Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Santrinya dari Mancanegara, Kiai Asep Jelaskan Kitab dengan Tiga Bahasa

Mojokerto, Hari Santri 2018 - Adalah kebiasaan KH Asep Saefuddin Chalim, Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah sehabis memimpin shlat shubuh berjamaah di masjid pesantren lalu mengasuh pengajian kitab Mukhtarul Ahadits an-Nabawiyah yang disusun Sayyid Ahmad Al-Hasyimy. Yang unik, kitab ini dikaji dengan memakai tiga bahasa, yaitu Arab, Inggris, dan Indonesia.

Mengapa demikina? Karena yang mendengarkan tidak hanya santri Amanatul Ummah yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indoensia, tetapi juga santri dari luar negeri semacam Kazakhstan, China, Malaysia, dan Thailand.

Santrinya dari Mancanegara, Kiai Asep Jelaskan Kitab dengan Tiga Bahasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Santrinya dari Mancanegara, Kiai Asep Jelaskan Kitab dengan Tiga Bahasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Santrinya dari Mancanegara, Kiai Asep Jelaskan Kitab dengan Tiga Bahasa

Para santri dari mancanegara ini adalah santri yang kuliah di kampus Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto. Mereka sekaligus menjadi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari kampus yang masih berusia kurang dari dua tahun ini.

Hari Santri 2018

Pada Sabtu (28/1) pagi, misalnya, Kiai Asep membacakan hadits ke-503 di halaman 64 dalam kitab tersebut. Hadits ini mengulas tentang tiga orang yang di hari kiamat tidak dipandang dan tidak disucikan oleh Allah. Hadits ini semula diartikan dalam bahasa Indoensia, kemudian diartikan dan dijelaskan maksudnya lagi dalam bahasa Inggris, dan bahasa Arab.

Di antara golong yang merugi tersebut adalah seseorang yang memiliki kelebihan air namun tak memberikannya kepada ibnu sabil (orang dalam perjalanan), dan orang yang berbaiat atau melakukan sumpah setia kepada pemimpin hanya untuk kepentingan duniawi.

Hari Santri 2018

"Sekarang ini sudah terjadi," kata kiai yang kini menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) ini di hadapan para santri yang memadati masjid pesantren.

?

Abdur Rijal, salah seorang mahasiswa di kampus setempat mengaku senang dengan cara yang digunakan Kiai Asep dalam forum pengajian. "Ini pengajian yang luar biasa karena sekaligus dengan pengajian ini saya juga belajar tiga bahasa," ujar mahasiswa asal Papua yang kerap dimintai tampil dalam tilawatil qur’an ini. (Yusuf Suharto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Sholawat Hari Santri 2018

Sabtu, 24 Februari 2018

Mbah Sholeh Darat, Sang Ghazali Kecil dari Semarang

Oleh Nur Ahmad

Martin van Bruinessen menyebutkan bahwa di kalangan para kiai muda sezamannya, Kiai Soleh Darat Semarang (1830-1903 M) terkenal dengan julukan Al-Ghaz?l? As-?hag?r (Imam Al-Ghazzali Kecil), (Lihat Bruinessen, “Saleh Darat,” dalam Dictionnaire Biographique Des Savants et Grandes Figures Du Monde Musulman Périphérique, Du XIXe Siècle À Nos Jours, ed. Marc Gaborieau et al., vol. 2 (Paris: CNRS-EHESS 1998: 25-26.) Menurut penulis, yang telah meneliti karya-karyanya untuk studi skripsi dan tesis, hal ini adalah “wajar” baginya. Sebagaimana telah dilakukan Imam Al-Ghazali (w 505 H), Kiai Soleh menekankan aspek ketunggalan yang tak terpisahkan antara syariah dan tarekat di dalam menjalankan Islam.

Selain itu, Imam Al-Ghazali selalu menjadi rujukan utama dalam seluruh karya Pegon Kiai Soleh. Lalu, faktor-faktor apa yang melahirkan ide penyatuan antara dimensi syariah (ritual) dan tarekat (mistik)?

Mbah Sholeh Darat, Sang Ghazali Kecil dari Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Sholeh Darat, Sang Ghazali Kecil dari Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Sholeh Darat, Sang Ghazali Kecil dari Semarang

Kiai Soleh mengindikasikan bahwa ia menyadari debat yang terjadi antara kiai ahli syariah dan ahli tarekat di masanya. (Soleh As-Samarani, Sab?l Al-‘Ab?d: 210)  Di sana terlihat jelas ia berusaha kuat mencegah orang-orang di zamannya yang secara berlebihan mencerca (condemn) para penganut tarekat. (Soleh As-Samarani, Minh?jul Atqiy?’: 210). Meskipun begitu tidak ada catatan bahwa ia dibaiat (initiated) dalam salah satu tarekat. Bahkan walaupun jika secara lahirnya seorang guru tarekat itu bodoh hal-hal fikih, dalam hal mengajarkan praktik tarekat mereka mendapat legitimasi kuat karena telah menerima ajaran tersebut dari guru ke guru bersambung hingga Rasulullah SAW. Posisi ini berbeda dari koleganya di Mekkah, Kiai Nawawi Banten, yang digambarkan oleh salah satu disertasi dengan sikap netralnya terhadap organisasi tarekat. (Sri Mulyati, 1992: 38).

Hari Santri 2018

Faktor lain yang mendorong lahirnya sikap harmonisasi syariah-tarekat adalah usahanya untuk melindungi masyarakat awam dari kesesatan ajaran dari sebagian komunitas Jawa yang mengabaikan ajaran syariah dan mempelajari tarekat semata. Dalam konteks inilah kita membaca larangan Kiai Soleh terhadap masyarakat awam membaca suluk-suluk yang disusun oleh ahli tarekat-mistik Jawa, terutama yang mengajarkan untuk meninggalkan sembahyang wajib lima waktu. (Soleh As-Samarani, Majm?àt: 27). Ajaran ini juga dikhawatirkan Kiai Soleh mengantarkan seseorang memercayai bahwa jiwa mereka adalah Tuhan itu sendiri, salah satu pemahaman yang dinilai keliru dari wa?datul wuj?d. (Soleh As-Samarani, Majm?àt: 26).

Oleh sebab itu, beliau menilai penting sekali menjauhkan masyarakat awam dari mengkaji kitab-kitab wa?datul wuj?d, misalnya Tu?fatul Murs?lah and Al-Ins?nul Kam?l.  (Soleh As-Samarani, Majm?àt: 27). Tampaknya hal ini bukan karena isinya, karena ia tidak membicarakan konten, tapi dampaknya terhadap orang-orang awam. Dalam konteks ini ia berfatwa bahwa mencuri dan berzina jauh lebih baik daripada mengkaji yang diperuntukkan bagi para elit (khaww?) (Soleh As-Samarani, Majm?àt: 27) . Jika para awam keliru dalam memahami kitab-kitab itu, maka mereka bisa tersesat jauh di mana mereka yakin menuju yang kebenaran. Kerusakan akal! Sedangkan jika mereka terjerumus ke perzinahan atau pencurian, kekeliruan itu terjadi adalah di ranah kerusakan moral.

Hari Santri 2018

Faktor paling penting dari lahirnya tendensi ini adalah sederhana. Hakikat Islam itu mencakup bagian kulit (exterior) dan bagian dalam (interior). Bagian terdalam dari yang terdalam ini adalah haq?qah. Seluruhnya tidak dapat dipisahkan. Bagi Kiai Soleh mereka diibaratkan seperti perahu, lautan, dan mutiara yang menjadi simbol bagi hubungan antara Isl?m, ?m?n and I?s?n.   (Soleh As-Samarani, Minh?jul Atqiy?’: 43-45).

Konsep ini meniscayakan tingkatan makna dalam setiap ritual ibadah. Ambil sebagai contoh ajaran beliau tentang sembahyang. Selagi mendukung pentingnya aturan-aturan praktikal dalam shalat, Kiai Soleh menekankan agar orang yang shalat (mushalli) merefleksikan dirinya dalam setiap gerakan shalat. Soleh as-Samarani, Fa?latan (Singapore: Matba’ Haji Muhammad Amin, 1897). Lebih lanjut beliau mengajarkan bahwa sangat penting seseorang sebelum shalat berwudhu untuk mensucikan “kotoran” badan dan batin. (Soleh As-Samarani, La?’if al-?ah?rah wa Asr?r al-?al?h dan Fa?latan: 2).

Simpulannya adalah Kiai Soleh benar-benar sadar akan kondisi masyarakat awam di masa itu yang membutuhkan “ortodoksi” dalam melaksanakan ibadah. Ortodoksi ini bukan seperti yang dikesankan oleh sebagian peneliti muda bahwa ia dipengaruhi oleh Wahhabisme, tetapi ia dimotivasi oleh keterikatan erat dirinya dengan ajaran-ajaran Imam Al-Ghazali.

Ditambah lagi, ia juga didorong oleh kenyataan ajaran-ajaran yang menyimpang dari sebagian komunitas Jawa dalam memahami wa?datul wuj?d, yaitu dengan memutus tali rantai Isl?m, ?m?n and I?s?n. Kiai Soleh menekankan kembali bahwa ketiganya tidak terpisahkan satu sama lain.

*) Wakil Sekretaris PCINU Belanda. Kini ia tengah mengejar master di Vrije University Amsterdam dengan tesis Ajaran Tasawuf Kiai Soleh Darat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Humor Islam, Hadits Hari Santri 2018

Senin, 12 Februari 2018

MTQ Internasional Dubai Dibuka

Dubai, Hari Santri 2018. Sebanyak 85 peserta dari berbagai negara ikut serta dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), yang dibuka pada Rabu (19/9) petang.

Para peserta yang berusia di atas 21 tahun tersebut akan menghafal dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam musabaqah yang berlangsung selama dua pekan hingga 2 Oktober.

Ketua Panitia MTQ Ibrahim Bu Melha mengatakan para peserta tersebut antara lain berasal dari Inggris, Perancis, Kenya, Filipina, Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan.

MTQ Internasional Dubai Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)
MTQ Internasional Dubai Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)

MTQ Internasional Dubai Dibuka

Para pemenang disediakan hadiah uang sebesar 20 juta dirham, meningkat lima juta dirham dibanding MTQ tahun silam, tulis suratkabar Khalij Times.

Sementara itu, bersamaan dengan MTQ itu, diadakan pula seminar dengan pembicara dari kalangan cendekiawan Muslim dari berbagai negara.

Pakar tafsir Al-Qur’an dari Mesir, Syeikh Mohamed Hassan, juga menjadi narasumber dalam seminar itu bertema "Keajaiban Kitab Suci Al-Qur’an."

Hari Santri 2018

"Salah satu ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa kulit merupakan sensor kesakitan pertama di tubuh manusia. Belakangan, fakta ilmiah membenarkan hal itu," katanya.

Keajabian Al-Qur’an lainnya terlihat dari keutuhannya sejak diturunkannya lebih dari 14 abad silam.

Hari Santri 2018

"Tidak ada satu kata atau kalimat dalam Al-Qur’an pernah diganti, ditambah atau dihapus. Ia merupakan buku petunjuk bagi kehidupan umat manusia," katanya.

Terdapat fakta bahwa Al-Qur’an telah lama menjamin hak asasi manusia, katanya.(ant/IRNA/nur)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Budaya, Internasional Hari Santri 2018

Selasa, 30 Januari 2018

Shalat Jum’at di Daerah Terpencil

Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh. Ustadz yang dirahmati Allah. Seseorang yang berprofesi sebagai PNS di tempat terpencil dan mayoritas non muslim, bagaimanakah hukum shalat Jumatnya karena untuk mencapai masjid terdekat butuh waktu 12 jam. Apakah boleh diganti dengan shalat dhuhur? Muhammad (Irfan Efendi)

---

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

Saudara Muhammad Irfan Efendi yang dirahmati Allah.?

Shalat Jum’at di Daerah Terpencil (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Jum’at di Daerah Terpencil (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Jum’at di Daerah Terpencil

Shalat Jum’at merupakan keharusan yang wajib dilaksanakan bagi ahlinya. Dalam sebuah hadis yang dirwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasai dinyatakan bahwa barang siapa yang meninggalkan shalat jum’at tanpa udzur selama tiga kali berturut-turut ia telah ditutup pintu hatinya oleh Allah swt untuk melaksanakan kebaikan.

? ? ? ? ? ? ? ? ?. Sauadara penanya yang kami hormati.

Hari Santri 2018

Sebagaimana pembahasan sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan ahli Jum’at adalah? mereka yang telah memenuhi kriteria syarat wajib Jum’at yakni Islam, baligh, berakal, merdeka, pria,? dalam kondisi sehat, dan berdomisili tetap (istithan) di daerah yang telah sah mendirikan shalat Jum’at.? Dalam pandangan fiqih klasik, radius daerahnya adalah masih mendengar seruan adzan atau panggilan untuk shalat Jum’at (+/ 1,5 sampai dengan 2,5 KM). Bagi mereka yang telah memenuhi kriteria syarat wajib Jum’at ini? dihukumi fardhu ain untuk melaksanakannya.

Selanjutnya menanggapi pertanyaan saudara mengenai shalat Jum’at orang yang jauh dari tempat didirikannya pelaksanaan shalat Jum’at tersebut, kami berpandangan bahwa PNS tersebut tidak wajib shalat Jum’at dan harus shalat dhuhur karena syarat-syarat yang belum terpenuhi. Dalam kitab Kifayat al-Ahyar disebutkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: “Dikecualikan dari kategori istithan, mereka yang tidak berdomisili tetap seperti musafir dan yang lain. Maka tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi mereka seperti pula orang yang berdomisili di daerah/kawasan yang tidak mendengar seruan adzan dari daerah yang ? telah (sah) mendirikan Jum’at.”

Hari Santri 2018

Kasus semacam ini pula yang pernah dialami oleh Rasulullah saw saat diturunkan wahyu mengenai kewajiban Jum’at. Mengingat belum terpenuhinya syarat pendirian shalat jum’at, beliau belum dapat melaksanakannya, sementara kaum muslimin yang berada di Madinah telah melaksanakan kewajiban shalat Jum’at yang dipimpin oleh As’ad bin Zurarah sebagaimana diterangkan dalam kitab Fath al-Mu’in serta kitab-kitab yang lain.

Mudah-mudahan jawaban ini bermanfaaat. Amin .

(Maftukhan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2018

Senin, 22 Januari 2018

Buku Jaringan Al-Qaeda Dibedah di UIN Jakarta

Jakarta, Hari Santri 2018. Buku ? “Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya” karangan Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dibedah di kampus UIN Jakarta, Senin (26/1). Hadir dalam bedah buku itu sejumlah pakar dan pengamat terorisme antara lain Rumadi Ahmad, Cholil Nafis, Asep Kususanto, dan Zainul Milal Bizawi.

Buku Al Qaeda" itu antara lain mengungkapkan bahwa setelah Osama tewas pada Mei 2011, Al Qaeda tidak ikut hancur dan mati. Setelah kematian Osama kaum jihadis kini menemukan medan jihad baru di Syria, Iraq, dan kawasan Afrika. Bahkan telah lahir ISIS/ISIL (The Islamic State? of Iraq and the Levant).

Sekretaris Kajian Timur Tengah Pascasarjana Universitas Indonesia Cholil Nafis dalam bedah buku itu mengingatkan, penanganan terorisme di Indonesia dan dunia tidak cukup dengan menangkap dan mengadili para teroris. “Tidak cukup sekedar mengatasi teorisnya, tetapi juga yang terpenting adalah ‘isme’-nya,” katanya.

Buku Jaringan Al-Qaeda Dibedah di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Jaringan Al-Qaeda Dibedah di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Jaringan Al-Qaeda Dibedah di UIN Jakarta

Menurutnya, persolan “isme” atau ideologi yang mendorong orang untuk melakukan aksi teror itu yang perlu diatasi. Para pelaku teror dan pihak-pihak yang merekrut para calon ? ‘pengantin’ yang akan menjalankan aksi teror selalu mengaitkan aksi yang mereka lakukan dengan spirit agama Islam.

Dalam kesempatan itu ia menyesalkan tayangan penggerebekan kelompok teroris oleh pihak kepolisian yang disiarkan di stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Menurutnya, penggerebekan semacam itu tidak layak menjadi tontotan masyarakat,

Hari Santri 2018

“Lembaga penyiaran perlu memperhatikan mana yang layak ditayangkan dan mana yang tidak. Penayangan itu menyebabkan masyarakat menjadi imun. Masyarakat menganggap terorisme sebagai tontonan biasa,” kata Cholil yang juga Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hari Santri 2018

Dikatakan, MUI senantiasa mengingatkan kepada masyarakat bahwa ideologi Islam yang diusung oleh para teroris hanyalah merupakan alat pembenar untuk melakukan berbagai tindak kejahatan terorisme.

Dekan Fakultas Ushuludin UIN Jakarta Prof Dr Masri Mansoer saat memberikan pengantar mengatakan, diskusi buku “Al Qaeda” itu memberikan pesan kepada para mahasiswa untuk berhati-hati dalam memilih organisasi kemahasiswaan agar tidak terjebak dalam jaringan terorisme internasional. (Musthofa Asrori/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pahlawan, Hadits, Lomba Hari Santri 2018

Minggu, 07 Januari 2018

Warga Macau Terkesan dengan Kerukunan Bangsa Indonesia

Ramadhan ibarat tamu VVIP. Ia datang membawa harapan yang sedemikian besar serta kegembiraan baik secara sosial, material dan spiritual. Amalan yang biasa saja bisa bernilai tinggi seakan-akan terkesan pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya.

?

Warga Macau Terkesan dengan Kerukunan Bangsa Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Macau Terkesan dengan Kerukunan Bangsa Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Macau Terkesan dengan Kerukunan Bangsa Indonesia

Ini bagi yang memaknai hadis keutamaan Ramadhan secara majazi. Namun, buat seorang Muslim sedikit ridha Allah yang diraih itu jauh lebih besar nilainya ketimbang surga dan isinya.

Senin (5/6) siang, Nasir, yang biasa mengurusi masjid Macau meminta saya untuk adzan ashar.

?

"Your voice is very nice," katanya memuji setelah mendengar suara saya berceramah di hadapan ratusan BMI Macau. Padahal saya merasa suara saya biasa saja.

Hari Santri 2018

?

Waktu ashar di sini seharusnya pukul 15:40, namun di papan tulis terdapat pengumuman mengenai penyesuaian waktu shalat dengan jam kerja jamaah. Alhasil setelah berwudhu, saya langsung diserahi mic wireless untuk adzan pada pukul 17:10.

Saya sempat bertanya kepada Nasir apa pendapatnya tentang orang Indonesia? Kebetulan ia berdarah Pakistan, tetapi lahir dan besar di Macau.

Hari Santri 2018

"Indonesian people is very peacefulness," jawabnya sembari tersenyum.

?

Memang setiap Ahad diadakan Podok Ramadhan (Ponram) dengan pemateri dari LDNU, NU Care-LAZISNU, dan Dompet Dhuafa. Kepanitiaan kegiatan berasal dari YPW, Shelter, Irsyad, MATIM, MNU, Halimah, Peduli, TEQ, Masjid.

Dari itu terlihat suasana guyub ala Indonesia. Saya bisa merasakan vibrasi kental ke-Indonesia-an di sini. Ada stan pembayaran zakat, ada ibu-ibu yang sedang asik mengisi gelas plastik dengan es buah.

?

Ada sebagian kelompok sedang membungkus nasi, dan yang lain menyiapkan air mineral dan buah. Ada juga yang sedang menghitung uang hasil kotak tromol.?

Suasana ke-Indonesia-an inilah yang ditangkap oleh warga yang tinggal di sini termasuk Nasir. “Orang Indonesia bukan tipe masyarakat yang senang membuat masalah,” kata Nasir lagi.

Dalam hati saya berdoa, semoga keguyuban dan kedamaian warga Indonesia khususnya Muslim di mana pun berada bisa tetap terpelihara sebagai jati diri serta karakteristik bangsa yang mahal harganya.

Saepuloh, anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerja sama dengan LAZISNU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, AlaSantri Hari Santri 2018

Sabtu, 30 Desember 2017

Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana

Sumenep, Hari Santri 2018. Kegiatan rutinitas bulanan Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) tetap terlaksana walaupun dengan peserta terbatas di kediaman Masduqi, Kaduara Timur, (07/04).?

Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Terbatas, Rijalul Ansor Tetap Terlaksana

Kegiatan itu, dihadiri oleh delapan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pragaan meliputi, Sulthan, Harir, Qudsi, Imam Ghazali, Imam Arifin, Alfin dan Masduqi.?

Faktor ketidakhadiran pengurus PAC Gerakan Pemuda (GP) Ansor pada acara tersebut, dikarenakan tergendala hujan.

Ketua PAC GP. Ansor Pragaan Muh. Qudsi mengatakan, terbatasnya pengurus yang hadir Pada kegiatan rutinitas bulanan Rijalul Ansor tergendala hujan.

Hari Santri 2018

"Kalau cuaca hari ini normal tidak hujan pasti semua pengurus PAC GP. Ansor akan hadir semua," ujar Qudsi.

Sedangkan agenda yang berlangsung dalam kegiatan Rija Ansor tidak jauh berbeda dari sebelumnya. yaitu, bertawassul kapada ? Rasulullah, membaca surah yasin, tahlil dan Shalawat Nariyah secara bersama-sama.

Kemudian setelah itu, dilanjutkan dengan musyawarah tentang agenda hari ulang tahun (harlah) ke-83 Ansor, yang dipimpin langsung oleh ketua Harlah, Moh. Zain.

Setelah musyawarah selesai, Qudsi, kembali menghaturkan ucapan minta maaf kepada tuan rumah, Masduqi.

"Sebelum acara ini diakhiri, saya selaku ketua PAC GP. Ansor Pragaan mohon maaf sebab pengurus yang datang hanya delapan orang," tuturnya.

Hari Santri 2018

Sebaliknya, Masduqi juga turut menyampaikan perihal sedikitnya pengurus yang hadir.?

"Saya juga ucapkan banyak terima kasih kepada sehabat-sehabat pengurus PAC GP. Ansor yang telah hadir. Selebihnya salam saya kepada pengurus PAC GP. Ansor yang tidak sempat hadir," tukasnya. (Zainal Arifin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Cerita Hari Santri 2018

Jumat, 29 Desember 2017

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan

Menado, Hari Santri 2018. Pujian dan apresiasi tentang keberhasilan kerukunan yang datang dari berbagai pihak, tidak boleh membuat Indonesia terlena, tetapi harus tetap mawas diri, karena kerukunan umat beragama bukan merupakan sesuatu yang stagnan dan final, kata Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Prof. Dr. H. Achmad Gunaryo, M.Soc.Sc.

Gunaryo menyatakan hal itu di hadapan para pejabat Kementerian Agama se-Indonesia pada rapat Optimalisasi Program Kerja PKUB dan Kantor Wilayah Kementerian Agama seluruh Indonesia di Manado beberapa waktu lalu.

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Terlena dengan Pujian Kerukunan

Ia menjelaskan, kerukunan terus mengalami perubahan, kadang sangat sederhana tetapi pada kondisi tertentu sangat kompleks terkait dengan berbagai dinamika kehidupan sosial yang berkembang. Kepekaan terhadap dinamika kehidupan sosial masyarakat terkait kerukunan tersebut yang harus dimiliki oleh kita semua yang memiliki kepedulian dalam menjaga dan melestarikan kerukunan.

Hari Santri 2018

Tantangan terhadap kerukunan ternyata tidak semakin berkurang seiring dengan kondusifnya suasana kerukunan itu sendiri, melainkan justru makin bertambah. Selain permasalahan seputar rumah ibadat, penyiaran agama, penodaan agama.

Hari Santri 2018

"Secara nyata kita dapat menyaksikan merebaknya berbagai paham keagamaan yang keluar dari arus pemahaman arus utama yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap wajah kerukunan. Pada titik tertentu kondisi ini tidak menimbulkan masalah," ia menjelaskan.

Tetapi, ia melanjutkan, manakala ekspresi keagamaanya berbenturan dengan sistem dan paham keagamaan mainstream secara tajam baru akan menimbulkan permasalahan. Ekspresi keagamaan terbaru yang keluar dari arus utama setidaknya dapat digolongkan dalam dua kutub ekstrem, kutub pertama dikenal dengan kutub radikalisme dan kutub kedua adalah liberalisme.

Kutub radikal ditandai dengan berbagai sikap fanatisme, dan yang paling berat adalah kelompok yang selalu mengatakan bahwa di luar dirinya adalah salah secara mutlak. Ekspresi yang berlebihan dari sikap ini dapat berpotensi mengganggu kerukunan.

Kutub ekstrem lain dikenal dengan sebutan paham keagamaan liberal.

Corak keagamaan liberal pada dasarnya sangat menghargai kerukunan dan multikulturalisme tetapi terjerumus pada sekulerisme, inklusifisme, dan pluralisme agama tanpa kendali yang jelas, katanya.

Sementara sekulerisme dipahami dengan menganggap bahwa agama itu tidak ada urusan dengan dunia maupun negara. Inklusifisme dipahamai secara sangat ekstrem dengan menganggap agama kita dan agama orang lain itu posisinya sama, saling mengisi, mungkin agama kita salah, agama lain benar. Tidak boleh mengakui bahwa agama kita saja yang benar," tuturnya.

Lebih-lebih lagi, ia mengatakan, faham pluralisme dipahami dengan menganggap semua agama itu sejajar, paralel, prinsipnya sama, hanya beda teknis. Hal yang harus diwaspadai dalam corak keagamaan liberal ini adalah rusaknya nilai-nilai akidah dan sakralitas dari agama itu sendiri.

"Yang ingin kita tuju adalah kerukunan yang tidak perlu mengorbankan akidah dan kemurnian masing-masing agama," ujarnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber ? : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, RMI NU, Humor Islam Hari Santri 2018

Minggu, 24 Desember 2017

Kedutaan AS Kunjungi Pelatihan Perempuan Menulis di Pesantren Krapyak

Yogyakarta, Hari Santri 2018. Selasa (15/9) merupakan hari terakhir dari rangkaian “Pelatihan Menulis dan Program Kepemimpinan untuk Santriwati” di pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta. Pada penutupan pelatihan ini para santri berdialog aktif dengan Konsuler Kedutaan Amerika Judy A Moon.

Selama setahun menjadi pejabat Kedutaan Amerika di Indonesia, ini merupakan pertama kalinya mengunjungi pesantren.

Kedutaan AS Kunjungi Pelatihan Perempuan Menulis di Pesantren Krapyak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kedutaan AS Kunjungi Pelatihan Perempuan Menulis di Pesantren Krapyak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kedutaan AS Kunjungi Pelatihan Perempuan Menulis di Pesantren Krapyak

Judy memaparkan kepemimpinan khususnya bagi perempuan. Menurutnya, yang dibutuhkan seorang adalah dua hal, rasa penasaran dan terbuka. Dua hal itu yang menjadi kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam membawa anggotanya menuju sebuah tujuan.

Hari Santri 2018

Secara aktif peserta mengajukan pertanyaan yang semuanya dijawab dengan baik oleh Judy. Selain itu ia juga menyelipkan cerita pengalamannya dan contoh pengimplementasian kepemimpinan sehingga peserta dapat memahami dengan baik penjelasan darinya.

“Saya senang karena kalian bertanya secara aktif dalam acara ini, karena itu menunjukkan rasa keingintahuan kalian akan sesuatu,” tuturnya kepada peserta di ruangan tersebut.

Hari Santri 2018

Rangkaian pelatihan ini ditutup dengan saling bertukar souvenir antara pesantren Krapyak, Kedutaan Amerika, dan Lentera Foundation. Pihak pesantren menghadiahkan Kamus Bahasa Arab-Inggris-Indonesia karya KH Atabik Ali sebagai bentuk promosi karya asli pondok pesantren.

Adapun pelatihan menulis sesi pertama diisi dengan pelatihan oleh Pemred KR Online Ahmad Luthfi. Pada sesi ini, peserta diajak memahami dan mempraktikkan materi wawancara, penulisan hingga pengeditan pascawawancara. Sementara sesi kedua berkaitan dengan pelatihan kepemimpinan dengan narasumber Wasingatu Zakiyah.

Pada pelatihan ini ia menjelaskan apa hakikat pemimpin serta bagaimana cara memimpin sebuah kelompok dengan baik. (Aminatun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 News, Hadits, Sejarah Hari Santri 2018

Selasa, 19 Desember 2017

IPNU Pangandaran Gelar Tasyakuran Tahun Baru Hijriyah

Pangandaran, Hari Santri 2018. Sebanyak 700 jamaah memenuhi pesantren Islahiyah Wonoharjo, Pangandaran, Ahad (26/10) malam. Mereka membaca sholawat dan doa bersama pada malam tasyakuran tahun baru Hijriyah yang digagas IPNU Pangandaran. Seratus penabuh rebana yang membuka sholawatan, menambah meriah malam pergantian tahun.

Ketua IPNU Pangandaran Arif Rahman Hakim mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya mensyiarkan dakwah Aswaja NU. “Kita ingin membumikan sholawat di kabupaten yang baru terbentuk ini.”

IPNU Pangandaran Gelar Tasyakuran Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Pangandaran Gelar Tasyakuran Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Pangandaran Gelar Tasyakuran Tahun Baru Hijriyah

Sementara pengasuh pesantren Islahiyah KH Irfanuddin pada malam tasyakuran yang bertajuk “Indonesia Bershalawat, Indonesia Selamat” mengapresiasi para pengurus IPNU-IPPNU Pangandaran yang menginisiasi kegiatan ini.

Hari Santri 2018

“Semoga ke depan agenda sholawat bisa diadakan secara rutin bulanan oleh pengurus IPNU-IPPNU Pangandaran,” kata Kiai Irfan. (Aris Purnama Arvat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Hadits, RMI NU Hari Santri 2018

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja

Depok, Hari Santri 2018. Seperti apakah Islam ahlusunnah wal jamaah (aswaja) itu? Demikian pertanyaan yang disampaikan oleh Katib Aam PBNU KH Malik Madany kepada para hadirin dalam forum pra munas dan konbes NU di Pesantren Al Hikam Depok, Sabtu (30/8).

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja

Ia lalu menjelaskan bahwa aswaja adalah berislam yang wajar-wajar saja seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Dalam sebuah hadist dikisahkan para sahabat yang berdebat orang Islam yang paling baik seperti apa. Ada yang berpendapat, yang paling banyak puasanya, yang lainnya, yang shalat terus dan ada yang tidak mau menikah. Lalu ketika Rasulullah mendengar perkataan para sahabat tersebut, ia berkata “Demi Allah, aku orang yang paling takut pada Allah, aku puasa tetapi juga berbuka, aku shalat dan juga tidur dan aku juga kawin.”

Dalam sebuah hadist lain, Rasulullah juga menyampaikan pesan. “Barangsiapa tidak senang dengan sunnahku, maka bukan termasuk golonganku.”

Hari Santri 2018

“Karena itu, Islam yang benar adalah Islam yang menyeimbangkan kepentingan duniawi dan ukhrawi,” kata Malik Madany, yang juga pengajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Ia merasa prihatin dengan maraknya kelompok Islam ekstrim yang gampang sekali mengkafir-kafirkan golongan lain yang tidak masuk kelompoknya.

Hari Santri 2018

“Mereka seolah-olah seperti kepala dinas pengkaplingan surga yang sudah mendapatkan SK dari Allah yang beranggapan, siapa yang berhak masuk surga, hanya saya dan teman-teman.” ?

Karena itu, dalam munas dan konbes yang akan digelar pada 1 November mendatang, salah satu materinya adalah khilafah Islamiyah perspektif NU. (mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Lomba, Hadits, Halaqoh Hari Santri 2018

NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara

Jakarta, Hari Santri 2018 - Nahdlatul Ulama (NU) organisasi yang sejak dulu telah ikut andil dalam perjuangan membela negara. Komitmen kebangsaan NU dan sejarah panjang keberpihakan NU pada tanah air tidak perlu diragukan.

“Soal bela negara, NU tak perlu lagi diajari karena NU sejak dahulu (zaman penjajahan) turut andil dalam berjuang mempertahankan NKRI,” kata Idris Masudi, salah seorang narasumber seminar RUU Antiterorisme: Mengawal NKRI dari Bahaya Terorisme dan Radikalisme di Indonesia di ruang teater Lantai IV Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Rabu (13/5).

NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Perlu Lagi Diajari Soal Bela Negara

Dalam seminar yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Idris menuturkan bahwa perjuangan bela negara telah difatwakan fardu ain oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari.

Perjuangan bela negara yang telah dilakukan oleh NU ini merupakan wujud konkret afirmasi NU atas berdirinya NKRI dengan dasar negara Pancasila. Berbeda dengan pemahaman kelompok-kelompok radikal yang menganggap bahwa Pancasila adalah sistem taghut yang wajib diperangi.

Hari Santri 2018

Menurut Idris, salah satu cara untuk menangkal radikalisme dan terorisme adalah semua masyarakat harus berperan aktif dan tidak hanya berpangku tangan menunggu pemerintah.

Sementara narasumber lain Ansyad Mbai mengimbau mahasiswa Tafsir Hadits yang memiliki kompetensi dalam mengkaji Al-Quran dan Hadits untuk bisa mengkaji lebih dalam siapakah dalang dari pemahaman menyimpang tersebut, yakni pemahaman yang bertentangan dengan Islam Rahmatan lil Alamin.

Hari Santri 2018

“Karena bisa jadi dalang tersebut sebenarnya memiliki motivasi lain dalam melakukan tindakan teror dan radikalnya. Hanya saja ia mengatasnamakan agama sebagai basis tindakannya,” kata Ansyad.

Seminar ini juga dihadiri oleh Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Fakultas Ushuluddin? Dr Suryadinata MA, Ketua jurusan Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr Lilik Umi Kaltsum, serta utusan Polres Tangerang Selatan Abdul Kohar. (M Alvin Nur Choironi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Sholawat, Ubudiyah Hari Santri 2018

Senin, 11 Desember 2017

IPPNU Banyuwangi Buka Kelas Administrasi

Jakarta, Hari Santri 2018. Pengurus Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Banyuwangi memfasilitasi kadernya di tingkat anak cabang, komisariat dan ranting untuk mempelajari dasar-dasar administrasi. Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga petang ini, bertujuan meningkatkan pengelolaan manajemen organisasi IPPNU di Banyuwangi.

IPPNU Banyuwangi Buka Kelas Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Banyuwangi Buka Kelas Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Banyuwangi Buka Kelas Administrasi

Peserta pelatihan merupakan utusan anak cabang, ranting, dan komisariat IPPNU sekabupaten Banyuwangi. Mereka belajar administrasi di kantor Ma’arif NU Banyuwangi, Kamis (19/2).

Pengurus IPPNU Banyuwangi menyadari bahwa manajemen administrasi merupakan salah satu jantung pergerakan organisasi. Karenanya, mereka mengadakan kelas administrasi untuk menguatkan IPPNU di Banyuwangi.

Hari Santri 2018

Ketua IPPNU Banyuwangi Silvia Ulfa Hidayati berharap, “Kelas administrasi ini membuat kita mandiri sehingga semakin menguatkan organisasi, karena administrasi merupakan roh organisasi.”

Hari Santri 2018

Kelas administrasi menghadirkan Ana Aniyati dan Aviq Magfiroh yang mengupas peraturan organisasi dan administrasi, juga PD PRT IPPNU.

"Dengan memahami semua ini, kita akan berada di rel organisasi yang benar," terang Ana yang juga Ketua IPPNU Banyuwangi periode 2006-2008 itu. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, IMNU, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2018

Jumat, 01 Desember 2017

Kiai Said: Indonesia Krisis Kiai Alim

Jakarta, Hari Santri 2018 - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, bangsa Indoensia harus bangga dengan pola keislaman yang dikembangkan Nahdlatul Ulama yang damai dan toleran. Dimotori kiai-kiai, warga NU walaupun tinggal di kampung-kampung berperan besar dalam? membangun karkter bangsa.

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada sesi dialog setelah buka puasa bersama PBNU bersama seluruh banom dan lembaga NU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Sabtu (18/6) sore.

Kiai Said: Indonesia Krisis Kiai Alim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Indonesia Krisis Kiai Alim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Indonesia Krisis Kiai Alim

Ia mencontohkan saat terjadi bencana. Pada saat seperti itu, kiai-kai kampung menyadarkan masyarakat untuk tetap bersatu, sabar, dan tabah menghadapi cobaan. Kiai-kiai itu banyak dimiliki NU.

Hari Santri 2018

Lebih lanjut Kiai Said mengungkapan, melalui NU perjalanan kita sudah benar. Namun ia menyayangkan sekarang ini krisis kiai yang alim. Menurut dia, kiai alim tidak diukur dari banyaknya santri yang dimilikinya.

“Kadang-kadang kiai alim tidak punya pesantren. Karena kiai di pesantren yang memiliki santri banyak sibuk membantu kesulitan santri dan orang tuanya sehingga kurang waktu untuk muthala’ah,” terang Kiai Said.

Hari Santri 2018

Minimnya kiai alim menurut Kiai Said sangat mengkhawatirkan. “Bagaimana masa depan NU kalau tidak ada generasi penerus yang belajar menjadi kiai yang alim?” pancing Kiai Said mendorong hadirin yang datang yang kebanyakan terdiri dari generasi muda diantaranya Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), IPNU dan IPPNU. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits, Berita, Makam Hari Santri 2018

Sabtu, 25 November 2017

LP Ma’arif Usulkan Penyeragaman Nama Sekolah NU

Cirebon, Hari Santri 2018 - Rapat Pleno PBNU yang berlangsung di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon Jawa barat dari 23-25 Juli mengusulkan beberapa hal kepada PBNU. Di Komisi A yaitu Organisasi paling terakhir selesai karena banyaknya pembahasan dan banyaknya usulan.

Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU H Arifin Junaidi misalnya, mengemukakan tentang penyeragaman nama sekolah di lingkungan NU. Ia mengusulkan dari nama Ma’arif menjadi NU dengan memperhatikan aspek kesejarahan pendiriannya.

LP Ma’arif Usulkan Penyeragaman Nama Sekolah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif Usulkan Penyeragaman Nama Sekolah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif Usulkan Penyeragaman Nama Sekolah NU

Pendapat Arifin ini mendapat bantahan dari salah seorang angggota komisi, misalnya KH Ghozali Masroeri terkait akan susahnya perubahan nama tersebut. Lembaga sekolah yang didirikan warga NU menurut pengalamannya, keberatan diganti.

Hari Santri 2018

Tapi menurut Arifin, penyeragaman itu tidak menghilangkan atau mengganti nama sekolah tersebut, melainkan menambahkan Nahdlatul Ulama. Namun penambahan tersebut harus disepakati terlebih dahulu berada di depan atau di belakang nama tersebut.

Selain penyeragaman sekolah, dibahas juga tentang usia untuk kepengurusan di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Peserta menyepakati maksimal umur Ketua PC 23 tahun, PW 25 tahun dan PP 27 tahun. Tak ketinggalan dibahas status Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di NU.

Rapat Pleno yang diketuai Robikin Emhas dan sekretaris Sulthonul Huda tersebut mengusulkan penyelenggaraan Munas dan Konbes digelar PBNU pada Juli 2017. Pada kesempatan tersebut disebutkan alternatif tempat yaitu di Bali, Kalimantan Timur, Lampung dan Banten.

Hari Santri 2018

Hal lain yang ditetapkan sebagai usulan di antaranya tentang Peraturan Organisasi (PO), kaderisasi, pedoman pembentukan badan otonom, sinergitas lembaga dan badan otonom, syarat menjadi pengurus NU, pembuatan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama, dan lain-lain. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 AlaNu, Hadits Hari Santri 2018

Jumat, 24 November 2017

NU sebagai Penentu Langkah Kembali ke UUD 1945

Terjadi perdebatan berbulan-bulan antara kelompok pro Islam dengan kelompok pro Pancasila sebagai dasar negara dalam sidang Konstutuante antara tahun 1958-1959. Sebenarnya NU telah melihat persoalan ini akan mengalami kebuntuhan. Oleh karena itu ketika pemerintah secara tertulis mengirim surat pada ketua sidang Konstituante untuk kembali pada Pancasila dan UUD 1945 yang disampaikan pada 19 Februari 1959, NUtertarik dengan tawaran itu. Pada ? rapat NU 20 Februari 1959 dengan menawarkan jalan tengah yaitu Pancasila Islam, bukan Pancasila ala Komunis, ? yakni Pancasila dan UUD 1945 yang dijiwai Piagam Jakarta.

Tetapi susulan itu ditolak oleh pihak nasionalis, sehingga jalan tenah itu juga buntu.Melihat kenyataan itu? maka pada 22 April Presiden mengambil langkah untuk mengatasi kebuntuan itu dengan mendatangi sidang Konstutuante dengan mendesak? agar kembali ke UUD 1945.? Dalam arti kembali menempatkan Pancasila sebagai dasar negara seperti semula, tanpa ada amandemen sedikitpun baik pada Mukadimah dan batang tubuh, sebagaimana yang dikehendaki kalangan Islam yang menghendaki kembali ke UUD 1945 dengan disertai? amandemen.

Sebenarnya Idham Chalid sebagai Wakil Perdana menteri dari NU telah menyetujui langkah Kembali ke UUD 1945 tanpa amandemen, hanya saja Fraksi Islam termasuk NU di Konstituante memiliki dinamika lain, yaitu pada 26 Mei 1959 kelompok Fraksi Islam mengajukan amandemen UUD 1945. Akhirnya dilakukan? pemungutan suara untuk memilih setuju atau tidak setuju, kembali pada UUD 1945 tanpa amandemen. Pungutan suara pertama pada 30 Mei 1959? dengan suara 269 setuju dan 199 tidak setuju. Kedua, 1 Juni 1959 dengan 264 setuju? dan 204 menolak. Ketika pada 2 Juni 1959 dengan suara 263 setuju dan 203 tidak setuju. Dalam ketiga pemungutan suara itu tidak pernah mencapai jumlah dua pertiga yang diperlukan yaitu 312 suara. Ternyata pemungutan suara juga mengalami kebuntuan. ?

NU sebagai Penentu Langkah Kembali ke UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
NU sebagai Penentu Langkah Kembali ke UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

NU sebagai Penentu Langkah Kembali ke UUD 1945

Melihat kenyataan yang gawat itu Wilopo sebagai ketua Konstituante menemui Perdana Menteri Djuanda. Dalam diskusi itu mereka melihat peluang untuk melancarkan agenda kembali ke UUD 1945 dengan cara mendekati NU. Kalau NU setuju dengan gagasan Bung Karno itu dan ada jaminan NU untuk mengikutinya, maka langkah ini akan lancar dan aman. Tetapi sebaliknya kalau NU sebagai salah satu anggota Kabinet menentang akan diikuti oleh fraksi Islam yang lain, NU di sini berperan sebagai bandul penentu arah politik nasional. Kalau NU mendukung maka semuanaya beres dan dua pertiga suara bisa diperoleh oleh kelompok pro kembali ke UUD 1945.

Hasil diskusi dengan Ketua Konstituante Wilopo itu disampaiakan oleh Perdana Menteri Djuanda kepada Bung Karno yang baru datang dari luar negeri, Bung Karno mendukung agar pemerintah segera melobi NU, maka dalam sidang Kabinet, Perdana Menteri Djuanda segera menemui Idham Chalid wakil perdana menteri dan ditanya soal kesediaannya mendukung anjuran pemerintah kembali ke UUD 1945. Menjawab desakan Djuanda itu KH Idham Chalid menganggukkan kepala, yang dianggap oleh Djuanda sebagai bentuk persetujuan. Setelah itu Djuanda melaporkan hasil lobinya pada Wilopo dan Bung Karno.

Wilopo kurang yakin bila jawaban dibetrikan hanya dengan bahasa isyarat, karena ini persoalan gawat harus jawaban lisan yang meyakinkan. Akhirnya Djuanda dan Wilopo menemui Bung Karno, karena memandang hanya Bung Karno yang dengan kharisma dan wibawanya mampu mempengaruhi sikap NU dan meyakinkan mereka. Hal itu terpaksa harus dilakukan karena UUD 1945 dalam posisi sedang dipertaruhkan, akhirnya Bung karno menuruti saran keduanya dan menemui Idham Chalid serta beberapa pimpinan NU lainnya. Kepada Bung Karno KH. Idham Chalid mengatakan, sebenarnya pendiran NU sudah jelas, jalan keluar yang diberikan NU telah sisampaikan dalam Sidang Konstituante yang lalu. Bagaimana sikap dan pendirian NU tolong dijelaskan kembali.

Hari Santri 2018

“Sebagaimana kami jelaskan sebelumnya bahwa NU menghendaki ditempuh jalan tengah. Jalan tengah bagaimana tanya Bung karno, ini persoalan mendesak soal keamana negara, coba segera ketengahkan jalan tengah yang dirancang NU. Kami tidak menuntut diberlakukannya syariat Islam secara formal sebagaimana tertera dalam Piagam Jakarta, kami juga tidak ingin dasar Pancasila itu dibiarkan tanpa roh agama. ? Piagam Jakarta tidak perlu diterapkana secara formal seperti tuntutan Fraksi Islam, tetapi juga jangan sekedar dianggap sebagai dokumen historis (yang pasif) seperti yang dikehendaki kelompok Nasionalis.”

“Lalu usul jalan tengah NU seperti apa?” desak Bung Karno. “NU menghendaki Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945, sehingga walaupun dasar negara kita Pancasila tetapi memiliki dasar keislaman yang kokoh. Kalau itu yang dilakukan tidak hanya NU seluruh umat Islam akan menerima Pancasila dengan sepenuh hati dan siap mempertahankan dari gangguan apa saja.”

“Bagus, bagus, ini jalan tengah itu cerdas. Kalau itu yang diamaksud NU saya sangat setuju, dengan demikian? Piagam Jakarta tidak sia-sia kami rumuskan.? Piagam Jakarta tidak dibuang tetapi menjadi? ? Jiwa UUD 1945. Ini berarti NU menghargai perjuangan tim sembilan dan itu berarati menghargai jasa saya pula sebagai salah satu perumusnya. Kalau begitu tidak ada masalah kita kembali ke UUD 1945 dengan dukungan penuh dari NU. Terima kasih atas jalan keluar yang diberikan oleh NU dan terimakasih atas ? persetujuan NU, sebab kita ini sedang menyelamatkan negara dari keterpecahan.’

Pertemuan Bung Karno dengan Idham Chalid itu kemudian disampikan Bung Karno kepada Wilopo dan Djuanda, ketiganaya puas dan merasa yakin gagasan kembali ke UUD 1945 akan berjalan lancar. Maka dengan adanya dukungan dan solusi dari NU dengan argumen yang sangat meyakinkan itu beberapa Fraksi Islam seperti PSII, Perti termasuk Masyumi menyetujui pemikiran NU. Mengetahui perkembangan itu? Presiden Soekarno semakin yakin? dan lebih percaya diri untuk ? mengumumkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959.

Dengan gagasan kembali ke UUD 1945 yang berarati kembali menempatkan Pancasila sebagai dasar negara itu menjadi wacana umum dalam bangsa ini. Pada ? saat Bung Karno menghadiri Seminar Pancasila di Universitas Gadjah Mahada Yogya karta, sehabis membuka acara ditanya oleh para wartawan, bagaimana langkah teknis kembali ke UUD 1945 dan menempatkan Pancasila sebagai dasar negara. Dengan diplomatis Bung Karno menjawab, urusan Pancasila dan langkah kembali ke UUD 1945 sudah bukan menjadi urusan saya. Sedangkan sebagai pelaksanya adalah di tangan NU dan PNI, kalau ingin tahu prosesnya tanyakan pada NU yang saat ini sedang mengatur langkah proses penerapan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara dan konstitusi Indonesia.

Hari Santri 2018

Dekrit itu diterima oleh bangsa Indonesia, termasuk semua kelompok Islam, semuanya mengikuti langkah NU. Walaupun ada beberapa elemen Masyumi yang menentang, tetapi saat itu Masyumi telah sangat lemah dan kehilangan pengaruh setelah terlibat dalam pemberontakan PRRI, sehingga keberadaannya menjadi bulan-bulanan partai kiri terutama PKI, bahkan tidak lama setelah itu Masyumi dibubarkan karena terlibat pemberontakan PRRI. Akhirnya kendali politik Islam dipegang oleh NU, saat itu NU menjadi imamnya umat Islam. Dengan tidak melupakan usulan NU tentang jalan tengah itu, maka dalam Dekrit Presiden yang diumumkan Bung Karno itu ditegaskan bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945. (Abdul Munim DZ)

Sumber: Muhammad Yamin, Naskah Persiapann UUD 1945 dan Biografi Wilopo 70 Tahun, serta beberapa sumber lainnya.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nahdlatul Ulama, Hadits, Habib Hari Santri 2018

Minggu, 12 November 2017

Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok

Pasuruan, Hari Santri 2018 - Bentuk stan pameran pada acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Gerakan Ayo Mondok 2016 yang diinisiasi PP Rabithah Maahid Islamiyah NU kali ini terlihat mirip dengan masjid Jinggo yang bergaya Tiongkok. Di atas bangunan stan terlihat tulisan berlafal “Allah”. Silatnas sendiri berlokasi di area Taman Chandra Wilwatikta Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jumat-Ahad (13-15/5).

Ketua panitia lokal KH Ahmad Taufik (Gus Taufik) mengatakan, "Itu temanya Masjid Jinggo, salah masjid Pandaan yang dibangun oleh Pemkab Pasuruan.”

Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

Stan Pameran Silatnas Ayo Mondok Mirip Masjid Jinggo ala Tiongkok

Pemkab Pasuruan beberapa tahun lalu membangun masjid dengan arsitektur bergaya China, karena untuk mengabadikan penyebaran Islam di tanah Jawa melalui berapa jinggo yang pernah datang ke Pasuruan. “karena pasukannya, orang-orang pernah ikut memperkuat Islam di Pasuruan," kata Gus Taufik di sela kegiatan pembukaan diskusi terbatas, Sabtu (14/5) siang.

Hari Santri 2018

Jasa mereka kemudian diabadikan menjadi Masjid Jinggo. Untuk itu pihak panitia mengambil inspirasi pameran itu dari Masjid Jinggo.

Hari Santri 2018

Ia menjelaskan, pameran tersebut diikuti 70 stan yang terdiri atas 50 stan berbagai pegawai kecamatan dan dinas-dinas di Pemkab Pasuruan. Sementara 20 stan lainnya diisi oleh komunitas Nahdlatul Ulama.

"Masjid Jinggo ini merupakan ikon masyarakat Pandaan," terangnya.

Terlihat mulai awal Silatnas dibuka suasana pameran waktu itu ramai didatangi pengunjung dari berbagai daerah yang ingin melihat-lihat atau membeli produk-produk unggulan kreativitas mereka. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Ubudiyah, Hadits, AlaSantri Hari Santri 2018

Rabu, 11 Oktober 2017

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum

Oleh Suwendi



PAI (Pendidikan agama Islam) pada PTU (Perguruan Tinggi Umum) memiliki peran yang sangat strategis, baik pada pemenuhan kompetesi mahasiswa yang beragama Islam untuk menjalankan fungsinya sebagai seorang Muslim, maupun dalam konteks kaderisasi pembangunan bangsa. Sebagai seorang Muslim, mahasiswa perlu diberikan layanan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan PAI yang memadai guna menjalankan segala kewajiban dan peranan dirinya sebagai Muslim. Demikian juga, wawasan dan komitmen kebangsaan bagi mahasiswa juga perlu diberikan secara cukup sehingga pada gilirannya lulusan PTU mampu berkiprah dalam membangun bangsa dan memiliki integritas nasionalisme yang tinggi.

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum

Dengan demikian, kompetensi keagamaan Islam dan semangat nasionalisme menjadi barometer atas keberhasilan layanan PAI pada PTU dan proses pembelajaran yang dilakukan oleh dosen PAI pada PTU. Untuk itu, institusi PTU dan utamanya dosen PAI pada PTU dituntut untuk dapat memberikan fasilitasi dan proses pembelajaran PAI secara maksimal sehingga para lulusannya yang beragama Islam memiliki dua kompetensi sekaligus itu, yakni keislaman dan kebangsaan.

PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan mengamanatkan bahwa Kementerian Agama menjadi leading sector atas pelayanan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan itu, tak terkecuali pendidikan agama Islam pada PTU. Oleh karenanya, kita patut memberikan apresiasi kepada Kementerian Agama yang telah melahirkan PMA (Peraturan Menteri Agama) Nomor 42 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja (Ortaker) Kementerian Agama dan membuat salah satu unit kerja baru di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, yakni lahirnya Sub Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum (Subdit PAI pada PTU) pada Direktorat Pendidikan Agama Islam (Dit. PAI).

Selain Subdit PAI pada PTU, dalam ortaker tersebut tetap mempertahankan Subdit PAI untuk mulai jenjang usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah, yakni Subdit PAI pada PAUD, Subdit PAI pada SD, Subdit PAI pada SMP, dan Subdit PAI pada SMA. Hanya saja, Subdit PAI pada SMK yang sebelumnya tersendiri kini melebur dengan Subdit PAI pada SMA. Kelahiran subdit-subdit ini mencerminkan bahwa pelayanan Pendidikan Agama Islam (PAI) mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah hingga jenjang pendidikan tinggi diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Tentu saja, capaian yang diharapkan atas sejumlah subdit itu adalah secara struktural dapat memfasilitasi atas ketercapaian pembelajaran PAI yang berorientasi pada dua kompetensi di atas, yakni keislaman dan kebangsaan.

Sungguhpun demikian, Kemenristek Dikti telah melakukan upaya dan kebijakan yang cukup baik dalam melakukan pelayanan PAI pada PTU, meski perlu diakui tidak sebesar sebagaimana kebijakan atas pelayanan mata kuliah umum. Sejauh ini, penyelenggaraan PAI pada PTU didasarkan atas Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas Nomor: 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Dalam keputusan itu, mata kuliah PAI ada PTU menjadi salah satu dari komponen MPK (Matakuliah Pengembangan Kepribadian) dengan bobot 2 SKS. Dapat dimaklumi, porsi 2 SKS untuk mata kuliah PAI ini bisa jadi linier dengan bobot mata pelajaran PAI pada sekolah yang mendapatkan alokasi 2 atau 3 jam pelajaran saja.?

Hari Santri 2018

Sebagaimana dimaklumi, bobot 2 SKS untuk mata kuliah PAI ini menjadi tantangan serius bagi dosen PAI pada PTU. Dosen PAI pada PTU dituntut untuk mampu melakukan serangkaian pendekatan dan proses pembelajaran agar dengan bobot 2 SKS itu dapat menghadirkan kompetensi mahasiswa yang mampu menjalankan kewajiban dan peran dirinya sebagai Muslim, di samping berintegritas kebangsaan yang baik.

Berdasarkan data PPDIKTI (Pangkalan Data Pendidikan Tinggi) Kemenristek-Dikti tahun 2017, jumlah perguruan tinggi umum secara total berjumlah 4.490 lembaga, yang terdiri atas Akademi sejumlah 1.101 lembaga, Politeknik sebanyak 250 lembaga, Sekolah tinggi berjumlah 2.433 lembaga, Institut sebanyak 148 lembaga, dan Universitas sejumlah 558 lembaga. Pada PTU itu, ada sebagian kecil yang memiliki Fakultas Agama Islam, yang pengelolaan dosennya diakomodasi oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama. Sementara dosen PAI pada PTU masih mengalami bias yang luar biasa. Untuk jumlah dosen PAI pada PTU, data yang diterima dari ADPISI (Asosiasi Dosen Pendidikan Islam Seluruh Indonesia) menunjukkan bahwa dosen PAI pada PTU yang sudah terdata baru sekitar 446 dosen dari seluruh perguruan tinggi. Tentu jumlah ini menunjukkan masih banyaknya dosen PAI pada PTU yang belum terdata, sebab 446 dosen itu tidak memungkinkan untuk dapat mengajar pada 4.490 PTU.

Hari Santri 2018

Dalam sejumlah amatan, pengangkatan dosen PAI pada PTU setidaknya terdapat 4 (empat) pola, yakni [1] PNS yang diangkat oleh Kementerian Agama sebagai dosen Dpk (diperbantukan); [2] PNS yang diangkat oleh Kemenristek-Dikti; [3] Diangkat oleh Pemerintah Daerah; dan [4] Diangkat sebagai dosen kontrak oleh PTU yang bersangkutan. Empat pihak yang mengangkat ini kemudian berimplikasi pada problemnya pembinaan karir dan profesi. Secara mayoritas dosen-dosen PAI pada PTU ini menghadapi problem karir dan profesi yang cukup serius.

Bagi dosen yang diangkat oleh Kemeterian Agama, ke mana mereka memproses karir dan profesinya itu? Sebab, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam atau Kopertais (Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta) di beberapa PTKIN tidak memfasilitasi pembinaan karir dan profesinya itu. Demikian juga, dosen yang diangkat oleh Kemenristek-Dikti,tidak serta merta dapat diproses melalui Direktorat Jenderal Pembinaan SDM atau Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) dengan maksimal. Belum lagi dosen PAI yang diangkat oleh Pemerintah Daerah atau PTU yang bersangkutan, di lapangan menghadapi problematikanya yang lebih dahsyat.?

Persoalan home base bagi dosen PAI pada PTU mengalami kendala yang tidak sederhana. Pasalnya, home base dosen itu didasarkan pada Program Studi. Pada fakultas-fakultas umum di PTU tentu tidak memiliki program studi pendidikan agama Islam. Demikian juga, tidak semua PTU itu memiliki Fakultas Agama Islam. Akibanya tidak adanya home base ini berimplikasi pada tidak adanya layanan pengembangan akademik bagi dosen PAI. Akhirnya, tidak sedikit dosen PAI pada PTU yang menempel dan bahkan diambil dari dosen-dosen yang berasal dari program studi umum, semisal MIPA atau lainnya. Tentu praktik-praktik demikian sangat tidak menguntungkan bagi masa depan PAI pada PTU.

Terkait dengan penambahan jam untuk memenuhi tuntutan BKD (Beban Kerja Dosen) dan sertifkasi dosen, tampaknya belum dilakukan penataan yang ideal. Beban 2 SKS untuk mata kuliah PAI pada PTU berimplikasi pada keharusan dosen PAI pada PTU untuk “ngamen” dan inisiasi kegiatan lainnya sehingga dapat memenuhi tuntutan itu. Dalam banyak kasus, dosen-dosen PAI pada PTU berkiprah pada sejumlah kegiatan baik di masjid kampus atau LDK (Lembaga Dakwah Kampus) atau lainnya.?

Atas sejumlah problematika di atas, sejumlah penelitian menunjukkan keprihatinan yang luar biasa. Hasil penelitian Balitbang Kementerian Agama RI berjudul “Penelitian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum” tahun 2015 menunjukkan sebagai berikut.?

Pertama,pembelajaran PAI di PTU masih menjemukan. Meski pembelajaran PAI disampaikan dengan cara yang cukup variatif, tetapi yang kerap digunakan adalah metode ceramah atau kuliah mimbar, tanya jawab, dan diskusi. Hanya sedikit dosen PAI yang menggunakan metode brainstorming,small group discussion, role play, dan concept maps. Hal itu disebabkan karena rasio perbandingan dosen dengan mahasiswa di PTU sangat tidak ideal. Jumlah mahasiswa yang terlalu banyak membuat perkuliahan diformat semacam kuliah umum dan hasilnya pembelajaran berpusat pada dosen (lecturer centered) yang cenderung menjemukan.

Kedua, peran dan fungsi PAI di Perguruan Tinggi Umum lebih banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan dan organisasi kemasyarakatan dibandingkan dengan peran dosen PAI. Dikesankan fungsi dan tanggung jawab dosen PAI di PTU “telah diambil alih oleh organisasi kemahasiswaan maupun oleh organisasi kemasyarakatan yang ada di lingkungan kampus”, melalui berbagai tawaran kegiatan keagamaan yang dikoordinasikan oleh mahasiswa maupun ormas. Namun diakui, kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh organisasi kemahasiswaan dan organisasi kemasyarakatan yang diikutinya lebih banyak mengembangkan ide-ide pemikiran radikal dan transnasional.

Temuan Balitbang tahun 2015 itu kemudian mendapatkan justifikasi oleh hasil temuan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang dilakukan oleh Anas Saidi dan Endang Turmudzi yang berkesimpulan bahwa radikalisme tumbuh subur di kampus Perguruan Tinggi Umum.Sebanyak 86 persen mahasiswa dari lima perguruan tinggi di Pulau Jawa menolak ideologi Pancasila dan menginginkan penegakan syariat Islam. Bahkan, menurut survei The Pew Research Center pada 2015 disebutkan 4 persen orang Indonesia mendukung IS.

Masih menurut hasil penelitian LIPI, pola radikalisme melalui organisasi eksternal kampus telah dimulai pasca-reformasi. Organisasi-organisasi mainstream di antaranya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah terpinggirkan. Hampir seluruh kader kelompok dengan ideologi Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) atau salafi, seperti Hizbut Tahrir Indonesia dan KAMMI, menjadi pimpinan badan eksekutif mahasiswa di PTU ternama di Indonesia.Kelompok seperti Ikhwanul Muslimin memiliki pandangan keyakinan dan sikap fundamentalisme puritan kaku. Mereka selalu merasa paling benar dan menganggap kelompok lain salah.Tujuan mereka membangun negara Islam, bahkan untuk mewujudkannya dibolehkan menggunakan cara-cara kekerasan.

Problematika dan implikasi destruktif yang demikian dahsyat, menurut hemat penulis, tidak dapat ditunda-tunda. Kementerian Agama, Kemenristek-Dikti dan sejumlah Kementerian/Lembaga lainnya segera untuk turut serta dalam menangani problematika pada dosen PAI pada PTU dan problematika lainnya di PTU, tentu dengan batas kewenangannya. Demikian juga sejumlah organisasi ekstra kampus yang berbasis keindonesiaan dan Islam moderat, seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), HMI (Himpinan Mahasiswa Indonesia), dan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) segera untuk merapatkan barisan guna penanaman pendidikan agama Islam yang berkarakter keindonesiaan.?

Penulis adalah Parktisi Pendidikan Islam; Doktor Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Meme Islam, Amalan, Hadits Hari Santri 2018

Rabu, 13 September 2017

Lakpesdam Berikan Penghargaan Cabang-Wilayah yang Sukses Kaderisasi

Batam, Hari Santri 2018. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia atau Lakpesdam NU memberikan penghargaan kepada Pengurus Cabang dan Wilayah Lakpesdam yang telah berhasil menyelenggarakan program kaderisasi. Kaderisasi yang dilakukan Lakpesdam ini meliputi dua hal yakni Program Pendidikan Kader Penggerak Ranting dan Program Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK).

Lakpesdam Berikan Penghargaan Cabang-Wilayah yang Sukses Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Berikan Penghargaan Cabang-Wilayah yang Sukses Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Berikan Penghargaan Cabang-Wilayah yang Sukses Kaderisasi

Penghargaan telah diberikan pada malam pembukaan Rakernas Lakpesdam di Batam, Selasa (14/4), antara lain langsung oleh Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali, Ketua Pelaksana Program Kaderisasi PBNU H Masyhuri Malik dan Walikota Batam Ahmad Dahlan.

Ada delapan PC dan PW yang mendapatkan penghargaan yakni PC Lakpesdam Jepara diwakili Maya Dina, Tuban diwakili Tasyudi, Kendal diwakili Khafidzin, Tasik diwakili Hasan, Mataram diwakili Baiq Eli Mahmudah dan PW Lakpesdam Kalimantan Selatan diwakili Sudirno, masing-masing untuk untuk Program Pendidikan Kader Penggerak Ranting.

Hari Santri 2018

Sementara untuk program PPWK PP Lakpesdam memberikan penghargaan kepada PC Lakpesdam NU Kudus dan Bogor.

Hari Santri 2018

Sekretaris PP Lakpedam Lilis Nurul Husna mengatakan, Lakpesdam mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan sumber daya manusia NU melalui program kaderisasi. Ada dua program unggulan yakni program Pendidikan Kader Penggerak Ranting dan Program Pengembangan Wawasan Keulamaan. Yang pertama untuk para calon pengurus tanfidziyah terutama di ujung tombang gerakan NU di tingkat paling bawah, sementara yang kedua untuk calon syuriyah atau para calon ulama NU.

Penghargaan yang telah diberikan dimaksudakan sebagai apresisi kepada PC dan PW yang telah berhasil menjalankan dua program unggulan kaderisasi Lakpesdam itu.

“Mereka? menyelenggarakan kaderisasi secara mandiri. Kami hanya memberikan modul, selenjutnya mereka mengembangkan sendiri,” kata Lilis di sela Rakernas , Kamis (16/4).

Menurut Lilis, dua program kaderisasi di Lakpesdam NU itu terintegrasi dengan program Pendidikan Kader Penggerak (PKPNU) yang dilaksanakan oleh PBNU di tingkat pusat dan berlanjut ke tingkat Wilayah dan Cabang.

“Dalam program penggerak ranting dan PPWK ini sebagian instrukturnya juga merupakan instruktur PKPNU atau alumni PKPNU,” katanya.

Sementara itu Ketua Pelaksana Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik pada saat pembukaan Rakernas V Lakpesdam di Batam mengatakan, para kader NU yang telah mengikuti kaderisasi baik PKPNU, PKP Ranting maupun PPWK akan dipersiapkan untuk menyongsong masa satu abad NU, 10 tahun mendatang.

“Para kader unggulan NU tidak bisa muncul dengan sendirinya, atau muncul secara tiba-tiba. Harus ada upaya-upaya kaderisasi yang terencana agar nanti pada peringatan satu abad para kader ini sudah siap pemimpin NU,” katanya. (A. Khoirul Anam)

?

Foto: Sekretaris PP Lakpedam Lilis Nurul Husna

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hadits Hari Santri 2018

Kamis, 31 Agustus 2017

Wakaf harus Dikelola Profesional

Jakarta, Hari Santri 2018

Pengelolaan lembaga wakaf sebagai bagian dari pengembangan peradaban dan mengurangi kemiskinan harus dikelola secara professional, bukan lagi secara tradisional.

Demikian diungkapkan oleh Ketua PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah dalam acara Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan Wakaf yang diselenggarakan oleh Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWPNU) Kamis, (2/8).

Dikatakan oleh Masykuri bahwa Indonesia tertinggal jauh dalam pengelolaan wakafnya dibandingkan negara-negara lain. Bahkan, terdapat lembaga khusus yang namanya wazir aukof yang berfungsi mengelola wakaf-wakaf tersebut.

Wakaf harus Dikelola Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakaf harus Dikelola Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakaf harus Dikelola Profesional

Sejauh ini, wakaf yang ada di Indonesia juga belum dikelola secara produktif. Sebagian besar masih digunakan untuk sarana ibadah seperti masjid dan musholla. Bahkan yang terbesar masih diperuntukkan untuk kuburan.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini menjelaskan sebenarnya PBNU memiliki banyak asset wakaf yang layak untuk dikembangkan menjadi lebih produktif sehingga bisa mendanai kegiatan NU.

Hari Santri 2018

“Terdapat beberapa lembaga yang sudah siap mengembangkan tanah wakaf yang dimiliki oleh PBNU jika sertifikatnya sudah beres,” tandasnya.

Potensi lainnya yang bisa dikembangkan adalah kerjasama PBNU dengan Departemen Kehutanan dan Perhutani untuk pengelolaan lahan kritis yang saat ini dikelola lewat Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan. (mkf)



Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Nusantara, Hadits, Aswaja Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock