Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

PMII Sepuluh Nopember Dukung Penuh PMII Jadi Banom NU

Jombang, Hari Santri 2018 . Sidang Pleno untuk mengesahkan hasil sidang komisi-komisi pada Muktamar Ke-33 NU telah usai dilaksanakan, Rabu, (5/8).? Salah satu poin yang dihasilkan dan disahkan dalam hal keorganisasian NU adalah terkait masuknya PMII (Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia) dan Korpri (Korps PMII Putri) sebagai badan otonom NU.

Menanggapi hasil sidang pleno tersebut, Pengurus Komisariat PMII Sepuluh Nopember Surabaya (ITS-PENS-PPNS) yang? beberapa hari terakhir membuat gerakan viral Siap kembali ke NU menyatakan memberikan dukungan penuh.

PMII Sepuluh Nopember Dukung Penuh PMII Jadi Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sepuluh Nopember Dukung Penuh PMII Jadi Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sepuluh Nopember Dukung Penuh PMII Jadi Banom NU

"Sejatinya perjalanan kajian panjang sudah kami lakukan sejak tahun 2011 terkait positioning PMII terhadap NU. Sikap kami sudah kami sampaikan melalui Maklumat Surabaya pada tanggal 31 Januari 2015 yang isinya secara garis besar intinya menyatakan PMII harus kembali ke NU," ujar Imam, Ketua Pengurus Komisariat PMII Sepuluh Nopember Surabaya, di Jombang, Jatim.

Hari Santri 2018

Dalam ulasannya, Imam juga menyampaikan tiga hal pokok yang menjadi pertimbangan terkait posisi PMII terhadap NU. Pertama terkait ideologi Islam Aswaja; kedua, terkait pertarungan kekuatan global dan internasional, dan yang ketiga tentang kebutuhan dan kekuatan cluster kaum intelektual muda NU.

Hari Santri 2018

Terkaithasil sidang pleno tersebut selanjutnya secara organisasi akan diselesaikan dalam internal tubuh PMII . (Ahmad Hanan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ahlussunnah, IMNU Hari Santri 2018

Minggu, 04 Februari 2018

UIM Tanggulangi Bahaya Narkoba di Kampus

Makassar, Hari Santri 2018. Universitas Islam Makassar turut andil dalam menanggulangi bahaya narkoba di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa dan mahasiswi di Sulawesi Selatan. Bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional Sulsel, UIM melatih 135 orang untuk menjadi penyuluh bahaya narkoba.

UIM Tanggulangi Bahaya Narkoba di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
UIM Tanggulangi Bahaya Narkoba di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

UIM Tanggulangi Bahaya Narkoba di Kampus

Penyuluhan yang berlangsung di aula UIM pada (11/10) tersebut dibuka Rektor Dr Hj Andi Majdah M Zain. Pada kisempatan itu ia bersyukur atas  kerja sama tersebut.

"Kami sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas penghargaan dan kerja sama ini dimana Universitas Islam Makassar turut andil dalam bahaya penyalahgunaan narkoba buat masyarakat khususnya buat adik-adik mahasiswa," ujar salah satu perguruan tinggi milik NU tersebut.

Hari Santri 2018

Ketua Panitia kegiatan tersebut dari BNN Sulsel, Ishak Iskandar mengatakan, 130 peserta akan disaring menjadi 35 peserta untuk menjadi kader penyuluh penyalahgunaan Narkoba Sulawesi Selatan bagi masyarakat khususnya generasi muda.

Hari Santri 2018

Peserta yang tersaring itu, kata dia, akan mendapatkan materi "Bahaya penyalahgunaan Narkoba ditinjau dari perspektif Agama, Kesehatan dan Sosial". Materi itu akan disampaikan Prof Dr dr Noor Bahry Noor dan. Sementara materi "Bahaya penyalahgunaan Narkoba ditinjau dari Perspektif Hukum" disampaikan Kepala BNN Sulwesi Selatan Kombes Pol Richard M Nainggolan.

Pada pembukaan kegiatan tersebut, hadir Kepala BNN Sulawesi Selatan Kombes Pol Richard M Nainggolan, Prof Dr dr Noor Bahry Noor, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UIM Dr H Abd Rahim Mas P Sanjata, Wakil Rektor I UIM Dr Musdalifah Mahmud, civitas akademika UIM, dan para peserta utusan dari Fakultas se-UIM. (Andi M Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ahlussunnah Hari Santri 2018

Selasa, 30 Januari 2018

Shalat Jum’at di Daerah Terpencil

Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh. Ustadz yang dirahmati Allah. Seseorang yang berprofesi sebagai PNS di tempat terpencil dan mayoritas non muslim, bagaimanakah hukum shalat Jumatnya karena untuk mencapai masjid terdekat butuh waktu 12 jam. Apakah boleh diganti dengan shalat dhuhur? Muhammad (Irfan Efendi)

---

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

Saudara Muhammad Irfan Efendi yang dirahmati Allah.?

Shalat Jum’at di Daerah Terpencil (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Jum’at di Daerah Terpencil (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Jum’at di Daerah Terpencil

Shalat Jum’at merupakan keharusan yang wajib dilaksanakan bagi ahlinya. Dalam sebuah hadis yang dirwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasai dinyatakan bahwa barang siapa yang meninggalkan shalat jum’at tanpa udzur selama tiga kali berturut-turut ia telah ditutup pintu hatinya oleh Allah swt untuk melaksanakan kebaikan.

? ? ? ? ? ? ? ? ?. Sauadara penanya yang kami hormati.

Hari Santri 2018

Sebagaimana pembahasan sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan ahli Jum’at adalah? mereka yang telah memenuhi kriteria syarat wajib Jum’at yakni Islam, baligh, berakal, merdeka, pria,? dalam kondisi sehat, dan berdomisili tetap (istithan) di daerah yang telah sah mendirikan shalat Jum’at.? Dalam pandangan fiqih klasik, radius daerahnya adalah masih mendengar seruan adzan atau panggilan untuk shalat Jum’at (+/ 1,5 sampai dengan 2,5 KM). Bagi mereka yang telah memenuhi kriteria syarat wajib Jum’at ini? dihukumi fardhu ain untuk melaksanakannya.

Selanjutnya menanggapi pertanyaan saudara mengenai shalat Jum’at orang yang jauh dari tempat didirikannya pelaksanaan shalat Jum’at tersebut, kami berpandangan bahwa PNS tersebut tidak wajib shalat Jum’at dan harus shalat dhuhur karena syarat-syarat yang belum terpenuhi. Dalam kitab Kifayat al-Ahyar disebutkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: “Dikecualikan dari kategori istithan, mereka yang tidak berdomisili tetap seperti musafir dan yang lain. Maka tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi mereka seperti pula orang yang berdomisili di daerah/kawasan yang tidak mendengar seruan adzan dari daerah yang ? telah (sah) mendirikan Jum’at.”

Hari Santri 2018

Kasus semacam ini pula yang pernah dialami oleh Rasulullah saw saat diturunkan wahyu mengenai kewajiban Jum’at. Mengingat belum terpenuhinya syarat pendirian shalat jum’at, beliau belum dapat melaksanakannya, sementara kaum muslimin yang berada di Madinah telah melaksanakan kewajiban shalat Jum’at yang dipimpin oleh As’ad bin Zurarah sebagaimana diterangkan dalam kitab Fath al-Mu’in serta kitab-kitab yang lain.

Mudah-mudahan jawaban ini bermanfaaat. Amin .

(Maftukhan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2018

Jumat, 26 Januari 2018

Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri

Saya teringat dulu—kira-kira tahun 2006 atau 2007, saya lupa—ketika dengan semangatnya seorang teman mengajak saya untuk menonton acara Ngaji Bareng Gus Dur yang disiarkan oleh sebuah televisi lokal Jawa Timur langsung dari Masjid Sunan Ampel Surabaya. Teman saya ini pecinta berat Gus Dur, dan karena tahu bahwa saya juga mengidolakan sang tokoh bangsa itu maka dengan semangatnya ia memanggil saya.

Dalam acara itu Gus Dur menyampaikan beberapa pokok materi tentang agama, masalah kebangsaan, dan kenegaraan. Ini bisa dipandang salah satu cara Gus Dur untuk mendidik masayarakat dalam kedewasaan berpolitik.

Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri

Di akhir acara dibukalah kesempatan bagi yang mau bertanya. Ada sekirtar 4 sampai 5 penanya. Pertanyaan mereka bervariasi, ada yang bertanya tentang peningkatan taraf hidup petani, sikap sebagai seorang warga negara bahkan sampai pada masalah mengapa Gus Dur bekerja sama dengan Israel. Semua itu dijawab dengan jelas oleh Gus Dur. Beberapa hal penting diuraikan secara panjang lebar sehingga memakan waktu hampir separuh waktu tanya jawab.

Namun di sini saya tidak ingin menjelaskan semua pertanyaan dan jawaban itu sedetail-detailnya. Saya hanya akan membahas satu bagian dari wacana Gus Dur yang disampaikan waktu itu dan saya rasa cukup menarik.

Hari Santri 2018

Ketika menyampaikan masalah tentang bagaimana kita bersikap terhadap pemimpin, Gus Dur mengatakan bahwa bagaimanapun seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat itu haruslah dihormati. Bahkan ketika dianggap salah pun tetap harus dihormati sebagai seorang pemimpin rakyat.

Hari Santri 2018

Adalah menarik membahas cerita Gus Dur ketika itu di masa sekarang. Karena beberapa waktu terakhir ini publik diramaikan dengan masalah memilih pemimpin yang baik.

Diceritakan bahwa Gus Dur pernah diajak kakek yang sekaligus diaggap guru yang sangat berpengaruh baginya, yakni KH Bisri Syansuri untuk berkunjung (silaturrahim) kepada seorang kepala desa. Gus Dur kaget karena kepala desa yang dimaksud ternyata beragama Nasrani. Kemudian Gus Dur memberanikan dirinya untuk bertanya: “mengapakah sang guru harus mengunjungi kepala desa itu, padahal dia non-Muslim?”

Kemudian jawaban sang guru pun disampaikannya, bahwa meskipun non-Muslim tapi kita harus tetap menghormatinya. Kemudian Gus Dur lalu menyimpulkan di depan para jamaah bahwa bagaimanapun seorang pemimpin harus dihormati.

Namun demikian, saya memiliki dua kesimpulan lain di samping hal itu. Pertama: bahwa kasus kepemimpinan non-Muslim di Indonesia (yang mayoritas Islam) adalah sudah lama terjadi. Kedua bahwa para ulama terdahulu tidak mempersoalkan pemimpin non-Muslim, dan hal inilah yang teramat penting untuk kita pelajari saat ini.

Adalah bisa dibayangkan, bagaimana seorang KH Bisri Syansuri yang merupakan orang yang teguh memegang fiqih (jurisprudensi Islam) yang ketat-ketat, tapi tak mempersoalkan kepemimpinan non-Muslim di desanya. Seorang ulama besar murid dari ulama besar pula baik dari Indonesia sendiri maupun Timur Tengah. (Ahmad Nur Kholis)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ahlussunnah, Humor Islam Hari Santri 2018

Selasa, 16 Januari 2018

PBNU Tunggu Proses Akhir Interpelasi DPR Soal Nuklir Iran

Jakarta, Hari Santri 2018. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi tak mau berspekulasi lebih jauh tentang ketidakhadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Rapat Paripurna DPR, pada Selasa (5/6).

Pasalnya, menurut Hasyim, rapat dengan agenda tanggapan pemerintah atas hak interpelasi DPR terkait dukungan Pemerintah terhadap Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) nomer 1747 soal sanksi tambahan pada Iran yang mengembangkan energi nuklir, ditunda hingga pekan depan.

“Ini urusan (sidang interpelasi) belum selesai. Kan masih ditunda. Kita tunggu saja bagaimana selesainya nanti,” ujar Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (5/6)

PBNU Tunggu Proses Akhir Interpelasi DPR Soal Nuklir Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tunggu Proses Akhir Interpelasi DPR Soal Nuklir Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tunggu Proses Akhir Interpelasi DPR Soal Nuklir Iran

Hasyim meminta masyarakat mencermati lebih saksama proses yang akan dijalankan berikutnya. “Kan masing-masing (Presiden dan DPR) punya intgritas. Nah, kita lihat dan cermati bersama-sama, bagaimana integritas Presiden, bagaimana integritas DPR,” terangnya.

Rapat Paripurna DPR ditunda setelah terjadi hujan interupsi sehubungan tidak hadirnya Presiden Yudhoyono pada rapat tersebut. Rapat interpelasi berikutnya akan dijadwal ulang oleh Badan Musyawarah DPR.

Hari Santri 2018

Pada rapat paripurna itu Kepala Negara mengutus Menko Polhukam Widodo AS, Menlu Hassan Wirajuda, Mensesneg Hatta Radjasa, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensos Bachtiar Chamsyah, Menhan Juwono Sudarsono, Menkum dan HAM Andi Mattalatta, dan Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar.

Menanggapi penundaan tersebut, Presiden, di Kantor Presiden, Jakarta, menegaskan, DPR wajib menerima jawaban pemerintah yang diwakilkan kepada menteri dalam rapat paripurna tersebut.

"Pemerintah sesungguhnya ingin taat kepada aturan yang berlaku dan sungguh-sungguh ingin menjawab interpelasi ini dengan sebaik-baiknya dengan cara mempersiapkan jawaban secara saksama agar pertanyaan DPR dapat dijawab secara tepat," katanya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Ahlussunnah Hari Santri 2018

Selasa, 09 Januari 2018

Pelajar NU Nalumsari Kuatkan Kualitas Kerja Pengurus

Jepara, Hari Santri 2018. Pengurus IPNU-IPPNU Nalumsari mengadakan rapat kerja dalam rangka memaksimalkan peran di Gedung MWCNU Nalumsari kabupaten Jepara, Sabtu-Ahad (30-31/8). Mereka dalam rapat ini juga menyusun program kerja ke depan.

"Pertemuan ini bertujuan menegaskan kembali tugas pokok dan fungsi pengurus agar kualitas kerja mereka lebih baik dari tahun sebelumnya," kata Ketua PAC IPNU Nalumsari Lukman Hakim.

Pelajar NU Nalumsari Kuatkan Kualitas Kerja Pengurus (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Nalumsari Kuatkan Kualitas Kerja Pengurus (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Nalumsari Kuatkan Kualitas Kerja Pengurus

Sementara Wakil Ketua IPNU Jepara M Shidiq yang juga hadir dalam rapat itu mengingatkan maksud pertemuan. “Upgrading ini menyadarkan kita terhadap wilayah kerja masing-masing,” kata Shidiq.

Hari Santri 2018

Shidiq mendorong pengurus anak cabang IPNU-IPPNU Nalumsari untuk menata ulang pola pikir. Pola pikir kita, ujar Shidiq, harus lebih baik dari pengurus ranting. Ia menyatakan, kepengurusan IPNU Jepara akan memfasilitasi mereka dalam memaksimalkan pengurus ranting. (Yusrul Wafa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pesantren, Sejarah, Ahlussunnah Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Senin, 08 Januari 2018

Tiga Ciri Puritanisme Menurut Kiai Maman

Yogyakarta, Hari Santri 2018. Puritanisme bisa menyebabkan radikalisme, bila dibiarkan akan menjadi terorisme. Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Dakwa Nahdlatu Ulama (LDNU) Pusat KH Maman Imanulhaq saat menjadi narasumber pada Seminar Pembentukan Karakter Dasar Pelajar Menolak Radikalisme Sejak Dini yang merupakan rangkaian acara Konferensi Besar (Konbes) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatu Ulama ( IPPNU), di ruang Arafah Asrama Haji Yogyakarta, Jumat (27/10) Malam.

Tiga Ciri Puritanisme Menurut Kiai Maman (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Ciri Puritanisme Menurut Kiai Maman (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Ciri Puritanisme Menurut Kiai Maman

“Puritanisme ditandai dengan beberapa ciri. Pertama adalah literalis yaitu mereka yang membaca sumber hukum atau ayat hanya sepenggal atau sepotong saja sehingga, tidak dapat memahami suatu fenomena secara faktual,” urai Kiai Maman.

Ia menegaskan, posisi IPPNU sebagai pelajar harus menjadi The leader ia a reader. IPPNU adalah calon generasi penerus bangsa dalam memimpin negara.

“Untuk itu mari wujudkan pelajar putri peduli literasi,” harapnya.

Selain itu IPPNU harus paham tiga buku; buku kuning atau kitab-kitab kuning, buku putih seperti buku-buku sosiologi dan antropologi, dan buku abu-abu seperti kejadian-kejadian faktual yg ada di sekitar.

Hari Santri 2018

Ciri kedua, lanjut Kiai Maman, adalah ahistoris. Mengutip ungkapan Presiden Pertama Indonesia Soekarno, Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah.

 

Hari Santri 2018

“Hal ini selaras dengan ungkapan, Barang siapa yang tidak mempunyai negara maka dia tidak memiliki sejarah, dan barang siapa yang tidak memiliki sejarah maka dia akan dilupakan,” ujar Kiai Maman.

Menurutnya orang-orang ahistoris adalah orang yang tidak mempunyai sejarah berdirinya pemahaman dan organisasinya sehingga dia akan mudah dilupakan oleh bangsanya.

“IPPNU tentu pemegang sejarah para pendiri NU sebelumnya, untuk itu jangan tinggalkan mempelajari sejarah,” ungkap Kiai Maman

Ciri yang ketiga adalah anti dialog. Orang Radikalis tak mau berdiskusi, dan tidak mau ukhuwah. Peran IPPNU yang berkomitmen untuk mengawal deradikalisasi di kalangan pelajar dalam dunia pendidikan harus siap untuk berdialog baik itu lintas organisasi maupun lintas agama.

“Puritanisme itu licik yang selalu mencari kesalahan dan kelemahan orang untuk mendapatkan keuntungan pribadi,” tandas Kiai Maman. (Anty Husnawati/Kendi Setiwan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ahlussunnah Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock