Rabu, 07 Maret 2018

Bendung Hoax, Lakpesdam NU Semarang Gelar Workshop Literasi Digital

Jakarta, Hari Santri 2018

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Semarang menggelar Workshop Literasi Digital dengan tema "Deradikalisasi Dunia Maya Berbasis Pendidikan Damai", Jumat (30/12) besok, di Aula Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang.

Bendung Hoax, Lakpesdam NU Semarang Gelar Workshop Literasi Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendung Hoax, Lakpesdam NU Semarang Gelar Workshop Literasi Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendung Hoax, Lakpesdam NU Semarang Gelar Workshop Literasi Digital

"Kegiatan ini membekali kiat-kiat bermedia sosial dan membendung arus radikalisme media" tegas Panitia, M Zulfa Cholil, dalam siaran pers yang diterima Hari Santri 2018.

Menurutnya, beberapa bulan terakhir, banyak beredar berita tak benar atau hoax. Hal ini terjadi karena berbagai kepentingan yang melatar belakanginya. Hoax ini sangat merugikan masyarakat. Salah satu penyebab hoax adalah tak adanya konten yang bagus untuk ditanyangkan kepada masyarakat.

Hari Santri 2018

Narasumber yang akan mengisi Agus Fathuddin Yusuf dari Suara Merdeka, Didik W Samudra (Kepala Balai Pengembangan Multimedia Pendidikan), Hasan Chabibie (Pustekkom Kemendikbud RI), dan M Rikza Chamami (UIN Walisongo).

Hari Santri 2018

Dengan hadirnya narasumber yang berkompeten dalam bidanganya panitia berharap terdapat masukan-masukan yang memberikan pengetahuan kepada kita bagaimana seharusnya menyikapi kejadian akhir-akhir ini. Sehingga bisa bersikap dewasa dan bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hikmah Hari Santri 2018

Cerita Sepasang Suami-Istri Jadi Banser dan Fatser di Taiwan

Taipei, Hari Santri 2018. Tidak mudah menjadi seorang Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU). Ia harus ikut Pendidikan dan Pelatihan Dasar yang cukup keras sebelum diizinkan untuk mengenakan seragam Banser. Dalam latihan itu, fisik dan mental mereka ditempa dengan tekanan yang tidak bisa dianggap enteng. Hanya orang-orang yang memiliki tekad dan semangat tinggi saja lah yang mampu menjadi Banser.

Disebutkan bahwa saat ini ada 5 juta kader Banser NU. Mereka tersebar tidak hanya di wilayah Indonesia, namun juga di luar negeri. Diantara Banser luar negeri yang aktif dan jumlahnya cukup banyak adalah Banser NU Taiwan. Yakni 150 orang lebih. Dua diantaranya adalah sepasang suami dan istri; suaminya Banser, istrinya Fatser (Fatayat Serbaguna).

Adalah Robet Tri Sasongko dan Stya Ningrum namanya. Suami-istri yang mengabdikan diri menjadi Banser dan Fatser. Keduanya mengaku ingin sekali menjadi Banser dan Fatser karena terinspirasi dengan Riyanto –seorang Banser yang wafat terkenan bom saat mendapatkan tugas untuk menjaga Gereja Eben Haezar Mojokerto pada tahun 2000 silam.  

Cerita Sepasang Suami-Istri Jadi Banser dan Fatser di Taiwan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Sepasang Suami-Istri Jadi Banser dan Fatser di Taiwan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Sepasang Suami-Istri Jadi Banser dan Fatser di Taiwan

Robet menganggap, apa yang dilakukan Riyanto adalah implementasi daripada ukhuwah insaniyah (persaudaraan antar sesama umat manusia). Riyanto memiliki semangat untuk menolong siapa saja tanpa memandang apa agama, suku, ras, bahasa, dan budayanya. 

“Saya terinspirasi sahabat Riyanto yang gugur membela non-Muslim dari bom,” kata Robet kepada Hari Santri 2018 di Kantor Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan di Taipei,  Ahad (21/1).

Hari Santri 2018

Beberapa tahun lalu sebelum bekerja di Taiwan, ia mengikuti Diklatsar Banser yang dilaksanakan Satkoryon Sawo Ponorogo. Sementara istrinya, Ningrum, juga ikut Diklatsar di Ngebel Ponorogo. Hal itu bukan tanpa sebab, keduanya telah membuat kesepakatan di hari pernikahannya untuk terus bersama-sama menjaga kiai, NU, dan keutuhan Indonesia. Maka menjadi Banser dan Fatser adalah jalannya.

“Alhamdulillah kita terus bersama dalam mengamankan kiai-kiai,” ujarnya.

Kemudian pada 2017 lalu, Robet dan Ningrum bekerja di sebuah pabrik sarung tangan yang ada di Changhua Taiwan. Robet yang bertugas untuk memproduksi, sedangkan istrinya yang mengemasnya. Lagi-lagi semangat keduanya untuk bersama terwujud.

Hari Santri 2018

Tinggal di negeri orang tidak membuat semangat keduanya surut menjadi Banser dan Fatser. Mereka aktif pada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan PCINU Taiwan. Setiap Ahad, keduanya selalu hadir untuk mengamankan kegiatan keagamaan yang diselenggarakan Pengurus Ranting NU Changhua. 

“Ada Majelis Rijalul Ansor untuk kegiatan keagamaan yang ada di Changhua,” tuturnya.

Robet mengaku bangga menjadi seorang Banser. Terutama ia bisa menjaga dan mengawal kiai-kiai NU yang datang ke Negeri Formosa itu. 

Hal itu juga diungkapkan istrinya, Ningrum. Ia mengaku bangga dan semangat menjadi seorang Fatser di negeri orang. Meski bekerja di negeri orang, namun tetap bisa berkhidmat untuk NU. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Hikmah, Nasional Hari Santri 2018

Senin, 05 Maret 2018

Degradasi Moral Sama Berbahaya dengan Bencana Alam

Sampang, Hari Santri 2018 



Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kabupaten Sampang, Muhammad Hasan Jailani mengatakan, meninggalnya Ahmad Budi Cahyanto, merupakan bencana nasional bagi dunia pendidikan.

"Ini adalah sebuah potret bahwa moralitas di sekolah bukan sesuatu yang main-main. Artinya, ini sudah menjadi perhatian semua pihak bahwa pelajaran moralitas hari ini dan ke depan harus diajarkan lagi ke seluruh siswa sekolah," ujar Mamak, panggilan akbrabnya, saat ditemui usai bertakjiyah ke rumah duka, di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Sampang, Selasa (6/2).

Degradasi Moral Sama Berbahaya dengan Bencana Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Degradasi Moral Sama Berbahaya dengan Bencana Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Degradasi Moral Sama Berbahaya dengan Bencana Alam

Degradasi (turun) moralitas para siswa, lanjut Mamak, merupakan sama berbahaya dengan bencana alam. 

Karena itulah, menurut dia, pelajaran moral tidak hanya harus diserap oleh siswa di sekolah, tapi juga di rumah dan di lingkungan.

"Nah, ini menjadi tanggung jawab bersama. Karena bencana tidak hanya urusan alam. Turunnya moral para siswa ini juga menjadi bencana terlebih bagi dunia pendidikan," tegasnya.

Hari Santri 2018

Budi Cahyono adalah guru honorer mata pelajaran seni rupa di SMA  Negeri 1 Torjun, Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang, Madura Jawa Timur. Ia meninggal Kamis (1/2), setelah dianiaya muridnya yang kini sudah ditahan Polres setempat.

Hari Santri 2018

Duka dan simpati mendalam ditunjukkan masyarakat. Hingga kini, peziarah dari berbagai daerah terus berdatangan ke rumah keluarga dan makam almarhum yang berjarak 200 meter. Mulai dari kalangan pejabat, budayawan, lembaga pendidikan hingga warga masyarakat, baik dari Madura maupun dari luar pulau Madura. Doa dan donasi untuk almarhum Budi dan istrinya, Sianit Sinta terus mengalir, apalagi saat ini, Sianit Sinta tengah hamil lima bulan. (Hadji/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Internasional Hari Santri 2018

Orang Berilmu yang Celaka

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Orang Berilmu yang Celaka (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Berilmu yang Celaka (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Berilmu yang Celaka

"Celaka sekali orang bodoh yang tidak belajar. Tapi celaka seribu kali orang alim yang tak mempraktikkan ilmunya." [Imam Al-Ghazali, dalam Bidâyatul Hidâyah]

Hari Santri 2018

Akal termasuk anugerah terbesar yang ada dalam diri tiap manusia. Potensi luar biasa ini akan sia-sia belaka bila tak diikuti dengan usaha belajar dalam waktu yang tak terbatas. Membiarkan kebodohan adalah sebuah kerugian. Namun, ada yang lebih parah dari ini, yakni orang berilmu, terutama ilmu akhlak, yang tingkah lakunya tak mencerminkan kepintarannya. Yang terakhir ini tak hanya merugikan dirinya sendiri melainkan bahkan juga bisa membahayakan orang lain. Hal ini terjadi, karena dalam setiap yang dimiliki, termasuk ilmu, tersimpan tanggung jawab.

Hari Santri 2018

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Daerah, Olahraga Hari Santri 2018

Sabtu, 03 Maret 2018

Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq

Yogyakarta, Hari Santri 2018. Sebagai ungkapan rasa syukur atas lahirnya tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, Majelis Dzikir Al Khidmah Yogyakarta mengadakan dzikir bersama dan Maulid Nabi Muhammad di Pendopo Taman Siswa, Ahad (1/5).

"Pendopo Taman Siswa dirasa menarik untuk dijadikan tempat majelis dzikir dan shalawat. Karena di tempat ini simbol pendidikan di Indonesia lahir, serta tokoh-tokoh besar di Indonesia memulai masa belajarnya" kata salah satu panitia Abdullah Wasi. 

Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq (Sumber Gambar : Nu Online)
Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq (Sumber Gambar : Nu Online)

Ternyata Ki Hajar Dewantara Masih Keturunan Syekh Maulana Ishaq

Menurut Wasi, acara majelis dzikir dan shalawat telah dimulai tahun 2012 yang diprakarsai Yayasan Taman Siswa dan Mahasiswa Al-Khidmah. "Acara haul Ki Hajar Dewantara ini diadakan oleh keluarga mahasiswa bersama Taman Siswa dan disupport oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Regional dua," tandasnya.

Di antara tokoh yang hadir dalam acara tersebut adalah sesepuh Al-Khidmah DIY KH Ahmad Burhani, pengurus Al-Khidmad Jakarta Muntiyasro dan cucu Ki Hajar Dewantara, Ki Nanang Dewantara

Menurut Ki Nanang Dewantara, Kiai Asrori Al-Ishaqi (pendiri Al-Khidmah) ternyata nasabnya bersambung dengan Ki Hajar Dewantara pada Syekh Maulana Ishaq.

Hari Santri 2018

Acara majelis dzikir tersebut dihadiri oleh puluhan santri Al-Munawwir Krapyak, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, serta jamaah Al-Khidmah dari Jogja, Bantul, Gunungkidul dan Keluarga Mahasiswa Al-Khidmah yang hadir dari Solo, Salatiga dan Jawa timur," ungkap Wasi, alumni Keluarga Al-Khidmah Kampus Yogyakarta. (Nur Sholikhin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018

Hari Santri 2018 Cerita Hari Santri 2018

Full Day School dalam Kacamata Hak Anak

Oleh Setya Indra Arifin

“Menjadi anak” di abad 21 tampaknya memang terlalu sulit untuk dijalani. Hari-hari yang dipenuhi oleh berbagai tugas belajar yang menumpuk, ditambah dengan kewajiban mengikuti les privat di luar kegiatan sekolahnya, serta harapan orang tua masa kini yang terlalu “muluk-muluk” tentang masa depan anaknya, rasanya semakin melengkapi kesulitan yang dialami anak zaman sekarang. Tak heran jika “menjadi anak” di abad 21 justru membuat anak semakin kehilangan sifat kekanak-kanakannya.

Full Day School dalam Kacamata Hak Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Full Day School dalam Kacamata Hak Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Full Day School dalam Kacamata Hak Anak

Sifat anak yang tak pernah berubah dari sejak dahulu sampai sekarang adalah kesukaannya pada kegiatan bermain. Terlepas dari jenis permainan apa yang disukainya, bermain adalah sesuatu yang hakiki yang tidak akan pernah hilang dari keberadaan seorang anak di muka bumi. Oleh karenanya, lepas dari konteks sosio-kultural tertentu dari suatu masyarakat terkait antara lain bagaimana model pendidikan yang diterima anak, kebutuhan anak untuk bermain tetap tidak boleh dihilangkan atau bahkan dikurangi sedikit pun oleh alasan apa pun.

Potensi pada munculnya pembatasan terhadap imajinasi dan keinginan (yang biasanya diwujudkan dalam cita-cita) murni yang muncul dari si anak, kenyataannya memang sulit untuk dihindarkan. Namun setidaknya, hal itu dapat diterima mengingat kondisi khusus anak yang masih perlu mendapat arahan dan bimbingan sehingga membuat pendidikan yang diterima oleh anak tetaplah menjadi hal yang tidak boleh diabaikan, terutama dan khususnya pendidikan dan bimbingan dari orang tua.

Hari Santri 2018

Pada satu sisi, tulisan ini barangkali akan terlihat begitu berpihak pada kebebasan anak dalam menentukan sikapnya. Namun di sisi yang lain, oleh sebab pendidikan merupakan sesuatu yang juga tak bisa dikesampingkan secara mendasar, maka pada akhirnya gagasan yang hendak ditawarkan bukan sama sekali terlepas dari kenyataan akan peran penting institusi pendidikan dalam membangun karakter anak untuk menjadi pribadi yang baik dan berguna kelak bagi masyarakatnya di masa yang akan datang. Hanya saja perlu sekali lagi digarisbawahi bahwa bermain adalah hak paling asasi yang wajib terpenuhi bagi anak di manapun mereka berada.

Hari Santri 2018



Pembuat Kebijakan Lupa Masa Kanak-Kanaknya?


Sebagaimana telah dikemukakan di awal bahwa pada saat ini, banyak hal yang membuat sifat kekanak-kanakan pudar dari kehidupan seorang anak. Bukan karena alasan yang bisa dianggap alamiah terjadi, namun karena sesuatu yang berada di luar dirinya yang pada akhirnya memaksa si anak untuk sulit mempertahankan sifat dasarnya. Berbagai bentuk pemaksaan kehendak pribadi anak, adalah bentuk paling konkret dari pelanggaran terhadap hak anak dalam memperoleh kegembiraan dari proses bermain.

Hak untuk bermain secara internasional diatur dalam Konvensi Hak Anak maupun secara konstitusional, telah diatur pula di dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Secara tegas dalam salah satu pasal dalam peraturan tersebut mengatakan bahwa, “Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri”.Sehingga pengakuannya, tidak lagi sekadar menjadi pengakuan yang umum hadir di masyarakat, namun juga membutuhkan pengakuan dari Negara dalam hal ini Pemerintah, selain juga kewajiban bagi negara/pemerintah itu untuk melakukan perlindungan dan pemenuhan atasnya. Konsekuensi terhadap kewajiban dan tanggung jawab dalam penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak anak, sama persis layaknya kewajiban dan tanggung jawab di dalam menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi manusia. Hal ini didasari oleh kesadaran akan peran penting seorang anak dalam membangun masa depan yang lebih baik. Sebagai generasi yang dalam dirinya tersemat tugas-tugas peradaban dalam berbagai bentuk tanggung jawab yang menantinya di masa yang akan datang, membuat kedudukan seorang anak sangatlah penting dan tak boleh dihiraukan.

Perlu pula disadari bahwa keterkaitan antara tugas pemenuhan hak anak dan hak asasi manusia pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Keberadaan hak asasi manusia haruslah integral dengan keberadaan hak asasi anak. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa dalam melakukan pemenuhan terhadap hak asasi manusia, maka hak anak adalah sesuatu yang juga bahkan terlebih dahulu wajib terpenuhi.

Terkait dengan hak anak untuk bermain, barangkali mula-mula kita semua terlebih dahulu harus jujur bahwa kita semua lahir di dunia dengan terlebih dahulu melalui masa kanak-kanak itu. Oleh karenanya tanpa perlu diragukan lagi, mengakui dan melindungi serta melakukan pemenuhan atasnya sudah barang tentu adalah kewajiban kita semua, bukan hanya Negara. Negara manapun tak terkecuali, memiliki kepentingan dan kebutuhan yang sama untuk menyelamatkan generasi yang akan datang dari kehancuran. Hanya saja, usaha itu tetap harus mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak. Dan kepentingan terbaik yang paling mungkin dan sangat mudah untuk dilihat adalah kepentingan dan kebutuhannya akan bermain.

Kita boleh saja mengesampingkan kehadiran dan kedudukan anak dalam kehidupan kita. Hanya saja barangkali proses kehidupan yang pernah dan telah kita alami, tak ada ubahnya dengan proses kelam yang berisi pemaksaan terhadap anak dan penghilangan atas hak asasi pribadinya yang paling hakiki, yaitu bermain. Jika ada istilah “masa kecil kurang bahagia”, mungkin saja itu adalah ungkapan paling tepat yang bisa digunakan dalam menilai berbagai bentuk sikap maupun kebijakan negara yang sama sekali tidak mau mengakui? hak anak untuk bermain. Maka mungkin saja, berbagai bentuk kebijakan negara yang notabene berkewajiban dan bertanggung jawab penuh terhadap pengakuan mendasar pada hak anak, adalah kebijakan yang ditelurkan dari mereka yang masa kecilnya merupakan korban pemaksaan kehendak orang tuanya. Mungkin saja mereka yang pada masa kanak-kanaknya, tidak pernah diberi kesempatan untuk bermain dan bergembira layaknya seorang anak pada umumnya. Atau mungkin saja, mereka hendak melupakan masa kanak-kanaknya yang penuh kegembiraan dan permainan.



Pengabaian atas Hak Anak untuk Bermain


Dalam konteks pemenuhan hak asasi manusia, pengabaian terhadapnya adalah merupakan bagian dari pelanggaran terhadap hak asasi manusia itu sendiri. Jika tanggung jawab dan kewajiban atas pemenuhan tersebut salah satunya dan terutama berada pada institusi negara, maka setiap kebijakan dan tindakan apapun dari pemerintah negara yang bersangkutan, yang secara hakiki hendak atau bahkan telah mencerabut hak asasi dari seorang manusia, adalah bentuk pelanggaran yang tak bisa dibiarkan terjadi.

Jika dalam beberapa waktu yang lalu, kebijakan full day school telah ditelurkan negara dalam melaksanakan kewajibannya dalam memenuhi hak dasar di bidang pendidikan, maka kewajiban tersebut senyatanya telah bertentangan dengan kewajibannya yang lain dalam pemenuhan hak untuk bermain yang tak kalah mendasarnya. Silakan saja berdebat tentang perlu atau tidak perlunya seorang anak bermain dengan bebas. Namun perlu dipertimbangkan, salah seorang psikolog anak dan remaja bahkan pernah memberikan gambaran terkait waktu ideal yang efektif bagi seorang anak untuk belajar adalah maksimal 2 (dua) jam.

Meski kemudian, sah-sah saja bagi kita mengatakan bahwa bermain dapat dilakukan dengan mengemas bentuk permainannya dengan kemasan “belajar”, tetap saja, kewajiban asasinya untuk bermain dan bukan semata-mata untuk belajar, tetap menjadi prioritas yang tak bisa dikesampingkan. Atau kiranya bagi kita, hal ini sebetulnya dapat saja diselesaikan dan dijawab dengan pertanyaan sederhana, “jika Anda seorang anak yang seharian penuh harus menjalani proses pendidikan di sekolah tanpa diberi kesempatan sedikitpun untuk beristirahat sejenak dan berganti pakaian bebas di rumah sehingga Anda bisa bebas pula untuk memilih permainan apa yang hendak Anda mainkan, bahagiakah Anda sebagai seorang anak?”.Jika Anda seorang anak, tampaknya semua dari kita harus mengakui bahwa kita akan sangat mungkin bosan. Kalaulah selepas itu, kita sebagai seorang anak memiliki kewajiban untuk mengaji di sekolah-sekolah Arab (madrasah diniyah) ataupun jika memang harus dibarengi dengan semacam bimbingan belajar (les) di luar kegiatan sekolah,

setidaknya, kita sudah sempat makan di rumah, berganti pakaian, istirahat sejenak, menikmati kebersamaan dengan keluarga tercinta, lalu pergi dari rumah untuk kembali menuntut ilmu dengan gembira, bukan dengan kelelahan dan kebosanan.

Penulis adalah Peneliti Satjipto Rahardjo Institute (SRI), Semarang



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Warta, Makam Hari Santri 2018

Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur

“Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Beginilah salah satu ungkapan sikap KHR As’ad Syamsul Arifin, sebagaimana dikutip media nasional beberapa hari pasca Muktamar NU ke-28 di Krapyak, 26 tahun lalu. Konon, KHR As’ad kecewa besar pada lima tahun kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. Gus Dur dianggap kebablasan. Pemikiran dan tindak-tanduk liberalnya diniliai sudah keluar dari rel Aswaja.

Dari berita yang dimuat di koran, pemikiran dan tindak-tanduk liberal yang dialamatkan pada Gus Dur antara lain terkait keikutsertaannya sebagai juri Festival Film Indonesia. KHR As’ad bahkan menyebut Gus Dur kiai ketoprak lantaran aksinya ini. Lalu terkait wacana Gus Dur mengubah salam “assalamu’alaikum” menjadi “selamat pagi”, dan beberapa kontroversi lain yang mengiringi perjalanan kepemimpinan Gus Dur.

Puncak ketidakcocokan Ketua Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar NU ke-27 ini terjadi pada hari terakhir Muktamar Krapyak, Rabu siang, 29 Nopember 1989. Di hadapan media di arena Muktamar yang telah aklamasi memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini, lantang menyatakan diri mufaraqah (memisahkan diri).



Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur

Ketidakcocokan KHR As’ad dengan Gus Dur sebenarnya sudah lama. Keputusan mufaraqah bisa dibilang lebih merupakan kulminasi dari perselisihan panjang antarkeduanya. Perselisihan awal setidaknya sudah dimulai ketika pleno pertama PBNU hasil Muktamar Situbondo, di Pesantren Tebuireng, Jombang pada Januari 1985. Keputusan pleno menyatakan bahwa yang berhak mewakili NU keluar adalah Rais ‘Aam KH Ahmad Shiddiq, dan Ketua Umum Tanfidziyah KH Abdurrahman Wahid. Keputusan ini dinilai membatasi gerak dan langkah ulama sepuh lain, terutama KHR Asad yang sebelumnya dikenal dekat dengan Presiden Soeharto dan menteri-menterinya.

Beberapa kontroversi Gus Dur lainnya sepanjang 1984-1989 semisal; keterlibatan Gus Dur menjadi ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), kesediaan membuka Malam Puisi Yesus Kristus, dan kecenderungan membela Syiah, juga turut menjadi pemicu kerenggangan komunikasi antara KHR As’ad beserta kiai-kiai sepuh lain dengan Gus Dur. Hal ini berujung peristiwa ‘gugatan’ pada Gus Dur di Pesantren Darut-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, pada Maret 1989.

Sebuah fakta politik menarik, menyusul mufaraqah KHR As’ad, Gus Dur justru makin gencar melawan Orde Baru. Gus Dur makin aktif mendukung para aktivis melawan pemerintah. Menjelang pemilu 1992, di tengah kuatnya kekuasaan Soeharto, Gus Dur bahkan berani terang-terangan menolak penguasa negeri 32 tahun itu untuk dipilih kembali. Gus Dur terus menyerang Pak Harto hingga lengser ke prabon pada 1998.

Hari Santri 2018

Banyak literatur menyebut, KHR As’ad Syamsul Arifin adalah sosok wali quthub. Kesaksian KH Mujib Ridwan misalnya, menyebut jika KHR As’ad pernah menangis tersedu-sedu lantaran ‘kedoknya’ terbuka, usai dibacakan sebuah surat Al-Qur’an. KH Mujib Ridwan adalah putra KH Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU, yang lebih 20 tahun mengabdi pada KH As’ad Syamsul Arifin. Di luar kharisma keulamaannya, KHR As’ad adalah seorang guru dan pengamal 17 jenis tarekat. Meskipun demikian beliau tidak pernah memaklumkan diri sebagai seorang mursyid tarekat di depan umum. KHR As’ad juga mendalami ilmu kanuragan yang membuat banyak bajingan bertekuk lutut kepadanya.?

Hari Santri 2018

Konon, kewalian KHR As’ad inilah yang melatarbelakangi beberapa tindakannya sehingga tidak mudah dimengerti khalayak awam. Satu di antaranya menyangkut kerenggangan KHR As’ad dan Gus Dur. Kala itu tentu saja tak sedikit Nahdliyin di akar rumput yang kebingungan. Meski tak sampai menciptakan kubu-kubu yang saling berseberangan, konflik panjang dua tokoh beda generasi ini memunculkan pertanyaan di banyak pihak. Tak terkecuali rombongan Kepala Sekolah SLTP dan SLTA Ma’arif Kotamadya Surabaya. Suatu hari, pada 15 April 1987, mereka serombongan sowan ke ndalem KHR As’ad di kompleks Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Sesampai di ndalem, rombongan diterima langsung oleh KHR As’ad yang kala itu didampingi KH Mudjib Ridwan. Rombongan pun mendapat penjelasan langsung bahwa beliau mufaraqah dengan Gus Dur karena Gus Dur kiai ketoprak. Dengan menjadi juri FFI di Bali, Gus Dur dinilai sudah tidak sesuai dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari, dan penjelasan lain-lain seterusnya sebagaimana yang sudah beredar di media massa.

Dari Situbondo, rombongan meneruskan silaturahim berikutnya ke Jember ke ndalem KH Ahmad Shiddiq. Di hadapan Rais ‘Aam PBNU ini, disampaikanlah panjang lebar kebingungan-kebingungan mereka mengenai hubungan KHR As’ad dengan Gus Dur.

Dan beginilah dawuh KH Ahmad Shiddiq. “Kulo, dan sampean-sampean semua—seraya menunjuk satu persatu rombongan yang hadir—bukan levelnya. Bukan kelasnya menilai Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin.” Demikianlah yang pada intinya, Nahdliyin yang belum masuk levelnya, tidak pantas menilai sikap mufaraqah KHR As’ad dengan Gus Dur. Keduanya memiliki maqom (tingkatan spiritual) yang tinggi di atas kebanyakan.

Menyikapi friksi di tingkatan elit NU yang kian membingungkan ini, suatu ketika beberapa anggota Dewan Khas IPSNU Pagar Nusa dipimpin H. Suharbillah memutuskan sowan ke KH Khotib Umar, Pengasuh Pesantren Raudhatul Ulum Sumberwiringin, Sukowono, Jember. IPSNU Pagar Nusa kebetulan saat itu baru saja dideklarasikan. KH Khotib Umar adalah salah seorang ulama pejuang yang wara’ yang sangat disegani di kalangan Nahdliyin.

Kepada para pendekar Pencak Silat NU ini, KH Khotib Umar bertutur bahwa suatu waktu beliau menghadap pada KHR As’ad Syamsul Arifin bermaksud meminta penjelasan mengenai masalah dengan Gus Dur. Dan KHR As’ad dawuh bahwa memusuhi Gus Dur merupakan strategi menghadapi rezim Orde Baru. Supaya Gus Dur tidak dihabisi maka beliau memusuhi Gus Dur. Untuk menyelamatkan beliau. “Saya dengan Gus Dur hanya berbeda dalam siyasi, politik! Mufaraqah bukan berarti benci Gus Dur. Malah saya sangat mengasihi Gus Dur. Saya khawatir kalau Gus Dur di penjara oleh penguasa—karena sikap kritisnya­—lalu siapa yang akan membela? Demikian dawuh sang wali quthub. (Didik Suyuthi)

? . * Sebagian data diperoleh dari catatan pribadi DR KH Suharbillah

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2018 Pondok Pesantren, Makam Hari Santri 2018

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2018 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock