Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba

Purwrejo, NU online

Menggunakan momentum Masa Kesetian Anggota dan Kemah Pelajar, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menggelar deklarasi memerangi narkoba. Deklarasi tersebut diikuti oleh sekitar 250 pelajar NU se-Kecamatan Bener.

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba

Ketua PC IPNU Kecamatan Bener Muhammad Shofiyudin mengatakan, deklarasi tersebut merupakan sebuah komitmen awal IPNU-IPPNU di tingkatan pelajar untuk melawan narkoba. “Pelajar NU jangan sampai pasif terhadap pelbagai persoalan di kalangan pelajar, harus menjadi yang terdepan,” ungkapnya.

Setelah deklarasi yang berlangsung Sabtu (1/10) di Aula SMK Ma’arif NU Bener itu, diselenggarakan Seminar Anti Narkoba yang diisi oleh Kapolsek Bener AKP Kitfirul Aziz. “Kita kumpulkan semua perwakilan pelajar se-Kecamatan Bener baik dari sekolah negeri maupun swasta untuk bersama-sama menyatukan barisan,” imbuhnya.

Hari Santri 2018

Menurut AKP Kitfirul Aziz, NU beserta banom-banomnya telah terbukti dalam berperan aktif dalam membangun masyarakat.

Hari Santri 2018

“Badan otonom NU selalu terlibat dalam membangun spiritual dan sosial masyarakat, termasuk narkoba. Maka saya harapkan, rekan-rekan dari IPNU-IPPNU meneruskan semangat positif tersebut,” pungkasnya. (Ahmad Nasuhan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Minggu, 18 Februari 2018

Lomba Mewarnai dan Berbagi Alat Tulis di Surakarta Meriahkan Harlah PMII

Solo, Hari Santri 2018 - Momentum Hari Lahir (Harlah) Ke-56 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dirayakan oleh para kader PMII Kentingan UNS Surakarta. Mereka mengadakan kegiatan bakti sosial (baksos) dan lomba mewarnai di Taman Cerdas Jebres, Surakarta, Ahad (17/4).

“Sumbangan berupa alat tulis, iqro’, dan buku panduan shalat. Kita serahkan bantuan kepada anak-anak di lingkungan sekitar kampus,” terang Ketua PMII Kentingan Tsaniananda.

Lomba Mewarnai dan Berbagi Alat Tulis di Surakarta Meriahkan Harlah PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Mewarnai dan Berbagi Alat Tulis di Surakarta Meriahkan Harlah PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Mewarnai dan Berbagi Alat Tulis di Surakarta Meriahkan Harlah PMII

Ninda menambahkan, aksi sosial ini merupakan media untuk lebih mendekatkan diri PMII dengan masyarakat khususnya anak-anak yang kelak menjadi generasi penerus bangsa.

“Kita rasakan keresahan di kampus. Salah satunya semakin kentaranya pendewasaan dini pada anak-anak. Kami di PMII ingin merespon hal tersebut,” ujarnya.

Hari Santri 2018

Dalam momen harlah ini PMII Kentingan juga mengadakan acara lomba mewarnai, khataman Al-Qur’an, outbond, dan refleksi.

Hari Santri 2018

Ia berharap ke depan PMII menjadi lebih berjaya. “Harapan kami untuk PMII di momentum Harlah ke-56 ini semoga bisa menambah peran dan memperkuat semangat juang PMII yang telah dirintis para pendahulu,” ucap Vika, salah satu aktivis PMII Kentingan. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul, Pemurnian Aqidah, Santri Hari Santri 2018

Rabu, 07 Februari 2018

PKL PMII Makassar Akan Hadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal

Makassar, Hari Santri 2018. Pelatihan Kader Lanjut (PKL) Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Makassar, Sulawesi Selatan akan menghadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal yang juga mantan Wakil Menteri Agama Prof. KH Nasaruddin Umar.

Ketua PC PMII Kota Makassar Muhammad Basri L menjelaskan, Mustasyar PBNU tersebut hadir sebagai narasumber yang akan menjelaskan detail konsep Islam Rahmatan lil Alamiin.

PKL PMII Makassar Akan Hadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)
PKL PMII Makassar Akan Hadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)

PKL PMII Makassar Akan Hadirkan Imam Besar Masjid Istiqlal

"Maraknya aliran-aliran saat ini bisa berekses buruk terhadap negara. Apalagi jika ujungnya kekerasan dan disintegarasi. PMII Sulsel khususnya Makassar akan menggali kembali konsep dasar Islam Rahmatan lil Alamiin. Sehingga kita bisa memahami Islam yang sebenarnya," katanya, Senin (19/9).

Hari Santri 2018

PKL dijadwalkan berlangsung 23-29 September di Gedung BLKI, Makassar. Ditambahkan Basri, sapaan akrabnya, peserta PKL merupakan utusan cabang PMII Se-Sulsel, bahkan menurutnya sudah ada peserta dari utusan Kaltim.

Selain materi tentang keislaman, forum PKL juga akan membedah tentang kepemimpinan, advokasi, ideologi, termasuk pemetaan peta sosial, ekonomi, politik domestik dan internasional.

Hari Santri 2018

Harapannya dari PKL ini agar kader-kader PMII ketika kembali ke wilayahnya masing-masing bisa menentukan spesialisasi dalam gerakannya di masyarakat, sesuai dengan kebutuhan daerahnya, ujar Basri yang merupakan kader PMII dari Rayon Fakultas Ekonomi Komisariat Universitas Muslim Indonesia (UMI).

"Kader PMII harus berdaptasi dengan perubahan zaman yang tidak bisa dibendung lagi. Salah satu caranya dengan menguatkan pondasi keilmuan dan pengetahuan kader."

PKL merupakan jenjang kaderisasi formal organisasi kemahasiswaan yang punya hubungan historis dengan Nahdlatul Ulama (NU). (Aras Prabowo/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah Hari Santri 2018

Senin, 05 Februari 2018

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Judul: Piagam Perjuangan Kebangsaan

Editor : Abdul Mun’im DZ

Penerbit: Setjen PB NU-Hari Santri 2018, Jakarta Pusat

Cetakan: 2011

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabadikan Sejarah Perjuangan Kebangsaan

Tebal: 147 hlm

Peresensi: Hairul Anam*)

Hari Santri 2018

Sejarah itu ubahnya mutiara terpendam di dasar lautan. Cahayanya tak bakal mampu berkilau dan melahirkan kekaguman bagi siapa pun, manakala tak ada yang mengangkatnya ke permukaan. Karena itu, menemukan sekaligus memeliharanya merupakan langkah bijak untuk dijadikan acuan dalam memberi penilaian. Dan pada waktu itu juga, sejarah akan menghadirkan dirinya dengan ragam pencerahan.

Hari Santri 2018

Pada aras itu, sejarah sepak terjang NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia, tampaknya masih belum diketahui banyak kalangan. Akibatnya, NU acap kali diidentikkan dengan organisasi yang hanya berkutat dengan ranah ibadah mahdhah. Bahkan, dituduh sebagai organisasi yang irasional, bid’ah, sinkretis, dan sebagainya.

Buku Piagam Perjuangan Kebangsaan ini hadir untuk mengabadikan segala ‘jasa-jasa’ perjuangan NU terhadap bangsa di bumi persada ini. Banyak peristiwa penting yang terekam kuat di dalamnya. Berbagai piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam bidang politik dan kebangsaan dapat dibaca jelas dalam buku tipis ini. Menariknya, dalam buku ini, hal itu disusun secara sistematis berdasarkan urutan tahun kejadian.

Dimulai dari Piagam Nahdlatul Wathon (1916). Dilatarbelakangi keprihatinan Kiai Wahab Chasbullah melihat kondisi bangsanya yang terbelakang karena terjajah, lahirlah usaha dari beliau untuk membangkitkan bangsa dengan membentuk organisasi pergerakan yang diberi nama Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan). Selanjutnya, organisasi ini merambah ke berbagai daerah di Indonesia.

Pada tahun 1918, diketuai oleh Syekh Hasyim Asy’ari dan disekretarisi oleh Kiai Wahab Chasbullah, dicetuskanlah Piagam Nahdlatut Tujjar. Organisasi yang concern pada wilayah dagang ini merupakan embrio dari NU. Melaluinyalah aspirasi warga NU dapat tersampaikan pada Raja Saudi tatkala digelar Komite Hejaz.

Mengenai Deklarasi Komite Hejaz (7 Mei 1928) yang fokus pada perjuangan kebebasan beragama, juga terabadikan dalam buku ini. Kala itu, kota Suci Mekah sebagai pusar peradaban Islam menjadi tempat belajar bagi Muslim dari seluruh dunia termasuk Indonesia. Munculnya gerakan Wahabi di Saudi Arabia berpengaruh langsung terhadap Islam di negeri ini. Pulangnya beberapa pelajar asal Sumatera Barat tahun 1808 yang terpengaruh Wahabi mulai menyiarkan ajaran ekstrem yang kemudian tumbuh gerakan Paderi, yang mengajarkan Islam puritan ke Indonesia. Kemudian berkobarlah perang Paderi (perang antar mazhab) dalam agama Islam. Tradisi Islam yang berusaha mengintegrasikan Islam dengan budaya Nusantara, mereka obrak-abrik dengan kekerasan. Dalam batas tertentu, hal itu dapat diredam dengan terbitnya Deklarasi Komite Hejaz. (hal. 30-35)

Mukadimah Qanun Asasi (1926), Piagam Indonesia sebagai Negara Bangsa (1936), Deklarasi Mabadi Khoiro Ummah (1939), Deklarasi Resolusi Jihad I (1945/46), Piagam Waliyul Amri (1954), dan Piagam Liga Muslimin Indonesia (1952) dapat ditemukan keasliannya dalam buku ini. Tidak hanya dicantumkan, tapi juga disertai dengan latar belakang piagam dan deklarasi tersebut ditorehkan.

Selain itu, masih ada Deklarasi Demokrasi Pancasila (1967), Piagam Hubungan Agama dengan Pancasila (1983), Deklarasi Khittah Nahdliyah (1984), Pedoman Berpolitik Warga NU (1989), Mufakat Demokrasi (1991), Piagam Perdamaian Dunia (2004), Maklumat Kebangsaan Nahdlatul Ulama (2006), dan yang terbaru ialah Maklumat Menyelamatkann NKRI (2011).

Harus diakui, keberhasilan NU dalam berperan serta memelihara keutuhan bangsa ini tidak terlepas dari sikap kebangsaan yang dipilihnya. Ia selalu mengedepankan sikap moderat dalam menyikapi masalah, dan terpenting ialah toleran terhadap ragam perbedaan. Hal inilah yang menjadi kekuatan utama yang naif manakala tidak diteladani oleh generasi muda Indonesia.

Secara akumulatif, Piagam dan deklarasi perjuangan NU dalam buku ini penting diketahui sekaligus dipahami oleh semua kalangan. Ini adalah buku sejarah kebangsaan yang dilahirkan oleh organisasi yang sedari berdiri amat peduli terhadap keutuhan NKRI. Meminjam bahasa Abdul Mun’im DZ, mempelajari fakta historis itu bukan untuk membangun romantisme masa lalu, tetapi sebuah upaya menggali gudang peluru sebagai amunisi menggerakkan masa depan.

Akhirnya, buku ini mendesak dimiliki oleh siapapun. Warga Indonesia yang betul-betul punya kepedulian terhadap bumi pertiwi, rugi rasanya bila tak mengoleksi buku setebal 147 halaman ini. Saya merekomendasikan agar buku ini dijadikan rujukan oleh kalangan peneliti agar tidak bias dalam ‘membaca’ NU.

* Penggiat buku di Intitut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Cerita, Tegal Hari Santri 2018

Rabu, 31 Januari 2018

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi

Ponorogo, Hari Santri 2018

Siapa yang tak ingin menjadi pelajar berprestasi namun juga pandai dalam berorganisasi. Jawabannya pasti mereka memimpikan keduanya. Sebab pelajar yang aktif dalam organisasi akan lebih unggul dari segi wawasan dan akademis?

Hal inilah yang menjadi dasar puluhan pelajar NU dan perwakilan pengurus OSIS dari sekolah di Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mengikuti training motivasi belajar bertema ‘Berorganisasi tetap Berprestasi’ yang digelar oleh Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU Desa Karangjoho, Kecamatan Badegan, Ponorogo, Jawa Timur akhir pekan lalu.

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi

Ketua IPNU Karangjoho, Dimas Saputra mengatakan, para pelajar yang terjun dalam sebuah organisasi tidak boleh mengesampingkan tugas utamanya sebagai seorang pelajar, yakni mempelajari dan mendalami berbagai disiplin ilmu di sekolah. ”Kami sengaja menggelar kegiatan semacam ini, dengan tujuan memberikan motivasi kepada pelajar, bahwa dalam kita berorganisasi bukanlah menjadi penghalang untuk tetap berprestasi,” katanya di balai desa Karangjoho.

Dimas mengajak kepada anggota IPNU-IPPNU untuk pandai membagi waktu belajar dengan waktu berorganisasi. Jangan sampai prestasi belajar di sekolah tertinggal jauh karena terlalu sibuk berorganisasi. ”Mari kita pegang prinsip belajar diutamakan, organisasi dinomersatukan, akademis oke, organisasi oke,” ujarnya.

Hari Santri 2018

Sementara itu, Ali Fahruddin pembina IPNU-IPPNU Karangjoho sangat mengapresiasi kegiatan motivasi belajar semacam ini. Kesadaran pelajar NU untuk terus berprestasi harus dipupuk sejak dini. Agar kelak kader-kader NU dapat lebih berperan dalam membangun bangsa dan negaranya.?

“Apalagi di era seperti sekarang ini, pelajar NU haruslah bisa menjadi contoh, sebagai kalangan pelajar yang memang terpelajar, bukan malah menjadi pelajar yang kurang belajar,” tandasnya.

Hari Santri 2018

Materi motivasi belajar ini disampaikan oleh Qurrota A’yun, lulusan terbaik jurusan matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). A’yun memberikan kiat-kiat khusus agar para pelajar memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Kiat ini berdasarkan pengalaman pribadinya yang pernah berkecimpung dalam kepenguruasan IPPNU Ponorogo hingga dapat mengantarkanya mengikuti pertukaran pelajar di Korea Selatan.

Berdasarkan pengalaman inilah diharapkan para pelajar NU Ponorogo dapat terinspirasi dan bisa termotivasi untuk giat belajar dan giat berorganisasi. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Santri, Pemurnian Aqidah, Nasional Hari Santri 2018

Senin, 29 Januari 2018

Raghbah

Oleh Kuswaidi Syafiie

Termasuk yang didedahkan oleh Allah SWT dalam kitab suci Taurat pada lempengan keenam, Lawh al-Ubudiyyah, adalah pelajaran ruhani tentang raghbah: suatu kegandrungan diri terhadap kemilau hati ketimbang terhadap tabiat yang buruk. Kebaikan-kebaikan merupakan obyek sekaligus orientasi raghbah.

Menurut Syaikh Muhyiddin Ibn Arabi (1165-1240) dalam kitab Ishthilahat ash-Shufiyyah halaman 292, raghbah itu terbagi menjadi tiga sesuai dengan hirarki konponen-komponen spiritual dalam diri manusia. Pertama, kegandrungan nafsu terhadap pahala-pahala.

Allah SWT sengaja menciptakan nafsu yang merupakan sumber meletupnya keinginan dalam diri manusia. Inilah ujian terbesar. Karena obyek dari keinginan itu tidak saja segala hal yang baik dan terpuji, tapi juga berbagai macam hal yang bangat, picisan dan sia-sia. Sehingga tidaklah mengherankan kalau di antara manusia banyak sekali yang lebih cenderung kepada segala sesuatu yang lain dibandingkan terhadap Allah SWT.

Ketika keinginan-keinginan nafsu itu sudah tersaring dan mengerucut kepada yang baik-baik saja, maka yang diincar dan menjadi tumpuan pokoknya adalah pahala-pahala. Itulah sebabnya kita kemudian menjadi paham kenapa Allah SWT seringkali mengungkapkan logika untung-rugi bagi orang-orang yang kesadaran religiusnya masih berada pada tingkatan nafsu.

Raghbah (Sumber Gambar : Nu Online)
Raghbah (Sumber Gambar : Nu Online)

Raghbah

Islam berbicara tentang pahala-pahala yang berlipat-lipat dari suatu amal kebaikan yang dikerjakan oleh seseorang, berbicara tentang kenikmatan-kenikmatan di alam kubur, berbicara tentang surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, berbicara tentang perhiasan-perhiasan surgawi yang menyenangkan mata, berbicara tentang makanan dan minuman yang lezat-lezat, berbicara tentang bidadari-bidadari teramat cantik yang dupingit di kemah-kemah: semua wujud kemurahan Allah SWT itu diwartakan untuk membuat semangat nafsu manusia mengerjakan kebaikan demi kebaikan.

Kedua, kegandrungan hati pada hakikat. Tingkatan hati ini tentu saja berada di atas tingkatan nafsu. Hati yang nyalang dan bersih dari pamrih-pamrih duniawi dan imbalan-imbalan ukhrawi sekaligus akan senantiasa merasakan nikmat berkonsentrasi terhadap rububiyyah atau peran-peran Allah SWT pada setiap gerakan dan perkembangan semua ciptaan-Nya.

Sudah dapat dipastikan bahwa sarana yang dipakai untuk suntuk menyaksikan peran-peran-Nya pada segala sesuatu tak lain adalah bashirah atau matan batin. Tidak mungkin mata kepala semata. Sebab yang didapatkannya pastilah hanyalah rupa, warna dan bentuk. Sementara mata batin sanggup menangkap makna keagungan dan kehadiran-Nya.

Hari Santri 2018

Yang biasanya pertama kali disaksikan oleh seorang salik adalah bergesernya sifat-sifat yang dimilikinya sendiri karena didesak oleh kehadiran sifat-sifat Allah SWT. Betapa sangat gamblang di kejernihan bashirahnya bahwa Tuhan semesta alam itu telah melakukan pembimbingan terhadap dirinya untuk menempuh proses-proses yang akan menyebabkan si salik itu terdorong untuk semakin mendekat pada hadirat-Nya.

Setelah sempurna hinggap pada diri si salik, peran-peran ketuhanan itu kemudian disaksikan bertengger pada segala sesuatu. Tidak ada apapun di dunia ini dengan semua isinya kecuali peran-peran ketuhanan juga bertaha di situ. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehadiran peran-Nyalah yang menjadikan semua yang ada mengalami wujud sekaligus eksis.

Maka wajar kemudian kalau pada kedudukan spiritual ini seorang salik semakin semangat menabung potensi demi potensi ruhani untuk mempersiapkan diri menyongsong dimensi kewalian yang sempurna. Dengan getar-getar spiritualnya yang paling sublim, si salik lalu mempertegas dirinya berpaling dari segala sesuatu selain hadirat-Nya.

Ketiga, kegandrungan batin (sirr) pada Allah al-Haqq. Kerja sirr itu mukalamah atau berbincang-bincang dengan hadirat-Nya. Berarti ketika seseorang telah sampai pada kedudukan raghbah tertinggi ini, maka dapat dipastikan bahwa dia akan diangkat oleh Allah SWT sebagai teman dialog yang dalam terminologi sufismenya dikenal dengan sebutan nadim yang secara harfiah berarti kawan minum.

Hari Santri 2018

Dalam konteks rasionalisme religius dapat kita afirmasi dengan sangat meyakinkan kenapa seseorang yang telah mencapai kedudukan spiritual ini mesti senantiasa gandrung kepada Allah SWT semata. Bukan kepada pahala-pahala. Bukan pula kepada hakikat segala sesuatu.

Saya kira jawabannya merupakan suatu keniscayaan bahwa ketika seorang salik telah diperkenankan untuk berbincang-bincang dengan Allah SWT, berarti dia sudah dianugerahi kesempatan yang luas untuk senantiasa tertegun memandang keindahan wajah-Nya yang menjadikan sepele seluruh keindahan yang lain.

Sejak saat itulah si salik itu akan senantiasa terfokus dan tersedot kepada hadirat-Nya belaka. Pengembaraan spiritual sudah "rampung." telah dia terobos hutan dunia dengan segala kenikmatan-Nya. Telah dia lampaui akhirat dengan segala kemegahannya. Telah dia genggam apapun yang selain-Nya. Hidupnya bernilai Allah SWT semata. Wallahu alamu bish-shawab.

?

Kuswaidi Syafiie adalah penyair, juga pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pemurnian Aqidah, Olahraga Hari Santri 2018

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

Jombang, Hari Santri 2018 - Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) Jombang, Jawa Timur bersama Ikatan Remaja Muslim (Ikram) berkomitmen untuk menguatkan Islam yang menebar kasih sayang kepada semua (rahmatan lil ‘alamin).

Hal itu tercermin dari penyelenggaraan acara Muhasabah Tahun Baru 1438 H dengan tema “Mewujudkan Karakter Remaja Muslim dengan Spirit Islam rahmatan lil Alamin” di Islamic Center Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, Ahad pagi (30/10). Kegiatan diiringi dengan iringan shalawat al-Banjari.

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

?

"Acara ini dimaksudkan agar para siswa didampingi pemahaman Islam yang mainstream, yaitu Islam yang ramah dan moderat dan terlindungi dari sementara kalangan Muslim yang ekstrem," ujar Ketua MGMP PAI Jombang, Shalahuddin.

Direktur Aswaja NU Center Jombang Yusuf Suharto mengatakan bahwa muhasabah atau introspeksi diri adalah sebuah keniscayaan.

Hari Santri 2018

"Kita muhasabah dalam banyak kesempatan antara lain, di Ramadhan, di Syawal, dan di bulan Muharram. Muharram adalah bulan pertama dalam hitungan tahun hijriah. Momentum Muharram sebagai bulan introspeksi adalah tepat karena bulan ini adalah awal bulan tahun hijriah, dan bulan yang setelah bulan haji di mana banyak berkumpul kaum muslimin dari seluruh dunia untuk ibadah haji," ujarnya di hadapan para siswa, dan guru MGMP PAI se-Jombang.

Hari Santri 2018

?

Menurutnya, tahun baru Islam ini disebut dengan hijriah karena ditandai dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Hijrah ini adalah gerakan nyata yang perlu dicatat sejarah. Hijrah Nabi disepakati sebagai penanda penting kalender Islam pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab.

"Di antara yang dilakukan Rasulullah adalah beliau membuat Mitsaq Madinah atau Piagam Madinah, dan itu mengikat tidak hanya kepada masyarakat Madinah yang muslim, tapi juga nonmuslim. Inilah penghargaan kemajemukan yang dicontohkan Rasulullah," kata pengurus Dewan Pendidikan Jombang ini.

Yusuf juga mengatakan, NKRI adalah bentuk perjanjian bersama antarmasyarakat Indonesia yang majemuk. “Islam rahmatan lil alamin dalam konteks berbangsa dengan demikian adalah Islam yang merahmati tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi bahkan kepada seluruh masyarakat Indonesia," imbuhnya.

Ia mengingatkan bahwa semangat cinta tanah air sudah diajarkan oleh para ulama Nusantara, antara lain oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, dan gubahan lagu Ahlal Wathan pada 1934.

“Karakter Islam Nusantara adalah karakter Islam yang moderat. Mari kita menjadi bagian dari Muslim negeri ini, dengan prinsip Islam yang rahmat, Islam yang lembut pada tempatnya dan tegas pada tempatnya," pungkas dosen Aswaja Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto Jatim ini. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Kajian Islam, Pemurnian Aqidah, Khutbah Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock