Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Maret 2018

Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur

Jakarta, Hari Santri 2018. Peringatan 1000 hari wafat KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) akan digelar diberbagai tempat. Salah satunya di Ciganjur, kediaman Gus Dur semasa hidup. Beragam acara akan digelar, mulai tahlilan, taushiyah, dan pentas kebudayaan.

Peringatan yang akan digelar 26 dan 27 September tersebut, akan dihadiri jamaah dari beragam tempat. Hari Santri 2018 berhasil menemui salah seorang warga yang sudah menggalang jamaah.

Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur

“Kami dari Tanjung Priuk akan berangkat enam truk sekitar dua ratus orang,” ujar Helmi salah seorang peserta peluncuran buku Sang Zahid buah karya KH Husein Muhammad di Wahid Institute, Matraman, Jakarta, Selasa, (25/9).

Hari Santri 2018

“Itu belum termasuk yang berangkat dengan mobil pribadi dan motor,” ujarnya.

Hari Santri 2018

Helmi mengaku mengetahui peringatan seribu hari wafat Gus Dur dari Gus Nuril Soko Tunggal Rawamangun, Jakarta. Kemudian para pengusaha yang memiliki truk dan mobil pribadinya disiapkan mengangkut jamaah.

“Jadi, kami tidak urunan. Itu truk-truk pribadi pengusaha kayu Sumenep, Madura, yang akan dengan gratis membawa jamaah,” ujarnya.

Menurut Helmi, mengajak mereka sangat mudah karena sudah terhubung dalam jamaah shalawat Nariyah KH Kholil As’ad Syamsul Arifin, Situbondo, yang tiap seminggu sekali berkumpul.

“Kami hadir disebabakan cinta kepada Gus Dur. Ia selalu membela keragaman, bersahaja dan sekaligus salah satu cucu pendiri Nahdlatul Ulama. Selain itu, karena KH Kholil As’ad Syamsul Arifin pernah mengisi shalawat Nariyah di Ciganjur,” katanya, ketika ditanya alasan kehadiran.

Selain dari Tanjung Priuk, Helmi juga mendapat informasi teman-temannya dari Taman Puring, Jakarta Selatan, Cibinong,dan Banten juga akan hadir berombongan.

“Dahsyat sekali. Sangat dahsyat! Saya kagum dengan fenomena ini. Saya kemudian mencari. Itulah kemudian saya menulis buku Sang Zahid,”komentar KH Husein Muhammad ketika diceritakan jamaah yang bersiap menghadiri peringatan 1000 hari wafat Gus Dur.

Karena itu, sambung pengasuh pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, semakin yakin betapa bahagianya orang-orang ikhlas seperti Ketua Umum PBNU 1984-1999.

“Ketika dia hadir sering tidak dipahami. Ketika tidak ada, dia dicari-cari,” tuturnya.Semula saya menduga, lanjutnya, akan membutuhkan waktu panjang warga memahami Gus Dur, “Ternyata begitu cepat ia menjadi legenda,” katanya.

Ia kemudian mengutip sebuah hadits, Allah itu apabila mencintai seseorang, mengatakan kepada malaikat Jibril. “Hai Jibril, aku mencintai seseorang, maka cintailah dia!” Kemudian Jibril juga menceritakan kepada teman-temannya. “Hai malaikat, Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia!”

“Apabila yang di langit itu mencintai si fulan, maka yang di bumi pun akan mencintai si fulan. Itu yang dicintai Allah seperti itu,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Sunnah Hari Santri 2018

Selasa, 27 Februari 2018

Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya

Oleh Muhammad Iqbal



Selain sebagai pusat pendidikan, masjid berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku. Buku-buku itu didapat dari hadiah-hadiah yang diberikan kepada pengurus masjid atau hasil pencarian dari pelbagai sumber. Karenanya, masjid-masjid pada periode Dinasti Abbasiyah memiliki khazanah buku-buku keagamaan yang sangat kaya. Salah seorang donatur buku-buku itu adalah seorang sejarawan mahsyur bernama al-Khathib al-Baghdadi (1002-1071), yang menyerahkan buku-bukunya sebagai wakaf untuk umat Muslim. Hanya saja buku-buku itu disimpan di rumah seorang kawannya. Perpustakaan-perpustakaan lainnya dibangun oleh kalangan bangsawan atau orang kaya sebagai lembaga-lembaga kajian yang terbuka untuk umum, menyimpan sejumlah koleksi buku logika, filsafat, astronomi, dan bidang ilmu lainnya.

Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Peradaban Buku Umat Islam dan Kemerosotannya

Perpustakaan juga menjadi pusat pendidikan kaum Muslim. Para sarjana Muslim dari berbagai jenis tradisi keilmuan: agama (naqliyyah), sastra, filsafat, matematika, fisika, kedokteran, botani, hingga tasawuf, masing-masing menyumbangkan kekayaan khazanah ilmu pengetahuan Islam yang patut dibanggakan. Kekayaan khazanah intelektual Islam klasik itu berasal dari dua sumber. Pertama, bersumber dari terjemahan-terjemahan manuskrip kuno dari berbagai peradaban pra-Islam beserta komentar-komentar yang diberikan oleh ilmuwan Muslim. Kedua, bersumber dari karya-karya ilmiah. Umumnya tokoh-tokoh sarjana Muslim itu melahirkan anak-anak rohaninya, berupa ratusan karya ilmiah pelbagai jenis imu pengetahuan selama hidupnya, seakan-akan mereka hidup hanya untuk membaca, meneliti dan menulis belaka. Ibn Hazm misalnya, diriwayatkan menulis empat ratus buku yang totalnya mencapai 80.000 halaman.

Hari Santri 2018

Pada pertengahan abad kesepuluh, kota Mosul memiliki perpustakaan yang dibangun oleh salah seorang penduduknya. Di dalam perpustakaan itu, para pelajar yang mengunjunginya bisa mendapatkan kertas dan alat tulis lainnya secara gratis. Perpustakan (khizanat al-kutub) dibangun di Syiraz oleh penguasa Buwaihi, ‘Adud al Dawlah (977-982) yang semua buku-bukunya disusun di atas lemari-lemari, didaftar dalam katalog, dan diatur dengan baik oleh staf administratur yang berjaga secara bergiliran.

Pada abad yang sama, kota Bashrah memiliki sebuah perpustakaan yang di dalamnya para sarjana bekerja dan mendapatkan upah dari pendiri perpustakaan. Dan, di kota Rayy terdapat sebuah tempat yang dijuluki “Rumah Buku”. Dikatakan bahwa tempat itu menyimpan ribuan manuskrip yang diangkut oleh lebih dari empat ratus ekor unta. Seluruh naskah-naskah itu kemudian didaftar dalam sepuluh jilid katalog.

Hari Santri 2018

Perpustakaan-perpustakaan itu digunakan sebagai tempat-tempat pertemuan untuk diskusi dan debat ilmiah. Ulama Yaqut al-Hamawi, misalnya, menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk mengumpulkan bahan-bahan yang ia perlukan untuk menulis kamus geografinya. Bahan-bahan itu ia dapatkan dari berbagai perpustakaan di Marwa dan Kharizm. Ia pun harus menghentikan upayanya itu pada 1220, ketika pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan mulai menyerang negeri-negeri muslim dan membumihanguskan seluruh perpustakaan itu.

Pada abad ke-13, perpustakaan Fathimiyyah di Kairo memiliki koleksi sejumlah dua juta judul buku. Perpustakaan di Tripoli juga tak kalah banyaknya. Secara umum, pada abad ke-13 itu telah tersedia sekitar lima juta judul buku; suatu jumlah buku yang amat banyak untuk zaman ketika itu. Ketika Dinasti Fathimiyyah mengangkat citra Mesir sebagai pusat peradaban Islam terkemuka sejagat, ada seorang penguasa keturunan Umayyah di Kordoba, al-Hakam, yang pada akhir abad ke-10 mendirikan sebuah perpustakaan besar. Dia mengumpulkan para ilmuwan dan pemimpin masjid, dan masjid besar di Kordoba dibuat menjadi pusat studi. Perpustakaan yang berada di dalam istana Kordoba itu diurus oleh petugas perpustakaan; juga mempekerjakan para penyalin dan penjilid buku. Al-Hakam mempunyai agen-agen di setiap provinsi yang menyediakan buku untuknya dengan cara membeli dan menyalin. Perpustakaan itu terbuka untuk publik.

Sayangnya, ketika Khalifah al-Manshur terpengaruh oleh para ulama ortodoks yang kurang atau tidak berkenan kepada buku-buku ilmu, seperti karya filsafat, astronomi, dan ilmu-ilmu umum lainnya yang dianggap sekuler (sains awa’il), banyak buku ilmu-ilmu tersebut yang dibakar. Pembakaran atau permusuhan buku-buku itu merupakan awal malapetaka etos keilmuan Islam yang sampai detik ini kita rasakan akibatnya, yakni sedemikian rendahnya semangat keilmuan di negeri-negeri kaum Muslim.

Selain perpustakaan, lukisan perihal budaya baca pada periode ini bisa juga dilihat dari banyaknya toko buku. Toko-toko itu, yang berfungsi sebagai agen pendidikan, mulai muncul sejak awal kekhalifahan Abbasiyah. Al-Ya’qubi meriwayatkan bahwa pada masanya (sekitar 891), ibu kota negara diramaikan oleh lebih dari seratus toko buku yang berderet di satu ruas jalan yang sama. Sebagian toko-toko itu, sebagaimana toko-toko yang kemudian muncul di Damaskus dan Kairo, tidak lebih besar dari ruangan samping masjid, namun ada juga toko-toko yang berukuran sangat besar, cukup besar untuk pusat penjualan sekaligus sebagai pusat aktifitas para ahli dan penyalin naskah.

Para penjual buku itu sendiri banyak yang berprofesi sebagai penulis kaligrafi, penyalin dan ahli sastra yang menjadikan toko mereka tak hanya sebagai tempat jualan, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ilmiah. Mereka mendapatkan kedudukan terhormat di tengah masyarakat. Yaqut memulai kariernya sebagai pegawai di sebuah toko buku. Ibn al-Nadim (w. 995) yang juga ditahbiskan sebagai al-Warraq (“lembar kertas”), menjalani kariernya sebagai pustakawan dan penjual buku yang kemudian menulis sebuah karya besar berupa katalog berjudul al-Fihrist yang diakui oleh kalangan cendekiawan dan ilmuwan sebagai karya yang sangat baik. Dalam buku itu, kita bisa membaca tentang sebuah pusat pemeliharaan naskah Iraqi yang memiliki rumah besar menyimpan sejumlah naskah termasuk yang ditulis di atas lembaran-lembaran kain perca, papirus Mesir, kertas Cina, dan gulungan kulit. Pada jilid masing-masing naskah itu tercantum nama penulisnya, dan di pinggir-pinggir halaman (marjin) terdapat pelbagai catatan yang ditulis oleh para pelajar mulai lima atau enam generasi sebelumnya.

Hingga awal abad ke-3 Hijriah, bahan yang umum digunakan untuk menulis ialah kain perca dan papirus. Dokumen-dokumen resmi yang ditulis di atas kain perca dan disimpan ketika terjadi perang sipil antara al-Amin dan al-Ma’mun, dicuci bersih kemudian dijual lagi. Kertas Cina mulai masuk ke Irak pada abad ketiga Hijriah. Segera setelah itu, industri kertas tumbuh menjamur. Industri itu pertama kali muncul di Samarkand. Beberapa orang tawanan Cina pada 751 memperkenalkan seni pembuatan kertas dari flax, linen atau kain rami. Kata kuno Arab untuk kertas, kaghad, kemungkinan berasal dari bahasa Cina, dan kemudian diserap ke dalam bahasa Arab.

Dari Samarkand, industri itu menyebar ke Irak. Pada masa pemerintahan al-Fadhl ibn Yahya al-Barmaki, yang pernah menjadi Gubernur Khurasan pada 794, pabrik kertas pertama berdiri di Baghdad. Saudaranya, Ja’far, menteri pada Khalifah Harun menggantikan penggunaan kain perca dengan kertas untuk menuliskan dokumen-dokumen resmi negara. Kota-kota Muslim yang lain membangun pabrik-pabrik kertas mengikuti rancangan pabrik yang berada di Samarkand. Sebuah pabrik dibangun di Tihamah untuk membuat kertas dari serat tumbuhan. Pada masa al-Maqdisi, kertas produksi Samarkand masih dianggap sebagai kertas yang terbaik kualitasnya. Namun pada abad berikutnya, abad kesebelas, kertas-kertas dengan kualitas yang sangat bagus juga diproduksi di kota-kota Suriah dan di Tripoli.

Dari daratan Asia Tengah, industri itu mulai menyebar hingga ke Delta Mesir sejak akhir abad kesembilan. Beberapa kota di sana dalam jangka waktu yang cukup lama selalu mengekspor papirus dari negara-negara berbahasa Yunani untuk media menulis. Produk ekspor itu mereka sebut qarathis (dari bahasa Yunani: chartes). Pada akhir abad ke-10, kertas telah menggantikan perca dan papirus di seluruh wilayah umat Muslim.

Arkian, jalan kaum Muslim (era kekinian) menuju pengetahuan terintangi oleh dogma, sikap apologetis, kemalasan, dan kebodohan yang sebenarnya tidaklah rumit. Namun kebanyakan, jalan kaum Muslim itu terintangi oleh sikap acuh tak acuh yang nyaris sempurna terhadap nilai akal dan peran yang dimainkannya dalam mencari ilmu pengetahuan. Kaum Muslim dewasa ini lebih suka membangun gedung-gedung ketimbang pikiran. Padahal, di zaman sekarang ini, siapa saja yang menguasai arus informasi, berarti menguasai wacana.

Penulis adalah alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Bahtsul Masail, Kajian Sunnah, Doa Hari Santri 2018

Rabu, 14 Februari 2018

Aswaja Center NU Jatim Gelar Daurah Aswaja untuk BEM

Surabaya, Hari Santri 2018. Pengurus Wilayah Aswaja Center NU Jawa Timur mengadakan Daurah Aswaja khusus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo (6/9). Acara sehari ini dihadiri kurang lebih 175 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta.

Materi yang diberikan kepada para mahasiswa di antaranya: Amaliah An Nahdliyah oleh Ust Maruf Khozin, Firqoh-Firqoh dalam Islam oleh Ust Fariz, Liberalisme Agama oleh Ust Ainul Yaqin dari MUI Jatim dan pemantapan Aswaja An Nahdliyah oleh Ustadz Idrus Ramli.

Aswaja Center NU Jatim Gelar Daurah Aswaja untuk BEM (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Center NU Jatim Gelar Daurah Aswaja untuk BEM (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Center NU Jatim Gelar Daurah Aswaja untuk BEM

"Daurah ini baru pertama digelar setelah Muktamar NU ke 33 di Jombang, ada sedikit perbedaan yaitu materi tambahan," jelas Ust Fauzi Ketua Panitia Daurah Aswaja.

Hari Santri 2018

Materi tambahan itu, kata dia, adalah liberalisasi agama. Sekarang ini mahasiswa-mahasiswa Islam sering kebingungan dengan agamanya sendiri. Misalkan tentang Islam itu luas tapi ada batasannya. “Inilah yang harus diketahui oleh teman-teman mahasiswa,” tambahnya.

Daurah yang dihelat di ruang kertoraharjo Gedung PWNU Jatim ini, bertujuan memberi pembekalan Aswaja kepada mahasiswa. "Di sisi lain mahasiswa dituntut untuk berkembang sedangkan sebagian mereka masih kebingungan untuk itu kami hadir memberi mereka arahan supaya memahami Islam Ahlussunnah Wal Jamaah," jelas alumni Pesantren Sidogiri itu.

Acara yang dibuka langsung oleh KH Abdurrahman Navis (Direktur Aswaja NU Center Jatim dan juga Wakil Ketua PWNU Jatim) dihadiri mahasiswa dari kampus di sekitar Surabaya diantaranya Unsuri, UINSA, UPN, UNUSA, ITS, STAI Taswirul Afkar, IAI Al Khoziny Sidoarjo, Umaha dan lainnya. Ada juga dari Bangkalan dan Pasuruan. (rof maulana/abdullah alawi)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Bahtsul Masail, Aswaja, Kajian Sunnah Hari Santri 2018

Selasa, 13 Februari 2018

Menag Akui Anggaran Pendidikan Masih Rendah

Jakarta, NU.Online
Menteri Agama RI Prof DR KH Sayyid
Agil Husein Almunawar MA mengakui kualitas pendidikan Indonesia jauh tertinggal dengan negara-negara lain di dunia akibat rendahnya anggaran pendidikan yang dialokasikan pemerintah.

"Mana bisa dengan anggaran hanya Rp 600 miliar harus dipakai untuk pembangunan pendidikan di seluruh Indonesia, lalu yang dibangun itu apanya, karena itu jangan salahkan bila kita tertinggal terus dalam pendidikan," katanya di Pesantren Riyadush Sholihin, Gebang, Jember, Kamis malam.

Kehadiran Menag di Jember itu untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana pendidikan terpadu tingkat madarasah dan strata I oleh Yayasan Riyadush Sholihin kabupaten Jember dengan anggaran sekitar Rp4 miliar.

Dalam acara yang sekaligus memperingati 25 tahun Yayasan Riyadush Sholihin di pelataran pondok pesantren itu, Menag menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal, padahal bangsa Indonesia sudah sekian tahun merdeka, namun kepedulian terhadap pendidikan sangat rendah.

Untuk itu, katanya, diperlukan pembenahan secara bertahap yang tentunya disertai dengan peningkatkan anggaran pendidikan

"Alhamdullilah, pemerintah sekarang telah menaikkan anggaran pendidikan dari Rp5 triliun menjadi Rp11 triliun, karena itu anggaran untuk sekolah yang hanya Rp600 miliar diharapkan akan meningkat pula," katanya di hadapan ribuan siswa, ustadz, dan masyarakat sekitar pesantren.

Menurut dia, jika sistem diterapkan pada tahun ini banyak siswa-siswi tidak lulus dalam ujian akhir, maka hal itu juga merupakan bagian dari perlunya peningkatan kualitas pendidikan, sehingga tidak ada lagi istilah "belajar dan tidak belajar sama saja" karena ada jaminan lulus.

"Hal itu akan diterapkan secara bertahap, sehingga tidak ada lagi ’mark up’ nilai, karena rujukannya jelas yakni kualitas," katanya.

Dia memaparkan dari 174 negara di dunia, bangsa Indonesia berada pada urutan ke-112 di bawah Vietnam satu poin yakni 111, sedang Malaysia urutan 59, dan Singapura bertengger di urutan 26.

"Lalu pertanyaannya kapan kita berada di bawah urutan 100," katanya.Oleh karena itu, diharapkan secara bertahap pendidikan itu dilakukan pembenahan, sehingga bila anggaran pendidikan itu sudah 20 persen APBN, maka diharapkan dalam waktu yang tidak lama akan dapat mengejar ketertinggalan itu.

"Jangan seperti sekarang ini, jumlah lulusan doktor Indonesia berada di bawah Malaysia yakni per 1 juta penduduk hanya 65 orang, sedang Malaysia per 1 juta penduduk 85 orang. Gelar doktor terbanyak di negara Israel yaitu per 1 juta penduduk terdapat 16 ribu orang doktor," katanya. (Ant/Cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Kajian Sunnah, Pahlawan Hari Santri 2018

Menag Akui Anggaran Pendidikan Masih Rendah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Akui Anggaran Pendidikan Masih Rendah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Akui Anggaran Pendidikan Masih Rendah

Senin, 12 Februari 2018

Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin

Jakarta, Hari Santri 2018 



Saya kurang suka mengajukan berkas proposal kepada pihak mana pun. Sebaliknya, tak layak juga diserahi proposal dalam bentuk apa pun, resmi maupun sembarang. Kecuali proposal untuk ngopi bareng. Tak masalah itu. Sukanya bukan main, bahkan oleh pihak sembarang sekalipun. 

Kantor redaksi Hari Santri 2018, Sabtu siang, (9/12), didatangi sekelompok anak muda. Mereka santri-santri yang terhubung melalui medsos. Apa pun latar belakang mereka, ketika mengajukan proposal, saya jadi malas menemui. Namun, tak ada lagi jalan menghindar, kecuali menghadapinya. Paling tidak sekadar mempersilakan ngopi yang selalu tersedia di kantor redaksi sepanjang tahun.  

Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin

Saya pun membaca proposal itu. Tidak selesai memang. Mana ada yang selesai membaca sebuah proposal, bukan? Dari judul proposal itu, saya kaget bukan main. Ternyata mereka mengajukan permintaan buku untuk perpustakaan di daerah-daerah.  

Buku! 

Saya lalu mengubah mimik muka, lebih bersahabat dari sebelumnya. Orang yang berkaitan dengan buku harus disahabati dalam segala musim dan tempat. Kecuali yang berbakat mencoleng buku.  

Hari Santri 2018

Saya tak menerruskan membaca proposal. Lebih baik ngobrol saja, apa dan bagaimana. Dari A sampai Z saya kuliti perihal maksudnya itu.   

Hari Santri 2018

Rupanya mereka hendak memfasilitasi anak-anak di kampung untuk membaca. Tak hanya di satu tempat, tapi mulai Banyuwangi, Gresik, Semarang, Brebes, hingga Tulang Bawang (Lampung), dan Cileungsi. Permintaan dari tempat-tempat itu setelah mendapat kabar tentang perpustakaan Pojok Baca Nahdliyin melalui halaman Facebook. Di situ   

Saat ini di Brebes saja telah ada empat tempat. Biasanya perpustakaan itu  di rumah atau di mushala. Bahkan di Brebes, salah seorang Rais Syuriyah tingkat Ranting akan membangunkan saung untuk perpustakaan. 

“Ini adalah upaya supaya warga NU membaca,” kata Arif Budiman Mahdi, inisiator perpustakaan itu. 

Pria kelahiran Banyuwangi yang tinggal di Jembrana (Bali) ini berharap, jika anak-anak NU membaca, terutama amaliyah yang selama ini dilakukan warga NU, mereka akan mampu menjawab kaum yang membid’ahsesatkan.      

Tiba-tiba saya ingat KH Ali Yafie, anregurutta sepuh kita yang alim. Dikenal faqih dalam bidang agama. Tahun ini tiba di usia 90 tahun dia. Lipat tiga dari usia saya. 

Tidak penting sebetulnya soal usia berapa pun jumlahnya. Namun, menjadi penting ketika dikaitkan dengan membaca buku. Ya, kiai asal Sulawesi Selatan itu tiap hari masih membaca selama satu jam dua. Dia selalu mendapat bacaan baru dari anak-anaknya yang gemar membaca juga.  

Mengingat dia pernah Ketua Umum MUI Pusat dan Rais ‘Aam PBNU, apakah bacaannya hanya kitab kuning dan Al-Qur’an? Itu jelas masih dibaca rutin. 

Tidak, kawan. Dia membaca buku apa saja. Termasuk novel dan cerita silat Kho Ping Hoo. (Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Kajian Sunnah Hari Santri 2018

Selasa, 06 Februari 2018

Kang Said Sebut Beberapa Keunggulan Santri

Pasuruan, Hari Santri 2018

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebut santri pesantren sebagai orang-orang yang ikhlas, gigih dan tidak manja. Mereka didik untuk menjadi generasi yang kuat dan tidak mudah mengeluh.

"Santri ketika mondok, tidak pernah memikirkan nanti setelah lulus mau menjadi apa? Kerja apa? Nanti makanya dari mana ya? Punya mobil berapa ya? karena santri merupakan orang sederhana dan ikhlas," katanya saat memberi taushiyah pada pembukaan Silatnas Ayo Mondok di Taman Candra Wilwatikta Pandaan, Pasuruan, Jumat (13/5) malam.

Kang Said Sebut Beberapa Keunggulan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Sebut Beberapa Keunggulan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Sebut Beberapa Keunggulan Santri

Santri pesantren, lanjut Kang Said, didik untuk menjadi generasi yang mandiri dan tidak bergantung pada bantuan orang lain.Jiwa kemandirian ini yang menjadikan santri memiliki nilai lebih dari yang lainya.

"Santri ketika pulang dari pesantren harus mandiri. Tidak perlu jungkir balik ingin menjadi PNS, santri akan cari makan sendiri," katanya.

Lebih lanjut pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Jakarta itu menjelaskan, Di pesantren, hubungan persaudaraan santri dengan santri lainya terjalin sangat kentaldan kuat. Sistem pendidikan pesantren mampu menyamakan status sosial dan latar belakang dari mana santri itu berasal.

Hari Santri 2018

"Persaudaraan antar santri terjalin dengan ikhlas dan kuat. Persaudaraan terjalin bukan karena kepentingan. Semua didasari keihklasan," tuturnya.

Lebih lanjut, Kang Said meminta para santri untuk lebih tekunbelajar agama dan selalu optimis dan percaya diri. Sebab, lulusan pesantren akan menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat.

"Para santri yang bisa baca kitab kuning, nanti dengan sendirinya akan dicari oleh masyarakat. Para ulama, pemikir yang hebat,semuanya dari pesantren," pungkasnya.

Hari Santri 2018

Silaturrahmi Nasional (Silatnas) Ayo Mondok resmi dibuka oleh Gubernur Jatim H Soekarwo. Acara yang akan digelar hingga Ahad (15/5) ini dihadiri oleh seluruh pengurus RMINU se-Indonesia. Beberapa poin dibahas dalam acara ini, seperti peran alumni pesantren, sistem informasi pesantren, peran ekonomi pesantren, program pesantrenku bersih dan road map gerakan Ayo Mondok. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 PonPes, Kajian Sunnah, Warta Hari Santri 2018

Jumat, 02 Februari 2018

Sayembara Karya Kreatif Pelajar IPPNU, Diperpanjang

Jakarta, Hari Santri 2018. Panitia sayembara media Harlah Ke-60 Pimpinan Pusat IPPNU, masih memberikan kesempatan bagi para pelajar untuk mengirimkan karya terbaiknya baerupa desain poster, fotografi, dan video pendek. Pasalnya, perlombaan yang sejatinya ditutup pada 7 Maret, kini diubah menjadi 20 Maret.

Sayembara Karya Kreatif Pelajar IPPNU, Diperpanjang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayembara Karya Kreatif Pelajar IPPNU, Diperpanjang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayembara Karya Kreatif Pelajar IPPNU, Diperpanjang

“Perpanjangan waktu perlombaan ini diharapkan mampu menampung lebih banyak lagi partsipasi dan karya kreatif pelajar di Indonesia,” kata salah seorang pengurus PP IPPNU Eva Nurlathifah kepada Hari Santri 2018, Jumat, (13/3) sore.

Perlombaan ini dibuka sejak 11 Februari 2015 hingga penutupan pada 7 Maret 2015. Berhubung malam puncak harlah ke-60 PP IPPNU diubah menjadi 27 Maret 2015, maka panitia membuka peluang bagi pelajar kreatif yang belum mengirimkan karya terbaiknya untuk melayangkannya segera. Karena, batas akhir penutupan diperpanjang hingga 20 Maret 2015.

Hari Santri 2018

“Seluruh ketentuan dan persyaratan lomba dapat diunduh di web ippnu.nu.or.id.,” ujar Eva.

Sayembara media ini diadakan dalam rangka memperingati Harlah Ke-60 IPPNU. Sesuai tema Harlah Ke-60 IPPNU “Refleksi 60 tahun Perjalanan IPPNU Bersama Pelajar Indonesia”, PP IPPNU sengaja mengadakan sayembara ini guna meningkatkan kreatifitas dan partisipasi seluruh anggota IPPNU dan pelajar se-Indonesia dalam memperingati harlah IPPNU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Budaya, Sholawat, Kajian Sunnah Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock