Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Habib Luthfi: Gunakan Manajemen Islam Damai

Semarang, Hari Santri 2018. Ribuan jamaah memadati lapangan Sepak Bola Kliwon Ngaliyan Semarang Majelis Dzikir Maulidin Nabi Ngaliyan, Ahad (24/2) dalam acara pengajian akbar bertema “Maulid Nabi Muhammad SAW: Kita Pelihara, Akhlak, Sabar dan Takwakal.”

Kegiatan dihadiri tim hadroh dan para habib se-Semarang, sehingga ribuan jamaah memenuhi lapangan sambil menikmati Hadroh shalawat dan sambutan pengajian oleh Habib Jafar. Dalam pengajian akbar maulid Nabi Muhammad tersebut di isi oleh Habib Luthfi bin Ali Yahya dari Pekalongan.

Habib Luthfi: Gunakan Manajemen Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Gunakan Manajemen Islam Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Gunakan Manajemen Islam Damai

Kelahiran Nabi Muhammad sangat layak untuk diperingati. Akan tetapi dalam memperingati Nabi Muhammad tidak hanya waktu kelahiran Nabi Muhammad melainkan tiap hari, bulan maupun tahun, kata Habib Luthfi.

Hari Santri 2018

“Nabi Muhammad sendiri memperingati hari kelahirannya dengan cara melakukan tirakat dan puasa. Ia adalah suri teladan yang baik, dan teladan atau ushwah itulah yang sulit kita laksanakan,” kata Habib.

Hari Santri 2018

Meski Muhammad adalah orang suci namun ia selalu melakukan tazkiyah an-Nafs dan tazkiyah Qulub.Ia selalu mensucikan hati dan nafsunya, selayaknya cara-cara penyucian dengan teladan yang baik tersebut menjadi contoh bagi kita dan kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Islam dibawa ke bumi Nusantara dengan baik dan damai. Namun acara-acara televisi dalam menontonkan kisah-kisah wali selalu dibumbu-bumbui dengan pertengkaran dan kesaktian.

“Sesungguhnya para wali memberikan contoh teladan dari Nabi, bukan melalui kesaktian namun dengan manajemen Islam yang damai. Islam dibawa melalui contoh dan kegemaran masyarakat, sehingga Islam mudah menyebar di Indonesia,” tutur Habib Luthfi.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Lukni Maulana

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Budaya, Sholawat, Nasional Hari Santri 2018

Kamis, 08 Maret 2018

Santrinya dari Mancanegara, Kiai Asep Jelaskan Kitab dengan Tiga Bahasa

Mojokerto, Hari Santri 2018 - Adalah kebiasaan KH Asep Saefuddin Chalim, Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah sehabis memimpin shlat shubuh berjamaah di masjid pesantren lalu mengasuh pengajian kitab Mukhtarul Ahadits an-Nabawiyah yang disusun Sayyid Ahmad Al-Hasyimy. Yang unik, kitab ini dikaji dengan memakai tiga bahasa, yaitu Arab, Inggris, dan Indonesia.

Mengapa demikina? Karena yang mendengarkan tidak hanya santri Amanatul Ummah yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indoensia, tetapi juga santri dari luar negeri semacam Kazakhstan, China, Malaysia, dan Thailand.

Santrinya dari Mancanegara, Kiai Asep Jelaskan Kitab dengan Tiga Bahasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Santrinya dari Mancanegara, Kiai Asep Jelaskan Kitab dengan Tiga Bahasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Santrinya dari Mancanegara, Kiai Asep Jelaskan Kitab dengan Tiga Bahasa

Para santri dari mancanegara ini adalah santri yang kuliah di kampus Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto. Mereka sekaligus menjadi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari kampus yang masih berusia kurang dari dua tahun ini.

Hari Santri 2018

Pada Sabtu (28/1) pagi, misalnya, Kiai Asep membacakan hadits ke-503 di halaman 64 dalam kitab tersebut. Hadits ini mengulas tentang tiga orang yang di hari kiamat tidak dipandang dan tidak disucikan oleh Allah. Hadits ini semula diartikan dalam bahasa Indoensia, kemudian diartikan dan dijelaskan maksudnya lagi dalam bahasa Inggris, dan bahasa Arab.

Di antara golong yang merugi tersebut adalah seseorang yang memiliki kelebihan air namun tak memberikannya kepada ibnu sabil (orang dalam perjalanan), dan orang yang berbaiat atau melakukan sumpah setia kepada pemimpin hanya untuk kepentingan duniawi.

Hari Santri 2018

"Sekarang ini sudah terjadi," kata kiai yang kini menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) ini di hadapan para santri yang memadati masjid pesantren.

?

Abdur Rijal, salah seorang mahasiswa di kampus setempat mengaku senang dengan cara yang digunakan Kiai Asep dalam forum pengajian. "Ini pengajian yang luar biasa karena sekaligus dengan pengajian ini saya juga belajar tiga bahasa," ujar mahasiswa asal Papua yang kerap dimintai tampil dalam tilawatil qur’an ini. (Yusuf Suharto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Sholawat Hari Santri 2018

Selasa, 20 Februari 2018

Tuan Guru Bengkel, Ulama yang Produktif dalam Menulis

Mataram, Hari Santri 2018. Banyak warga Nahdliyin yang tidak mengenal dan memahami pemikiran para tokoh peletak dasar Nahdlatul Ulama (NU) di Nusa Tenggara Barat. Diantara ulama yang seharusnya terus digali pikiran adalah Tuan Guru Haji M Shaleh Hambali Bengkel. Ia adalah Rais Syuriah NU Nusa Tenggara Barat pertama.

Demikian disampaikan mantan Rektor Mansur Maksum dalam acara bedah buku Pemikiran Lokal: TGH M Shaleh Hambali Bengkel di Halaman Kantor PWNU NTB, Rabu (22/11).

Tuan Guru Bengkel, Ulama yang Produktif dalam Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuan Guru Bengkel, Ulama yang Produktif dalam Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuan Guru Bengkel, Ulama yang Produktif dalam Menulis

Dia menilai, Tuan Guru Bengkel adalah seorang ulama yang sangat alim dan mampu menjadi penengah manakala ulama-ulama berbeda pendapat.?

“Jika ada perbedaan diantara ulama, beliau yang didengar waktu itu,” katanya.

Tuan Guru Bengkel juga adalah seorang ulama yang produktif dalam menulis. Tercatat, ada delapan belas kitab yang ditulisnya, yaitu Talim Al Shibyan Bi Ghayat Al Bayan, Bintang Perniagaan, Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, Wasiat Al Musthafa, Mawaidh Al Shalihiyah, Intan Berlian Perhiasan Perhiasan Laki Perempuan, Manzalul Al Amrad, Hidayat Al Athfal, Al Lulu Al Mantsur, dan lainnya.

Hari Santri 2018

Ketua Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (PWNU NTB) Muhammad Akbar Jadih menilai, Tuan Guru Bengkel adalah sosok ulama yang memiliki kemampuan manajemen yang baik, baik dalam mengelola karya-karyanya ataupun pesantrennya.

“Beliau sudah memiliki staf khusus dalam menulis karya-karya beliau,” katanya.

Ia mengajak Nahdliyin untuk meneladani Tuan Guru Bengkel, terutama dalam melahirkan karya tulis. Ia berharap, ke depan Tuan Guru Bengkel akan dianugerahi oleh pemerintah menjadi pahlawan nasional.?

Ada tiga tema besar yang menjadi perhatian khusus Tuan Guru Bengkel di dalam karya-karyanya, yaitu fikih, ushul fikih, dan tasawuf. Hampir sebagian besar karya Tuan Guru Bengkel ditulis dalam bahasa Arab Melayu. (Muchlishonn Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Nusantara, Sholawat Hari Santri 2018

Kamis, 08 Februari 2018

KMNU UGM, Ketua Baru, Semangat Baru

Yogyakarta, Hari Santri 2018. Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad yang bertepatan 6 juni 2012 kemarin dimanfaatkan oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitar Gajah Mada (UGM) Yogyakarta untuk mengadakan rotasi kepemimpinan.

Bertempat di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (6/6), KMNU UGM mengadakan pemilihan ketua baru sekaligus memperingati perjalanan kilat Nabi Muhammad Saw yang lebih dikenal dengan Isra’ Mi’raj dengan tema besar Syiarkan Kebesaran Dakwah Ahlussunnah wal Jamaah. Tunjukkan Jati Diri Bangsa.

KMNU UGM, Ketua Baru, Semangat Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU UGM, Ketua Baru, Semangat Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU UGM, Ketua Baru, Semangat Baru

Sebelum dhuhur, Gus Irwan Masduqi Mlangi didaulat sebagai pembicara dalam acara tersebut. Sedangkan KH Asy’ari Abta, Rais Syuriah PWNU DIY,  mengisi acara tersebut bakda dhuhur. Setelah itu, acara kemudian dilanjutkan dengan LPJ pengurus KMNU UGM Periode 2012/2013. 

Hari Santri 2018

Setelah LPJ pengurus selesai, acara berlanjut dengan prosesi pemilihan ketua baru KMNU UGM Periode 2013-2014. Awalnya, ada banyak orang yang dicalonkan dalam pemilihan tersebut. Tetapi, pada akhirnya hanya menyisakan tiga orang. Dua untuk putra dan satu untuk putri. Calon-calon tersebut, yakni Puguh Imam al-Habib, Abdul Jalil, dan Muriyatul Qibtiyah. 

Hari Santri 2018

Sebelum proses pemilihan dilakukan, para calon ketua diminta untuk mengungkapkan visi dan misi ke depannya untuk kemajuan KMNU UGM. Setelah itu, akhirnya, dengan cara musyawarah mufakat Puguh Imam al-Habib didaulat sebagai ketua KMNU UGM yang baru. Seperti yang dikatakan sebelum pemilihan, Puguh akan menjaga eksistensi KMNU UGM sebagai sebuah komunitas bukan sebagai badan otonom. 

“KMNU UGM ini kan sebuah komunitas. Jangan sampai dimasuki oknum-oknum yang tidak jelas. Jangan juga jadi Banom dan organisasi. Biarlah menjadi wadah kekeluargaan saja. Saya juga akan berusaha mendakwahkan NU di kalangan Universitas Gadjah Mada,” Ujar Puguh dengan tenang.

Semoga dengan ketua baru, KMNU UGM memiliki semangat baru juga. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rokhim Bangkit 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ubudiyah, Sholawat Hari Santri 2018

Minggu, 04 Februari 2018

Kisah Jinten dan Karomah Guru Ibnu Arabi

Dalam kitabnya Ibnu Arabi bercerita mengenai seorang gurunya yang bernama Abu Abdillah Muhammad al-Syarafi. Gurunya ini berasal dari kabupaten al-Jarafe di kota Sevilla. Di luar kota Sevilla tidak banyak yang mengenal karomah sang guru, bukan saja karena sang guru menempuh laku spiritual yang keras, seperti 40 tahun tinggal di rumah tanpa lampu dan perapian, tapi juga karena sang guru termasuk sufi yang menyembunyikan kedudukannya.

Suatu hari Syekh al-Syarafi berjalan ke pasar dan menemui seorang anak kecil yang mengangkat keranjang berisi Adas/Jinten. Anak itu berkisah bahwa ia seorang yatim. Ibunya harus mengasuh sejumlah anaknya yang masih kecil. Sejak pagi mereka belum makan. Ibunya menyuruhnya menjual biji jinten ini ke pasar. Jika uangnya cukup ibunya berharap bisa membeli makanan untuk mereka.

Kisah Jinten dan Karomah Guru Ibnu Arabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Jinten dan Karomah Guru Ibnu Arabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Jinten dan Karomah Guru Ibnu Arabi

Syekh al-Syarafi meneteskan air mata menyimak kisah si bocah. Akan tetapi, alih-alih membeli jinten itu, Syekh al-Syarafi memasukkan tangannya ke keranjang, menggenggam sejumlah biji jinten. "Ini jinten yang bagus," begitu komentar sang syekh. Kemudian Syekh al-Syarafi berkata pada bocah yatim itu:

Hari Santri 2018

"Beritahu ibumu bahwa paman al-Syarafi dari al-Jarafe mengambil beberapa biji jinten ini dan meminta ibumu menghalalkannya."

Sampai di sini, tindakan Syekh al-Syarafi ini di luar nalar. Bocah yang keluarganya sedang kesusahan dan hendak menjual biji jinten yang mereka punya, malah sebagian diambil oleh Syekh al-Syarafi. Bahkan tidak membayar dan malah minta ikhlas dihalalkan saja untuk dia.

Hari Santri 2018

Namun karomah beliau muncul pada titik ini. Saat ia angkat tangannya menggenggam biji jinten, hatinya berdoa kepada Allah maka luluh hati mereka yang berada di sekitar itu. Tiba-tiba ada yang berkata: "Biji jinten yang telah disentuh oleh seorang Syekh pasti barokah." Orang yang berkerumun berebut membeli biji jinten itu. Walhasil, anak itu pulang membawa 70 dinar emas ke rumah ibunya. Subhanallah!

Ibnu Arabi bercerita bagaimana di depan matanya sendiri ia menyaksikan karomah sang guru menolong anak kecil itu dengan cara yang di luar nalar.

Kawan, seringkali di saat kesusahan kita malah mengalami kerugian. Kata orang, ini ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Namun yakinlah dengan kekuatan doa dan keikhlasan hati. Apa yang sudah direnggut oleh tangan-Nya tidaklah tersisa kecuali barokah. Bi yadikal khair. Di tangan-Nya semua kebajikan.

Di balik kesulitan, ada kemudahan

Sungguh di balik kesulitan, ada kemudahan

Begitu Al-Quran merekam janji Allah SWT. Masihkah kita tidak mempercayainya?

Para kekasih Allah itu bekerja menurut apa yang Allah skenariokan. Apa yang terlihat sebuah kerugian di mata manusia boleh jadi merupakan sarana datangnya keberkahan.

Untukmu kawan yang tengah dirundung berbagai kesulitan hidup, berdoalah agar hati kita seperti biji jinten yang disentuh oleh tangan kekasih-Nya. Ikhlaskanlah apa yang telah terambil, nanti Allah ganti semuanya dengan caraNya. Berkah... berkah… berkah.



Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School


Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sholawat Hari Santri 2018

Jumat, 02 Februari 2018

Sayembara Karya Kreatif Pelajar IPPNU, Diperpanjang

Jakarta, Hari Santri 2018. Panitia sayembara media Harlah Ke-60 Pimpinan Pusat IPPNU, masih memberikan kesempatan bagi para pelajar untuk mengirimkan karya terbaiknya baerupa desain poster, fotografi, dan video pendek. Pasalnya, perlombaan yang sejatinya ditutup pada 7 Maret, kini diubah menjadi 20 Maret.

Sayembara Karya Kreatif Pelajar IPPNU, Diperpanjang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayembara Karya Kreatif Pelajar IPPNU, Diperpanjang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayembara Karya Kreatif Pelajar IPPNU, Diperpanjang

“Perpanjangan waktu perlombaan ini diharapkan mampu menampung lebih banyak lagi partsipasi dan karya kreatif pelajar di Indonesia,” kata salah seorang pengurus PP IPPNU Eva Nurlathifah kepada Hari Santri 2018, Jumat, (13/3) sore.

Perlombaan ini dibuka sejak 11 Februari 2015 hingga penutupan pada 7 Maret 2015. Berhubung malam puncak harlah ke-60 PP IPPNU diubah menjadi 27 Maret 2015, maka panitia membuka peluang bagi pelajar kreatif yang belum mengirimkan karya terbaiknya untuk melayangkannya segera. Karena, batas akhir penutupan diperpanjang hingga 20 Maret 2015.

Hari Santri 2018

“Seluruh ketentuan dan persyaratan lomba dapat diunduh di web ippnu.nu.or.id.,” ujar Eva.

Sayembara media ini diadakan dalam rangka memperingati Harlah Ke-60 IPPNU. Sesuai tema Harlah Ke-60 IPPNU “Refleksi 60 tahun Perjalanan IPPNU Bersama Pelajar Indonesia”, PP IPPNU sengaja mengadakan sayembara ini guna meningkatkan kreatifitas dan partisipasi seluruh anggota IPPNU dan pelajar se-Indonesia dalam memperingati harlah IPPNU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Budaya, Sholawat, Kajian Sunnah Hari Santri 2018

Selasa, 30 Januari 2018

306 Siswa SD di Sidoarjo Ikuti Festival Pendidikan Agama Islam

Sidoarjo, Hari Santri 2018. Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG-PAI) Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur mengadakan Festival Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Sekolah Dasar se-Kabupaten Sidoarjo di Pendopo Delta Wibawa dan Masjid Agung Sidoarjo, Selasa (9/6).

Festival PAI ini diikuti sebanyak 306 peserta dan 36 regu yang terdiri dari beberapa macam perlombaan diantaranya, lomba cerdas cermat dan adzan diadakan di Pendopo Delta Wibawa, lomba pemilihan da’i kecil, lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang terdiri dari tilawah dan tartil maupun Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) sampai lomba kaligrafi diadakan di Masjid Agung Sidoarjo.

306 Siswa SD di Sidoarjo Ikuti Festival Pendidikan Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
306 Siswa SD di Sidoarjo Ikuti Festival Pendidikan Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

306 Siswa SD di Sidoarjo Ikuti Festival Pendidikan Agama Islam

Ketua KKG-PAI Kabupaten Sidoarjo Miftah mengatakan, bahwa pelaksanaan festival PAI tahun ini merupakan pelaksanaan yang ke-VI. Festival tersebut diikuti oleh siswa siswi SD negeri maupun swasta. Pesertanya merupakan hasil seleksi secara ketat di tiap-tiap kecamatan.

Hari Santri 2018

"Masing-masing juara nantinya akan menerima trofi, piagam penghargaan dan uang pembinaan. Untuk juara umum nantinya akan menerima piala bergilir dari Bupati Sidoarjo," jelas Miftah.

Kata Miftah, festival PAI itu sebagai sarana mengembangkan syiar Islam khususnya kepada anak-anak agar dapat terus dilakukannya. Selain itu, kegitan itu juga merupakan upaya untuk ikut memajukan pendidikan agama Islam khususnya di Kabupaten Sidoarjo.

Hari Santri 2018

Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah yang membuka acara tersebut menyatakan, bahwa pelaksanaan festival PAI akan memberikan motivasi kepada guru PAI dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar maupun pengajaran keterampilan terkait dengan PAI.

"Melalui festival PAI ini semoga dapat memunculkan bibit-bibit baru yang berpotensi dalam ajang Pendidikan Agama Islam. Karena festival PAI ini merupakan sarana kompetisi peserta didik dibidang keterampilan dan seni PAI," ucap Abah Ipul sapaan akrab Bupati.

Abah Ipul menambahkan, kegiatan tersebut dapat menjadi tolok ukur keberhasilan pembinaan PAI di sekolah, sejauh mana pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam yang diberikan guru sekolah kepada peserta didiknya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sholawat Hari Santri 2018

Minggu, 28 Januari 2018

PCINU Maroko Hadiri Maulid Nabi di Zawiyah al Kattaniyah

Fes, Hari Santri 2018. Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang setiap tahunnya diperingati ? oleh mayoritas umat Islam di Indonesia ternyata di Maroko pun tak mau ketinggalan.?

PCINU Maroko Hadiri Maulid Nabi di Zawiyah al Kattaniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Maroko Hadiri Maulid Nabi di Zawiyah al Kattaniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Maroko Hadiri Maulid Nabi di Zawiyah al Kattaniyah

Berbagai macam acara memperingati maulid dilakukan oleh warga Maroko, mulai dari karnaval yang diikuti oleh warga setempat sambil membawa hiasan yang bertulisakan lafad Allah dan Muhammad SAW, khataman Al-Quran yang dibaca secara bergantian, pembacaan shalawat yang dikarang oleh ulama Maroko dan ada juga sebagian warga yang mengundang warga asing untuk ikut memperingati acara ini.

Suatu keistimewaan tersendiri bagi ? Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko mendapatkan kehormatan dari Zawiyah Al-Kattaniyah untuk menghadiri acara maulid Nabi Muhammad SAW yang bertempat di kota Fes yang terkenal dengan kota ilmu.

Hari Santri 2018

Setelah acara ini dibuka dengan pembacaan ummul kitab, selanjutnya diteruskan dengan khataman Al-Quran 30 Juz yang dilakukan secara bergantian dan tiap orang mendapatkan bagian satu juz.?

Hari Santri 2018

“Saya merasa bangga sekali bisa menghadiri acara ini, disamping suatu kehormatan bagi PCINU Maroko kami juga bisa duduk bersama dengan ulama Maroko serta bersilaturrahim dengan mereka,” ujar Muhammad Fauzan Nabila yang hadir pada acara ini.

? Sebelum masuk ke acara inti, Qari membaca ayat Al-Quran yang berisi bahwa Rasulullah SAW merupakan suri teladan yang patut dicontoh yang dilanjutkan dengan pembacaan sholawat hingga selesai. Sebelum acara penutupan, Syekh Hamzah Al-Kattani memberikan ceramah singkat yang bertajuk inti diadakan maulid Nabi SAW dan keutamaan membaca shalawat Nabi SAW, sekaligus ditutup dengan doa bersama.?

Turut hadir pula H Ahmad Shohib Muttaqin Lc, wakil Katib Syuriah PCINU Maroko, Ahmad Suprapto wakil Koordinator lajnah Ta’lif wa Nasyr PCINU Maroko ? dan keluarga besar Zawiyah Al-Kattaniyah serta ulama setempat.

?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Santri, Kajian Islam, Sholawat Hari Santri 2018

Kamis, 25 Januari 2018

Keagungan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs.

Ulama-ulama besar mengakui keagungan Syekh Abdul Qodir. Imam Adz-Dzahabi, seorang ahli tafsir terkemuka menyebutkan, karomah Syekh banyak dan jelas. Ibnu Rajab, ahli hadits madzhab Hambali yang salah satu bukunya saya terjemahkan menjadi, "Setahun Bersama Nabi" (diterbitkan Pustaka Hidayah, sekitar 1000 hlm.) menyebut Syekh sebagai teladan orang-orang marifat, pemimpin para syekh dan dikaruniai maqam dan karomah. Imam Al-Izz bin Abdussalam, ulama besar madzhab Syafii menyatakan,"Tidak ada karomah yang dinukil kepada kami secara mutawatir, kecuali karomahnya Syekh Abdul Qodir Jailani."

Salah satu karomah Syekh yang paling menarik bagi saya adalah namanya terus disebut, didoakan, dan dibaca dalam tawasul sampai sekarang oleh jutaan umat Islam di berbagai belahan dunia.?

Kalau sejarah Rasulullah disebut siroh dan dirujuk serta diteladani oleh umat Islam, maka sejarah hidup Syekh Abdul Qodir Jailani sebagai keturunannya disebut manqobah (jamaknya ialah manakib). Manakibnya menjadi alat ukur perkembangan spiritual para Salik (orang yang ruhaninya berjalan menuju Allah).

Keagungan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs. (Sumber Gambar : Nu Online)
Keagungan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs. (Sumber Gambar : Nu Online)

Keagungan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs.

Syekh Abdul Qodir Jailani pernah bertanya kepada gurunya, yaitu Syekh Hammad Ad-Dabbas karena di tempat khalwat gurunya setiap malam terdengar dengungan keras seperti lebah.?

Syekh Dabbas menjawab,"Aku memiliki sekitar 12.000 murid. Setiap malam aku menyebut nama mereka satu per satu. Aku bantu permohonan hajat mereka kepada Allah. Kita doakan agar mereka tidak melaksanakan maksiat yang direncanakannya serta mudah-mudahan selalu takut dan bertaubat kepada Allah."

Subhanallah, betapa besar cinta dan pengorbanan seorang mursyid kepada para muridnya. Sebagai murid, khidmah dan pengorbanan apa yang sudah kita lakukan untuk menyukseskan program dan visi Syekh Mursyid kita?

Hari Santri 2018

Syekh Abdul Qodir Al-Jilani mendapat doa dari gurunya. Umar Al-Halawy, salah seorang murid Syekh Abdul Qodir Al-Jailani berkelana bertahun-tahun. Ketika pulang, ia ditanya oleh Syekh Hammad Dabbas (guru Syekh Abdul Qodir).

"Kemana saja selama ini kalian berkelana?"

Umar menjawab,"Aku mengelilingi Mesir hingga Maghrib dan aku berjumpa dengan 360 wali Allah. Mereka semua berkata,"Syekh Abdul Qodir Jailani adalah syekh dan pemimpin kami."

Hari Santri 2018

Terima kasih kepada Dr. Ajid Thohir yang menulis disertasi tentang kitab Manakib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. Disertasi beliau menjadi salah satu dari enam disertasi terbaik yang diterbitkan Kemenag tahun 2011 (486 hlm).?





Tulisan ini hadir merujuk disertasinya tersebut. Semoga makin banyak orang yang mengkaji dan mengenalkan karya dan pemikiran ulama dan sufi, di samping mengamalkan ajaran dan awradnya. Amin. (Rojaya, Ketua Prodi Ilmu Tasawuf Fakultas Dakwah IAILM Pondok Pesantren Suryalaya)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Berita, Sholawat, Lomba Hari Santri 2018

Senin, 22 Januari 2018

Menteri Marwan: Perlu Tata Kelola Pertambangan di Desa

Jakarta, Hari Santri 2018. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar turut menyayangkan tragedi pembunuhan Salim Kancil aktivis asal Desa Selo Awar-awar, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang mengkritisi praktik penambangan pasir. Menurutnya, kasus ini membuktikan bahwa pengelolaan pertambangan di desa belum tertangani secara baik dan hanya menguntungkan beberapa pihak saja.

"Pengelolaan sumber daya alam di desa memang perlu ditata secara profesional dan menguntungkan semua masyarakat desa. Jangan sampai ada pengelolaan SDA (sumber daya alam) seperti pertambangan yang hanya menguntungkan kepala desa saja," ujar Menteri Marwan, di Jakarta, Senin (5/10), kepada Hari Santri 2018 dalam siaran pers.

Menteri Marwan: Perlu Tata Kelola Pertambangan di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Marwan: Perlu Tata Kelola Pertambangan di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Marwan: Perlu Tata Kelola Pertambangan di Desa

Pengelolaan SDA seperti pertambangan, menurut Marwan, harus dikelola secara bersama melalui BUMDes, ataupun usaha kelompok lainnya yang difasilitasi oleh pemerintahan desa, sehingga manfaatnya juga bisa dirasakan bersama.

Marwan menjelaskan BUMDes sebagai wadah penguatan ekonomi pedesaan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa, akan tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan nilai-nilai sosial dan tradisi gotong royong antarmasyarakat yang saat ini sudah mulai terkikis.

Hari Santri 2018

"Dengan adanya BUMDes, masyarakat bisa sama-sama saling memiliki dan menjaga aset yang dimiliki oleh desa. Tidak hanya sekadar berorientasi pada materi yang mementingkan sebagian kelompok saja," imbuhnya.

Hari Santri 2018

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Salim Kancil merupakan petani yang? vokal menolak kegiatan penambangan pasir di Desa Selo Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Kapolres Lumajang Ajun Komisaris Besar Fadly Munzir Ismail mengatakan pembunuhan itu dilatarbelakangi perselisihan antara para petani yang produksi pertaniannya rusak akibat kegiatan penambangan dan warga yang mencari nafkah dengan menambang pasir.

Menurutnya, sekelompok warga propenambangan pasir menganiaya Salim, dikenal sebagai Salim Kancil pada Sabtu (26/09) pagi. Selain Salim, beberapa orang menganiaya Tosan, petani yang juga menentang aktivitas penambangan pasir. Tosan luput dari maut dan dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sholawat Hari Santri 2018

Sabtu, 13 Januari 2018

Dua Status Sial Facebook

Malam-malam begini, tiba-tiba saya kangen lagu-lagu kasidah. Saya kemudian mendengarkan suara emas Nur Asiah Jamil berjudul Petani, Pahlawan, dan Ulama. Lagu Petani mengingatkan saya kepada buku catatan harian ayah semasa di pesantrennya. Ayah pernah bergabung bersama tim kasidah, lagu Petani sering dinyanyikannya.

Lalu lagu milik penyanyi andalan Lesbumi tahun 60-an, Rofiqoh Darto Wahab berjudul Ya Asmar Latin Sani. Lagu ini, saya tahu dari novel berbahasa Sunda yang dikarang jebolan pesantren, Usep Romli HM. Judulnya Bentang Pasantren (Bintang Pesantren). Di novel yang berlatar pesantren Sunda, tokoh utamanya menggandrungi lagu itu. Kemudian saya cari lagu itu di internet.

Dua Status Sial Facebook (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Status Sial Facebook (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Status Sial Facebook

Setelah dapat, saya mengirim pesan singkat kepada pengarangnya, bahwa saya sudah memiiliki lagu itu. Ia sampai menelpon saya untuk mengirim lagu itu ke surat elektroniknya. Saya dengan senang hati mengabulkan permintaan pengarang yang pernah aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan GP Ansor itu.

Lantas saya putar pula kasidah milik Maria Ulfa berjudul Indonesia Baladi. Tak lupa Nasida Ria. Saya menemukan lagu berjudul Wartawan Ratu Dunia buah cipta H Abu Ali Haidar dinyanyikan Muthoharoh. Saya kutip di sini. Ratu dunia, ratu dunia, oh wartawan, ratu dunia/Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran.

Hari Santri 2018

Lagu ini menggugah kenangan masa kecil yang akrab dengan kasidahan, terutama sore hari menjelang imtihan (samenan) di madrasah yang dibayar dengan iuran seliter setengah beras per bulan atau pernikah anak tetangga.

Sialnya, kenangan itu rusak ketika sambil mendengarkan lagu, saya membuka Facebook. Pasalnya saya menemukan dua status teman yang panjang. Statusnya bukan berbunyi seperti ini, “aduh kangen”, “laper nih”, “mamingan”. Bukan! Tapi tentang “akhlak” media kita. Tentu saja ini berkaitan dengan lagu kasidah itu, Wartawan Ratu Dunia yang sedang diputar.

Hari Santri 2018

Status teman saya yang pertama berbunyi demikian, “Pada April 2013 lalu, ketika ustadz Jefri Al-Bukhori (Uje) wafat, pemberitaan media (media elektronik, media online bahkan media sosial) begitu masif dan beruntun selama berhari-hari. Bahkan beberapa media televisi swasta nasional menyiarkan langsung acara pemakaman, juga tahlilan sampai 40 hari wafatnya Uje.

Status itu kemudian menceritakan temannya yang berkata, "Ternyata gema wafatnya Uje jauh lebih menggelegar dibanding dengan berita wafatnya kiaimu dari Krapyak itu, ya." Status itu menambahkan, "seminggu sebelum Uje meninggal, KH Ahmad Warsun Munawwir, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Mutasyar PBNU; juga meninggal."

Status teman yang satu lagi bernada sama. Begini, “Sehari sudah Mbah Mahfudh, Rais Aam Syuriah PBNU dan Ketua MUI berturut-turut itu meninggalkan kita, beliau memiliki teladan akhlak dan karya intelektual yang reputasinya sudah mendunia.” Namun, lanjut status itu, pemberitaan di media tv nyaris tak ada, kecuali berita jalan (tag-line) yang beberapa menit. Bayangkan dengan gemuruh liputan tv saat meliput mendiang Uje Bukhari? Sebulan itu-itu saja, bahkan live pula. Ada apa gerangan dengan masyarakat-media kita?”

Menurut saya, dua status teman saya itu bukan sedang menghujat Uje. Walau bagaimanapun Uje telah berperan dalam dakwah Islam di kota. Tentulah ia punya jasa tersendiri dalam bidang itu.Tapi teman saya sedang membidik pelaku media kita.

Semakin rusak kenangan saya, ketika menemukan status teman lain, “Bagi media yang alergi dengan nama NU, biasanya memberitakan kepergian Mbah Sahal Mahfudh dengan menghubungkan status beliau sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sayangnya, di website lembaga yang sering digunakan sebagai pelarian dari media pengidap penyakit di atas, tak sedikit pun membahas atau berbela sungkawa terkait mangkatnya Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”

Status tersebut dikomentari temannya begini, “Biarlah Pengakuan terhadap Mbah Sahal menurut kepercayaannya masing-masing . Bagi mereka, itu saja sudah untung, bahkan bisa dikatakan prestasi. Daripada terus-terusan mencela."

Media tak suka kiai desa dan penulis?

Ini mungkin pertanyaan berlebihan. Tapi tidak apa, sesekali bolehlah. Soalnya, dua status pertama teman saya membandingkan, setidaknya dua hal. Pertama, kiai yang penulis dengan kiai lisan. Kedua, kiai kota dan desa.

Mari telisik lebih lanjut, KH Sahal Mahfudh tinggal di Desa Kajen itu menulis kitab dalam bahasa Arab, diantaranya Intifakh al-Wadjin, Faidh al-Haja ala Nail al-Raja Mandhumah Safinat al-Naja, Thariqat al-Hushul ala Ghayat al-Wushul dan a-Bayan al-Mulamma an Alfadh al-Luma (al-Syairazi), dll. Kitab Ghayat al-Wushul Kiai Sahal jadi salah satu rujukan ushul fiqih di Al-Azhar, Mesir. Juga di Hadralmaut (Yaman), dan Sudan. Belum lagi buku-buku dia dalam bahasa Indonesia, serta artikel-artikel lepasnya di majalah ataupun koran.

Pun begitu Kiai Warsun. Ia yang juga tinggal tidak di ibu kota itu menulis kitab Al-Munawwir, kamus Arab-Indonesia : Indonesia-Arab. Kamus ini digunakan tidak hanya ribuan santri, tapi juga mahasiswa yang berkaitan dengan bahasa Arab di perguruan tinggi.

Status teman saya yang pertama, kemudian sampai kepada pertanyaan yang bernada kesal, “Apakah kebesaran tokoh sekaliber KH Sahal Mahfudh dan KH Ahmad Warsun Munawwir ini lebih kecil dibanding dengan seorang dai selebritis ibu kota yang gaul, Ustad Jefri Al-Bukhori yang memang populer dan dibesarkan oleh media?” Menurut saya, sekali lagi, pertanyaan dengan tiga tanda tanya sekaligus itu tidak sedang tidak sedang menyerang Uje. Uje tidak tahu menahu urusan itu, tapi “akhlak” media kita, terutama televisi.

Saya ingin menambahkan pertanyaan teman saya itu, apakah media kita tak suka dengan kiai desa dibanding kiai kota? Apakah media kita tak suka dengan kiai yang menulis tapi lebih suka dengan ustadz lisan? Pertanyaan lain menyusul, kenapa yang satu terus ditampilkan yang satu lagi tidak? Apa itu kebetulan atau disengaja? Saya tidak tahu jawabannya. Lebih baik kita putar ulang lagu Wartawan Ratu Dunia itu.

Apa saja kata wartawan, mempengaruhi pembaca koran/Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji/Bila wartawan mencaci, dunia ikut membenci/Wartawan dapat membina pendapat umum dunia /Bila wartawan terpuji bertanggung jawab berbudi/Jujur tak suka berdusta, beriman dan takwa

Sebaik-baik wartawan yang ratu dunia itu, bukankah mereka tetap tunduk kepada kepentingan Pemred dan pemilik media. Coba perhatikan saja apakah TVOne senang dengan memberitakan lumpur Lapindo? Ketika dia tidak memberitakan, apakah fakta itu tidak ada? Jelas, kebijakan pemilik media sangat mempengaruhi.

Belum genap dua minggu, Pengurus Pusat Pencak Silat Pagar Nusa NU membedah buku. Tak tanggung-tanggung, dua buku sekaligus. Kuasa Ramalan karya Peter Carey, peneliti Inggris, dan buku Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949) karya Zainul Milal Bizawie. Kedua buku itu terdapat benang merah, orang-orang dari pesantren turun-temurun mengusir penjajah. Contoh paling terorganisir adalah Perang Pangeran Diponegoro.

Dari bedah buku itu pula menegaskan, kiai-kiai pesantren yang ada sekarang itu adalah keturunan pasukan Pangeran Diponegoro dan pejuang-pejuang sebelumnya. Dengan demikian, lagi-lagi saya menemukan pertanyaan begini, apa media kita tidak suka dengan keturunan para pengusir penjajah?

Sebenarnya tidak salah para media cenderung begitu, wong itu milik mereka, menampilkan atau tidak menampilkan sebuah fakta adalah kepentingan mereka. Biarlah mereka begitu ya begitu dari sononya. Saya cuma sampai pada kesimpulan, sebaiknya para santri, yang katanya turunan para pengusir penjajah itu, berjuang juga dalam media, baik cetak, online, atau tv. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sholawat, Pendidikan Hari Santri 2018

Sabtu, 06 Januari 2018

Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an

Jakarta, Hari Santri 2018. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, di dalam Al-Qur’an hanya ada satu profesi yang menjadi nama surat yaitu As-Syu’ara, artinya para penyair. Jadi, para seniman (penyair) itu mendapat kedudukan istimewa. ?

“Yang lainnya tidak ada, semisal surat kuli, surat pengacara, anggota DPR,” katanya pada Silaturahim Kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/7) bertema “Meneguhkan Kebudayaan, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang digelar Lesbumi PBNU.?

Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Satu-satunya Nama Surat Profesi pada Al-Qur’an

Ia menambahkan, ditegaskan di dalam surat itu, para penyair adalah orang yang luas pandangannya, sangat cerdas, dan pengembara.?

Maka, lanjutnya, ditegaskan Syekh Dzu Nun Al-Mishri, seni adalah suara kebenaran yang menggugah, dan mengangkat kita pada kepada Allah. Pada kesmepatan lain, Kiai Said juga menjelaskan bahwa seni yang dibarengi syahwat akan mendekatkan pelakunya kepada zindiq.?

Hari Santri 2018

“Maka seni ini jalan yang tepat untuk menuju Allah. Itu yang ngomong sufi besar, bukan Ketua Umum PBNU,” tegasnya. ?

Silaturahim Kebudayaan tersebut dihadiri Ketua Lesbumi PBNU KH Agus ? Sunyoto, Ketua Umum Persatuan Purnawiran Warakawuri TNI/Polri (Pepabri) Agum Gumelar, budayawan KGPH Puger, dan pemerhati budaya Harry Tjan Silalahi.

Ragam seni ditampilkan pada kesempatan tersebut mulai keroncong jaipong grup Jaya Buana, yang dipadu alat musik modern, pencak silat Pagar Nusa, seni pantun Sunda yang diiringi karinding dan celempung, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat, Indonesia Raya, penampilan puisi, pameran keris.?

Hari Santri 2018

Para hadirin juga bisa mencicipi ragam makanan tradisional seperti berbagai jenis tumpeng, umbi-umbian, dan minuman sadapan mayang enau atau nira (legen). (Abdullah Alawi) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pendidikan, Sholawat Hari Santri 2018

Minggu, 31 Desember 2017

Jangan Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri

Kendal, Hari Santri 2018. Banyaknya investor asing yang masuk ke Indonesia, menuntut generasi muda untuk kreatif dan aktif di bidang ekonomi, dibutuhkan generasi yang mau dan mampu berkompetensi di dunia bisnis atau berwirausaha.

Jangan Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri

Demikian disampaikan Wakil Bupati Kendal, H. Mustamsikin M.Ag. ketika memberikan sambutan pada Dialog Kewirausahaan dan peluncuran Bimbel Excellent yang dihelat oleh PC. IPPNU Kabupaten Kendal, Sabtu (19/1) lalu.

“Di Kendal, akan semakin banyak investor asing yang akan menanamkan modal mereka di sini, itu seharusnya jadi cambuk bagi kita, agar kita jangan cuma jadi penonton di rumah sendiri. Kita harus mampu bersaing dengan mereka,” tegasnya.

Hari Santri 2018

Pada dialog kewirausahaan yang digelar di gedung pertemuan Rumah Makan Aldila tersebut, hadir pula ketua LP Maarif Kendal, Ibnu Darmawan yang sekaligus berkapasitas sebagai pembicara.

Di hadapan seratusan peserta dialog yang berasal dari 20 PAC dan komisariat yang ada di Kendal, Ibnu Darmawan memberikan motivasi serta pengetahuan seputar dunia kewirausahaan.

Hari Santri 2018

“Saya mengamini apa yang dikatakan bapak wakil bupati, kita harus mampu jadi tuan rumah yang mahir dalam menguasai segala hal yang ada di negeri kita sendiri, jangan hanya jadi penonton saja,” ujarnya.

Pada dialog tersebut, IPPNU Kendal menghadirkan Sa’adatul Abadiah sebagai pembicara pada dialog tersebut. Ia merupakan owner dari La Naya, indsutri rumahan yang memproduksi berbagai macam kerajinan tangan.

Perempuan yang dulu sempat menjabat sebagai wakil ketua PW IPPNU Jawa Tengah tersebut membagikan pengalamannya ketika jatuh bangun merintis La Naya. Bahkan, perempuan yang pernah terjun di LSM pemberdayaan perempuan itu juga pernah diliput sebuah stasiun televisi karena kegigihan dan kreativitasnya di bidang wirausaha.

Di akhir dialog, ketua PC IPPNU Kendal, Afidatun Ni’mah, mengatakan bahwa PC IPPNU Kendal akan serius untuk memfollow up dialog kewirausahaan tersebut dengan pelatihan langsung tentang pembuatan berbagai macam handycraft yang unik dan menarik.

“Kami tidak mau hanya berdialog saja tanpa ada aksi nyata, selepas ini, kami akan serius mengawal kader-kader IPPNU Kendal dari mulai pelatihan hingga memasarkannya secara luas,” pungkasnya.

Kontribut: Amalia Ulfah

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Sholawat Hari Santri 2018

Selasa, 19 Desember 2017

NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara

Jakarta, Hari Santri 2018 - Nahdlatul Ulama (NU) organisasi yang sejak dulu telah ikut andil dalam perjuangan membela negara. Komitmen kebangsaan NU dan sejarah panjang keberpihakan NU pada tanah air tidak perlu diragukan.

“Soal bela negara, NU tak perlu lagi diajari karena NU sejak dahulu (zaman penjajahan) turut andil dalam berjuang mempertahankan NKRI,” kata Idris Masudi, salah seorang narasumber seminar RUU Antiterorisme: Mengawal NKRI dari Bahaya Terorisme dan Radikalisme di Indonesia di ruang teater Lantai IV Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Rabu (13/5).

NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara

Dalam seminar yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Idris menuturkan bahwa perjuangan bela negara telah difatwakan fardu ain oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari.

Perjuangan bela negara yang telah dilakukan oleh NU ini merupakan wujud konkret afirmasi NU atas berdirinya NKRI dengan dasar negara Pancasila. Berbeda dengan pemahaman kelompok-kelompok radikal yang menganggap bahwa Pancasila adalah sistem taghut yang wajib diperangi.

Hari Santri 2018

Menurut Idris, salah satu cara untuk menangkal radikalisme dan terorisme adalah semua masyarakat harus berperan aktif dan tidak hanya berpangku tangan menunggu pemerintah.

Sementara narasumber lain Ansyad Mbai mengimbau mahasiswa Tafsir Hadits yang memiliki kompetensi dalam mengkaji Al-Quran dan Hadits untuk bisa mengkaji lebih dalam siapakah dalang dari pemahaman menyimpang tersebut, yakni pemahaman yang bertentangan dengan Islam Rahmatan lil Alamin.

Hari Santri 2018

“Karena bisa jadi dalang tersebut sebenarnya memiliki motivasi lain dalam melakukan tindakan teror dan radikalnya. Hanya saja ia mengatasnamakan agama sebagai basis tindakannya,” kata Ansyad.

Seminar ini juga dihadiri oleh Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Fakultas Ushuluddin? Dr Suryadinata MA, Ketua jurusan Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr Lilik Umi Kaltsum, serta utusan Polres Tangerang Selatan Abdul Kohar. (M Alvin Nur Choironi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Sholawat, Ubudiyah Hari Santri 2018

Minggu, 17 Desember 2017

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..!

Jombang, Hari Santri 2018. Puluhan ribu warga NU tumplek blek di alun-alun kota Jombang,  Rabu (8/5) malam. Dengan pakaian serba putih dan juga kopyah putih, mereka larut dalam  lantunan bacaan Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang didengungkan Habib Syekh Abd Qodir  Assegaf.

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..! (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syekh: Ikutlah Kiai..! (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..!

Kegiatan Jombang bersholawat dalam rangka Isro miroj dan tasyakuran Jombang menerima penghargaan ke-5 pemerintahan terbaik oleh Pemerintah Pusat juga dihadiri Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf alias Gus Ipul serta ratusan kiai, pengasuh serta santri pondok pesantren se-Jombang.

Bupati Suyanto Jombang mengatakan, Jombang  Bersholawat digelar dalam rangka Isro miroj dan tasyakuran karena Jombang meraih penghargaan sebagai  pemerintahan terbaik kelima.

Hari Santri 2018

Usai sambutan Bupati,  Habib Syekh Abd Qodir Assegaf  langsung menggebrak dengan lantunan syiir Gus Dur, seperti dikomando ribuan jamaah Nahdliyin, menyahudi syiiran yang sudah mendarah daging dikumandangkan di musholla-musholla dan radio menjelang magrib tersebut. 

Hari Santri 2018

Hampir 1,5 jam lebih gema sholat dengan iringan musik rebana memenuhi pusat kota santri. Dan bagaikan konser musik Slank, para Syehker sebutan pecinta Habib asal Solo itu juga mengibarkan bendera kebesaran kelompoknya masing-masing, seperi Remaja Masjid, IPNU, Ansor serta Jamaah Sholawat bahkan bendera Merah Putih juga nampak berkibar ditengah-tengah lautan manusia berbaju putih.

Jombang Sholawat ditutup dengan doa oleh KH Masduqi Abd Rohman Al Hafidz, setelah sebelumnya Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf memberikan sambutan dan Habib Syech memberikan wejangan. 

"Para kiai sudah menyediakan kendaraan untuk kita,  tinggal kita ikut saja. Terserah kita memilih, apakah pingin ikut jalur sugeh? Yo melok’o wong sugeh (Apakah ingin mengikuti jalur orang kaya? ya ikutlah mereka, red), jika ingin selamat dunia akhirat silahkan ikut kiai," ujarnya.

Habib juga sedikit menyinggung pemahaman tentang Islam kelompok tertentu yang selalu mengkafirkan NU. Menurutnya, tidak ada yang salah di NU. "Saya pribadi mendukung pemimpin yang berahlussunah wal Jamaah. Bukan hanya orang yang berjenggot panjang yang sering menyalahkan," imbuhnya.

Jombang bersholawat ditutup dengan lantunan lagu Indonesia Raya yang dipimpin langsung Kapolres Jombang AKBP Tri Bisno. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Daerah, Pendidikan, Sholawat Hari Santri 2018

Kamis, 07 Desember 2017

Kemendag Gelar Pasar Murah di 300 Pesantren

Jombang, Hari Santri 2018?

Kementerian Perdagangan (Kemendag) memfasilitasi penyelenggaraan Pasar Murah Ramadan 2017 di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang, Rabu (14/06). Sebanyak 500 paket disediakan bagi warga sekitar pesantren.?

Staf Khusus Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Peningkatan Sarana Perdagangan, Eva Yuliana mengatakan pasar murah yang digelar Kemendag pada tahun 2017 ini ditempatkan di 300 pesantren seluruh Indonesia. Dengan jumlah paket di setiap Ponpes sebanyak 500 sembako.?

“Kita pilih pesantren karena pesantren adalah salah satu pintu masyarakat yang menjadi agen dari semuanya. Agen kultur, dan juga agen pendidikan” katanya ditemui disela sela kegiatan yang di gelar di halaman Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang.

Kemendag Gelar Pasar Murah di 300 Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendag Gelar Pasar Murah di 300 Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendag Gelar Pasar Murah di 300 Pesantren

Diakatakannya, pasar murah ini sebagai bentuk penyediaan bahan pokok menjelang lebaran bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah oleh Kemendag. Dalam kegiatan pasar murah ini, Eva Yuliana mengatakan pihaknya menggandeng perusahan swasta turut serta dalam ? pasar murah Ramadhan yang digelar tahun ini.?

“ Kita menggandeng beberapa pelaku usaha swasta untuk ikut berperan dalam pasar murah ini. Kami ingin sampaikan bahwa pemerintah dan swasta hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat jelang lebaran,” kata Eva Yuliana disela sela kegiatan.

Masih menurut Eva, satu paket sembako senilai Rp 100 ribu, sementara dalam pasar murah ini dijual seharga Rp 50 ribu. Adapun isi setiap paket sembako yakni beras 2 kilogram, gula pasir 2 kilogram, minyak goreng 2 liter, tepung terigu 2 kilogram, dan sirup satu botol.

Hari Santri 2018

“Biar lebih bertambah manfaatnya, maka hasil penjualannya disedekahkan ke Ponpes tempat kegiatan di laksanakan. Kalau disini kita berikan kepada Ponpes Mamba’ul Ma’arif,” tambah perempuan berjilbab ini menandaskan.

Salah seorang warga pemanfaat kegiatan ini, Rubiah (60), mengaku bersyukur bisa mendapatkan kebutuhan pokok harga murah. Rubiah menilai, harga yang disediakan Kemendag lebih murah separoh dari harga pasaran.

“Alhamdulillah, sebentar lagi lebaran pas ada sembako murah. Kalau begini terus ya enak, kita ringan belinya, sangat membantu kita,” ujarnya. (Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Sholawat Hari Santri 2018

Rabu, 29 November 2017

Selama Ramadhan, Semangka dan Blewah Jadi Favorit

Probolinggo, Hari Santri 2018. Selama bulan suci Ramadhan, buah semangka dan blewah menjadi buah yang paling banyak dicari. Kandungan air yang cukup tinggi di dua buah ini menjadi alasan banyak konsumen untuk mengonsumsinya saat berbuka.

Selama Ramadhan, Semangka dan Blewah Jadi Favorit (Sumber Gambar : Nu Online)
Selama Ramadhan, Semangka dan Blewah Jadi Favorit (Sumber Gambar : Nu Online)

Selama Ramadhan, Semangka dan Blewah Jadi Favorit

Beberapa titik di wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo pun bermunculan pedagang semangka dan blewah. Salah satunya Khusairi (47) warga Desa Muneng Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo. Dua minggu sebelum bulan puasa, dirinya membuka lapak tepat di depan rumahnya, tidak jauh dari Kantor Kecamatan Sumberasih.

“Kalau sore pembelinya seperti ini ramai sekali dan tidak pernah sepi. Sebab mereka rata-rata membeli buah semangka dan blewah untuk dimakan pada waktu berbuka puasa bersama keluarga,” ungkapnya, Ahad (13/7) sore.

Hari Santri 2018

Menurutnya, pembeli buah semangka melonjak drastis selama Ramadhan. Sebelum puasa, 1 truk dengan kapasitas 6-7 ton semangka biasanya habis dalam waktu seminggu. Namun, saat puasa, hanya dalam waktu lima hari, dua truk semangka sudah habis. “Dalam lima hari itu habis sekitar 14 ton semangka dan blewah. Penjualan naik dua kali lipat,” terangnya.

Untuk memenuhi pasokan buah semangka dan blewah, Khusairi mendatangkan dari Kabupaten Sumenep, Madura. Setiap lima hari, kiriman selalu datang. Semangka yang dijualnya adalah semangka merah dan semangka kuning. Namun yang paling banyak diminati adalah semangka kuning. “Kebetulan pas puasa ini bersamaan dengan musim semangka dan blewah. Jadi tidak kekurangan stok,” jelasnya.

Hari Santri 2018

Khusairi sendiri sengaja memilih semangka Sumenep karena lebih manis dibandingkan dengan dari daerah lain di Madura. “Sebelum ambil dari Sumenep, saya mengambil dari Bangkalan dan Pamekasan. Rasanya tidak berbeda jauh, tetapi bijinya lebih banyak,” tegasnya.

Harga jual semangka sendiri terbilang murah. Semangka merah dan blewah dijual dengan harga Rp. 3.000 per kilogram. Sedangkan semangka kuning Rp. 4.000 per kilogram. “Meskipun mahal, semangka kuning lebih banyak dicari. Karena rasanya lebih manis dan kandungan airnya jauh lebih banyak,” tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan Husni (30 tahun), pedagang semangka di Jl. Cokroaminoto Kota Probolinggo. Menurutnya, selama Ramadhan permintaan semangka meningkat. Dalam seminggu saja, 10 ton semangka habis terjual. “Sebelum puasa, seminggu maksimal 5 ton saja,” ungkapnya.

Husni mengaku memasok semangka yang dijualnya dari Banyuwangi. Saat puasa, pengiriman dilakukan setiap tiga hari sebanyak 1 pikap berkapasitas 5 ton. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Quote, Sholawat, Sejarah Hari Santri 2018

Minggu, 26 November 2017

Hadirkan Habib Luthfi, Pelajar NU Pangkah Deklarasi Antinarkoba dan Radikalisme

Tegal, Hari Santri 2018. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU-IPPNU ) Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal menyatakan gerakan pelajar antiradikalisme dan narkoba. Deklarasi ini merupakan respon sekaligus langkah antisipasi merebaknya radikalisme yang belakangan mulai menyasar kalangan pelajar.

penanggung jawab acara sekaligus Ketua demisioner PAC IPNU Pangkah Moh Naenul Rizqoni mengatakan, deklarasi pelajar antiradikalisme dan narkoba didasarkan pada kegelisahan melihat fenomena mutakhir yang cukup memprihatinkan. Banyak masyarakat tak berdosa turut menjadi korban akibat radikalisme yang terus tumbuh hingga di tataran pelajar. Begitu pula akibat narkoba, tiap harinya tunas bangsa gugur percuma.

Hadirkan Habib Luthfi, Pelajar NU Pangkah Deklarasi Antinarkoba dan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadirkan Habib Luthfi, Pelajar NU Pangkah Deklarasi Antinarkoba dan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadirkan Habib Luthfi, Pelajar NU Pangkah Deklarasi Antinarkoba dan Radikalisme

"Kita jelas bertekad bulat melawan segala bentuk radikalisme dan peredaran narkoba yang ada di dunia pendidikan. Mengingat jaringan radikalisme dan narkoba yang berkembang di luar negeri maupun yang sedang tumbuh di Indonesia sudah mulai masuk ke nadi-nadi dunia pendidikan. Baik SMP, SMA maupun perguruan tinggi," katanya usai ? pelantikan kepengurusan yang baru dan deklarasi di lapangan Balamoa Kecamatan pangkah, Ahad (28/8).

Dalam waktu dekat, tutur Moh Naenul Rizqoni , pihaknya akan mengarahkan kepengurusan yang baru untuk menggalang dukungan dari seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Kecamatan Pangkah ? untuk bersama-sama menyatukan komitmen memerangi radikalisme. Pelajar dan mahasiswa NU didorong untuk menjadi pelopor dalam mengampanyekan semangat anti radikalisme.

Masalah yang juga perlu mendapatkan perhatian serius menurut Rizqon ? adalah persoalan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. Apabila tidak dilakukan penanganan serius maka masa depan generasi muda sangat terancam. "Aset terbesar bangsa Indonesia adalah pemuda, mereka harus dilindungi. Jangan sampai tergoda oleh narkoba," ungkapnya.

Hari Santri 2018

Sementara itu, Sekretaris Dinas Dikpora sekaligus Ketua PCNU Kabupaten Tegal ? H Ahmad Wasari yang memimpin jalannya deklarasi mengatakan strategi preventif sejak dini memang perlu dilakukan terutama bagi generasi muda. Penanaman nilai-nilai keagamaan dan kebangsaaan di sekolah mulai dari pendidikan dasar hingga menengah turut memberikan dampak positif terhadap upaya menghadang radikalisme.?

Ketua MWCNU Pangkah H Muntoyo mengatakan, Pesantren dan sekolah-sekolah NU bersama pemerintah Tegal selama ini cukup banyak bekerja sama meningkatkan kualitas pendidikan. Termasuk untuk menghadang radikalisme, tidak hanya di kalangan internal namun ke depan kampanye antiradikalisme lebih gencar dilakukan di masyarakat secara luas.

Hari Santri 2018

Radikalisme, menurut Muntoyo, di antara penyebab yang paling berpengaruh adalah karena memahami agama secara literal dan semakin gencarnya penyebaran paham-paham yang mengarah pada radikalisme melalui media sosial. Untuk itu, diharapkan IPNU-IPPNU kedepan dapat menjadi garda terdepan menanamkan sikap toleransi dan keberagaman di masyarakat.

Selain itu, menurut H Sofiyudin selaku pembina PAC IPNU Pangkah, untuk menghindari radikalisme dan bahaya Narkoba yang semakin mengkhawatirkan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Tentu diperlukan stakeholder untuk membentengi masing-masing anggota keluarga dari godaan radikalisme. "Guru agama di sekolah-sekolah dalam mengajarkan Islam harus proporsional dan komprehensif. Sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang keliru," jelasnya.

Deklarasi Pelajar NU Kecamatan Pangkah anti radikalisme dan anti narkoba diikuti sebanyak ratusan Pelajar ? dari seluruh Desa dan Sekolah sekolah se Kecamatan Pamgah dan di ikuti oleh ribuan pelajar yang turut hadir serta di meriahkan oleh Grup Hadroh Az-zahir dari pekalongan dan dihadiri oleh Al Habib Muhammad Lutfhi Bin Hasyim Bin Ali Bin Yahya dari Pekalongan dan Ufti Adenda Aulia (Aksi Indosiar).

Dalam peyampainya Habib Lutfhi menitipkan pesan kepada segenap pelajar dan kalangan muda yang ada untuk terus berkarya dalam mencintai Bangsa dan Tanah Air ini. “Jangan sampai kalian menyakiti hati orang tua dan para pahlawan bangsa," tutur Habib Lutfhi. Beliau juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya IPNU-IPPNU Pangkah yang telah mengajak masyarakat untuk melakukan hal baik dan positif. (Mughni/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Santri, Ahlussunnah, Sholawat Hari Santri 2018

Sabtu, 25 November 2017

Memaknai Kalimat "Tuhan Tidak Pernah Tidur"

Oleh? Ananta Damarjati

Pada saat-saat tertentu, kalimat "Tuhan tidak pernah tidur" terdengar sangat teduh dan seolah mampu mencerabut hampir separuh beban hidup. Dalam alam bawah sadarnya, manusia beriman memang dapat dengan haqqul yaqin mengaktualisasikan kalimat ini dalam konteks keseharian. Yang menarik serta hampir bisa dipastikan, kemunculan kalimat itu dalam kesadaran diri manusia cenderung insidentil dan mencerminkan potensi psikologisnya yang khas.

Bisa dibilang, kalimat itu muncul sebagai salah satu tindak bahasa manusia, sangat konotatif. Dan biasanya, kalimat itu tercetus dengan perasaan khawatir, gelisah atau waswas, pahit, getir, dan sebagainya. Yang jelas ketika itu --simplifikasinya-- manusia berada dalam posisi tidak diuntungkan, didzalimi, pasrah, hampir kalah, dan situasi pelik lain yang terlihat mustahil bagi manusia untuk dapat diselesaikan.

Memaknai Kalimat Tuhan Tidak Pernah Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)
Memaknai Kalimat Tuhan Tidak Pernah Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)

Memaknai Kalimat "Tuhan Tidak Pernah Tidur"

Dibalik itu muncul sosok “Maha Sempurna” yang terkesan sangat dimonopoli; bahwa Dia sedang bersama saya kali ini, Dia tahu saya yang benar, maka anda memusuhi pihak yang salah, dan ribuan kalimat imajiner lain yang jika memang betul seperti itu, samasekali tidak membawa penyelesaian. Karena makna denotatifnya sangat tidak berhubungan dengan ide atau representasi psikis yang ditimbulkan kalimat tersebut kepada kesadaran.

Sebagaimana kritik Feuerbach terhadap agama. Bahwa manusia beragama karena terikat oleh alam. Manusia lemah sedangkan alam yang didapatinya sangat kuat dan ganas. Oleh karena itu untuk mengatasi, tepatnya, untuk membebaskan diri dari alam yang ganas ini manusia membayangkan suatu kekuatan berpribadi sempurna.

Dengan bayangan ini manusia mampu mengatasi segala macam penderitaannya. Ringkasnya, bayangan Allah hanyalah refleksi dari jiwa manusia yang sengsara. Seorang yang miskin mempunyai tuhan yang kaya, orang-orang cinta damai memiliki tuhan yang belas kasih. (Andi Muawiyah Ramly, 69:2009).

Pada titik selanjutnya terlihat bahwa, kalimat "Tuhan tidak tidur" kurang lebih hanya menjadi salah satu bentuk tindakan manusia yang konotasinya tidak menampilkan hakikat kalimatnya. Makna yang ditimbulkan pun tidak terikat, tergantung posisi dan kegunaan, sedang mencari keadilan kah, atau terhimpit ekonomi kah, menghadapi fitnah kah, dan lain-lain.

Hari Santri 2018

Dan, jika bicara kegunaan serta posisinya, sepintas terasa kalimat itu tidak terdeskripsi dengan jelas. Posisinya kabur kepalang tanggung karena ada pada titik ambivalensi antara takdir Tuhan dan ikhtiar manusia. Kegunaannya, sementara ini belum ada yang lebih tepat dari sekedar penegasan tentang situasi sulit yang sedang dihadapi manusia.

Hari Santri 2018

Kalau boleh disederhanakan, bercocok tanam, mencangkul, memupuk jelas ikhtiar seorang petani, manusia. Tiga bulan kedepan bisa panen atau tidak itu takdir Tuhan. Jika mengacu pada contoh ini, logika kalimat "Tuhan tidak tidur" bisa jadi muncul ketika ditengah jalan dijumpai serangan hama wereng yang sangat masif, padahal keluarga petani kecil itu sedang sangat membutuhkan panen untuk menopang biaya hidup.

Jika kalimat itu muncul dalam sinetron hari ini, niscaya penonton akan dibuat geram karena bersamaan dengan itu ada tokoh protagonis yang sedang nelangsa ditimpa musibah dahsyat, bisa jadi disebabkan serangan dari tokoh antagonis. Biasanya, oleh sutradara dramatisasi kalimat itu diletakkan sebelum titik klimaks.?

Sayangnya dunia manusia dan bahasanya tidak berada dalam tataran logika sinetron, yang punya ribuan cara untuk mengeluarkan Tuhan dari mesin cetaknya dengan rating dan iklan sebagai titik pijaknya. Kalaupun dunia nyata ada persamaan dengan beberapa situasi sinetron, hal itu tak lebih dari sekedar kemiripan sebagaimana kemiripan dalam sebuah keluarga besar.

Fenomena kalimat itu dalam keseharian, sekali lagi, persis di tengah antara takdir dan ikhtiar, status quo yang tak terdefinisikan. Dalam tataran aksiologi, kemunculannya selalu berdenyut di atas ambivalensi makna sebagai bentuk pelarian psikis (untuk tidak menyebutnya sebagai fatalis). Sehingga setelah kalimat itu terlontar, keburaman melihat permasalahan hidup terkesan semakin nyata, sulit untuk dilanjutkan.

Sebenarnya bukan menjadi masalah serius jika "Tuhan tidak tidur" muncul sebagai pelarian psikis dan berhenti disitu, fitrah manusia memang lemah, hina, tak berdaya sehingga butuh sebuah pertolongan. Dalam ilmu tassawuf hal ini menjawab pernyataan Feuerbach, sekaligus membalik paradigma antropologis barat umumnya yang berbunyi "aku berpikir maka aku ada" dengan "aku tidak ada maka Dia ada".

Masalahnya, tidak ada kejelasan posisi aku sebagai mahkluk dan Dia sebagai Tuhan dalam kalimat itu. Di sini saya bukan bermaksud untuk mendikotomiskan antara takdir dengan ikhtiar, antara berdzikir dan berpikir. Melainkan sekedar urun rembug tentang bagaimana memahami kedua hal itu sekecil apapun tindakannya. Apalagi kedua hal tersebut tidak boleh ditinggal salah satunya.

Pada kalimat itu jelas ada sebuah tindak dzikir, ingat kepada Tuhan. Idealnya hal ini patut diimbangi dengan intuisi, pengetahuan tentang konsep, kebenaran dan pemecahan masalah dalam kegiatan berpikir. Sehingga tidak terjadi paradigma yang keliru dalam memandang sebuah masalah.

Dalam berpikir, intuisi akan mengidentifikasi dirinya. Apakah --dalam hal ini terucapnya kalimat Tuhan tidak tidur-- itu sebagai ilham, waswas, atau struktur kejiwaan manusia itu sendiri. Ibnu Qayyim al-Jauziyah (Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, hal 292:2002), secara tegas membedakan antara ilham dan waswas menjadi empat.

Pertama, ilham dapat menghantarkan seseorang untuk berbuat sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT dan rasulnya, sedangkan waswas sebaliknya. Kedua, ilham dapat mendatangkan kepasrahan, penyadaran, dan hasrat untuk bermuwajahah kepada Allah SWT. Sedangkan waswas menuju pada musuh-musuh Nya. Ketiga, ilham dapat menerangi ruangan batin yang dapat melapangkan dada. Sedangkan waswas dapat mendatangkan kegelapan batin yang menyesakkan dada. Keempat, ilham dapat mendatangkan ketenangan dan ketenteraman. Sedang waswas mendatangkan keresahan dan kegoncangan.

Atau, sejauh yang bisa saya tangkap dari pernyataan di atas. Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa dalam hal dzikir, ingat saja tidak cukup. Apalagi jika tergelincir menjadi dzikir tapi tidak ingat. Dalam bahasa lain, Lillah saja tidak cukup, karena setelah itu wajib untuk juga sadar Billah. Maka penting untuk memahami sebuah persoalan dengan berpikir intuitif. Itupun harus dipilah lagi antara intuisi yang benar atau menyesatkan.

Berdasarkan asumsi ini, status quo dalam kalimat "Tuhan tidak tidur", dengan kekhasan perspektif, pengalaman serta harapan yang ada di dalamnya, rasanya menjadi penting untuk ditimbang ulang penggunaannya. Apakah dengan mengucap kalimat itu disertakan pula kesadaran intuitif, Billah, untuk mendapat sebuah ilham. Atau malah timbul dari rasa waswas dan bisikan nafsani, al-khawatir.

Memang dalam satu kalimat saja bisa menimbulkan beribu penafsiran. Tapi semua bisa salah, termasuk tulisan ini. Yang jelas dalam tulisan ini hanyalah makna denotatif bahwa Tuhan, Allah SWT tidak pernah tidur, tertidur bahkan mendengkur. Lah, kalau Tuhan tidur, siapa yang berani membangunkan?

Ananta Damarjati

Penulis adalah Alumni Ponpes Kedunglo, Kediri. Anggota aktif Lingkar Studi “Matakuhati” Semarang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Tokoh, Sholawat Hari Santri 2018

Minggu, 19 November 2017

Segarkan Paham Aswaja, MWC NU Pagerbarang Istiqamah Gelar Lailatul Ijtima

Tegal, Hari Santri 2018 - Untuk menjaga dan menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah Wal jamaah (Aswaja), Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal menggelar rutin acara Lailatul Ijtima.

Ketua MWC NU Pagerbarang Ustadz Abdul Ghony Al-Khafidz menjelaskan, pertemuan lailatul ijtima itu diisi dengan berbagai acara, di antaranya, shalat Isya berjamaah, istighatsah, dan tahlil.

Segarkan Paham Aswaja, MWC NU Pagerbarang Istiqamah Gelar Lailatul Ijtima (Sumber Gambar : Nu Online)
Segarkan Paham Aswaja, MWC NU Pagerbarang Istiqamah Gelar Lailatul Ijtima (Sumber Gambar : Nu Online)

Segarkan Paham Aswaja, MWC NU Pagerbarang Istiqamah Gelar Lailatul Ijtima

"Momen lailatul ijtima sebagai sarana silaturrahim dan untuk menyampaikan program-program NU di antaranya Program Pembangunan Gedung NU, dakwah dan konsolidasi pengurus untuk memperkuat organisasi," kata Ustadz Ghony saat lailatul ijtima di Masjid Jami Baitul Muttaqin, Desa Surokidul, Kecamatan Pagerbarang.

Hadir dalam acara itu pengurus Majlis Wakil Cabang (MWC), pengurus ranting NU setempat, dan kurang lebih 150 jamaah.

Hari Santri 2018

Menurut Abdul Ghony, dalam lailatul ijtima juga dilangsungkan dialog dan evaluasi program-program MWCNU.

Hari Santri 2018

"Lailatul ijtima digelar setiap malam Ahad pahing secara bergilir di ranting se-Kecamatan Pagerbarang," ujarnya.

Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Pagerbarang KH Muhtadi mengemukakan, warga nahdliyin harus tahu tentang Aqidah Aswaja salah satunya dengan kegiatan lailatul ijtima ini. "Semoga kita selalu istiqamah menggelar lailatul ijtima," pungkasnya. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kyai, Sholawat Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock