Subang, Hari Santri 2018. Tiap tahun, Pesantren Al-Karimiyyah menggelar Rajaban (peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad). Sebagaimana yang diwasiatkan pendiri pesantren, KH Abdul Karim, Rajaban harus di awal bulan. Tahun ini, pesantren berlokasi di Dusun Pungangan, Desa Rancabango, Kecamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat, menggelarnya pada Jumat (10/5) malam.
Satu hal yang tak pernah ditinggalkan tiap peringatan Rajaban, yakni pembacaan kitab hasyiyah Qishshatul Miraj karya Sayyid Ahmad ad Dardiri. Kitab tersebut mesti khatam. Kali ini pembacanya Kiai Halimi dan Kiai Thala`al Badar Karim. Pengajian tersebut dihadiri ratusan hadirin dari berbagai usia. Sebagian hanya mendengarkan saja, ada juga asyik ngalogat.
| Pak Tua Doyan Ngaji dari Subang (Sumber Gambar : Nu Online) |
Pak Tua Doyan Ngaji dari Subang
Di tengah hadirin, tampak Sahudi. Kakek berusia 80 tahun itu khusu mendengarkan bacaan dan paparan disampaikan Kang Toto, panggilan akrab Kiai Thala`al Badar Karim.Hari Santri 2018
Sahudi mengaku tak pernah absen mengikuti pengajian tahunan ini, “Saya ikut pengajian ini sejak dulu mulai ada dan tidak pernah libur,” ungkap kakek yang pernah mondok dan mengabdi kepada Kiai Siradj Gedongan Cirebon tersebut.Bagi kakek yang menjalani hidup dengan bertani itu, mengaji adalah ibadah. Dan ibadah itu, selama mampu, harus dilakukan, “Walau sudah tua begini saya ngaji,” katanya.
Hari Santri 2018
Kecintaannya pada ngaji, ia tidak pernah libur pada pengajian Sabtu malam yang juga diasuh Kiai Toto, “Kecuali kalau ada acara dan sakit gigi,” papar kakek yang sempat diaku anak oleh Kiai Aqil Kempek-Cirebon tersebut.Semangat ngajinya tampak juga jika tetangga meninggal, sekali duduk ia khatam sampai 5 juz.
Kepada Hari Santri 2018, ia berharap anak-anak muda NU harus rajin mengaji, “Jangan pernah berhanti ngaji sampai tua,”? pintanya.
Redaktur? ? ? : Abdullah Alawi
Kontributor? ? ? : Aiz Luthfi
Dari Nu Online: nu.or.id
Hari Santri 2018 Kyai, Hadits, Hikmah Hari Santri 2018
