Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba

Purwrejo, NU online

Menggunakan momentum Masa Kesetian Anggota dan Kemah Pelajar, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menggelar deklarasi memerangi narkoba. Deklarasi tersebut diikuti oleh sekitar 250 pelajar NU se-Kecamatan Bener.

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba

Ketua PC IPNU Kecamatan Bener Muhammad Shofiyudin mengatakan, deklarasi tersebut merupakan sebuah komitmen awal IPNU-IPPNU di tingkatan pelajar untuk melawan narkoba. “Pelajar NU jangan sampai pasif terhadap pelbagai persoalan di kalangan pelajar, harus menjadi yang terdepan,” ungkapnya.

Setelah deklarasi yang berlangsung Sabtu (1/10) di Aula SMK Ma’arif NU Bener itu, diselenggarakan Seminar Anti Narkoba yang diisi oleh Kapolsek Bener AKP Kitfirul Aziz. “Kita kumpulkan semua perwakilan pelajar se-Kecamatan Bener baik dari sekolah negeri maupun swasta untuk bersama-sama menyatukan barisan,” imbuhnya.

Hari Santri 2018

Menurut AKP Kitfirul Aziz, NU beserta banom-banomnya telah terbukti dalam berperan aktif dalam membangun masyarakat.

Hari Santri 2018

“Badan otonom NU selalu terlibat dalam membangun spiritual dan sosial masyarakat, termasuk narkoba. Maka saya harapkan, rekan-rekan dari IPNU-IPPNU meneruskan semangat positif tersebut,” pungkasnya. (Ahmad Nasuhan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Minggu, 18 Februari 2018

Lomba Mewarnai dan Berbagi Alat Tulis di Surakarta Meriahkan Harlah PMII

Solo, Hari Santri 2018 - Momentum Hari Lahir (Harlah) Ke-56 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dirayakan oleh para kader PMII Kentingan UNS Surakarta. Mereka mengadakan kegiatan bakti sosial (baksos) dan lomba mewarnai di Taman Cerdas Jebres, Surakarta, Ahad (17/4).

“Sumbangan berupa alat tulis, iqro’, dan buku panduan shalat. Kita serahkan bantuan kepada anak-anak di lingkungan sekitar kampus,” terang Ketua PMII Kentingan Tsaniananda.

Lomba Mewarnai dan Berbagi Alat Tulis di Surakarta Meriahkan Harlah PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Mewarnai dan Berbagi Alat Tulis di Surakarta Meriahkan Harlah PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Mewarnai dan Berbagi Alat Tulis di Surakarta Meriahkan Harlah PMII

Ninda menambahkan, aksi sosial ini merupakan media untuk lebih mendekatkan diri PMII dengan masyarakat khususnya anak-anak yang kelak menjadi generasi penerus bangsa.

“Kita rasakan keresahan di kampus. Salah satunya semakin kentaranya pendewasaan dini pada anak-anak. Kami di PMII ingin merespon hal tersebut,” ujarnya.

Hari Santri 2018

Dalam momen harlah ini PMII Kentingan juga mengadakan acara lomba mewarnai, khataman Al-Qur’an, outbond, dan refleksi.

Hari Santri 2018

Ia berharap ke depan PMII menjadi lebih berjaya. “Harapan kami untuk PMII di momentum Harlah ke-56 ini semoga bisa menambah peran dan memperkuat semangat juang PMII yang telah dirintis para pendahulu,” ucap Vika, salah satu aktivis PMII Kentingan. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul, Pemurnian Aqidah, Santri Hari Santri 2018

Rabu, 07 Februari 2018

PKL PMII Makassar Akan Hadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal

Makassar, Hari Santri 2018. Pelatihan Kader Lanjut (PKL) Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Makassar, Sulawesi Selatan akan menghadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal yang juga mantan Wakil Menteri Agama Prof. KH Nasaruddin Umar.

Ketua PC PMII Kota Makassar Muhammad Basri L menjelaskan, Mustasyar PBNU tersebut hadir sebagai narasumber yang akan menjelaskan detail konsep Islam Rahmatan lil Alamiin.

PKL PMII Makassar Akan Hadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)
PKL PMII Makassar Akan Hadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)

PKL PMII Makassar Akan Hadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal

"Maraknya aliran-aliran saat ini bisa berekses buruk terhadap negara. Apalagi jika ujungnya kekerasan dan disintegarasi. PMII Sulsel khususnya Makassar akan menggali kembali konsep dasar Islam Rahmatan lil Alamiin. Sehingga kita bisa memahami Islam yang sebenarnya," katanya, Senin (19/9).

Hari Santri 2018

PKL dijadwalkan berlangsung 23-29 September di Gedung BLKI, Makassar. Ditambahkan Basri, sapaan akrabnya, peserta PKL merupakan utusan cabang PMII Se-Sulsel, bahkan menurutnya sudah ada peserta dari utusan Kaltim.

Selain materi tentang keislaman, forum PKL juga akan membedah tentang kepemimpinan, advokasi, ideologi, termasuk pemetaan peta sosial, ekonomi, politik domestik dan internasional.

Hari Santri 2018

Harapannya dari PKL ini agar kader-kader PMII ketika kembali ke wilayahnya masing-masing bisa menentukan spesialisasi dalam gerakannya di masyarakat, sesuai dengan kebutuhan daerahnya, ujar Basri yang merupakan kader PMII dari Rayon Fakultas Ekonomi Komisariat Universitas Muslim Indonesia (UMI).

"Kader PMII harus berdaptasi dengan perubahan zaman yang tidak bisa dibendung lagi. Salah satu caranya dengan menguatkan pondasi keilmuan dan pengetahuan kader."

PKL merupakan jenjang kaderisasi formal organisasi kemahasiswaan yang punya hubungan historis dengan Nahdlatul Ulama (NU). (Aras Prabowo/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Senin, 05 Februari 2018

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Judul: Piagam Perjuangan Kebangsaan

Editor : Abdul Mun’im DZ

Penerbit: Setjen PB NU-Hari Santri 2018, Jakarta Pusat

Cetakan: 2011

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Tebal: 147 hlm

Peresensi: Hairul Anam*)

Hari Santri 2018

Sejarah itu ubahnya mutiara terpendam di dasar lautan. Cahayanya tak bakal mampu berkilau dan melahirkan kekaguman bagi siapa pun, manakala tak ada yang mengangkatnya ke permukaan. Karena itu, menemukan sekaligus memeliharanya merupakan langkah bijak untuk dijadikan acuan dalam memberi penilaian. Dan pada waktu itu juga, sejarah akan menghadirkan dirinya dengan ragam pencerahan.

Hari Santri 2018

Pada aras itu, sejarah sepak terjang NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia, tampaknya masih belum diketahui banyak kalangan. Akibatnya, NU acap kali diidentikkan dengan organisasi yang hanya berkutat dengan ranah ibadah mahdhah. Bahkan, dituduh sebagai organisasi yang irasional, bid’ah, sinkretis, dan sebagainya.

Buku Piagam Perjuangan Kebangsaan ini hadir untuk mengabadikan segala ‘jasa-jasa’ perjuangan NU terhadap bangsa di bumi persada ini. Banyak peristiwa penting yang terekam kuat di dalamnya. Berbagai piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam bidang politik dan kebangsaan dapat dibaca jelas dalam buku tipis ini. Menariknya, dalam buku ini, hal itu disusun secara sistematis berdasarkan urutan tahun kejadian.

Dimulai dari Piagam Nahdlatul Wathon (1916). Dilatarbelakangi keprihatinan Kiai Wahab Chasbullah melihat kondisi bangsanya yang terbelakang karena terjajah, lahirlah usaha dari beliau untuk membangkitkan bangsa dengan membentuk organisasi pergerakan yang diberi nama Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan). Selanjutnya, organisasi ini merambah ke berbagai daerah di Indonesia.

Pada tahun 1918, diketuai oleh Syekh Hasyim Asy’ari dan disekretarisi oleh Kiai Wahab Chasbullah, dicetuskanlah Piagam Nahdlatut Tujjar. Organisasi yang concern pada wilayah dagang ini merupakan embrio dari NU. Melaluinyalah aspirasi warga NU dapat tersampaikan pada Raja Saudi tatkala digelar Komite Hejaz.

Mengenai Deklarasi Komite Hejaz (7 Mei 1928) yang fokus pada perjuangan kebebasan beragama, juga terabadikan dalam buku ini. Kala itu, kota Suci Mekah sebagai pusar peradaban Islam menjadi tempat belajar bagi Muslim dari seluruh dunia termasuk Indonesia. Munculnya gerakan Wahabi di Saudi Arabia berpengaruh langsung terhadap Islam di negeri ini. Pulangnya beberapa pelajar asal Sumatera Barat tahun 1808 yang terpengaruh Wahabi mulai menyiarkan ajaran ekstrem yang kemudian tumbuh gerakan Paderi, yang mengajarkan Islam puritan ke Indonesia. Kemudian berkobarlah perang Paderi (perang antar mazhab) dalam agama Islam. Tradisi Islam yang berusaha mengintegrasikan Islam dengan budaya Nusantara, mereka obrak-abrik dengan kekerasan. Dalam batas tertentu, hal itu dapat diredam dengan terbitnya Deklarasi Komite Hejaz. (hal. 30-35)

Mukadimah Qanun Asasi (1926), Piagam Indonesia sebagai Negara Bangsa (1936), Deklarasi Mabadi Khoiro Ummah (1939), Deklarasi Resolusi Jihad I (1945/46), Piagam Waliyul Amri (1954), dan Piagam Liga Muslimin Indonesia (1952) dapat ditemukan keasliannya dalam buku ini. Tidak hanya dicantumkan, tapi juga disertai dengan latar belakang piagam dan deklarasi tersebut ditorehkan.

Selain itu, masih ada Deklarasi Demokrasi Pancasila (1967), Piagam Hubungan Agama dengan Pancasila (1983), Deklarasi Khittah Nahdliyah (1984), Pedoman Berpolitik Warga NU (1989), Mufakat Demokrasi (1991), Piagam Perdamaian Dunia (2004), Maklumat Kebangsaan Nahdlatul Ulama (2006), dan yang terbaru ialah Maklumat Menyelamatkann NKRI (2011).

Harus diakui, keberhasilan NU dalam berperan serta memelihara keutuhan bangsa ini tidak terlepas dari sikap kebangsaan yang dipilihnya. Ia selalu mengedepankan sikap moderat dalam menyikapi masalah, dan terpenting ialah toleran terhadap ragam perbedaan. Hal inilah yang menjadi kekuatan utama yang naif manakala tidak diteladani oleh generasi muda Indonesia.

Secara akumulatif, Piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam buku ini penting diketahui sekaligus dipahami oleh semua kalangan. Ini adalah buku sejarah kebangsaan yang dilahirkan oleh organisasi yang sedari berdiri amat peduli terhadap keutuhan NKRI. Meminjam bahasa Abdul Mun’im DZ, mempelajari fakta historis itu bukan untuk membangun romantisme masa lalu, tetapi sebuah upaya menggali gudang peluru sebagai amunisi menggerakkan masa depan.

Akhirnya, buku ini mendesak dimiliki oleh siapapun. Warga Indonesia yang betul-betul punya kepedulian terhadap bumi pertiwi, rugi rasanya bila tak mengoleksi buku setebal 147 halaman ini. Saya merekomendasikan agar buku ini dijadikan rujukan oleh kalangan peneliti agar tidak bias dalam ‘membaca’ NU.

* Penggiat buku di Intitut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Cerita, Tegal Hari Santri 2018

Rabu, 31 Januari 2018

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi

Ponorogo, Hari Santri 2018

Siapa yang tak ingin menjadi pelajar berprestasi namun juga pandai dalam berorganisasi. Jawabannya pasti mereka memimpikan keduanya. Sebab pelajar yang aktif dalam organisasi akan lebih unggul dari segi wawasan dan akademis?

Hal inilah yang menjadi dasar puluhan pelajar NU dan perwakilan pengurus OSIS dari sekolah di Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mengikuti training motivasi belajar bertema ‘Berorganisasi tetap Berprestasi’ yang digelar oleh Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU Desa Karangjoho, Kecamatan Badegan, Ponorogo, Jawa Timur akhir pekan lalu.

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi

Ketua IPNU Karangjoho, Dimas Saputra mengatakan, para pelajar yang terjun dalam sebuah organisasi tidak boleh mengesampingkan tugas utamanya sebagai seorang pelajar, yakni mempelajari dan mendalami berbagai disiplin ilmu di sekolah. ”Kami sengaja menggelar kegiatan semacam ini, dengan tujuan memberikan motivasi kepada pelajar, bahwa dalam kita berorganisasi bukanlah menjadi penghalang untuk tetap berprestasi,” katanya di balai desa Karangjoho.

Dimas mengajak kepada anggota IPNU-IPPNU untuk pandai membagi waktu belajar dengan waktu berorganisasi. Jangan sampai prestasi belajar di sekolah tertinggal jauh karena terlalu sibuk berorganisasi. ”Mari kita pegang prinsip belajar diutamakan, organisasi dinomersatukan, akademis oke, organisasi oke,” ujarnya.

Hari Santri 2018

Sementara itu, Ali Fahruddin pembina IPNU-IPPNU Karangjoho sangat mengapresiasi kegiatan motivasi belajar semacam ini. Kesadaran pelajar NU untuk terus berprestasi harus dipupuk sejak dini. Agar kelak kader-kader NU dapat lebih berperan dalam membangun bangsa dan negaranya.?

“Apalagi di era seperti sekarang ini, pelajar NU haruslah bisa menjadi contoh, sebagai kalangan pelajar yang memang terpelajar, bukan malah menjadi pelajar yang kurang belajar,” tandasnya.

Hari Santri 2018

Materi motivasi belajar ini disampaikan oleh Qurrota A’yun, lulusan terbaik jurusan matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). A’yun memberikan kiat-kiat khusus agar para pelajar memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Kiat ini berdasarkan pengalaman pribadinya yang pernah berkecimpung dalam kepenguruasan IPPNU Ponorogo hingga dapat mengantarkanya mengikuti pertukaran pelajar di Korea Selatan.

Berdasarkan pengalaman inilah diharapkan para pelajar NU Ponorogo dapat terinspirasi dan bisa termotivasi untuk giat belajar dan giat berorganisasi. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Santri, Pemurnian Aqidah, Nasional Hari Santri 2018

Senin, 29 Januari 2018

Raghbah

Oleh Kuswaidi Syafiie

Termasuk yang didedahkan oleh Allah SWT dalam kitab suci Taurat pada lempengan keenam, Lawh al-Ubudiyyah, adalah pelajaran ruhani tentang raghbah: suatu kegandrungan diri terhadap kemilau hati ketimbang terhadap tabiat yang buruk. Kebaikan-kebaikan merupakan obyek sekaligus orientasi raghbah.

Menurut Syaikh Muhyiddin Ibn Arabi (1165-1240) dalam kitab Ishthilahat ash-Shufiyyah halaman 292, raghbah itu terbagi menjadi tiga sesuai dengan hirarki konponen-komponen spiritual dalam diri manusia. Pertama, kegandrungan nafsu terhadap pahala-pahala.

Allah SWT sengaja menciptakan nafsu yang merupakan sumber meletupnya keinginan dalam diri manusia. Inilah ujian terbesar. Karena obyek dari keinginan itu tidak saja segala hal yang baik dan terpuji, tapi juga berbagai macam hal yang bangat, picisan dan sia-sia. Sehingga tidaklah mengherankan kalau di antara manusia banyak sekali yang lebih cenderung kepada segala sesuatu yang lain dibandingkan terhadap Allah SWT.

Ketika keinginan-keinginan nafsu itu sudah tersaring dan mengerucut kepada yang baik-baik saja, maka yang diincar dan menjadi tumpuan pokoknya adalah pahala-pahala. Itulah sebabnya kita kemudian menjadi paham kenapa Allah SWT seringkali mengungkapkan logika untung-rugi bagi orang-orang yang kesadaran religiusnya masih berada pada tingkatan nafsu.

Raghbah (Sumber Gambar : Nu Online)
Raghbah (Sumber Gambar : Nu Online)

Raghbah

Islam berbicara tentang pahala-pahala yang berlipat-lipat dari suatu amal kebaikan yang dikerjakan oleh seseorang, berbicara tentang kenikmatan-kenikmatan di alam kubur, berbicara tentang surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, berbicara tentang perhiasan-perhiasan surgawi yang menyenangkan mata, berbicara tentang makanan dan minuman yang lezat-lezat, berbicara tentang bidadari-bidadari teramat cantik yang dupingit di kemah-kemah: semua wujud kemurahan Allah SWT itu diwartakan untuk membuat semangat nafsu manusia mengerjakan kebaikan demi kebaikan.

Kedua, kegandrungan hati pada hakikat. Tingkatan hati ini tentu saja berada di atas tingkatan nafsu. Hati yang nyalang dan bersih dari pamrih-pamrih duniawi dan imbalan-imbalan ukhrawi sekaligus akan senantiasa merasakan nikmat berkonsentrasi terhadap rububiyyah atau peran-peran Allah SWT pada setiap gerakan dan perkembangan semua ciptaan-Nya.

Sudah dapat dipastikan bahwa sarana yang dipakai untuk suntuk menyaksikan peran-peran-Nya pada segala sesuatu tak lain adalah bashirah atau matan batin. Tidak mungkin mata kepala semata. Sebab yang didapatkannya pastilah hanyalah rupa, warna dan bentuk. Sementara mata batin sanggup menangkap makna keagungan dan kehadiran-Nya.

Hari Santri 2018

Yang biasanya pertama kali disaksikan oleh seorang salik adalah bergesernya sifat-sifat yang dimilikinya sendiri karena didesak oleh kehadiran sifat-sifat Allah SWT. Betapa sangat gamblang di kejernihan bashirahnya bahwa Tuhan semesta alam itu telah melakukan pembimbingan terhadap dirinya untuk menempuh proses-proses yang akan menyebabkan si salik itu terdorong untuk semakin mendekat pada hadirat-Nya.

Setelah sempurna hinggap pada diri si salik, peran-peran ketuhanan itu kemudian disaksikan bertengger pada segala sesuatu. Tidak ada apapun di dunia ini dengan semua isinya kecuali peran-peran ketuhanan juga bertaha di situ. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehadiran peran-Nyalah yang menjadikan semua yang ada mengalami wujud sekaligus eksis.

Maka wajar kemudian kalau pada kedudukan spiritual ini seorang salik semakin semangat menabung potensi demi potensi ruhani untuk mempersiapkan diri menyongsong dimensi kewalian yang sempurna. Dengan getar-getar spiritualnya yang paling sublim, si salik lalu mempertegas dirinya berpaling dari segala sesuatu selain hadirat-Nya.

Ketiga, kegandrungan batin (sirr) pada Allah al-Haqq. Kerja sirr itu mukalamah atau berbincang-bincang dengan hadirat-Nya. Berarti ketika seseorang telah sampai pada kedudukan raghbah tertinggi ini, maka dapat dipastikan bahwa dia akan diangkat oleh Allah SWT sebagai teman dialog yang dalam terminologi sufismenya dikenal dengan sebutan nadim yang secara harfiah berarti kawan minum.

Hari Santri 2018

Dalam konteks rasionalisme religius dapat kita afirmasi dengan sangat meyakinkan kenapa seseorang yang telah mencapai kedudukan spiritual ini mesti senantiasa gandrung kepada Allah SWT semata. Bukan kepada pahala-pahala. Bukan pula kepada hakikat segala sesuatu.

Saya kira jawabannya merupakan suatu keniscayaan bahwa ketika seorang salik telah diperkenankan untuk berbincang-bincang dengan Allah SWT, berarti dia sudah dianugerahi kesempatan yang luas untuk senantiasa tertegun memandang keindahan wajah-Nya yang menjadikan sepele seluruh keindahan yang lain.

Sejak saat itulah si salik itu akan senantiasa terfokus dan tersedot kepada hadirat-Nya belaka. Pengembaraan spiritual sudah "rampung." telah dia terobos hutan dunia dengan segala kenikmatan-Nya. Telah dia lampaui akhirat dengan segala kemegahannya. Telah dia genggam apapun yang selain-Nya. Hidupnya bernilai Allah SWT semata. Wallahu alamu bish-shawab.

?

Kuswaidi Syafiie adalah penyair, juga pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Olahraga Hari Santri 2018

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

Jombang, Hari Santri 2018 - Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) Jombang, Jawa Timur bersama Ikatan Remaja Muslim (Ikram) berkomitmen untuk menguatkan Islam yang menebar kasih sayang kepada semua (rahmatan lil ‘alamin).

Hal itu tercermin dari penyelenggaraan acara Muhasabah Tahun Baru 1438 H dengan tema “Mewujudkan Karakter Remaja Muslim dengan Spirit Islam rahmatan lil Alamin” di Islamic Center Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, Ahad pagi (30/10). Kegiatan diiringi dengan iringan shalawat al-Banjari.

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

?

"Acara ini dimaksudkan agar para siswa didampingi pemahaman Islam yang mainstream, yaitu Islam yang ramah dan moderat dan terlindungi dari sementara kalangan Muslim yang ekstrem," ujar Ketua MGMP PAI Jombang, Shalahuddin.

Direktur Aswaja NU Center Jombang Yusuf Suharto mengatakan bahwa muhasabah atau introspeksi diri adalah sebuah keniscayaan.

Hari Santri 2018

"Kita muhasabah dalam banyak kesempatan antara lain, di Ramadhan, di Syawal, dan di bulan Muharram. Muharram adalah bulan pertama dalam hitungan tahun hijriah. Momentum Muharram sebagai bulan introspeksi adalah tepat karena bulan ini adalah awal bulan tahun hijriah, dan bulan yang setelah bulan haji di mana banyak berkumpul kaum muslimin dari seluruh dunia untuk ibadah haji," ujarnya di hadapan para siswa, dan guru MGMP PAI se-Jombang.

Hari Santri 2018

?

Menurutnya, tahun baru Islam ini disebut dengan hijriah karena ditandai dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Hijrah ini adalah gerakan nyata yang perlu dicatat sejarah. Hijrah Nabi disepakati sebagai penanda penting kalender Islam pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab.

"Di antara yang dilakukan Rasulullah adalah beliau membuat Mitsaq Madinah atau Piagam Madinah, dan itu mengikat tidak hanya kepada masyarakat Madinah yang muslim, tapi juga nonmuslim. Inilah penghargaan kemajemukan yang dicontohkan Rasulullah," kata pengurus Dewan Pendidikan Jombang ini.

Yusuf juga mengatakan, NKRI adalah bentuk perjanjian bersama antarmasyarakat Indonesia yang majemuk. “Islam rahmatan lil alamin dalam konteks berbangsa dengan demikian adalah Islam yang merahmati tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi bahkan kepada seluruh masyarakat Indonesia," imbuhnya.

Ia mengingatkan bahwa semangat cinta tanah air sudah diajarkan oleh para ulama Nusantara, antara lain oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, dan gubahan lagu Ahlal Wathan pada 1934.

“Karakter Islam Nusantara adalah karakter Islam yang moderat. Mari kita menjadi bagian dari Muslim negeri ini, dengan prinsip Islam yang rahmat, Islam yang lembut pada tempatnya dan tegas pada tempatnya," pungkas dosen Aswaja Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto Jatim ini. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Pemurnian Aqidah, Khutbah Hari Santri 2018

Kamis, 18 Januari 2018

Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara

Pringsewu, Hari Santri 2018. Madrasah Aliyah Maarif NU Keputran, Sukoharjo, Pringsewu, Lampung tak henti menorehkan prestasi khususnya dibidang olahraga atletik. Setelah meraih prestasi diberbagai lomba baik tingkat Kabupaten maupun Provinsi, Madrasah Favorit di Kabupaten Pringsewu ini berhasil memborong piala pada ajang Lomba lari 5 K yang diselenggarakan oleh Kantor Kecamatan Sukoharjo.

Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara

Piala-piala yang dikoleksi pada ajang yang digelar dalam Rangka HUT ke-72 RI tersebut disumbangkan oleh atlet putra meliputi Juara 1 Lari 5 KM atas nama M. Syahrul Fahmi, Juara 2 Lari 5 KM atas nama Jaini Munir, Juara 3 Lari 5 KM atas nama Ridotus Sofyan dan Juara 5 Lari 5 KM atas nama M. Lutfi Yusuf.

Sementara untuk atlit puteri berhasil menyumbangkan piala yaitu Juara 2 Lari 5 KM atas nama Elmi Viki Husnul dan Juara 5 Lari 5 KM atas nama Siti Mustika.

Tidak hanya dari lomba lari, duta atlit MA Maarif Keputran juga berhasil menambah 3 koleksi piala dengan berhasil memborong juara 1 Gerak Jalan Putera dan Juara 1 dan 2 Gerak Jalan Puteri.

"Diregu putera berhasil meraih Juara satu setelah unggul dari SMKN 1 Sukoharjo sebagai Juara 2 dan MA Darul Ulum sebagai Juara 3. Sedangkan diregu puteri berhasil menjadi Juara 1 dan 2 diikuti SMAN 1 Sukoharjo sebagai juara 3," kata Kepala Madrasah tersebut Irsadul Ibad sesaat setelah kegiatan.

Hari Santri 2018

Atas raihan ini, Irsad yang juga Sekretaris LP Maarif NU Kabupaten Pringsewu ini mengaku bahagia sekaligus bingung karena tempat khusus piala yang ada di Madrasahnya sudah tidak cukup lagi menampung piala tersebut.

"Pastinya piala tersebut disimpan sementara ditempat lain sambil menunggu lemari baru khusus piala rampung dipesan," katanya, Rabu (16/8).

Rasa bahagia dan dukungan juga diungkapkan salah satu Guru Madrasah tersebut Wawan Krisdiyanto melalui Media Sosial Facebook miliknya.

Hari Santri 2018

"Alhamdulillah tetap istiqomah dan rendah hati ya santri-santriku dari MA Maarif Keputran. Selamat atas orestasi yang telah dicapai. Jangan puas sampai dengan ditingkat ini saja, masih ada jenjang yang lebih tinggi lagi, terus berlatih dan berkarya untuk MA Maarif tercinta kita, Allohu Akbar," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Selasa, 16 Januari 2018

Inilah Ciri Puasa Orang Khawash Menurut Imam Al-Ghazali

Standar minimal puasa adalah menahan diri dari kehendak syahwat perut dan kelamin. Puasanya sah meskipun pada praktinya segenap panca indranya menginjak nilai-nilai ibadah puasa itu sendiri. Pada standar ini, orang yang berpuasa hanya menggugurkan kewajiban puasanya tanpa memperoleh ganjaran di luar itu.

Di atas itu kualitas terendah puasa ada juga orang yang berpuasa dengan penuh kehati-hatian. Perut dan kelaminnya berpuasa. Tetapi mereka juga mengajak puasa panca indranya dari perbuatan maksiat seperti menyakiti orang lain dan larangan lainnya.

Inilah Ciri Puasa Orang Khawash Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Ciri Puasa Orang Khawash Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Ciri Puasa Orang Khawash Menurut Imam Al-Ghazali

Demikian keterangan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Maraqil Ubudiyah halaman 59 yang mengomentari karya Imam Al-Ghazali Bidayatul Hidayah.

Hari Santri 2018

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Hai muslim, kalau kau berpuasa jangan mengira puasa hanya menahan perut dan kelamin dari kehendak syahwatnya, yakni tidak makan, minum, dan jimak semata.

Hari Santri 2018

Rasulullah SAW bersabda, ‘Betapa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apapun dari puasanya selain lapar dan haus.’ Hal ini terjadi karena mereka tidak menahan anggota tubuhnya dari hal-hal yang makruh. Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan mengamalkan kedustaan, maka Allah SWT tidak memerlukan pengorbanan puasanya.’

Karenanya kesempurnaan puasa itu dapat terwujud dengan menahan segala anggota tubuh seperti pendengaran, penglihatan, ucapan, perbuatan tangan dan kaki, dan anggota tubuh lainnya dari segala dosa yang dibenci Allah SWT.

Inilah karakter puasa orang-orang saleh yang dikenal dengan sebutan ‘puasa khusus’. Bagi mereka, kesempurnaan puasa dapat diraih dengan menahan lima anggota tubuh tersebut dari dosa yang dimakruh.”

Bahkan orang-orang saleh ini mengisi waktu-waktu puasanya dengan aktivitas positif. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, IMNU Hari Santri 2018

Minggu, 07 Januari 2018

PBNU Bawa Persoalan Disabilitas ke Munas-Konbes NU Lombok

Jakarta, Hari Santri 2018



Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyatakan dihadapan penyandang disabilitas bahwa persoalan disabilitas akan dibawa ke perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Lombok, Nusa Tenggara Barat November mendatang.

PBNU Bawa Persoalan Disabilitas ke Munas-Konbes NU Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Bawa Persoalan Disabilitas ke Munas-Konbes NU Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Bawa Persoalan Disabilitas ke Munas-Konbes NU Lombok

“Insyaallah nanti di Munas juga akan kita usulkan NU membangun masjid yang ramah dengan disabilitas,” kata Kiai Said pada acara Sarasehan Pesantren Inklusi yang bertemakan Sosialisasi UU RI Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas di Pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (6/10)

Menurut Kiai asal Kempek, Cirebon ini, para penyandang disabilitas harus disentuh dan diperhatikan.

“Akan kita usulkan terutama kalau saya ketemu Presiden akan saya sampaikan bahwa ada warga negara Indonesia, warga NU, agamanya kuat, moralitasnya tinggi, punya semangat yang tinggi, walaupun mereka penyandang cacat atau kurang sempurna tapi sebagai bangsa mereka mempunyai semangat tinggi, berbudaya, berakhlak, bermartabat,” terang alumnus Universitas Ummul Quro’, Mekkah, Arab Saudi. 

Pada acara yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU) ini, Kiai Said menyambut baik kegiatan yang membahas tentang para penyandang disabilitas.

Hari Santri 2018

 “Pesantren Al-Tsaqofah menyambut baik acara ini. Terima kasih Gus Ato (Ahmad Athoillah ketua panitia) Pesantren Al-Tsaqofah ditempati acara ini,” ungkapnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Sabtu, 30 Desember 2017

PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia

Jakarta, Hari Santri 2018. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengeluarkan surat instruksi yang ditujukan kepada PWNU dan PCNU yang ada di seluruh Indonesia. Mereka meminta pengurus NU wilayah dan cabang untuk menginisiasi penyelenggaraan sholat Istisqo’ di daerahnya masing-masing.

PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia

Instruksi ini dikeluarkan mengingat bencana asap, kekeringan, dan kelangkaan hujan di berbagai daerah di Indonesia. Surat ini yang ditandatangani Rais Aam KH Ma’ruf Amin, Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini.

“Kami mengajak warga NU untuk memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” seperti dirilis dalam surat instruksi Kamis, tertanggal 7 Oktober 2015.

Hari Santri 2018

Pengurus harian PBNU meminta pengurus PWNU dan PCNU untuk meneruskan maklumat ini kepada pengurus MWCNU dan ranting NU di daerah masing-masing. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Aswaja, News, Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Jumat, 29 Desember 2017

Jangan Belajar Agama dari ‘Al-Quran dan Terjemahnya’

Oleh Kiai Ahmad Ishomuddin



Ilmu-ilmu untuk memahami ajaran Islam sangatlah banyak dan luas. Ilmu-ilmu tersebut hanya bisa dipelajari dengan cara belajar langsung kepada para ahli agama (kiai, ulama) yang memiliki spesialisasi di bidangnya masing-masing. Jika seseorang mau terus menekuni satu spesialisasi bidang ilmu agama saja, niscaya umurnya akan habis sebelum penguasaan ilmu tersebut sempurna.

Jangan Belajar Agama dari ‘Al-Quran dan Terjemahnya’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Belajar Agama dari ‘Al-Quran dan Terjemahnya’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Belajar Agama dari ‘Al-Quran dan Terjemahnya’

Belajar ilmu-ilmu terkait agama hanya melalui buku-buku/kitab-kitab tanpa guru (syekh) yang berilmu mendalam, yang berpengalaman, yang mampu membimbingnya berpotensi terjerumus dalam pemahaman agama yang sesat dan setidaknya sempit. Belajar agama secara otodidak itu, tanpa disadari telah membawanya berada di jalan yang dianggapnya benar. Padahal boleh jadi sebaliknya, ia sedang berjalan cepat menapaki pemahaman agama yang salah karena salah paham yang akibatnya bisa membahayakan kemanusiaan. Sudah berapa banyak bom bunuh diri dengan alasan mengamalkan ayat-ayat tentang jihad dalam situasi damai?

Belajar mendalami ajaran Islam secara langsung (talaqqi) kepada para ahlinya sangat bermanfaat. Di antara manfaatnya adalah bahwa jiwa para murid selain akan langsung tercerahkan, juga bisa langsung meneladani tutur kata dan sikap keseharian dari para guru/syekhnya.?

Apabila keteladanan dari para guru ini terus berlangsung sepanjang waktu para murid belajar, niscaya kalimat-kalimat bijak berdasarkan ilmu dan perilaku-perilaku mulia menjadi terbiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya adalah manusia-manusia berilmu agama sangat mendalam dan berakhlak mulia, seperti selalu rendah hati, ? tidak merasa benar sendiri, tidak suka mencaci maki, tidak mudah menyalahkan orang lain yang berbeda, tidak mencari pengaruh dan popularitas, serta tidak pula cinta berlebihan kepada jabatan dan kedudukan.

Seringkali ada orang yang tidak menemukan guru ahli ilmu-ilmu agama yang bisa membimbingnya, sehingga ia belajar agama kepada sembarang orang yang tidak diketahui kepada siapa sebelumnya ia mendapatkan ilmu agama, tidak memiliki sanad (mata rantai) keilmuan yang jelas bersambung. Berbeda halnya dengan para kiai, tuan guru, ajengan di berbagai pondok pesantren lawas yang tersebar di seantero nusantara, utamanya di tanah Jawa, yang mata rantai ilmu keagamaannya jelas diperoleh secara bersambung dari para syekh/guru mereka sebelumnya.?

Hari Santri 2018

Kepada mereka, yakni para kiai alumni berbagai pesantrenlah atau kepada siapa saja yang ilmu-ilmu agamanya diakui mendalam secara luas, seharusnya kita belajar memahami agama sesuai keperluan, sehingga ilmu-ilmu agama dan ekspresi keberagamaan bermanfaat untuk kemajuan, kemanusiaan, dan perbaikan keadaan.

Belajar agama sangat tidak memadai, sangat mungkin salah paham dan membawa paham yang salah jika hanya mengandalkan buku-buku agama terjemahan dan tidak pula cukup hanya dengan membaca Al-Quran dan Terjemahnya. Sangat banyak ayat Al-Quran ditafsirkan dengan pikiran sendiri yang seringkali tidak didasari ilmu, padahal maksudnya hanya bisa dipahami setelah dijelaskan oleh hadits-hadits Nabi. Tersesatlah pemahaman agama pembacanya karena mengandalkan arti terjemahan dengan mengabaikan penjelasan ilmiah dari para mufasir. Maksud ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi itu hanya dapat dipahami dengan benar dengan merujuk berbagai referensi yang otoritatif atau berdasarkan penjelasan dari para ulama dalam arti yang sesungguhnya.

Saat ini kekerasan atas nama agama antara lain banyak dilakukan oleh orang yang baru belajar agama kepada orang-orang yang tidak jelas sanad (mata rantai) ilmunya diperoleh dari siapa dan tidak pula mendalam penguasaan ilmu agamanya. Mereka belajar ayat-ayat Al-Quran dari terjemahan yang maksudnya disesuaikan dengan hawa nafsunya sendiri, dipahami semau sendiri, dan disimpulkan sendiri hukum-hukumnya tanpa proses-proses penalaran yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.?

Hari Santri 2018

Ayat-ayat al-Quran yang suci itu diperkosa dengan tafsiran yang sempit dan kaku, ? tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi manusia muslim yang keras terhadap siapa saja, dan menyempitkan apa saja yang dilapangkan oleh Allah Taala untuk para hamba-Nya. Wallahu a ’lam.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Halaqoh, Nahdlatul Hari Santri 2018

Kamis, 21 Desember 2017

Menggali Hukum Islam

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Sebagai jamiyah sekaligus gerakan diniyah dan ijtimaiyah sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama (NU) meletakkan faham Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai dasarnya. Ia menganut salah satu dari empat mazhab; Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Alih mazhab secara total atau pun dalam hal yang dipandang sebagai kebutuhan (hajah) dimungkinkan terjadi, meskipun kenyataan sehari-hari para ulama NU menggunakan fiqih masyarakat Indonesia yang bersumber dari mazhab Syafii.

Menggali Hukum Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggali Hukum Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggali Hukum Islam

Hampir dapat dipastikan bahwa fatwa, petunjuk hukum dan keputusan hukum yang diberikan oleh ulama NU dan kalangan pesantren selalu bersumber dari mazhab Syafii. Hanya kadang-kadang dalam keadaan tertentu untuk tidak selalu melawan budaya konvensional- berpaling ke mazhab lain. Dalam struktur kepengurusannya, NU mempunyai lembaga Syuriyah yang bertugas antara lain menyelenggarakan forum bahtsul masail secara rutin. Forum ini bertugas mengambil keputusan tentang hukum-hukum Islam, yang bertalian dengan masail fiqhiyyah mau pun masalah ketauhidan dan bahkan tasawuf (thariqah). Forum ini biasanya diikuti oleh Syuriyah dan ulama-ulama NU yang berada di luar struktur organisasi, termasuk para pengasuh pesantren.

Masalah-masalah yang dibahas pada umumnya merupakan kejadian (waqiah) yang dialami oleh anggota masyarakat, diajukan kepada Syuriyah oleh organisasi atau pun perorangan. Masalah itu diinventarisasi oleh Syuriyah lalu diseleksi berdasarkan skala prioritas pembahasannya. Kemacetan (mauquf) tidak jarang terjadi di dalam pembahasan masalah semacam itu. Jalan berikutnya adalah mengulang pembahasannya pada tingkat organisasi yang lebih tinggi, dari ranting ke cabang, dari cabang ke wilayah, dari wilayah ke pengurus besar (pusat), kemudian ke Munas (Musyawarah Nasional) dan terakhir kepada Muktamar.

Hari Santri 2018

***

Pengertian istinbath al-ahkam di kalangan NU bukan mengambil hukum secara langsung dari sumber aslinya yaitu al-Quran dan al-Hadits. Akan tetapi penggalian hukum dilakukan dengan men-tathbiq-kan secara dinamis nash-nash fuqaha -dalam hal ini Syafiiyah- dalam konteks permasalahan yang dicari hukumnya.

Hari Santri 2018

Istinbath langsung dari sumber primer (al-Quran dan al-Hadits) yang cenderung kepada pengertian ijtihad mutlak, bagi ulama NU masih sangat sulit dilakukan karena keterbatasan-keterbatasan yang disadari, terutama di bidang ilmu-ilmu penunjang dan pelengkap yang harus dikuasai oleh seorang mujtahid. Sementara itu istinbath dalam batas mazhab di samping lebih praktis, dapat dilakukan oleh semua ulama NU yang telah mampu memahami ibarat (uraian) kitab-kitab fiqih sesuai dengan terminologinya yang baku.

Oleh karena itu kalimat istinbath di kalangan NU terutma dalam kerja bahtsul masail Syuriyah, tidak populer. Kalimat itu telah populerkan di kalangan ulama dengan konotasi ijtihad mutlak, suatu aktivitas yang oleh ulama Syuriyah masih berat untuk dilakukan. Sebagai gantinya, dipakai kalimat bahtsul masail yang artinya membahas masalah-masalah waqiah melalui referensi (maraji) kutub al-fuqha.

***

Sikap dasar bermazhab telah menjadi pegangan NU sejak berdirinya. Secara konsekuen sikap ini ditindaklanjuti dengan upaya pengambilan hukum fiqih dari referensi dan maraji, berupa kitab-kitab fiqih yang pada umumnya dikerangkakan secara sistematik dalam beberapa komponen; ibadah, muamalah, munakahah, jinayat, qadla. Para ulama NU dan forum bahtsul masail mengarahkan pengambilan huukum pada aqwal al-mujtahidin yang mutlaq mau pun muntasib. Bila kebetulan mendapatkan qaul manshush (pendapat berdasar nash eksplisit), maka qaul itulah yang dipegangi. Namun kalau tidak, maka akan beralih pada qaul mukhoroj.

Bila terjadi khilaf, maka diambil yang paling kuat sesuai dengan pentarjihan ahli tarjih. Sering juga ulama NU mengambil keputusan untuk sepakat dalam khilaf, akan tetapi juga mengambil sikap untuk menentukan pilihan sesuai dengan situasi kebutuhan hajiyah (kebutahan), tahsiniyah (kebagusan) mau pun dlaruriyah (darurat).

Mazhab yang dianut oleh NIJ dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuai dengan mazhab yang berkembang dalam masyarakat Indonesia, mazhab Syafii. Ini punya konsekuensi, para ulama NU dalam fatwa pribadinya mau pun dalam forum bahtsul masail, hampir dapat dipastikan selalu merujuk pada kitab-kitab Syafiiyah. Kepustakan ulama NU pasti sarat dengan kitab- kitab Syafiiyah, mulai dari yang paling kecil; Safinatus Sholah karangan KH. Nawawi Banten sampai dengan yang paling besar, misalnya al-Um, al-Majmu dan lain sebagainya.

Sangat sulit dijumpai dalam kepustakaan mereka, kitab-kitab selain Syafiiyah, kecuali pada akhir-akhir ini mulai ada koleksi kitab-kitab mazhab Hambali, Hanafi, dan Maliki bagi sebagian kecil ulama. Kecuali harganya belum terjangkau oleh sebagian besar ulama NU, kitab-kitab itu masih sulit diperoleh di Indonesia.

Timbul kesan dari kenyataan ini, bahwa NU hanya bermazhab fi al-aqwal tidak dalam manahij (metodologi). Padahal sebenarnya para ulama NU juga memegangi dan mempelajari manhaj Imam Syafii. Hal ini tergambar dalam kepustakaan mereka, kurikulum pesantren-pesantren yang mereka asuh. Kitab-kitab seperti, waraqat, ghoyah al-Wushul, jamu al-jawami, al-Mustasyfa, al-asybah wa al-Nadhair, qowaid Ibni Abdissalam, Tarikhu al-Tasyri, dan lain-lain, tidak hanya menjadi koleksi kepustakaan mereka, namun juga dibaca, diajarkan di beberapa pesantren.

Metodologi dalam hal ini digunakan untuk memperkuat pemahaman atas masail furuiyah yang ada pada kitab-kitab fiqih, di samping sering juga diterapkan untuk mengambil langkah tandhir al-masail bi nadhoiriha, bukan untuk istinbath al-ahkam min mashadiriha al-ashliyah.

Gagasan perlunya konsep tajdid muncul di kalangan NU belakangan ini, mengingat makin berkembangnya masalah dan peristiwa hukum yang ternyata belum terakomodasi oleh teks-teks kitab fiqih, di samping munculnya ide kontekstualisasi kitab kuning. Penyelenggaraan halaqah yang diikuti oleh beberapa ulama Syuriyah dan pengasuh pesantren, sebagian untuk merespons gagasan itu. Kesepakatan telah dicapai, dengan menambah dan memperluas muatan agenda bahtsul masail, tidak saja meliputi persoalan hukum halal/haram, melainkan juga hal-hal yang bersifat pengembangan pemikiran keislaman dan kajian-kajian kitab.

Disepakati juga dalam forum itu, perlunya melengkapi referensi mazhab selain Syafii dan perlunya disusun sistematika bahasan yang mencakup pengembangan metode-metode dan proses pembahasan untuk mencapai tingkat kedalaman dan ketuntasan suatu masalah. Mengenai konsep tajdid, PBNU sebelum Muktamar ke-28 di Yogyakarta telah membentuk tim khusus untuk merumuskannya. Tim ini diketuai sendiri oleh Rois Aam Kiai Achmad Siddiq (almarhum) dan saya sebagai wakilnya. Tim ini telah berhasil merumuskan "Konsep Tajdid" dalam Pandangan NU.

***

Fiqih yang dipahami NU dalam pengertian terminologis, sebagai ilmu tentang hukum syariah (bukan itiqadiyah) yang berkaitan dengan amal manusia yang diambil dan disimpulkan (muktasab) dari dalil dalil tafsili, adalah fiqih yang diletakkan -oleh para perintisnya (mujtahidin)- pada dasar dasar pembentuknya; alQuran, al-Sunnah, Ijma dan Qiyas. Dalam pembentukannya, fiqih selalu mempunyai konteks dengan kehidupan nyata dan karena itu bersifat dinamis. Ini tergambar dalam proses pembentukannya yang tidak lepas dari konteks lingkungan yang sering disebut sebagai asbab al-nuzul bagi ayat al-Quran dan asbab al-wurud bagi al-Sunnah. Namun konteks lingkungan seperti itu kurang diperhatikan di kalangan NU. Ia hanya dipandang sebagai pelengkap yang memperkuat pemahaman, karena yang menjadi fokus pembahasannya adalah norma-norma baku yang telah dikodifikasikan dalam kitab-kitab furu al-fiqh. Fungsi syarah, hasyiyah, taqriraat dan taliqaat dipandang pula sebagai pelengkap yang memperjelas pemahaman tersebut. Meskipun di dalam kitab-kitab syarah, hasyiyah, taliqaat itu sering dijumpai kritik, penolakan (radd), counter, perlawanan (itiradl) atas teks-teks matan yang dipelajari/dibahas, namun hal ini kurang mendapat kajian serius.

Pembahasan fiqih secara terpadu dan pengembangannya sangat lamban, bahkan kadang secara eksklusif dipahami, antara ilmu fiqih dengan ilmu lain yang punya diferensiasi tersendiri, seolah-olah tidak ada hubungannya. Padahal para ulama penyusun dan pembentuk fiqih dahulu selalu mengintegrasikan ilmu-ilmu di luar fiqih ke dalam fiqih untuk menentukan kesimpulan hukum bagi suatu masalah. Misalnya ilmu falak (hisab) dan ikhtilaf al-mathla dalam hal penentuan awal Ramadan dan Syawal, marifatu al-qiblah dan al-waqti dalam hal shalat dan penemuan obat-obatan dalam kontrasepsi (manu al-hamli/ibthou al-hamli) dalam bab nikah.

Namun sekarang halaqah dan muktamar telah merekomendasikan, agar pada setiap masalah yang akan dibahas Syuriyah diberi tashawwur al-masail (abstraksi), sehingga dapat jelas masalahnya. Kepastian hukum bisa diputuskan secara terpadu melibatkan orang-orang ahli dan profesional. Ini penting artinya bagi upaya mengintegrasikan disiplin-disiplin ilmu lain ke dalam wilayah fiqih, untuk memperoleh alternatif pemecahan masalah tanpa ada resiko hukum.

***

Ijtihad di kalangan ulama NU dipahami sebagai upaya berpikir secara maksimal untuk istinbath (menggali) hukum syari yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia secara langsung dari dalil tafshili (al-Quran dan Sunnah). Ini adalah pengertian ijtihad muthlaq, pelakunya disebut mujtahid muthlaq. Meskipun dipertentangkan, apakah sekarang ini boleh melakukan ijtihad muthlaq atau tidak, namun para ulama nampaknya sepakat, perlu ada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan tertentu bagi mujtahid muthlaq.

Di bawah ini, ada tingkat ijtihad fi al-mahab, pelakunya disebut mujtahid fil-mazhab, lalu di bawahnya lagi ada ijtihad fatwa, pelakunya disebut mujtahid fatwa. Mujtahid tingkat kedua itu, ialah mereka yang mampu meng-istinbath hukum dari kaidah-kaidah imam mazhab (mujtahid muthlaq) yang diikuti. Misalnya Imam al-Muzani, pengikut mazhab Syafii. Sedangkan mujtahid fatwa adalah mujtahid yang mempunyai kemampuan mentarjih antara dua qaul yang di-muthlaq-kan oleh Imam Mujtahid yang dianutnya. Misalnya Imam al-Nawawi dan Imam al-Rofii, penganut Imam Syafii.

Di dalam kitab al-Fawaid al-Makkiyah diuraikan, tingkatan ulama fiqih itu ada enam. Pertama mujtahid mustaqil, setingkat al-Syafii. Kedua mujtahid muntasib, setingkat Imam al-Muzani. Ketiga ashhabu al-wujuh, setingkat Imam al-Qaffal. Keempat mujtahid fatwa, setingkat Imam al-Nawawi dan Imam al-Rofii. Kelima pemikir yang mampu mentarjih antar dua pendapat syaikhoni (dua Imam) yang berbeda, misalnya Imam al-Asnawi. Keenam hamalatu al-fiqh, yaitu ulama-ulama yang menguasai aqwal (pendapat-pendapat) para Imam.

Taqlid bagi NU, sesuai dengan pengertiannya yang telah ditulis dalam kitab-kitab Syafiiyah, ialah mengambil atau mengamalkan pendapat orang lain tanpa tahu dalil-dalilnya atau hujjahnya. Tentang status hukumnya, taqlid di bidang fiqih (bukan aqidah) ada beberapa pendapat yang cukup panjang pembahasannya. Dalam hal ini Dr. Said Ramadlan mengutip kata Imam Ibnu al-Qoyyim yang disetujui oleh beberapa ulama sebagai berikut. Bahwa telah lengkapnya kitab-kitab al-Sunan saja belum cukup untuk dijadikan landasan fatwa, tetapi juga diperlukan tingkat kemampuan istinbath dan keahlian berfikir dan menganalisa. Bagi yang tidak memiliki kemampuan tersebut, maka ia berkewajiban mengikuti firman Allah: fasalu ahladz-dzikri in kuntum laa talamun, yang salah satu pengertiannya adalah taqlid.

Ibnu Khaldun juga menceritakan, para Shahabat tidak semuanya ahli fatwa. Begitu pula para Tabiin. Ini berarti sebagian para Shahabat dan Tabiin yang paling banyak jumlahnya, adalah bertaqlid kepada mereka yang ahli fatwa. Tidak ada satupun dari sahabat dan tabiin mengingkari taqlid. Imam al-Ghozali dalam kitabnya al-Mustashfa mengatakan, para Shahabat telah sepakat (ijma) mengenai keharusan bertaqlid bagi orang awam.

Fatwa para mujtahid dan hukum-hukum yang telah dihasilkan dari istinbath dan ijtihadnya, telah absah sebagai dalil bagi kalangan ahli taqlid. Imam al-Syatibi mengatakan, fatwa-fatwa kaum mujtahidin bagi orang awam adalah seperti beberapa dalil syari bagi para mujtahidin. Itulah sebabnya, maka kita-kitab fiqih di kalangan ulama Syafiiyah menjadi penting dan berkembang dalam ratusan bahkan mungkin ribuan judul dengan berbagai analisis, penjelasan dan tidak jarang berbagai kritik (intiqad dan radd).

Kitab yang besar diringkas menjadi mukhtashor, nadhom dan matan. Sebaliknya, kitab yang kecil diberi syarah dan hasyiyah menjadi berjilid-jilid. Sampai pun tokoh ulama Indonesia, Syeikh Mahfudh al-Tarmasi (dari Termas Jawa Timur) menulis hasyiyah kitab Mauhibah empat jilid, bahkan lima jilid (yang terakhir belum dicetak).

Kedudukan kitab-kitab tersebut menjadi seperti periwayatan dalam Hadits/al-Sunnah. Kalau dalam al-Sunnah ada mustanad riwayah; bi al-sama kemudian bi al-qiraah dan lalu bi al-ijazah, maka para ulama dalam menerima dan mengajarkan kitab-kitab itu pun menggunakan mustanad tersebut dengan silsilah sanad yang langsung, berturut-turut sampai kepada para penulisnya (muallif) bahkan sampai kepada Imam al-Syafii (atau panutan mazhabnya).

***

Istilah talfiq muncul dalam pembahasan, apakah ahli taqlid harus memilih satu mazhab tertentu dari sekian banyak mazhab para mujtahidin? Kalau harus demikian, apakah dibolehkan pindah mazhab secara keselurahan atau hanya dalam masalah tertentu saja? Ataukah tidak harus demikian, sehingga mereka bebas memilih qaul tertentu saja dari sekian mazhab yang standar dan bebas berpindah-pindah mazhab sesuai dengan kebutahan?

Beberapa pertanyaan di atas memang telah menjadi perdebatan Ulama. Imam Zakaria Al-Anshary dalam kitabnya Lubbul-Ushul mengatakan, yang paling shahih adalah, muqallid wajib menetapi salah satu mazhab tertentu yang diyakini lebih rajih daripada yang lain atau sama. Namun begitu, mereka diperbolehkan pindah ke mazhab lain. Dalam hal ini para ulama mensyaratkan beberapa hal yang antara lain, tidak diperkenankan bersikap talfiq dengan cara mengambil yang paling ringan (tatabbul-rukhosh) dan beberapa aqwal al-madzahib (pendapat mazhab).

Talfiq secara harfiyah dapat diartikan melipatkan dua sisi sesuatu menjadi satu. Namun talfiq dalam hal taqlid ini, berarti menyatukan dua qaul dari dua mazhab yang berbeda ke dalam problema tertentu, sehingga menjadi satu komponen hukum yang tidak menjadi pendapat (qaul) bagi dua mazhab tersebut.

Misalnya dalam hal berwudlu; Imam Syafii tidak mewajibkan menggosokan anggota badan yang dibasuh, sedangkan Imam Malik mewajibkannya. Dalam hal meraba farji Imam Syafii berpendapat, hal itu membatalkan wudlu secara muthlaq, sedangkan Imam Malik berpendapat, tidak membatalkan bila tanpa syahwat. Bila seseorang berwudlu dan tidak menggosok anggota badan karena taqlid kepada Imam Syafii namun kemudian meraba farji tanpa ada rasa syahwat, maka batallah wudlunya. Bila ia kemudian melakukan shalat, maka shalatnya juga batal, dengan kesepakatan kedua Imam ini. Karena ketika ia meraba farji -walaupun tanpa syahwat- maka wudlunya telah batal menurut Syafii. Begitu juga ketika ia tidak menggosok anggota badan pada wakt wudlu, maka wudlunya tidak sah menurut Imam Malik.

***

Rumusan hukum hasil produk bahtsul masail Syuriyah NU, bukan merupakan keputusan akhir. Masih dimungkinkan adanya koreksi dan peninjauan ulang bila diperlukan. Bila di kemudian hari ada salah seorang ulama -meskipun bukan peserta forum Syuriyah- menemukan nash/qaul atau ibarat lain dari salah satu kitab dan ternyata bertentangan dengan keputusan tersebut, maka keputusan itu bisa ditinjau kembali dalam forum yang sama.

Tidak ada perbedaan, antara pendapat ulama senior maupun yunior, antara yang sepuh dan yang muda dan antara kiai dan santri. Karena dalam dialog hukum ini yang paling mendasar adalah benar atau tepatnya pengambilan hukum sesuai dengan substansi masalah dan latar belakangnya.

Pemilihan dalam tarjih antara dua qaul dilakukan menurut hasil pentarjihan dari para ahli tarjih yang diuraikan dengan rumus-rumus yang baku dalam isthilahu al-fuqha al-Syafiiyah. Misalnya al-Adhar, al-Masyhur, al-Ashahh, al-Shahih, al-Aujah dan lain sebagainya dari shighat tarjih. Ini berarti bahwa forum Syuriyah tidak melakukan tarjih secara langsung, tetapi hanya kadang-kadang menentukan pilihan tertentu sebagai sikap atas dasar perimbangan kebutuhan.

Hasil keputusan bahtsul masail Syuriyah NU itu, oleh cabang-cabang dan ranting disebar luaskan melalui kelompok-kelompok pengajian rutin, majelis Jumat dan kemudian dipedomani, dijadikan rujukan oleh warga NU khususnya, serta masyarakat pada umunya. Para kiai/ulama NU dalam memberikan petunjuk hukum kepada masyarakatnya juga merujuk kepada keputusan forum tersebut.

Hal ini bukan karena keputusan itu mengikat warga NU, namun karena kepercayann dan rasa mantap warga NU dan masyarakat terhadap produk Syuriyah NU. Meskipun masyarakat atau warga NU tahu, proses pengambilan keputusan dalam forum itu terdapat perdebatan yang sengit misalnya, namun bila keputusan telah diambil, masyarakat dan warga NU mengikuti keputusan itu tanpa ada rasa keterikatan-paksa, tetapi justru dengan kesadaran yang mantap, yang mungkin dipengaruhi oleh budaya paternalistik.

Sebagai kesimpulan dari pembahasan mengenai istinbath al-ahkam dalam kerja babtsul masail Syuriyah NU, dikemukakan beberapa hal sebagai berikut:

1. Kerja bahtsul masail NU mengambil hukum yang manshush maupun mukhorroj dari kitab-kitab fiqih mazhab, bukan langsung dari sumber al-Quran dan al-Sunnah. Ini sesuai dengan sikap yang dipilih yaitu bermazhab, yang berarti bertaqlid dan tidak berijtihad muthlaq, ijtihad mazhab maupun ijtihad fatwa.

2. Metodologi ushul fiqh dan qawaid al-fiqhiyah dalam bahtsul masail, digunakan sebagai penguat atas keputusan yang diambil, apalagi bila diperlukan tandhir dan untuk mengembangkan wawasan fiqih.

3. Ijtihad, taqlid dan talfiq dipahami oleh NU sesuai dengan ketentuan dan pengertian para ulama Syafiiyah.

4. Referensi para ulama NU sebagian besar adalah kitab-kitab Syafiiyah.

5. Keputusan bahtsul masail Syuriyah NU tidak mengikat secara organisatoris bagi warganya.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah disampaikan pada seminar nasional Hukum Islam dan Perubahan Sosial pada 14-16 Oktober 1990. Dengan berbagai revisi, tulisan ini juga pernah disampaikan dalam Munas Alim Ulama di Lampung. Judul asli Istinbath al-Ahkam Dalam Kerja Bahtsul Masail Syuriyah NU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah, Lomba Hari Santri 2018

Rabu, 13 Desember 2017

Kita Butuh Dewan Syuro Kebangsaan

Pati, Hari Santri 2018. Ngaji NgAllah Suluk Maleman kembali digelar di rumah Adab Indonesia Mulia, Pati, Jawa Tengah pada Sabtu (19/11). Tema Darurat Kewarasan dipilih dalam diskusi yang turut menghadirkan dalang Sigit Ariyanto dari Rembang dan Kiai Budi Harjono tersebut.

Kita Butuh Dewan Syuro Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kita Butuh Dewan Syuro Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kita Butuh Dewan Syuro Kebangsaan

Meski sekilas sederhana namun tema yang dibawakan itu terbukti mampu menghangatkan diskusi yang digelar hingga Minggu (20/11) dini hari tersebut. Sisi “waras” atau sehat dalam hal kejiwaan dinilai sudah mendesak atau darurat untuk diberi perhatian.

Pasalnya saat ini sikap kewarasan manusia dalam menyikapi suatu persoalan banyak yang dikesampingkan. Bahkan sejumlah manusia menjadi begitu mudah saling membenci sekalipun dengan orang yang tidak dikenalnya.

Hari Santri 2018

“Kita lihat dengan apa yang ada di media sosial seperti saat ini. Hanya gara-gara beda pendapat di media sosial orang mudah untuk saling membenci bahkan bermusuhan. Padahal kadang kenal saja tidak,” ujar Anis Sholeh Baasyin memberi pengantar dialog melalui siaran pers.

Sikap seperti itu pun diakuinya semakin mudah ditemui di sejumlah kalangan. Banyak masyarakat yang kemudian kehilangan kewarasan. Bisa menjadi pembela habis-habisan ataupun memusuhi habis-habisan orang atau pihak yang dikenalnya saja tidak, apalagi dikenali rekam jejaknya.

Hari Santri 2018

“Rasanya, kini harus mulai disadari oleh semua pihak bahwa berdakwah itu tidak sederhana, apalagi sebatas mencari kebenaran versinya sendiri saja; melainkan juga harus menghitung parameter-parameter pembangun peradaban yang lebih baik,” tambah pengurus Lesbumi PBNU ini.

Menurut Anis, situasi yang terjadi saat ini semakin mempertegas kebutuhan untuk membentuk semacam dewan syuro kebangsaan. Dewan syuro yang melibatkan kyai-kyai sepuh maupun tokoh-tokoh negarawan. Tentu saja dalam dewan syuro tersebut tidak lagi berbicara terkait perbedaan maupun perpecahan melainkan bersatu padu membahas kebaikan bangsa.

“Jadi tidak ada lagi kepentingan kecuali untuk kebaikan untuk bangsa ini,” tambahnya.

Sementara itu Kiai Budi Harjono menambahkan untuk mengantisipasi kondisi darurat kewarasan dirinya menilai bisa diminimalisir dengan keberadaan seniman maupun budayawan. Apalagi saat ini Indonesia telah dijaga dengan budaya dan tradisi yang begitu luhur.

“Kalau orang Indonesia itu sebenarnya sudah bagus seperti fiosofi caping. Dimana masyarakat Indonesia bisa menggapai keindahan Tuhan tak bertepi untuk diturunkan ke bumi melalui seni,” ujarnya.

Hal itu pun terlihat dari sejumlah tradisi seperti mendatangi tetangga yang tengah berduka maupun tengah berbahagia. Dengan keindahan seperti itu justru membuatnya bertanya apa yang menyebabkan orang ingin merubah budaya seindah itu.

“Seringkali manusia terkecoh hegemoni politik dan ekonomi sedangkan posisi kebudayaan yang seharusnya sebagai panglima justru tersisihkan,” tambahnya.

Dirinya juga menekankan pentingnya menjaga perbedaan itu sendiri. Seharusnya perbedaan jusru memperkuat bukan justru sebaliknya. Seperti halnya wayang yang tampil menarik lantaran adanya beragam sifat dalam satu wadah.

“Kalau ada orang yang merokok misalnya meski kita tidak suka ya biarkan saja, itu lebih baik dari pada digunakan mulutnya untuk berbicara yang menyakitkan,” ujarnya.

Diskusi berjalan dengan hangat dan menarik sehingga tidak terasa diskusi baru berakhir pada Minggu (20/11) sekitar pukul 02.00. Antusias masyarakat kian meningkat saat dalang Sigid Ariyanto memainkan lakon Bale Sigolo-golo dalam pakeliran padat yang atraktif selama hampir 1,5 jam. Sebuah lakon yang diramu dengan apik oleh Sigid, sebagai sebuah kritik terhadap kondisi aktual masyarakat.

Tampilan Sampak GusUran, kelompok musik Kalimosodo, pembacaan puisi, juga lawak oleh Konyik dan Konyil yang menyentil kesana-kemari, turut melengkapi jalannya diskusi yang dihadiri 800-an orang itu. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Sabtu, 28 Oktober 2017

GP Ansor Wonogiri Salurkan Bantuan untuk Korban Longsor dan Banjir

Wonogiri, Hari Santri 2018

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Wonogiri menyalurkan bantuan kepada warga korban bencana alam longsor dan banjir di daerah setempat. Bantuan diserahkan dalam bentuk uang dan paket sembako.

GP Ansor Wonogiri Salurkan Bantuan untuk Korban Longsor dan Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Wonogiri Salurkan Bantuan untuk Korban Longsor dan Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Wonogiri Salurkan Bantuan untuk Korban Longsor dan Banjir

“Bantuan yang disalurkan dari GP Ansor Wonogiri, yakni uang sebesar 6.780.000, 151 karton mie instan, dan 125 paket sembako,” terang Sekretaris PC GP Ansor Wonogiri David Zainuddin, saat dihubungi Hari Santri 2018, Ahad (3/12) lalu.

Dipaparkan David, bantuan tersebut disalurkan ke seluruh titik yang terdampak bencana alam banjir dan longsor, antara lain di daerah Kecamatan Pracimantoro dan Nguntoronadi.

Hari Santri 2018

“Penyaluran akan terus dilakukan. Bantuan yang datang disamping dari warga NU, serta teman-teman Ansor dan Banser Wonogiri juga merupakan sumbangan dari masyarakat luar Wonogiri,” imbuh dia.

Sebelumnya, Ketua PC GP Ansor Sri Handoko juga ikut mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi untuk membantu para korban.

Hari Santri 2018

“Banyak saudara kita yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda milik mereka karena musibah ini,” tuturnya.

Pasca terjadinya bencana banjir dan longsor ini, GP Ansor Wonogiri juga membuat Posko penanggulangan bencana, yang berguna untuk pusat pengumpulan dan penyaluran bantuan.

Bantuan dapat langsung diserahkan ke Posko di Randusari RT 04 No. 14, Ngadirojo Kidul, atau dapat disalurkan melalui Rek. BNI 0426667459 a.n Sri Handoko (CP. 08232 2280 3277). (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Warta, Sunnah Hari Santri 2018

Senin, 04 September 2017

Dua Banser Rembang Terpilih Jadi Duta Teguh Bencana

Rembang, Hari Santri 2018 - Dua anggota Banser Rembang terpilih sebagai Duta Teguh Bencana yang diselengarakan oleh BPBD Kabupaten Rembang. Masing-masing Rohmatul Minan sebagai juara dua dan Dwi Ahsan Basori sebagai juara tiga. Sedangkan juara satu diraih oleh Eka Aldi Kiswanto. Pada Kamis siang (4/8) ketiganya diumumkan sebagai terbaik dari 20 peserta yang mengikuti seleksi, dan 10 seleksi paling akhir.

Rohmatul Minan menjelaskan, seleksi duta teguh bencana digelar dengan berbagai macam tahap, yaitu tes fisik berupa lari, sit up, dan push up, kemudian tes tertulis seputar kebencanaan, tes wawancara dan profil pribadi.

Dua Banser Rembang Terpilih Jadi Duta Teguh Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Banser Rembang Terpilih Jadi Duta Teguh Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Banser Rembang Terpilih Jadi Duta Teguh Bencana

"Senang bisa? menjadi salah satu yang terbaik, dari Duta Teguh Bencana tahun ini, sekaligus mengharumkan kiprah Banser GP Ansor Rembang, serta membantu masyarakat dalam hal kebencanaan,” kata Rohmatul Minan.

Hari Santri 2018

Menurut Kepala BPBD Rembang Suharso, duta teguh bencana akan langsung difungsikan guna antisipasi dan penanganan potensi bencana termasuk di musim kemarau, termasuk pendistribusian air bersih kepada masyarakat yang darerahnya sedang dilanda kekeringan.

"Mereka itu akan membantu mitigasi dan penanganan potensi serta terjadinya bencana, tanpa membedakan mana yang juara,” kata Suharso. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Sabtu, 01 Juli 2017

Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal

Semarang, Hari Santri 2018. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang menggelar workshop diseminasi hasil penelitian mahasiswa dan dosen tahun 2014 di hotel Muria Semarang, Sabtu (29/11).

Program penelitian tersebut merupkan tahun kedua bagi mahasiswa dikampus tersebut melakukan penelitian secara langsung. Kegiatan mulai pendaftaran di awal tahun (Januari-red), seleksi administrasi, seleksi tim reviewer, seminar proposal, pelaksaaan penelitian, progress report (laporan sementara) hasil penelitian hingga workshop diseminasi hasil penelitian.

Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiwa IAIN Walisongo Teliti Teologi Sosial Kiai Sahal

Heri Kuseri, salah satu mahasiswa meneliti pemikiran Dr. KH. MA. Sahal Mahfudh dengan judul

penelitian "Teologi Sosial Kiai Sahal". Heri melakukan penelitian mulai awal Juli, butuh dua bulan untuk menggali data.

Hari Santri 2018

"Keyakinan teologi mendorong manusia untuk bertindak secara praksis sosial", ungkap mahasiswa jurusan Akidah Akhlaq ini.

Hari Santri 2018

Heri tertarik dengan pemikiran salah seorang kiai besar di kalangan Nahdlatul Ulama ini. "Beliau memandang sesuatu tidak hitam putih, antara halal dan haram. Tapi visinya adalah mashlahat. Beliau termasuk orang yang berpengaruh", tambah Heri.

Selain itu penelitian ini akan memberi pemahaman teologi atau tauhid tidak hanya percaya kepada Tuhan belaka kemudian beribadah, namun menekankan pada praktek kesalehan sosial.

Bagi mahasiswa penelitian ini bermanfaat dalam menunjang dan mengasah intelektual mereka. Selain itu, dari segi pembiayaan kegiatan penelitian kompetitif ditanggung oleh LP2M IAIN Walisongo melalui Dana DIPA RM dan BOP IAIN Walisongo tahun 2014.

Untuk mahasiswa akan mendapat bantuan sebesar Rp. 5.000.000/penelitian. Muhammad Bagus Irawan, salah satu peserta, menyatakan, program penelitian seperti ini sudah bagus dan layak untuk dilanjutkan di tahun mendatang. Minimal bisa mengajak mahasiswa untuk belajar penelitian. (M. Zulfa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Tegal Hari Santri 2018

Selasa, 30 Mei 2017

Usai Muktamar, Ulama dan Kiai Harus Bersatu Kembali

Surabaya, Hari Santri 2018. Kalau terjadi ketidakpuasan usai perhelatan Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama,  itu adalah sebuah dinamika. Yang harus segera dilakukan adalah seluruh ulama dan kiai harus bersatu kembali dalam payung besar jamiyah.

Usai Muktamar, Ulama dan Kiai Harus Bersatu Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Muktamar, Ulama dan Kiai Harus Bersatu Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Muktamar, Ulama dan Kiai Harus Bersatu Kembali

"Riak dalam muktamar itu pasti ada," kata KH Ali Maschan Moesa, Senin (7/9) petang. Wakil Rais PWNU Jawa Timur ini mengemukakan, bahwa sangat tidak mungkin kegiatan yang mempertemukan banyak kiai dan ulama serta pegiat NU dari berbagai kawasan tersebut bisa memuaskan semua pihak.

Karena esensi dari NU adalah kebangkitan ulama, maka sudah sepatutnya seluruh komponen jamiyah ini bersatu kembali dalam rangka berkhidmat kepada warga, agama dan juga bangsa. "Dan ini juga yang diingatkan oleh pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari," kata Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Hari Santri 2018

"Para muassis atau pendiri NU mendirikan jamiyah ini dengan harapan agar seluruh potensi ulama dan kiai serta umat dapat disinergikan untuk kiprah terbaik," kata Pengasuh Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya ini.

Dengan menyitir pesan KH Hasyim Asyari, bahwa umat Islam sekarang sudah sampai pada kondisi dikelilingi binatang buas. "Sedangkan umat ibarat domba yang berada di tengah lapang dan dikepung binatang buas tersebut," katanya. Kalau selama ini keadaan masih kondusif, bisa jadi lantaran antara binatang yang ada sedang bertengkar, lanjutnya. "Tapi kalau sesama binatang tersebut sudah akur, bisa jadi yang akan menjadi sasaran adalah domba yang berada di tanah lapang," katanya.

Hari Santri 2018

Oleh sebab itu, yang harus disadari semua pihak adalah kembali rukun dan satu langkah. "Yang justru saya khawatirkan, sebagaimana pesan Hadratussyaikh adalah antara ulama berada di satu meja, namun hati mereka justru bercerai-berai," ungkapnya.

NU bagi Pak Ali, sapaan akrabnya adalah jamiyah yang menyaratkan ketulusan dan kemurnian jiwa bagi para pengurusnya. "Inilah yang membedakan NU dengan partai politik dan organisasi kemasyarakatan dan keagamaan yang lain," sergahnya.

"Harapan saya, riak usai muktamar segera disudahi dan seluruh kiai dan ulama dapat bersatu kembali untuk membicarakan tantangan zaman yang semakin berat," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Jumat, 31 Maret 2017

Memulai Perubahan dengan Terapi Ramadhan

Manusia pada dasarnya tidak setia atas kemandekan dan kebekuan, karena dalam dorongan terdalam hatinya menginginkan adanya suatu? perubahan. Tentu, manusia yang mau berusaha baik ? tidak akan mengamini atas semua jenis perubahan. Ia hanya ingin perubahan yang baik dan lebih baik.

Dalam Ramadhan sebulan penuh ini, Allah Ta’ala dengan kemahabijaksanaan-Nya mendorong dan mendukung semangat fitrah perubahan manusia itu dengan terapi paket puasa beserta? amaliah ibadah? Ramadhan lainnya.

Pertama, puasa sendiri yang dalam pengertian dasarnya adalah? sebagai upaya menahan diri, adalah piranti efektif untuk menundukkan ‘musuh’ utama manusia, yaitu berperang melawan ‘diri sendiri’ yang dalam bahasa Rasulullah Muhammad shallallah ’alaih wasallam disebut Jihad Akbar dan Jihadun Nafs (perang melawan hawa nafsu). Bahkan dinyatakan oleh Rasulullah, jihad ini lebih utama dari jihad perang.

Kedua, ibadah puasa adalah ibadah istimewa perlambang keikhlasan hamba, sehingga dinyatakan oleh Allah Ta’ala sebagai ibadah untuk-Nya, disebabkan kekhususan penisbatannya kepada Allah. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis qudsi :

Memulai Perubahan dengan Terapi Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Memulai Perubahan dengan Terapi Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Memulai Perubahan dengan Terapi Ramadhan

Setiap perbuatan kebaikan memperoleh pahala sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali, kecuali puasa : ia adalah milik (untuk)-Ku, dan Aku-lah yang menentukan besar pahalanya. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, kegiatan yang dilakukan secara bersama adalah elemen penting perubahan itu. ? Ilustrasinya sederhana saja. Kadang atau mungkin juga kerap kali, ketika kita melakukan ibadah sendirian, terasa kurang semarak dan semangat? jika dibanding melakukannya secara bersama, berjama’ah. Inilah barangkali alasan mengapa banyak pesantren dan sekolah yang menerapkan kebijakan salat dhuha berjamaah, padahal dalam kaca mata fiqh salat ini tidak dianjurkan dilakukan secara berjam’ah. Alasan untuk memotivasi siswa atau sarana pendidikan yang dengan pembiasaan itu akan melahirkan semangat beribadah adalah hal yang diharapkan efektif. Nah, dalam Ramadhan ada beberapa kegiatan dan? ibadah yang biasa dilaksanakan secara bersama, antara lain, salat Tarawih berjama’ah, Tadarus Quran bersama, buka bersama, sahur bersama dalam suasana kekeluargaan.

Keempat, Ramadhan di mana Al-Quran turun pada bulan mulia ini, adalah bulan motivasi beribadah. Dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah bersabda:

Hari Santri 2018

"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini." (HR. Ath-Thabarani)

Hari Santri 2018

Dalam Ramadhan pula ada satu malam yang paling utama di sisi Allah yang selalu diburu hamba-Nya, yaitu datangnya malam Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qadr.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS al-Qadr [97]: 1-5)

Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah:“Siapa saja yang bangun pada malam Qadr karena dorongan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang lalu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Kelima, Ramadhan mengajarkan awal kebiasaan baru dan ? kedisiplinan selama sebulan penuh. Awal perubahan adalah jika kita mau bertekad dalam hati untuk menampilkan kebiasaan baru dengan teratur disiplin. Ramadhan menawarkan hal penting ini lebih daripada hari-hari dalam bulan lainnya. Selama satu bulan, selalu ? berbuka puasa sebelum maghrib, sahur sebelum munculnya fajar shadiq shubuh, dan bertarawih.Yang istimewa, jika sebagian kita selama ini tidak membiasakan diri bangun malam untuk shalat malam, Qiyamul Lail, pada Ramadhan? kebiasaan baru tersebut diawali dengan menumbuhkan kebiasaan ? salat tahajjud berbareng dengan waktu sahur.

Nuansa Ramadhan sebagaimana tergambar di atas adalah suguhan Allah untuk kita semua. Kemudian akhirnya semuanya kembali pada pribadi kita masing- masing untuk mengetuk dan mau membuka diri dalam memaknai Ramadhan ini. Dengan demikian menjadi sepatutnyalah untuk kita sambut dan? jemput dengan gempita peluang berharga yang dihadiahkan Allah Ta’ala ini. Semoga Ramadhan kita berkah. Amiin.

?

?

* Yusuf Suharto

Ketua Aswaja NU Center Jombang, dan Ketua Lembaga Penelitian Universitas Darul ‘Ulum Jombang

?

?

>>>RUBRIK TAUSHIYAH RAMADHAN INI DIDUKUNG OLEH

PIMPINAN PUSAT IAKATAN SARJANA NAHDALATUL ULAMA (ISNU)

?





Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 AlaSantri, PonPes, Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Senin, 13 Maret 2017

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya

Rembang, Hari Santri 2018. Ketika seseorang sudah berani maju berkompetisi menjadi pemimpin di negeri ini seyogianya ia tak menunjukkan kelemahannya dengan hanya menumpang tenar dan menjelekkan lawan. Mereka harus berani menunjukkan kehebatan diri.

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Calon Pemimpin Harus Berani Tunjukkan Kehebatannya

Pejabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menegaskan hal tersebut, Kamis (20/3), saat menerima kedatangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi yang telah diumumkan sebagai calon presiden dari PDI-P.

Selain itu, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh, Rembang, Jawa Tengah, itu menuturkan, selama dua jam berbicara bersama Jokowi, dirinya hanya berbicara seputar Indonesia dan tidak lebih dari pada itu. Pesan yang ia sampaikan juga berlaku untuk semua calon pemimpin.

Hari Santri 2018

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menegaskan, Nahdlatul Ulama (NU) tidak ikut pemilu, tetapi warga NU yang menjadi peserta pemilu. Hakikatnya NU merupakan Organisasi kemasyarakatan yang netral. Namun demikian, tambah Gus Mus, banyak para peserta pemilu yang dianggap kurang percaya diri sehingga masih mengenakan atribut NU, guna menarik simpati masyarakat.

Ulama yang juga merupakan sastrawan Indonesia ini menghimbau, Nahdliyin menggunakan hak suaranya dengan baik. Pasalnya, menurut Gus Mus, hak suara yang kita dapat merupakan amanah, yang akan menentukan nasib bangsa kedepan. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock