tetapi dengan jalan melaporkan ke aparat kepolisian. Kami juga sudah koordinasi aktif lewat telpon dengan Danramil," terang pria kelahiran Desa Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan.

Hari Santri 2018

Baanar Kadur resmi dilantik bersama Pengurus GP Ansor dan MDS Rijalul Ansor Kadur. Mereka dikukuhkan langsung secara serentak oleh Ketua GP Ansor Pamekasan Fathorrahman.

Pelantikan ini dihadiri Ketua PCNU KH Taufiq Hasyim, pengurus harian dan departemen GP Ansor Pamekasan, Kepala Baanar Kabupaten Pamekasan Ra Hasan Al-Mandury, Ketua dan Sekretaris GP Ansor se-Kabupaten Pamekasan.

Di samping itu, hadir pula Ketua MWCNU Kadur KH Ahmad Baidawi Abshom, kepala desa dan kepala sekolah sekecamatan Kadur, OSIS, pimpinan ranting GP Ansor sekecamatan Kadur, Muslimat dan Fatayat Kadur, IPNU-IPPNU Kadur, serta Muspika Kadur. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Quote, Syariah Hari Santri 2018

Rabu, 27 Desember 2017

Onta Vs. Fulan

Alkisah, seorang fulan yang hidup di Mekkah selalu menaiki onta setiap hendak menunaikan shalat Jum’at. Ia tidak pernah telat sampai Baitullah. Ia berangkat dari kediamannya pagi-pagi.

Namun suatu ketika onta yang ditumpanginya lambat sekali jalannya. Ia mulai galau.

Onta Vs. Fulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Onta Vs. Fulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Onta Vs. Fulan

Ia merogoh saku. Tiba-tiba ia menemukan balsem. Balsem pun dioleskan ke dubur onta. Dan… sontak onta lari tunggang langgang. Ia ditinggal begitu saja.

Hari Santri 2018

Tak hilang akal. Sisa balsem lalu dioleskan di bagian tubuh si fulan, sama persis dengan si onta. Sontak si fulan pun berlari kencang mendahului onta yang berlari terlebih dahulu. (Syaiful Mustaqim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian, Syariah, IMNU Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Minggu, 17 Desember 2017

Hadapi Dunia Kerja, Santri Zaman Now Harus Miliki Ini

Solo, Hari Santri 2018. Sebelum menghadiri resepsi pernikahan putri Presiden Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, Mentri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menyempatkan diri bersilaturahim ke Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo, Selasa (7/11) malam. 

Pesantren Al Muayyad juga adalah almamaternya. Menaker diterima oleh pengasuh pesantren, KH Abdul Rozak Shofawi, KH Faisol Rozak serta sejumlah pengasuh.

Hadapi Dunia Kerja, Santri Zaman Now Harus Miliki Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Dunia Kerja, Santri Zaman Now Harus Miliki Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Dunia Kerja, Santri Zaman Now Harus Miliki Ini

Menaker diminta memberikan motivasi kepada sekitar 500 santri. Di hadapan santri, dia mengajak santri memenangkan persaingan di segala bidang.

“Dunia terus berubah. Tantangan santri juga berubah. Buktikan bahwa santri zaman  now mampu memenangkan persaingan di segala bidang. Dunia ke depan, adalah dunia yang akan dipimpin oleh para santri,” kata Menteri Hanif.

Untuk memenangkan persaingan, Menaker yang alumni Al Muayyad tahun 1991 ini membagikan kunci memenangkan persaingan. Syaratnya, santri harus memiliki kompetensi di atas standar. Kompetensi yang standar belum tentu memenangkan persaingan, apalagi jika di bawah standar. Oleh karenanya, santri tak hanya menguasai ilmu agama, namun juga keahlian tertentu.

Hari Santri 2018

“Santri juga harus belajar di atas standar, bekerja keras, serta takzim pada kiai agar ilmu yang dipelajarinya barokah (bermanfaat lebih),” tambahnya.

Hari Santri 2018

Bagi Menaker, salah satu kelebihan santri adalah memiliki karakter yang kuat, yakni disiplin, dan kejujuran.

Menteri Hanif juga berbagi cerita percakapannya dengan beberapa praktisi human resource development di beberapa perusahaan. Dari percakapan tersebut ada kesimpulan, kejujuran menjadi pertimbangan utama dalam menerima pekerja. Pasalnya, kejujuran tidak bisa diciptakan secara instan. Sementara skill lebih mudah dipelajari.

Dengan karakter kuat serta kompetensi yang di atas standar, santri bisa menjadi pebisnis, birokrat, akademisi, politisi, seniman, petani dan sebagainya. 

“Sekali lagi, tunjukkan bahwa santri zaman now mampu memenangkan persaingan di segala bidang,” tandasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah, Pertandingan Hari Santri 2018

Rabu, 13 Desember 2017

Kini Keterangan Agama Mudah Dicari, Jangan Lupa Tanya Ahlinya!

Di zaman sekarang ini, mencari keterangan terkait suatu ilmu sangatlah mudah. Cukup membuka ponsel atau komputer, menelusuri di internet, banyak ditemukan keterangan yang diinginkan. Tidak hanya dalam bentuk tulisan, namun juga bisa video maupun gambar. Demikianlah salah satu model masyarakat modern dalam mencari sumber-sumber ilmu, apalagi ilmu agama.

Perlu Anda ketahui, pencarian dalam mesin-mesin penelusur seperti Google dibuat berdasarkan algoritma pencarian. Kata per kata, kalimat per kalimat, apa yang paling banyak dicari, itulah yang akan muncul. Pilihan jawaban yang Anda cari tentang suatu ilmu, ditentukan dengan kata apa yang anda masukkan dalam pencarian.

Kini Keterangan Agama Mudah Dicari, Jangan Lupa Tanya Ahlinya! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kini Keterangan Agama Mudah Dicari, Jangan Lupa Tanya Ahlinya! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kini Keterangan Agama Mudah Dicari, Jangan Lupa Tanya Ahlinya!

Kendati jawaban-jawaban praktis sudah banyak tersedia di internet, ada baiknya seorang pencari ilmu agama tetap mengandalkan para ahli ilmu agama yang sudah bertahun-tahun mendalami suatu ilmu dan menggunakannya di masyarakat.

Dalam kitab Kifâyatul Atqiyâ’ karya Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad Dimyathi, disebutkan suatu syair dari kitab Hidâyatul Adzkiyâ’ karya Syekh Zainudin al Malibari:

Hari Santri 2018

? ? ? ? ? ? ? # ? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2018

Mintalah penjelasan dari guru dan tinggalkan apa yang tampak

Dari pemahamanmu yang terburu-buru dari kitab, serta bertanyalah (pada ahli ilmu)



Apa maksudnya? Syekh ad-Dimyathi menyebutkan perlunya seorang yang belajar agama tidak memahami suatu keterangan yang ia tahu dari Al-Qur’an, hadits, ataupun kitab, secara tekstual saja, tanpa pemahaman yang mendalam. Hendaknya ia bertanya sampai benar-benar yakin, dan menyimak keterangan sang ahli tentang suatu permasalahan.

Semisal seorang pelajar atau pencari ilmu sudah bisa membaca bahasa Arab dari kitab-kitab lainnya, atau ada keterangan dari internet yang ditemukan, kerap ada penjelasan maupun keterangan yang berbeda dari apa yang dimaksud sang pengarang. Ketika ada yang meragukan dan mengherankan, hendaknya ditangguhkan dan diklarifikasi kepada pengajar. Apalagi dalam Al-Qur’an dan hadits yang tidak bisa serta merta langsung diamalkan tanpa petunjuk dari ahli ilmu nan bijaksana.

Sahabat Nabi dahulu ketika tidak memahami suatu permasalahan agama, selalu menanyakannya kepada Nabi. Kita tahu bahwa para sahabat adalah orang-orang terdepan yang tahu tentang agama, namun mereka tidak terburu-buru dengan pemahamannya dan selalu ditanyakan kembali kepada Nabi.

Seperti disebutkan di atas, pemahaman yang terburu-buru dengan hanya memahami keterangan dari internet itu perlu disertai juga dengan keinginan untuk bertanya kepada ahlinya. Toh ahli agama ini bukan hanya yang pandai menukil ayat dan hadits, serta pandai membaca kitab. Namun juga ahli agama yang waskita, bijak dalam memberikan keterangan karena ia hidup bersama masyarakat.?

Dengan demikian, mencari ilmu agama tidak hanya soal ada keterangan atau tidak saja. Internet membuatnya jadi mudah. Tapi, jangan lupa, untuk tetap bertanya kepada ahli agama yang bijak lagi santun di sekitar kita. Jika ditanyakan pada orang yang tepat, Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah Hari Santri 2018

PP Muslimat NU Kurban 16 Ekor Sapi dan 2 Ekor Kambing

Jakarta, Hari Santri 2018. Idul Adha 1438 H tahun 2017 ini, Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) berkurban 16 ekor sapi dan 2 ekor kambing. Jumlah sapi dan kambing tersebut terkumpul atas kontribusi sejumlah pihak.

PP Muslimat NU Kurban 16 Ekor Sapi dan 2 Ekor Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Kurban 16 Ekor Sapi dan 2 Ekor Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Kurban 16 Ekor Sapi dan 2 Ekor Kambing

Ketua II PP Muslimat NU yang juga Ketua Panitia Kurban Idul Adha Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menerangkan, kegiatan kurban yang diselenggarakan Muslimat NU dilaksanakan dua tahap.

“Pertama dilakukan pada Sabtu (2/9/2017) di Pondok Cabe, Tengerang Selatan. Di sini kita memotong 3 ekor sapi dan 2 kambing,” jelas Nurhayati kepada Hari Santri 2018, Senin (4/9) di Jakarta.

Untuk tahap kedua, lanjut istri Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj ini, Muslimat NU melakukan pemotongan di Kantor PP Muslimat NU Pengadegan, Jakarta Selatan pada Ahad (3/9/2017).

“Di kantor Muslimat kita memotong 13 ekor sapi,” terangnya.

Hari Santri 2018

Mekanisme pembagian daging hewan kurban, PP Muslimat NU terlebih dahulu membagikan ribuan kupon kepada warga yang membutuhkan di sekitar kantor Muslimat.

Nurhayati menerangkan, sapi dan kambing tersebut berasal dari keluarga Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa, keluarga Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, keluarga Anna Muawanah, keluarga Bapak Tasrif, ibu-ibu Muslimat NU, dan keluarga besar Kementerian Sosial.

“Ini bagian dari komitmen Muslimat NU dari tahun ke tahun untuk menyediakan daging kurban bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Nurhayati.

Ia berharap, semoga hewan kurban di tahun depan makin bertambah banyak sehingga akan lebih banyak lagi masyarakat yang merasakan manfaatnya.

Hari Santri 2018

Kegiatan pemotongan hewan dan pembagian daging kurban ini dihadiri oleh seluruh Pengurus Muslimat NU di tingkat pimpinan pusat dengan melibatkan sejumlah pemotong hewan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Halaqoh, Syariah Hari Santri 2018

Senin, 11 Desember 2017

Program Madrasah Kader PCNU Sumedang Segera Direalisasikan

Sumedang, Hari Santri 2018

Sebagaimana sudah disepakati pada rapat kerja Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang tahun lalu, kegiatan PCNU Sumedang untuk tahun 2017 akan lebih banyak difokuskan pada kegiatan kaderisasi.

Program Madrasah Kader PCNU Sumedang Segera Direalisasikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Program Madrasah Kader PCNU Sumedang Segera Direalisasikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Program Madrasah Kader PCNU Sumedang Segera Direalisasikan

Hal tersebut disampaikan Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh dalam kegiatan rapat pleno dan buka bersama seluruh pengurus PCNU setempat, lembaga, dan badan otonom NU di Aula PCNU Sumedang, Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (10/6).

“Pada rapat kerja tahun yang lalu saya menegaskan seluruh banom dan lembaga supaya merealisasikan kegiatan kaderisasi ini. Alhamdulillah ada beberapa banon dan lembaga di PCNU Sumedang ada yang sudah melaksanakannya dan ada juga yang baru merencanakan,” lanjut H Sadulloh.

Hari Santri 2018

Lembaga dan banom yang sudah melaksanakan yaitu Muslimat NU, Fatayat NU, Ikata Pelajar NU (IPNU), Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU), Jam’iyatul Qurra wal Huffadh NU (JQH NU), Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU (LPBI NU), Lembaga Pendidikan Maarif NU, dan Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTN NU), Lembaga Ta’mir Majid NU (LTM NU), dan Lembaga Dakwah NU (LDNU).

Hari Santri 2018

“Di PCNU sendiri sudah insyaallah bulan depan akan melaksanakan kegiatan madrasah kader NU. Madrasah kader NU ini wajib diikuti oleh seluruh pengurus NU dari tingkat ranting sampai tingkat cabang. Ke depannya seluruh warga NU yang akan menjadi pengurus NU wajib mengikuti dulu madrasah kader NU,” tutur H Sadulloh.

Beberapa lembaga dan banom yang sudah mengajukan kegiatannya yaitu, LPNU (Lembaga Perekonomian NU) akan melaksanakan pelatihan kewirausahaan dalam rangka memperkuat perekonomian warga NU, LPPNU (Lembaga Pengembangan Pertanian NU) akan melaksanakan pelatihan budaya jamur, ISNU akan melaksanakan bedah buku Islam Nusantara, Banser dan Ansor akan melaksanakan diklatsar, Lesbumi akan melaksanakan ruwatan hajat bumi, LTM NU akan melaksanakan pelatihan muharrik masjid.

“Insyaallah PCNU Sumedang juga akan merintis? klinik kesehatan yang diprakarsai oleh LKNU, dan yang terakhir Lakpesdam NU akan ada pelatihan manajemen organisasi NU. Semua program kerja ini harus selesai pada tahun 2017 karena ini amanat hasil rapat kerja tahun yang lalu,” tegas H Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Jadwal Kajian, Syariah, RMI NU Hari Santri 2018

Sabtu, 09 Desember 2017

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab

Bekasi, Hari Santri 2018 

Siti Zubaidah, istri Muhammad Al-Zahra (MA)—pria yang meninggal dunia karena penyiksaan yang dilakukan massa setelah diduga mencuri amplifier dari sebuah mushala di Bekasi, menceritakan ada kenangan dari almarhum suamiya yang sangat berkesan dalam ingatannya.

“Ya dia selalu mengingatkan saya supaya memakai hijab. Saya kan orangnya tomboi, dia selalu mengingatkan saya,” ujar Zubaidah kepada Hari Santri 2018 ketika ditemui di kediamannya di  Kampung Jati, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Sabtu (5/8) siang.

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Dibakar Hidup-hidup, Pria Ini Ingatkan Istrinya Agar Berjilbab

Zubaidah sangat kehilangan suaminya, apalagi peristiwa yang menyebabkan suaminya meninggal dunia, sangat tidak manusiawi. 

Seperti diberitakan sebelumnya, MA, pria berusia 30 tahun, berprofesi sebagai ahli reparasi alat-alat elektronik diduga mencuri amplifier di mushala Al-Hidayah di Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Selasa (1/8) pukul 16.30 WIB. 

Hari Santri 2018

Tuduhan itu membuat orang-orang melakukan pengejaran dan penyiksaan termasuk membakar MA hidup-hidup hingga menyebabkan kematiannya sekitar pukul 17.30 di Kampung Muara Rt.012/007 Desa Muara bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

“Sekarang nggak ada yang ngingetin lagi (agar selalu berjilbab),” kata perempuan berusia 25 tahun itu.

Zubaidah mengaku tidak mendapat firasat apa-apa sebelum peristiwa tersebut. Pagi hari sebelum berangkat, MA membuat papan untuk salon (sound system). 

“Saya baru tahu sekitar jam delapan pada malam harinya. Karena ada polisi yang memberi tahu dan mengantarkan jenazah suami saya,” tambah Zubaidah. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah, Budaya Hari Santri 2018

Minggu, 03 Desember 2017

Untuk Selamatkan Agama dan Umat Beragama

Jakarta, Hari Santri 2018. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menegaskan, alasan dirinya tidak bersedia memenuhi undangan bertemu Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush pada Senin (20/11) mendatang bukan karena benci terhadap orang nomer satu di AS itu atau pun negaranya. Melainkan karena ingin menyelamatkan agama sekaligus umat beragama.

“Keengganan saya untuk tidak hadir dalam pertemuan itu bukan karena saya benci (kepada Bush, Red), mogok atau menolak Amerika. Tetapi ingin menyelamatkan agama dan sekaligus juga umat bergama agar tidak dibawa-bawa dalam setiap agresi atau kebijakan Bush,” tegas Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (9/11).

Untuk Selamatkan Agama dan Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Selamatkan Agama dan Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Selamatkan Agama dan Umat Beragama

Sebagaimana diberitakan situs ini, Sabtu (4/11) lalu, pemimpin tertinggi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini menyatakan tak bersedia memenuhi undangan bertemu Bush. Ia menganggap percuma saja bicara dengan Bush karena menyangsikan dialog tersebut akan membawa hasil positif. “Secara pribadi, kalau diundang, saya nggak mau datang, karena Bush orangnya keras kepala,” ketusnya.

Hasyim sangat menyadari, jika dirinya hadir, maka akan muncul kesan bahwa pertemuan tersebut ada kaitannya dengan urusan agama. Padahal, menurutnya, kedatangan Bush yang akan mampir di Indonesia selama 6 jam setelah menghadiri pertemuan APEC di Vietnam 18-20 November 2006 itu adalah untuk kepentingan ekonomi semata.

Sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP), ia tak ingin hal itu terjadi. “Seakan-akan ada nuansa agama, seperti persoalan Israel-Libanon, Afganistan, Irak atau nuklir Iran, dan sebagainya. Padahal kan tidak ada hubungannya sama sekali. Kepentingannya adalah ekonomi atau imperialisme,” terangnya.

Dengan nada agak keras, Hasyim menyatakan, kedatangan pemimpin negeri Paman Sam tersebut tak perlu ditafsirkan bermacam-macam--termasuk terkait urusan agama--, kecuali hanya demi kepentingan ekonomi. “Biarkanlah Bush itu datang tanpa nuansa agama, tetapi lebih bernuansa imperialisme,” tegasnya.

Hari Santri 2018

Disinggung tentang sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam yang akan berunjuk rasa menolak kedatangan Bush, Hasyim menilai hal itu adalah wajar sebagai sebuah reaksi. Penolakan seperti itu, katanya, tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di negara mana pun yang akan dikunjungi Bush.

Namun demikian, Hasyim berharap agar setiap reaksi terhadap AS maupun Bush tersebut harus dilakukan secara proporsional. Ia melihat, selama ini, terutama di Indonesia, penolakan atau aksi menentang kebijakan AS tidak dilakukan dengan tepat. "Menentang Amerika pakai golok. Teriak Allahu Akbar sambil melempar telor busuk," tandasnya.

“Saya berharap, reaksi masyarakat Indonesia itu yang berkualitas. Kalau Amerika menyerang ekonomi kita, ya kita perkuat perekonomian kita. Kalau budaya, lawan juga dengan budaya dan pendidikan kita. Kalau politik, lawan juga dengan politik yang sehat. Begitu juga kalau Amerika menyerang kita dengan pelor, ya kita lawan juga dengan pelor,” ujar Hasyim.

Hari Santri 2018

Dalam kesempatan itu, Hasyim juga mengungkapkan alasan lain terkait keengganannya bertemu Bush. Menurutnya, saat bertemu di Bali pada 2003 silam, dirinya berpesan akan banyak hal kepada presiden dari Partai Republik itu. Namun, imbuhnya, hingga saat ini, pesan itu tak ada satu pun yang diperhatikan.

Dijelaskan Hasyim, pesan tersebut antara lain, ia meminta agar AS jangan selalu menggunakan standar ganda dalam setiap kebijakan internasionalnya. Ia juga menuntut keseriusan negara adidaya tersebut dalam menciptakan perdamaian dunia, terutama perdamaian antara Israel dan Palestina.

Istilah crusade (perang salib) yang digunakan Bush saat akan menyerang Irak beberapa tahun lalu juga menjadi perhatian Hasyim. Ia menggugat penggunaan istilah yang sensitif tersebut. “Saya katakan, kalau pakai istilah crusade, maka jangan heran kalau umat Islam meresponnya dengan istilah jihad,” ujarnya.

Hal lain yang Hasyim tegaskan saat bertemu dengan Bush adalah stigma terorisme yang kerap dilekatkan kepada Indonesia, khususnya umat Islam di negeri ini. “Indonesia itu korban terorisme, bukannya sarang terorisme,” katanya.

Peran AS dalam dunia internasional yang seakan memosisikan diri sebagai ‘polisi dunia’ juga tak lepas dari kritiknya. Diceritakannya, kepada Bush, ia mengatakan agar AS tak perlu lagi menjadi pengatur dunia. “Saya katakan, Amerika itu cukup jadi ‘Bapak Dunia’ saja, nggak usah repot-repot jadi ‘polisi dunia’ segala. Dengan begitu, biayanya kan lebih murah,” terangnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah, Kajian, Quote Hari Santri 2018

Selasa, 07 November 2017

Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri

Salatiga, Hari Santri 2018. Dalam suasana bulan suci Ramadhan. Fakultas Syariah IAIN Salatiga menggelar kegiatan dengan tema Merajut Tradisi Membangun NKRI. Dalam kegiatan suci ini KH Ahmad Muaffiq (Gus Muaffiq) dari Yogyakarta memberikan pemahaman-pemahaman kebangsaan pada segenap mahasiswa IAIN Salatiga dan masyarakat umum.

“Saya itu dulu juga mahasiswa, bahkan saya pernah menjadi ketua senat. Tapi saya tidak mengadakan kegiatan semacam ini.mengapa? karena dulu itu tidak ada polemik seperti sekarang ini. Kalau sekarang banyak sekali yang mencoba untuk menghapuskan Pancasila semua itu karena rasa kurang percaya diri masyarakat Indonesia,” terang Gus Muaffiq diawal mau’idhoh-nya.

Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Muaffiq: Islam Besar Karena Percaya Diri

“Dulu itu, Walisongo menyebarkan agama Islam dengan rasa percaya diri. Contohnya nama Allah itu kan pertama dari Arab, kemudian dibawa ke Indonesia dan diganti nama Alloh. Contoh kedua nama syaikhona itu juga dari Arab kemudian di bawa ke Indonesia dengan sebutan kiai. Semua itu tidak dipermasalahkan bahkan sekarang terbukti ketika menyebut nama pangeran pasti tertuju kepada Allah,ketika menyebut nama kiai pasti tertuju pada seseorang yang alim agamanya. Jadi tidak perlu anta, antum, akhi dsb.kita gunakan saja apa yang ada di Indonesia dengan percaya diri.”

KH Ahmad Muaffiq juga menambahkan penjelasan tentang Rasul ulul azmi yang diibaratkan dalam Al-Qur’an. Dalam surat At-tiin ayat pertama, wattiini merupakan lambang dari Nabi Ibrahim, kemudian wazzaitun merupakan lambang dari Nabi Isya, kemudian wathurisinin merupakan lambang dari Nabi Musa. Rasul-rasul ulul azmi dilambangkan dengan nama-nama buah. tapi ayat selanjutnya wa hadzal baladil amiin melambangkan Nabi Muhammad.?

Hari Santri 2018

“Maka orang yang mengikuti Nabi Muhammad haruslah senantiasa mencintai negerinya, jangan sampai kehilangan rasa percaya diri terhadap negerinya”. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Aswaja, Syariah, Pendidikan Hari Santri 2018

Minggu, 05 November 2017

NU Penting Percepat Pengembangan Ekonomi

NU dilahirkan atas latar belakang tiga organisasi pergerakan, Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pengusaha) Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Bangsa) dan Taswirul Afkar (Pengembangan Pemikiran). Diantara tiga pilar tersebut, aspek ekonomi yang sejauh ini masih perlu mendapatkan perhatian lebih besar.

Karena itulah, PBNU membentuk Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) sebagai upaya mempercepat tumbuhnya sektor ekonomi dan kewirausahaan di lingkungan warga NU. Apa visi misi, dan langkah apa saja yang dilakukan HPN, berikut wawancara Mukafi Niam dari Hari Santri 2018 dengan Abdul Kholik, ketua umum HPN seusai peringatan 100 tahun Nahdlatut Tujjar di sebuah kawasan bisnis di Jakarta baru-baru ini.

NU Penting Percepat Pengembangan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Penting Percepat Pengembangan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Penting Percepat Pengembangan Ekonomi

Sebenarnya, apa visi dan misi pengembangan Himpunan Pengusaha Nandhliyin (HPN) ini?. Pertama, bagaimana kesadaran kita semua, Nahdliyin untuk mulai memperhatikan pembangunan ekonomi. Kenapa kita mengambil inspirasi dari Nahdlatut Tujjar (NT), kalau anda baca di literatur, landasan berdirinya NT adalah agar Nahdliyin tidak ketinggalan dengan pengusaha Tionghoa, pengusaha non pribumi. Surprisenya setelah 100 tahun, ini masih relevan, ini karena kita ketinggalan terus. Kenapa itu terjadi, karena pemberdayaan ekonomi yang dijalankan selama 100 tahun ini relatif minim dibandingkan dengan gerakan politik. NU didominasi oleh gerakan politik. Sekarang tugas HPN pertama, bagaimana agar pemberdayaan ekonomi ini memperoleh perhatian yang setimpal dalam strategi pengembangan NU. 

Hari Santri 2018

Kedua, kita ini kan dikenal sebagai pengusaha kelas menengah bawah. Mengapa demikian, karena kemampuan ekonomi merupakan refleksi kemampuan SDM. Kalau SDM-nya kompetitif, dia pasti akan unggul, masuk dalam top level. Ini artinya pemberdayaan ekonomi tidak lepas dari bagaimana kita meningkatkan kualitas SDM. Sebagai contoh, kalau anda lihat kaum Nasrani. Pendidikan menengah mereka kuat, SD, SMP, SMA. Begitu masuk perguruan tinggi, mereka masuk ke perguruan tinggi yang berkualitas yang dimiliki pemerintah, sehingga begitu keluar dari PT, mereka jadi calon pemimpin, baik di pemerintahan maupun di swasta. Kenapa, karena pengkaderan di level menengahnya bagus. Lha di kita, di NU, kebanyakan sekolah kita kan lebih banyak menekankan sektor religi, tetapi tidak ada keseimbangan d alam sektor duniawiahnya. Ini yang saya kira mesti diperbaiki. 

Hari Santri 2018

Jadi ketika kita bergerak di sektor ekonomi, dimensinya menjadi luas. Dalam fase 5 tahun pertama HPN berkonsentrasi bagaimana melakukan stimulasi untuk menumbuhkan  kesadaran kita semua bahwa ekonomi ini adalah penting dalam banyak sektor kehidupan. Kita perlu memperoleh kehidupan yang memadai. Ini yang pertama dulu.

Berarti kebijakan ekonomi belum mendapat perhatian yang cukup dari PBNU?. Menurut saya begitu, mohon maaf, kalau kita lihat. Pengusaha ini dilihat di NU, tidak hanya di PBNU, tetapi juga di daerah, hanyalah supporting untuk mengadakan kegiatan, mau ada istighotsah atau kegiatan lain, siapa pengusahanya, jadi lebih pada itu, bukan dijadikan satu elemen untuk memperjuangkan daya tawar NU dengan kepentingan lain. Sementara masih ini positioningnya.

Potensi sektor kewirausahaan di lingkungan NU bagaimana?. Kalau potensinya besar sekali, sebagai contoh misalnya. Kalau kita lihat trend bisnis masa kita. Sekarang kan berbasis social network seperti MLM. Ini pada dasarnya social network yang dimanfaatkan untuk berbisnis. Kemudian dengan masuknya teknologi informasi, facebook meledak, ada tokobagus.com. di bisnis media ada detik.com. Pada dasarnya kan semua berbasis pada jaringan. Nah, kekuatan NU kan di situ, di jamiyyah. Kalau kita mau mengembangkan bisnis NU dengan baik, bayangkan saja hasilnya akan luar biasa. Bapak pernah dengar, salah satu situs Indonesia dibeli ratusan milyar, padahal baru diakses 5 juta orang. Bagaimana kalau di NU ini, semua ngakses dari satu toko online. Maka nilai bisnisnya besar. Nah ini yang dilihat oleh orang luar, misalnya yang sedang saya tangani dengan orang Singapura, mereka lihat, NU ini marketnya besar. Cuma sayangnya kita dengan rela hati dimanfaatkan sebagai market saja. Sekarang saya rubah adalah, oke saya punya market, tetapi you tidak bisa ngacak-acak market punya saya. Silahkan You manfaatkan tetapi saya juga harus memperoleh manfaat. 

Kita selama ini, tidak menghargai intangible asset jamiyyah ini, padahal nilainya tinggi sekali. Jadi kalau sering saya sampaikan pada teman-teman, sebenarnya kita tidak perlu berbisnis dengan orang luar, berbisnis dengan orang NU saja, sudah banyak sekali. Sudah mencukupi. Hanya persoalannya, kebanyakan masih bermain di sektor produksi, jagung, ayam, beras, kambing, dan lainnya, tapi bisnis kan bukan hanya di produksi, ini yang kita kurang.

Sebagai contoh, saya pernah ke Pasuruan, ada sebuah pesantren yang menghasilkan topeng. Ini dipakai oleh orang Venesia kalau mereka melakukan pesta topeng, tapi siapa yang masarin ke sana, bukan orang Pasuruan, tapi dia lempar ke Bali, sama orang Bali dicat, terus dilempar ke sana. Jadi, kita hanya jago di produksi, padahal, pada dunia bisnis modern, seharusnya bukan apa yang bisa kita buat, tetapi apa yang dibutuhkan orang.  Ini yang masih harus diasah.

Kultur kita kan agraris, sementara dunia wirausaha kan punya sebuah kultur sendiri. Gimana kita melakukan transformasi agar semakin banyak orang NU yang masih dalam sektor dunia usaha ini?. Kembali menurut saya, orang NU lemah, pengusaha NU lemah, karena meninggalkan jamiyyahnya. Anda bilang, bahwa kebanyakan orang kita berada di sektor agribisnis. Saya ambil contoh, industri yang sama, di Australia, mereka berkumpul membentuk asosiasi, tetapi jamiyyah mereka benar, saling menghargai. Kalau sudah kesepakatan, diikuti bersama. Kalau kita, sudah sepakat, tapi kalau ada yang nawar lebih mahal, dijual, dan mengkhianati jamiyyahnya. Nah, kalau disana, di Australia. Harga anggur selalu bagus di pasaran, karena petani anggur disiplin. Berapa pasarnya, misalnya 10 ton, maka pasokannya diatur, si fulan dapat jatah segini, si ini sekian ton, semua disiplin. Kalau ada kelebihan produksi, dibuat yang lain. Mereka bikin sirup, jus, dan lain-lain tapi dikerjakan bersama-sama. 

Kita belum bisa seperti itu, misalnya disepakati harga 10, anda dapat jatah produksi 1 ton, terus ada yang nawarin, loe diam-diam saja, produksi saja 1.5 ton, akhirnya merusak pasar. Tradisi jamiyahnya ditinggalin. Kita sesungguhnya punya potensi kuat, kalau kiainya mengerti ini, mengharuskan jamaahnya yang para petani itu. Eh, kamu kalau begini haram, tapi dengan bahasa bisnis, ini powerful. Seperti yang pernah dilakukan di Jatim, dengan bisnis pembalut wanita. Selain dari pembalut wanita ini, haram. Itu gila-gilaan, cuma kebetulan yang ngatur bukan orang bisnis, tapi begitu digenjet produksinya sama partnernya, mati dia. Kalau kita orang bisnis tidak. Kalau kita bekerjasama dengan orang, kita tidak mau tergantung. Begitu kita melakukan sesuatu, segera melakukan alternatif. Ini sebenarnya roh kekuatan kita di situ dan tidak dimanfaatkan. Semua pengusaha di Australia membentuk asosiasi, di sapi, strawberry, dan lainnya, mendasarkan diri pada kekuatan jamiyyah. 

Saya juga amati, PBNU kan membentuk beberapa badan usaha, dari zaman Gus Dur, dengan pembentukan Nusumma, sampai dengan zaman Kiai Said sekarang, belum ada yang berhasil. Ini sebenarnya kenapa, apa memang organisasi sebaiknya tidak perlu membikin badan usaha?. Kan orang itu kan unggul pada bidangnya masing-masing. Pak Kiai kan keunggulannya pada bidang religi, bagaimana membina umat dari sisi religi. Kalau disuruh berbisnis, ngak excellent lah, karena dia berbeda set of attitude-nya. Kalau di dalam dalam bisnis, pengertian ikhlas, bukan kalau ada yang minta, terus dikasih, tapi harus set of attitude bisnis yang dipakai. Dan kalau ini dipakai di organisasi keagamaan, juga kurang cocok. Ada yang berlawanan. Sekarang kalau kita minta Pak Kiai menjalankan bisnis, ya, amburadul, karena Pak Kiai tidak bisa bilang ngak kalau ada orang minta tolong. Tapi kalau pengusaha, bisa bilang ngak, tapi nanti kita wadahi dengan sedekah kita, dengan zakat kita, tidak dengan mengorbankan modalnya. Kalau Pak Kiai, “Wah kasihan” Kalau perlu, modalnya pun dikorbankan. 

Kedua, pola dalam bisnis dan pola decision dalam menjalankan roda organisasi massa kan jauh sekali. Kalau di bisnis, kita harus tega mengatakan, “Anda tidak perform, anda saya pecat.” Kan begitu, karena level kompetisi, performance yang diukur. Tapi kalau di organisasi massa, anda melakukan itu, makin banyak musuhnya, pada waktu pemilihan ketua lagi, tidak dipilih lagi. He he he. Orang-orang yang sakit hati ini pada ngumpul, “Jangan pilih lagi itu, kurang ajar, begini-begini.” Jadi set of attitudenya berbeda. 

Dan NU tidak bisa dikelola dengan pendekatan bisnis?. Ya, betul. Orang berbisnis itu, orang kalau ingin berhasil, karena kan kita berkompetisi dengan orang lain, itu harus situasinya diperlakukan sedemikian rupa sehingga kita seperti dikejar anjing. Ini kan pager dua meter bisa kita loncati, tapi kalau dalam situasi biasa-biasa saja, satu meter pun kita tidak bisa. Apa yang sama maksud, ini risiko. Wah ini kalau saya tidak lompat bisa digigit anjing nih. Karena saya ngerti risikonya, saya habis-habisan loncat pagar, dia kan tidak punya risk. “Amal usahanya kan milik NU, bukan saya yang rugi” kan begitu, “Jadi kenapa saya harus tampil, mecatin orang-orang, dimusuhin orang-orang.” tapi kalau usaha itu miliknya dia, maka dia akan habis-habisan, karena faktor risikonya ada di dia. Misalnya Nusumma, itu punya NU, bukan punya Gus Dur, bukan punya Pak Hasyim, tapi punya banyak orang. Sekarang siapa yang mau menanggung risiko kalau gagal, semua orang, kan. pengurus cuma mewakili NU doang, ini ngak jalan. Sekali lagi, set of attitudenya ngak jalan. Makanya, organisasi seperti NU, tidak perlu berbisnis karena karakternya berbeda. Dibutuhkan karakter yang berbeda. Tak heran, selama ini, kalau organisasi menjalankan bisnis, kurang berhasil karena daya tempurnya berbeda.

Kalau kita lihat organisasi lain, misalnya Muhammadiyah, juga punya Rumah Sakit atau Sekolah yang dikelola dengan pendekatan bisnis sosial, yang bisa mendukung organisasinya, kenapa lebih berhasil?. Kalau saya lihat SDM-nya. Di kita, ini kan ada tradisi, NU punya usaha, lalu ditunjuklah orang kepercayaan kiai tertentu. orang NU juga, dengan kualifikasi bisnis tertentu. Di NU kan, kalau saya bilang ekstrimnya, relatif otokrat. Kita relatif tidak berani bilang tidak pada perintahnya kiai. Kan begitu, sementara pada waktu kiai memutuskan bisnis, yang ada di kepalanya bukan bisnis. Kitanya ngak berani “nglawan”, tapi kalau di Muhammadiyah, dialognya lebih dua arah, kalau kita kan kurang. 

Idenya tapi kan mengembangkan bisnis dari para pengusaha NU, nanti gimana simbiosis mutualismenya, terhadap organisasi?. Kalau sekarang, prinsip yang saya anut di HPN, HPN tidak boleh membuat bisnis yang menjadi pesaing dari bisnis yang sudah ada, tapi kita hanya ingin menjadi katalis. Sebagai contoh, kalau kita melihat bahwa, kekurangan teman-teman ini di sektor pemasaran, kita akan bikin platform pemasaran bersama yang akan menggandeng teman-teman ini sehingga tidak perlu berpikir tentang pemasaran dan produksi. Produksi biar menjadi domainnya mereka, kita bantu di sektor pemasarannya. Ini yang akan kita rancang, jadi kita hanya membuat platform bersama untuk menutupi kekurangan individu-individu tadi. Kita akan membangun seperti trading house, sehingga promosi ke luar negeri akan kita lakukan. Kalau kita mengharapkan mereka memiliki seperti itu, kan lama membinanya. Tapi kalau kita ingin membuat topeng seperti itu, kan lama juga. Sekarang kita sinergikan, apa yang sudah ada di sana, apa yang orang lain punya, kita matching-kan, tetapi tantangannya adalah kita berada dalam bahasa yang sama, bahasa profesional dan bahasa bisnis. Ini yang sama. Sebagai contoh, para pengusaha China itu mampu mengerjakan proyek-proyek besar, itu bukan karena kemampuan finansial individu yang besar, ini karena mereka melakukan kongsi. Kenapa kongsinya bisa berjalan, karena bahasanya sudah sama, bahasa profesional, bahasa komitmen, kalau mereka bilang, cincai. Artinya sama-sama ngerti. Tidak ada saling menyakiti. Ini berbeda dengan di NU, yang satu bilang, ya udahlah, ini demi NU, kita ikhlas saja, sementara yang lain dengan pendekatan bisnis. Bahasanya berbeda. 

Misalnya waktu saya arrange pameran di Surabaya, saya tanya event organizernya, berapa harganya, dia bilang, “Udahlah, ini buat NU, saya ikhlas.” Saya bilang, ngak, berapa harganya, karena saya tidak mau tidak ada kejelasan, supaya kalau saya mampu bayar, akan saya bayar dan begitu saya bayar, saya akan tuntut performancenya. Bahasa ini yang harus disamakan, di NU challenge terbesarnya disitu, bagaimana kita membuat agar bahasanya bahasa profesional sehingga sinergi bisa kita lakukan. 

Kalau dalam kasus pengusaha topeng tapi, mereka bisa saja bilang, waduh, “Bapak kan pengusaha besar, mestinya Bapak bantu saya, kan sama-sama NU,” ngak nyambung itu bahasanya. Padahal kita inginnya, “Bapak kan orang profesional, Bapak harus produksi topeng dengan bagus supaya saya bisa menjual.” Bahwa saya dan mereka sama-sama NU, nanti, kalau seperti orang China, kalau saya untung 10 saya makan sendiri, tapi kalau NU, okelah, saya untung 10, saya bagi 5-5. Kira-kira, itu mutualisme yang ingin kita bangun. Tapi basis yang ingin kita bangun tetap basis bahasa profesional. Ngak bisa lagi pakai bahasa ikhlas, ini tidak relevan.

Pengembangan sektor usaha kan masih terkait dengan kecil menengah, ini kan juga perlu dukungan pemerintah. Apa yang bisa dilakukan PBNU dalam memberikan dukungan kebijakan? . Sekarang menurut saya tidak perlu lari ke sana dulu, kalau kita mampu bernegosiasi dengan pemerintah, kemudian pemerintah menelurkan kebijakan yang menguntungkan NU, pertanyaan selanjutnya, apa yang bisa dilakukan oleh NU. Kan begitu. Sebagai contoh, kita minta ada kredit lunak. Lalu begitu dikasih, kita menengok ke belakang, siapa yang mau kita kasih, pengusaha yang tidak bakal ngemplang kreditnya, jangan-jangan nanti pada ngemplang. Kan tantangan terberatnya di situ. Yang coba kita bangun di HPN, bagaimana kita menyiapkan potensi-potensi ini. Yang punya kemampuan ekonomi, intelektual, kita line up, lalu kita internalisir, sehingga pada waktu nanti secara PBNU, rumah besarnya minta ke pemerintah, kita sudah tahu apa yang akan kita kerjakan, kita tahu kapabilitas kita dimana, sehingga begitu pemerintah Ok, kita balik, si A kerjakan ini, si B, kerjakan ini. Sekarang kita beresin internal, begitu kita konsolidasikan di dalam, baru kita ngomong di luar, begitu kita minta, kita yakini bahwa kita akan bisa jalankan.   

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tokoh, Syariah Hari Santri 2018

Kamis, 26 Oktober 2017

Banser Kudus Bantu Pengamanan Bu Sinta di Pati

Kudus, Hari Santri 2018

Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serbaguna (Satkorcab Banser) Kudus memberangkatkan puluhan personelnya di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Sabtu malam (18/6). Selepas Tarawih, mereka berbaur bersama Banser Kabupaten Pati guna membantu pengamanan kegiatan sahur bersama Hj Sinta Nuriyah di balai desa setempat.

?

Banser Kudus Bantu Pengamanan Bu Sinta di Pati (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kudus Bantu Pengamanan Bu Sinta di Pati (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kudus Bantu Pengamanan Bu Sinta di Pati

Komandan Satkorcab Banser Kudus Wawan Awaluddin mengatakan, pihaknya berpartisipasi dalam pengamanan acara sahur bersama istri Presiden Ke-4? RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini atas permintaan panitia dan instruksi Satkorwil Banser? Jawa Tengah.

?

"Bu Sinta Nuriyah adalah istri Gus Dur sekaligus tokoh pluralisme yang wajib hukumnya mendapat pengamanan dan perlindungan. Kita menjaga karena belakangan ada pihak-pihak yang kurang berkenan akan kegiatan sahur atau buka bersama beliau," ujarnya kepada Hari Santri 2018 sebelum berangkat.

?

Hari Santri 2018

Wawan menjelaskan, Banser memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai garda terdepan dalam mengawal dan menjaga ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama. Banser Kudus, ujarnya, selalu siap bergerak menjalankan perintah pengamanan terhadap tokoh NU.

?

Ia juga mengingatkan, bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, agama dan adat istiadat yang telah menjadi kekuatan besar dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga, masyarakat perlu menghargai kegiatan yang mengajak kepada kerukunan antarkomponen bangsa terutama umat beragama.

Hari Santri 2018

?

"Kegiatan Bu Sinta ini sangat positif karena memberikan keteladanan kerukunan umat beragama. Jadi, Banser secara tegas sangat mendukung dan siap mengawal kegiatan hingga selesai," tegas Wawan.

?

Kegiatan sahur bersama Bu Sinta Nuriyah ini berlangsung pada pukul 02.00 dini hari. Sebelumnya, panitia mengadakan kegiatan budaya di halaman masjid desa setempat. (Qomarul Adib/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah, Warta, Quote Hari Santri 2018

Rabu, 11 Oktober 2017

Hikmah Terkini Lailatul Qadar

Oleh M. Ulinnuha Husnan

--Ada baiknya sejenak kita tundukkan hati dan pikiran untuk merenungkan keagungan lailatul qadar. Lailatul qadar adalah peristiwa luar biasa dan penuh misteri. Banyak kejadian mahadahsyat yang berlangsung di malam itu. Salah satunya yang paling fenomenal adalah proses penurunan Al-Quran kepada Nabi Muahammad Saw. Data-data teologis dan historis merekam kejadian itu (lihat misalnya QS. Al-Qadr [97]:1-5; QS. Ad-Dukhân [44]: 4-5), sehingga tak ada tempat bagi umat manusia untuk meragukan atau bahkan mendustakannya.

Kemahadahsyatan malam seribu bulan itu terlihat secara tekstual misalnya pada kata lailatul qadr yang diulang sampai tiga kali dalam surat Al-Qadr. Karena status dan kedudukannya yang begitu agung, tak berlebihan bila Rasul Saw kerap memerintahkan kepada diri, keluarga dan umatnya agar selalu memperbanyak amal saleh dan ibadah pada malam itu.

Hikmah Terkini Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikmah Terkini Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikmah Terkini Lailatul Qadar

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?

Dari Aisyah, ia berkata bahwa Nabi Saw ketika memasuki sepuluh malam terakhir [di bulan Ramadhan], beliau mengencangkan perutnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Apa yang dilakukan Rasul Saw ini menunjukkan betapa banyak hikmah dan rahasia di balik malam seribu bulan. Sehingga tidak saja dirinya yang diajak untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, tapi juga keluarganya. Hanya saja daya tangkap atas rahasia dan hikmah itu tentu berbeda antara satu dengan yang lain, tergantung dari tingkat kejernihan pikiran dan kesucian hati seseorang.

 

Hari Santri 2018

Hikmah Kekinian Lailatul Qadar. Dalam konteks kekinian, sejatinya banyak hikmah, pesan dan pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa lailatul qadar. Pertama, lailatul qadar mengajarkan kepada kita tentang pentingnya fungsi manajeman hidup yang -menurut Henri Fayol (1841–1925 M)- meliputi perencaan (planning), pengorganisasian (organizing), dan pengawasan (controlling) dan evaluasi (evaluating). Pesan ini terinspirasi dari pemahaman atas makna dasar term lailatul al-Qadr yang berarti malam penentuan/ketetapan (takdir). Menurut pemahaman ini, maka pada malam itulah Allah “merencanakan”, “mengorganisasikan”, “mengawasi” sekaligus “mengevaluasi” tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) serta hak seluruh umat manusia. Inilah kesan yang tersirat dari firman Allah; fîhâ yufraqu kullu amrin hakîm (di malam itu, dijelaskan [kepada malaikat] tiap-tiap perkara yang mengandung hikmah) (QS. Ad-Dukhan [44]: 4), dan kalimat min kulli amr (dari tiap-tiap perkara) dalam QS. Al-Qadr [97]: 4.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, maka pesan pertama ini memberikan wejangan kepada para penguasa untuk mengatur bangsa ini secara serius dalam semua lini kehidupan; pendidikan, lapangan pekerjaan, kesehatan, keamanan dan kebudayaan. Fungsi manajemen juga harus dilakukan dengan baik dan maksimal, tidak sekadar formalitas dan dalam konteks menghabiskan anggaran. Jika pesan pertama ini dilakukan dengan baik, niscaya huru-hara dan carut marut kehidupan berbangsa dan bernegara tidak akan pernah terjadi di negeri ini.

Kedua, mengatur (memanage) hidup harus dilakukan secara periodik –minimal setahun sekali- dan berkesinambungan. Pesan ini tersirat dari ayat tanazzalul malâ’ikatu (QS. Al-Qadr [97]: 3). Menurut para mufasir, bentuk asli kata tanazzalu (turun temurun) adalah tatanazzalu, namun huruf tâ’ yang pertama dibuang untuk memudahkan bacaan. Jika demikian, maka tatanazzalu adalah fi’il mudhâri’ (present continuous tense), yang dalam kaedah bahasa Arab mengandung makna kekinian (al-hâdhir) dan kontinuitas (al-istimrâr). Dari pemahaman semacam ini, maka umat Islam dan seluruh lapisan bangsa, sejatinya diajak untuk terus serius dan komitmen mengatur kehidupan umat dan bangsa ini.

Hari Santri 2018

Ketiga, aturan, sistem dan manajemen yang ditetapkan harus berorientasi jangka panjang dan untuk kebaikan bersama. Ini adalah kesan dari ayat khairun min alfi syahrin (lebih baik dari seribu bulan) (QS. Al-Qadr [97]: 2). Jadi selama sistem yang digunakan masih berbasis pada kepentingan sesaat; kini-saat ini dan di sini, apalagi kepentingan kelompok dan orang perorang, maka sistem itu tidak akan membawa dampak signifikan bagi perbaikan kehidupan ini.

Keempat, peristiwa yang terjadi pada lailatul qadar –khususnya nuzulul Qur’an- mengajak kepada kita untuk me-nuzul-kan (menurunkan) Al-Qur’an ke dalam relung jiwa dan seluruh aspek kehidupan, baik pribadi maupun sosial kenegaraan. Kata anzalnâ di awal surat Al-Qadr -yang menggunakan diksi anzala, yang berbentuk fi’il mâdhî (past tense)- menunjukkan bahwa penurunan Al-Qur’an ke dalam diri manusia itu harus dilakukan secara totalitas dan sungguh-sungguh. Dengan demikian, Al-Quran tidak lagi sekadar dirapal secara kuantitatif, tapi jauh di atas itu adalah bagaimana Al-Quran dapat berfungsi secara kualitatif pada hidup dan kehidupan ini. Berfungsi secara kualitatif mengandaikan pembacaan dan pengkajian yang begitu mendalam, kontinyu, terprogram dan pengejawantahan secara maksimal dalam keseharian.

Sementara me-nuzul-kan Al-Quran dalam konteks sosial kenegaraan berarti menjadikannya sebagai basis utama dalam menentukan regulasi dan kebijakan. Regulasi yang berbasis pada Al-Quran berarti regulasi yang pro rakyat, pro kepentingan bangsa, pro kaum dhu’afa, fakir miskin dan kaum marginal. Kebijakan yang Qur’ani berarti kebijakan yang berorienstasi dan mengedepankan nilai-nilai dasar, karakter dan jati diri kebangsaan, bukan pro asing, apalagi tunduk dan patuh pada keinginan mereka.

Kelima, peristiwa lailatul qadar juga mengajak kita untuk menyebarkan perdamaian dan kedamaian (salâm). Perdamaian dan kedamaian itu harus terus disebarkan umat Islam dan seluruh lapisan bangsa ini, hingga benar-benar mewujud dalam kehidupan seru sekalian alam. Secara sufistik, term hattâ mathla’il fajr (hingga terbit fajar) (QS. Al-Qadr [97]: 5) berarti hingga (perdamaian dan kedamaian) itu termanifestasi dalam seluruh semesta alam, bagi semua makhluk ciptaan Tuhan, tanpa melihat perberdaan latarbelakang dan status sosial. Kata fajr di akhir ayat itu juga mengisyaratkan kedamian, kesejukan, keindahan dan kesentosaan. Carut marut kehidupan di berbagai belahan bumi Islam, khususnya di Indonesia belakangan ini, adalah bentuk penodaan terhadap visi salâm (perdamaian dan kedaiaman) yang dititahkan Tuhan dalam Al-Quran.

Dengan demikian, lailatul qadar bukanlah sekadar peristiwa biasa yang layak diperingati secara seremonial, tapi jauh di atas itu, lailatul qadar adalah peristiwa adiluhung dimana masa depan hidup dan kehidupan manusia ditentukan. Maka tak ada pilihan lain bagi kita semua, khususnya umat Islam Indonesia, kecuali menyebarkan perdamaian dan kedamaian di negeri ini. Tentu harus diawali dengan pemahaman yang mendalam dan semangat mencari serta mengisi malam lailatul qadar dengan amal saleh dan ibadah-ibadah individual maupun sosial. Wallahu A’lam.

 

M. Ulinnuha Husnan, Asdir Program Pascasarjana STAINU Jakarta Kajian Islam Nusantara

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul, Bahtsul Masail, Syariah Hari Santri 2018

Senin, 09 Oktober 2017

Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang

Yogyakarta, Hari Santri 2018. Pesantren Kaliopak Bantul akan mengadakan “Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia (UNESCO 2003-2014)”. Pesantren yang terletak di jalan Wonosari Km 11 Klenggotan Srimulyo Bantul ini akan melangsungkan acara sejak 10 November 2014 hingga 6 Desember 2014.

Wayangpedia.com, Jum’at (7/11), menyebutkan, meskipun wayang merupakan khasanah seni tradisi yang sudah tidak asing lagi di Indonesia, namun fakta menunjukkan bahwa pemahaman dan pengahayatan terhadap wayang di tanah air justru semakin merosot.?

Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kaliopak Gelar Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang

Berdasarkan pengalaman pesantren Kaliopak yang telah mengadakan dua kali pagelaran wayang 11 lakon, 11 dalang, dan 11 malam pada tahun 2011 dan 2013, banyak kalangan terutama kaum muda masih kesulitan memahami serta mengapresiasi wayang.

Hari Santri 2018

Berangkat dari kenyataan demikian, pesantren Kaliopak berupaya menumbuhkan, mewadahi, serta meningkatkan daya apresiasi anak muda terutama santri terhadap pagelaran wayang.

Hari Santri 2018

Kegiatan ini merupakan kerjasama Komunitas Rumah Budaya Nusantara Pesantren Kaliopak dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, serta dukungan Lesbumi, Kedaulatan Rakyat, Hari Santri 2018, JogjaReview.net, serta berbagai lembaga, individu, serta komunitas budaya peduli wayang.

Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia mempersembahkan Sarasehan Epos Mahabharata, Lakon-lakon wayang Jawa dan Filsafat Humaniora Barat: Dibaca Berdampingan, Seminar Nasional Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Belajar Bersama Wayang, Pesantren, dan Jati Diri Bangsa, Pameran Bentuk dan dan Komik Wayang, Lomba Mewarnai dan Dongeng Wayang, Wayang Edukatif, dan Pentas ? Seni ? Tradisi dan Modern Tunggal.

Pada 6 Desember 2014, pekan wayang ini ditutup dengan pagelaran wayang kulit. (Dwi Khoirotun Nisa’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Syariah, Pondok Pesantren Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock