Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq

Yogyakarta, Hari Santri 2018. Sebagai ungkapan rasa syukur atas lahirnya tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, Majelis Dzikir Al Khidmah Yogyakarta mengadakan dzikir bersama dan Maulid Nabi Muhammad di Pendopo Taman Siswa, Ahad (1/5).

"Pendopo Taman Siswa dirasa menarik untuk dijadikan tempat majelis dzikir dan shalawat. Karena di tempat ini simbol pendidikan di Indonesia lahir, serta tokoh-tokoh besar di Indonesia memulai masa belajarnya" kata salah satu panitia Abdullah Wasi. 

Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq (Sumber Gambar : Nu Online)
Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq (Sumber Gambar : Nu Online)

Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq

Menurut Wasi, acara majelis dzikir dan shalawat telah dimulai tahun 2012 yang diprakarsai Yayasan Taman Siswa dan Mahasiswa Al-Khidmah. "Acara haul Ki Hajar Dewantara ini diadakan oleh keluarga mahasiswa bersama Taman Siswa dan disupport oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Regional dua," tandasnya.

Di antara tokoh yang hadir dalam acara tersebut adalah sesepuh Al-Khidmah DIY KH Ahmad Burhani, pengurus Al-Khidmad Jakarta Muntiyasro dan cucu Ki Hajar Dewantara, Ki Nanang Dewantara

Menurut Ki Nanang Dewantara, Kiai Asrori Al-Ishaqi (pendiri Al-Khidmah) ternyata nasabnya bersambung dengan Ki Hajar Dewantara pada Syekh Maulana Ishaq.

Hari Santri 2018

Acara majelis dzikir tersebut dihadiri oleh puluhan santri Al-Munawwir Krapyak, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, serta jamaah Al-Khidmah dari Jogja, Bantul, Gunungkidul dan Keluarga Mahasiswa Al-Khidmah yang hadir dari Solo, Salatiga dan Jawa timur," ungkap Wasi, alumni Keluarga Al-Khidmah Kampus Yogyakarta. (Nur Sholikhin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Cerita Hari Santri 2018

Senin, 19 Februari 2018

Dicari: Keunggulan Budaya

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Ada sebuah prinsip yang selalu dikumandangkan oleh mereka yang meneriakan kebesaran Islam: “Islam itu unggul, dan tidak dapat diungguli (al-Islâm ya’lû wala yu’la alaihi).” Dengan pemahaman mereka sendiri, lalu mereka menolak apa yang dianggap sebagai “kekerdilan” Islam dan kejayaan orang lain. Mereka lalu menolak peradaban-peradaban lain dengan menyerukan sikap “mengunggulkan“ Islam secara doktriner. Pendekatan doktriner seperti itu berbentuk pemujaan Islam terhadap “keunggulan” teknis peradaban-peradaban lain. Dari sinilah lahir semacam klaim kebesaran Islam dan kerendahan peradaban lain, karena memandang Islam secara berlebihan dan memandang peradaban lain lebih rendah.

Dari “keangkuhan budaya” seperti itu, lahirlah sikap otoriter yang hanya membenarkan diri sendiri dan menggangap orang atau peradaban lain sebagai yang bersalah atas kemunduran peradaban lainnya. Akibat dari pandangan itu, segala macam cara dapat dipergunakan kaum muslim untuk mempertahankan keunggulan Islam. Kemudian lahir semacam sikap yang melihat kekerasan sebagai satu-satunya cara “mempertahankan Islam”. Dan lahirlah terorisme dan sikap radikal demi “kepentingan” Islam.

Dicari: Keunggulan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Dicari: Keunggulan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Dicari: Keunggulan Budaya

Mereka tidak mengenal ketentuan hukum Islam/fiqh bahwa orang Islam diperkenankan menggunakan kekerasan hanya jika diusir dari kediaman mereka (idzâ ukhrijû min diyârihim). Selain alasan tersebut itu tidak diperkenankan menggunakan kekerasan terhadap siapapun, walau atas dasar keunggulan pandangan Islam. Sesuai dengan ungkapan di atas maka jelas, mereka salah memahami Islam, ketika memaahami bahwa kaum muslimin diperkenankan menggunakan kekerasan atas kaum lain. Inilah yang dimaksudkan oleh kitab suci al-Qur’ân dengan ungkapan “Tiap kelompok bersikap bangga atas milik sendiri (kullu hizbin bimâ ladaihim farihûn)” (QS al-Mu’minûn [23]: 54). Kalau sikap itu dicerca oleh al-Qur’ân, berarti juga dicerca oleh Rasul-Nya.

Hari Santri 2018

***

Jelaslah sikap Islam dalam hal ini, yaitu tidak mengangap rendah peradaban orang lain. Bahkan Islam mengajukan untuk mencari keunggulan dari orang lain sebagai bagian dari pengembangannya. Untuk mencapai keunggulan itu Nabi bersabda “carilah ilmu hingga ke tanah Tiongkok (utlubû al-ilmâ walau bî al-shîn).” Bukankah hingga saat ini pun ilmu-ilmu kajian keagamaan Islam telah berkembang luas di kawasan tersebut? Dengan demikian, Nabi mengharuskan kita mencarinya ke mana-mana. Ini berarti kita tidak boleh apriori terhadap siapapun, karena ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang terdapat di mana-mana. Bahkan teknologi maju yang kita gunakan adalah hasil ikutan (spend off) dari teknologi ruang angkasa yang dirintis dan dibuat di bumi ini. Dengan demikian, teknologi antariksa juga menghasilkan hal-hal yang berguna bagi kehidupan kita sehari- hari. Pengertian “longgar” seperi inilah yang dikehendaki kitab suci al-Qur’ân dan Hadits.

Hari Santri 2018

Lalu adakah “kelebihan teknis” orang-orang lain atas kaum muslimin yang dapat dianggap sebagai “kekalahan” umat Islam? Tidak, karena amal perbuatan kaum muslimin yang ikhlas kepada agama mereka memiliki sebuah nilai lebih. Hal itu dinyatakan sendiri oleh Al-Qur’an: “Dan orang yang menjadikan selain Islam sebagai agama, tak akan diterima amal perbuatannya di akhirat. Dan ia adalah orang yang merugi (wa man yabtaghi ghaira Islâmi dînan falan yuqbala minhu wa huwa fil âkhirati minal khâsirîn)” (QS Ali Imran [3]:85). Dari kitab suci ini dapat diartikan bahwa Allah tidak akan menerima amal perbuatan seorang non-muslim, tetapi di dalam kehidupan sehari-hari kita tidak boleh memandang rendah kerja siapapun.

Sebenarnya pengertian kata “diterima di akhirat” berkaitan dengan keyakinan agama dan dengan demikian memiliki kualitas tersendiri. Sedangkan pada tataran duniawi perbuatan itu tidak tersangkut dengan keyakinan agama, melainkan “secara teknis” membawa manfaat bagi manusia lain. Jadi manfaat dari setiap perbuatan dilepaskan oleh Islam dari keyakinan agama dan sesuatu yang secara teknis memiliki kegunaan bagi manusia diakui oleh Islam. Namun, dimensi “penerimaan” dari sudut keyakinan agama memiliki nilainya sendiri. Pengislaman perbuatan kita justru tidak tergantung dari nilai “perbuatan teknis” semata, karena antara dunia dan akhirat memiliki dua dimensi yang berbeda satu dari yang lain.

***

Dengan demikian, jelas peradaban Islam memiliki keunggulan budaya dari sudut penglihatan Islam sendiri, karena ada kaitannya dengan keyakinan keagamaan. Kita diharuskan mengembangkan dua sikap hidup yang berlainan. Di satu pihak, kaum muslimin harus mengusahakan agar Islam -sebagai agama langit yang terakhir- tidak tertinggal, minimal secara teoritik. Tetapi di pihak lain kaum muslimin diingatkan untuk melihat juga dimensi keyakinan agama dalam menilai hasil budaya sendiri. Ini juga berarti Islam menolak tindak kekerasan untuk mengejar ketertinggalan “teknis” tadi. Walaupun kita menggunakan kekerasan berlipat-lipat kalau memang secara budaya kita tidak memiliki pendorong ke arah kemajuan, maka kaum muslimin akan tetap tertinggal di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian keunggulan atau ketertinggalan budaya Islam tidak terkait dengan penguasaan “kekuatan politik”, melainkan dari kemampuan budaya sebuah masyarakat muslim untuk memelihara kekuatan pendorong ke arah kemajuan, teknologi dan ilmu pengetahuan. ?

Kita tidak perlu berkecil hati melihat “kelebihan” orang lain, karena hal itu hanya akibat belaka dari kemampuan budaya mereka mendorong munculnya hal-hal baru yang bersifat “teknis”. Di sinilah letak pentingnya dari apa yang oleh Samuel Huntington disebut sebagai “perbenturan budaya (clash of civilizations)”. Perbenturan ini secara positif harus dilihat sebagai perlombaan antar budaya, jadi bukanlah sesuatu yang harus dihindari.

***

Beberapa tahun lalu penulis diminta oleh Yomiuri Shimbun, harian berbahasa Jepang terbitan Tokyo dan terbesar di dunia dengan oplah 11 juta lembar tiap hari, untuk berdiskusi dengan Profesor Huntington, bersama-sama dengan Chan Heng Chee (dulu Direktur Lembaga Kajian Asia-Tenggara di Singapura dan sekarang Dubes negeri itu untuk Amerika Serikat) dan Profesor Aoki dari Universitas Osaka. Dalam diskusi di Tokyo itu, penulis menyatakan kenyataan yang terjadi justru bertentangan dengan teori “perbenturan budaya” yang dikemukakan Huntington. Justru sebaliknya ratusan ribu warga muslimin dari seluruh dunia belajar ilmu pengetahuan dan teknologi di negeri-negeri Barat tiap tahunnya, yang berarti di kedua bidang itu kaum muslim saat ini tengah mengadopsi (mengambil) dari budaya Barat. ?

Nah, keyakinan agama Islam mengarahkan mereka agar menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mereka kembangkan dari negeri-negeri Barat untuk kepentingan kemanusiaan, bukannya untuk kepentingan diri sendiri. Pada waktunya nanti, sikap ini akan melahirkan kelebihan budaya Islam yang mungkin tidak dimiliki orang lain: “kebudayaan yang tetap berorientasi melestarikan perikemanusiaan, dan tetap melanjutkan misi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”. Kalau perlu harus kita tambahkan pelestarian akhlak yang sekarang merupakan kesulitan terbesar yang dihadapi umat manusia di masa depan, seperti terbukti dengan penyebaran AIDS di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri muslim.

?

?

*) Dikutip dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di harian Duta Masyarakat, 5 Juli 2003.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Kajian Islam Hari Santri 2018

Senin, 05 Februari 2018

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Judul: Piagam Perjuangan Kebangsaan

Editor : Abdul Mun’im DZ

Penerbit: Setjen PB NU-Hari Santri 2018, Jakarta Pusat

Cetakan: 2011

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Tebal: 147 hlm

Peresensi: Hairul Anam*)

Hari Santri 2018

Sejarah itu ubahnya mutiara terpendam di dasar lautan. Cahayanya tak bakal mampu berkilau dan melahirkan kekaguman bagi siapa pun, manakala tak ada yang mengangkatnya ke permukaan. Karena itu, menemukan sekaligus memeliharanya merupakan langkah bijak untuk dijadikan acuan dalam memberi penilaian. Dan pada waktu itu juga, sejarah akan menghadirkan dirinya dengan ragam pencerahan.

Hari Santri 2018

Pada aras itu, sejarah sepak terjang NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia, tampaknya masih belum diketahui banyak kalangan. Akibatnya, NU acap kali diidentikkan dengan organisasi yang hanya berkutat dengan ranah ibadah mahdhah. Bahkan, dituduh sebagai organisasi yang irasional, bid’ah, sinkretis, dan sebagainya.

Buku Piagam Perjuangan Kebangsaan ini hadir untuk mengabadikan segala ‘jasa-jasa’ perjuangan NU terhadap bangsa di bumi persada ini. Banyak peristiwa penting yang terekam kuat di dalamnya. Berbagai piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam bidang politik dan kebangsaan dapat dibaca jelas dalam buku tipis ini. Menariknya, dalam buku ini, hal itu disusun secara sistematis berdasarkan urutan tahun kejadian.

Dimulai dari Piagam Nahdlatul Wathon (1916). Dilatarbelakangi keprihatinan Kiai Wahab Chasbullah melihat kondisi bangsanya yang terbelakang karena terjajah, lahirlah usaha dari beliau untuk membangkitkan bangsa dengan membentuk organisasi pergerakan yang diberi nama Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan). Selanjutnya, organisasi ini merambah ke berbagai daerah di Indonesia.

Pada tahun 1918, diketuai oleh Syekh Hasyim Asy’ari dan disekretarisi oleh Kiai Wahab Chasbullah, dicetuskanlah Piagam Nahdlatut Tujjar. Organisasi yang concern pada wilayah dagang ini merupakan embrio dari NU. Melaluinyalah aspirasi warga NU dapat tersampaikan pada Raja Saudi tatkala digelar Komite Hejaz.

Mengenai Deklarasi Komite Hejaz (7 Mei 1928) yang fokus pada perjuangan kebebasan beragama, juga terabadikan dalam buku ini. Kala itu, kota Suci Mekah sebagai pusar peradaban Islam menjadi tempat belajar bagi Muslim dari seluruh dunia termasuk Indonesia. Munculnya gerakan Wahabi di Saudi Arabia berpengaruh langsung terhadap Islam di negeri ini. Pulangnya beberapa pelajar asal Sumatera Barat tahun 1808 yang terpengaruh Wahabi mulai menyiarkan ajaran ekstrem yang kemudian tumbuh gerakan Paderi, yang mengajarkan Islam puritan ke Indonesia. Kemudian berkobarlah perang Paderi (perang antar mazhab) dalam agama Islam. Tradisi Islam yang berusaha mengintegrasikan Islam dengan budaya Nusantara, mereka obrak-abrik dengan kekerasan. Dalam batas tertentu, hal itu dapat diredam dengan terbitnya Deklarasi Komite Hejaz. (hal. 30-35)

Mukadimah Qanun Asasi (1926), Piagam Indonesia sebagai Negara Bangsa (1936), Deklarasi Mabadi Khoiro Ummah (1939), Deklarasi Resolusi Jihad I (1945/46), Piagam Waliyul Amri (1954), dan Piagam Liga Muslimin Indonesia (1952) dapat ditemukan keasliannya dalam buku ini. Tidak hanya dicantumkan, tapi juga disertai dengan latar belakang piagam dan deklarasi tersebut ditorehkan.

Selain itu, masih ada Deklarasi Demokrasi Pancasila (1967), Piagam Hubungan Agama dengan Pancasila (1983), Deklarasi Khittah Nahdliyah (1984), Pedoman Berpolitik Warga NU (1989), Mufakat Demokrasi (1991), Piagam Perdamaian Dunia (2004), Maklumat Kebangsaan Nahdlatul Ulama (2006), dan yang terbaru ialah Maklumat Menyelamatkann NKRI (2011).

Harus diakui, keberhasilan NU dalam berperan serta memelihara keutuhan bangsa ini tidak terlepas dari sikap kebangsaan yang dipilihnya. Ia selalu mengedepankan sikap moderat dalam menyikapi masalah, dan terpenting ialah toleran terhadap ragam perbedaan. Hal inilah yang menjadi kekuatan utama yang naif manakala tidak diteladani oleh generasi muda Indonesia.

Secara akumulatif, Piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam buku ini penting diketahui sekaligus dipahami oleh semua kalangan. Ini adalah buku sejarah kebangsaan yang dilahirkan oleh organisasi yang sedari berdiri amat peduli terhadap keutuhan NKRI. Meminjam bahasa Abdul Mun’im DZ, mempelajari fakta historis itu bukan untuk membangun romantisme masa lalu, tetapi sebuah upaya menggali gudang peluru sebagai amunisi menggerakkan masa depan.

Akhirnya, buku ini mendesak dimiliki oleh siapapun. Warga Indonesia yang betul-betul punya kepedulian terhadap bumi pertiwi, rugi rasanya bila tak mengoleksi buku setebal 147 halaman ini. Saya merekomendasikan agar buku ini dijadikan rujukan oleh kalangan peneliti agar tidak bias dalam ‘membaca’ NU.

* Penggiat buku di Intitut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Cerita, Tegal Hari Santri 2018

Minggu, 21 Januari 2018

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid

Sukoharjo, Hari Santri 2018. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sukoharjo bersama Jam’iyyah Al-Qurra wa Al-Huffazh (JQH) Al-Wustha IAIN Surakarta mengadakan kerjasama dalam bidang sholawat dan kajian keislaman untuk memperingati maulid Rasul SAW.

Mereka menggelar sholawatan bersama di mushola Al-Ilham, Kartasura, Ahad (12/1) pagi.

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng JQH, IPNU-IPPNU Sukoharjo Rayakan Maulid

Sebelumnya Ketua PC IPPNU Sukoharjo dan Ketua IPPNU PAC Kartasura bersilaturahmi dengan JQH Al-Wustha, kata seorang pengurus JQH Asrul yang juga mahasiswa Fakultas Syariah, Rabu (15/1).

Hari Santri 2018

Keduanya mengajak JQH Al-Wustha mengisi acara rutinan Germas (Gerakan Remaja Pecinta Sholawat) yang dilaksanakan IPNU dan IPPNU Sukoharjo.

Bagi JQH Al-Wustha, kegiatan itu merupakan salah satu wujud pengabdian masyarakat “dalam rangka menjaga kearifan lokal. Tentunya bertujuan membangun ruang lingkup dakwah yang lebih luas,” terang Asrul.

Hari Santri 2018

Sementara itu Ketua IPPNU PC Sukoharjo Fitria Ayu Luthfi mengharapkan kegiatan ini bisa menjadi batu loncatan bagi IPPNU yang beberapa tahun lalu “mati suri”. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Makam, Kajian Islam, Cerita Hari Santri 2018

Rabu, 17 Januari 2018

Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas

Jakarta, Hari Santri 2018. Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menolak upaya pemerintah yang akan melakukan sosialisasi pengaturan menstruasi (menstrual regulation/MR) pada para remaja. Meski sosialisasi itu dilakukan untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, upaya itu bisa mendorong berkembangnya budaya seks bebas.

“Kalau disampaikan, ya pada orang yang sudah berkeluarga, pada selected person (orang-orang tertentu, Red) atau selected area (kondisi lingkungan tertentu, Red). Tapi kalau diseminarkan, lebih banyak orang yang mungkin memahaminya secara luas daripada orang yang memahaminya secara proporsional,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa kepada Hari Santri 2018 di Jakarta, Senin (2/4).

Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosialisasi Pengaturan Menstruasi Dorong Seks Bebas

MR adalah sebuah tindakan untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dengan pemberian obat tertentu sehingga perempuan yang sudah telat masa menstruasinya bisa mendapatkan kembali haidnya.

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu berpendapat, sosialisasi dalam bentuk berbagai seminar dengan target kalangan remaja merupakan bentuk yang sangat halus dalam upaya mengembangkan pergaulan bebas di kalangan remaja. Selain MR, sejumlah lembaga swadaya masyarakat pendukungnya juga mengembangkan berbagai model pencegah kehamilan lainnya seperti penggunaan alat kontrasepsi darurat (morning pill) dan mendorong aborsi sebagai salah satu bentuk KB.

“Kalau itu disosialisasikan secara terus-menerus, gimana? Nanti kan timbul pandangan, Anda berzina tak apa-apa. Nanti kan bisa minum obat kalau sudah hamil.? Supaya kita bisa sama-sama menjaga, jangan sampai seks bebas itu akhirnya menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja,” papar Khofifah, begitu panggilan akrabnya.

Upaya pengesahan aborsi saat itu juga tengah getol diperjuangkan oleh sekelompok yang sama dalam revisi Undang-undang (UU) Kesehatan. Dalam UU itu, aborsi boleh dilakukan dengan syarat yang berat, yakni jika kandungan mengganggu nyawa ibu dan jelas di situ ada suami. Pelanggaran bisa dikenai denda Rp 500 juta.

Hari Santri 2018

“Kalau alasannya daripada bunuh diri, kan repot. Daripada mereka melakukan aborsi yang tidak aman karena kehamilan yang tidak diinginkan? Akar masalahnya kan bukan di situ, tapi seks bebas itu. Ini disebabkan aturan-aturan mengenai pornografi, pornoaksi, ini yang belum kita tata,” terang Khofifah.

Karena keprihatinan itu, Muslimat NU mendesak pemerintah agar segera menyelesaikan pembahasan Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi. Muslimat NU juga memberikan pembekalan kepada para juru dakwah agar mendapatkan informasi yang proporsional sehingga ketika mereka ketemu dengan tokoh masyarakat, bisa menjawab.

“Jangan malu mendukung RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi karena dianggap konservatif,” tandasnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Cerita, Tokoh, Warta Hari Santri 2018

Rabu, 03 Januari 2018

Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat

Lampung Utara, Hari Santri 2018. Inna lilahi wa inna ilahi rajiun. Rais Syuriah PCNU Lampung Utara KH Imam Muhyidin wafat sekitar pukul 06.00 WIB, Jumat (25/9) pagi. Pimpinan pesantren Minhajul Huda Cempaka Sungkai Jaya, Kotabumi Lampung Utara itu meninggal karena sakit.

Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah NU Lampung Utara Wafat

"Beliau juga tercatat sebagai Ketua Badan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Lampung,” ujar SekretarisGP Ansor setempat Hidrikal Mukrom di Kotabumi.

Menurut Hidrikal, aktivis PMII bisa meneladani sejumlah perilaku terpuji almarhum. Almarhum juga dekat dengan anak-anak PMII setempat.

Hari Santri 2018

“Kiai Imam adalah alumni PMII yang termasuk kiai sepuh di pesantren Darul Kair selain KH Abdul Syukur Syah pimpinan pesantren setempat," katanya lagi.

Hari Santri 2018

Ucapan belasungkawa atas wafatnya Majelis Pembina PMII Lampung Utara itu disampaikan sejumlah kolega termasuk Ketua PCNU Waykanan KH Nur Huda. Allahummaghfir lahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu. Semoga almarhum khusnul khotimah. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Cerita, Meme Islam Hari Santri 2018

Sabtu, 30 Desember 2017

Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana

Sumenep, Hari Santri 2018. Kegiatan rutinitas bulanan Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) tetap terlaksana walaupun dengan peserta terbatas di kediaman Masduqi, Kaduara Timur, (07/04).?

Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana

Kegiatan itu, dihadiri oleh delapan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pragaan meliputi, Sulthan, Harir, Qudsi, Imam Ghazali, Imam Arifin, Alfin dan Masduqi.?

Faktor ketidakhadiran pengurus PAC Gerakan Pemuda (GP) Ansor pada acara tersebut, dikarenakan tergendala hujan.

Ketua PAC GP. Ansor Pragaan Muh. Qudsi mengatakan, terbatasnya pengurus yang hadir Pada kegiatan rutinitas bulanan Rijalul Ansor tergendala hujan.

Hari Santri 2018

"Kalau cuaca hari ini normal tidak hujan pasti semua pengurus PAC GP. Ansor akan hadir semua," ujar Qudsi.

Sedangkan agenda yang berlangsung dalam kegiatan Rija Ansor tidak jauh berbeda dari sebelumnya. yaitu, bertawassul kapada ? Rasulullah, membaca surah yasin, tahlil dan Shalawat Nariyah secara bersama-sama.

Kemudian setelah itu, dilanjutkan dengan musyawarah tentang agenda hari ulang tahun (harlah) ke-83 Ansor, yang dipimpin langsung oleh ketua Harlah, Moh. Zain.

Setelah musyawarah selesai, Qudsi, kembali menghaturkan ucapan minta maaf kepada tuan rumah, Masduqi.

"Sebelum acara ini diakhiri, saya selaku ketua PAC GP. Ansor Pragaan mohon maaf sebab pengurus yang datang hanya delapan orang," tuturnya.

Hari Santri 2018

Sebaliknya, Masduqi juga turut menyampaikan perihal sedikitnya pengurus yang hadir.?

"Saya juga ucapkan banyak terima kasih kepada sehabat-sehabat pengurus PAC GP. Ansor yang telah hadir. Selebihnya salam saya kepada pengurus PAC GP. Ansor yang tidak sempat hadir," tukasnya. (Zainal Arifin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Cerita Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock