Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq

Yogyakarta, Hari Santri 2018. Sebagai ungkapan rasa syukur atas lahirnya tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, Majelis Dzikir Al Khidmah Yogyakarta mengadakan dzikir bersama dan Maulid Nabi Muhammad di Pendopo Taman Siswa, Ahad (1/5).

"Pendopo Taman Siswa dirasa menarik untuk dijadikan tempat majelis dzikir dan shalawat. Karena di tempat ini simbol pendidikan di Indonesia lahir, serta tokoh-tokoh besar di Indonesia memulai masa belajarnya" kata salah satu panitia Abdullah Wasi. 

Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq (Sumber Gambar : Nu Online)
Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq (Sumber Gambar : Nu Online)

Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq

Menurut Wasi, acara majelis dzikir dan shalawat telah dimulai tahun 2012 yang diprakarsai Yayasan Taman Siswa dan Mahasiswa Al-Khidmah. "Acara haul Ki Hajar Dewantara ini diadakan oleh keluarga mahasiswa bersama Taman Siswa dan disupport oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Regional dua," tandasnya.

Di antara tokoh yang hadir dalam acara tersebut adalah sesepuh Al-Khidmah DIY KH Ahmad Burhani, pengurus Al-Khidmad Jakarta Muntiyasro dan cucu Ki Hajar Dewantara, Ki Nanang Dewantara

Menurut Ki Nanang Dewantara, Kiai Asrori Al-Ishaqi (pendiri Al-Khidmah) ternyata nasabnya bersambung dengan Ki Hajar Dewantara pada Syekh Maulana Ishaq.

Hari Santri 2018

Acara majelis dzikir tersebut dihadiri oleh puluhan santri Al-Munawwir Krapyak, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, serta jamaah Al-Khidmah dari Jogja, Bantul, Gunungkidul dan Keluarga Mahasiswa Al-Khidmah yang hadir dari Solo, Salatiga dan Jawa timur," ungkap Wasi, alumni Keluarga Al-Khidmah Kampus Yogyakarta. (Nur Sholikhin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Cerita Hari Santri 2018

Senin, 19 Februari 2018

Dicari: Keunggulan Budaya

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Ada sebuah prinsip yang selalu dikumandangkan oleh mereka yang meneriakan kebesaran Islam: “Islam itu unggul, dan tidak dapat diungguli (al-Islâm ya’lû wala yu’la alaihi).” Dengan pemahaman mereka sendiri, lalu mereka menolak apa yang dianggap sebagai “kekerdilan” Islam dan kejayaan orang lain. Mereka lalu menolak peradaban-peradaban lain dengan menyerukan sikap “mengunggulkan“ Islam secara doktriner. Pendekatan doktriner seperti itu berbentuk pemujaan Islam terhadap “keunggulan” teknis peradaban-peradaban lain. Dari sinilah lahir semacam klaim kebesaran Islam dan kerendahan peradaban lain, karena memandang Islam secara berlebihan dan memandang peradaban lain lebih rendah.

Dari “keangkuhan budaya” seperti itu, lahirlah sikap otoriter yang hanya membenarkan diri sendiri dan menggangap orang atau peradaban lain sebagai yang bersalah atas kemunduran peradaban lainnya. Akibat dari pandangan itu, segala macam cara dapat dipergunakan kaum muslim untuk mempertahankan keunggulan Islam. Kemudian lahir semacam sikap yang melihat kekerasan sebagai satu-satunya cara “mempertahankan Islam”. Dan lahirlah terorisme dan sikap radikal demi “kepentingan” Islam.

Dicari: Keunggulan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Dicari: Keunggulan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Dicari: Keunggulan Budaya

Mereka tidak mengenal ketentuan hukum Islam/fiqh bahwa orang Islam diperkenankan menggunakan kekerasan hanya jika diusir dari kediaman mereka (idzâ ukhrijû min diyârihim). Selain alasan tersebut itu tidak diperkenankan menggunakan kekerasan terhadap siapapun, walau atas dasar keunggulan pandangan Islam. Sesuai dengan ungkapan di atas maka jelas, mereka salah memahami Islam, ketika memaahami bahwa kaum muslimin diperkenankan menggunakan kekerasan atas kaum lain. Inilah yang dimaksudkan oleh kitab suci al-Qur’ân dengan ungkapan “Tiap kelompok bersikap bangga atas milik sendiri (kullu hizbin bimâ ladaihim farihûn)” (QS al-Mu’minûn [23]: 54). Kalau sikap itu dicerca oleh al-Qur’ân, berarti juga dicerca oleh Rasul-Nya.

Hari Santri 2018

***

Jelaslah sikap Islam dalam hal ini, yaitu tidak mengangap rendah peradaban orang lain. Bahkan Islam mengajukan untuk mencari keunggulan dari orang lain sebagai bagian dari pengembangannya. Untuk mencapai keunggulan itu Nabi bersabda “carilah ilmu hingga ke tanah Tiongkok (utlubû al-ilmâ walau bî al-shîn).” Bukankah hingga saat ini pun ilmu-ilmu kajian keagamaan Islam telah berkembang luas di kawasan tersebut? Dengan demikian, Nabi mengharuskan kita mencarinya ke mana-mana. Ini berarti kita tidak boleh apriori terhadap siapapun, karena ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang terdapat di mana-mana. Bahkan teknologi maju yang kita gunakan adalah hasil ikutan (spend off) dari teknologi ruang angkasa yang dirintis dan dibuat di bumi ini. Dengan demikian, teknologi antariksa juga menghasilkan hal-hal yang berguna bagi kehidupan kita sehari- hari. Pengertian “longgar” seperi inilah yang dikehendaki kitab suci al-Qur’ân dan Hadits.

Hari Santri 2018

Lalu adakah “kelebihan teknis” orang-orang lain atas kaum muslimin yang dapat dianggap sebagai “kekalahan” umat Islam? Tidak, karena amal perbuatan kaum muslimin yang ikhlas kepada agama mereka memiliki sebuah nilai lebih. Hal itu dinyatakan sendiri oleh Al-Qur’an: “Dan orang yang menjadikan selain Islam sebagai agama, tak akan diterima amal perbuatannya di akhirat. Dan ia adalah orang yang merugi (wa man yabtaghi ghaira Islâmi dînan falan yuqbala minhu wa huwa fil âkhirati minal khâsirîn)” (QS Ali Imran [3]:85). Dari kitab suci ini dapat diartikan bahwa Allah tidak akan menerima amal perbuatan seorang non-muslim, tetapi di dalam kehidupan sehari-hari kita tidak boleh memandang rendah kerja siapapun.

Sebenarnya pengertian kata “diterima di akhirat” berkaitan dengan keyakinan agama dan dengan demikian memiliki kualitas tersendiri. Sedangkan pada tataran duniawi perbuatan itu tidak tersangkut dengan keyakinan agama, melainkan “secara teknis” membawa manfaat bagi manusia lain. Jadi manfaat dari setiap perbuatan dilepaskan oleh Islam dari keyakinan agama dan sesuatu yang secara teknis memiliki kegunaan bagi manusia diakui oleh Islam. Namun, dimensi “penerimaan” dari sudut keyakinan agama memiliki nilainya sendiri. Pengislaman perbuatan kita justru tidak tergantung dari nilai “perbuatan teknis” semata, karena antara dunia dan akhirat memiliki dua dimensi yang berbeda satu dari yang lain.

***

Dengan demikian, jelas peradaban Islam memiliki keunggulan budaya dari sudut penglihatan Islam sendiri, karena ada kaitannya dengan keyakinan keagamaan. Kita diharuskan mengembangkan dua sikap hidup yang berlainan. Di satu pihak, kaum muslimin harus mengusahakan agar Islam -sebagai agama langit yang terakhir- tidak tertinggal, minimal secara teoritik. Tetapi di pihak lain kaum muslimin diingatkan untuk melihat juga dimensi keyakinan agama dalam menilai hasil budaya sendiri. Ini juga berarti Islam menolak tindak kekerasan untuk mengejar ketertinggalan “teknis” tadi. Walaupun kita menggunakan kekerasan berlipat-lipat kalau memang secara budaya kita tidak memiliki pendorong ke arah kemajuan, maka kaum muslimin akan tetap tertinggal di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian keunggulan atau ketertinggalan budaya Islam tidak terkait dengan penguasaan “kekuatan politik”, melainkan dari kemampuan budaya sebuah masyarakat muslim untuk memelihara kekuatan pendorong ke arah kemajuan, teknologi dan ilmu pengetahuan. ?

Kita tidak perlu berkecil hati melihat “kelebihan” orang lain, karena hal itu hanya akibat belaka dari kemampuan budaya mereka mendorong munculnya hal-hal baru yang bersifat “teknis”. Di sinilah letak pentingnya dari apa yang oleh Samuel Huntington disebut sebagai “perbenturan budaya (clash of civilizations)”. Perbenturan ini secara positif harus dilihat sebagai perlombaan antar budaya, jadi bukanlah sesuatu yang harus dihindari.

***

Beberapa tahun lalu penulis diminta oleh Yomiuri Shimbun, harian berbahasa Jepang terbitan Tokyo dan terbesar di dunia dengan oplah 11 juta lembar tiap hari, untuk berdiskusi dengan Profesor Huntington, bersama-sama dengan Chan Heng Chee (dulu Direktur Lembaga Kajian Asia-Tenggara di Singapura dan sekarang Dubes negeri itu untuk Amerika Serikat) dan Profesor Aoki dari Universitas Osaka. Dalam diskusi di Tokyo itu, penulis menyatakan kenyataan yang terjadi justru bertentangan dengan teori “perbenturan budaya” yang dikemukakan Huntington. Justru sebaliknya ratusan ribu warga muslimin dari seluruh dunia belajar ilmu pengetahuan dan teknologi di negeri-negeri Barat tiap tahunnya, yang berarti di kedua bidang itu kaum muslim saat ini tengah mengadopsi (mengambil) dari budaya Barat. ?

Nah, keyakinan agama Islam mengarahkan mereka agar menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mereka kembangkan dari negeri-negeri Barat untuk kepentingan kemanusiaan, bukannya untuk kepentingan diri sendiri. Pada waktunya nanti, sikap ini akan melahirkan kelebihan budaya Islam yang mungkin tidak dimiliki orang lain: “kebudayaan yang tetap berorientasi melestarikan perikemanusiaan, dan tetap melanjutkan misi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”. Kalau perlu harus kita tambahkan pelestarian akhlak yang sekarang merupakan kesulitan terbesar yang dihadapi umat manusia di masa depan, seperti terbukti dengan penyebaran AIDS di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri muslim.

?

?

*) Dikutip dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di harian Duta Masyarakat, 5 Juli 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Kajian Islam Hari Santri 2018

Senin, 05 Februari 2018

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Judul: Piagam Perjuangan Kebangsaan

Editor : Abdul Mun’im DZ

Penerbit: Setjen PB NU-Hari Santri 2018, Jakarta Pusat

Cetakan: 2011

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Tebal: 147 hlm

Peresensi: Hairul Anam*)

Hari Santri 2018

Sejarah itu ubahnya mutiara terpendam di dasar lautan. Cahayanya tak bakal mampu berkilau dan melahirkan kekaguman bagi siapa pun, manakala tak ada yang mengangkatnya ke permukaan. Karena itu, menemukan sekaligus memeliharanya merupakan langkah bijak untuk dijadikan acuan dalam memberi penilaian. Dan pada waktu itu juga, sejarah akan menghadirkan dirinya dengan ragam pencerahan.

Hari Santri 2018

Pada aras itu, sejarah sepak terjang NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia, tampaknya masih belum diketahui banyak kalangan. Akibatnya, NU acap kali diidentikkan dengan organisasi yang hanya berkutat dengan ranah ibadah mahdhah. Bahkan, dituduh sebagai organisasi yang irasional, bid’ah, sinkretis, dan sebagainya.

Buku Piagam Perjuangan Kebangsaan ini hadir untuk mengabadikan segala ‘jasa-jasa’ perjuangan NU terhadap bangsa di bumi persada ini. Banyak peristiwa penting yang terekam kuat di dalamnya. Berbagai piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam bidang politik dan kebangsaan dapat dibaca jelas dalam buku tipis ini. Menariknya, dalam buku ini, hal itu disusun secara sistematis berdasarkan urutan tahun kejadian.

Dimulai dari Piagam Nahdlatul Wathon (1916). Dilatarbelakangi keprihatinan Kiai Wahab Chasbullah melihat kondisi bangsanya yang terbelakang karena terjajah, lahirlah usaha dari beliau untuk membangkitkan bangsa dengan membentuk organisasi pergerakan yang diberi nama Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan). Selanjutnya, organisasi ini merambah ke berbagai daerah di Indonesia.

Pada tahun 1918, diketuai oleh Syekh Hasyim Asy’ari dan disekretarisi oleh Kiai Wahab Chasbullah, dicetuskanlah Piagam Nahdlatut Tujjar. Organisasi yang concern pada wilayah dagang ini merupakan embrio dari NU. Melaluinyalah aspirasi warga NU dapat tersampaikan pada Raja Saudi tatkala digelar Komite Hejaz.

Mengenai Deklarasi Komite Hejaz (7 Mei 1928) yang fokus pada perjuangan kebebasan beragama, juga terabadikan dalam buku ini. Kala itu, kota Suci Mekah sebagai pusar peradaban Islam menjadi tempat belajar bagi Muslim dari seluruh dunia termasuk Indonesia. Munculnya gerakan Wahabi di Saudi Arabia berpengaruh langsung terhadap Islam di negeri ini. Pulangnya beberapa pelajar asal Sumatera Barat tahun 1808 yang terpengaruh Wahabi mulai menyiarkan ajaran ekstrem yang kemudian tumbuh gerakan Paderi, yang mengajarkan Islam puritan ke Indonesia. Kemudian berkobarlah perang Paderi (perang antar mazhab) dalam agama Islam. Tradisi Islam yang berusaha mengintegrasikan Islam dengan budaya Nusantara, mereka obrak-abrik dengan kekerasan. Dalam batas tertentu, hal itu dapat diredam dengan terbitnya Deklarasi Komite Hejaz. (hal. 30-35)

Mukadimah Qanun Asasi (1926), Piagam Indonesia sebagai Negara Bangsa (1936), Deklarasi Mabadi Khoiro Ummah (1939), Deklarasi Resolusi Jihad I (1945/46), Piagam Waliyul Amri (1954), dan Piagam Liga Muslimin Indonesia (1952) dapat ditemukan keasliannya dalam buku ini. Tidak hanya dicantumkan, tapi juga disertai dengan latar belakang piagam dan deklarasi tersebut ditorehkan.

Selain itu, masih ada Deklarasi Demokrasi Pancasila (1967), Piagam Hubungan Agama dengan Pancasila (1983), Deklarasi Khittah Nahdliyah (1984), Pedoman Berpolitik Warga NU (1989), Mufakat Demokrasi (1991), Piagam Perdamaian Dunia (2004), Maklumat Kebangsaan Nahdlatul Ulama (2006), dan yang terbaru ialah Maklumat Menyelamatkann NKRI (2011).

Harus diakui, keberhasilan NU dalam berperan serta memelihara keutuhan bangsa ini tidak terlepas dari sikap kebangsaan yang dipilihnya. Ia selalu mengedepankan sikap moderat dalam menyikapi masalah, dan terpenting ialah toleran terhadap ragam perbedaan. Hal inilah yang menjadi kekuatan utama yang naif manakala tidak diteladani oleh generasi muda Indonesia.

Secara akumulatif, Piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam buku ini penting diketahui sekaligus dipahami oleh semua kalangan. Ini adalah buku sejarah kebangsaan yang dilahirkan oleh organisasi yang sedari berdiri amat peduli terhadap keutuhan NKRI. Meminjam bahasa Abdul Mun’im DZ, mempelajari fakta historis itu bukan untuk membangun romantisme masa lalu, tetapi sebuah upaya menggali gudang peluru sebagai amunisi menggerakkan masa depan.

Akhirnya, buku ini mendesak dimiliki oleh siapapun. Warga Indonesia yang betul-betul punya kepedulian terhadap bumi pertiwi, rugi rasanya bila tak mengoleksi buku setebal 147 halaman ini. Saya merekomendasikan agar buku ini dijadikan rujukan oleh kalangan peneliti agar tidak bias dalam ‘membaca’ NU.

* Penggiat buku di Intitut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Cerita, Tegal Hari Santri 2018

Minggu, 21 Januari 2018

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid

Sukoharjo, Hari Santri 2018. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sukoharjo bersama Jam’iyyah Al-Qurra wa Al-Huffazh (JQH) Al-Wustha IAIN Surakarta mengadakan kerjasama dalam bidang sholawat dan kajian keislaman untuk memperingati maulid Rasul SAW.

Mereka menggelar sholawatan bersama di mushola Al-Ilham, Kartasura, Ahad (12/1) pagi.

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid

Sebelumnya Ketua PC IPPNU Sukoharjo dan Ketua IPPNU PAC Kartasura bersilaturahmi dengan JQH Al-Wustha, kata seorang pengurus JQH Asrul yang juga mahasiswa Fakultas Syariah, Rabu (15/1).

Hari Santri 2018

Keduanya mengajak JQH Al-Wustha mengisi acara rutinan Germas (Gerakan Remaja Pecinta Sholawat) yang dilaksanakan IPNU dan IPPNU Sukoharjo.

Bagi JQH Al-Wustha, kegiatan itu merupakan salah satu wujud pengabdian masyarakat “dalam rangka menjaga kearifan lokal. Tentunya bertujuan membangun ruang lingkup dakwah yang lebih luas,” terang Asrul.

Hari Santri 2018

Sementara itu Ketua IPPNU PC Sukoharjo Fitria Ayu Luthfi mengharapkan kegiatan ini bisa menjadi batu loncatan bagi IPPNU yang beberapa tahun lalu “mati suri”. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Kajian Islam, Cerita Hari Santri 2018

Rabu, 17 Januari 2018

Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas

Jakarta, Hari Santri 2018. Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menolak upaya pemerintah yang akan melakukan sosialisasi pengaturan menstruasi (menstrual regulation/MR) pada para remaja. Meski sosialisasi itu dilakukan untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, upaya itu bisa mendorong berkembangnya budaya seks bebas.

“Kalau disampaikan, ya pada orang yang sudah berkeluarga, pada selected person (orang-orang tertentu, Red) atau selected area (kondisi lingkungan tertentu, Red). Tapi kalau diseminarkan, lebih banyak orang yang mungkin memahaminya secara luas daripada orang yang memahaminya secara proporsional,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa kepada Hari Santri 2018 di Jakarta, Senin (2/4).

Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas

MR adalah sebuah tindakan untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dengan pemberian obat tertentu sehingga perempuan yang sudah telat masa menstruasinya bisa mendapatkan kembali haidnya.

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu berpendapat, sosialisasi dalam bentuk berbagai seminar dengan target kalangan remaja merupakan bentuk yang sangat halus dalam upaya mengembangkan pergaulan bebas di kalangan remaja. Selain MR, sejumlah lembaga swadaya masyarakat pendukungnya juga mengembangkan berbagai model pencegah kehamilan lainnya seperti penggunaan alat kontrasepsi darurat (morning pill) dan mendorong aborsi sebagai salah satu bentuk KB.

“Kalau itu disosialisasikan secara terus-menerus, gimana? Nanti kan timbul pandangan, Anda berzina tak apa-apa. Nanti kan bisa minum obat kalau sudah hamil.? Supaya kita bisa sama-sama menjaga, jangan sampai seks bebas itu akhirnya menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja,” papar Khofifah, begitu panggilan akrabnya.

Upaya pengesahan aborsi saat itu juga tengah getol diperjuangkan oleh sekelompok yang sama dalam revisi Undang-undang (UU) Kesehatan. Dalam UU itu, aborsi boleh dilakukan dengan syarat yang berat, yakni jika kandungan mengganggu nyawa ibu dan jelas di situ ada suami. Pelanggaran bisa dikenai denda Rp 500 juta.

Hari Santri 2018

“Kalau alasannya daripada bunuh diri, kan repot. Daripada mereka melakukan aborsi yang tidak aman karena kehamilan yang tidak diinginkan? Akar masalahnya kan bukan di situ, tapi seks bebas itu. Ini disebabkan aturan-aturan mengenai pornografi, pornoaksi, ini yang belum kita tata,” terang Khofifah.

Karena keprihatinan itu, Muslimat NU mendesak pemerintah agar segera menyelesaikan pembahasan Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi. Muslimat NU juga memberikan pembekalan kepada para juru dakwah agar mendapatkan informasi yang proporsional sehingga ketika mereka ketemu dengan tokoh masyarakat, bisa menjawab.

“Jangan malu mendukung RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi karena dianggap konservatif,” tandasnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Cerita, Tokoh, Warta Hari Santri 2018

Rabu, 03 Januari 2018

Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat

Lampung Utara, Hari Santri 2018. Inna lilahi wa inna ilahi rajiun. Rais Syuriah PCNU Lampung Utara KH Imam Muhyidin wafat sekitar pukul 06.00 WIB, Jumat (25/9) pagi. Pimpinan pesantren Minhajul Huda Cempaka Sungkai Jaya, Kotabumi Lampung Utara itu meninggal karena sakit.

Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat

"Beliau juga tercatat sebagai Ketua Badan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Lampung,” ujar SekretarisGP Ansor setempat Hidrikal Mukrom di Kotabumi.

Menurut Hidrikal, aktivis PMII bisa meneladani sejumlah perilaku terpuji almarhum. Almarhum juga dekat dengan anak-anak PMII setempat.

Hari Santri 2018

“Kiai Imam adalah alumni PMII yang termasuk kiai sepuh di pesantren Darul Kair selain KH Abdul Syukur Syah pimpinan pesantren setempat," katanya lagi.

Hari Santri 2018

Ucapan belasungkawa atas wafatnya Majelis Pembina PMII Lampung Utara itu disampaikan sejumlah kolega termasuk Ketua PCNU Waykanan KH Nur Huda. Allahummaghfir lahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu. Semoga almarhum khusnul khotimah. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Meme Islam Hari Santri 2018

Sabtu, 30 Desember 2017

Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana

Sumenep, Hari Santri 2018. Kegiatan rutinitas bulanan Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) tetap terlaksana walaupun dengan peserta terbatas di kediaman Masduqi, Kaduara Timur, (07/04).?

Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana

Kegiatan itu, dihadiri oleh delapan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pragaan meliputi, Sulthan, Harir, Qudsi, Imam Ghazali, Imam Arifin, Alfin dan Masduqi.?

Faktor ketidakhadiran pengurus PAC Gerakan Pemuda (GP) Ansor pada acara tersebut, dikarenakan tergendala hujan.

Ketua PAC GP. Ansor Pragaan Muh. Qudsi mengatakan, terbatasnya pengurus yang hadir Pada kegiatan rutinitas bulanan Rijalul Ansor tergendala hujan.

Hari Santri 2018

"Kalau cuaca hari ini normal tidak hujan pasti semua pengurus PAC GP. Ansor akan hadir semua," ujar Qudsi.

Sedangkan agenda yang berlangsung dalam kegiatan Rija Ansor tidak jauh berbeda dari sebelumnya. yaitu, bertawassul kapada ? Rasulullah, membaca surah yasin, tahlil dan Shalawat Nariyah secara bersama-sama.

Kemudian setelah itu, dilanjutkan dengan musyawarah tentang agenda hari ulang tahun (harlah) ke-83 Ansor, yang dipimpin langsung oleh ketua Harlah, Moh. Zain.

Setelah musyawarah selesai, Qudsi, kembali menghaturkan ucapan minta maaf kepada tuan rumah, Masduqi.

"Sebelum acara ini diakhiri, saya selaku ketua PAC GP. Ansor Pragaan mohon maaf sebab pengurus yang datang hanya delapan orang," tuturnya.

Hari Santri 2018

Sebaliknya, Masduqi juga turut menyampaikan perihal sedikitnya pengurus yang hadir.?

"Saya juga ucapkan banyak terima kasih kepada sehabat-sehabat pengurus PAC GP. Ansor yang telah hadir. Selebihnya salam saya kepada pengurus PAC GP. Ansor yang tidak sempat hadir," tukasnya. (Zainal Arifin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Cerita Hari Santri 2018

Jumat, 22 Desember 2017

Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali

Rembang, Hari Santri 2018. Masyarakat di Kabupaten Rembang akhirnya tidak memprotes setelah mendapat penjelasan tentang penundaan keberangkatan haji tahun ini. KH Mustofa Bisri membantu memberikan penjelasan kepada para calon jama’ah.

“Haji adalah panggilan Allah SWT, apabila kita tertunda dan berangkat pada tahun berikutnya, sama halnya kita berhaji dua kali,” kata Gus Mus saat memberikan bimbingan manasik haji. 

Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Tertunda Berangkat Sama dengan Berhaji Dua Kali

Jama’ah pun akhirnya merasa senang ketika mendengar pernyataan Wakil Rais Aam PBNU tersebut. 

Hari Santri 2018

Kemenag memerlukan proses yang lama dalam memberikan pengertian terhadap masyarakat yang sudah berharap berangkat tahun ini. Kasi Haji dan Umroh, Drs. H. Atto’illah Muslim Kementrian Agama Kab. Rembang, mengalami pengurangan sebesar 14,5 %, Selasa (20/8). 

Salah satu calon jema’ah, Satibi menjelaskan, “Saya menerima segala keputusan dari Kementerian Agama Rembang, apabila harus mendapatkan jatah berangkat pada tahun yang akan datang. Saya juga senang, lanjut Satib jika pemerintah memberikan prioritas kepada para jama’ah dengan memberikan fasilitas apabila pelunasan pada tahun berikutnya naik. jama’ah tak perlu bayar jika turun jama’ah dapat kembalian.”

Hari Santri 2018

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Asmu’i

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, AlaNu Hari Santri 2018

Minggu, 10 Desember 2017

Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU

Gandrungmangu, Hari Santri 2018. Kembali lagi sebuah kemeriahan dimunculkan oleh PAC IPNU-IPPNU Kec. Gandrungmangu Cilacap yang mengadakan lomba mewarnai antar PAUD, TK, & RA dan festival hadrah yang bertempat di Pendopo Kecamatan Gandrungmangu dan Masjid Baitul Muflihin Wungureja, pada (28 Februari sampai 1-2 Maret).?

Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka harlah ke 60 dan 61 IPNU-IPPNU ini juga diiringi dengan pembentukan Ranting IPNU-IPPNU Desa Layansari yang diikuti oleh 50 peserta serta pembekalan materi ke-IPNU-IPPNU-an dan Aswaja yang diisi oleh Hadno Ali Sholihin, alumni PC IPNU Kab.Cilacap) sekaligus makesta Ranting IPNU-IPPNU Desa Gintungreja. Demikian rilis yang dikirimkan oleh panitia kepada Hari Santri 2018.

Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta yang Indah dalam Harlah IPNU-IPPNU

Acara harlah ini mengambil tema “Cinta NU, Cinta IPNU-IPPNU, Cinta Shalawat, Ngalap Syafa’at” sebagai upaya untuk menciptakan kader-kader muda berideologi ahlusunnah wal jama’ah.

Lomba mewarnai dikuti oleh 50 komisariat PAUD, TK, dan RA yang yang masing-masing diwakili 2 peserta. Sementara itu festival hadrah bertempat di Masjid Baitul Muflihin Wungureja diikuti oleh 20 group dari di Gandrunmangu dan sekitarnya.?

Hari Santri 2018

Warga sangat antusias mengikuti acara tersebut. “Saya sangat mendukung adanya kegiatan ini, semoga dengan adanya pelantikan Ranting IPNU-IPPNU desa Layansari dapat membangun pola pikir anak-anak kami dan semakin kuat iman kami dalam berideologi ahlusunnah wal jama’ah,” ujar salah satu warga dusun Wungureja.?

Pada Sabtu malam, diselenggarakan pelantikan sekaligus shalawatan Ranting IPNU-IPPNU Desa Layansari bersama Habib Haidar dari Purwokerto. ? Red: mukafi niam

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Tokoh Hari Santri 2018

Senin, 04 Desember 2017

Kiprah Mundjidah Wahab, Ketua Muslimat NU Jombang 2015-2020

Jombang, Hari Santri 2018. Sejak tahun 1971, perempuan ini sudah menjadi anggota DPRD Jombang. Periode berikutnya, 1997 hingga 2012 menjadi anggota DPRD Jawa Timur. Hingga tahun 2018 dipercaya sebagai Wakil Bupati Jombang. Dan hari ini, Nyai Hj Mundjidah Wahab dilantik sebagai Ketua PC Muslimat NU Jombang periode 2015-2020.

Dalam sebuah kesempatan pertemuan halal bihalal alumni PC IPNU dan IPPNU Jombang, salah seorang undangan mengatakan, "Andai saja mau, mestinya Bu Nyai Mundjidah Wahab sudah punya perusahaan besar karena menjadi anggota dewan sejak muda. Tapi karena kecintaan kepada organisasi, keinginan memperkaya diri diacuhkannya."

Kiprah Mundjidah Wahab, Ketua Muslimat NU Jombang 2015-2020 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiprah Mundjidah Wahab, Ketua Muslimat NU Jombang 2015-2020 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiprah Mundjidah Wahab, Ketua Muslimat NU Jombang 2015-2020

Dan masih dalam sambutan di acara tersebut, Bu Mun, sapaan akrabnya mengemukakan bahwa tidak ada keinginan bagi dirinya memperkaya diri. Sejumlah dana yang harus diberikan kepada konstituen, disampaikan dengan pelaporan yang dapat dipertangungjawabkan.?

"Dari mulai menyediakan seragam, papan nama untuk kepengurusan GP Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU dan kegiatan lain," katanya. Dana itu juga harus dibagi sesuai Dapil atau daerah pemilihan tempat ia terpilih sebagai wakil rakyat, yakni Kota dan Kabupaten Mojokerto, Madiun, Kabupaten Jombang, serta Nganjuk.

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Baginya, tugas para aktivis NU adalah memberikan perhatian kepada sejumlah kegiatan dan kebutuhan para kader. "Semua bisa, andai saja ada kemauan," ungkapnya.

Aktivis sejak muda

Nama lengkap perempuan ini adalah Nyai Hj Mundjidah binti KH Abdul Wahab Hasbullah. Ia dilahirkan di Jombang tepatnya tanggal 22 Mei 1948. Abahnya adalah seorang ulama besar yakni penggagas, pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU). Bu Nyai Mundjidah, demikian sebagian orang menyapa, lahir dan dibesarkan dalam tradisi dan kultur pesantren yang menghargai perbedaan.?

Melalui NU dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), aktualisasi semangat tersebut dilakukan secara konsisten dan berlangsung hingga saat ini. Konsistensi perjuangan inilah yang telah membentuk karakter pribadi yang kuat dan telah teruji dalam berbagai rezim politik, sekaligus sebagai pembeda dengan para politisi yang lain.

Bu Mun adalah simbol perempuan aktif di Jombang. Putra kesembilan dari pasangan Mbah Wahab dengan Nyai Hj Rahma ini telah menjadi saksi perjalanan bangsa. Ghirah perjuangan dari sang abah telah menitis dalam sanubarinya. Sehingga meski usia masih belia, sudah turut aktif di garda depan perjuangan. Tahun 1965 pada tragedi berdarah G30S/PKI, ia memiliki andil yang tidak kecil dalam melawan kekejaman kaum sosialis atheis tersebut bersama elemen bangsa yang lain karena saat itu aktif sebagai Bendahara KAPPI Cabang Jombang.

Berproses di NU bukan menjadi sesuatu yang baru karena sudah kenal jamiyah ini sejak bocah. "Abah selalu mengajak anak-anak mengikuti ke mana saja ada kegiatan NU, utamanya saat ada muktmar," kenangnya.

Organisasi Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) diikuti sejak dini dan akhirnya dipercaya menjadi ketua (1965-1968). "Banyak kenangan manis semasa berproses di IPPNU," katanya dengan senyum khasnya. Di antaranya, bagaimana senantiasa menjaga semangat pantang menyerah dalam berjuang, membesarkan panji NU, berkeliling dari kepengurusan anak cabang hingga ranting. "Bahkan saya datang ke pelosok desa dengan hanya bermodalkan sepeda pancal," katanya.

Tidak jarang bersama teman aktivis yang lain mencukupkan dengan berjalan kaki. "Semua itu menjadi pondasi yang kokoh bagaimana berkiprah di NU," katanya. Sehingga buah dari berproses tersebut telah menjadikan semangat berjuang di jamiyah masih tetap berkobar hingga kini, lanjutnya.

Berkhidmat di NU terus dijalani hingga kini. Selepas dari IPPNU langsung aktif dalam organisasi keputrian NU yaitu Fatayat (1969-1972). Awal bergabung dengan Fatayat, langsung dipercaya masuk dalam jajaran pengurus harian, tepatnya menjadi Ketua II PC Fatayat NU Jombang. Dan berbekal pengalaman memimpin IPPNU, selang enam tahun (1978-1983) dipercaya menjadi Ketua PC Fatayat NU Jombang. Dan di tengah khidmat itu (1973-1978) juga dipercaya untuk masuk dalam jajaran kepengurusan harian PC Muslimat NU Jombang sebagai sekretaris.

Baru pada tahun 1984, Mundjidah muda diberi mandat memimpin PC Muslimat NU Jombang untuk kali pertama. "Namun dengan adanya peraturan larangan rangkap jabatan, buah dari Muktamar Situbondo, maka posisi itu harus saya tanggalkan," ungkapnya.

Pengalaman berorganisasi menjadikan Bu Mun semakin memahami karakter warga, khususnya warga NU. Kemampuan berorganisasi telah menghantarkannya duduk di kursi wakil rakyat sejak 1971 hingga 2012. Berawal dari Fraksi NU DPRD Kabupaten Jombang (1971-1977) berlanjut selama tiga periode aktif di Fraksi Persatuan Pembangunan DPRD Kabupaten Jombang. "Ini ? sebagai buah kebijakan fusi partai pada masa penguasa Orde Baru yang meleburkan Partai NU ke dalam PPP," katanya. Dan mulai 1997 hingga 2012 aktif di DPRD Jawa Timur dalam Fraksi Persatuan Pembangunan serta sekarang hingga 2018 menjadi Wakil Bupati Jombang.

Meskipun dipercaya umat menjadi anggota dewan, kegiatan di pesantren tetap dilakukan. Bu Nyai Mundjidah adalah pengasuh asrama Lathifiyyah 2 dan juga Wahabiyyah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Demikian juga kegiatan di luar tetap tidak dikendorkan. Kendati usia telah menginjak kepala tujuh, namun yang melekat dari dirinya adalah tetap energik dalam beraktifitas.

Dulu, saat posisinya sebagai Ketua PC Muslimat NU Jombang dan sekaligus anggota DPRD Jawa Timur, tetap mengharuskannya mampu membagi waktu dengan baik. "Menjadi imam rawatib bagi santri, tetap saya usahakan," katanya. Dan dengan pengalaman berorganisasi yang telah lama dilakoni, membuat dia bisa membagi waktu dengan baik.?

Dan hari ini di Ballroom Hotel Yusro Jombang, ia bersama kepengurusan PC Muslimat NU Jombang periode 2015 hingga 2020 akan dilantik. Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa akan memimpin prosesi ini dan memberikan pengarahan. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Meme Islam, Cerita, News Hari Santri 2018

Kamis, 23 November 2017

Wakil Rais Aam Bai‘at Pengurus Baru 18 Lembaga PBNU

Jakarta, Hari Santri 2018. Wakil Rais Aam KH Miftahul Akhyar meminta komitmen pengurus baru lembaga-lembaga di bawah naungan PBNU sebelum pembai’atan dimulai. Pada pelantikan di Jakarta, Rabu (16/9) malam, Kiai Miftah kemudian memimpin pembai‘atan pengurus harian di delapan belas lembaga yang merupakan kepanjangan tangan dari PBNU.

Wakil Rais Aam Bai‘at Pengurus Baru 18 Lembaga PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Rais Aam Bai‘at Pengurus Baru 18 Lembaga PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Rais Aam Bai‘at Pengurus Baru 18 Lembaga PBNU

“Lembaga-lembaga di NU merupakan perangkat atau kaki penyambung kerja PBNU. Karenanya, saya perlu menanyakan kesanggupan para pengurus baru sekalian. Apakah saudara sekalian sanggup?” Kiai Miftah bertanya kepada ketua-ketua lembaga yang juga naik ke atas panggung pelantikan.

Usai memimpin ikrar yang diikuti ketua-ketua baru lembaga-lembaga di PBNU, Kiai Miftah berharap mereka yang dilantik pada malam ini untuk bekerja sungguh-sungguh demi kemaslahatan umat.

Hari Santri 2018

“Semoga Allah memberikan kemudahan besar bagi pengurus lembaga PBNU masa khidmat 2015-2020,” Kiai Miftah berdoa di hadapan sedikitnya 300 hadirin.

Sebelum pelantikan, Sekjend PBNU H Helmy Faishal Zaini membacakan surat mandat kepada pengurus baru lembaga-lembaga yang ditandatangani Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Sekjend PBNU H Helmy Faisal.

Hari Santri 2018

Satu per satu nama pengurus harian lembaga-lembaga itu dibacakan oleh para wasekjend PBNU secara bergantian. Mereka adalah pengurus Lembaga Dakwah NU, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Rabithah Maahid Al-Islamiyah NU, Lembaga Perekonomian NU, Lembaga Pengembangan Pertanian NU, Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia NU, Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum NU, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia, Lembaga Amil, Zakat, Infaq, dan Shadaqah NU, Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU, Lembaga Bahtsul Masa’il NU, Lembaga Tamir Masjid NU, Lembaga Kesehatan NU, Lembaga Falakiyah NU, Lembaga Talif wan Nasyr NU, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU, dan Lembaga Pendidikan Tinggi NU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Nusantara Hari Santri 2018

Sabtu, 18 November 2017

Psikologi Terorisme

Awal tahun 2014, Indonesia langsung dikejutkan dengan penggerebekan sekelompok teroris di Ciputat, Tangerang. Dari hasil penggerebekan, enam terduga teroris tewas seketika saat melakukan perlawanan terhadap aparat kepolisian. Peristiwa ini mengindikasikan bahwa aksi terorisme tetap menjadi momok menakutkan bagi stabilitas keamanan masyarakat.

Tidak heran bila Indonesia kerap menjadi pemberitaan internasional seiring dengan maraknya aksi teror yang terjadi, bahkan Indonesia sering disebut sebagai “ladangnya jaringan terorisme”. Berbagai upaya pun dilakukan demi menumpas aksi terorisme. Hasilnya, puluhan orang yang diyakini sebagai pelaku teror ditangkapi, termasuk menembak mati aktor intelektualnya. Namun, regenerasi di kalangan teroris seolah tak tersentuh dalam operasi penumpasannya, bahkan semakin berkembang pesat membangun jaringan baru yang lebih terorganisir.

Serangkaian aksi terorisme yang mengancam keamanan dan stabilitas bangsa Indonesia pada awal tahun ini harus diwaspadai aparat keamanan. Penggerebekan yang menewaskan enam orang teroris, menunjukkan bahwa bangsa kita sedang berada dalam situasi yang sangat genting. Betapa tidak, aksi terorisme terus-menerus berlangsung tiada henti mengancam keamanan masyarakat sehingga membuat bangsa ini sering disebut sebagai “republik teroris”.

Psikologi Terorisme

Psikologi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Psikologi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Psikologi Terorisme

Lalu bagaimana kita memahami lahirnya jaringan terorisme yang terus bermunculan? Selama ini kita selalu dikangkangi asumsi bahwa terorisme lahir dan dibesarkan highly misleading (pemahaman keliru tingkat tinggi) terhadap agama yang benar. Di Indonesia, terorisme justru mengabarkan kepada kita tentang aneka problem yang sebenarnya menjadi sebab menjamurnya terorisme. Terorisme juga menyimpan potensi gunung es untuk selalu muncul tanpa henti di ranah politik dan keberagamaan kita. Menariknya lagi, para pelaku teroris rata-rata berasal dari kaum muda pada kisaran umur 16-40 tahun.

Aksi terorisme merupakan ekspresi resisten atas segala fenomena negatif globalisasi, persoalan demografi, kebuntuan mekanisme demokrasi serta keterputusan kejiwaan dengan modernitas. Hal ini mengabarkan pada kita bahwa terorisme belum tentu bermula dari pemahaman agama yang keliru terhadap jihad dan mati syahid. Kalau berbicara pemahaman keliru terhadap agama, kita tak menjamin bahwa mereka yang bukan teroris memiliki pemahaman keagamaan yang benar.

Namun, tak semua kedangkalan ilmu agama melahirkan terorisme. Terorisme justru eskalasi dari bertumbuhnya kaum muda dengan kondisi psikologi yang labil dan rentan respon negatif. Kegagalan beradaptasi dengan modernisme melahirkan psikologi teknologi yang timpang. Kemampuan teknologi yang dimiliki tak digunakan untuk mencipta kreatifitas menjawab persoalan krusial bangsa. Kapasitas teknologi justru digunakan untuk menciptakan bom berdaya ledak massif dengan beban biaya murah. Ironisnya, sasarannyapun semakin melebar, bukan saja kepentingan Amerika di Indonesia tapi juga mengena institusi pemerintah terutama yang aktif menangkal terorisme seperti kepolisian.

Hari Santri 2018

Kejiwaan para teroris berada pada transisi antara fase maturity dan fase adulthood. Kondisi maturity diartikan sebagai kondisi di mana seseorang mengalami masa kematangan sebelum kedewasaannya. Kondisi kejiwaan para teroris berada pada persimpangan antara kematangan jiwa dengan kedewasaan dalam menjalani kehidupan sehingga dapat mempengaruhi perubahan karakter dan sikap yang diikuti dengan masa kematangan sejati (the year of true maturity) (Heije Faber, 1976).

Dengan melihat beberapa kejadian terorisme di belahan dunia, para pakar berkesimpulan ada beberapa sebab yang melatarbelakangi aksi terorisme, yaitu sebab psikologis, yaitu terjadi dalam kasus di mana pelaku teror mengalami gangguan kejiwaan (abnormal), labil dan broken home. Analisis psikologis dalam mengurai motivasi pelaku teroris, memang lebih menarik ketimbang didekati dari sudut pandang teologis. ?

?

Mohammad Takdir Ilahi

Hari Santri 2018

Mahasiswa Magister Agama dan Filsafat, UIN Jogjakarta dan Staf Riset The Mukti Ali Institute Jogjakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Pondok Pesantren Hari Santri 2018

Hukum Kewarisan Bagi Anak Angkat

Warisan adalah peninggalan benda pusaka yang memiliki nilai tawar ketika orang telah meninggal bagi ahli warisnya. Warisan kadang-kadang menjadi biang keladi pertengkaran jika tidak dikemas dengan baik dan seadil-adilnya. Apalagi orang yang meninggal memiliki saudara dan seorang anak angkat yang tidak memiliki hubungan darah. Anak angkat ini biasanya menjadi tonggak perseteruan di antara saudara-saudara orang yang meninggal. Maka dari itu, hukum kewarisan bagi anak angkat ada bagian-bagian tersendiri yang memang mengaturnya. Misalkan wasiat wajibah oleh yang mengasuhnya mengenai harta kepemilikannya bagi anak angkatnya. Namun di Indonesia wasiat wajibah ini masih terasa asing.

Yang dimaksud dengan wasiat wajibah adalah wasiat yang pelaksanaannya tidak dipengaruhi atau tidak tergantung kepada kemauan atau kehendak yang meninggal dunia. Wasiat ini tetap harus dilaksanakan, baik diucapkan atau tidak diucapkan, baik dikehendaki atau tidak dikehendaki oleh yang meninggal dunia. Jadi, pelaksanaan wasiat tersebut tidak memerlukan bukti bahwa wasiat terebut diucapkan, ditulis, atau dikehendaki, tetapi pelaksanaannya didasarkan pada alasan-alasan hukum yang membenarkan bahwa wasiat tersebut harus dilaksanakan (hlm. 118).

Hukum Kewarisan Bagi Anak Angkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Kewarisan Bagi Anak Angkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Kewarisan Bagi Anak Angkat

Maka dari itu, kehadiran buku ini akan mengupas tuntas tentang wasiat wajibah yang terasa asing bagi masyarakat Islam Indonesia pada umumnya karena istilah ini sebenarnya memang tidak dikenal dalam kitab-kitab fiqih klasik yang beredar di Indonesia. Istilah wasiat wajibah ini sebenarnya penemuan baru abad XX. Sedangkan wasiat wajibah yang dikaitkan dengan anak atau orang tua angkat merupakan penemuan Indonesia. Dalam kasus lain, wasiat wajibah dimasukkan ke dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Ini menjadi persoalan tersendiri yang perlu dikritisi.

Hari Santri 2018

Tapi, tujuan wasiat wajibah dimasukkan ke dalam KHI adalah untuk melakukan pendekatan kompromi dengan hukum adat. Hal ini dilakukan bukan hanya sebatas pengambilan nilai-nilai hukum adat untuk diangkat dan dijadikan ketentuan hukum Islam. Pendekatan kompromistis ini, termasuk juga dalam hal memadukan pengembangan nilai-nilai hukum Islam yang sudah ada nashnya dengan nilai-nilai hukum adat. Tujuannya agar ketentuan hukum Islam itu lebih dekat dengan kesadaran hidup masyarakat. Hal ini dapat dikatakan sebagai islamisasi hukum adat sekaligus seiring dengan upaya mendekatkan hukum adat ke dalam hukum Islam (hlm. 163).

Hari Santri 2018

Istilah wasiat wajibah pertama kali diperkenalkan oleh Ibn Hazm yang menyatakan bahwa bagi tiap-tiap orang yang akan meninggal dan memiliki harta kekayaan, terutama kepada kerabat yang tidak memperoleh bagian warisan, karena kedudukan sebagai hamba, kekafirannya, atau ada hal yang menghalangi mereka dari hak kewarisan atau karena memang tidak berhak atas warisan (hlm. 1).

Ada beberapa hal yang menjadi tujuan pengangkatan anak yang menyebabkan timbulnya sebuah wasiat wajibah ini, antara lain yaitu untuk meneruskan keturunan manakala dalam suatu perkawinan tidak memperoleh keturunan. Ini merupakan motivasi yang dapat dibenarkan, dan salah satu jalan yang positif serta manusiawi terhadap naluri kehadiran seorang anak dalam keluarga setelah bertahun-tahun dikaruniai anak.

Selain itu juga bertujuan untuk menambah jumlah anggota keluarga, dengan maksud agar si anak angkat mendapat pendidikan yang baik, untuk mempererat hubungan keluarga. Di sisi lain juga merupakan suatu kewajiban bagi orang yang mampu terhadap anak yang tidak mempunyai orang tua, sebagai misi kemanusiaan dan pengamalan ajaran agama (hlm. 30-31).

Pengangkatan seorang anak selain memang untuk menambah jumlah anggota keluarga dan menyantuni mereka yang tak mampu, juga tak lain sebagai upaya untuk menjadi umpan balik bagi keluarga yang belum dikaruniai seorang anak. Menurut adat tertentu, jika seorang keluarga ingin cepat dikaruniai seorang anak disarankan untuk mengasuh anak orang lain agar hasratnya bisa terus berdoa saat bersama anak yang diasuhnya. Sehingga keinginan untuk memiliki keturunan mudah terkabul.

Eksistensi buku ini dilahirkan tak lain guna mejawab persoalan wasiat wajibah dan alasan wasiat wajibah dimasukkan ke dalam KHI dengan argumentasi yang logis dan rasional. Jawaban atas warisan yang hanya bagi mereka yang memiliki hubungan kekerabatan bisa diberikan kepada orang lain melalui wasiat wajibah ini, termasuk kepada anak angkat jika yang meninggal dunia memiliki anak angkat. Karena hukum Islam bukan sekadar seperangkat norma statis yang mengutamakan kepastian dan ketertiban, melainkan juga norma-norma yang mendinamiskan pemikiran dan merekayasa perilaku masyarakat dalam mencapai cita-citanya.Judul : Wasiat Wajibah Pergumulan antara Hukum Adat dan Hukum Islam di Indonesia

Penulis : Ahmad Junaidi

Penerbit : Pustaka Pelajar

Cetakan : I, Desember 2013

Tebal : 178 halaman

ISBN : 978-602-229-261-6

Peresensi : Junaidi Khab, Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Habib, Kajian Hari Santri 2018

Rabu, 15 November 2017

Ekspedisi Islam Nusantara di Hari Ke-24 di Kota Ke-15

Yogyakarta, Hari Santri 2018

Tim Ekspedisi Islam Nusantara telah melakukan perjalanan ke-25 hari. Setelah menjelajah Jawa Timur, kini kembali lagi ke arah barat melalui jalur selatan.? Sabtu (23/4) dini hari memasuki kota ke-15, yakni Yogyakarta.? Di kota tersebut, mereka berisitrahat di pesantren Sunan Pandanaran.

Ekspedisi Islam Nusantara di Hari Ke-24 di Kota Ke-15 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekspedisi Islam Nusantara di Hari Ke-24 di Kota Ke-15 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekspedisi Islam Nusantara di Hari Ke-24 di Kota Ke-15

Pagi-pagi, mereka berangkat ke Kepatihan Yogyakarta sebagai kulo nuwun untuk menjelajah jejak Islam Nusantara di provinsi tersebut. Mereka diterima Asisten III Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemudian dilakukan dialog antar-agama di tempat yang sama.

Kemudian ke Kraton Ngayogyakarto, menonton wayangan yang kebetulan sedang dipentaskan di belakang kraton tersebut. Kemudian ke Masjid Gedhe. Meseum Pangeran Diponegoro.

Hari Santri 2018

Di tempat-tempat tersebut, tim ekspedisi melakukan pengambilan gambar dan video, serta wawancara dengan narasumber yang berkaitan.

Hari Santri 2018

Kemudian selepas ashar berziarah ke Kiai Nur Iman Mlangi, Kabupaten Sleman, yang berada di samping masjid Pathok Negoro Mlangi. ?

Di beranda masjid tersebut telaah berkumpul jamaah yang rata-rata keturunan Kiai Nur Iman. Salah seorang kiai menunjukkan naskah-naskah karya Kiai Nuriman. Kemudian dilakukan dialog kedua belah pihak sampai waktu maghrib datang.

Selepas itu, tim Ekspedisi bertandang ke salah satu pesantren di Mlangi, Al-Falahiyyah. Kemudian berkembang diskusi ringan perjalanan dan Islam Nusantara. Ngobrol ngalor ngidul sampai mendekati pukul 22.00.

Di Yogyakarta, Tim ekspedisi akan berada selama tiga hari. Kemudian Senin malam bertolak ke Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Lalu ke Serang, Banten, yang merupakan kota terakhir yang dijelajahi di pulau Jawa. Selepas itu, akan menjelajah Sumatera yang dimulai dari Aceh. (Abdullah Alawi) ?



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita Hari Santri 2018

Jumat, 27 Oktober 2017

Lebih Dekat dengan Dayah MUDI Mesra

Bireuen, Hari Santri 2018. Salah satu dayah terbesar di Aceh saat ini adalah MUDI Mesra. Nama resminya Lembaga Pendidikan Islam Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya yang lebih dikenal dengan sebutan LPI atau Dayah MUDI Mesra. Santri dan masyarakat senang dayahnya disebut Mesra. Pasalnya, selain satu lokasi dengan Mesjid Raya, kemesraan sang Abu MUDI dalam mengajar selalu menjadi cerita dan kenangan.

Lebih Dekat dengan Dayah MUDI Mesra (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebih Dekat dengan Dayah MUDI Mesra (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebih Dekat dengan Dayah MUDI Mesra

Kontributor  Hari Santri 2018 Musthofa Asrori bersama tim kecil berkesempatan mengunjungi sekaligus berburu kemesraan di MUDI Mesra. Perjalanan darat di malam hari selama empat jam dari Banda Aceh hingga lokasi hendak mengikuti pengajian kitab kuning usai Shubuh. Kepala Seksi Pembinaan Kurikulum Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD) Provinsi Aceh M Badaruddin yang mengawal sangat senang dan bersemangat.

Kemesraan dan kesyahduan mulai terasa ketika mobil kami sampai di halaman pesantren. Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari ketika ribuan santri memenuhi mesjid untuk ber-saharul layaaali. Beberapa santri senior tampak tersenyum ramah menyambut kami yang sipit menahan kantuk.

Hari Santri 2018

Menurut sejarah, Dayah MUDI Mesra telah didirikan seiring pembangunan Mesjid Raya yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Dayah ini berlokasi di Desa Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Pimpinan pertama dayah ini bernama Faqeh Abdul Ghani. Sayangnya, khazanah ini tidak tercatat berapa lama ia memimpin dayah, dan siapa pula penggantinya.

Barulah pada tahun 1927, dijumpai secara jelas catatan tentang kepemimpinan Dayah ini. Pada tahun tersebut, Dayah ini dipimpin Teungku H Syihabuddin bin Idris dengan santri berjumlah 100 orang putra dan 50 orang putri. Mereka diasuh lima tenaga pengajar lelaki dan dua guru perempuan.

Hari Santri 2018

Menurut salah seorang pengajar dayah, sesuai dengan kondisi zaman pada masa itu, bangunan asrama hunian santri merupakan barak-barak darurat yang dibangun dari bambu dan rumbia. Setelah Tgk H Syihabuddin wafat pada 1935, dayah dipimpin adik iparnya bernama Tgk H Hanafiah bin Abbas yang akrab disapa Tgk Abi. Meski kondisi fisik bangunan ini bertahan, jumlah santri meningkat menjadi 150 putra dan 50 putri.

Teungku M Sholeh sempat menggantikan kepemimpinan selama dua tahun ditinggal Tgk Hanafiah ke Mekah untuk menimba ilmu. Pesantren lalu dipimpin Tgk Abdul Aziz bin M Shaleh, menantu Tgk H Hanafiah, menyusul wafatnya sang pengasuh pada 1964.

Tgk Abdul Aziz yang akrab disapa Abon ini bergelar “al-Manthiqi” lantaran spesialisasi keilmuannya dalam bidang Mantiq atau Logika. Ia merupakan murid Abuya Muda Wali, pimpinan Dayah Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan.

Semenjak kepemimpinan Abon, pesantren MUDI Mesra kian bertambah muridnya terutama dari Aceh dan Sumatera. Dari segi sarana dan prasarana pun mengalami perkembangan. Asrama santri yang semula layaknya barak darurat dibangun menjadi asrama semi permanen berlantai dua yang dapat menampung 150 santri.

Tahun 1989 pasca-wafatnya Abon, kepemimpinan dayah ditetapkan melalui kesepakatan alumni dan masyarakat. Forum musyawarah mufakat lalu mempercayakan tongkat estafet kepemimpinan dayah kepada Teungku Haji Hasanoel Bashry bin Haji Gadeng (Abu MUDI), salah seorang menantu Abon yang juga santri senior yang dibanggakan. Di masa kepemimpinan Abu MUDI, dayah tersebut kian maju pesat. Jumlah santri terus berdatangan dari seluruh penjuru Aceh dan juga dari luar daerah bahkan dari negeri tetangga, Thailand dan Malaysia.

Atas ide Abu MUDI, didirikanlah Yayasan Pendidikan Islam al-Aziziyah (YPIA): sebuah lembaga kemasyarakatan berbasis dayah salafiyah MUDI Mesra Samalanga. Wacana awal pendirian YPIA adalah bagaimana menyeragamkan lembaga pendidikan dayah yang merupakan cabang dayah MUDI Mesra ke dalam satu kesatuan nama dan visi-misi.

“Dari diskusi yang kami gelar, disepakati bahwa dayah-dayah cabang diberi nama di ujungnya dengan label al-Aziziyah seperti MUDI Mekar menjadi MUDI Mekar al-Aziziyah. Cabang yang ada diperkirakan sekitar 220 unit,” papar Abu MUDI.

Meski demikian, para santri baru tetap mendaftar di MUDI Mesra sebagai pusatnya. Hingga kini, MUDI Mesra mengelola beberapa unit kegiatan. Mulai TK al-Aziziyah, TPQ Muhazzabul Akhlaq al-Aziziyah, Madrasah Tsanawiyah, SMPI Jabal Rahmah, Paket C, Balai Pengajian dan Majelis Ta’lim al-Aziziyah, hingga Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) al-Aziziyah.

Abu MUDI telah lama bermimpi mengelola seluruh unit pendidikan yang terpadu di bawah bendera al-Aziziyah. Di beberapa sudut pesantren tampak pembangunan gedung terus berlangsung. “Itulah mengapa para santri tetap mendaftar ke sini. Santri kami sekarang berjumlah lebih dari 3000 orang. Meski sudah ada cabang, namun mereka tetap ingin kemari. Ada yang bilang, kalau mencari ilmu, carilah di MUDI Mesra,” ujar Abu MUDI menutup bincang pagi di ruang tamu pesantren. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, PonPes Hari Santri 2018

Minggu, 22 Oktober 2017

Pagar Nusa Berharap Bom Kampung Melayu Tak Perkeruh Situasi Sosial Politik

Jakarta, Hari Santri 2018



Terkait dengan terjadinya ledakan di Kampung Melayu yang menewaskan empat orang dan melukai beberapa korban lainnya, Pagar Nusa menyatakan kesedihan dan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa tersebut.Ketua Umum Pagar Nusa Nabil Haroen juga meminta masyarakat gar beraktifitas sebagaimana biasanya sementara bagi keluarga, korban, ia mendoakan agar diberi ketabahan.

Pagar Nusa Berharap Bom Kampung Melayu Tak Perkeruh Situasi Sosial Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Berharap Bom Kampung Melayu Tak Perkeruh Situasi Sosial Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Berharap Bom Kampung Melayu Tak Perkeruh Situasi Sosial Politik

"Saya turut prihatin atas musibah ledakan di kawasan Kampung Melayu, yang menewaskan beberapa korban. Peristiwa ini menjadi kegelisahan sekaligus kesedihan kita bersama. Apa yang terjadi di DKI Jakarta menjadi referensi politik negara, dengan berbagai sudut pandangnya.Semoga apa yang terjadi tidak menambah keruh situasi sosial-politik di Indonesia,” kata Ketua Umum Pagar Nusa Nabiel Harun di Jakarta, Rabu (24/5) malam.

Pagar Nusa setelah kejadian tersebut telah melakukan berkoordinasi intensif dengan pihak kepolisian, untuk memantau dan memahami situasi lapangan yang terjadi. Peristiwa ledakan ini jelas memberi pesan tertentu, terkait situasi tanah air. “Pagar Nusa langsung menerjunkan pendekar-pendekar terbaiknya, untuk siaga di sekitar lokasi. Kami siap bekerja sama dengan aparat keamanan dan pemerintah untuk mengawal keamanan negara,” tandasnya.

Ia berharap agar apa yang terjadi tidak merembet menjadi lebih keruh. “Bersama pihak Kepolisian, Pagar Nusa siap mengamankan dan menjernihkan situasi," imbuhnya. (Red: Mukafi Niam)

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita Hari Santri 2018

Hari Santri 2018

Selasa, 03 Oktober 2017

Badan Geologi ESDM: Cekungan Watuputih Dilarang Ditambang

Rembang, Hari Santri 2018. Badan Geologi Kementerian ESDM RI memberikan tanggapan mengenai rencana penambangan batu gamping di Rembang. Menurut Kepala Badan Geologi Surono, batu gamping yang membentang dari Rembang hingga Blora merupakan daerah serapan air yang dilindungi UU.

Pernyataan ini keluar dalam rangka menanggapi permasalahan dan keresahan masyarakat perihal rencana penambangan batu gamping guna bahan baku semen. Lewat surat Badan Geologi tertanggal 1 Juli 2014 menyatakan, batu gamping itu ditetapkan sebagai Cekungan Air Tanah Watuputih.

Badan Geologi ESDM: Cekungan Watuputih Dilarang Ditambang (Sumber Gambar : Nu Online)
Badan Geologi ESDM: Cekungan Watuputih Dilarang Ditambang (Sumber Gambar : Nu Online)

Badan Geologi ESDM: Cekungan Watuputih Dilarang Ditambang

Lapisan kulit bumi berpori yang dapat menahan air atau akuifer di Cekungan Air Tanah Watuputih terbentuk pada batu gamping formasi Paciran. Artinya, termasuk kategori akuifer dengan aliran melalui celahan, rekahan, dan saluran. Sebagian besar wilayah Cekungan Watuputih merupakan daerah imbuhan air.

Hari Santri 2018

Pasal 40 Ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah, mengamanatkan, untuk menjaga daya dukung dan fungsi daerah imbuhan air tanah perlu mempertahankan imbuhan air tanah dan melarang aktivitas pengeboran, penggalian, atau kegiatan lain dalam radius 200 meter dari lokasi kemunculan mata air.

Hari Santri 2018

Sementara Pasal 40 Ayat 2 pada PP Nomor 43 Tahun 2008 juga mengamanatkan, untuk menjaga daya dukung akuifer diperlukan pengendalian aktivitas yang dapat mengganggu sistem akuifer. Aktivitas yang mengganggu sistem akuifer antara lain pembuatan terowongan dan penambangan bebatuan.

Untuk menjaga kelestarian akuifer Cekungan Air Tanah Watuputih dengan melarang aktivitas penambangan di batu gamping, Surono melayangkan surat ini kepada Gubernur Jawa Tengah dengan tembusan Bupati Rembang dan Bupati Blora.

Menanggapi surat Badan Geologi Kementerian ESDM ini, aktivis lingkungan di Rembang Ming Ming Lukiarti membenarkan data-data tentang Cekungan Air Tanah Watuputih yang diungkapkan ke publik sebagai fakta. Demikian keterangan Ming Ming kepada Mataair.

“Buktinya, Kepala Badan Geologi sudah mengirim surat kepada Gubernur Jateng terkait status Cekungan Air Tanah Watuputih. Dan dijelaskan tak boleh ada kegiatan penambangan karena akan merusak akuifer,” jelas Ming Ming.

Menurutnya, rencana lokasi penambangan PT Semen Indonesia dan sejumlah perusahaan tambang di wilayah desa Tegaldowo kecamatan Gunem disinyalir juga menyasar kawasan Cekungan Watuputih.

“Namun kita belum lacak lebih jauh, perusahaan mana saja yang masuk kawasan Watuputih. Titik koordinat untuk mengetahui wilayah mana saja yang masuk Watuputih tertuang di Keppres R1 Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah,” pungkas Ming Ming (Ahmad Asmu’i/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul Ulama, Cerita Hari Santri 2018

Selasa, 22 Agustus 2017

Bagaimana dengan Rambut Rontok saat Junub, Haid, atau Hadats

Assalamu alaikum wr wb.

Selamat malam pak kiai, saya mau tanya tentang rambut yang rontok saat sedang haid, apakah wajib ikut disucikan saat selesai atau tidak? Terima kasih. Wassalamu alaikum wr wb. (Hamidah)

Bagaimana dengan Rambut Rontok saat Junub, Haid, atau Hadats (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana dengan Rambut Rontok saat Junub, Haid, atau Hadats (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana dengan Rambut Rontok saat Junub, Haid, atau Hadats

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kami tim redaksi Hari Santri 2018 mencoba menjawab pertanyaan saudari. Pertama yang perlu diingat kembali adalah bahwa umat Islam diwajibkan bersuci dari hadats besar dan hadats kecil sesuai dengan sebab-sebab yang ditentukan di kitab-kitab fikih.

Hari Santri 2018

Hadats besar mewajibkan seseorang untuk bersuci sebelum beribadah dengan mandi, membasuh air secara merata ke seluruh bagian luar tubuh termasuk rambut, kuku, dan lipatan-lipatan tubuh. Artinya air harus sampai mengena ke kulit dan bagian-bagian luar tubuh tersebut tanpa satupun penghalang.

Hari Santri 2018

Sementara hadats kecil menuntut seseorang untuk membasuh bagian-bagian tubuh tertentu dalam bersuci seperti wajah, tangan, sebagian kulit kepala, kaki atau berwudhu. Kesucian ini dibutuhkan sebagai syarat keabsahan ibadah termasuk syarat kesucian bagi jenazah sebelum disembahyangkan.

Hukum mandi menurut syar‘i terbagi dua, wajib dan sunah. Sunah bilamana mandi itu diniatkan untuk menghadiri sembahyang Jum‘at, istisqa, sembahyang gerhana, usai memandikan jenazah, wukuf, thawaf, atau masuk kota Mekkah. Sementara mandi wajib diperuntukkan bagi mereka yang dalam keadaan junub karena keluar mani, sebab jimak atau lainnya, usai haid, atau nifas.

Baik mandi wajib atau sunah, seseorang harus niat mandi wajib atau mandi sunahnya di awal basuhan. Persoalan niat ini sebuah kewajiban. Berikutnya meratakan tubuh dengan air. Segala permukaan dan lipatan di tubuh mesti secara rata terbasuh air baik berbentuk bulu, kuku, maupun kulit.

Adapun sejumlah bagian itu terlepas seperti rambut rontok, kuku yang terpotong, amputasi beberapa bagian tubuh? Apakah bagian yang terlepas wajib dibasuh? Para ulama berbeda pendapat. Imam Nawawi dalam kitab Raudlatut Thalibin mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Andaikan seseorang membasuh seluruh badannya kecuali sehelai atau beberapa helai rambut (bulu) kemudian ia mencabutnya, maka Imam Mawardi berpendapat, Jika air dapat sampai ke akar helai itu, maka memadailah. Tetapi jika tidak, maka ia wajib menyampaikan air ke dasar bulu itu. Sedangkan fatwa Ibnu Shobagh menyebutkan, Wajib membasuh bagian yang tampak saja. Pendapat ini lebih sahih. Sementara kitab Albayan menyebut dua pendapat. Pertama, wajib (membasuh bagian tubuh yang terlepas-pen). Kedua, tidak wajib. Karena, telah luput bagian yang wajib dibasuh. Ini sama halnya dengan orang yang berwudhu tetapi tidak membasuh kakinya, lalu diamputasi.” (Lihat Imam Nawawi, Raudlatut Thalibin wa Umdatul Muftiyin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz 1, halaman 125).

Adapun perataan air ini menjadi sebuah kewajiban. Karenanya sehelai rambut yang terlewat dapat membatalkan basuhan. Hanya saja madzhab Hanafi mengatakan bahwa basuhan tetap sah kendati sehelai rambut terlewat seperti disebutkan Imam Nawawi berikut ini dalam Al-Majemuk berikut ini.

?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?

Artinya, “Kesembilan, andai seseorang meninggalkan sehelai rambut kepalanya yang belum tersentuh air, maka tidak sah basuhannya. Sementara riwayat dari Imam Abu Hanifah menyebutkan, basuhan semacam itu tetap sah,” (Lihat Imam Nawawi, Al-Majemuk Syarhul Muhadzdzab, Kairo, Darut Taufiqiyah, tanpa tahun, juz 2, halaman 194).

Dengan mengikuti pendapat satunya, seseorang yang junub tidak perlu khawatir untuk menyisir rambut karena takut rontok, memotong kuku, atau membersihkan bulu lainnya. Ia pun tidak perlu mengumpulkan rambut rontok dan potongan kukunya untuk dimandikan wajib bersama.

Hanya saja kami menganjurkan agar seseorang menyisir atau memotong rambut, dan menggunting kuku setelah mandi wajib. Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Nahdlatul, Budaya Hari Santri 2018

Selasa, 11 April 2017

Kisah Inspiratif dari Para Santri Berprestasi

Judul: Impian Hebat, Kisah Sukses Meraih Beasiswa

Penerbit: Penerbit Matapena  

Editor:Lianni Qanita

Penata isi: Imam Adolide

Kisah Inspiratif dari Para Santri Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Inspiratif dari Para Santri Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Inspiratif dari Para Santri Berprestasi

Tahun Terbit: Cet I, November, 2012

Tebal Halaman: xii + 184 halaman

ISBN: 979- 25-5384-3

Hari Santri 2018

Peresensi; Noor Aflah

Hari Santri 2018

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Matapena yang berkerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) RI ini memuat berbagai kisah nyata perjalanan para santri dalam berkhidmat dan membangun impian mereka sejak di pesantren hingga bisa berkuliah lantaran mendapatkan beasiswa dari Kemenag RI melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB). PBSB merupakan sebuah beasiswa yang ditujukan bagi santri yang memiliki kemampuan akademik, kematangan pribadi, kemampuan penalaran, dan potensi untuk mengikuti program pendidikan perguruan tinggi. 

Program beasiswa ini dicetuskan karena adanya fakta yang menunjukkan bahwa untuk bisa masuk ke perguruan tinggi bagi kaum santri “berprestasi” yang sulit. Apalagi untuk bisa lewat jalur beasiswa. Dari situlah, maka Kemenag RI melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam berinisiatif dengan mengupayakan sebuah program beasiswa bagi mereka, yakni dengan program PBSB. (hal. vii). 

Ada dua puluh lima cerita yang ditulis dalam buku ini. Kesemuanya sungguh inspiratif. Satu cerita dengan cerita lainnya mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Kita ambil contoh saja, Ufiq Faisol Ahlif, seorang santri dari Pesantern AT-Thullah TBS Kudus.

Sejak menitih studi di MA atau setara dengan SMA, ia selalu diliputi persaan galau antara terus untuk mondok atau “ngampus” di perguruan tinggi. Baginya –sebelum masuk PBSB-, kuliah hanya akan berorientasi pada kehidupan duniawi saja, dan tidak ada lagi ilmu-ilmu agama yang menghiasi hari-hari perkuliahan. Maka dari situ, saat itu ia memilih untuk melanjtukan ke pesantren. Selain itu, juga ada satu syarat lagi yang harus Ufiq patuhi ketika ia ingin kuliah. Yakni sang orang tua yang tak mau membiayai kuliahnya (hal. 113).

Sejak saat itu, setelah selesai sekolah maupun pada jam-jam kosong, Ufiq selalu menyempatkan diri pergi ke warnet untuk mencari informasi tentang pesantren dan beasiswa untuk kuliah. Karena untuk pesantren telah di pasrahkan ke orang tuanya, maka ia lebih fokus untuk mencari informasi beasiswa di perguruan tinggi-perguruan tinggi (hal. 114).

Tak terasa 2 tahun telah terlewati. Masa studi Ufiq di MA pun tengah memasuki akhir tahun. Teka-teki masa depan kehidupannya mulai menemui titik terang. Ada kabar bahwa tiga orang kakak kelasnya masuk dalam seleksi beasiswa PBSB. Ia pun tertarik untuk mengikuti jejak mereka.

Pada bulan Februari 2010, guru bahasa Inggris sekaligus wakil kepala sekolah bidang Humas dan Sarpras mengumumkan: “Pendaftaran beasiswa Pekapontren 2010 telah dibuka, bagi siswa yang ingin mengikutinya silahkan menghubungi Pak Qomari dan segera melengkapi persyaratan administrasinya”. Mendengar pengumuman itu, Ufiq pun menghela nafas dan berujar: “inilah jalan saya” (hal. 115).

Ada 13 orang tercatat yang telah mendaftar, sehingga guru yang bertugas harus lembur mengumpulkan persyaratan yang harus dipenuhi mengingat waktu tak seleksi tak lama lagi. Tak pelak, Ufiq dan 13 tahun pun harus ikut lembur membantu menyiapkan persyaratan-persyaratan tersebut.

Singkat cerita, tibalah waktu seleksi. Ufiq bersama 13 orang temannya pergi ke Semarang (tempat seleksi regional tengah). Tes seleksi dilakukan seharian penuh. Tak ada waktu buat peserta untuk merilekskan diri apalagi untuk belajar. Lelah tiada tara nampak jelas diraut muka seluruh peserta. Tak terkecuali Ufiq. Dalam kondisi seperti itu Ufiq hanya bisa pasrah dan semoga diberikan yang terbaik (hal. 117).

Jam 17.00 WIB lebih tes seleksi baru selesai. Pulanglah Ufiq dan 13 temannya ke Kudus dengan diringi rasa capek yang tak terhingga. Namun semua itu tak sia-sia. Akhirnya semua usahanya berbuah manis. Seminggu sebelum hari pengumuman hasil seleksi, ia mendapatkan SMS dari teman yang isinya: “selamat kepada Ufiq faisol ahlif yang diterima beasiswa PBSB di UPI Bandung”. Tak bisa dibayangkan betapa bahagianya Ufiq pada saat itu.

Begitulah kira-kira kisah para santri menggapai mimpi yang tertuang dalam buku ini. Lain halnya dengan Ufiq, Isma Noor Fitria –santrwati asal Banjarbaru, Kalsel- yang harus bekerja ekstra keras dalam MQK (Musabaqah Qira’at al-Kutub) di pesantrennya hanya untuk bisa mendapatkan beasiswa ini (hal. 65). 

Begitu juga dengan Hamas seorang santri generasi pertama di kota Padang yang lolos seleksi di tingkat Sumatra Barat untuk maju ke level nasional dalam Olimpiade Sains Nasional. Walaupun akhirnya tidak lolos namun terus optimis dan membangun impian barunya. Dan akhirnya diterimalah ia kuliah di ITB jurusan Teknologi Industri melalui program beasiswa ini (ha. 79). Begitu inspiratif. 

Kisah-kisah yang ditulis langsung oleh para penerima beasiswa PBSB dalam buku ini bak sebuah gambaran riil karakteristik santri dengan segala pahit getir perjuangannya menggapai cita. Dengan bahasa yang renyah, buku ini rasanya telah membuktikan bahwa santri pun juga bisa dan mampu bersaing dengan pelajar lainnya dalam menempuh studi di perguruan tinggi.

Santri pun bisa menulis. Santri pun punya impian hebat. Santri pun bisa sukses. Selamat membaca!

* Peresensi adalah mahasiswa Penerima Beasiswa PBSB di IAIN Walisongo Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Doa, Cerita, AlaSantri Hari Santri 2018

Jumat, 04 November 2016

Bandung Segera Jadi Lautan Mengaji

Bandung, Hari Santri 2018



Tak kurang dari 50 ribu santri se-Jawa Barat akan menjadikan Bandung sebagai Lautan Mengaji pada Sabtu (20/5). Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Raya Bandung, Jalan Asia-Afrika, ribuan santri akan melakukan 1000 kali khatam Al-Quran yang dipimpin langsung inisiator Nusantara Mengaji, Muhaimin Iskandar.

Koordinator Wilayah Nusantara Mengaji Jawa Barat, Cucun A Syamsurizal mengatakan, selain khatam Al-Quran, dilakukan pula Shalat Subuh berjamaah. Pasalnya acara dimulai sejak pukul 03.00.

Bandung Segera Jadi Lautan Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Bandung Segera Jadi Lautan Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Bandung Segera Jadi Lautan Mengaji

"Selepas Shalat Subuh berjamaah dilakukan persiapan jalan santai menuju Monumen Bandung Lautan Api Tegal Lega," kata Cucun, Selasa (16/5).

Menurut Cucun, Bandung Lautan Mengaji ini sebagai tindak lanjut dari program Nusantara Mengaji yang digagas Muhaimin Iskandar. Dan untuk wilayah Jawa Barat dipusatkan di Bandung.

Hari Santri 2018

Saat rapat, seluruh perwakilan Pesantren di Jawa Barat akan mengirimkan santri dan santriwatinya dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Barat. Termasuk para tokoh masyarakat dan ulama di Jawa Barat.

Sekretaris Panitia, Ahmad Irfan Alawi mengungkapkan teknis acara ketika jalan santai. Massa santri yang laki-laki akan jalan kaki menuju Monumen Bandung Lautan Api dengan mengenakan sarung, berbaju koko dan berpeci. Di perjalanan akan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu Syubbanul Wathan sebagai penegasan kebangsaan di Jawa Barat.

"Pak Muhaimin Iskandar pun ikut jalan kaki. Dan setibanya di Monumen Bandung Lautan Api langsung orasi kebangsaan," ujarnya. (Nurjani/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Cerita, Pertandingan, Amalan Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock