Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo

Menyimak sejarah kehidupan seorang tokoh besar itu sepertinya tiada habisnya, selalu mengalirkan inspirasi baru dan pelajaran penuh makna. Apalagi yang dibicarakan adalah tokoh ulama atau kiai besar. Satu di antara sekian banyak tokoh ulama di Indonesia itu adalah al-maghfurlah KH Mahrus Ali (wafat 1985), pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo generasi kedua, menantu dari KH Abdul Karim pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Artikel singkat ini hanya bermaksud menyajikan sepenggal fragmen kecil dari sekian banyaknya fragmen kehidupan KH Mahrus Ali yang meninggalkan begitu banyak keteladanan bagi generasi setelahnya. Oleh karena itu sesuai judul di atas, di sini sekadar hendak membabarkan bagaimana strategi atau metode belajar Kiai Mahrus Ali berdasarkan penuturan beberapa saksi sejarah yang masih menjumpai (menangi) beliau.

Salah satu murid dekat beliau, yaitu KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bercerita bahwa Kiai Mahrus Ali ketika belajar di pondok menggunakan sistem nazar. Misalnya, membuat komitmen pada diri sendiri, seperti, "saya tidak akan keluar kamar sebelum hafal Alfiah, saya tidak akan pakai baju, sebelum menguasai materi bab ini, dan begitu seterusnya".? ?

Almaghfurlah KH A Idris Marzuki saat diwawancarai tim penulis buku Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda, tahun 2010, menguatkan pernyataan yang disampaikan Gus Mus di atas. Beliau menuturkan bahwa Kiai Mahrus Ali itu sangat kuat dalam memaksa dan menahan diri supaya bisa mempeng (sangat tekun belajar). Kiai Mahrus mereka-reka sendiri, menciptakan pula metode sendiri dalam belajar. Saat masih nyantri, Mbah Kiai Mahrus membangun sebuah kamar yang didesain supaya jika beliau sudah memasukinya akan kesulitan keluar dari ruangan itu. Hal tersebut ia lakukan agar benar-benar dapat fokus muthalaah dan belajar. Jadi model beliau menguasai suatu disiplin ilmu di antaranya seperti itu. Semua keinginan hawa nafsunya ditahan sedemikian rupa.

Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Unik Belajar Kiai Mahrus Ali Lirboyo

Selain itu, KH. Yasin Asmuni, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Tullab Petuk Semen Kediri, juga memiliki kenangan khusus saat ia dahulu ikut ngaji dengan Mbah Kiai Mahrus. Kiai Mahrus ketika mengaji, kata Kiai Yasin, ? seperti halnya seorang syaarih (komentator kitab). Tidak jarang beliau mengatakan, wahadza dhaifun, wa hadza mutamadun (pendapat ini argumentasinya lemahdan pendapat yang ini kokoh argumentasinya). Bahkan kala itu beliau kerap curiga dengan redaksi yang ada dan mengatakan laalla showab begini.

Di lain sisi, tambah KH. Yasin Asmuni, setiap beliau menyebut nama mushannif (pengarang kitab), pasti doa rahimakumullah selalu beliau lantunkan. Itu menandakan betapa penghormatan Kiai Mahrus Ali pada seorang guru begitu besar.

Hari Santri 2018

Selanjutnya, Kiai Mahrus Ali dikenal juga sebagai kiai yang suka ikut ngaji pasaran di Bulan Ramadahan ke berbagai pondok pesantren. Bahkan budaya ikut ngaji pasaran ini tetap beliau jalankan meskipun sudah menjadi kiai kharismatik dan mempunyai anak.

Sementara itu, menurut KH Anwar Mansur, menantu Kiai Mahrus, keteladanan Mbah Kiai Mahrus yang perlu kita ikuti adalah kemempengannya (kesungguhannya) dan proporsionalitas serta konsistensi beliau dalam mengatur dan menggunakan waktu. Aktivitas keseharian beliau dijadwal secara teratur. Mulai waktu untuk istirahat, untuk shalat tahajud, waktu muthalaah (mengkaji ulang pelajaran), sampai waktu khusus yang dialokasikan untuk mengulang pelajaran sehabis shalat Subuh. Bagi Mbah Mahrus,waktu merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya, sehingga beliau seproporsional mungkin dalam mengatur waktu. Jadi ada waktu-waktu khusus yang beliau alokasikan seperti waktu untuk menghapal jam berapa, waktu nderes jam berapa, serta waktu istirahtpun beliau perhatikan.

Demikian selintas dari sebagian metode dan karakter KH Mahrus Ali ketika belajar dan mengaji. Salah satu nasihat bijak masyayiikh (guru-guru sepuh) menyatakan, "melihat seorang tokoh besar itu jangan cuma ketika ia telah menjadi tokoh besar (nihayah) saja, tetapi lihat pula bagaimana mereka saat menjalani proses panjang (bidayah) sebelum mereka sukses dan berhasil menjadi seorang tokoh." Spirit maqalah itu pula yang kami tuju dari tulisan pendek sederhana ini.?

?

Hari Santri 2018

Oleh M. Haromain, alumnus MHM Lirboyo 2010, dan anggota tim penulis buku “Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda, terbit 2010 pada peringatan satu abad PP. Lirboyo. Data dalam tulisan ini diambil dari buku tersebut.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Sunnah, Bahtsul Masail Hari Santri 2018

Minggu, 04 Februari 2018

Kunjungi PBNU, Rombongan NU Patean Tahlilkan Hj Asmah Sjachruni

Jakarta, Hari Santri 2018. Rombongan NU Patean, Kendal menggelar tahlilan untuk tokoh Muslimat NU Hj Asmah Sjachruni di masjid An-Nahdlah gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (4/6). Rombongan yang berjumlah sedikitnya 125 orang ini berdoa bersama jamaah sholat Zuhur untuk almarhumah.

Kunjungi PBNU, Rombongan NU Patean Tahlilkan Hj Asmah Sjachruni (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi PBNU, Rombongan NU Patean Tahlilkan Hj Asmah Sjachruni (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi PBNU, Rombongan NU Patean Tahlilkan Hj Asmah Sjachruni

Warga NU yang dipimpin MWCNU Patean ini menjadwalkan singgah di PBNU dalam rangkaian ziarah Wali Songo tahun ini. Mereka yang terdiri atas jamaah pengajian Ahad pagi melakukan ziarah wali rutin setiap tahun.

“Tahun lalu, kita ziarah dari titik tempat tinggal kami menuju Timur hingga Madura. Tahun ini, kita ziarah ke Barat sampai ke Banten dan Tasik juga Ciamis,” kata Katib Syuriyah NU Patean KH A Rozin menyebut makam Sultan Hasanudin Banten dan Pamijahan.

Hari Santri 2018

Sementara Ketua MWCNU Sofyan Hadi menambahkan, agenda ke PBNU direncanakan sebelumnya. “Maksudnya, agar warga NU di tempat kami mendapatkan nilai lebih dalam ziarah Wali.”

Hari Santri 2018

Diantar dua bus, mereka melanjutkan kembali perjalanan ziarah mereka setelah beramah tamah dengan Ketua LTM PBNU KH Abdul Manan Ghani, Ketua PP LDNU KH Zakki Mubarok, Kepala Perpustakaan PBNU H Syatiri Ahmad. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 News, Fragmen, Sunnah Hari Santri 2018

Senin, 22 Januari 2018

Malam Ini Puncak Haul Ke-26 KH Ali Maksum

Yogyakarta, Hari Santri 2018. Sabtu 28 Februari ini adalah puncak haul ke-26 KH Ali Maksum, Krapyak. Peringatan haul sejak Jumat (27/2) kemarin itu, dimulai dengan khataman Al-Quran hingga ziarah ke makam Rais Aam PBNU KH Ali Maksum di makam keluarga besar pesantren Krapyak di Dongkelan. Peringatan puncak haul kali ini akan dihadiri alumni pesantren Krapyak juga masyarakat Yogyakarta.

KH Ali yang dikenal sebagai ‘kamus berjalan’ adalah Rais Aam PBNU periode 1981-1984. Almarhum menggantikan KH Bisri Syansuri yang wafat pada 1980. Kiai Ali juga dikenal sebagai kiai moderat yang berwawasan luas dan bisa merangkul semua kalangan.

Malam Ini Puncak Haul Ke-26 KH Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Ini Puncak Haul Ke-26 KH Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Ini Puncak Haul Ke-26 KH Ali Maksum

Menurut A Zuhdi Muhdlor, santri Kiai Ali yang menulis biografi gurunya menegaskan, Kiai Ali memiliki perhatian serius terhadap kader masa depan. Kiai Ali selalu mengingatkan adanya kaderisasi dalam semua hal untuk umat Islam termasuk NU.

Hari Santri 2018

"Kiai Ali mengibaratkan kaderisasi demikian penting yang sama pentingnya dengan sholat sunah rawatib muakkad. Jadi, kalau orang itu hanya melakukan sholat wajib, ya sholatnya banyak kekurangan, banyak bolong-bolong. Karena sholat sunah itu yang akan menyempurnakan," kata Kiai Zuhdi yang kini diamanahkan sebagai Wakil Ketua PWNU DIY.

Sementara dalam konteks sosial dan organisasi, orang yang tidak memerhatikan kaderisasi menginginkan hanya dirinya yang selalu "jadi". “Karena ingin selalu tampil, orang lain kurang diperhatikan," lanjut Zuhdi, salah satu penulis kamus kontemporer Arab-Indonesia Ashri. (Muhammadun/Alhafiz K)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 News, Sunnah Hari Santri 2018

Sabtu, 20 Januari 2018

Menepis Anggapan Syirik Bacaan Shalawat

Oleh Zulfan Syahansyah?

--Apa betul Nabi SAW yang mempermudah perkara sulit? Apa benar Muhammad yang menghilangkan kesusahan? Apa betul Beliau yang memenuhi segala kebutuhan? Dan apa karena Nabi juga semua keinginan bisa tercapai?

Bukankah semua itu kuasa Allah SWT semata! Hanya Allah yang berkuasa atas apa yang tersebut di atas. Bukan Muhammad. Jadi, kenapa ada bacaan shalawat yang maknanya seperti itu?! Tidakkah itu mengandung unsur syirik? Demikian kiranya unsur syirik yang mereka maksud dalam redaksi kalimat shalawat.

Menepis Anggapan Syirik Bacaan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menepis Anggapan Syirik Bacaan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Menepis Anggapan Syirik Bacaan Shalawat

Sebagai umat nabi Muhammad, sepatutnya kita menjadikan beliau sebagai panutan serta suri tauladan dalam kehidupan ini. Nabi muhammad SAW sangat layak, bahkan mungkin wajib kita cintai. Hal ini setidaknya karena dua hal. Karena kecintaan nabi kepada kita umatnya yang bahkan masih terus beliau dengungkan hingga menjelang ajal. Maka wajar jika kita juga mencintai beliau. Kita sambut kecintaan beliau dengan kecintaan tulus pula. Orang bilang ini adalah cinta bersambut.

Sedangkan alasan lain kenapa kita wajib mencintai nabi adalah karena kecintaan kita kepada beliau merupakan kunci keberhasilan dalam menjalankan hidup, baik di Dunia maupun di Akhirat kelak. Karena dengan kecintaan kita kepada nabi –dengan makna cinta yang positif- secara tidak langsung kita akan bisa mengikuti ajaran atau risalah yang beliau emban. Ajaran atau risalah nabi yang merupakan wahyu ilahi inilah yang selanjutnya menjadi petunjuk bagi kita dalam meniti jalan yang luru, atau shirat al-mustaqim.

Untuk alasan ini, tidak sedikit ulama terdahulu meluapkan kecintaan mereka pada nabi, bahkan dengan desahan nafas mereka. Tidak jarang dalam kesendirian, mereka merasakan kehadiran nabi. Dalam kediaman mereka, tidak jarang bibir spontan melafatkan kalimat pujian akan nabi muhammad. Maka tidak heran dari ulama-ulam seperti ini, tercipta sebuah lantunan shalawat yang maknanya sangat mendalam. Kalimat-kalimat yang tercipta dari luapan kecintaan hati kepada baginda nabi Muhammad SAW. Kalimat-kalimat tersebut lantas kita sebut dengan shalawat. Ada shalawat al-Fatih, Nariyyah dan shalawat-shalawat lainnya.

Iya, shalawat seperti al-Fatih, Nariyyah dan sejenisnya ini lantas menjadi satu simbul bacaan bagi kaum muslim yang berusaha menunjukkan kecintaan mereka kepada nabi. Bacaan shalawat-shalawat tersebut bahkan menjadi semacam "amalan wajib" bagi sebagian aliran thariqah. Ada Qadiriyyah-Naksabandiyyah, ada Tijaniyyah, ada Sadziliyyah dan banyak lagi tariqah lainnya. Para pengikut tariqah tersebut begitu lancar dan fashih melafatkan bacaan shalawat yang menjadi amalan harian mereka.

Hari Santri 2018

Hanya saja, dan ini yang mungkin perlu difahami bersama, kalimat-kalimat shalawat tersebut tercipta melalui bahasa hati. Terangkum dengan luapan kecintaan pera ulama yang mengarangnya terhadap rasul. Jadi ia bukan kalimat pujian berbahasa Arab biasa. Untuk bisa memahaminya, perlu menghadirkan hati. Kalimat-kalimat tersebut tidak cukup hanya diterjemahkan dengan bahasa lisan, dengan pemaknaan kata perkatanya semata. Karena jika hal ini terjadi, yang terkesan justru kalimat-kalimat tersebut mengandung unsur syirik.

Hari Santri 2018

Karena memaknai kalimat shalawat dengan terjemahan leterleg inilah, para pengamal bacaan shalawat mendapat kritikan tajam dari kelompok muslim yang terang-terangan menolak bacaan-bacaan shalawat tadi. Alasannya itu tadi, para pengkritik ini tidak atau belum bisa memaknai kalimat shalawat dengan hati. Mereka menterjemahkan shalawat dari terjemahan sempit.

Sebagai contoh, berikut sebagian redaksi kalimat shalawat Nariyyah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. "Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam atas nabi Muhammad yang karenanya (nabi Muhammad) terurai segala ikatan, semua kesusahan jadi hilang, segala kebutuhan bisa terpenuhi, semua keinginan bisa tercapai...." ?

Perhatikan redaksi kalimat yang di-bold. Bagi pengkritik shalawat Nariyyah, makna bacaan tersebut dianggap mengandung unsur syirik.? Apa betul nabi yang mempermudah perkara sulit? Apa benar Muhammad yang menghilangkan kesusahan? Apa betul Beliau yang memenuhi segala kebutuhan? Dan apa karena nabi juga semua keinginan bisa tercapai? Bukankah semua itu kuasa Allah semata! Hanya Allah yang berkuasa atas apa yang tersebut di atas. Bukan Muhammad. Jadi, kenapa bacaan shalawat seperti itu?! Demikian kiranya unsur syirik yang mereka maksud, setidaknya sebagaimana terkutip dalam akun facebook yang menamakan akunnya: PECINTA SUNNAH PEMBENCI BIDAH MENITI JEJAK SHALAFUS SHALIH.

Serupa dengan redaksi shalawat Nariyyah, dalam shalawat al-Fatih juga tidak luput dari kecaman kelompok ini. Apa betul Muhammad yang membuka segala hal yang terkunci (? ? ?)?, penutup dari apa yang telah lalu (? ? ?)? Penolong kebenaran dengan kebenaran (? ? ?)? Dan apa Muhammad juga yang memberi hidayah/ petunjuk kejalan yang lurus (? ? ? ?)? Bukankah semua itu juga kuasa Allah semata?!

Kalimat-kalimat tersebut, jika diterjemahkan secara kasat mata, sepintas memang nampak unsur syirik. Bahkan penulis pun pernah beranggapan demikian. Tapi setelah sekian lamanya berusaha memahami maknanya, sambil lalu tetap berkeyakinan bahwa tidak mungkin ulama-ulama yang karena kecintaan mereka kepada nabi akan menghasilkan ajaran syirik, penulis lantas menemukan jawaban realistis.

Mula-mula, mari kita cermati satu hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Bagi muslim Sunni (Ahlussunnah waljamaah), tidak mungkin meragukan keabsahan hadis dari Abu Hurairah. redaksi hadis kurang lebih demikian:

? ? ?: ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Rasul bersabda: Allah SWT berfirman: Barang siapa yang memusuhi wali (kekasih)Ku, maka Aku mengizinkannya untuk diperangi. Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan tetap saja hamba-Ku (berusaha) lebih mendekati Aku dengan ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku mencintainya. Dan jika sampai Aku telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan menjadi pendengarannya, yang bisa digunakan hambaku untuk mendengar; Aku menjadi penglihatannya untuk digunakannya melihat; menjadi tangannya untuk memegang; menjadi kakinya untuk berjalan; dan jika dia meminta, pasti akan Aku beri; dan ketika dia memohon perlindungan, pasti akan Aku lindungi"

Kesimpulan hadis di atas, seorang hamba yang sudah menjadi kekasih Allah, segala urusannya menjadi urusan Allah. Jika pengelihatan seseorang sudah menjadi pengelihatan Allah, adakah sesuatu yang tidak nampak baginya? Jika tangan seseorang telah dianggap "tangan Tuhan", adakah perkara yang tidakk bisa ditanganinya? Adakah keinginan kekasih Allah yang tidak bisa tercapai? Semuanya akan dibantu langsung oleh Allah. Demikian makna hadis di atas.

Sampai disini, mungkin masih tersisa pertanyaan: Apa hubungan antara hadis ini dengan bacaan shalawat tadi? Di mana korelasi kalimat yang bernada syirik dalam shalawat tadi dengan jaminan Allah bagi hambanya yang telah menjadi kekasih (wali) Allah? Bukankah segala kesulitan jadi mudah, kesusahan jadi hilang, kebutuhan terpenuhi, terbuka segala sesuatu yang terkunci, semuanya bisa teratasi jika seorang hamba menjadi kekasih Allah.

Aha, pada titik inilah peran nabi Muhammad nampak. Peran beliau ini bukan bualan para ulama. Bukan ocehan para perawi hadis, tapi justru Allah sendiri yang menampakkan peran rasul untuk jalan menjadi kekasih Allah. Hal ini ditegaskan langsung dalam Al-Quran, di surah Ali Imran: 31:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. "Katakan (hai Muhammad kepada manusia), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (nabi Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian, dan mengampunkan segala dosa-dosa kalian, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Sampai di sini jelas sudah, bahwa kunci menjadi kekasih Allah yang keistimewaannya telah dijelaskan di atas, adalah dengan cara mengikuti jejak rasul, dan mengamalkan sunnah-sunnahnya. Dan tidaklah mungkin kita bisa mengikuti jalan rasul jika kita tidak mencintai beliau. Artinya, kita bisa menjadi kekasih Allah setelah kita mampu menjadi kekasih rasul. Mustahil bisa langsung menjadi kekasih Allah tanpa menyandang kekasih rasul. Nabi Musa saja yang hanya ingin melihat Allah tidak kuasa, apa lagi kita! Bukankah sepasang kekasih saling bermesraan?! Lantas, jika melihat saja tidak bisa, bagaimana mau bermesraan?!

Maka, ungkapan-ungkapan "mesra" dalam shalawat tadi adalah wujud kemesraan hati para ulama terdahulu kepada rasul. Ujung-ujungnya, sebenarnya mereka juga "bermesraan" dengan Allah. Karenanya, hakekat yang "pembuka segala yang terkunci", "penghilang kesusahan", "pemudah segala hal yang sulit", semua itu hakekatnya kembali kepada Allah. Allah lah yang berkuasa melakukan segala urusan tadi. Tapi, dengan perantaraan kita mencintai Rasulullah. Wallahu Alam bissawab...

Dengan alasan ini, masihkah kita akan menyalahkan mereka pencipta kalimat-kalimat mesra (shalawat) sebagai pembuat ajaran yang mengandung unsur syirik?

?

Zulfan Syahansyah, ? aktifis pesantren dan pengamal bacaan shalawat, pengurus di Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah Malang

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sunnah Hari Santri 2018

Jumat, 19 Januari 2018

Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon

Depok, Hari Santri 2018. Pengurus PMII Depok memperkenalkan lagu Hubbul Wathon Minal Iman karya KH Abdul Wahab Chasbullah kepada puluhan peserta Mapaba di villa Jonjon, Bogor, Jumat-Ahad (28-30/11). Selepas sembahyang Ashar, mereka mengajak peserta menyanyikan lagu perjuangan.

Lagu yang mengandung pembangkitan semangat cinta Tanah Air ini, sengaja dihadirkan di kalangan peserta di tengah banyaknya ideologi yang mencoba mengusik kebhinekaan bangsa Indonesia.

Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Baru PMII UI Dikenalkan Lagu Hubbul Wathon

“Lagu ini menunjukkan betapa besarnya rasa cinta dan pengorbanan kaum santri terhadap proses pendewasaan bangsa”, tegas Alfany, salah seorang pemateri Mapaba.

Hari Santri 2018

Peserta berasal dari berbagai fakultas di UI. Selain mereka, turut pula peserta Mapaba asal STAN. Mereka tidak hanya dilatih kemampuan pengembangan softskill, namun juga diimbangi dengan aspek spiritual melalui mujahadah.

“PMII sebagai pergerakan dengan roh aswaja harus menempatkan aswaja menjadi prioritas utama dalam proses Mapaba,” terang pemateri lainnya Ahmad Solehan yang lazim disapa Kang Alex.

Hari Santri 2018

Untuk menginternalisasikan nilai-nilai keaswajaan, peserta juga diajak bermain dalam bentuk game yang mengasyikkan sambil memperdalam apa itu aswaja. (M Agus Fuat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Humor Islam, RMI NU, Sunnah Hari Santri 2018

Sabtu, 06 Januari 2018

Hijrah Menuju Kedamaian Dunia Islam

Tahun baru Islam 1438 Hijriyah berlangsung dalam suasana suram bagi umat Islam di dunia, tak beda jauh dengan tahun baru sebelum-sebelumnya. Belum banyak yang berubah dalam dunia Islam. Konflik yang melanda Suriah, Irak, Yaman, Palestina, dan kawasan dunia lainnya menimbulkan keprihatinan dan kesedihan yang mendalam karena ratusan ribu nyawa melayang sia-sia dan jutaan orang harus pindah dari tempat tinggalnya untuk mencari keamanan. Timur Tengah sebagai tempat lahirnya Islam, belum mampu menjadi cermin dari nilai-nilai Islam ramah, yang menghargai orang lain, yang mencintai ilmu pengetahuan, dan menyejahterakan pemeluknya. ?

Apa yang membuat ajaran yang seharusnya penuh kedamaian, kasih sayang, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan menjadi sesuatu yang sangat menakutkan? Sekelompok kecil penganut paham radikal telah membajak Islam menjadi sesuatu yang menyeramkan. Kolaborasi dengan politisi yang haus kekuasaan dan kecanggihan senjata pemusnah massal menjadi paduan yang sempurna untuk penghancuran manusia dan peradabannya. ?

Hijrah Menuju Kedamaian Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hijrah Menuju Kedamaian Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hijrah Menuju Kedamaian Dunia Islam

Dunia kini telah menjadi sebuah desa global, di mana permasalahan di satu tempat dengan cepat menyebar ke kawasan lainnya. Konflik di Timur Tengah kini menimbulkan problem pengungsi di Eropa. Jutaan orang berusaha mencari hidup yang lebih aman dan mimpi akan kesejahteraan dengan perjuangan melalui jalur laut yang keras menuju dataran benua biru. Setiba di sana, mereka dicurigai sebagai orang asing yang berpotensi membawa masalah, yang berusaha merebut pekerjaan yang kini juga kian susah dicari bagi penduduk lokal. Ini menimbulkan persoalan bagi banyak pemerintahan di Eropa.

Hari Santri 2018

Konflik juga telah melibatkan banyak negara besar dengan membawa kepentingannya masing-masing, seperti kepentingan ekonomi, militer, politik dan lainnya yang mengalahkan kepentingan kemanusiaan yang seharusnya diutamakan. Kepentingan nasional masing-masing negara menjadi tujuan prioritas karena para pemimpin dipilih oleh rakyat untuk menjaga kepentingannya. Lembaga dunia seperti PBB tidak bisa berbuat apa-apa melawan kuasa negara adikuasa.

Dengan kemudahan akses informasi dan transportasi, ajaran-ajaran radikal disebarkan dan dibawa ke seluruh dunia, termasuk Indonesia dengan mudah. Kehidupan yang seharusnya berlangsung dengan damai kini selalu penuh dengan kebencian dan ancaman kekerasan. Media sosial bagi kelompok kecil yang militan ini telah digunakan sebagai sarana menyebarkan teror dan mencari pengikut baru pada mereka yang memiliki semangat agama tinggi tetapi minim pengetahuan.

Apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini? Momen tahun baru bisa menjadi bahan refleksi guna memperbaiki keadaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun ini. Ada kesalahan memaknai ajaran Islam, ada yang harus akan kekuasaan, ada sistem pemerintahan yang buruk, ada keserakahan ekonomi, dan ada pula pihak luar yang berusaha meraih keuntungan dalam situasi konflik ini.

Hari Santri 2018

Meskipun situasi menjadi sedemikian rumit, kita harus tetap optimis bahwa masalah bisa diselesaikan. Dan butuh kesabaran bahwa tak ada penyelesaian instan. Pemerintah Indonesia sebagai negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia bisa memunculkan inisiatif-inisiatif mendorong perdamaian. Para ulama Nusantara bisa membangun jejaring di antara ulama internasional untuk membangun diplomasi antar masyarakat. Tak ada kata menyerah untuk berbuat sesuatu selama kita masih memiliki harapan. Islam Indonesia harus menunjukkan sebuah warna Islam yang layak untuk menjadi sebuah model berislam di era keterbukaan ini. Akankan tahun-tahun baru selanjutnya masing sesuram tahun baru kali ini atau tahun baru sebelumnya, kita sebagai umat Islam yang paling bertanggung jawab membentuk masa depan, bukan kepada pihak lain, apalagi pada umat agama lain. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sunnah Hari Santri 2018

Rabu, 03 Januari 2018

Gerhana dan Pengembangan Sains dalam Islam

Gerhana merupakan fenomena alam yang rutin terjadi. Tidak seperti gerhana bulan yang sering terjadi, gerhana matahari yang lebih jarang terjadi mendapat perhatian luas dari masyarakat Indonesia. Apalagi ada sejarah kelam ketika terjadi gerhana matahari total di Indonesia pada 1983 di mana para penduduk diperintahkan tinggal dalam rumah oleh penguasa Orde Baru karena kekhawatiran adanya kebutaan pada mata akibat menatap matahari secara langsung. Padahal gerhana matahari total merupakan fenomena langka yang bisa dipelajari dalam berbagai aspek. 

Belajar dari pengalaman masa lalu tersebut, gerhana matahari total yang melewati Indonesia pada 9 Maret 2016 ini disosialisasikan lebih baik kepada masyarakat sebagai sebuah peristiwa alam yang jarang terjadi dan patut sambut dengan baik, sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan, bahkan dipromosikan sebagai salah satu atraksi wisata pada daerah-daerah yang dilintasinya.  

Gerhana dan Pengembangan Sains dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerhana dan Pengembangan Sains dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerhana dan Pengembangan Sains dalam Islam

Bagi umat Islam, gerhana matahari bukan sekedar fenomena alam, tetapi sebuah bukti akan kebesaran Allah dalam mengatur jagat raya yang tersistem dengan baik. Karena itu, Rasulullah mengajar umat Islam untuk melaksanakan shalat sunnah ketika terjadi gerhana, baik gerhana matahari atau gerhana bulan. Sebelum kedatangan Islam atau menurut kepercayaan suku-suku tertentu, gerhana dimaknai sebagai peristiwa mistik, seperti adanya raksasa yang marah sehingga memakan matahari atau bulan. Karena itu, ada sesuatu yang harus dikorbankan untuk meredaan kemarahan tersebut. Islam, menentang kepercayaan dan mitos tersebut dengan memberikan penjelasan secara rasional.  

Karena gerhana tidak datang setiap saat, maka diperlukan kemampuan untuk memprediksi, kapan hal itu akan datang. Di sinilah peran ilmu pengetahuan sangat penting dalam mendukung pelaksanaan ibadah shalat gerhana. Ini juga menunjukkan bahwa dalam beribadah diperlukan dukungan sains. Sesungguhnya, Al-Qur’an dan hadits secara tegas mengajak umat manusia untuk membaca dan berpikir guna mempelajari alam. Dalam konteks ilmu sosial, perintah kepada manusia untuk menjad khalifah di bumi mensyaratkan kemampuan untuk mengelola kehidupan di seluruh alam. Semuanya akan berjalan dengan baik jika para pemimpin memiliki ilmu pengetahuan yang dibutuhkan. Ilmu pemerintahan, ilmu sosial, ilmu ekonomi, dan lainnya. 

Umat Islam pernah berjaya dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada abad pertengahan. Banyak ilmuwan-ilmuwan Muslim yang menjadi penemu berbagai kemajuan yang menjadi dasar ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini seperti Aljabar, Avicenna, Albirruni, dan lainnya. Sayangnya, umat Islam saat ini disibukkan dengan “urusan-urusan kecil” seperti pertentangan urusan amaliyah yang sifatnya khilafiyah dan perebutan kekuasaan dengan menggunakan jargon-jargon agama. Kawasan yang dulu menjadi pusat peradaban Islam seperti Irak, Suriah, dan Mesir, kini menghadapi masalah kemanusiaan yang berat. Boro-boro memikirkan pengembangan ilmu pengetahuan, untuk memikirkan keselamatan diri sendiri saja sulit

Hari Santri 2018

Di sisi lain, di belahan dunia lain yang hidup dengan damai, ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Seluruh komponen masyarakat, baik pemerintah maupun swasta, didorong untuk mengembangkan pengetahuan. Ada kesadaran bersama bahwa kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh pengetahuan yang dimilikinya. Lembaga-lembaga riset didanai secara besar-besaran untuk menghasilkan pengetahuan atau penemuan baru. Dengan demikian negara-negara Muslim, kini semakin tertinggal ketika kapasitas persaingan antarbangsa didasarkan pada kepemilikan ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi yang mampu dilakukannya. 

Masyarakat juga semakin mempercayai sains sebagai panduan dalam berperilaku. Jika ada pertentangan antara sains dan agama, maka sains lah yang dimenangkannya. Ini tentu menjadi persoalan serius bagi seluruh agama, bukan hanya Islam. Nilai-nilai dalam kitab suci kini dipertanyakan. 

Ada ajaran agama yang sifatnya dogmatis seperti pelaksanaan shalat lima waktu dan berapa rakaat jumlahnya, tetapi ada persoalan-persoalan yang membutuhkan jawaban. Masyarakat yang semakin terdidik membutuhkan argumentasi dan alasan rasional kepada suatu hal dilakukan seperti bentuk pemerintahan apa yang paling baik. Para ulama, jika tidak mampu merumuskan jawaban yang baik, akan ditinggalkan oleh umatnya. Saat umat dan bangsa lain sudah berhasil mencapai bulan dan menargetkan diri mencapai planet Mars, umat Islam masih disibukkan diri dalam metode melihat bulan sebagai kriteria penentuan awal puasa dan Idul Fitri. Ini merupakan salah satu contoh kecilnya.

Pengembangan ilmu pengetahuan telah memberi kemudahan hidup bagi manusia. Tapi ada tantangannya, ketika banyak riset kini dilakukan untuk kepentingan bisnis guna meraih keuntungan. Saat keuntungan komersial menjadi panduan utama, bisa saja mengorbankan hal-hal lain seperti nilai kemanusiaan. Ilmu pengetahuan yang tidak dipandu nilai-nilai moral kemanusiaan, memiliki potensi melenceng dari tujuan awalnya untuk mensejahteraan manusia. 

Hari Santri 2018

Sesungguhnya tantangan keberadaan agama terbesar bukanlah misi dari agama lain yang ingin merebut umat, tetapi agama baru berupa “sains” yang bergerak jauh di luar nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Tanpa panduan, suatu saat, sains bisa menghancurkan umat manusia sendiri. Menjadi tugas bersama seluruh umat Islam untuk meningkatkan kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan dan memasukkan nilai-nilai pengetahuan dengan nilai moral kemanusiaan. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sunnah, Hikmah, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock