Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Fatayat NU DIY Gelar Kegiatan Kesehatan Reproduksi untuk Santri Se-DIY

Yogyakarta, Hari Santri 2018 - Pengurus Pimpinan Wilayah Fatayat NU Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan kegiatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk santri usia 12-19 tahun (tingkat SLTP-SLTA/MTs/MA). Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam rentang antara Agustus-September 2016.

Kegiatan ini memiliki dua pelaksanaan. Pertama, kegiatan Lokakarya Kesehatan Reproduksi untuk Tim Fasilitator Fatayat yang telah dilaksanakan pada 5 Agustus 2016 lalu. Kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan fasilitator dalam memberi pelatihan kepada para santri. Kedua, kegiatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Santri di pesantren di Wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Fatayat NU DIY Gelar Kegiatan Kesehatan Reproduksi untuk Santri Se-DIY (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU DIY Gelar Kegiatan Kesehatan Reproduksi untuk Santri Se-DIY (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU DIY Gelar Kegiatan Kesehatan Reproduksi untuk Santri Se-DIY

"Tentunya pendidikan kesehatan reproduksi ini juga penting diberikan kepada santri untuk membekali diri mereka agar terhindar dari risiko reproduksi," kata Wiwin? Siti Aminah Rohmawati selaku penanggung jawab dari kegiatan ini.

Pada kenyataannya risiko-risiko perilaku seksual dan reproduksi yang menyimpang terjadi dan mengancam seluruh lapisan usia, dan kalangan. Seperti Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), aborsi tidak aman, kanker rahim, hingga kematian akibat proses reproduksi dan infertilitas. Remaja termasuk salah satu kelompok usia yang berisiko tinggi.

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

"Memang target kami adalah remaja karena sudah selayaknya pengetahuan seputar kesehatan seksual dan reproduksi dimiliki oleh mereka sebagai bekal keterampilan mengelola perilaku dalam rangka mengurangi risiko-risiko tersebut," jelas Rindang Farihah salah tim fasilitator kegiatan PW Fatayat NU DIY.

Kegiatan ini sudah terlaksana di dua pesantren. Pada 12 Agustus 2016 kegiatan ini diadakan di Pesantren An-Nur Bantul. Pada 21 Agustus 2016 kegiatan yang sama digelar di Pesantren Darul Quran Gunung Kidul.

"Rencana untuk dua bulan ini, ada 13 pesantren yang akan mengikuti program kami. Ada Pesantren An-Nur, Darul Quran, Krapyak, Sunan Pandanaran, Binaul Ummah, Luqmaniyah, Ulul Albab, Sunni Darussalam, Diponegoro, Wahid Hasyim, Aswaja Nusantara, dan Pesantren Mlangi. Sedangkan yang satu dilaksanakan di Masjid Az-Zahrotun Wonocatur yang targetnya adalah remaja masjid dan warga sekitar masjid," jelas Lien Iffah selaku ketua panitia penyelenggara. (Muyas/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Doa, Aswaja Hari Santri 2018

Selasa, 27 Februari 2018

Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya

Oleh Muhammad Iqbal



Selain sebagai pusat pendidikan, masjid berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku. Buku-buku itu didapat dari hadiah-hadiah yang diberikan kepada pengurus masjid atau hasil pencarian dari pelbagai sumber. Karenanya, masjid-masjid pada periode Dinasti Abbasiyah memiliki khazanah buku-buku keagamaan yang sangat kaya. Salah seorang donatur buku-buku itu adalah seorang sejarawan mahsyur bernama al-Khathib al-Baghdadi (1002-1071), yang menyerahkan buku-bukunya sebagai wakaf untuk umat Muslim. Hanya saja buku-buku itu disimpan di rumah seorang kawannya. Perpustakaan-perpustakaan lainnya dibangun oleh kalangan bangsawan atau orang kaya sebagai lembaga-lembaga kajian yang terbuka untuk umum, menyimpan sejumlah koleksi buku logika, filsafat, astronomi, dan bidang ilmu lainnya.

Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya

Perpustakaan juga menjadi pusat pendidikan kaum Muslim. Para sarjana Muslim dari berbagai jenis tradisi keilmuan: agama (naqliyyah), sastra, filsafat, matematika, fisika, kedokteran, botani, hingga tasawuf, masing-masing menyumbangkan kekayaan khazanah ilmu pengetahuan Islam yang patut dibanggakan. Kekayaan khazanah intelektual Islam klasik itu berasal dari dua sumber. Pertama, bersumber dari terjemahan-terjemahan manuskrip kuno dari berbagai peradaban pra-Islam beserta komentar-komentar yang diberikan oleh ilmuwan Muslim. Kedua, bersumber dari karya-karya ilmiah. Umumnya tokoh-tokoh sarjana Muslim itu melahirkan anak-anak rohaninya, berupa ratusan karya ilmiah pelbagai jenis imu pengetahuan selama hidupnya, seakan-akan mereka hidup hanya untuk membaca, meneliti dan menulis belaka. Ibn Hazm misalnya, diriwayatkan menulis empat ratus buku yang totalnya mencapai 80.000 halaman.

Hari Santri 2018

Pada pertengahan abad kesepuluh, kota Mosul memiliki perpustakaan yang dibangun oleh salah seorang penduduknya. Di dalam perpustakaan itu, para pelajar yang mengunjunginya bisa mendapatkan kertas dan alat tulis lainnya secara gratis. Perpustakan (khizanat al-kutub) dibangun di Syiraz oleh penguasa Buwaihi, ‘Adud al Dawlah (977-982) yang semua buku-bukunya disusun di atas lemari-lemari, didaftar dalam katalog, dan diatur dengan baik oleh staf administratur yang berjaga secara bergiliran.

Pada abad yang sama, kota Bashrah memiliki sebuah perpustakaan yang di dalamnya para sarjana bekerja dan mendapatkan upah dari pendiri perpustakaan. Dan, di kota Rayy terdapat sebuah tempat yang dijuluki “Rumah Buku”. Dikatakan bahwa tempat itu menyimpan ribuan manuskrip yang diangkut oleh lebih dari empat ratus ekor unta. Seluruh naskah-naskah itu kemudian didaftar dalam sepuluh jilid katalog.

Hari Santri 2018

Perpustakaan-perpustakaan itu digunakan sebagai tempat-tempat pertemuan untuk diskusi dan debat ilmiah. Ulama Yaqut al-Hamawi, misalnya, menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk mengumpulkan bahan-bahan yang ia perlukan untuk menulis kamus geografinya. Bahan-bahan itu ia dapatkan dari berbagai perpustakaan di Marwa dan Kharizm. Ia pun harus menghentikan upayanya itu pada 1220, ketika pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan mulai menyerang negeri-negeri muslim dan membumihanguskan seluruh perpustakaan itu.

Pada abad ke-13, perpustakaan Fathimiyyah di Kairo memiliki koleksi sejumlah dua juta judul buku. Perpustakaan di Tripoli juga tak kalah banyaknya. Secara umum, pada abad ke-13 itu telah tersedia sekitar lima juta judul buku; suatu jumlah buku yang amat banyak untuk zaman ketika itu. Ketika Dinasti Fathimiyyah mengangkat citra Mesir sebagai pusat peradaban Islam terkemuka sejagat, ada seorang penguasa keturunan Umayyah di Kordoba, al-Hakam, yang pada akhir abad ke-10 mendirikan sebuah perpustakaan besar. Dia mengumpulkan para ilmuwan dan pemimpin masjid, dan masjid besar di Kordoba dibuat menjadi pusat studi. Perpustakaan yang berada di dalam istana Kordoba itu diurus oleh petugas perpustakaan; juga mempekerjakan para penyalin dan penjilid buku. Al-Hakam mempunyai agen-agen di setiap provinsi yang menyediakan buku untuknya dengan cara membeli dan menyalin. Perpustakaan itu terbuka untuk publik.

Sayangnya, ketika Khalifah al-Manshur terpengaruh oleh para ulama ortodoks yang kurang atau tidak berkenan kepada buku-buku ilmu, seperti karya filsafat, astronomi, dan ilmu-ilmu umum lainnya yang dianggap sekuler (sains awa’il), banyak buku ilmu-ilmu tersebut yang dibakar. Pembakaran atau permusuhan buku-buku itu merupakan awal malapetaka etos keilmuan Islam yang sampai detik ini kita rasakan akibatnya, yakni sedemikian rendahnya semangat keilmuan di negeri-negeri kaum Muslim.

Selain perpustakaan, lukisan perihal budaya baca pada periode ini bisa juga dilihat dari banyaknya toko buku. Toko-toko itu, yang berfungsi sebagai agen pendidikan, mulai muncul sejak awal kekhalifahan Abbasiyah. Al-Ya’qubi meriwayatkan bahwa pada masanya (sekitar 891), ibu kota negara diramaikan oleh lebih dari seratus toko buku yang berderet di satu ruas jalan yang sama. Sebagian toko-toko itu, sebagaimana toko-toko yang kemudian muncul di Damaskus dan Kairo, tidak lebih besar dari ruangan samping masjid, namun ada juga toko-toko yang berukuran sangat besar, cukup besar untuk pusat penjualan sekaligus sebagai pusat aktifitas para ahli dan penyalin naskah.

Para penjual buku itu sendiri banyak yang berprofesi sebagai penulis kaligrafi, penyalin dan ahli sastra yang menjadikan toko mereka tak hanya sebagai tempat jualan, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ilmiah. Mereka mendapatkan kedudukan terhormat di tengah masyarakat. Yaqut memulai kariernya sebagai pegawai di sebuah toko buku. Ibn al-Nadim (w. 995) yang juga ditahbiskan sebagai al-Warraq (“lembar kertas”), menjalani kariernya sebagai pustakawan dan penjual buku yang kemudian menulis sebuah karya besar berupa katalog berjudul al-Fihrist yang diakui oleh kalangan cendekiawan dan ilmuwan sebagai karya yang sangat baik. Dalam buku itu, kita bisa membaca tentang sebuah pusat pemeliharaan naskah Iraqi yang memiliki rumah besar menyimpan sejumlah naskah termasuk yang ditulis di atas lembaran-lembaran kain perca, papirus Mesir, kertas Cina, dan gulungan kulit. Pada jilid masing-masing naskah itu tercantum nama penulisnya, dan di pinggir-pinggir halaman (marjin) terdapat pelbagai catatan yang ditulis oleh para pelajar mulai lima atau enam generasi sebelumnya.

Hingga awal abad ke-3 Hijriah, bahan yang umum digunakan untuk menulis ialah kain perca dan papirus. Dokumen-dokumen resmi yang ditulis di atas kain perca dan disimpan ketika terjadi perang sipil antara al-Amin dan al-Ma’mun, dicuci bersih kemudian dijual lagi. Kertas Cina mulai masuk ke Irak pada abad ketiga Hijriah. Segera setelah itu, industri kertas tumbuh menjamur. Industri itu pertama kali muncul di Samarkand. Beberapa orang tawanan Cina pada 751 memperkenalkan seni pembuatan kertas dari flax, linen atau kain rami. Kata kuno Arab untuk kertas, kaghad, kemungkinan berasal dari bahasa Cina, dan kemudian diserap ke dalam bahasa Arab.

Dari Samarkand, industri itu menyebar ke Irak. Pada masa pemerintahan al-Fadhl ibn Yahya al-Barmaki, yang pernah menjadi Gubernur Khurasan pada 794, pabrik kertas pertama berdiri di Baghdad. Saudaranya, Ja’far, menteri pada Khalifah Harun menggantikan penggunaan kain perca dengan kertas untuk menuliskan dokumen-dokumen resmi negara. Kota-kota Muslim yang lain membangun pabrik-pabrik kertas mengikuti rancangan pabrik yang berada di Samarkand. Sebuah pabrik dibangun di Tihamah untuk membuat kertas dari serat tumbuhan. Pada masa al-Maqdisi, kertas produksi Samarkand masih dianggap sebagai kertas yang terbaik kualitasnya. Namun pada abad berikutnya, abad kesebelas, kertas-kertas dengan kualitas yang sangat bagus juga diproduksi di kota-kota Suriah dan di Tripoli.

Dari daratan Asia Tengah, industri itu mulai menyebar hingga ke Delta Mesir sejak akhir abad kesembilan. Beberapa kota di sana dalam jangka waktu yang cukup lama selalu mengekspor papirus dari negara-negara berbahasa Yunani untuk media menulis. Produk ekspor itu mereka sebut qarathis (dari bahasa Yunani: chartes). Pada akhir abad ke-10, kertas telah menggantikan perca dan papirus di seluruh wilayah umat Muslim.

Arkian, jalan kaum Muslim (era kekinian) menuju pengetahuan terintangi oleh dogma, sikap apologetis, kemalasan, dan kebodohan yang sebenarnya tidaklah rumit. Namun kebanyakan, jalan kaum Muslim itu terintangi oleh sikap acuh tak acuh yang nyaris sempurna terhadap nilai akal dan peran yang dimainkannya dalam mencari ilmu pengetahuan. Kaum Muslim dewasa ini lebih suka membangun gedung-gedung ketimbang pikiran. Padahal, di zaman sekarang ini, siapa saja yang menguasai arus informasi, berarti menguasai wacana.

Penulis adalah alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Bahtsul Masail, Kajian Sunnah, Doa Hari Santri 2018

Kamis, 22 Februari 2018

PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

Jakarta, Hari Santri 2018. Saat ini dunia maya tengah viral oleh adanya penceramah agama yang dinilai tidak kompeten di salah satu televisi nasional. Terlihat dalam tayangan itu seorang ustadzah yang menulis ayat Al-Quran  dengan kesalahan yang sangat fatal. 

PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

Hal tersebut mengundang keprihatinan Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), KH Maman Imanulhaq.

Kiai Maman menegaskan bahwa televisi adalah media yang efektif ditonton dan memengaruhi pola pikir  masyarakat umum. Apabila tayangan ceramah keagamaan yang berkualitas dengan materi dakwah yang transformatif dan aktual disuguhkan oleh penceramah yang kompeten, maka akan mengukuhkan nilai agama yang menjadi semangat perubahan dan perdamaian.

"Sebaliknya bila materi ceramah yang hanya tekstual, tidak komprehensif dikarenakan tidak memiliki kompentensi, dan cenderung menyalahkan kelompok yang berbeda akan mempengaruhi masyarakat untuk saling membenci dan akan membingungkan umat,” ujarnya, Selasa (5/12).

Kejadian tersebut bukan pertama kali. Beberapa acara keagamamaan di televisi membuat resah umat diantaranya karena cenderung menyalahkan tradisi dan ritual yang dilakukan sebagian besar umat Islam di Indonesia. 

Hari Santri 2018

Untuk mengantisipasi kejadian serupa Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahldatul Ulama (LD-PBNU) dan LTNNU akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) secara berkala. 

Hari Santri 2018

Hasil dari FGD akan dikomunikasikan dengan statsiun-statsiun TV melalui program visit media. 

Selain itu, juga akan memberikan daftar profil 30 ustad muda NU kepada stasiun televisi. Para dai muda NU yang  nantinya direkomdasikan dipastikan adalah penceramah yang berkompeten. Penceramah juga mampu membawakan materi dakwah yang jadi solusi keagamaan bernilai kasih sayang serta memberikan dampak sosial serta membawa perbaikan bagi peradaban.

Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (Lembaga Infokom dan Publikasi) LTN PBNU, Hari Usmayadi, mengatakan pihaknya telah membuat kompilasi penceramah yang memiliki kompetensi keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada para pihak yang membutuhkan, termasuk stasiun televisi.

“Pada saat ini telah disediakan dan terus dikembangkan website layanan Syiar Digital Nahdlatul Ulama dengan alamat www.nahdlatululama.id yang menyediakan daftar profil ustad dari berbagai provinsi dengan beragam keilmuan agama. Versi videonya ditampilkan di kanal video http://youtube.com/nahdlatululama, sehingga memudahkan masyarakat perkotaan dan perkantoran dalam mencari ustad,” kata pria yang akrab dipanggil Cak Usma ini. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 PonPes, Pahlawan, Doa Hari Santri 2018

Minggu, 11 Februari 2018

Lakpesdam NU Kota Pasuruan Luncurkan Layanan Bimbel Gratis

Jakarta, Hari Santri 2018 - Program pengembangan sumber daya nahdliyin di Kota Pasuruan yang dilakukan oleh Lakpesdam PCNU Kota Pasuruan pada 2016 telah diluncurkan, Jumat (12/2). Pemotongan tumpeng oleh Wakil Ketua PCNU Kota Pasuruan KH Muhammad Nailurrohman menandai peresmian program Lakpesdam Aswaja Bergerak. Program ini antara lain memperkenalkan layanan bimbingan belajar gratis bagi warga Pasuruan.

Peresmian ini disaksikan oleh para murid Lakpesdam Bimbel School (LBS), wali murid LBS, dan tokoh masyarakat Mandaran tempat LBS berdiri dan berkhidmah. Titik fokus program Lakpesdam Aswaja Bergerak adalah membangun dan memberdayakan warga Kota Pasuruan yang berjiwa santri, antiradikalisme dan antinarkoba.

Lakpesdam NU Kota Pasuruan Luncurkan Layanan Bimbel Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Kota Pasuruan Luncurkan Layanan Bimbel Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Kota Pasuruan Luncurkan Layanan Bimbel Gratis

KH Nailurrohman memberikan apresiasi atas terlaksananya LBS sebagai program kelimuan yang memberikan ilmu bagi masyarakat khususnya mereka yang kurang mampu. Ia memberikan motivasi kepada anak murid untuk giat belajar, serta memberikan motivasi dan doa agar kelak mereka tumbuh menjadi generasi NU yang siap berbakti pada negara dan Nahdlatul Ulama.

Hari Santri 2018

Ketua Lakpesdam PCNU Kota Pasuruan Waladi Imaduddin menyampaikan bahwa LBS adalah program yang dimaksudkan untuk meningkatkan SDM masyarakat pesisir di Kota Pasuruan. “Program ini diberikan secara gratis sebagai bentuk gerakan anfa‘uhum lin nas PCNU Kota Pasuruan melalui Lakpesdam setempat,” kata Waladi.

Hari Santri 2018

Program Lakpesdam Aswaja Bergerak di tahun ini merencanakan workshop deradikalisasi di sekolah, kampus dan masjid di Kota Pasuruan.

Ia berharap program ini didukung oleh Pemkot Pasuruan sebagai mitra strategis untuk bisa membangun masyarakat Kota Pasuruan yang berdaya dan bermartabat sebagai kota ber-Aswaja. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Berita, Doa, Humor Islam Hari Santri 2018

Senin, 05 Februari 2018

Ratusan Gus dan Lora Akan Ikuti Daurah Aswaja NU Jatim

Surabaya, Hari Santri 2018 - Dalam waktu dekat ratusan gus dan lora akan mengikuti daurah Aswaja yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jawa Timur. Para penerus tampuk kepemimpinan di pesantrennya masing-masing ini akan mengikuti pendidikan keaswajaan NU awal Maret mendatang.

"Tujuan diselenggarakan daurah ini adalah sebagai sarana bagi terciptanya silaturahmi antargus atau lora," kata Ketua panitia daurah Ustadz Ahmad Nur Fauzi kepada Hari Santri 2018 (3/2).

Ratusan Gus dan Lora Akan Ikuti Daurah Aswaja NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Gus dan Lora Akan Ikuti Daurah Aswaja NU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Gus dan Lora Akan Ikuti Daurah Aswaja NU Jatim

Menurut Nur Fauzi, kegiatan ini menegaskan bahwa keberadaan para gus dan lora sangat penting bagi kerekatan hubungan di masa mendatang. "Karena mereka akan menjadi tumpuan masa depan pesantren dan masyarakat," kata Koordinator Daurah Aswaja di PW Aswaja NU Center Jatim.

Pihaknya sangat berharap bahwa para putra kiai dan pengasuh pesantren telah tertanam nilai-nilai Aswaja NU sejak usia muda. Ia mengajak para gus dan lora peduli, memberikan perhatian, dan menjadi pejuang loyal Aswaja. Dengan begitu mereka benar-benar merasa dilibatkan dalam menjaga Aswaja sejak dini.

Hari Santri 2018

Usai daurah, mereka diharapkan membumikan Aswaja NU di pesantren masing-masing baik dalam bentuk kajian maupun halaqah Aswaja, kata alumni Pesantren Sidogiri Pasuruan ini.

Hari Santri 2018

Selama daurah peserta akan dikenalkan dengan pengertian Aswaja, sejumlah amaliah Nahdliyah, dan kebangsaan. "Para gus dan lora akan diberikan gambaran seputar kemunculan sekte dalam Islam yang dibarengi dengan cara menyikapinya," kata Ustadz Fauzi.

Menurut rencana, daurah akan dilaksanakan pada 13 Maret mendatang. "Kami akan menggunakan ruangan Salsabila milik PWNU Jatim karena lebih mudah dijangkau dan representatif untuk kegiatan daurah," ungkapnya.

Sebaran penawaran kepesertaan telah dilakukan untuk didata lebih lanjut. Panitia sudah mengirimkan surat ke sejumlah pesantren di Jatim dan meminta kesediaan mereka dalam kegiatan yanga akan berlangsung hingga 8 Maret mendatang.

"Hal itu dilakukan agar panitia bisa melayani peserta yang jelas putra kiai dan pengasuh pesantren dengan baik," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alahfiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian, Jadwal Kajian, Doa Hari Santri 2018

Merangkai Diaspora NU Internasional

Sejak berdiri pada 1926, NU telah memiliki visi internasional. Perjalanan Kiai Wahab Chasbullah dalam rangka Komite Hijaz yang memperjuangkan kebebasan bermazhab yang dianut oleh umat Islam dari berbagai belahan dunia menunjukkan pandangan global NU. Kini, jejaring NU pun semakin meluas ke pojok-pojok dunia yang dulu namanya saja tidak dikenal.?

Dalam berbagai kesempatan, NU juga mengadakan konferensi internasional yang dihadiri oleh para ulama dari berbagai negara. Dalam forum tersebut, dibicarakan permasalahan yang dihadapi umat Islam secara umum. Banyak persoalan umat yang membutuhkan upaya bersama untuk pemecahannya. Salah satunya adalah kasus Palestina yang bahkan hingga kinipun belum ditemukan solusinya. Karena itu, upaya kerjasama yang lebih erat menjadi semakin terasa urgensinya.

Merangkai Diaspora NU Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Merangkai Diaspora NU Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Merangkai Diaspora NU Internasional

Keberadaan warga NU di berbagai negara juga menunjang internasionalisasi NU. Diaspora warga NU di kancah internasional didorong oleh banyaknya warga negara Indonesia yang bekerja atau belajar di luar negeri. Sekalipun berada di negeri asing, mereka tetap menjalankan amaliah Nahdliyah. untuk Bersama-sama dengan orang yang satu paham dan tradisi, akhirnya mulailah didirikan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang merupakan nama bagi struktur kepengurusan NU yang ada di luar negeri sebagai sarana untuk berorganisasi dan memperkuat NU secara struktural.

PCINU-PCINU yang mulai berkembang pada era 2000an di era kepemimpinan NU oleh KH Hasyim Muzadi ini perlu mendapat perhatian yang memang istimewa, sesuai dengan nama yang disandangnya. Mereka menjadi duta untuk mengabarkan Islam Indonesia yang ramah dan damai di tempat di mana mereka berada. Dakwah terbaik adalah dengan menunjukkan akhlak dan perilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam. Kader NU di luar negeri, terutama di negara-negara di mana Muslim menjadi minoritas, bisa menampilkan Islam yang menghargai semua golongan. Cara ini jauh lebih efektif dari sekedar kampanye antiislamofobia.

Apa yang dilakukan oleh PCINU Belanda pada akhir Maret 2017 ini menunjukkan upaya promosi Islam moderat ala Indonesia dengan menyelenggarakan konferensi internasional di sebuah universitas di Amsterdam. Acara yang mengundang para pakar yang kompeten dalam ilmu keislaman ini merupakan bagian dari konferensi cabang NU Belanda. PCINU United Kingdom (UK) dalam kesempatan berbeda juga menyampaikan keprihatinannya atas kasus penyerangan di London. Semuanya mewakili wajah Islam Indonesia yang ramah dan mendorong penyelesaian persoalan secara damai.

Bagi warga NU yang bekerja atau menjalankan bisnis di luar negeri, keberadaan PCINU ini bisa menjadi kesempatan kepada perluasan jejaring bisnis internasional dan warga NU di Indonesia. Ada banyak sekali produk dan jasa dari warga NU yang bisa ditawarkan ke pasar global. Jika ada pebisnis NU yang sukses karena peran PCINU, tentu mereka juga akan mendukung dakwah NU dengan berkah perkembangan usaha yang mereka peroleh.

Hari Santri 2018

Bagi anggota PCINU yang menjadi pelajar di berbagai negara, mereka diharapkan menjadi penerus perjuangan NU di masa mendatang ketika mereka kembali ke Indonesia. Mereka yang belajar ilmu-ilmu keislaman, khususnya di kawasan Timur Tengah dapat mewarisi keulamaan dan menjalankan peran-peran keagamaan. Bagi yang belajar ilmu nonagama di Eropa, Amerika, Jepang, dan kawasan dunia lainnya, mereka bisa menyumbangkan ilmu yang dimiliki bagi masyarakat atau warga NU sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Ada banyak sekali perangkat organisasi NU yang membutuhkan dukungan para ahli dan kepakaran tertentu, di antaranya adalah Lembaga Perekonomian NU, Lembaga Hukum, Lembaga Pendidikan, dan lainnya.?

Agar mereka bersedia mengabdi kepada NU, tentu dari awal harus diperkenalkan dengan NU secara organisatoris, bukan hanya NU kultural. PCINU menjadi kawah candradimuka untuk memperkenalkan apa itu NU dan apa peran-peran keumatan yang dapat dilakukannya.?

Anak-anak NU tersebut perlu dijaga dari pengaruh Islam transnasional yang ditampilkan dengan cara memikat, tetapi sesungguhnya memiliki pandangan radikal dan intoleran terhadap kelompok atau agama lain. Di sisi lain, kader muda NU juga harus diselamatkan dari gaya hidup bebas dimana segala sesuatu diperbolehkan atas dasar kebebasan individual tanpa mempertimbangkan bahwa Allah itu ? ada yang memiliki hak atas individu-individu.?

NU ternyata juga diminati bukan hanya oleh warga negara Indonesia yang berada di luar negeri, tetapi juga warga lokal. Yang sudah berdiri adalah NU Afganistan yang semua pengurusnya adalah warga setempat. Beberapa ulama internasional yang berkunjung ke PBNU juga berharapa bisa mendirikan NU di tempatnya masing-masing. Tentu saja, NU-nya akan menyesuaikan diri dengan lokalitas negara di mana organisasi tersebut didirikan. Dalam hal ini, tentu harus dirumuskan panduannya dan prinsip-prinsip dasar yang dianut oleh NU. Jangan sampai ada yang mengaku NU di luar negeri, tetapi ternyata prinsip ajarannya tidak sesuai dengan NU yang sesungguhnya di Indonesia, baik sifatnya menjadi radikal atau liberal.?

Hari Santri 2018

Persatuan Muslim dalam jejaring NU jika mampu dikelola dalam tingkat internasional tentu akan menjadi kekuatan tersendiri dalam memperjuangkan kepentingan umat Islam dalam ranah global seperti upaya peningkatan kesejahteraan, ilmu pengetahuan, kesehatan, penyelesaian kasus Palestina, atau konflik-konflik lokal yang terjadi di beberapa kawasan Muslim. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Kiai, Doa Hari Santri 2018

Jumat, 02 Februari 2018

Gus Rozin Bangga Terhadap Talenta-talenta Muda Liga Santri

Jepara, Hari Santri 2018. KH Abdul Ghaffar Rozin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMINU) bangga terhadap talenta-talenta muda di Liga Santri Nusantara (LSN).

Menurut dia mereka bermain secara sportif sesuai dengan regulasi yang ada. Di samping itu yang tak kalah penting adalah mengedepankan akhlak santri yakni akhlakul karimah. 

Gus Rozin Bangga Terhadap Talenta-talenta Muda Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Rozin Bangga Terhadap Talenta-talenta Muda Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Rozin Bangga Terhadap Talenta-talenta Muda Liga Santri

Sambutan itu disampaikan Gus Rozin dalam penutupan babak final LSN Region 1 Jateng yang berlangsung di stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara, Sabtu (30/9) sore. 

Dikemukakannya, dari tahun ke tahun peserta LSN terus bertambah. “Tahun 2015 ada 320 peserta, 2016 ada 830 dan tahun ini 1480 pesantren,” ungkapnya.

Hari Santri 2018

Gus Rozin yang juga Ketua Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati itu menambahkan event LSN sebagai wahana silaturrahim antar pesantren juga untuk menjaga NKRI. Ia meyakini dengan sumbangsih skill (kemampuan) yang baik dengan didukung akhlak, region-region muda akan memperkuat timnas. 

Rafli yang merupakan jebolan LSN telah memperkuat garuda muda. “Ke depan Indonesia bakal menang melawan Malaysia yang pemainnya tentu dari liga santri,” doa Gus Rozin. 

Mayjend TNI (Purn) Sunindyo, salah seorang pengamat sepakbola mengatakan dirinya tidak menyangka pemain liga santri bisa bermain dengan sportif. Menurut mantan Panglima Kodam IV Diponegoro itu sportivitas memang diajarkan di pondok. 

“Peserta liga santri adalah intelektual yang hafal alquran dan pinter main sepakbola,” tandasnya. 

Hari Santri 2018

Dirinya mengemukakan, santri zaman dulu memperjuangkan negara sekarang santri memperjuangkan timnas. 

KH Ubaidillah Noor Umar, Rais Syuriah PCNU Jepara menyatakan menjadi santri harus bangga karena bulan Oktober ini akan diperingati hari santri nasional (HSN) ketiga. 

“Jika santri di Indonesia diperhatikan NKRI semakin utuh dengan bersatunya pesantren-pesantren di Indonesia,” papar Mbah Ubaid.

Dalam laga final LSN Region 1 Jateng yang memperebutkan piala Bupati Jepara keluar sebagai juara I An Nur FC (Blora), disusul juara 2 Manhik United (Kendal) dan sebagai juara III Alfalah FC (Salatiga). 

Konfigurasi MOB 1000 santri dan drum band dari pesantren Balekambang Jepara juga turut memeriahkan kegiatan tersebut. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Anti Hoax, Doa Hari Santri 2018

Jumat, 26 Januari 2018

Ketika Jumlah Kursi Tak Cukup untuk Kader Ansor

Pekalongan, Hari Santri 2018



Perhelatan Konferensi Wilayah (Konferwil) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah yang berlangsung di Kajen Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, Ahad (12/11) diperkirakan bisa tertampung di Gedung Pertemuan Umum (GPU) berkapasitas 2000 kursi, ternyata pesertanya di luar dugaan panitia.

Ketika Jumlah Kursi Tak Cukup untuk Kader Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Jumlah Kursi Tak Cukup untuk Kader Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Jumlah Kursi Tak Cukup untuk Kader Ansor

Dari data resmi panitia, peserta yang melakukan daftar ulang tidak sampai menyentuh angka 2000 peserta, sehingga panitia menyatakan cukup dengan tidak perlu menambah kursi cadangan untuk menampung seluruh peserta Konferwil.

Namun apa dikata, ternyata dugaan panitia meleset, karena peserta yang hadir jauh lebih banyak dari data resmi yang dimiliki panitia.

Maka yang terjadi adalah, seluruh peserta memaksa diri untuk masuk ke gedung milik Pemerintah Kabupaten Pekalongan sekadar ingin bisa mendengarkan orasi Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor pada sesi pembukaan Konferwil, sehingga mereka rela lesehan di lantai keramik.

Hari Santri 2018

Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah Ikhwanudin meminta maaf atas kejadian peserta lesehan di saat pembukaan Konferwil. Pasalnya, panitia telah melakukan yang terbaik untuk memberikan pelayanan kepada peserta, akan tetapi ternyata ada anggota Ansor yang tidak mendapat undangan sebagai peserta memaksakan hadir di arena Konferwil.

Pantauan Hari Santri 2018 di arena Konferwil, selain mereka, lesehan di dalam gedung, di luar ada ratusan anggota Ansor dan Banser yang tidak bisa masuk mendengarkan pidato Ketua Umum dengan memanfaatkan tenda-tenda bazar. Mereka lesehan sambil ngopi dan menikmati jajanan stand Ansor Kabupaten Pekalongan.?

Selain itu, puluhan rombongan peserta Konferwil yang datang dari berbagai daerah ada yang sudah datang sejak malam sebelumnya. Bahkan di antara peserta ada yang mendirikan tenda dan dipasang di sekitar gedung GPU untuk sekadar tempat transit. Rombongan lainnya ada yang memanfaatkan kehadirannya di Kota santri Pekalongan dengan melakukan ziarah ke makam Habib Ahmad Alatas di kompleks pemakaman Sapuro Kota Pekalongan.?

Hari Santri 2018

Mereka yang melakukan ziarah tak hanya Ansor Boyolali, cabang lain seperti Blora, Cilacap, Sragen, dan daerah lainnya juga tak menyiakan kesempatan mereka berada di wilayah Pekalongan untuk melakukan hal yang sama.

Akibat dari over peserta yang hadir, AC gedung pertemuan umum seolah tak berfungsi sama sekali. Bahkan Ketua Umum PP GP Ansor Gus Tutut saat memberikan pengarahan umum, di hadapan bupati, ia meminta secara khusus agar fasilitas AC ditambah lagi. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 IMNU, Doa Hari Santri 2018

Selasa, 23 Januari 2018

PWNU Lampung Miris Fenomena Beragama untuk Serang Orang Lain

Bandar Lampung, Hari Santri 2018



Ketua PWNU Provinsi Lampung KH Sholeh Bajuri merasa miris dengan banyaknya orang hafal ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi, tapi tidak dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan dengan melihat konteks kehidupan nyata.

Apalagi saat ini ia juga melihat banyak tokoh dan orang yang mempelajari agama tidak dimanfaatkan untuk kemaslahatan agama dan umat, tapi digunakan untuk saling menyalahkan dan saling menebar fitnah.

PWNU Lampung Miris Fenomena Beragama untuk Serang Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung Miris Fenomena Beragama untuk Serang Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung Miris Fenomena Beragama untuk Serang Orang Lain

"Miris sekali melihat orang-orang saling menebar fitnah, ujaran kebencian dan dengan gampang sekali menyebarkan berita hoaks sehingga gampang saling serang antarumat Islam," katanya, Senin (4/9).

Hal ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa tanda-tanda kiamat kecil sudah dekat dan hal ini perlu disikapi oleh seluruh umat Islam untuk segera menyadari agar kondisi seperti ini segera dihentikan.

Hari Santri 2018

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kondisi seperti ini juga sudah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW melalui Haditsnya yang menjelaskan bahwa suatu saat Islam akan tinggal namanya saja.

"Betapa banyak saat ini orang ang yang mengaku Islam, namun ucapan dan tindakannya tidak mencerminkan Islam. Ngaku Islam, namun tuntunan agama tidak dijalankan dengan baik termasuk hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama manusia," tegasnya.

Kalau kita ingin melihat jumlah orang Islam, maka bisa dilihat dari orang yang melaksanakan Shalat Id. Namun jika ingin melihat orang yang beriman maka bisa dilihat dari jamah Shalat Shubuh di masjid.?

Hari Santri 2018

"Inilah yang membedakan muslim dan mukmin," ujarnya.

Saat ini juga menurutnya banyak orang Islam yang sudah jauh dari pondok pesantren, madrasah diniyah yang merupakan sumber pendidikan Ilmu-ilmu agama. Umat Islam senang membangun masjid, tapi setelah itu masjid kosong dan tidak diisi untuk beribadah.

Oleh karenanya, ia mengajak seluruh umat Islam untuk meresapi nilai-nilai agama dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata agar ketentraman dan kedamaian serta nilai-nilai Islam dapat dirasakan oleh seluruh Alam. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Doa, AlaNu, Sejarah Hari Santri 2018

Sabtu, 20 Januari 2018

Mensos Bagikan Sembako kepada Masyarakat Pra-Sejahtera

Sidoarjo, Hari Santri 2018. Sebanyak 400 paket sembako dibagikan oleh Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa kepada masyarakat Pra Sejahtera di desa Kureksari Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (30/8).

Mensos Bagikan Sembako kepada Masyarakat Pra-Sejahtera (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Bagikan Sembako kepada Masyarakat Pra-Sejahtera (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Bagikan Sembako kepada Masyarakat Pra-Sejahtera

Paket sembako tersebut terdiri dari beras, mie instan, kecap, susu, gula dan setiap paketnya seharga Rp 150 ribu. Paket sembako ini dibagikan Mensos kepada warga Kureksari secara gratis.

"Ketika masyarakat mendengar ada kekeringan dan gagal panen, secara psikologis masyarakat Pra Sejahtera bisa terpengaruh. Maka dari itu, kami perlu membantu warga seperti ini," papar Khofifah.

Hari Santri 2018

Sementara itu salah satu penerima paket sembako Siti Khotijah (53) mengaku sangat senang menerima sembako ini. "Kulo remen sanget angsal sembako iki, damel kebutuan dateng dalem (saya sangat senang menerima paket sembako ini untuk kebutuhan di rumah)," ucapnya.

Hari Santri 2018

Perlu diketahui bahwa pembagian paket sembako untuk keluarga Pra Sejahtera ini merupakan pembagian yang kedua. Sebelumnya, pembagian paket sembako juga dilakukan sebelum hari raya Idul Fitri kemarin. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tokoh, Doa, Hikmah Hari Santri 2018

Senin, 08 Januari 2018

Kampanye SARA Rusak Kerukunan Masyarakat

Jakarta, Hari Santri 2018. Kampanye politik menjelang pemilihan umum presiden pada Juli mendatang tak hanya diisi dengan narsisme capres-cawapres yang maju, tapi juga diwarnai upaya menjatuhkan pasangan saingan lewat isu sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Kampanye SARA Rusak Kerukunan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kampanye SARA Rusak Kerukunan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kampanye SARA Rusak Kerukunan Masyarakat

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengatakan, isu SARA mencuat karena ada pihak yang tak percaya diri dengan pasangan yang diusung. Menurutnya, isu SARA sangat sensitif di masyarakat dan bisa memicu konflik horizontal yang selama ini telah lama hidup rukun dan damai. Apalagi rata-rata pendidikan masyarakat Indonesia masih cukup rendah.

"Jangan menghalalkan segala cara untuk menang," terang Khofifah, Rabu (11/6), di Jakarta.

Hari Santri 2018

Mantan menteri pemberdayaan perempuan dan kepala BKKBN era Gus Dur ini menambahkan, segenap tokoh Indonesia yang moderat telah berusaha agar bangsa Indonesia yang berbeda bisa hidup berdampingan. "Karena itu, jangan hanya karena pilpres tatanan masyarakat yang baik itu menjadi rusak," tandasnya.

Hari Santri 2018

Khofifah mengajak semua yang turut dalam kontestasi pilpres untuk menghindari cara-cara distruktif yang bisa merusak demokrasi itu sendiri. Apalagi kedua pasangan telah berjanji akan bertarung dengan adil.

"Siap menang dan siap kalah itu berarti harus siap bersaing secara fair. Tidak membuat suasana politik dengan isu SARA dan menghindari kecurangan pemilu," papar mantan ketua umum korps PMII putri (Kopri) ini. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Meme Islam, Berita, Doa Hari Santri 2018

Minggu, 07 Januari 2018

Afganistan Tambah Bahaya, Penyapu Ranjau Diculik Taliban

Herat, Hari Santri 2018. Taliban Afghanistan menculik hampir 50 pekerja pembersihan ranjau di provinsi barat negara itu, Herat, pada Selasa pagi.

"Para gerilyawan mendekati lokasi pembersihan ranjau pada Selasa pagi sementara para pekerja sedang bersiap-siap untuk memulai operasi mereka sehari-hari," kata sumber yang tak bersedia disebut namanya kepada Xinhua.

Afganistan Tambah Bahaya, Penyapu Ranjau Diculik Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)
Afganistan Tambah Bahaya, Penyapu Ranjau Diculik Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)

Afganistan Tambah Bahaya, Penyapu Ranjau Diculik Taliban

Insiden itu terjadi pada sekitar pukul 08.00 waktu setempat di wilayah Marwa, Kabupaten Pashtun Zarghun, tenggara ibu kota provinsi kota Herat, 640 km sebelah barat ibu kota negara Kabul.

Hari Santri 2018

Beberapa warga mengatakan bahwa setidaknya 10 anggota gerilyawan Taliban tiba dengan dua mobil dan memaksa para pekerja untuk masuk kendaraan milik lembaga dan membawa mereka pergi.

Hari Santri 2018

Pasukan keamanan telah melancarkan operasi pencarian besar-besaran setelah kejadian, kata sumber itu, dan menambahkan rincian tentang serangan itu akan disiarkan di kemudian hari.

Loclas juga mengatakan, para pekerja staf Halo Trust, sebuah organisasi non-pemerintah.

Kelompok gerilyawan Taliban telah meningkatkan serangan baru-baru ini ketika tentara dan polisi Afghanistan memimpin operasional penuh pasukan asing pada Juni tahun lalu.

Negara yang dilanda perang ini mengambil alih tanggung jawab keamanan sendiri dari pasukan asing pada akhir tahun ini.

Pasukan asing berkekuatan lebih 57.000 prajurit yang dipimpin NATO, turun dari puncaknya 130.000 pada tahun 2010, saat ini sedang dikerahkan di Afghanistan, demikian laporan Xinhua. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Doa Hari Santri 2018

Selasa, 02 Januari 2018

Terima Sertifikat ISO, Klinik Hemodialisi Muslimat NU Pecahkan Rekor MURI

Jakarta, Hari Santri 2018. Museum Rekor Indonesia (MURI) akan menyerahkan pengharagaan kepada Klinik Hemodialisis Cipta Husada atas prestasi dan karya klinik yang telah melakukan lebih dari 70.000 cuci darah dengan kualitas standard mutu. Klinik milik Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKMNU) telah membantu pasien melakukan cuci darah gratis melalui bantuan BPJS.

Terima Sertifikat ISO, Klinik Hemodialisi Muslimat NU Pecahkan Rekor MURI (Sumber Gambar : Nu Online)
Terima Sertifikat ISO, Klinik Hemodialisi Muslimat NU Pecahkan Rekor MURI (Sumber Gambar : Nu Online)

Terima Sertifikat ISO, Klinik Hemodialisi Muslimat NU Pecahkan Rekor MURI

Penyerahan Rekor Muri dan sertifikat ISO ini akan berlangsung di klinik setempat Jalan Hang Tuah I nomor 12 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, besok pagi, Ahad (10/1). Pemberian anugerah ini akan dihadiri oleh Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa.

Hari Santri 2018

“Yang paling membanggakan adalah klinik cuci darah muslimat NU ini adalah klinik pertama di Indonesia yang menerapkan sistem ISO yang akhirnya akan mendapatkan MURI,” kata salah satu pendiri klinik Dr Umar Wahid.

Hari Santri 2018

Ketua YKMNU Farida Salahuddin Wahid menjelaskan, klinik ini sebelumnya merupakan klinik bersalin. Sebelumnya banyak sekali perempuan yang melahirkan di klinik yang tanahnya merupakan wakaf dari KH Syaifuddin Zuhri. Suksesnya program KB dan yang tinggal di sekitar kawasan Kebayoran Baru bukan usia produktif lagi membuat klinik beralih fungsi.

Farida Sholahudin Wahid menjelaskan alih fungsi klinik ini memerlukan biaya yang sangat tinggi karena alat-alat yang digunakan berharga sangat mahal. Akhirnya dicarilah investor dan merasa cocok dengan PT Masa Cipta Husada.

“Kita menyediakan gedung dan tanahnya sedangkan mereka menyediakan alat-alatnya,” kata Farida.

Dalam pengoperasiannya, YKMNU sangat mengutamakan terapi terbaik, kualitas pelayanan, dan manajemen mutu. SDM di klinik ini juga sangat bagus serta memenuhi standard kualitas sehingga telah lulus proses audit sertifikasi. Penilaian ini yang menjadikan pihak URS (United Registar of System) akan memberikan ISO 9001:2008 ke klinik Muslimat NU Cipta Husada ini.

Sementara masalah yang paling memberatkan penderita gagal ginjal adalah mahalnya biaya untuk menjalani terapi dialisis. Rata-rata penderita harus mengeluarkan biaya 5 juta untuk terapi dialisis di luar obat, laboratorium, dan keperluan medis tambahan lainnya.

Bagi penderita yang kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah, hal ini merupakan masalah besar yang sangat dilematis karena apabila tidak dapat membiayai perawatan dari penyakit yang dideritanya akan membahayakan jiwa. Di sinilah Klinik Hemodialisis Cipta Husada YKMNU hadir. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Bahtsul Masail, Doa Hari Santri 2018

Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya

Jakarta, Hari Santri 2018. Muktamar Ke-33 NU secara resmi diluncurkan hari Sabtu pada 14 Maret di Surabaya. Peluncuran muktamar pekan depan itu sekaligus mengawali rangkaian agenda-agenda pra-muktamar NU yang akan diadakan di sejumlah daerah.

Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya

“Panitia pusat dan panitia lokal setuju meluncurkan Muktamar Ke-33 NU pada pekan depan di Surabaya,” ujar Ketua panitia Muktamar Ke-33 NU H Imam Aziz di Jakarta, Jumat (6/3) sore.

Peluncuran ini sekaligus menyempurnakan persiapan panitia dan kesiapan lokasi muktamar di empat pesantren di Jombang. Panitia juga sudah membuat jadwal diskusi pemantapan materi yang akan dibahas di forum muktamar.

Hari Santri 2018

“Alhamdulillah, dewan juri sayembara logo Muktamar Ke-33 NU sudah muttafaq alaih menyeleksi 349 logo yang masuk ke meja panitia. Mereka lalu menetapkan sebuah logo karya Zamzami Almakki yang dinilai mewakili semangat muktamar NU kali ini,” kata H Imam yang menyebut H Slamet sebagai anggota dewan juri sayembara logo muktamar NU. (Alhafiz K)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Sunnah, Ubudiyah, Doa Hari Santri 2018

Sabtu, 30 Desember 2017

Gus Mus: Gelar Kiai itu Produk Masyarakat

Yogyakarta, Hari Santri 2018. Pejabat Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri menegaskan, bahwa gelar kiai itu produk masyarakat, khususnya di Jawa. Kiai, menurut dia, tidak seperti gelar-gelar lain misalnya doktor, insinyur yang jelas ijazahnya.

“Kiai itu tidak seperti doktor, tidak seperti insinyur yang ada diplomanya. Kalau kiai tidak ada yang bakal tanya. Seandainya pun ada yang tanya, ya kiai-kiai akan bingung. Soalnya tidak memiliki diploma kiai,” ujarnya pada haul yang ke-25 KH Ali Maksum Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta Senin malam (10/3).

Gus Mus: Gelar Kiai itu Produk Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Gelar Kiai itu Produk Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Gelar Kiai itu Produk Masyarakat

Menurut kiai yang akrab disapa Gus Mus itu, gelar kiai bukan terjemahan dari ulama. “Terkait dengan nama Nahdlatul Ulama, mungkin kiai-kiai dulu itu tidak menemukan padanan kata yang tepat untuk mengejawantahkan kata kiai. Makanya dicari padanan kata yang pas, yakni ulama,” tambahnya.

Hari Santri 2018

Kiai asal Rembang itu juga mengatakan bahwa kiai merupakan istilah budaya. Itu pun hanya budaya Jawa. “Orang Jawa itu tidak hanya menghormati orang, tetapi juga menghormati benda yang kemudian disebut kiai.”

Hari Santri 2018

Gus Mus mencontohkan, Kiai Nogososro Sabuk Inten, itu keris. Kiai Pleret, itu tombak. Malah ada lagi, Kiai Slamet itu kerbau. “Intinya apa-apa yang dimuliakan masyarakat disebut kiai,” tutur Gus Mus yang disambut gelak tawa para jamaah.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus juga menyatakan bahwa saat ini banyak ustadz-ustadz dan kiai-kiai produk dari media yang keilmuannya belum mumpuni. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Doa Hari Santri 2018

Senin, 18 Desember 2017

Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah

Di zaman Islam abad pertengahan, kita mengenal sebuah lembaga pendidikan bernama Madrasah Nidhamiyah. Sekolah tinggi yang berdiri di Bagdad pada masa Khalifah Abu Jafar Abdullah al-Qaim bi-Amrillah ini menjadi oase bagi studi keislaman. Ia menjadi mercusuar bergengsi sekaligus membanggakan bagi perkembangan ilmu pengetahuan zaman itu.

Di madrasah tersebut diajarkan berbagai keilmuan, mulai dari syariah, ilmu kalam, hingga tasawuf kelas berat. Para pengajarnya pun bukan orang sembarangan. Pihak kerajaan kala itu memastikan betul bahwa para mahaguru yang aktif di sana adalah orang-orang mumpuni. Imam Abu Ishaq asy-Syirazi, Imam Abu Hamid al-Ghazali, dan Imam Haramain adalah tiga tokoh yang pernah mendapat kesempatan menduduki posisi prestisius tersebut.

Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah

(Baca juga: Detik-detik Wafatnya Imam Al-Ghazali)



Namun demikian, seperti ulama-ulama kaliber umumnya, mereka yang menjadi guru besar di Madrasah Nidhamiyah tak serta merta menunjukkan perubahan sikap yang menonjolkan diri. Di antara mereka bukan tak pernah terjadi perbedaan pemikiran, namun semuanya disikapi dengan penuh kedewasaan dan rendah hati. Adu argumentasi tentu sering terjadi, tapi saling memuji dan berempati juga menjadi kebiasaan mereka.

Hari Santri 2018

Pernah suatu kali Imam asy-Syirazi menyanjung Imam Haramain dengan pernyataan, “Tuan adalah imamnya para imam.” Namun, di lain kesempatan Imam Haramain yang juga guru Imam al-Ghazali ini justru tak sungkan menuntun hewan tunggangan Imam asy-Syirazi. Demikian diceritakan kitab Irsyâdul Mu’minîn karya Muhammad Isham Hadziq.

Cerita lainnya adalah tentang ketawadukan Imam Abu Bakr asy-Syasyi, penerus Imam Abu Ishaq asy-Syirazi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam memimpin Madrasah Nidhamiyah. Jabatan baru ini sesungguhnya menunjukkan bahwa Abu Bakr asy-Syasyi telah meraih capaian tertinggi secara formal di dunia keilmuan. Tapi sepertinya prestise itu hanya ada di benak orang-orang. Abu Bakr asy-Syasyi sendiri tak merasa layak menggantikan para pendahulu yang juga gurunya tersebut.

Hari Santri 2018

Ulama berjuluk fakhrul islam (kebanggaan Islam) ini selalu menampilkan rasa hormat dan pengagungan yang luar biasa tiap menyebut nama Imam Abu Ishaq asy-Syirazi dan Imam al-Ghazali. Kadang ia menangis kala duduk di atas mimbar ajar sembari mengungkapkan kekurangan-kekurangannya dibanding guru-gurunya. Padahal, pemuka ulama syafi’iyah di Iraq di zamannya ini memiliki banyak karya dan diakui kealimannya oleh para ulama lain.

(Baca: Ketika Pengarang Alfiyah Dihinggapi Rasa Ujub)

Begitulah keindahan hubungan para ulama terdahulu, bahkan saat mereka “distratifikasi” dengan relasi guru-murid. Mereka bersaing dalam mendalami ilmu tapi di saat yang sama seperti sedang berlomba berendah hati. Mereka mengerti bahwa ilmu bertalian erat dengan akhlak, bukan semata soal melimpahnya hafalan atau kepiawaian dalam berdebat. Para ulama itu jauh dari karakter ingin terlihat paling menonjol, mencapai posisi duniawi tertentu, apalagi menjatuhkan orang lain. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kiai, Kajian Sunnah, Doa Hari Santri 2018

Sabtu, 09 Desember 2017

Mbah Syaroni: Ingin Maju, Madrasah Mesti Kompak

Kudus, Hari Santri 2018. Lembaga pendidikan swasta, khususnya madrasah Nahdlatul Ulama yang tersebar di kabupaten Kudus layak dibanggakan. Pasalnya, Kudus yang hanya memiliki beberapa madrasah negeri lebih banyak menyerahkan pendidikan generasinya ke madrasah swasta, terutama di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif NU. Namun ternyata hal demikian tak lantas membuat madrasah tersebut menjadi semakin maju dengan pesat.

KH. M. Syaroni Ahmadi, Mustasyar PBNU menyampaikan bahwa madrasah NU harus berkomitmen untuk maju. Untuk mencapai kemajuan madrasah, maka syarat mutlaknya adalah kekompakan. Kiai kharismatik yang telah 65 tahun mengasuh madrasah Qudsiyyah Kudus itu pun mencontohkan beberapa madrasah NU di Kudus yang telah berhasil maju hingga menjadi madrasah favorit melebihi madrasah negeri.

Mbah Syaroni: Ingin Maju, Madrasah Mesti Kompak (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Syaroni: Ingin Maju, Madrasah Mesti Kompak (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Syaroni: Ingin Maju, Madrasah Mesti Kompak

"Harus ada kekompakan yang terjalin antara pihak pengurus madrasah, dewan guru, serta para wali murid," imbau kiai tanpa pesantren ini, pada mauidhoh Haflatul Wada Akhirussanah MTs-MA NU Nurussalam desa Besito kecamatan Gebog Kudus, Ahad (14/06) siang.

Hari Santri 2018

"Menjadi nadhir di Qudsiyyah, saya pun mengajak bicara kepada para wali murid, agar setelah lulus dari MI Qudsiyah supaya melanjutkan ke MTs Qudsiyyah, dan begitupun jenjang berikutnya. Ini supaya kita bisa kompak, sebab kekompakan adalah kunci keberhasilan. Maka di Qudsiyyah, TBS, Banat, Muallimat juga begitu," terang pengasuh Ngaji Pajar tiap Jumat di masjid Menara Kudus ini.

Dijelaskan bahwa keempat madrasah di kecamatan Kota Kudus itu adalah madrasah-madrasah NU yang perkembangannya bagus berkat kekompakan pengurus, guru dan wali muridnya. "Kekompakan antara pengurus, dewan guru dan wali murid menuju satu tujuan," tambah Kiai Kudus Kulon ini di hadapan ratusan undangan.

Hari Santri 2018

Jika ketiga pihak tadi sudah bertekat bulat kompak maka akan muncul semacam sinergitas di madrasah. Semangat dan harapan untuk terus maju juga semakin meyakinkan. Madrasah Nurussalam sendiri tahun ini mewisuda sejumlah 197 anak didik, terdiri dari murid MA 60 dan MTs 137. Berbagai kejuaraan sedari tingkat kecamatan, kabupaten, propinsi, hingga nasional pun pernah diraih.(Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Doa Hari Santri 2018

Kamis, 07 Desember 2017

Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang

Brebes, Hari Santri 2018. Para ikhwan tarekat Tijaniyah memperingati Idul Khotmi lil Qutbil Maktum Syeikh Ahmad Tijani RA yang ke-222 di Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah pada tanggal 12 sampai 14 Desember. Perayaan serupa pernah digelar dengan sukses di tempat tersebut pada tahun 1984 dan 2008.

Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang

Muqaddam Tijaniyah KH Syekh Soleh Basalamah menjelaskan, Idul Khotmi lil Qutbil Maktum Syeikh Ahmad At-Tijani adalah tradisi tahunan yang biasa diadakan sebagai perayaan murid Tijaniyah. Tradisi tersebut dilaksanakan dalam rangka hari pengangkatan Syekh Tijani sebagai wali khatm atau al-quthb al-maktum.

Kegiatan yang diadakan setiap tanggal 18 Shafar tersebut, kata dia, merupakan puncak ijtima’ kaum Tijaniyah seluruh Indonesia. Dilaksanakan bersifat nasional berdasar restu sesepuh muqaddam tingkat nasional. Sementara tempatnya bergiliran di tempat-tempat yang ada di Indonesia.

Hari Santri 2018

Tradisi ini untuk pertama kalinya secara berturut-turut diadakan di Desa Betoyo, Kecamatan Mayar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur pada tahun 1979, 1980, 1981 M. Selanjutnya dilaksanakan secara bergiliran di kota-kota Jawa Tengah Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Bali.

Hari Santri 2018

Menurut Ketua Panitia Idul Khotmi, Afifullah, kegiatan tersebut dihadiri lebih kurang 20 ribu orang perwakilan dari seluruh penjuru Nusantara. “Bahkan peserta dari luar negeri juga sudah berdatangan antara lain dari Prancis, Inggris, India, Maroko, Saudi Arabia, Tunisia, Al Zajair, Malaysia dan Brunei Darussalam,” ungkapnya di sela kegiatan Jumat (12/12).

Selama tiga hari, kata dia, peserta bakal mengikuti agenda utama berupa Halalah (dzikir rutin Tarekat Tijaniyah pada Jumat sore? di Masjid Mujahidin Jatibarang Kidul, Mushola Baitussaadah di Jatibarang Lord, dan di Zawiyah Kemiriamba.

Pada Sabtu (13/12) ada halaqah (seminar) Muqodam di gedung Serbaguna Al Ittihad, seminar penanggulangan ISIS bagi pengikut Attijaniyah di Pesantren Darrusalam Jatibarang Kidul. Terus khalwat (dzikir), Manaqib Qubro dan istighosah di Masjid Al Ittihad di Jatibarang Lor. Juga digelar Parade Rebana 23 grup dan atraksi Ikatan Motor Banser Indonesia (IMBI).

Puncak kegiatan berupa pengajian akbar pada Ahad di Pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, dengan pembicara dari PBNU KH Mustafa Aqil Siroj, Rois Am JATMAN Habib Lutfie bin Ali Yahya, Sayid Tohir At Tijani dari Maroko dan Dr Redigenun Muqodam dari Al Zajair.

1200 rumah warga untuk menginap

Menurut Afif, untuk mensukseskan kegiatan tersebut, panitia menyediaksn 1200 rumah warga sebagai home stay (tempat tinggal sementara) para bagi ikhwan (peserta) luar daerah. Rumah tersebut disediakan untuk penginapan sekaligus menyediakan konsumsi gratis bagi ikhwan. “Warga sangat antusias walau hanya diberi subsidi Rp 10 ribu per ikhwan,” terangnya. (12/12).

Dari 1200 rumah tersebut, lanjutnya, berada di seluruh wilayah Kecamatan Jatibarang, sehingga tidak memberatkan panitia dalam hal transportasi. Sedangkan untuk para Muqadam dan Masayih di Hotel Anggraeni Jatibarang.

Afif menambahkan, warga sendiri mengaku sangat senang ditempati para tamu dari seluruh penjuru Nusantara. Mereka menganggap hal itu bisa mendatangkan barokah dikemudian hari. “Mereka yang ditempati, mayoritas sangat bangga bahkan sebagian banyak yang minta rumahnya dijadikan home stay karena dipercaya bakal mendapat barokah dari Allah SWT,” tutur Afif. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Anti Hoax, Ulama, Doa Hari Santri 2018

Rabu, 06 Desember 2017

Kesebelasan Pesantren Nurul Jadid Terima Trofi Juara LSN Regional III Jatim

Probolinggo, Hari Santri 2018 - Setelah dipastikan sebagai juara Liga Santri Nasional (LSN) Regional III Jawa Timur, Persatuan Sepakbola (PS) Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo menerima trofi piala penghargaan, Ahad (17/9).

Piala pengharaan juara LSN Regional III Jawa Timur ini diserahkan langsung oleh Ketua BKOS KHM Makki Maimun Wafi kepada Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Abdul Hamid Wahid. Penyerahan yang diadakan di aula pesantren ini dihadiri pengasuh dan guru pesantren serta santri.

Kesebelasan Pesantren Nurul Jadid Terima Trofi Juara LSN Regional III Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesebelasan Pesantren Nurul Jadid Terima Trofi Juara LSN Regional III Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesebelasan Pesantren Nurul Jadid Terima Trofi Juara LSN Regional III Jatim

“Saya menyampaikan selamat atas prestasi yang diraih oleh para santri PP Nurul Jadid Paiton yang telah mampu meraih juara LSN Regional III Jawa Timur. Tentunya saat ini PS PP Nurul Jadid harus mempersiapkan untuk untuk mengikuti LSN tingkat Jawa Timur. Semoga prestasi ini mampu menjadi motivasi bagi santri dan pengasuh untuk terus tampil sebagai yang terbaik,” kata Ketua BKOS KHM Makki Maimun Wafi.

Sementara Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid mengaku sangat bersyukur atas prestasi sepakbola yang diraih oleh para santri PP Nurul Jadid di mana dalam usianya yang masih seumur jagung dapat menorehkan prestasi.

Hari Santri 2018

“Semoga prestasi ini menjadi rangsangan untuk terus berprestasi dan mendorong kegairahan olahraga. Bukan saja olahraga prestasi tapi juga termasuk olahraga kesehatan untuk santri,” ungkapnya.

Dalam acara ini, kepala pesantren juga memberikan penghargaan kepada para pemain PSSNJ berupa beasiswa pendidikan bagi pemain terbaik dan top skor yang telah mengharumkan nama pesantren. “Jangan pernah berhenti untuk berprestasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pondok Pesantren, Doa Hari Santri 2018

Senin, 04 Desember 2017

PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal

Bali, Hari Santri 2018. Sehari setelah dilantik, kepengurusan Silaturrahim Ikhwan Akhawat dan Simpatisan Thariqat An-Naqsyabandiyah Gersempal (Sitqon) di Bali, menggelar majelis zikir perdana yang dirangkai dengan istighotsah dan pembacaan sholawat tawasuliyah, Senin (7/9). Hadir di tengah jamaah Ketua PWNU Bali KH Abdul Aziz.

Kiai Aziz menyampaikan bahwa kehadirannya tidak dalam kapasitasnya sebagai Ketua PWNU Bali.

PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal

“Kendati demikian saya berharap dan optimis bahwa Sitqon akan menjadi salah satu ruh dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU),” kata Kiai Aziz.

Hari Santri 2018

Sementara itu turut hadir pula perwakilan dari pengurus pusat Sitqon KHR Syaifullah Jafar dan KHR Amin Syafiuddin dari Sampang Madura. Majelis ini juga diikuti oleh beberapa imam Khwajagan Naqsyabandiyah Mudzhari Gersempal dari Pamekasan dan Sumenep Ustadz Habibi dan Kiai Tajuddin Zahid. (Dedi Haryono/Alhafiz K)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Doa Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock